MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Sempat Tertunda Sebulan, Satu Relawan MER-C Akhirnya Bisa Masuk Gaza

Dr. Regintha Yasmeen, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, akhirnya mendapat kesempatan masuk ke Jalur Gaza,  setelah menunggu selama satu bulan di Kairo, Mesir, Selasa (4/6). Dr. Regintha yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) 4, berangkat dari Jakarta ke Kairo bersama 6 relawan lainnya pada tanggal 3 Mei 2024. Ia dan Tim EMT 4 lain sebelumnya dijadwalkan masuk ke Jalur Gaza menggantikan Tim EMT 3 MER-C pada Senin (6/5). Namun invasi darat Israel ke Rafah pada hari itu membuat semua pergerakan konvoi relawan di bawah koordinasi WHO UNOCHA baik yang akan masuk ke Jalur Gaza, maupun yang akan keluar dari Jalur Gaza tertunda. Bahkan sejak saat itu, perbatasan Rafah ditutup total hingga hari ini. Kegagalan masuk ke Jalur Gaza tidak membuat para relawan putus asa. Keinginan besar untuk membantu warga Gaza yang menjadi korban membuat mereka bertahan menunggu kesempatan masuk berikutnya. Sebulan berlalu, kesempatan itu akhirnya datang. Sejak 31 Mei 2024, secara bertahap relawan dari Tim EMT 4 MER-C masuk ke Jalur Gaza dari Amman Yordania melalui Perbatasan Karem Abu Salem. Sementara itu, pada Selasa kemarin (4/6), satu relawan dari Tim EMT 1 MER-C, Ita Muswita, yang telah bertugas hampir tiga bulan juga berhasil keluar dari Jalur Gaza. Saat ini, ada tujuh relawan MER-C yang masih berada di Jalur Gaza dan bertugas di rumah sakit dan klinik yang masih beroperasi.

Satu Lagi Relawan Medis MER-C Masuk ke Jalur Gaza

Satu relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali berhasil memasuki Jalur Gaza. Dr. Farhandika Muhammad yang tergabung dalam Tim Emergency Medical Team (EMT) 4 akhirnya masuk ke Jalur Gaza bersama konvoi WHO UNOCHA, Jumat (31/5). Tim MER-C yang ada di Yordania melepas dr. Farhandika di Amman, untuk masuk ke Jalur Gaza melalui Penyebrangan Karem Abu Salem, Kamis (30/5). Ketatnya pengecekan barang bawaan Tim di perbatasan tersebut, membuat perjalanan konvoi terhambat dan baru tiba di Gaza keesokan harinya. Dr. Far Proses pergantian relawan sempat tertunda akibat invasi Israel ke Rafah, Gaza Selatan, yang merupakan tempat bertugas relawan. Invasi ini juga mengakibatkan penyebrangan Rafah, antara Mesir dan Gaza ditutup. Saat ini pergerakan masuk dan keluar relawan medis dari Jalur Gaza melalui penyebrangan Karem Abu Salem, namun masih dengan jumlah yang sangat terbatas. Pada hari yang sama, Jumat (31/5), dua relawan perawat, Asrina Sari dan Nadia Rosi dari Tim EMT 3 MER-C juga berhasil keluar dari Gaza usai bertugas selama lebih dari satu bulan di sana. Dengan rotasi yang ada, saat ini total tujuh relawan MER-C yang masih berada di Jalur Gaza terdiri dari 4 relawan medis, yaitu dokter spesialis anastesi, dokter spesialis bedah umum, dokter umum dan bidan serta tiga relawan non-medis. Relawan medis EMT MER-C langsung bertugas di RS An-Nasser yang baru reaktivasi selama satu minggu dan medical point yang masih aktif di Gaza Selatan.

