Tak Berani Tolak Timnas Israel, Pemerintah Setengah Hati Dukung Kemerdekaan Palestina
Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad, tanggapi pernyataan Ketua Ketua Umum PSSI, Erick Thohir yang mengatakan akan menjamin keamanan Timnas Israel U-20 dalam gelaran Piala Dunia U-20 2023 mendatang. Sebagai pimpinan Lembaga yang salah satu fokusnya mendukung kemerdekaan Palestina, menurut Sarbini pernyataan ini mengindikasikan bahwa Pemerintah RI setengah hati dalam upaya mendukung kemerdekaan Palestina. “Pemerintah tutup telinga dengan keinginan masyarakat Indonesia,” ujar Sarbini. “Sikap pemerintah yang tak berani menolak Timnas Israel mengindikasikan bahwa Pemerintah setengah hati mendukung kemerdekaan Palestina dan menghindar bila ada kepentingan nasional yang terganggu,” lanjutnya. Ia menambahkan bahwa sebagai sahabat Palestina seyogyanya Indonesia konsisten dengan apa yang pernah dilakukan oleh Bung Karno terhadap kontingen Israel. “Sejarah mencatat pembelaan bangsa Indonesia terhadap Palestina sudah sejak awal bangsa ini merdeka. Bung Karno pernah mencontohkan. Sikap politik luar negeri Indonesia juga selalu menunjukkan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Jadi, seharusnya kita tetap konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dengan menolak Timnas Israel, menolak eksistensi Israel, sesuai dengan amanat UUD 1945,” pungkasnya.
Ketua Presidium MER-C: Indonesia Tidak Kena Sanksi, Ada Misi Terselubung FIFA
Tragedi Kanjuruhan masih lekat di ingatan kita. Tidak hanya Indonesia, dunia pun berduka karena jumlah korban jiwa akibat peristiwa ini yang tidak sedikit. Setidaknya sebanyak 134 orang (data per tanggal 21 Oktober 2022) dinyatakan tewas akibat peristiwa itu. Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sempat merilis informasi dari jumlah korban meninggal tersebut 32 diantaranya adalah anak-anak, termasuk korban termuda seorang balita berusia tiga atau empat tahun. Sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka mulai luka ringan sampai luka berat. Jumlah korban jiwa akibat insiden di stadion Kanjuruhan langsung menempatkan kejadian ini berada di urutan kedua paling mematikan dalam sejarah sepak bola dunia. Penggunaan gas air mata oleh petugas keamanan dalam kompetisi antara Arema FC dan Persebaya Surabaya, 1 Oktober 2022 menjadi sorotan. Banyaknya korban yang berjatuhan akibat penonton berdesak-desakan dan terinjak-injak lantaran kepanikan yang ditimbulkan gas air mata yang ditembakkan petugas keamanan. Padahal dalam aturan FIFA terkait pengamanan dan keamanan stadion (FIFA Stadium Safety dan Security Regulations), petugas keamanan tidak diperkenankan memakai gas air mata. Hal ini sebagaimana tertulis di pasal 19 b tentang petugas penjaga keamanan lapangan (Pitchside stewards), yang berbunyi, “No firearms or ‘crowd control gas’ shall be carried or used” (senjata api atau ‘gas pengendali massa’ tidak boleh dibawa atau digunakan). Pemerintah Indonesia pun langsung melakukan lobby dengan FIFA pasca kejadian Kanjuruhan. Hasilnya, meski sepak bola Indonesia telah melanggar aturan FIFA, namun FIFA tidak menjatuhkan sanksi atas tragedi kemanusiaan yang telah mengorbankan begitu banyak nyawa anak bangsa. Berdasarkan keterangan resmi, FIFA bersama-sama dengan pemerintah akan membentuk tim transformasi sepak bola Indonesia dan FIFA akan berkantor di Indonesia selama proses-proses tersebut. Sebagian kita boleh bereuforia karena FIFA tidak menjatuhkan sanksi kepada Indonesia. Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad beranggapan bahwa FIFA tidak memberikan sanksi bukan karena lobby Pemerintah semata, namun ada faktor lain. Ia menduga kuat ini ada kaitannya dengan lolosnya Tim Nasional sepak bola Israel ke Piala Dunia U-20 yang akan digelar di Indonesia pada pertengahan tahun 2023 mendatang. Ia mengatakan FIFA mempunyai agenda terselubung dengan tidak menghukum Indonesia karena Israel lolos kualifikasi Piala Dunia U-20. Sarbini menganggap ada misi khusus FIFA terhadap Indonesia dan Israel. Indonesia menurutnya jangan menganggap tidak adanya sanksi atas tragedi Kanjuruhan sebagai kebaikan FIFA. Kita juga jangan berbangga dengan kedatangan Ketua FIFA ke Indonesia. Andaikata Israel tidak lolos kualifikasi, belum tentu Indonesia bisa lolos dari sanksi FIFA. Artinya, FIFA membawa kepentingan Israel di kompetisi ini mengingat kerasnya penolakan publik Indonesia terhadap Timnas Israel. Sarbini menghimbau kepada seluruh elemen anak bangsa yang cinta terhadap konstitusi dan anti penjajahan untuk tidak lelah menyuarakan penolakan Timnas Israel bermain di Indonesia.
MER-C : Tolak Kehadiran Timnas Israel di Indonesia

Siaran Pers Tim nasional sepak bola Israel dinyatakan lolos ke Piala Dunia U-20 dimana Indonesia akan menjadi tuan rumah perhelatan olah raga yang akan diselenggarakan pada tahun 2023 mendatang. MER-C Indonesia meminta pemerintah harus tegas menolak Tim U-20 Israel. Hal ini tidak hanya karena daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia dan juga penjajahan yang masih dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina yang bertentangan dengan hukum internasional. Ketidaktegasan Pemerintah akan melukai persatuan dan dukungan yang selama ini rakyat Indonesia berikan kepada Palestina. Pernyataan Menteri Pemuda dan Olah Raga RI, Zainudin Amali, yang mengatakan bahwa Tim Israel tetap bisa datang bermain di Indonesia dan jangan mengaitkan olah raga dengan politik, ini adalah pernyataan yang ahistoris. Sejarah mencatat pembelaan bangsa Indonesia terhadap Palestina sudah sejak awal bangsa ini merdeka. Pada tahun 1957, Tim sepakbola Indonesia pernah menolak untuk bertanding melawan Israel pada Kualifikasi Piala Dunia 1958 karena alasan politis atas instruksi Presiden Soekarno. Pada tahun 1962, Presiden Pertama RI ini juga dengan tegas menolak kehadiran kontingen Israel ke Indonesia pada perhelatan Asian Games. Sikap politik luar negeri Indonesia juga selalu menunjukkan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Lolosnya timnas Israel akan menjadi ujian berat bangsa Indonesia untuk membuktikan kekonsistenannya dalam pembelaan terhadap Palestina dan penolakan atas segala bentuk penjajahan seperti yang termaktub dalam UUD 1945. Apabila Tim sepak bola Israel hadir di Indonesia, maka ini akan menjadi sebuah bentuk pengakuan secara tidak langsung bagi eksistensi Israel dan bentuk dukungan atas penjajahan yang dilakukan Isarel kepada bangsa Palestina. Ketegasan pemerintah dalam hal ini Menpora akan menjadi menjadi catatan sejarah keseriusan pemerintah bersikap terhadap penjajahan Israel atas tanah Palestina. Jakarta, 29 Juni 2022 Dr. Sarbini Abdul MuradKetua PresidiumMER-C Indonesia *Disampaikan dalam Konferensi Pers Bersama “Tolak Kehadiran Timnas Israel di Indonesia”MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)AWG (Aqsa Working Group)KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam)BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia)