MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Indonesia Gelar Pelayanan Kesehatan untuk Pengungsi di Kamp Shatila, Beirut

Beirut – Sebagai bagian dari misi kemanusiaan di Lebanon, tim MER-C Indonesia bekerja sama dengan mitra lokal Al-Shifaa for Medical & Humanitarian Services pada Rabu (10/6/2026) menggelar pelayanan kesehatan untuk para pengungsi di Kamp Shatila, Beirut. Sebanyak 77 orang menerima pelayanan kesehatan, dengan mayoritas kasus yang ditangani berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan batuk. Tim MER-C juga mengunjungi langsung beberapa pengungsi yang menderita penyakit kronis, di antaranya pasien pascastroke serta penderita diabetes dengan komplikasi. Mereka merupakan pengungsi dari Lebanon Selatan pascaserangan pada 2 Maret 2026. Kegiatan pelayanan kesehatan ini dilaksanakan sebagai upaya memenuhi kebutuhan layanan kesehatan dasar bagi para pengungsi di Lebanon yang telah hampir dua tahun tidak mendapatkan layanan kesehatan secara memadai. Kondisi ini semakin memprihatinkan seiring meningkatnya jumlah pengungsi di tengah serangan penjajah Israel. Melalui kegiatan ini, MER-C memberikan pemeriksaan kesehatan, konsultasi medis, serta penanganan awal terhadap berbagai keluhan kesehatan yang dialami para pengungsi. Kegiatan ini berlangsung dengan tertib dan mendapat sambutan hangat dari para pengungsi yang antusias mengikuti pemeriksaan kesehatan. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DaAOXEDTq8e/?igsh=bzB3anlsZzNyZTZk https://vt.tiktok.com/ZSCYugww1 Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah

MER-C Lihat Langsung Kerusakan RS Jabal Amel di Lebanon Selatan, Identifikasi Kebutuhan Mendesak

Beirut – Tim MER-C pada Sabtu (6/6/2026) meninjau langsung kondisi Rumah Sakit Jabal Amel di Kota Tyre, Lebanon Selatan, yang terdampak serangan penjajah Israel. Tim menyaksikan kerusakan parah akibat serangan tersebut. Sejumlah fasilitas seperti laboratorium medis, ruang perawatan intensif (ICU), dan area parkir mengalami kerusakan berat, dengan puing-puing berserakan dan langit-langit yang jebol. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan 4 orang dan melukai 127 orang, dengan sebagian besar korban luka merupakan tenaga medis rumah sakit. Selain meninjau kondisi rumah sakit pasca serangan, kedatangan Tim MER-C juga bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang diperlukan oleh Rumah Sakit Jabal Amel yang merupakan salah satu pusat layanan medis utama di Kota Tyre, Lebanon Selatan. Selengkapnya di link ini ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah

Mengintip Rutinitas Perawat MER-C Indonesia Medical Center di Gaza Selatan

Gaza – Di tengah padatnya kamp-kamp pengungsian di Khan Younis, Gaza Selatan, MER-C Indonesia Medical Center hadir sebagai tempat harapan bagi ribuan warga yang membutuhkan layanan kesehatan. Meski beroperasi di tengah keterbatasan akibat blokade dan genosida yang terus berlangsung, MER-C Indonesia Medical Center punya sosok-sosok tenaga kesehatan tangguh yang terus bekerja untuk memastikan pelayanan tetap berjalan. Salah satu perawat, Iman Mohsen, menceritakan bagaimana rutinitas mereka dimulai sejak pagi hari. Tepat pukul 08.00, para perawat telah bersiap memulai aktivitas. Mereka terlebih dahulu membersihkan bangsal sesuai standar kesehatan dan pengendalian infeksi agar pasien dapat memperoleh pelayanan yang aman dan nyaman. Saat ini, departemen keperawatan di MER-C Indonesia Medical Center dibagi menjadi dua bagian, yakni bangsal pria dan bangsal wanita. Setelah seluruh persiapan selesai, para perawat mulai menerima pasien. Di tengah keterbatasan yang ada, mereka tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi setiap pasien yang membutuhkan pertolongan. Mohsen juga mengatakan saat ini mereka menghadapi tantangan menipisnya persediaan bahan habis pakai seperti kain kasa, perban, prep, dan berbagai perlengkapan medis penting lainnya. Sulitnya bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza akibat blokade yang ketat membuat kebutuhan medis sulit dipenuhi. Setiap hari, tim medis terus mengajukan permintaan tambahan stok, namun jumlah yang diterima masih jauh dari kebutuhan. Selengkapnya di link ini #mercindonesia #relawanmerc #relawangaza #JanganLupakanPalestina #BerdiriBersamaPalestina #StopGenocide #FreePalestina #bantuanpalestina #donasipalestina #emtmercindonesia