Tertunda Keluar, Tim MER-C Tetap Bertugas Bantu Sejumlah Rumah Sakit di Rafah

Tertunda keluar akibat invasi Israel, Relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C yang saat ini masih berada di Rafah, Gaza Selatan, tetap bertugas membantu di sejumlah rumah sakit.Tertunda keluar akibat invasi Israel, Relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C yang saat ini masih berada di Rafah, Gaza Selatan, tetap bertugas membantu di sejumlah rumah sakit. Sejak Rabu (8/5), empat relawan EMT MER-C diarahkan oleh WHO untuk bertugas di Rumah Sakit Al Kuwaiti. Tim terdiri dari dokter spesialis bedah orthopedi, dokter layanan primer dan perawat. Tim MER-C bertugas bersama Tim EMT dari Mercy Malaysia yang membantu tenaga medis local memberikan pertolongan kepada para korban serangan. Selain di RS Kuwaiti, relawan EMT MER-C lainnya, yaitu dua perawat juga masih bertugas di klinik Tal Al-Sultan Primary Health Care Center. Sejak Kamis pagi (9/5), kedua relawan membantu melayani pasien dan korban luka-luka yang terus berdatangan. Sementara itu, RS An Najjar yang biasa menjadi lokasi tugas TIM EMT MER-C, saat ini sudah berhenti beroperasi. Salah satu relawan medis MER-C, Ita Muswita mengatakan, RS Kuwaiti merupakan pintu pertama pasien sehinga sejak ditugaskan mereka banyak menerima pasien korban langsung perang yang terkena bom, terutama luka bakar yang perlu dirujuk.  “Alhamdulillah kami bisa bantu mereka sebelum border (perbatasan) dibuka. Atas izin Allah, kami menerima apapun bentuk takdir Allah karena memang ini yang terbaik dari Allah. Doa kan kami tetap istiqomah dalam tugas,” tuturnya. Saat ini tersisa 12 relawan MER-C di Gaza. Hari Senin/6 Mei 2024, aktifitas medis relawan MER-C sempat dihentikan imbas serangan darat Israel ke Rafah. Hal ini juga mengakibatkan pergerakan masuk dan keluar Gaza untuk semua Tim EMT dibawah koordinasi WHO ditunda, termasuk Tim EMT MER-C.

MER-C Desak Israel Segera Hentikan Serangan ke Rafah

Siaran Pers Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mendesak Perdana Menteri Israel untuk segera menghentikan serangan ke Rafah, Gaza Selatan, yang akan mengakibatkan banyak korban sipil jika terus meluas. MER-C juga menyerukan kepada komunitas internasional segera mengambil tindakan untuk menghentikan genosida yang dilakukan Israel di Jalur Gaza sebelum terlambat. Pasukan Israel melancarkan serangan udara dan darat secara masif di wilayah Rafah, Senin (6/5). Kementerian Pertahanan Israel hari Senin mengumumkan operasi militer di Rafah dan mengeluarkan peringatan kepada warga Palestina untuk mengungsi secara paksa dari bagian timur Rafah menuju ke daerah pesisir Al-Mawasi, barat daya Gaza, termasuk sekitar penyeberangan Rafah, perbatasan dengan Mesir, yang merupakan titik perlintasan utama bantuan kemanusiaan ke Gaza. Serangan ke Rafah ini mengakibatkan penundaan pertukaran Tim Emergency Medical Team (EMT) 3 MER-C yang akan keluar dari Jalur Gaza dan Tim EMT 4 yang akan masuk bertugas ke Jalur Gaza.Hal ini karena WHO mengeluarkan peringatan agar semua perjalanan dibatalkan. MER-C terus memantau situasi yang mungkin akan memburuk, serta berkoordinasi dengan WHO untuk menjaga dan memastikan Tim dalam kondisi aman dan dapat terus bekerja dengan baik. Hingga saat ini tank-tank Israel telah memasuki Penyebarangan Rafah. Suara drone dan pesawat tempur Israel terus terdengar jelas dari guest house/posko, tempat TIM EMT menetap.  MER-C berkoordinasi dengan WHO sejak 18 Maret 2024 terus mengirimkan bantuan Tim Medis ke Jalur Gaza, yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT). MER-C telah mengirimkan total 4 Tim EMT. Sebanyak tiga Tim EMT sudah masuk dan bertugas di Jalur Gaza, sementara satu Tim (Tim EMT 4) masih tertahan di Kairo. Hingga saat ini, terhitung MER-C telah mengirimkan total 31 relawan yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat dan bidan. TIM EMT MER-C sebelumnya bertugas di sejumlah rumah sakit yang masih berfungsi di Rafah, Gaza Selatan, yaitu Rumah Sakit An Najar, Rumah Sakit El Emiraty dan Klinik Tal Al Sultan Primary Health Care Center. Pasca serangan darat Israel ke Rafah, tersisa 12 relawan MER-C yang masih bertugas di Jalur Gaza. Pada Senin/8 Mei 2024, aktifitas semua medis relawan MER-C sempat dihentikan imbas serangan darat Israel ke Rafah. WHO juga sementara melarang Tim EMT bekerja di RS Emirati dan RS An Najjar. Lokasi yang masih diperbolehkan untuk Tim bertugas adalah di Klinik Tal Al Sultan Primary Health Care Center.  Hari ini, Rabu/8 Mei 2024, tiga relawan EMT MER-C akan bergerak ke Tal Al Sultan Primary Health Care Center untuk bertugas memberikan pelayanan medis kepada para warga/pasien. Jakarta, 8 Mei 2024 MER-C Indonesia

