Mengenal Popo, Pelukis Mural Peduli Rohingya
MINA – Di antara kita mungkin sudah ada yang mendengar nama Ryan ‘Popo’ Riyadi, salah seorang seniman jalanan atau street artist yang karya-karya muralnya banyak menghiasi tembok-tembok ibukota Jakarta. Lelaki yang akrab disapa Popo itu sering menggambar karakter ‘Popo’ dalam setiap karyanya dibumbui dengan tulisan-tulisan kritis. Selama belasan tahun, lelaki peraih penghargaan ‘The Best Mural Artist’ pada Tembok Bomber Award 2010 ini selalu menghadirkan kritikan dalam setiap karyanya, walau tidak semua orang setuju dengan cara dia. Bahkan, Popo pernah juga diprotes dosen di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, lantaran hobinya corat-coret ini. Tapi siapa sangka, beberapa tahun kemudian Popo malah ikut mengajar sebagai dosen mata kuliah komunikasi visual di almamaternya itu. Dalam sebuah wawancara khusus dengan Popo di tempat biasanya nongkrong, penulis sempat berbincang soal beberapa hal menarik dengan Duta Campaign RS Indonesia ini, salah satunya soal krisis kemanusiaan di Rakhine State, Myanmar. Popo yang cukup peka terhadap situasi di sekitarnya langsung merespon dengan pernyataan kritisnya. “Banyak manusia hidup berdampingan, tapi sedikit yang berkemanusiaan. Ini sebenarnya kita tunjukan bagi tempat-tempat yang di mana ada banyak orang tetapi di sana tidak ada nilai kemanusiaan,” kata Popo kepada wartawan Mi’raj News Agency(MINA) Rendy Setiawan di Gudang Sarinah Pancoran, Jakarta, Jum’at (7/10). Meskipun lahir dan besar di Indonesia, Popo cukup konsisten mengikuti perkembangan terkini yang terjadi di Myanmar maupun di Palestina. Menurut Popo, krisis-krisis yang terjadi di dua wilayah itu tak perlu terjadi apabila keberagaman dijaga sebagaimana mestinya. “Kita sering mendengar ajakan untuk saling menghargai dalam keberagaman. Tapi di sisi lain kita melihat ada banyak krisis kemanusiaan yang terjadi, contoh di Myanmar dan Palestina. Sebenarnya bukan hanya di dua wilayah itu saja, apabila nilai-nilai kemanusiaan itu dijaga, krisis seperti itu seharunya nggak perlu terjadi,” katanya. “Ini pelajaran dari apa yang pernah disampaikan oleh ayah saya. Jadi kalau mau menolong, harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” katanya menambahkan. Apabila diperhatikan lebih teliti, semua karya yang pernah diciptakan Popo, sebagian besar memuat pesan kritik sosial. Hal itu tak terlepas dari peran ayahnya yang selalu memotivasi untuk selalu memperhatikan kondisi sekitar. “Banyak cara untuk mengekspresikan apa yang ingin kita sampaikan, salah satunya dengan komunikasi non verbal, dan melalui lukisan-lukisan mural ini salah satunya,” katanya. Popo melanjutkan, untuk membantu orang-orang, tidak harus menunggu isu global seperti kelaparan, perang dan krisis lainnya. Cukup dengan memberikan makan kepada tetangga kita yang lapar, itu sama saja sudah menolong banyak orang. “Kemanusiaan tidak bisa dilepaskan dari keadaan sosial di sekitar kita. Contoh gampangnya begini, kadang kita kenyang tapi ada di sekitar kita yang kelaparan. Kalau ini terjadi, berarti nilai kemanusiaan kita harus dikritik. Kritikan yang saya lontarkan secara khusus sebenarnya ditunjukkan untuk diri saya sendiri,” paparnya. Popo berpesan, sebelum memenuhi hasrat keinginan kita, ada baiknya untuk melihat kondisi sosial di sekitar terlebih dahulu. Hal itu dilakukan sebagai cara untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan agar selalu merasa dekat dengan lingkungan di sekitar. “Sebelum memenuhi keinginan kita, ada baiknya kita lihat dulu sekeliling kita,” pesannya. Menurut Popo, kritik sosial atau kondisi kemanusiaan yang selalu menjadi temanya adalah sebagai cara untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan masyarakat Indonesia khususnya. “Saya pikir ini nggak bisa lepas dari kehidupan sosial,” ujarnya. “Harus selalu sabar ketika hidup berdampingan dalam usaha menumbuhkan nilai-nilai sosial kepada orang yang kita kenal maupun yang nggak kita kenal. Tetapi yang terpenting untuk diri sendiri,” katanya lagi. Ketika disinggung soal ‘Popo’ yang menjadi karakter dalam setiap karyanya, Popo mengatakan, itu sudah menjadi identitas dirinya. “Popo menjadi signature, menjadi identitas saya. Jadi di setiap karya saya itu ada saya yaitu Popo,” katanya. (W/R06/B05) Sumber : www.mirajnews.com
Peduli Rohingya, Murid SD dan SMP Pidie Aceh Sumbangkan Rp 84 Juta lebih

Sejak masa awal kemerdekaan, rakyat Aceh sudah terkenal dengan sumbangsihnya yang besar kepada bangsa ini. Sebut saja sumbangan yang dikumpulkan secara sukarela dari masyarakat hingga saudagar-saudagar Aceh, sehingga akhirnya Indonesia bisa membeli dan memiliki pesawat pertama Dakota RI-001 Seulawah yang sangat berperan penting dalam proses perjuangan bangsa ini dalam mempertahankan kemerdekaan. Tidak hanya itu rakyat Aceh juga menyumbangkan emas untuk melapisi bagian teratas tugu monas sebagai monumen kebanggaan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan bangsa Indonesia. Keteladanan berupa kepedulian ini diwariskan dan tetap ditunjukkan oleh generasi Aceh sekarang. Ketika MER-C menginisiasi pembangunan RS Indonesia di wilayah yang masih terblokade dan terjajah Jalur Gaza, Palestina, rakyat Aceh menjadi penyumbang terbesar program ini dengan total donasi sekitar 7 milyar rupiah. Untuk mengapresiasi hal ini, MER-C menyematkan nama dua pahlawan Aceh sebagai nama ruangan di RS Indonesia di Jalur Gaza, yaitu ruangan Tjut Nyak Dien dan Teuku Cik Ditiro. Kini, siswa-siswi SD dan SMP serta guru-guru di Aceh khususnya di wilayah kabupaten Pidie kembali menunjukkan kepedulian sebagaimana ditunjukkan oleh pendahulu mereka. Para murid SD dan SMP di Kabupaten ini berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 84,6 juta untuk muslim Rohingya. Selasa (3/10) bertempat di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie, Kepala Dinas Pendidikan Pidie, Murthallamuddin bersama para Kasinya menyerahkan donasi tersebut secara langsung kepada salah satu Presidium MER-C Indonesia, dr. Sarbini Abdul Murad yang didampingi Koordinator MER-C Aceh Ira Hadiati. Menurut Kasi Kurikulum SMP, Nasrul, M.Pd, dana bantuan itu dikumpulkan selama beberapa hari di sekolah-sekolah di Kabupaten Pidie. “Kita kumpulkan secara sukarela dari para murid SD, SMP dan dewan guru. Alhamdulillah berhasil terkumpul Rp 84.602.000,” terang Nasrul. Kadis Pendidikan, Murthalamuddin, mengatakan, sumbangan murid dan guru di Pidie sebagai bentuk solidaritas terhadap saudara sesama muslim yang mengalami krisis akibat konflik di Myanmar. “Semoga dana bantuan itu dapat dipergunakan untuk kebutuhan para muslim Rohingya,” terang Kadis. MER-C yang telah memulai misi kemanusiaan ke wilayah konflik di Myanmar sejak tahun 2012 akan menyalurkan bantuan dari rakyat Indonesia termasuk dari murid-murid sekolah di Pidie untuk pelayanan kesehatan bagi para korban dan pembangunan RS Indonesia di Rakhine State Myanmar yang sudah memasuki tahap dua. Info: www.mer-c.org 0811990176
MER-C Indonesia Resmikan dan Serah Terima TPA di Pidie Jaya

