Bentrokan di Gaza Berlanjut, 97 Warga Terluka
Memasuki hari kelima sejak pernyataan Donald Trump terkait Jerusalem, aksi unjuk rasa di Jalur Gaza belum juga reda. Sejumlah aksi unjuk rasa warga Gaza di wilayah perbatasan berbuntut pecahnya bentrokan melawan militer Israel. Kekuatan tak berimbang antara militer Israel dan para pengunjuk rasa berujung jatuhnya puluhan korban luka dari pihak Palestina. Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mencatat 97 warga Palestina terluka sejak pagi hingga malam hari Senin (11/12) kemarin. Enam puluh diantaranya menderita sesak nafas akibat menghirup gas air mata. Para korban tersebut langsung mendapatkan perawatan di lokasi bentrokan. Sementara 37 diantaranya harus dilarikan ke rumah sakit karena tertembak peluru tajam militer Israel. Dengan demikian jumlah korban luka dari pihak Palestina sejak melerusnya berbagai aksi unjuk rasa bertambah menjadi 1.795, seperti dikabarkan oleh Bulan Sabit Merah Palestina. Info: Webiste : www.mer-c.org FB : MER-C Indonesia Call Center : 0811990176
Dua Pejuang Palestina Syahid
Dua pejuang Palestina dari Faksi Saraya Al Quds, syahid dalam misi jihad di kota Bait Lahiya, Jalur Gaza Utara, Selasa siang (12/12). Korban bernama Mustafa Mufid Sultan (30 th) dan Husain Gazi Nasrullah (26 th). Jasad kedua korban langsung dilarikan ke RUMAH SAKIT INDONESIA di Jalur Gaza Utara. Dengan demikian jumlah korban jiwa di Gaza sejak pernyataan Trump hari Kamis lalu bertambaj menjadi 6 jiwa. Sementara korban luka dari berbagai wilayah Palestina mencapai 1.800.
Bantu Pacitan, MER-C Beri Pengobatan di Desa Terisolir
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Pacitan sejak akhir November 2017 turut menjadi perhatian MER-C pusat dan cabang. Setelah memberi bantuan medis ke wilayah bencana di Jogjakarta seperti Srimartani Bantul dan Gunung Kidul, MER-C Cabang Jogjakarta telah mengirimkan tim advance untuk melakukan assessment sekaligus penyaluran bantuan awal amanah donatur ke wilayah bencana Pacitan yang telah menyebabkan puluhan warga meninggal dan 2.000 lainnya mengungsi. Selasa (5/12), Tim medis gabungan dari MER-C Jakarta dan Jogjakarta yang terdiri dari 7 relawan langsung menuju lokasi bencana. Misi tim adalah untuk menindaklanjuti hasil assesment yang telah dilakukan sebelumnya dan melakukan pelayanan kesehatan ke daerah-daerah yang belum tersentuh bantuan. Setelah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Pacitan, tim mendapat informasi bahwa saat ini wilayah terdampak longsor yang belum tercover bantuan medis adalah kelurahan Kledung, kecamatan Bandar, kabupaten Pacitan. “Desa yang kami kunjungi termasuk desa yang terisolir karena ada jalan yang putus akibat longsor, sehingga untuk menuju desa ini kami harus lewat jalan memutar yang lebih jauh dan masya Allah luar biasa ngerinya,” ujar Islamiyah, salah satu anggota tim. Islamiyah memaparkan bahwa begitu Tim tiba di Kledung, masyarakat setempat sudah berkumpul untuk mendapatkan pengobatan. “Begitu kami datang, masyarakat sudah berkumpul untuk berobat, tanpa istirahat kami langsung melakukan pelayanan kesehatan hingga sore. Pengobatan dilanjutkan lagi pada malam harinya hingga sekitar jam 9 malam,” ujar Iis. Pengungsi di wilayah Kledung saat ini menyebar ke rumah-rumah saudara mereka sehingga pelayanan kesehatan MER-C digelar di kantor desa Kledung agar masyarakat bisa mengakses sarana kesehatan dengan lebih mudah. Pasien yang berobat didominasi oleh kalangan lansia dengan penyakit degeneratif. Terdapat satu orang lansia di dusun Jetis yang tidak bisa menjangkau lokasi pelayanan kesehatan dikarenakan kondisi fisik yang tidak memungkinkan, pasien tidak bisa berjalan. Tim medis MER-C akan mengunjungi pasien tersebut untuk mengecek kondisi kesehatannya. Malamnya tim menginap di Polindes yang dikelola bidan setempat dan esok akan menuju wilayah terdampak