MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Peduli Rohingya, Murid SD dan SMP Pidie Aceh Sumbangkan Rp 84 Juta lebih

Sejak masa awal kemerdekaan, rakyat Aceh sudah terkenal dengan sumbangsihnya yang besar kepada bangsa ini. Sebut saja sumbangan yang dikumpulkan secara sukarela dari masyarakat hingga saudagar-saudagar Aceh, sehingga akhirnya Indonesia bisa membeli dan memiliki pesawat pertama Dakota RI-001 Seulawah yang sangat berperan penting dalam proses perjuangan bangsa ini dalam mempertahankan kemerdekaan. Tidak hanya itu rakyat Aceh juga menyumbangkan emas untuk melapisi bagian teratas tugu monas sebagai monumen kebanggaan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan bangsa Indonesia.   Keteladanan berupa kepedulian ini diwariskan dan tetap ditunjukkan oleh generasi Aceh sekarang. Ketika MER-C menginisiasi pembangunan RS Indonesia di wilayah yang masih terblokade dan terjajah Jalur Gaza, Palestina, rakyat Aceh menjadi penyumbang terbesar program ini dengan total donasi sekitar 7 milyar rupiah.   Untuk mengapresiasi hal ini, MER-C menyematkan nama dua pahlawan Aceh sebagai nama ruangan di RS Indonesia di Jalur Gaza, yaitu ruangan Tjut Nyak Dien dan Teuku Cik Ditiro.   Kini, siswa-siswi SD dan SMP serta guru-guru di Aceh khususnya di wilayah kabupaten Pidie kembali menunjukkan kepedulian sebagaimana ditunjukkan oleh pendahulu mereka.   Para murid SD dan SMP di Kabupaten ini berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 84,6 juta untuk muslim Rohingya.   Selasa (3/10) bertempat di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie, Kepala Dinas Pendidikan Pidie, Murthallamuddin bersama para Kasinya menyerahkan donasi tersebut secara langsung kepada salah satu Presidium MER-C Indonesia, dr. Sarbini Abdul Murad yang didampingi Koordinator MER-C Aceh Ira Hadiati.   Menurut Kasi Kurikulum SMP, Nasrul, M.Pd, dana bantuan itu dikumpulkan selama beberapa hari di sekolah-sekolah di Kabupaten Pidie.   “Kita kumpulkan secara sukarela dari para murid SD, SMP dan dewan guru. Alhamdulillah berhasil terkumpul Rp 84.602.000,” terang Nasrul.   Kadis Pendidikan, Murthalamuddin, mengatakan, sumbangan murid dan guru di Pidie sebagai bentuk solidaritas terhadap saudara sesama muslim yang mengalami krisis akibat konflik di Myanmar.   “Semoga dana bantuan itu dapat dipergunakan untuk kebutuhan para muslim Rohingya,” terang Kadis.   MER-C yang telah memulai misi kemanusiaan ke wilayah konflik di Myanmar sejak tahun 2012 akan menyalurkan bantuan dari rakyat Indonesia termasuk dari murid-murid sekolah di Pidie untuk pelayanan kesehatan bagi para korban dan pembangunan RS Indonesia di Rakhine State Myanmar yang sudah memasuki tahap dua.   Info: www.mer-c.org 0811990176

MER-C Tandatangani Kontrak Pembangunan RSI Myanmar dengan Kontraktor

Yangon – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menandatangani kontrak pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap kedua yang berlokasi di Rakhine State, Myanmar, Rabu (6/9) di Yangon. Penandatangan dilakukan oleh Presidium MER-C, Ir. Faried Thalib dengan Kyaw Nay Oo, selaku Direktur Rakhita Ah Linn Construction. Co.Ltd, kontraktor lokal pemenang tender pembangunan RS Indonesia. “Ini merupakan kontrak kedua dari pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar. Tahap pertama sudah selesai dan kita sekarang akan segera bangun tahap kedua” ujar Faried Thalib, anggota Presidium MER-C, sesaat setelah menandatangani kontrak. Mantan Manajer Proyek Pembangunan RS Indonesia di Gaza (Palestina) ini menjelaskan bahwa tahap kedua pembangunan rumah sakit ini merupakan pembangunan gedung tempat tinggal untuk dokter dan perawat. “Pembangunan rumah tinggal untuk dokter dan perawat ini kita dahulukan, dan setelah berjalan, bangunan utama akan segera kita bangun secara bersamaan” ujarnya. “Ini bagian dari diplomasi kemanusiaan yang dilakukan oleh MER-C, diharapkan dengan dibangunnya rumah sakit ini, akan memberikan manfaat kepada rakyat Myanmar yang dilanda konflik dan yang lebih penting akan membantu meredakan konflik di daerah ini” jelasnya. Faried menambahkan, Indonesia dengan mayoritas Muslim dan minoritas Budha hendaknya menjadi contoh bagi pemerintah dan rakyat Myanmar, bahwa keberagaman bukan alasan untuk bertikai, namun justru saling mengayomi satu dengan yang lain. “Terlebih lokasi Rumah Sakit berada di antara daerah penduduk muslim dan Budha, sehingga bisa menjadi fasilitas untuk semua penduduk di sana” lanjutnya. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke Rohingya pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan assessment ke lokasi lahan RS Indonesia di Mrauk U pada Agustus 2015. Saat itu, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Mrauk U, Rakhine State. Pada Mei 2017, setelah sempat tertunda selama dua tahun, pembangunan RS Indonesia resmi dimulai. Hal ini berkat inisiasi dari Bapak M. Jusuf Kalla yang memberikan dukungan positif dan berharap RS Indonesia bisa segera terwujud dalam jangka waktu satu tahun ke depan. Ketua Umum PMI ini juga mengarahkan agar RS Indonesia menjadi program kerjasama MER-C dan PMI. Serangkain rapat koordinasi antara MER-C, PMI, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian terkait lainnya sudah beberapa kali digelar baik di kantor Wakil Presiden RI dan Markas Besar PMI untuk menindaklanjuti dan mempercepat pembangunan RS Indonesia. MER-C telah menunjuk tim pelaksana pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang terdiri dari para relawan insinyur yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Meskipun pembangunan diserahkan kepada kontraktor lokal, namun MER-C akan menempatkan relawan insinyur di lapangan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia di Rakhine State sampai pembangunan selesai. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee   Info: www.mer-c.org 0811990176

Tindaklanjuti Pembangunan RS Indonesia, MER-C Kirim Tim ke Myanmar

Rabu pagi (6/9), dua relawan insinyur MER-C yang sudah berpengalaman dalam program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza Palestina, yaitu Ir. Faried Thalib dan Ir. Nur Ikhwan Abadi bertolak ke Myanmar. Kedua relawan dari Divisi Konstruksi MER-C inj akan meninklanjuti program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang akan memasuki tahap dua dari tiga tahap yang direncanakan. Meski situasi di Myanmar belum kondusif, namun proses pembangunan RS Indonesia di wilayah ini terus berjalan.   Pembangunan tahap pertama telah selesai, akan dilanjutkan pembangunan tahap dua berupa pembangunan asrama dokter dan perawat. Pada keberangkatan kali ini tim akan melakukan finalisasi kontrak dengan para kontraktor lokal, juga mencari akses untuk bantuan kemanusiaan ke wilayah konflik.   RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar diharapkan bisa segera selesai dan memberikan bantuan pelayanan kesehatan jangka panjang bagi para korban.   Pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia).   Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui :    Mandiri 124.000.8111.982  BSM 700.1306.833  BCA 686.028.0009  Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee   Info:  www.mer-c.org  0811990176    

MER-C dan RRI Jakarta Tandatangani Kerjasama Penggalangan Dana RS Indonesia di Myanmar

