MER-C Hadiri FGD FH UI Bahas Perlindungan Misi Kemanusiaan di Wilayah Konflik

Jakarta – MER-C Indonesia pada Kamis (9/7/2026) menghadiri Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Centre for Research of Welfare Law, Children Protection and Global Migration (CRESWELL), Fakultas Hukum Universitas Indonesia, di Ruang Boedi Harsono, Gedung F Lantai 1, FH UI, Depok, Jawa Barat. FGD mengusung tema “Memetakan Kebijakan dan Mekanisme Perlindungan Negara pada Misi Kemanusiaan di Wilayah Konflik” dan dihadiri oleh perwakilan sejumlah lembaga kemanusiaan. Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi kerangka hukum dan mekanisme perlindungan negara bagi misi kemanusiaan di wilayah konflik, memetakan peran serta tantangan yang dihadapi lembaga kemanusiaan, merumuskan rekomendasi mekanisme perlindungan, serta menyusun elemen awal peta jalan damai Palestina yang menempatkan perlindungan kemanusiaan sebagai salah satu pilar utama. Mewakili MER-C sebagai penanggap dalam FGD, Liaison Officer Emergency Medical Team (EMT) MER-C, Marissa Noriti, menekankan pentingnya pemerintah Indonesia memiliki mekanisme perlindungan yang baku bagi misi kemanusiaan. Menurut Marissa, pemerintah perlu mengoptimalkan jaringan dan koordinasi yang lebih terintegrasi sehingga ketika dibutuhkan dukungan diplomasi kemanusiaan, organisasi kemanusiaan telah memiliki jalur koordinasi yang jelas mengenai langkah yang harus ditempuh dan pihak-pihak yang perlu dihubungi. “Kami sudah mendapatkan dukungan yang cukup baik dari WHO. Namun akan lebih baik jika negara juga dapat memberikan dukungan yang lebih optimal dan selaras melalui mekanisme perlindungan yang baku, bukan hanya bersifat spontan ketika terjadi insiden,” ujarnya. Ia menilai, apabila mekanisme tersebut dapat diwujudkan hingga pada tataran diplomasi kemanusiaan, hal itu akan memperkuat upaya diplomasi Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina. Untuk itu, Marissa berharap hasil FGD ini tidak berhenti pada diskusi semata, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi kebijakan yang nyata. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/Da1sg-Ik__e/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
MER-C Koordinasi dengan Kemlu RI Terkait Rencana Pengiriman Relawan ke Lebanon

Jakarta – MER-C melakukan audiensi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada Rabu (20/5) untuk berkoordinasi terkait rencana pengiriman relawan kemanusiaan ke Lebanon. Kedatangan MER-C yang diwakili oleh Presidium dr. Tonggo Meaty Fransisca dan Manajer Operasional Rima Manzanaris diterima oleh Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri RI, Ahrul Tsani Fathurrahman. Ahrul Tsani menyambut baik rencana MER-C untuk mengirimkan relawan ke Lebanon. Menurutnya, langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dan kerja sama antara Indonesia dan Lebanon. “Alhamdulillah hari ini saya bisa bertemu teman-teman MER-C yang menyampaikan rencana keberangkatan ke Lebanon untuk memberikan bantuan kemanusiaan melalui pengiriman relawan. Tentunya kami menyambut baik dan memang ini bagian dari upaya kita memperkuat kerja sama dengan Lebanon,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa sebelumnya pemerintah Lebanon telah meminta bantuan kepada Indonesia di tengah krisis kemanusiaan akibat perang yang masih berlangsung. Ahrul Tsani menegaskan Kementerian Luar Negeri siap memfasilitasi keberangkatan relawan MER-C, termasuk membantu komunikasi dengan pihak dan otoritas di Lebanon. “Mudah-mudahan nanti rencana perjalanannya lancar. Kemudian KBRI Beirut juga akan membantu. Mudah-mudahan masyarakat Indonesia yang peduli dengan Lebanon bisa menyalurkan bantuannya melalui MER-C. Selain itu juga tidak lupa dengan Gaza dan Palestina,” pungkasnya. Rencana misi kemanusiaan MER-C ke Lebanon dilakukan menyusul konflik berkepanjangan di wilayah tersebut yang telah memasuki fase krisis kemanusiaan yang semakin mengkhawatirkan. Pelanggaran gencatan senjata yang terus terjadi juga memperburuk kondisi warga sipil yang membutuhkan perlindungan serta bantuan kemanusiaan mendesak. Selengkapnya di link ini
MER-C Kecam Pencegatan dan Penculikan Aktivis Kemanusiaan Global Sumud Flotilla oleh Israel