MEUREUDU – Presidium MER-C Indonesia, dr. Sarbini Abdul Murad meresmikan dan serahterima gedung TPA (Taman pendidikan Alqur’an di Gampong Nanggroe Barat, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya, Selasa (03/10/2017). Dalam sambutannya, dr Ben, begitu sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa pembangunan TPA tersebut bentuk kepeduliaan MER-C Indonesia kepada Pemkab Pidie Jaya yang diguncang gempa berkekuatan 5.3 SR pada Desember 2016 lalu. Bantuan tersebut adalah bantuan dari donatur yang disalurkan melalui MER-C Indonesia. “Syukur alhamdulillah, bangunan TPA Gampong Nanggroe Barat ini telah selesai dikerjakan sesuai waktu yang telah ditentukan, hal ini tidak terlepas dari dukungan semua pihak baik Pemkab Pijay, muspika Kecamatan Ulim, tokoh dan semua masyarakat Naggroe Barat,” katanya. Dr. Ben mengharapkan TPA tersebut dapat bermanfaat dalam mendidik anak-anak, Gampong Nanggroe Barat sehingga kelak mereka dapat bermanfaat bagi agama dan membangun daerahnya. Sambutan juga disampaikan oleh Ridwan, asisten 1 Pemkab Pijay. Dalam sambutannya ia menyampaikan terimakasih kepada MER-C yang telah membanguan taman pendisikan alquran tsb, mengingat pemkab pijay maaih sangat membutuhkan bantuan pihak ketiga dalam menyelesaikan proses rehab rekon pasca gempa dikabupaten tsb. “Iya, alhamdulillah, pemkab pijay tentunya berterimakasih kepada MER-C, di mana dengan adanya TPA ini kita mengharapkan proses belajar agama anak-anak dapat ditingkatkan, ini penting untuk melindungi anak-anak dari hal-hal yang tidak diinginkan, didikan sejak dini sangat diperlukan untuk membentengi mereka dari pengaruh-pengaruh negatif,” katanya. Senada dengan apa yang disampaikan Ridwan, Imum Mukim Nanggroe juga mengucapkan terimakasih kepada MER-C Indonesia yang selama ini telah banyak membantu warga masyarakat Nanggroe Barat, karna selain membangun gedung TPA MER-C juga mengadakan pengobatan gratis dan sunat. Pada acara peresmian ini juga dihadiri asisten 1 Pemkab Pijay, BPBD, BNPD, Camat Uulim, Kapolsek, Danramil, Imum Mmukim, dan tokoh-tokoh masyarakat Nanggroe Barat. Acara tersebut diakhiri pembacaan doa oleh Tgk Abubakar.[] Sumber : http://portalsatu.com/read/Citizen-Reporter/mer-c-indonesia-resmikan-dan-serah-terima-tpa-di-pidie-jaya-35489
Masjid Nurussalam Kerahkan Remaja Dan Orang Tua Galang Dana untuk Rohingya

Jakarta, (MINA) – Di sepanjang jalan Kalimalang, penampakan anak-anak usia 12 tahun sampai orang tua menjadi tidak asing dalam sepekan ini, mereka terlihat membawa kardus bertuliskan “Donasi untuk Rohingya” dan mendekati kendaraan-kendaraan yang berhenti di lampu merah. Donasi yang diinisiasi DKM Masjid Jami’ Nurussalam di Kampung Baru, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, tersebut berhasil mengumpulkan setidaknya 30 juta rupiah sejak pertengahan September lalu. Salah satu pengajar di Masjid tersebut yang juga bekerja di Pondok Darul Ilmi Citeurep-Bogor juga mengumpulkan bantuan serupa hingga mencapai 12 juta 770 ribu rupiah dan keduanya menyerahkan bantuan tersebut melalui lembaga kedaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang saat ini tengah membangun RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Ketua Penggalangan Dana Masjid Nurussalam Abdu Shomad mengatakan kepada Mi’raj News Agency (MINA), pihaknya menurunkan anak-anak dan remaja hingga orang tua sebagai bukti pendidikan dan pemberdayaan umat melalui masjidnya. “Ini foto anak saya lagi ikutan juga,” katanya sambil menunjukkan salah satu foto di lokasi