Kunjungi Kamp Shatila di Beirut, MER-C Soroti Krisis Kemanusiaan dan Kepadatan Pengungsi

Beirut — Tim MER-C Indonesia pada 1 Juni 2026 mengunjungi Kamp Pengungsi Shatila di Beirut, kamp pengungsian Palestina tertua di Lebanon yang berdiri sejak tahun 1949. Tim juga sempat mengunjungi makam para syuhada korban pembantaian Israel pada tahun 1982.   Kamp Shatila turut merasakan dampak krisis kemanusiaan di tengah meningkatnya konflik sejak 2 Maret 2026. Meskipun bukan lokasi pengungsian resmi, kamp ini menerima tambahan keluarga pengungsi dari berbagai wilayah, di antaranya Tyre (Sour), Al-Buss, Burj Al-Shemali, serta sebagian warga dari kawasan Dahiyah, Beirut Selatan, yang terdampak serangan. Bahkan saat kunjungan Tim MER-C, Kamp Shatila kembali menerima pengungsi dari wilayah Dahiyah akibat adanya seruan evakuasi menyusul ancaman serangan bom di kawasan tersebut.   Selama kunjungan, Tim MER-C meninjau kondisi permukiman, pusat layanan kesehatan, serta berdiskusi dengan pengelola kamp. Dari hasil pemantauan, ditemukan sejumlah tantangan yang dihadapi, antara lain: 1. Kepadatan penduduk yang sangat tinggi.2. Keterbatasan akses air bersih dan sanitasi.3. Meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan primer serta ketersediaan obat-obatan.4. Tingginya angka kemiskinan dan ketergantungan terhadap bantuan kemanusiaan.5. Meningkatnya kebutuhan dukungan psikososial, khususnya bagi anak-anak dan perempuan yang mengalami trauma akibat konflik.   Kondisi ini semakin memperkuat perlunya dukungan kemanusiaan yang berkelanjutan, terutama dalam bidang kesehatan, pangan, sanitasi, serta perlindungan bagi kelompok rentan. Saat ini, Shatila dihuni sekitar 11.600 pengungsi Palestina yang terdaftar. Namun, jumlah penduduk yang benar-benar tinggal di dalam kamp diperkirakan mencapai 14.000–15.000 jiwa, termasuk pengungsi Suriah dan kelompok rentan lainnya.   Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DZwnvEfEyTS/?igsh=MTUxMnMxaHZoNm5tZQ== https://www.facebook.com/share/p/18cJGLXxed/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSQ74CQ7u/ https://x.com/mercindonesia/status/2067877928785133907?s=46 ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah

MER-C Indonesia Medical Center Gaza Gelar Wawancara Calon Perawat Sukarelawan

Gaza – MER-C Indonesia Medical Center di Al-Mawasi, Khan Younis, pada Sabtu (13/6/2026), menggelar wawancara untuk calon perawat sukarelawan. Wawancara dilakukan oleh Direktur Administrasi Mohammed Al-Naqa, mantan Direktur Klinik Dr. Youssef Al-Farra, Direktur Klinik saat ini Dr. Issam Radwan, Kepala Departemen Keperawatan Ibu Amina Al-Adini, Administrator Proyek Alaa Abu Halima, serta EMT MER-C Nadia Rosi. Wawancara dilakukan guna menilai pelamar dan memilih kandidat yang memenuhi syarat untuk mendukung dan memperkuat layanan kesehatan di MER-C Indonesia Medical Center. Calon perawat sukarelawan, Amal Albashity, mengungkapkan alasannya ingin bergabung karena ia sangat menyukai pekerjaan sebagai perawat dan senang membantu sesama. “Begitu saya memutuskan bekerja di sini sebagai sukarelawan, saya menemukan tempat ini sebagai tempat yang suportif dan dapat membantu saya meningkatkan keterampilan. Itulah sebabnya saya ingin bergabung menjadi bagian dari MER-C Indonesia Medical Center,” ujarnya. Selengkapnya di link ini #mercindonesia #relawanmerc #relawangaza #JanganLupakanPalestina #BerdiriBersamaPalestina #StopGenocide #FreePalestina #bantuanpalestina #donasipalestina #emtmercindonesia