Jakarta – MER-C Indonesia mengecam tindakan pasukan Angkatan Laut Israel mencegat armada misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 pada Senin (18/5) di perairan internasional sekitar Siprus, Mediterania Timur. Dalam insiden tersebut, ratusan aktivis kemanusiaan, termasuk sembilan warga negara Indonesia di antaranya dua jurnalis Republika, satu jurnalis Tempo dan satu jurnalis iNews, ditahan saat menjalankan misi menuju Jalur Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan dan menembus blokade. Sedikitnya sepuluh kapal yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla dilaporkan dicegat oleh pasukan Israel, di antaranya bernama Zapyro, Barbaros, Josef, Blue Toys, Ozgurluk, Bora Lize, dan Kasr-1. MER-C menilai pencegatan terhadap kapal bantuan sipil yang tidak bersenjata di perairan internasional merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Tindakan ini juga semakin memperburuk situasi kemanusiaan di Jalur Gaza yang hingga kini masih berada di bawah blokade. MER-C mendesak komunitas internasional untuk mengambil langkah nyata guna menjamin keselamatan para aktivis kemanusiaan serta memastikan pembebasan seluruh awak dan kapal yang ditahan. Di tengah blokade dan pelanggaran gencatan senjata yang masih terus terjadi, warga Gaza menghadapi kondisi kemanusiaan yang semakin memprihatinkan. Untuk itu, MER-C menyerukan agar akses bantuan kemanusiaan dapat dibuka seluas-luasnya sesuai prinsip hukum humaniter internasional. Blokade terhadap Jalur Gaza telah berlangsung sejak 2007 dan semakin diperketat sejak genosida pada Oktober 2023. Kondisi ini menyebabkan lumpuhnya berbagai sektor kehidupan, termasuk layanan kesehatan, serta membatasi akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar. Terbatasnya akses masuk pasokan medis dan bahan bakar akibat blokade juga memaksa tim medis MER-C, yang saat ini bertugas di Jalur Gaza terus berupaya memberikan pelayanan kesehatan terbaik meski di tengah berbagai keterbatasan. Selengkapnya di link ini
MER-C Indonesia Hadiri Peringatan 78 Tahun Nakba di Kedutaan Besar Palestina

Jakarta – MER-C Indonesia menghadiri undangan peringatan 78 tahun Nakba di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, Senin (18/5). Acara tersebut diisi dengan sejumlah pertunjukan, pemutaran film dokumenter tentang Nakba, serta sambutan dari Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari. Kehadiran MER-C diwakili oleh drg. Elizabeth Lilyana Sarri, relawan Emergency Medical Team (EMT) yang pernah bertugas di Jalur Gaza selama 14 pekan pada tahun 2024. Menyaksikan langsung situasi di Jalur Gaza, drg. Sarri mengatakan bahwa Nakba hingga hari ini masih terus berlangsung karena penghancuran masif yang dilakukan penjajah Israel terus terjadi. Bertepatan dengan peringatan Nakba, ia berharap semakin banyak pihak dapat berkontribusi untuk memperbaiki kondisi Gaza yang telah hancur dan rusak, serta rakyat Palestina dapat segera memperoleh kemerdekaannya. Selengkapnya di link ini #mercindonesia #relawanmerc #relawangaza #JanganLupakanPalestina #BerdiriBersamaPalestina #StopGenocide #FreePalestina #bantuanpalestina #donasipalestina #emtmercindonesia #KemanusiaanGaza
78 Tahun Nakba Suara Kemanusiaan Tak Boleh Padam

Tragedi Nakba yang terjadi 78 tahun silam masih begitu membekas. Sebab hingga hari ini, Nakba nyatanya tidak pernah benar-benar berakhir. Pengusiran, pembantaian, dan pembunuhan terhadap rakyat Palestina masih terus berlangsung. Hari ini, dunia kembali menyaksikan tragedi serupa. Jika dahulu Nakba memaksa ratusan ribu warga Palestina mengungsi dan membuat belasan ribu lainnya menjadi martir, kini jumlah korbannya bahkan bertambah banyak di tengah rentetan serangan tanpa ampun. 78 tahun Nakba menjadi pengingat bagi dunia bahwa suara kemanusiaan tidak boleh padam, pembelaan kita tidak boleh berhenti, karena rakyat Palestina masih terus berjuang untuk merdeka dan kembali ke tanah air yang dirampas. Selengkapnya di link ini