penggalangan dana. Serah terima bantuan dilakukan bersamaan dengan kegiatan puncak Muharam di area Masjid yang juga menampilkan beragam kreatifitas anak dan remaja di area tersebut, seperti tarian, nasyid, dan ceramah yang disampaikan oleh anak berusia belasan tahun. Dalam sambutannya, Presidium MER-C Sarbini Abdul Murad mengapresiasi DKM Masjid yang telah berusaha semaksimal mungkin memberdayakan umatnya melalui Masjid. Sarbini juga menjelaskan situasi dan kondisi terkini warga Muslim Rohingya kepada warga sekitar yang hadir pada perayaan malam itu. “Oleh karenanya, MER-C bersama PMI dan Walubi saat ini bekerjasama tengah membangun sebuah rumah sakit di sana,” ujar pria yang akrab disapa dengan panggilan Dr. Ben itu. Dia menegaskan tujuan jangka panjang dari pembangunan RS tersebut adalah untuk menjelaskan keberagamaan kita kepada warga Myanmar. Bahwa minoritas di negara ini mampu hidup dengan damai dan tanpa mengalami diskriminasi. “Indonesia sebagai mayoritas Muslim, dan di sini minoritas bisa hidup dengan baik. Kita ingin mengenalkan RS Indonesia ini sebagai simbol keberagaman. Di situ ada Muslim, Budha dan lain-lain yang dirawat. Untuk mempersatukan,” tambahnya. Dr. Ben juga menuntut pemerintah Myanmar untuk membuka askes bantuan dari berbagai LSM Internasional yang hendak masuk ke lokasi konflik guna memberikan pelayanan kesehatan dan asistensi lainnya. “Jika pemerintah Myanmar mampu mengizinkan hal tersebut, insyaallah konflik akan mereda,” ujarnya.(L/RE1/RS2) Sumber : http://www.mirajnews.com/2017/09/masjid-nurussalam-kerahkan-remaja-dan-orang-tua-galang-dana-untuk-rohingya.html
Rabithah Alawiyah Salurkan Donasi untuk Rohingya melalui MER-C

Jakarta – Rabithah Alawiyah sebuah organisasi yang menghimpun WNI keturunan Arab khususnya kaum Alawiyyin menyalurkan donasi untuk Rohingya senilai 165 juta rupiah melalui MER-C. Dalam kesempatan silaturahim di Kantor Pusat DPP Rabithah Alawiyah di Jl. TB. Simatupang No. 7 A, Sabtu (23/9), Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad menyampaikan terima kasih atas dukungan dan bantuan yang diberikan Rabithah Alawiyah. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Sarbini yang didampingi oleh Pimpinan Proyek Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Myanmar, Drs. Ichsan Thalib, memaparkan mengenai pengalaman misi MER-C, sekaligus situasi terkini dan program pembangunan RS Indonesia di Myanmar. Sarbini juga mengungkapkan bahwa MER-C konsisten untuk membangun rumah sakit di daerah-daerah konflik. “Saat ini di Rakhine, lalu setelah Rakhine selesai, kita berencana membangun rumah sakit di Tepi Barat. Tidak hanya di luar negeri, di dalam negeri seperti Papua, pembangunan puskesmas di Aceh yang saat ini sudah diserahkan kepada pemerintah setempat, di Piyungan Jogja, juga pembangunan rumah sakit di Galela. Kami bisa bangkit karena dukungan banyak pihak seperti Rabithah Alawiyah,” tandasnya. Sementara itu, Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar bin Smith menyampaikan keinginannya agar bisa bersama-sama merealisasikan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, khususnya untuk para pengungsi dan penduduk Rohingya dan terbuka juga untuk kalangan non muslim di sana yang harus dibantu. “Semoga konflik ini segera berakhir,” tambahnya. Ia juga berharap Rabithah Alawiyah dan MER-C akan terus bergandengan tangan untuk hal-hal yang sifatnya ke arah bantuan kemanusiaan tidak hanya untuk Rohingya dan luar negeri, termasuk juga bantuan kemanusiaan lainnya di Indonesia.