Tim MER-C Bertemu PHEOC Lebanon, Bahas Kebutuhan Bantuan Kesehatan di Lebanon Selatan

Beirut – Tim MER-C Indonesia pada Selasa (2/6/2026) mengunjungi Rumah Sakit Universitas Rafik Hariri dan bertemu dengan Wahida Ghalayini, Koordinator Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) serta dr. Zahara selaku Liaison Officer EMT. Dalam pertemuan tersebut, keduanya memaparkan perkembangan situasi konflik di Lebanon Selatan serta aktivitas koordinasi bantuan yang dilakukan bersama tim-tim internasional. Mereka mengatakan saat ini, sejumlah tim medis internasional masih aktif memberikan pelayanan di beberapa wilayah, di antaranya Saida (Sidon), Tyre, dan Nabatieh. Berbeda dengan kondisi di Gaza, sebagian besar fasilitas dan sistem layanan kesehatan di Lebanon Selatan masih beroperasi. Namun, tingginya jumlah korban serta keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan menyebabkan terjadinya surge capacity di sejumlah fasilitas kesehatan. Untuk itu, PHEOC mengusulkan agar MER-C turut memperkuat layanan burn unit di Turkish Trauma & Emergency Hospital yang berada di Kota Saida. Rumah sakit tersebut belum memiliki unit penanganan luka bakar yang memadai, sehingga diperlukan dukungan baik dalam bentuk SDM maupun sarana dan prasarana pendukung. Rumah sakit pemerintah tersebut merupakan salah satu pusat rujukan utama yang berada di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan Lebanon (MOPH) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam penanganan korban konflik. Mereka juga menyarankan perlunya program capacity building untuk tenaga kesehatan lokal agar memiliki kemampuan menangani kasus-kasus luka bakar secara mandiri ketika tim bantuan internasional sudah tidak lagi bertugas di wilayah tersebut. Selengkapnya di link ini ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah

Klinik Giving Without Borders Resmi Berganti Nama Jadi MER-C Indonesia Medical Center

Khan Younis – Klinik Giving Without Borders yang berada di Khan Younis, Gaza Selatan, resmi berganti nama menjadi MER-C Indonesia Medical Center. Upacara pergantian nama tersebut digelar dengan dihadiri sejumlah pejabat Kementerian Kesehatan Palestina serta Ketua Presidium MER-C, Dr. dr. Hadiki Habib, Sp.PD, Sp.Em yang menyampaikan sambutan secara daring. Dalam sambutannya, dr. Hadiki menyampaikan rasa syukur atas keberlangsungan operasional MER-C Indonesia Medical Center yang hingga saat ini terus memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Gaza. “Puji syukur kepada Allah, kita dapat sampai pada momen ini di mana MER-C Indonesia Medical Center dapat beroperasi. Ini adalah upaya kita untuk menghadirkan pelayanan kesehatan Indonesia di Gaza Selatan. Semua ini terwujud atas izin Allah SWT serta dukungan dan donasi masyarakat Indonesia sebagai wujud solidaritas terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina,” ujarnya. Upacara ini juga dihadiri warga sekitar yang turut merasakan manfaat keberadaan klinik, yang hingga kini terus meningkatkan sarana dan mengembangkan layanan. Semoga pergantian nama ini menjadi langkah baru dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi warga Gaza. Selain itu, MER-C Indonesia Medical Center juga diharapkan semakin memperkuat simbol nyata solidaritas dan kepedulian rakyat Indonesia terhadap rakyat Palestina. Selengkapnya di link ini #mercindonesia #relawanmerc #relawangaza #JanganLupakanPalestina #BerdiriBersamaPalestina #StopGenocide #FreePalestina #bantuanpalestina #donasipalestina #emtmercindonesia

MER-C Terjunkan Tim Medis ke Lokasi Kebakaran Kemayoran

Jakarta – MER-C Indonesia pada Selasa (2/6/2026) menerjunkan sejumlah relawan medis ke lokasi kebakaran di Pasar Jiung, Kelurahan Kebon Kosong, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat. Tim yang diturunkan terdiri dari satu dokter spesialis, dua perawat, dua mahasiswa kedokteran, satu petugas logistik, satu relawan dokumentasi, serta satu unit ambulans. Setibanya di lokasi, tim medis MER-C langsung melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta melalui tim Puskesmas Kemayoran yang bertugas di lapangan. Selanjutnya, tim melakukan penyisiran ke area terdampak serta memberikan pelayanan kesehatan di tenda pengungsian. Tim medis MER-C memberikan pelayanan kesehatan kepada 12 warga terdampak, yang terdiri dari pasien dewasa maupun anak-anak. Berdasarkan informasi BPBD DKI Jakarta, kebakaran yang terjadi pada Senin (1/6/2026) ini mengakibatkan 679 jiwa dari dua RW terdampak, dengan total 304 rumah mengalami kerusakan. Selengkapnya di link ini