Tim Medis ke-3 MER-C kembali Berhasil Memasuki Jalur Gaza

Tim Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang tergabung dalam Emergency Medical Teams (EMT) ke-3 bersama rombongan WHO lainnya kembali berhasil memasuki Jalur Gaza, Palestina, pada Senin (22/4/2024).   Tim EMT ke-3 MER-C berjumlah sembilan orang relawan, terdiri dari lima dokter dan empat perawat. Kelima dokter tersebut adalah; satu Dokter Spesialis Anak (Neonatologi), satu Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi, PD HCHM, Hand Microsurgery and Upper Limb Surgery Fellow Consultan, satu Dokter Spesialis Bedah Orthopedi dan Traumatologi, satu Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer (KKLP) serta satu Dokter Umum. Tim EMT ke-3 berangkat dari Jakarta ke Kairo pada Jumat (19/4/2024). Tiba di Kairo hari Sabtu, Tim langsung membeli alat-alat operasi bedah orthopedi dan bedah plastik yang sudah dipesan sebelumnya serta alat-alat medis lainnya, sejumlah bahan medis habis pakai, obat-obatan dan beberapa keperluan yang dibutuhkan selama bertugas di Jalur Gaza. Pada Minggu (21/04/2024), Tim mengikuti security briefing yang diadakan EMTCC (Emergency Medical Teams Coordination Cell) WHO di Kairo untuk teknis konvoi perjalanan darat dari Kairo ke Jalur Gaza. Tim Medis MER-C berjumlah 11 orang pertama kali berhasil memasuki Jalur Gaza pada Senin (18/03/2024). Kemudian MER-C kembali mengirimkan Tim ke-2 yang terdiri dari empat relawan, yaitu satu dokter umum, dua perawat dan satu liaison officer, yang berhasil masuk ke Gaza hari Rabu (03/04/2024).