SMKN 1 Serang Serahkan Bantuan untuk Rohingya Melalui MER-C

Serang, (MINA) – Penggalangan dana kemanusiaan untuk warga Rohingya tengah bergulir di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya dilakukan para pelajar provinsi Banten ini. Dikoordinir pemimpin rohaniawan sekolah (rohis), para pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Kota Serang Banten menggelar nonton bareng dan penggalangan dana untuk warga Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh akibat penindasan militer baru-baru ini. Penggalanan dana dilakukan sejak 20-21 September 2017 di sekolah tersebut berhasil mengumpulkan 5,7 juta rupiah. Dana diserahkan melalui lembaga kedaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) untuk kemudian dialokasikan ke pembangunan RS Indonesia di Rakhine State Myanmar yang saat ini baru dimulai. Dalam acara serah terima yang berlangsung pada Jumat (22/9), tim konstruksi pembangunan RS Indonesia tersebut Nur Ikhwan Abadi menjelaskan kepada setidaknya dua ribu siswa yang hadir mengenai visi dan misi MER-C sebagai lembaga kedaruratan yang fokus pada bantuan jangka panjang dengan mengedepankan prinsip kemanusiaan netral tanpa melihat latar belakang yang ditolongnya. “MER-C berkomitmen bergerak di bidang kemanusiaan dan mengedepankan netralitas tanpa memandang suku atau agama yang kami bantu,” tegasnya disambut tepuk tangan dan sorakan para siswa. Sementara itu, ketua Rohis sekolah tersebut Rifki Safarudin mengatakan kepada Mi’raj News Agency (MINA), para siswa merespon dengan keprihatinan besar tidak lama setelah menonton dokumentasi warga Rohingya yang saat ini tidak jelas nasibnya. “Responnya luar biasa, mereka sangat prihatin untuk Rohingya, jadi kami galang dana juga,” katanya. Saat ditanya jika ada kesempatan untuk berangkat kesana, Rifki mengaku ingin membantu secara langsung saudara-saudaranya di sana dan menurutnya antusias para pelajar yang peduli terhadap Rohingya di sekolahnya juga relatif tinggi.(L/RE1/R01) Sumber : http://www.mirajnews.com/2017/09/smkn-1-serang-serahkan-bantuan-untuk-rohingya-melalui-mer-c.html
Alumni UI dan MER-C Jalin Kerjasama Bantu Rohingya

Jakarta, MINA – Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) melakukan penandatanganan kerjasama dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dalam aksi kemanusiaan bantu Rohingya. Acara penandatanganan kerjasama sendiri dilakukan di Sekretariat Iluni UI, Jalan Salemba Raya 4, Jakarta Pusat, Rabu (20/9). “Iluni UI dan MER-C jalin kerjasama jangka panjang, dalam waktu dekat ini kita kerjasama terkait untuk membantu Rohingya,” kata Ketua Umum Iluni UI Arief Budhy Hardono usai acara penandatanganan. Ia mengatakan, alumni Universitas Indonesia yang tergabung dalam Iluni UI sendiri ada banyak dan memiliki keahlian dan latar belakang yang bisa ikut berkontribusi dalam aksi kemanusiaan. Alasannya memilih kerjasama dengan MER-C, menurut Arief karena MER-C sudah berpengalaman dalam aksi-aksi kemanusian dan jelas program-programnya, seperti aksi bakti sosial, pembangunan RS Indonesia di Palestina, juga di Myanmar, dan lain-lain. “Sebetulnya kerjasama ini adalah untuk mendukung kegiatan MER-C