bencana lainnya di Pacitan, tepatnya di Kaliwungu, kecamatan Bandar. Selain bantuan pengobatan umum, MER-C berencana akan mengadakan trauma healing untuk korban bencana di Pacitan baik anak-anak maupun dewasa. Untuk program ini, tim akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan puskesmas setempat guna membicarakan teknis kegiatan. ————————————————————— Mari Peduli, Untuk Kemanusiaan Yang Lebih Baik Bantuan bagi Korban Bencana Banjir dan Longsor di Jogjakarta, Jawa Tengah dan Pacitan dapat disalurkan melalui: Rek. Kemanusiaan MER-C Jogja Bank Syariah Mandiri (BSM) 7004995818 a.n MER-C DIJ Info : Instagram: @merc_jogja Facebook: MER-C Jogjakarta Telpon/Whatsapp: 082135258145 Kantor MER-C Jogja : Jl. Kaliurang Km 6,5 , Gg Timor Timur No E4B , Sleman , Jogja Atau : www.mer-c.org 0811990176 —————————————————————
Berita Langsung dari MER-C Gaza
Pesawat tempur militer Angkatan udara Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah lokasi di wilayah utara Jalur Gaza, Jum’at malam (8/12/17). Tercatat tidak kurang dari 25 warga sipil mengalami luka luka. Para korban dilarikan ke RUMAH SAKIT INDONESIA, rumah sakit utama penduduk Palestina di Jalur Gaza utara khususnya kota kota perbatasan (Jabaliya, Baitlahiya dan Bait hanun).
MER-C akan Bangun 2 lantai Tambahan di RS INDONESIA
Bangunan RS Indonesia dengan 2 lantai dan 1/2 lantai basement serta 100 tempat tidur yang ada saat ini dirasa sudah sesak dan tidak mencukupi seiring dijadikannya RS Indonesia sebagai RS rujukan utama di Jalur Gaza bagian Utara. Permintaan penambahan lantai dan alat-alat kesehatan telah disampaikan pihak RS Indonesia kepada MER-C. RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya yang berjarak sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel menjadi penting keberadaannya terlebih di saat terjadinya serangan-serangan seperti beberapa waktu belakangan ini. Menanggapi permintaan ini, Ketua Pembangunan RS Indonesia, Ir. Faried Thalib menyatakan bahwa pondasi RS Indonesia dari awal memang sudah disiapkan untuk bisa dibangun hingga 5 lantai. “Bangunan RS Indonesia masih bisa ditambah 2 lantai lagi karena memang pondasinya sudah kita siapkan bahkan untuk sampai 5 lantai,” ujar Faried. “Hal-hal seperti ini memang sudah kita antisipasi sejak awal,” lanjutnya. Anggota Presidium MER-C ini bahkan menginformasikan bahwa disain untuk bangunan lantai 3 dan lantai 4 RS Indonesia sedang dibuat. “Tim Arsitek MER-C saat ini sedang membuat disain bangunan untuk lantai 3 dan 4 RS Indonesia.” Tidak hanya penambahan lantai, MER-C juga akan menambah jumlah tempat tidur serta beberapa alat kesehatan lainnya yang diperlukan seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging) agar RS Indonesia bisa memberikan pelayanan yang lebih baik lagi bagi masyarakat di Jalur Gaza bagian Utara, khususnya pasien-pasien korban serangan Israel. Dukungan dan bantuan bagi program ini dapat disalurkan melalui : BCA, 686.0153678 Bank Mandiri, 124.000.8111.925 BSM, 700.1352.061 BNI Syariah, 081.119.2973 BMI, 358.000.1720 BRI, 033.501.0007.60308 Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Tim Medis MER-C Kunjungi Desa Klalin 4 dan Malaus di Papua Barat
Hari ini, Kamis (7/12), Tim MER-C untuk Program Kapal Kemanusiaan Papua Barat masih berada di Sorong untuk melakukan persiapan terutama obat-obatan, alat kesehatan dan perlengkapan yang akan dibawa berlayar besok. Selain persiapan, hari ini Tim juga mengunjungi desa Klalin 4 dan desa Malaus, dua wilayah kerja binaan Klinik MER-C di Sorong, Papua Barat. Klalin 4 adalah desa yang terletak di Distrik Aimas, Kabupaten Sorong. Hampir sebagian besar masyarakat berasal dari suku Kokoda yang merupakan salah satu suku asli Papua Barat yang beragama Islam. Secara umum keadaan masyarakat di desa Klalin 4 masih kekurangan secara ekonomi, pendidikan, kesehatan serta berbagai macam