Relawan Medis MER-C Bertugas di Tengah Keterbatasan di RS An Najjar Rafah

Relawan Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang bertugas di Rumah Sakit An Najjar di Rafah, Gaza Selatan, harus berjuang di tengah keterbatasan fasilitas dan obat-obatan. Tidak ada lagi tempat di IGD untuk menangani pasien. Jadi tindakan terpaksa dilakukan di kursi-kursi yang ada di sekitar ruang IGD. Tempat tidur yang tersedia sudah penuh. Menjadi salah satu dari empat rumah sakit yang masih berfungsi di Gaza Selatan, RS An Najar menerima 1000 hingga 2000 pasien per harinya. Salah satu relawan MER-C yang bertugas di Rumah Sakit tersebut mengatakan, ia bisa melakukan tindakan penjahitan kepada 30-40 pasien per harinya atau bahkan lebih jika sedang terjadi serangan. “Tantangan paling sulit karena lokasinya terbatas dan ada pasien yang cukup banyak. Di ruang ini hanya ada satu tempat tidur, yang bisa kami gunakan untuk 2-3 orang sekaligus. Kebutuhan medis juga tidak full di suplay hanya beberapa poin yang dipenuhi,” ujarnya. Relawan MER-C mengungkap, di RS An Najjar mereka menangani banyak pasien kelelahan, beberapa pasien yang mengalami infeksi saat di pengungsian, demam serta pasien luka. Pasien didominasi oleh anak-anak. Menariknya, saat Relawan MER-C melakukan peliputan langsung salah satu anak yang mengalami luka di kepalanya terus membaca ayat suci Al Quran selama dokter melakukan penanganan. 11 relawan MER-C berhasil memasuki Gaza sejak Senin (18/3/2024) lalu dan langsung bergabung dengan sejumlah rumah sakit untuk membantu warga Gaza. Berdasarkan hasil kordinasi dengan Kementrian Kesehatan Palestina Relawan Medis MER-C dibagi menjadi tiga tim. Tim 1 terdiri dari dokter bedah ditempatkan di An-Najar Hospital di Rafah yang diperuntukkan melayani pasien-pasien bedah dan trauma. Tim 2 terdiri dari bidan ditempatkan di Emiraty Hospital di Rafah yang didedikasikan untuk perawatan pasien ibu dan anak. Sedangkan Tim 3, Primary Care Team, ditempatkan di Tal Al-Sultan Primary Health Clinic di Rafah yang cukup besar dengan fasilitas seperti X Ray dan laboratorium. Di sini ada lima poli, satu poli spesialis anak (SpA), dua poli General Practitioner (umum) dan dua poli lain-lain.

Tak Hanya Rafah, Relawan MER-C juga Lakukan Tindakan Operasi di Gaza Tengah

Relawan Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang saat ini bertugas di Jalur Gaza, Palestina, masih terus membantu tim medis di sejumlah rumah sakit di wilayah itu. Terbaru, tidak hanya di rumah sakit yang terletak di Rafah, Gaza Selatan, Tim Medis MER-C juga melakukan tindakan operasi di Rumah Sakit Syuhada Al Aqsa yang berada di Kota Dirbalah, Gaza Tengah. Dua Relawan Medis MER-C dr. Fahmi Anshori, SpOT dan dr. Reyfal Khaidar bersama dua relawan MER-C lainya di Jalur Gaza Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan telah melakukan kunjungan ke RS Syuhada Al Aqsa untuk melakukan assessment, guna memastikan kondisi Rumah Sakit sebelum kedua dokter tersebut bertugas. Dr. Reyfal mengatakan, karena kondisi yang terbatas, ruang kebidanan yang ada di RS Syuhada Al Aqsa saat ini digunakan untuk ruang operasi. Pada kesempatan itu, dua relawan medis MER-C melakukan tindakan operasi korban fraktur tulang paha yang disebabkan oleh reruntuhan rumahnya yang hancur terkena bom.Dr. Fahmi mengatakan, ada situasi berbeda saat bertugas di Gaza Tengah di mana suara ledakan lebih sering terdengar dibandingkan di Gaza Selatan, yang sekarang memang menjadi satu-satunya wilayah aman serta memungkinkan bagi tim medis untuk bertugas. “Kalau di Gaza Selatan itu kita mendengar ledakan bom setiap jam, kalau di Gaza Tengah ini setiap menit. Ini cukup mendebarkan tapi Alhamdulillah Allah masih menjaga kita,” ujarnya. Ia mengungkap, untuk alasan keamanan WHO melarang Tim melakukan perjalanan saat malam hari dan menginap di Rumah Sakit, sehingga operasi yang dilakukan masih terbatas dan tim harus segera kembali ke Gaza Selatan sebelum matahari tenggelam. Dr. Fahmi menyerukan kepada dokter maupun relawan yang ingin membantu warga Gaza secara langsung untuk bisa melalui MER-C. Saat ini tim medis di Jalur Gaza sangat membutuhkan bantuan. 11 Relawan Medis MER-C berhasil memasuki Gaza pertama kali pada Senin (18/3/2024). Tim ke-2 sebanyak empat orang relawan menyusul masuk ke Jalur Gaza pada tanggal 3 April 2024. MER-C secara berkelanjutan terus mengirimkan relawanya untuk bertugas di Jalur Gaza yang tergabung dalam Emergency Medical Teams (EMT).

Bertugas di RS Abu Yusuf An Najjar Gaza, Tim Bedah MER-C Telah Tangani 25 Operasi

Ketua Tim EMT 1 MER-C, dr. Muhammad Reza Saputra, SpOT mengatakan, selama bertugas 10 hari di Rumah Sakit Abu Yusuf An Najjar, di Gaza Selatan, ia dan tim telah menangani 25 operasi bahkan per hari mencapai 5-6 operasi per harinya.   “Sampai hari ke 10 ini kita sudah banyak membantu masyarakat Gaza. Tapi yang perlu menjadi catatatan membantu Gaza yang saat ini sedang perang bukan berarti membantu perang. Pasien yang ditangani bukan hanya korban perang tapi juga korban secondary impact,” ujar dr. Reza.  “Di RS An Najjar kita melakukan operasi lebih kurang 25 orang. Sebagian besar korban perang dan sebagian lagi korban yang memang tidak langsung kena perang seperti kena tembak atau terkena ledakan tetapi karena mengungsi kemudian terjatuh, posisinya tidak bagus. itu juga banyak harus kita lakukan tindakan,” katanya. Ia juga mengatakan, pengungisan yang terlalu padat di mana Gaza Selatan atau Rafah dengan luas sekitar 50 km2 diisi oleh sekitar 1,5 juta warga Gaza mengakibatkan kebersihan, sanitasi dan kesehatan sangat terganggu sehingga penyakit menular juga banyak saat ini.  Dr. Reza mengungkap, dari 14 rumah sakit di Jalur Gaza hanya ada tiga yang beroperasi yaitu RS Eropa, RS Al Aqsa, RS An Najar kemudian ada rumah sakit khusus ibu dan anak yaitu RS Al Emirati. Dari ketiga rumah sakit itu, Relawan Medis MER-C yang berjumlah 11 orang dibagi menjadi tiga tim.  Di RS An Najjar tempatnya bertugas bersama satu orang dokter ortopedi lainya, satu perawat anestasi dan satu perawat operasi dari Tim MER-C, fasilitas yang ada sangat kurang karena banyak yang rusak. IGD yang sebelumnya menerima 100 pasien, saat ini harus menerima 700 pasien. Pasien yang tidak bisa ditangani dirujuk ke RS Eropa.  “Sebenarnya memang yang paling banyak melakukan operasi itu di RS Eropa, tapi saat ini kita masih di tempatkan di An Najjar oleh Kementrian Kesehatan Palestina. Tapi kita sudah berencana melakukan kerja sama dengan tim dokter di RS Eropa untuk melakukan operasi,” tuturnya. Sebelumnya, ketika masuk ke Jalur Gaza Tim MER-C telah membawa bantuan obat-obatan, instrumen orthoopedi, peralatan orthopedi dan implant orthopedi yang sangat bermanfaat bagi tim medis di Gaza. Mereka memang mengharapkan alat-alat ortopedi dan alat-alat medis lainnya yang sangat mereka butuhkan untuk membantu melayani masyarakat. Proses Sulit Masuk ke Gaza Lebih lanjut, dr. Reza mengungkap terkait proses masuknya Tim yang cukup sulit hingga berhasil tiba di Jalur Gaza.“Kita dari tim MER-C sudah berkordinasi dengan WHO sebelum-sebelumnya dan ketika kita mencoba untuk masuk, kita masih harus menunggu hampir sebulan di Kairo. Hingga pada tanggal 18 Maret pukul 17.15 kita berhasil masuk,” katanya. Tiba di Gaza, Tim MER-C langsung berkordinasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina dan pihak-pihak terkait untuk penugasan dan penempatan tim.  Terharu dengan Ketabahan Warga Gaza dr. M. Reza Saputra, SpOT mengatakan, selama bertugas di Jalur Gaza, ia menyaksikan ketabahan warga Gaza dan tersentuh bagaimana mereka masih berbagi meski dalam kondisi kekurangan.  “Yang paling menyentuh hati saya adalah masyarakat Gaza ini mereka tidak merendahkan diri. Walaupun ada yang minta-minta anak-anak begitu, tetapi yang paling saya rasakan adalah mereka selalu senyum dan tidak merendahkan diri,” kata dr. Reza.  Ia mengatakan, saat ini masih ada akifitas ekonomi dan perdagangan yang menjadi bukti warga Gaza tidak mau menerima dengan tangan di bawah. Mereka masih mau berusaha.  Cerita lain yang mengesankan baginya adalah ketika ia bersama Tim MER-C lainnya tiba dan saat itu sudah masuk bulan puasa, mereka melihat ternyata walau kekurangan masih ada warga Gaza yang membagikan air.  “Itu menyebabkan kami sangat tersentuh,” ujar Dokter Spesialis Ortopedi itu. “Dan bagi saudara saudara kami di Indonesia warga Gaza sangat membutuhkan bantuan kita semua,” ujarnya.

OPEN RECRUITMENT – “MER-C EMT for Gaza Response 2024”

*OPEN RECRUITMENT – “MER-C EMT for Gaza Response 2024”* Salam Sejawat Medis, *MER-C atau Medical Emergency Rescue Committee* adalah sebuah lembaga kegawatdaruratan medis Indonesia untuk korban perang, konflik dan bencana alam baik di dalam maupun luar negeri.    Merespon krisis kemanusiaan di Gaza, pada *Senin/18 Maret 2024*, MER-C telah mengirimkan Tim Medis I ke Jalur Gaza, Palestina. Tim terdiri dari 11 relawan dari berbagai keahlian medis yang dibutuhkan di lapangan. MER-C berencana mengirimkan Tim yang berkelanjutan ke Jalur Gaza untuk memberikan bantuan pengobatan kepada para korban agresi. Kegiatan ini bersifat *Kerelawanan (unpaid volunteers)*, *Netral*, dan *Amanah*. Bagi rekan-rekan sejawat medis yang terpanggil untuk bergabung dan bertugas sebagai relawan *“MER-C EMT (Emergency Medical Teams) for Gaza Response 2024”*, silahkan mengisi form di link berikut ini dan melengkapi persyaratan yang diperlukan: Bagi rekan-rekan yang lolos seleksi akan dihubungi oleh Sekretariat MER-C untuk proses lebih lanjut. *NOTE:* Proses ini tidak dipungut biaya. Harap berhati-hati terhadap semua informasi yang mengatasnamakan MER-C Indonesia. Informasi resmi melalui official website MER-C Indonesia: www.mer-c.org atau Call Center MER-C Indonesia : 0811990176 (wa only) Atas perhatian rekan-rekan, kami mengucapkan terima kasih. Salam Kemanusiaan, *MER-C Indonesia*

