MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Rabithah Alawiyah Salurkan Donasi untuk Rohingya melalui MER-C

Jakarta – Rabithah Alawiyah sebuah organisasi yang menghimpun WNI keturunan Arab khususnya kaum Alawiyyin menyalurkan donasi untuk Rohingya senilai 165 juta rupiah melalui MER-C.   Dalam kesempatan silaturahim di Kantor Pusat DPP Rabithah Alawiyah di Jl. TB. Simatupang No. 7 A, Sabtu (23/9), Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad menyampaikan terima kasih atas dukungan dan bantuan yang diberikan Rabithah Alawiyah.   Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Sarbini yang didampingi oleh Pimpinan Proyek Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Myanmar, Drs. Ichsan Thalib, memaparkan mengenai pengalaman misi MER-C, sekaligus situasi terkini dan program pembangunan RS Indonesia di Myanmar.   Sarbini juga mengungkapkan bahwa MER-C konsisten untuk membangun rumah sakit di daerah-daerah konflik.   “Saat ini di Rakhine, lalu setelah Rakhine selesai, kita berencana membangun rumah sakit di Tepi Barat. Tidak hanya di luar negeri, di dalam negeri seperti Papua, pembangunan puskesmas di Aceh yang saat ini sudah diserahkan kepada pemerintah setempat, di Piyungan Jogja, juga pembangunan rumah sakit di Galela. Kami bisa bangkit karena dukungan banyak pihak seperti Rabithah Alawiyah,” tandasnya.   Sementara itu, Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar bin Smith menyampaikan keinginannya agar bisa bersama-sama merealisasikan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, khususnya untuk para pengungsi dan penduduk Rohingya dan terbuka juga untuk kalangan non muslim di sana yang harus dibantu. “Semoga konflik ini segera berakhir,” tambahnya. Ia juga berharap Rabithah Alawiyah dan MER-C akan terus bergandengan tangan untuk hal-hal yang sifatnya ke arah bantuan kemanusiaan tidak hanya untuk Rohingya dan luar negeri, termasuk juga bantuan kemanusiaan lainnya di Indonesia.

Laporan Program Qurban MER-C di Jalur Gaza, Palestina

Gaza – Sejak Jum’at hingga Sabtu kemarin (1-2 September 2017) amanah qurban dari masyarakat Indonesia telah disalurkan secara langsung kepada warga Jalur Gaza yang hingga saat ini masih hidup dalam blokade ilegal Israel. Reza Aldilla Kurniawan, relawan Indonesia di Jalur Gaza yang juga mahasiswa Universitas Islam Gaza dibantu beberapa relawan lokal membagikan daging qurban kepada warga Gaza yang layak menerimanya baik di Gaza bagian utara maupun di Gaza City. Terima kasih kepada rakyat Indonesia yang telah mempercayakan amanah qurbannya melalui MER-C. Insya Allah Qurban akan menjadi salah satu program rutin tahunan MER-C di Jalur Gaza, Palestina.    