kebutuhan dasar hidup lainya seperti kondisi lingkungan, sarana ibadah dll. Sejak 4 tahun terakhir MER-C telah memberikan pelayanan mobile clinic untuk masyarakat Klalin 4 secara rutin, selain itu juga beberapa kali melakukan kegiatan sosial lainnya seperti pemberian sembako dan bantuan perlengkapan pendidikan. Sementara Malaus adalah desa yang berada di distrik Salawati, Kabupaten Sorong. Mayoritas penduduk di desa ini adalah transmigran. Pada hari ini, Tim melakukan pengobatan dan sirkumsisi bagi anak-anak di dua desa dengan target anak yang disunat sebanyak 50 orang. Besok, Jum’at (8/12) tim dijadwalkan akan mulai berlayar dari Sorong ke desa pertama di Yellu, Misool Selatan untuk selanjutnya menyusuri 20 desa lainnya yang ada di Pulau Misool hingga akhir Desember 2017. Info: www.mer-c.org 0811990176
Silaturahim ke DPP PKS, MER-C Sampaikan Rencana Pembangunan RS di Yaman

Tim MER-C yang dipimpin oleh dr. Sarbini Abdul Murad melakukan kunjungan ke DPP PKS di Jalan TB Simatupang untuk bersilaturahmi dengan Ketua Majelis Syuro PKS, Dr. H. Salim Segaf Al-Jufri, Selasa (05/12). Turut serta dalam silaturahmi tersebut adalah DR. Ir. Idrus M. Alatas, Ketua Divisi Konstruksi MER-C sekaligus Project Manager RS Indonesia di Rakhine Myanmar, dan Drs. Ichsan Thalib dari Divisi Konstruksi MER-C. “Ini adalah pertama kali MER-C bersilaturahmi ke DPP PKS. Kalau dengan Pak Salim sudah beberapa kali bertemu saat beliau menjadi Mensos RI. Tujuan silaturahmi kali ini adalah untuk berdiskusi masalah umat, masalah kebangsaan dan juga kemanusiaan, serta apa yang dapat disinergikan” ujar Sarbini. Selain menyampaikan mengenai program-program yang sudah dilakukan oleh MER-C, yaitu pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza (Palestina) dan pembangunan RS Indonesia yang sedang berlangsung di Rakhine (Myanmar), kesempatan silaturahim juga dimanfaatkan oleh anggota Presidium MER-C ini untuk menyampaikan mengenai rencana pembangunan RS Indonesia di Yaman yang sedang berkecamuk perang. “Dr. H. Salim Segaf Al-Jufri merespon positif rencana ini. Beliau mengapresiasi dan mendukung MER-C untuk membangun Rumah Sakit di Yaman,” terang Sarbini. “Kami mengajak kerjasama PKS dan komponen umat Islam lainnya. Mungkin nanti kita coba untuk menggalang aliansi, orang-orang Hadramaut dan masyarakat yang peduli untuk bisa membantu meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Yaman,” tambahnya. Terkait rencana pembangunan RS di Yaman, Drs. Ichsan Thalib dari Divisi Konstruksi MER-C menyampaikan bahwa sudah ada yang menawarkan tanah wakaf untuk lokasi pembangunan RS. MER-C akan mengirimkan tim untuk melakukan survai lokasi dan assessment lebih lanjut ke Yaman. Info: www.mer-c.org 0811990176
Uang dari Mana? Semuanya Lillahi Taala’

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam kegiatan Reuni 212, jutaan masyarakat berkumpul di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat untuk mempererat tali persaudaraan dan persatuan umat agar terjaganya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Masyarakat dari berbagai daerah seluruh Indonesia merelakan waktu juga materinya dalam rangka membela agamanya. Terbukti dengan penuh sesaknya seluruh sudut Monas pada acara Aksi Bela Islam 212, Reuni 212, 411, ataupun acara serupa. Persatuan umat dalan kesempatan tersebut memang sangat mengagumkan. Tapi, ternyata bukan hanya itu saja yang membuat kagum. Di balik jutaan umat yang memenuhi Monas, ada juga yang selalu siap siaga menolong umat. Yang tentu membuat kita bertanya-tanya siapa yang menggerakkan mereka. Selintas yang terpikir pasti adalah polisi ataupun Satpol PP, namun bukan, adalah mereka para tim kesehatan. Jarang ada yang sadar akan pentingnya sosok mereka, jika kita membutuhkan pertolongan medis, merekalah yang pasti akan membantu secara sigap. Ketua Tim Kesehatan Reuni 212 Dr Soleh