Jakarta – MER-C dan RRI Jakarta kembali sepakat menjalin kerjasama dalam rangka sosialisasi dan penggalangan dana untuk program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Kesepakatan kerjasama telah ditandatangani pada hari Rabu (23/8) di Gedung RRI oleh Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad dan Kepala RRI Jakarta, La Sirama, SSos, MM. Ini bukan kerjasama pertama kali bagi MER-C dan RRI Jakarta. Sebelumnya saat program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, RRI Jakarta juga menjadi salah satu media partner hingga pembangunan rumah sakit ini selesai. Kini, MER-C kembali menggandeng RRI Jakarta menjadi media partner untuk program pembangunan RS Indonesia yang sedang berlangsung di wilayah konflik di Myanmar, tepatnya di Muaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State. RRI Jakarta akan memberikan space iklan secara sosial sebagai bentuk dukungan RRI Jakarta bagi program kemanusiaan bangsa Indonesia di dunia internasional. Iklan Layanan Masyarakat berdurasi 60 detik yang dibuat oleh MER-C dengan melibatkan sejumlah tokoh dan artis yang peduli terhadap program ini akan diputar oleh RRI Jakarta setiap hari selama kurun waktu kerjasama. Program kerjasama MER-C, PMI dan Walubi yang turut didukung oleh pemerintah Indonesia ini diharapkan bisa tersosialisasikan secara lebih luas kepada masyarakat Indonesia dengan dukungan media, sehingga swmakin banyak masyarakat yang tergerak untuk berpartisipasi memberikan dukungan dan bantuannya. Saat ini pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar akan memasuki tahap pembangunan bangunan utama rumah sakit. Perkiraan dana yang dibutuhkan untuk pembangunan hingga pengadaan alat kesehatan rumah sakit mencapai Rp 25 Milyar. Pembangunan ditargetkan bisa selesai pada awal atau pertengahan tahun depan. Tidak hanya bangunan rumah sakit, masalah air bersih yang sulit di wilayah ini juga turut menjadi perhatian yang akan ditangani.   Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui :   Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee   Info: www.mer-c.org 0811990176

Teknologi Ultra Filtrasi akan digunakan untuk suplai kebutuhan air RS Indonesia di Myanmar

Yangon – Tim Teknis RS Indonesia memutuskan akan menggunakan teknologi ultra filtrasi untuk mensuplai kebutuhan air bagi Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Hal ini dijelaskan oleh salah satu anggota tim ahli MER-C, Agus Subiyakto Saleh saat melalukan kunjungan ke lokasi pembangunan RS Indonesia di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, Rabu (9/8).   “Setelah melakukan pengecekan di lapangan, air yang ada PH nya 7,1 dan TDS nya rendah hanya 2 yang berarti mineralnya rendah, maka kita akan menggunakan sistem ultra filtrasi, ini akan langsung jernih airnya” terang ahli pengolahan air asal ITB tersebut.   Pria yang lahir 58 tahun lalu itu menjelaskan bahwa teknologi ultra filtrasi ini merupakan sebuah teknologi penyaringan air dengan menggunakan membran tertentu dan dapat menyaring setiap partikel yang ada di dalam air hingga ukuran 0,01 mikron.   “Jadi ultra filtrasi itu adalah teknologi dengan menggunakan membran dengan ukuran rembesannya 0,01 mikron. Nah dengan adanya air yang masuk melalui membran tersebut, semua kotoran akan tertahan, sehingga air itu sudah bebas dari kemungkinan bakteri dan lain-lain” jelasnya.   Ia juga menyatakan selain perawatan yang mudah, teknologi ini pun mampu menahan virus hingga ukuran 0,5 mikron. “Sampai dengan virus akan tertahan di membran itu, karena virus ukuran nya 0,5 mikron. Tekonologi ini mudah dioperasikan dengan menggunakan pompa karena tekanannya cukup rendah. Hanya membutuhkan tekanan 0,5 – 1 bar. Membersihkannya cukup mudah, dengan bayclin sudah bisa membersihkan membran” lanjutnya.   Agus juga menambahkan bahwa dengan kapasitas penampungan air yang mencapai 120 ribu meter kubik, bisa melayani 1000 orang selama empat bulan kedepan.   “Kapasitas penampungan air ini 120 meter kubik, bisa melayani 1.000 orang, dan jika dihitung kebutuhan air perorang 100 liter perhari, maka kapasitas air ini bisa digunakan hingga 120 hari kedepan atau 4 bulan,” terangnya.   Lebih lanjut Agus menyatakan bahwa air hujan yang ditampung di kolam penampungan tersebut kualitasnya sangat baik, karena tidak ada polusi udara disekitarnya.   “Saya langsung minum air tadi, karena saya yakin air tersebut tidak berbahaya, dan airnya bisa dikonsumsi langsung. Rasanya seperti rasa air yang punya TDS rendah. Ini karena air nya tidak tercemar oleh polusi” ungkapnya.   Saat disinggung soal biaya Agus menyatakan bahwa biaya yang digunakan bisa terjangkau dan tidak terlalu tinggi.  “Untuk kapasitas 3-4 meter kubik per jam jika di Jakarta seharga 15 jutaan. Berarti selama satu jam air ini bisa melayani 300 orang, sehingga untuk kapasitas 1.000 orang, bisa beroperasi hanya 3-4 jam perhari” katanya.   Sebelumnya, Senin (7/8), MER-C memberangkatkan empat relawan teknis ke Myanmar dengan salah satu agenda adalah melakukan studi lanjutan untuk mengatasi permasalahan air bersih selain melakukan supervisi pekerjaan pembangunan tahap satu RS Indonesia yang sudah selesai.   Tim dijadwalkan akan bertugas selama 5 hari hingga Jum’at (11/8) mendatang.   Pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia), didukung oleh pemerintah Republik Indonesia. Keberadaan RS Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu perekat persatuan antara etnis di Myanmar sehingga bisa meredam konflik berkepanjangan yang terjadi untuk mendorong terciptanya perdamaian di Myanmar.   Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui :   Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee     Info: www.mer-c.org 0811990176

