MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Kirim Tim Medis Bantu Korban Banjir Jabodetabek

Jakarta – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) hari Kamis (6/3) mengirimkan tim medis untuk membantu korban banjir Jabodetabek.  Tim yang diturunkan terdiri dari enam orang, yaitu dr. Shinta Chairiah, Sp.P, M.M (Dokter Spesialis Paru), dr. Ilham Wahyu (Dokter Umum) dr. Siti Lirih Chumairah (Dokter Umum),  Iis Islamiah (Tim Logistik), Herlina Endah Atmaja S.S.,  M.A (Tim Dokumentasi) serta Karidi (Tim Transportasi).  Ketua MER-C Jakarta dr. Rifqi Zulfikar, Sp.B., FINACS., M.Ked.Klin mengatakan, tim yang dikirimkan hari ini merupakan tim advance, yang ditugaskan untuk melakukan penilaian wilayah mana saja yang terdampak, bantuan yang diperlukan warga setempat serta menentukan lokasi untuk pendirian posko. “Untuk pemberian bantuan dan pendirian posko MER-C juga akan berkoordinasi dengan BPBD setempat. Adapun lama pendirian posko dan tim bertugas nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan di lokasi,” kata dr. Rifqi.  Salah satu relawan yang bertugas dr. Siti Lirih Chumairah menambahkan, meski masih dalam tahap penilaian, tim sudah membawa obat-obatan, peralatan kesehatan serta beberapa hal lainnya yang diperlukan untuk kondisi banjir.  “Kalau ada yang memang memerlukan pertolongan emergency kami akan langsung memberikan pertolongan medis,” ujarnya.  Setelah melakukan penilaian, MER-C rencananya akan menurunkan tim di lokasi yang diperlukan pada hari Sabtu dan Minggu.  Bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana banjir, Anda dapat menyalurkan melalui Donasi amanah Kemanusiaan MER-C : BCA 686.0099339 BSI 701.5658899Atas nama Medical Emergency Rescue Committee

Relawan MER-C: Rumah Rata dengan Tanah, Warga Beit Hanoun Terpaksa Tinggal di Tenda

Gaza Utara—Relawan dari Emergency Medical Team (EMT) MER-C, dr. Eka Budhi Satyawardhana, SpBS, pada 25 Februari 2025 melakukan pelaporan langsung dari Beit Hanoun, Gaza Utara, yang berbatasan langsung dengan wilayah yang dikuasai Israel.  Dalam laporannya, dr. Eka mengungkapkan bahwa sebagian besar wilayah tersebut telah rata dengan tanah akibat serangan penjajah Israel. “Wilayah ini hampir rata semua dengan tanah. Rumah-rumah yang sebelumnya mungkin memiliki dua hingga tiga lantai kini sudah hancur,” ujar dr. Eka saat melakukan survei di di kawasan timur jalan utama Shalahuddin, Gaza Utara. Ia juga menyebutkan bahwa sekitar dua hingga tiga hari yang lalu, Gaza diguyur hujan deras dengan suhu mencapai 4 derajat Celsius, menambah penderitaan warga yang tinggal di daerah yang hampir sepenuhnya hancur.  “Bisa dibayangkan, penduduk Gaza dengan kondisi rumah seperti ini terpaksa harus tinggal di tenda-tenda darurat,” katanya. Selain masalah tempat tinggal, dr. Eka juga menyoroti krisis air yang masih terjadi.  “Masalah air juga masih menjadi kendala besar di sini. Penduduk mengandalkan bantuan tanki air dari Gaza City yang didistribusikan 2-3 kali sehari. Satu tanki biasanya berukuran 5.000 liter, yang tentunya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya. “Hujan deras juga menyebabkan genangan air yang memicu masalah lingkungan, termasuk penumpukan sampah yang belum diangkut. Ini bisa menimbulkan risiko penyakit, terutama yang berhubungan dengan pencernaan,” tambah dr. Eka. Meski begitu, dr. Eka berharap ada solusi terbaik untuk meringankan beban penduduk Gaza terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih dan tempat tinggal yang layak.

Silahkan bertanya?