Assegaf, mengatakan, acara yang diselenggarakan pada Sabtu (2/12) ini juga melibatkan ratusan tim kesehatan dari berbagaimacam lembaga kemanusiaan yang ada di Indonesia. Jumlahnya tidak sedikit, menurut dia, pada acara kegiatan tersebut, setidaknya ada 400 orang tim kesehatan yang terdaftar, mengawal jalannya aksi damai tersebut. Mereka tersebar di setiap sudut Monas, dan di luar area Monas. Di area yang terdapat masaa, di situ terdapat posko kesehatan yang ditugaskan, jumlah posko itu sendiri sedikitnya ada 30 titik. Para tim kesehatan sama sekali tidak diberi gaji, semua dengan ikhlas dan sukarela untuk membantu dan mengawal jalannya aksi-aksi kesatuan umat. “Ini tenaga yang tidak dibayar, tim kesehatan tidak ada honornya,” kata Soleh. Tim kesehatan “tanpa tanda jasa” ini berpegang pada ketetapan syariat. Tidak menunggu sesuatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi, kendati begitu, mereka tetap siap siaga mengawal umat dari sisi medis. Seluruh penyakit, instrumennya memang Allah SWT yang mendatangkan, tapi Allah juga yang memberi izin untuk menyembuhkan, tim kesehatan yang bertugas membagi ilmunya dengan ikhlas, apa yang mereka tahu kemudian diterapkan dengan membantu umat. Kurang lebih begitu yang menjadi pegangan tim kesehatan. Penyakit ringan yang biasanya ditangani oleh tim kesehatan dalam acara serupa, adalah mulai dari peserta yang keletihan, pusing, masuk angin, dan sebagainya. Tak jarang penyakit skala berat juga ditangani, seperti penyakit jantung yang terkadang dalam beberapa acara ada masyarakat yang kambuh. Penangannnya pertolongan pertama yang dilakukan, jika terjadi suatu hal yang parah, maka mobil-mobil ambulan yang juga siap siaga akan membawa pasien menerobos ramainya kawasan Monas untuk menuju rumah sakit terdekat. Para herbalis dari tim kesehatan Reuni 212 juga ikut berpartisipasi dengan membuka posko kesehatan dan membuka pelayanan bekam, refleksi, akupuntur, totok, dan pijat. Posko yang dibuka oleh para herbalis tim kesehatan dari Relawan Bekam Indonesia (RBI) sebanyak tiga unit. Peserta Reuni 212 tak dikenakan biaya sedikitpun untuk menikmati fasilitas ini, alias gratis. Sebanyak tiga posko dibuka, yang terletak di posko kehatan VIP dekat panggung utama, di lapangan IRTI dan di dekat patung kuda. Relawan yang diturunkan sebanyak 30 orang dari setiap perwakilan daerah seluruh Indonesia diantaranya, Bandung, Depok, Makassar. Salah satu tim kesehatan dari lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) juga turut serta dalam acara Reuni 212. Lembaga kesehatan ini merupakan salah satu tim kesehatan yang selalu ikut dalam setiap kegiatan serupa. MER-C menyediakan obat-obatan dan kebutuhan lain yang diperlukan, dua ambulan juga dipersiapkan jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Pada kegiatan Reuni 212 kemarin MER-C menerjunkan 23 relawan, yang terdiri dari tujuh dokter dan lainnya perawat. Dengan posko dipusatkan di patung kuda Lapangan Monas. Presidium MER-C, dr Arief Rachman yang juga menjabat sebagai Sekjen Komite Medis GNPF-Ulama menjelaskan, banyak orang yang memiliki penilaian tentang para peserta aksi-aksi yang disebut oleh mereka sebagai “pasukan nasi bungkus”. Menurut Arief, hal itu tidaklah demikian. Para peserta aksi bersatu memperjuangkan satu tujuan yakni keadilan. Selain itu juga persatuan umat yang tentu bisa membuat kesatuan Indonesia akan terus terjaga. Berangkat dari hal itu, para tim kesehatan juga tergerak hatinya untuk ikut mengawal dengan keahliannya, tanpa memikirkan honor semua dijalankan dengan ikhlas. Tidak hanya menolong para peserta aksi, tim kesehatan juga menolong setiap masyarakat yang membutuhkan pertolongan atas dasar kemanusiaan. Hal tersebut terbukti dari kejadian di salah satu aksi. Ketika itu aksi damai dilakukan di depan Polda Metro Jaya, seorang warga tertabrak Bus Transjakarta. Dengan sigap, tim kesehatan langsung memberikan pertolongan pertama kemudian membawanya dengan ambulan menuju Rumah Sakit Pusat Pertamina. Penanganan dan biaya si pasien di rumah sakit tersebut dibantu oleh tim kesehatan. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata ia mengalami pendarahan di dalam kepalanya. Si pasien kemudian dibawa lagi ke Rumah Sakit PON tempat BPJS-nya terdaftar. Tetapi terdapat masalah, nama di KTP dan BPJS-nya tidak sesuai. Kemudian dari tim kesehatan, juga Laskar FPI bergerak mengurusnya, ada yang pergi ke BPJS, Transjakarta, dan Jasa Raharja. Pada akhirnya urusan selesai sehingga pasien bisa menjalankan prosedurnya dengan semestinya yang kemudian dilakukan perawatan. Di Reuni 212 lalu, Arief menjelaskan, banyak peserta yang mengalami masalah karena kepanasan, kurang minum, sehingga membuatnya pingsan. Tentu tim medis sudah siap dengan obat-obatan serta peralatan yang tentu dipersiapkan juga untuk penyakit atau masalah yang lain. Banyak juga peserta yang mengalami keletihan, dan pegal-pegal, dalam hal ini yang berperan adalah herbalis juga terapis dari tim kesehatan yang melayaninya dengan pijat secara gratis. Arief membenarkan, bahwa seluruh tim medis tidak diberi honor ataupun gaji. Semua bekerja dengan ikhlas, dari tim internal sendiri yang ada hanya patungan untuk sekedar membeli obat-obatan, dan kebutuhan lain. “Uang dari mana? Walaupun internal dari tim medis yang bertugas ada sumbangan kecil-kecilan untuk membeli obat-obatan diperlukan, dokter, herbalis, terapis tak digaji, semuanya lillahi taala,” kata Arief. Link : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/12/05/p0hwl3396-uang-dari-mana-semuanya-lillahi-taala
Memperbaiki Fasilitas Umum, MER-C Kirim Relawan Konstruksi ke Mentawai

Dalam rangka menyalurkan amanah bantuan masyarakat Indonesia, Selasa pagi (21/11) MER-C mengirimkan tim relawan konstruksi ke Mentawai, Sumatera Barat. Sebanyak 6 relawan dimana 4 diantaranya adalah eks relawan RSI Gaza, kali ini diamanahi untuk memperbaiki fasilitas umum di Mentawai, wilayah yang pernah diterjang bencana gempa bumi dan tsunami beberapa tahun silam. Sebelumnya pada September 2017, MER-C telah mengirimkan Tim advance untuk melakukan penilaian ulang mengenai kebutuhan saat ini di Mentawai khususnya di wilayah kecamatan Sikakap. Sesuai hasil penilaian ulang, MER-C akan melakukan perbaikan fasilitas umum yang berada di Masjid Sikakap dan sekolah di sana. Setibanya di Padang, dada Selasa sore, para relawan langsung menuju pelabuhan Bungus untuk menaiki kapal ferry ke Sikakap. Setelah menempuh perjalanan laut selama 12 jam, esok paginya Rabu (22/11) Tim telah merapat di pelabuhan Sikakap. Ketua Tim ini, Ir. Sulisdiantoro memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan ini selama 30 – 50 hari. Info:www.mer-c.org0811990176
Persiapan Trip ke-2 Program Kapal Kemanusiaan, MER-C Kirim Obat-obatan dan Alkes ke Papua Barat
MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan AMCF (Asia Muslim Charity Foundation) serta didukung oleh Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) akan menjalankan trip ke-2 Program Kapal Kemanusiaan Papua Barat yang akan dimulai awal Desember 2017. Untuk persiapan, MER-C telah mengirimkan lebih dulu sejumlah obat-obatan dan alat kesehatan untuk keperluan program ini ke Sorong. Seperti pada trip pertama, trip ke-2 juga akan menjangkau wilayah-wilayah terpencil dan sulit diakses di Papua Barat, kali ini kepulauan Misool. Sekitar 21 desa di kepulauan Misol yang tersebar di Misool Selatan, Misool Barat, Misool Timur dan Misool Utara ditambah beberapa desa di pula Jefman, pulau Buaya dan pulau Arar akan dijelajah oleh tim MER-C dan AMCF. MER-C sendiri akan berfokus pada pelayanan kesehatan seperti pengobatan umum, sirkumsisi, pemeriksaan gizi anak, pemeriksaan mata, dan penyuluhan kesehatan. Info:www.mer-c.org0811990176