MER-C Kirimkan Tim Medis ke-5 untuk Bertugas di Jalur Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengirimkan Medical Emergency Tim (EMT) ke-5 untuk bertugas ke Jalur Gaza, Senin (29/7).  Tim EMT 5 ini terdiri dari empat orang relawan, yaitu satu dokter spesialis bedah syaraf, satu dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi, satu dokter spesialis anastesi serta satu dokter spesialis penyakit dalam.  Sebelumnya, satu dokter sudah berangkat lebih dulu ke Jordan dan tiga orang lainnya menyusul dari Jakarta pada hari Senin. Tim EMT 5 ditargetkan bisa segera masuk ke Jalur Gaza awal Agustus ini. Salah satu relawan yang merupakan dokter spesialis bedah syaraf, dr. Dany K Ramdhan, mengaku bersemangat untuk berangkat ke Jalur Gaza, karena sudah lama menanti untuk diberangkatkan ke sana.  “Sudah kewajiban kita membantu saudara-saudara kita di sana dan setelah berbulan-bulan menunggu, Alhamdulillah dikasih kesempatan untuk ke sana,” ujar Dany.  Dany mengatakan, Tim EMT 5 rencananya akan bertugas selama satu bulan, namun tetap melihat situasi karena bisa saja lebih dari perkiraan.  “Rencananya kita akan bertugas di RS An Nasser, di sana nanti kita akan bertugas sesuai dengan bidang kita masing-masing. Kalau dikasih kesempatan, kita juga harus melihat situasi di Gaza Utara, bagaimana Rumah Sakit Indonesia,” tambahnya.  “Mudah mudahan apa yang kita upayakan diridhoi Allah, bermanfaat buat umat dan buat keluarga,” tuturnya.  Dany juga mengajak masyarakat untuk jangan pernah berhenti memperjuangkan saudara-saudara di Gaza, karena sekecil apapun usaha yang dilakukan tetap akan bernilai.  MER-C secara berkelanjutan mengirimkan tim medis ke Jalur Gaza melalui kerja sama dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO).  Saat ini ada 5 relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza, yaitu satu relawan medis, tiga relawan non-medis, dan satu Liaison Officer Tim EMT yang baru saja berhasil kembali masuk Gaza pada 16 Juli 2024.

Satu Relawan Liaison Officer MER-C Masuk Gaza, Upayakan Misi ke RS Indonesia di Gaza Utara

Satu Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang merupakan Liaison Officer Emergency Medical Team (EMT), Marissa Noriti, masuk ke Jalur Gaza bersama konvoi PBB, melalui perbatasan Karem Abu Salem, Selasa (16/7). Ini merupakan kali kedua ia masuk ke Gaza setelah sebelumnya pada 18 Maret, menjadi Tim relawan EMT MER-C pertama bersama 10 relawan lainnya yang berhasil masuk ke Jalur Gaza. Misinya masuk ke Jalur Gaza kali ini adalah untuk menindaklanjuti pembangunan Primary Health Care (PHC) di area kompleks RS Nasser di Gaza Selatan dan persiapan rencana pengiriman bantuan serta tim medis ke RS Indonesia di Gaza Utara. “Ini merupakan misi kedua saya, misi pertama saat itu pada 18 Maret. Kita sedang mempersiapkan pembangunan Primary Health Care di area Nasser Hospital dan ada rencana deployment tim juga ke RS Indonesia di Gaza Utara. Mohon doanya mudah-mudahan berjalan lancar dan makin banyak hal lagi yang bisa kita lakukan untuk saudara kita di Palestina,” ujar Marissa. Ia mengungkap, situasi perjalanan kali ini dibandingkan konvoi sebelumnya terbilang cukup lancar. Semua tim konvoi juga mematuhi peraturan sehingga tidak ada permasalahan saat di perbatasan. Dengan kedatangan Marissa Noriti, saat ini relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza berjumlah enam orang, lima relawan asal Indonesia dan satu relawan lokal. MER-C akan kembali mengirimkan relawan ke Jalur Gaza, yang tergabung dalam TIM EMT 5, terdiri dari beberapa dokter sepesialis. Saat ini keberangkatan Tim masih menunggu izin.

Silahkan bertanya?