Tiba di Jalur Gaza, Relawan MER-C Langsung Bertugas di Sejumlah Rumah Sakit

Sebelas relawan MER-C yang telah berhasil memasuki Gaza sejak Senin (18/3/2024) lalu langsung ditempatkan dan bertugas di sejumlah rumah sakit untuk membantu warga Gaza. Salah satu relawan yang merupakan Dokter Spesialis Orthopedi, dr. Reza, SpOT mengatakan, Rabu (20/3/2024) pagi Tim sudah melakukan koordinasi terkait penempatan relawan bersama Emergency Medical Teams (EMT) Gaza dan Kementrian Kesehatan Palestina (MoH) di Gaza. Tim langsung disambut dr. Muhammad yang merupakan Koordinator Rumah Sakit Se-Gaza. Relawan medis MER-C langsung dibagi menjadi tiga tim yang disebar di tiga fasilitas Kesehatan di Gaza bagian Selatan yang masih beroperasional. Pembagian tim berdasarkan hasil kordinasi dengan Kementrian Kesehatan Palestina. Tim 1 terdiri dari Tim bedah ditempatkan di RS Abu Yousef Al Najjar di Rafah yang diperuntukkan melayani pasien-pasien bedah dan trauma. Kasus terbanyak adalah open fraktur yang terinfeksi dan luka bakar. Tim 2 terdiri dari bidan dan perawat ditempatkan di RS Bersalin Al-Helal Al-Emirati di Rafah yang memang didedikasikan untuk perawatan pasien-pasien melahirkan. Jumlah operasi Sectio Caesaria di RS ini mencapai 15 operasi perhari. Sementara jumlah persalinan yang ditangani di RS ini mencapai 7000 kasus perbulannya.Sedangkan Tim 3, merupakan Primary Care Team yang terdiri dari dokter umum dan perawat ditempatkan di Tall Al-Sultan Primary Health Clinic di Rafah yang cukup besar dengan fasilitas seperti X Ray dan laboratorium. Pasien yang dilayani dalam satu hari bisa mencapai 1500 orang. “Alhamdulillah ketiga tempat di atas cukup sesuai bagi Tim kita sebagai spesialis, dokter umum, dan bidan. Sesuai dalam artian pasiennya memang banyak, peralatan yang kita miliki memang dibutuhkan dan cukup membantu tim medis di sini yang telah lelah,” tutur Reza. “Jadi dengan mendapat tempat yang sesuai di daerah yang relatif aman, kami sudah sangat bersyukur,” tambahnya. Relawan MER-C itu juga mengatakan berdasarkan hasil penilaian Tim hari pertama, dengan jumlah dokter, nakes, obat obatan serta peralatan yang tidak cukup, pihak rumah sakit sangat berharap mereka dapat bantuan tim medis berikutnya.   Para relawan dokter dan nakes dari berbagai negara mulai masuk ke Gaza untuk membantu. EMT MER-C merupakan tim Indonesia pertama yang memberikan pertolongan medis sejak agresi 7 Oktober terjadi. Tim membantu melakukan operasi pasien trauma, layanan maternal dan layanan umum. Tim akan bekerja selama dua pekan hingga maksimal satu bulan.Pengiriman bantuan tim medis ini membutuhkan keberlanjutan program. Oleh karena itu, besar harapan Kementrian Kesehatan Gaza, Indonesia bisa mengirimkan bantuan tim medis secara berkelanjutan dengan kebutuhan dokter-doketer spesialis ortopedi traumatologi, obgyn, bedah saraf, bedah plastik, spesialis anestesi, spesialis anak, spesialis penyakit dalam dan dokter umum serta layanan bidan dan perawat. Apa saja yang kita punya amat sangat dibutuhkan oleh warga Palestina di Gaza saat ini. Bantuan medis dari Indonesia bagaikan oase persaudaraan Indonesia-Palestina.

Silahkan bertanya?