Pembangunan Tahap Pertama Selesai, Tim Teknis RS Indonesia Kembali Kunjungi Myanmar

Jakarta – Empat relawan teknis RS Indonesia, hari ini, Senin/7 Agustus 2017 kembali bertolak ke Myanmar. Kunjungan dilakukan seiring telah selesainya pembangunan tahap pertama, yaitu pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia seluas lebih dari 7.000 m2 yang terletak di Muaung Bwe, Mrauk U, provinsi Rakhine. Keempat relawan tersebut adalah Drs. Ichsan Thalib (Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia, Myanmar), Ir. Idrus M. Alatas, MSc (Ketua Divisi Konstruksi MER-C), Ir. Agus Subiyakto Saleh, MT dan Ir. Nur Ikhwan Abadi. Ichsan Thalib selaku Ketua Tim menyatakan bahwa agenda kunjungan kali ini adalah untuk melakukan supervisi pekerjaan tahap pertama yang dikerjakan oleh kontraktor lokal pemenang tender sekaligus melakukan finalisasi pembayaran. Pekerjaan tahap pertama semula diperkirakan memakan waktu 2 – 3 bulan. Namun sejak dimulai pada 25 Mei 2017 dan meski wilayah ini kerap dilanda hujan lebat, ternyata pada akhir Juli 2017 lalu, pekerjaan pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia bisa selesai hanya dalam jangka waktu 2 bulan. Ichsan melanjutkan, tidak hanya bidang teknis pembangunan, MER-C juga mengikutsertakan seorang ahli teknik lingkungan untuk mengadakan studi lanjutan dalam rangka mengatasi permasalahan air bersih yang sulit di wilayah sekitar RS Indonesia. “Air di wilayah ini payau sehingga selama ini masyarakat mengandalkan dan sangat bergantung dari air tadah hujan. Keikutsertaan ahli teknik lingkungan dalam misi ini diharapkan bisa mengatasi permasalahan air bersih yang tidak hanya sangat penting bagi operasional RS Indonesia ke depan namun juga bagi kehidupan masyarakat sekitar baik Muslim maupun Budha.” Sementara itu, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Idrus M. Alatas, relawan yang juga pernah terlibat dalam pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina mengungkapkan bahwa agenda penting tim lainnya di Myanmar adalah melakukan persiapan tender untuk pembangunan tahap selanjutnya, yaitu bangunan utama RS Indonesia serta sarana pelengkapnya seperti rumah dokter dan perawat. Lama kunjungan tim untuk menuntaskan semua kegiatan diperkirakan selama 5 hari hingga hari Jum’at/11 Agustus 2017 mendatang. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar adalah program kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) yang didukung oleh Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak masyarakat Indonesia berpartisipasi dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini.   Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui :   Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee   Info: www.mer-c.org 0811990176