MER-C Tandatangani Kontrak Pembangunan RSI Myanmar dengan Kontraktor

Yangon – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menandatangani kontrak pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap kedua yang berlokasi di Rakhine State, Myanmar, Rabu (6/9) di Yangon. Penandatangan dilakukan oleh Presidium MER-C, Ir. Faried Thalib dengan Kyaw Nay Oo, selaku Direktur Rakhita Ah Linn Construction. Co.Ltd, kontraktor lokal pemenang tender pembangunan RS Indonesia. “Ini merupakan kontrak kedua dari pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar. Tahap pertama sudah selesai dan kita sekarang akan segera bangun tahap kedua” ujar Faried Thalib, anggota Presidium MER-C, sesaat setelah menandatangani kontrak. Mantan Manajer Proyek Pembangunan RS Indonesia di Gaza (Palestina) ini menjelaskan bahwa tahap kedua pembangunan rumah sakit ini merupakan pembangunan gedung tempat tinggal untuk dokter dan perawat. “Pembangunan rumah tinggal untuk dokter dan perawat ini kita dahulukan, dan setelah berjalan, bangunan utama akan segera kita bangun secara bersamaan” ujarnya. “Ini bagian dari diplomasi kemanusiaan yang dilakukan oleh MER-C, diharapkan dengan dibangunnya rumah sakit ini, akan memberikan manfaat kepada rakyat Myanmar yang dilanda konflik dan yang lebih penting akan membantu meredakan konflik di daerah ini” jelasnya. Faried menambahkan, Indonesia dengan mayoritas Muslim dan minoritas Budha hendaknya menjadi contoh bagi pemerintah dan rakyat Myanmar, bahwa keberagaman bukan alasan untuk bertikai, namun justru saling mengayomi satu dengan yang lain. “Terlebih lokasi Rumah Sakit berada di antara daerah penduduk muslim dan Budha, sehingga bisa menjadi fasilitas untuk semua penduduk di sana” lanjutnya. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke Rohingya pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan assessment ke lokasi lahan RS Indonesia di Mrauk U pada Agustus 2015. Saat itu, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Mrauk U, Rakhine State. Pada Mei 2017, setelah sempat tertunda selama dua tahun, pembangunan RS Indonesia resmi dimulai. Hal ini berkat inisiasi dari Bapak M. Jusuf Kalla yang memberikan dukungan positif dan berharap RS Indonesia bisa segera terwujud dalam jangka waktu satu tahun ke depan. Ketua Umum PMI ini juga mengarahkan agar RS Indonesia menjadi program kerjasama MER-C dan PMI. Serangkain rapat koordinasi antara MER-C, PMI, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian terkait lainnya sudah beberapa kali digelar baik di kantor Wakil Presiden RI dan Markas Besar PMI untuk menindaklanjuti dan mempercepat pembangunan RS Indonesia. MER-C telah menunjuk tim pelaksana pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang terdiri dari para relawan insinyur yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Meskipun pembangunan diserahkan kepada kontraktor lokal, namun MER-C akan menempatkan relawan insinyur di lapangan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia di Rakhine State sampai pembangunan selesai. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee   Info: www.mer-c.org 0811990176

Tindaklanjuti Pembangunan RS Indonesia, MER-C Kirim Tim ke Myanmar

Rabu pagi (6/9), dua relawan insinyur MER-C yang sudah berpengalaman dalam program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza Palestina, yaitu Ir. Faried Thalib dan Ir. Nur Ikhwan Abadi bertolak ke Myanmar. Kedua relawan dari Divisi Konstruksi MER-C inj akan meninklanjuti program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang akan memasuki tahap dua dari tiga tahap yang direncanakan. Meski situasi di Myanmar belum kondusif, namun proses pembangunan RS Indonesia di wilayah ini terus berjalan.   Pembangunan tahap pertama telah selesai, akan dilanjutkan pembangunan tahap dua berupa pembangunan asrama dokter dan perawat. Pada keberangkatan kali ini tim akan melakukan finalisasi kontrak dengan para kontraktor lokal, juga mencari akses untuk bantuan kemanusiaan ke wilayah konflik.   RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar diharapkan bisa segera selesai dan memberikan bantuan pelayanan kesehatan jangka panjang bagi para korban.   Pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia).   Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui :    Mandiri 124.000.8111.982  BSM 700.1306.833  BCA 686.028.0009  Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee   Info:  www.mer-c.org  0811990176    

Teknologi Ultra Filtrasi akan digunakan untuk suplai kebutuhan air RS Indonesia di Myanmar

Yangon – Tim Teknis RS Indonesia memutuskan akan menggunakan teknologi ultra filtrasi untuk mensuplai kebutuhan air bagi Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Hal ini dijelaskan oleh salah satu anggota tim ahli MER-C, Agus Subiyakto Saleh saat melalukan kunjungan ke lokasi pembangunan RS Indonesia di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, Rabu (9/8).   “Setelah melakukan pengecekan di lapangan, air yang ada PH nya 7,1 dan TDS nya rendah hanya 2 yang berarti mineralnya rendah, maka kita akan menggunakan sistem ultra filtrasi, ini akan langsung jernih airnya” terang ahli pengolahan air asal ITB tersebut.   Pria yang lahir 58 tahun lalu itu menjelaskan bahwa teknologi ultra filtrasi ini merupakan sebuah teknologi penyaringan air dengan menggunakan membran tertentu dan dapat menyaring setiap partikel yang ada di dalam air hingga ukuran 0,01 mikron.   “Jadi ultra filtrasi itu adalah teknologi dengan menggunakan membran dengan ukuran rembesannya 0,01 mikron. Nah dengan adanya air yang masuk melalui membran tersebut, semua kotoran akan tertahan, sehingga air itu sudah bebas dari kemungkinan bakteri dan lain-lain” jelasnya.   Ia juga menyatakan selain perawatan yang mudah, teknologi ini pun mampu menahan virus hingga ukuran 0,5 mikron. “Sampai dengan virus akan tertahan di membran itu, karena virus ukuran nya 0,5 mikron. Tekonologi ini mudah dioperasikan dengan menggunakan pompa karena tekanannya cukup rendah. Hanya membutuhkan tekanan 0,5 – 1 bar. Membersihkannya cukup mudah, dengan bayclin sudah bisa membersihkan membran” lanjutnya.   Agus juga menambahkan bahwa dengan kapasitas penampungan air yang mencapai 120 ribu meter kubik, bisa melayani 1000 orang selama empat bulan kedepan.   “Kapasitas penampungan air ini 120 meter kubik, bisa melayani 1.000 orang, dan jika dihitung kebutuhan air perorang 100 liter perhari, maka kapasitas air ini bisa digunakan hingga 120 hari kedepan atau 4 bulan,” terangnya.   Lebih lanjut Agus menyatakan bahwa air hujan yang ditampung di kolam penampungan tersebut kualitasnya sangat baik, karena tidak ada polusi udara disekitarnya.   “Saya langsung minum air tadi, karena saya yakin air tersebut tidak berbahaya, dan airnya bisa dikonsumsi langsung. Rasanya seperti rasa air yang punya TDS rendah. Ini karena air nya tidak tercemar oleh polusi” ungkapnya.   Saat disinggung soal biaya Agus menyatakan bahwa biaya yang digunakan bisa terjangkau dan tidak terlalu tinggi.  “Untuk kapasitas 3-4 meter kubik per jam jika di Jakarta seharga 15 jutaan. Berarti selama satu jam air ini bisa melayani 300 orang, sehingga untuk kapasitas 1.000 orang, bisa beroperasi hanya 3-4 jam perhari” katanya.   Sebelumnya, Senin (7/8), MER-C memberangkatkan empat relawan teknis ke Myanmar dengan salah satu agenda adalah melakukan studi lanjutan untuk mengatasi permasalahan air bersih selain melakukan supervisi pekerjaan pembangunan tahap satu RS Indonesia yang sudah selesai.   Tim dijadwalkan akan bertugas selama 5 hari hingga Jum’at (11/8) mendatang.   Pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia), didukung oleh pemerintah Republik Indonesia. Keberadaan RS Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu perekat persatuan antara etnis di Myanmar sehingga bisa meredam konflik berkepanjangan yang terjadi untuk mendorong terciptanya perdamaian di Myanmar.   Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui :   Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee     Info: www.mer-c.org 0811990176

Pembangunan Tahap Pertama Selesai, Tim Teknis RS Indonesia Kembali Kunjungi Myanmar

Jakarta – Empat relawan teknis RS Indonesia, hari ini, Senin/7 Agustus 2017 kembali bertolak ke Myanmar. Kunjungan dilakukan seiring telah selesainya pembangunan tahap pertama, yaitu pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia seluas lebih dari 7.000 m2 yang terletak di Muaung Bwe, Mrauk U, provinsi Rakhine. Keempat relawan tersebut adalah Drs. Ichsan Thalib (Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia, Myanmar), Ir. Idrus M. Alatas, MSc (Ketua Divisi Konstruksi MER-C), Ir. Agus Subiyakto Saleh, MT dan Ir. Nur Ikhwan Abadi. Ichsan Thalib selaku Ketua Tim menyatakan bahwa agenda kunjungan kali ini adalah untuk melakukan supervisi pekerjaan tahap pertama yang dikerjakan oleh kontraktor lokal pemenang tender sekaligus melakukan finalisasi pembayaran. Pekerjaan tahap pertama semula diperkirakan memakan waktu 2 – 3 bulan. Namun sejak dimulai pada 25 Mei 2017 dan meski wilayah ini kerap dilanda hujan lebat, ternyata pada akhir Juli 2017 lalu, pekerjaan pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia bisa selesai hanya dalam jangka waktu 2 bulan. Ichsan melanjutkan, tidak hanya bidang teknis pembangunan, MER-C juga mengikutsertakan seorang ahli teknik lingkungan untuk mengadakan studi lanjutan dalam rangka mengatasi permasalahan air bersih yang sulit di wilayah sekitar RS Indonesia. “Air di wilayah ini payau sehingga selama ini masyarakat mengandalkan dan sangat bergantung dari air tadah hujan. Keikutsertaan ahli teknik lingkungan dalam misi ini diharapkan bisa mengatasi permasalahan air bersih yang tidak hanya sangat penting bagi operasional RS Indonesia ke depan namun juga bagi kehidupan masyarakat sekitar baik Muslim maupun Budha.” Sementara itu, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Idrus M. Alatas, relawan yang juga pernah terlibat dalam pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina mengungkapkan bahwa agenda penting tim lainnya di Myanmar adalah melakukan persiapan tender untuk pembangunan tahap selanjutnya, yaitu bangunan utama RS Indonesia serta sarana pelengkapnya seperti rumah dokter dan perawat. Lama kunjungan tim untuk menuntaskan semua kegiatan diperkirakan selama 5 hari hingga hari Jum’at/11 Agustus 2017 mendatang. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar adalah program kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) yang didukung oleh Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak masyarakat Indonesia berpartisipasi dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini.   Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui :   Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee   Info: www.mer-c.org 0811990176

Progress Pembangunan RS INDONESIA di Rakhine State, Myanmar

Meski kerap dilanda hujan lebat, pembangunan tahap infrastruktur berupa pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia seluas lebih dari 7.000 m2 di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar terus berjalan. Pasca Idul Fitri Tim teknis pembangunan RS Indonesia berencana bertolak lagi ke Rakhine, Myanmar untuk melakukan evaluasi dan supervisi pekerjaan langsung ke lapangan serta mempersiapkan tender untuk pembangunan bangunan utama RS Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu/Sahabat yang sudah memberikan dukungan dan donasi untuk program ini. Kami masih berharap doa, dukungan dan partisipasi dari masyarakat Indonesia agar program ini dapat segera terwujud. Semoga program ini kembali dapat menjadi amal baik bersama bangsa Indonesia. Di suasana yang fitri ini, kami juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info : www.mer-c.org 0811990176

Pembangunan RS Indonesia di Myanmar Dimulai

Jakarta – Kamis/25 Mei 2017, pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) resmi dimulai. Pembangunan yang telah berjalan adalah pembangunan infrastruktur berupa pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia yang terletak di Muaung Bwe, Rakhine State. Pembangunan infrastruktur dikerjakan oleh kontraktor lokal hasil pemenang tender yang telah ditetapkan oleh Tim Pembangunan RS Indonesia saat melakukan kunjungan sepekan ke Myanmar pada tanggal 15 – 21 Mei 2017 lalu. Pembangunan tahap ini diperkirakan akan memakan waktu selama 3 bulan ke depan dan akan disupervisi langsung oleh MER-C dan PMI. Sementara pembangunan bangunan utama RS Indonesia akan dimulai setelah musim penghujan selesai sekitar akhir September atau awal Oktober 2017. Saat ini disain RS Indonesia di Myanmar sedang difinalisasi untuk persiapan tender tahap berikutnya yang rencananya akan dilakukan usai hari raya Idul Fitri mendatang. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar adalah program kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) yang didukung oleh Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak masyarakat Indonesia berpartisipasi dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini. Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176

Menlu RI Dukung Rencana Pembangunan RS Indonesia di Myanmar

Jakarta – Sebagai tindaklanjut dari rencana program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar, hari ini Selasa/14 Maret 2017, Menteri Luar Negeri RI menerima audiensi perwakilan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia). Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut, Menteri Retno Marsudi, menyatakan dukungannya kepada rencana program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Menteri Luar Negeri juga mengapresiasi dan bersyukur NGO-NGO di Indonesia sejalan dan bekerjasama dengan Pemerintah untuk melakukan pendekatan-pendekatan yang konstruktif khususnya dalam membantu menangani permasalahan konflik etnis di Myanmar.  Pada pertemuan ini, Tim MER-C yang dipimpin oleh dr. Sarbini Abdul Murad dan didampingi oleh Drs. Ichsan Thalib (Project Manager RS Indonesia di Myanmar), Ir. Luly Larissa Agiel (Ketua Divisi Penggalangan Dana MER-C) dan Rima Manzanaris (Manajer Operasional) menyampaikan rancangan gambar RS Indonesia di Rakhine State (Myanmar) yang sudah mengalami perbaikan dan pengembangan disain. Disain bangunan RS Indonesia dibuat netral karena diperuntukkan bagi 2 komunitas, baik Muslim maupun Budha yang ada di Myanmar.    Untuk dapat segera merealisasikan pembangunan, pada akhir Maret 2017 ini akan ada pengiriman Tim Gabungan ke Myanmar untuk menjajaki teknis pembangunan Rumah Sakit. Tim Gabungan akan membicarakan masalah-masalah detail terkait pembangunan RS kepada pihak-pihak terkait di Myanmar.    “Mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa membangun RS Indonesia karena Wapres RI meminta dalam tahun ini RS Indonesia di Myanmar bisa selesai. Menlu juga telah menunjuk Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan/Duta Besar Kemenlu RI, Bapak Salman Alfarisi, sebagai Ketua Penghubung sehingga semua elemen NGO atau ormas Indonesia yang akan membantu Myanmar akan dikoordinir melalui satu pintu,” ujar dr. Sarbini Abdul Murad usai menghadiri pertemuan dengan Menlu RI.    “Kita mohon doa dan dukungan dari masyarakat Indonesia agar RS ini sebagai simbol perdamaian, simbol persatuan, simbol harmoni hubungan antar umat beragama di Indonesia bisa segera terwujud. Kita harapkan juga Myanmar bisa mengadopsi pesan-pesan ini,” tambahnya.   Dukungan dan bantuan untuk pembangunan RS Indonesia di Myanmar dapat disalurkan melalui :   Bank Syariah Mandiri (BSM), 700.130.6833 Bank Central Asia (BCA), 686.028.0009 Atas nama : Medical Emergency Rescue Committee  

MER-C Beraudiensi dengan Duta Besar Afghanistan Bahas Rencana IHC

Jakarta – Rabu/15 Juni 2016, untuk menindaklanjuti rencana pembangunan sarana kesehatan (Indonesia Health Center/IHC) di wilayah perang Afghanistan, MER-C Indonesia kembali melakukan kunjungan ke Kedutaan Besar Afghanistan di Jakarta. Kunjungan ini diterima oleh Duta Besar Afghanistan yang baru, H.E. Ms. Roya Rahmani.   Pada kesempatan tersebut, Presidium MER-C, Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT memperkenalkan mengenai MER-C sebagai LSM medis yang sudah dua kali berpengalaman menunaikan misi kemanusiaan ke Afghanistan, yaitu pada Oktober 2001 dan Mei 2002. Saat itu, Amerika Serikat dan sekutunya tengah melancarkan serangan udara ke negara ini dengan dalih untuk menghancurkan kamp-kamp pelatihan teroris Al Qaeda dan instalasi militer rezim Taliban di Afghanistan. Seketika berita penyerangan itu muncul di berbagai media, MER-C pun segera menyiapkan Tim Bedahnya untuk berangkat ke Afghanistan untuk memberikan pertolongan kepada para korban perang. Kini belasan tahun berlalu, Pemerintah Palestina melalui International Health Advisor – Ministry of Public Health of Afghanistan menyampaikan kondisi terkini di Afghanistan serta kebutuhan akan sarana kesehatan yang masih minim di sejumlah wilayah yang sempat porak-poranda akibat perang berkepanjangan.   “Suatu saat kami akan datang kembali ke Afghanistan,” tegas Joserizal. “Kami berniat untuk berbuat sesuatu. Pembangunan sarana kesehatan akan menjadi program jangka panjang MER-C untuk Afghanistan,” lanjutnya.   Namun Presidium MER-C juga menjelaskan kepada Duta Besar Afghanistan bahwa pelaksanaan program memerlukan waktu dan kesabaran karena dana MER-C bagi program ini seperti halnya RS Indonesia di Gaza, akan murni berasal dari sumbangan masyarakat Indonesia yang sebagian besar menengah ke bawah.  

Silahkan bertanya?