Progress Pembangunan RS INDONESIA di Rakhine State, Myanmar

Meski kerap dilanda hujan lebat, pembangunan tahap infrastruktur berupa pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia seluas lebih dari 7.000 m2 di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar terus berjalan. Pasca Idul Fitri Tim teknis pembangunan RS Indonesia berencana bertolak lagi ke Rakhine, Myanmar untuk melakukan evaluasi dan supervisi pekerjaan langsung ke lapangan serta mempersiapkan tender untuk pembangunan bangunan utama RS Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu/Sahabat yang sudah memberikan dukungan dan donasi untuk program ini. Kami masih berharap doa, dukungan dan partisipasi dari masyarakat Indonesia agar program ini dapat segera terwujud. Semoga program ini kembali dapat menjadi amal baik bersama bangsa Indonesia. Di suasana yang fitri ini, kami juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info : www.mer-c.org 0811990176

Pembangunan RS Indonesia di Myanmar Dimulai

Jakarta – Kamis/25 Mei 2017, pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) resmi dimulai. Pembangunan yang telah berjalan adalah pembangunan infrastruktur berupa pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia yang terletak di Muaung Bwe, Rakhine State. Pembangunan infrastruktur dikerjakan oleh kontraktor lokal hasil pemenang tender yang telah ditetapkan oleh Tim Pembangunan RS Indonesia saat melakukan kunjungan sepekan ke Myanmar pada tanggal 15 – 21 Mei 2017 lalu. Pembangunan tahap ini diperkirakan akan memakan waktu selama 3 bulan ke depan dan akan disupervisi langsung oleh MER-C dan PMI. Sementara pembangunan bangunan utama RS Indonesia akan dimulai setelah musim penghujan selesai sekitar akhir September atau awal Oktober 2017. Saat ini disain RS Indonesia di Myanmar sedang difinalisasi untuk persiapan tender tahap berikutnya yang rencananya akan dilakukan usai hari raya Idul Fitri mendatang. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar adalah program kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) yang didukung oleh Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak masyarakat Indonesia berpartisipasi dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini. Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176

Pembangunan Infrastruktur RS Indonesia Dimulai Bulan Depan

Rakhine – Pembangunan infrastruktur berupa pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia di Myanmar akan dimulai segera dalam bulan depan, Juni 2017. Hal ini disampaikan salah satu anggota Tim Pembangunan RS Indonesia, Dr. Ir. Idrus M. Alatas usai mengunjungi lokasi lahan RS Indonesia yang terletak di Muaung Bay, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, hari Kamis/18 Mei 2017. Prioritas utama lainnya yang harus diselesaikan adalah air bersih yang sulit didapat di wilayah ini. Padahal kebutuhan air bersih tinggi dan vital bagi sebuah rumah sakit. Idrus M. Alatas yang juga Ketua Divisi Konstruksi MER-C mengemukakan bahwa pembangunan RS Indonesia akan dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap awal infrastruktur lalu tahap pembangunan rumah sakit itu sendiri. Infrastruktur RS Indonesia mencakup diantaranya pemagaran dan pengurukan. Untuk pengurukan, lahan RS Indonesia harus diuruk setinggi dua meter untuk untuk menghindari banjir yang setiap tahun melanda daerah ini. “Direncanakan pemagaran dan pengurukan dapat dilaksanakan Juni depan, dilanjutkan dengan pembangunan rumah sakit yang sedang didisain ulang disesuaikan dengan standar nasional yang berlaku di Myanmar. Pembangunan RS akan dilaksanakan setelah musim hujan periode September,” lanjutnya. Saat kunjungan ke lokasi yang berjarap sekitar 4,5 jam perjalanan darat dari kota Sittwe, ibukota Rakhine State, tim menemukan permasalah krusial yang juga harus diatasi, yaitu permasalahan air bersih. Melihat kondisi air yang sangat tidak layak, Tim memutuskan bahwa hal ini juga akan menjadi prioritas utama untuk diselesaikan karena terkait dengan kesehatan warga sekitar dan keberlangsungan pelayanan RS Indonesia nantinya. Air di wilayah ini payau meski sudah dibuat sumur yang dalam. Air sungai juga payau tidak bisa diminum sehingga warga mengandalkan air hujan yang ditampung pada penampungan air untuk mereka gunakan kala musim kemarau tiba. Idrus M. Alatas, relawan teknis yang juga ahli geologi tanah akan mengajukan program pengolahan penampungan air yang lebih efektif dan sehat. Tim rencananya juga akan melibatkan ahli tata kelola air untuk membantu mengatasi permasalahan air bersih di wilayah ini. Pembangunan RS Indonesia adalah program kerjasama MER-C (medical Emergency Rescue Committee) bersama PMI (Palang Merah Indonesia) dengan dukungan Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak berpartisipasi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini.  

MER-C dan Pemerintah Myanmar Sepakati Lokasi RS Indonesia

Rakhine – MER-C dan Pemerintah Myanmar sepakati lokasi untuk pembangunan RS Indonesia, yaitu di desa Muaung Bay, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar. Lokasi ini dipilih setelah Tim Pembangunan RS Indonesia yang terdiri dari Drs. Ichsan Thalib, Dr. Ir. Idrus M. Alatas dan Ir. Faried Thalib melakukan kunjungan langsung ke lapangan, Kamis/18 Mei 2017. Kunjungan didampingi oleh dr. Swei Tein (Kepala Kesehatan Rakhien State), Bonifatius A. Herindra (Pelaksana Fungsi Politik KBRI Yangon) dan tiga kontraktor yang berminat mengikuti tender pembangunan RS Indonesia. “Lokasi berjarak sekitar 2,3 km dari lokasi lama yang telah Tim MER-C kunjungi pada Agustus 2015 lalu,” ungkap Ichsan Thalib yang sudah tiga kali mengunjungi Rakhine State, Myanmar. Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia di Myanmar ini menyatakan bahwa lokasi disepakati karena dilihat dari strategisnya sama dengan lokasi yang lama. Bahkan di lokasi baru mobilisasi warga di RS akan lebih memungkinkan. Di sini lebih ramai dan lebih dekat ke pemukiman warga baik muslim maupun Budha. Lahan RS Indonesia yang diberikan pemerintah Myanmar sekarang juga lebih luas, yaitu sekitar 7.000 meter persegi, terletak di pinggir jalan raya Sittwe – Yangon.” Hal penting lainnya, tambah Ichsan, lokasi ini juga tetap mudah diakses dan dapat memberikan pelayanan bagi warga Rakhine State dari kedua belah pihak baik Muslim maupun Budha. Di samping lahan RS Indonesia saat ini ada rumah sakit tua (station hospital) yang dibangun tahun 1972 yang sudah mengalami beberapa kerusakan. Pada kesempatan kunjungan tersebut Tim memberikan santunan pada para pasien yang terbaring di bangsal RS yang sekitar 70% adalah warga Muslim. Tim memberikan santunan kepada pasien baik muslim maupun budha dan kepada paramedis. Rumah sakit (station hospital) inilah yang selama ini menjadi tumpuan warga sekitar dikala sakit. Apabila RS Indonesia telah selesai, maka operasional pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang ada akan dipindahkan ke RS Indonesia. Pembangunan RS Indonesia adalah program kerjasama MER-C (medical Emergency Rescue Committee) bersama PMI (Palang Merah Indonesia) dengan dukungan Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak berpartisipasi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini.    

Silahkan bertanya?