dalam bantu Rohingya. Apa yang bisa kami lakukan untuk mendukung lebih, karena Iluni UI punya alumni yang banyak,” katanya. Sementara itu, Presidium MER-C Joserizal Jurnalis mengatakan, kerjasama ini selain Iluni UI mengumpulkan dana bantuan untuk Rohingya, dalam program-program bakti sosial juga akan melibatkan unsur Iluni UI. Kerjasama ini sendiri dilakukan hingga tahun 2019 mendatang dan saat ini terfokus pada bakti sosial untuk membantu Rohingya. “Selain melakukan galang dana, nanti Iluni UI juga akan gabung dalam program bakti sosial MER-C, mungkin kedepannya juga akan diikutkan ke Myanmar,” kata Joserizal. (L/R08/R01) Sumber : http://www.mirajnews.com/2017/09/alumni-ui-dan-mer-c-jalin-kerjasama-bantu-rohingya.html/amp
Laporan Qurban MER-C Cabang Medan
Alhamdulillah Ya Allah berkat rahmat dan ijin Mu kami Relawan MER-C Medan dapat melaksanakan Qurban sebagai panitia dengan menerima amanah 9 ekor kambing. Hasil pemotongan telah didistribusikan kepada : 1. Fakir miskin, prioritas kepada pengungsi Rohingya di Medan. Sebanyak 17 bagian didistribusikan utk pengungsi Rohingya di Hotel Top Inn Medan dan 24 bagian untuk pengungsi Rohingya di Hotel Braspati medan 2. Pengqurban 3. Hadiah kepada jiran tetangga dan sanak saudara Semoga Allah menerima taqwa kita.
MER-C Tandatangani Kontrak Pembangunan RSI Myanmar dengan Kontraktor
Yangon – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menandatangani kontrak pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap kedua yang berlokasi di Rakhine State, Myanmar, Rabu (6/9) di Yangon. Penandatangan dilakukan oleh Presidium MER-C, Ir. Faried Thalib dengan Kyaw Nay Oo, selaku Direktur Rakhita Ah Linn Construction. Co.Ltd, kontraktor lokal pemenang tender pembangunan RS Indonesia. “Ini merupakan kontrak kedua dari pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar. Tahap pertama sudah selesai dan kita sekarang akan segera bangun tahap kedua” ujar Faried Thalib, anggota Presidium MER-C, sesaat setelah menandatangani kontrak. Mantan Manajer Proyek Pembangunan RS Indonesia di Gaza (Palestina) ini menjelaskan bahwa tahap kedua pembangunan rumah sakit ini merupakan pembangunan gedung tempat tinggal untuk dokter dan perawat. “Pembangunan rumah tinggal untuk dokter dan perawat ini kita dahulukan, dan setelah berjalan, bangunan utama akan segera kita bangun secara bersamaan” ujarnya. “Ini bagian dari diplomasi kemanusiaan yang dilakukan oleh MER-C, diharapkan dengan dibangunnya rumah sakit ini, akan memberikan manfaat kepada rakyat Myanmar yang dilanda konflik dan yang lebih penting akan membantu meredakan konflik di daerah ini” jelasnya. Faried menambahkan, Indonesia dengan mayoritas Muslim dan minoritas Budha hendaknya menjadi contoh bagi pemerintah dan rakyat Myanmar, bahwa keberagaman bukan alasan untuk bertikai, namun justru saling mengayomi satu dengan yang lain. “Terlebih lokasi Rumah Sakit berada di antara daerah penduduk muslim dan Budha, sehingga bisa menjadi fasilitas untuk semua penduduk di sana” lanjutnya. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke Rohingya pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan assessment ke lokasi lahan RS Indonesia di Mrauk U pada Agustus 2015. Saat itu, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Mrauk U, Rakhine State. Pada Mei 2017, setelah sempat tertunda selama dua tahun, pembangunan RS Indonesia resmi dimulai. Hal ini berkat inisiasi dari Bapak M. Jusuf Kalla yang memberikan dukungan positif dan berharap RS Indonesia bisa segera terwujud dalam jangka waktu satu tahun ke depan. Ketua Umum PMI ini juga mengarahkan agar RS Indonesia menjadi program kerjasama MER-C dan PMI. Serangkain rapat koordinasi antara MER-C, PMI, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian terkait lainnya sudah beberapa kali digelar baik di kantor Wakil Presiden RI dan Markas Besar PMI untuk menindaklanjuti dan mempercepat pembangunan RS Indonesia. MER-C telah menunjuk tim pelaksana pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang terdiri dari para relawan insinyur yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Meskipun pembangunan diserahkan kepada kontraktor lokal, namun MER-C akan menempatkan relawan insinyur di lapangan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia di Rakhine State sampai pembangunan selesai. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Pembangunan RS Indonesia di Rakhine tidak Terganggu Konflik
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Bentrokan kembali terjadi antara pihak yang mengatasnamakan gerilyawan Rohingya dengan aparat keamanan Pemerintah Myanmar pada Jumat (25/8). Akibat bentrokan tersebut, puluhan orang meninggal dunia dan ribuan Muslim Rohingya melarikan diri ke perbatasan Bangladesh. Medical Rescue Commite (MER-C) yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Myanmar berharap pihak-pihak yang sedang bentrok segera mengambil jalan diskusi agar tidak banyak jatuh korban. Meski demikian, MER-C menginformasikan pembangunan RSI di Myanmar tetap berjalan. Presidium MER-C, Dr Sarbini Abdul Murad mengatakan, proses pembangunan RSI tidak terganggu dengan bentrokan yang terjadi pada Jumat (25/8). Pembangunan RSI didukung semua pihak, termasuk Pemerintah Myanmar, umat Islam, Buddha dan masyarakat umum lainnya. Ia mengungkapkan, setelah berdirinya RSI diharapkan dapat menjadi peredam konflik di Myanmar. “Diharapkan dengan cepatnya berdirinya Rumah Sakit, mudah-mudah bisa menjadi simbol perdamaian dengan adanya Rumah Sakit Indonesia itu,” kata Sarbini kepada Republika, Ahad (27/8). Ia menyampaikan, MER-C saat ini sedang melaksanakan proses pembangunan RSI di wilayah Muaung Bwe, Mrauk U, Provinsi Rakhine, Myanmar. MER-C berharap pihak-pihak yang saat ini sedang bentrok segera melakukan dialog untuk menyelesaikan masalah. Di harapkan semua pihak yang terkait dengan konflik di Myanmar bisa duduk bersama untuk melakukan komunikasi guna mencari solusi penyelesaian masalah dengan jalan terbaik. MER-C meyakini kekuatan dialog dapat menyelesaikan konflik, seperti di Aceh, bisa damai karena dialog. “Kalau dialog tidak dibangun, akan sulit saling pengertian, dialog inilah yang akan membuat saling pengertian antara semua elemen di Myanmar,” ujarnya. Sarbini menerangkan, RSI yang sedang dibangun MER-C diperuntukkan untuk umum, artinya untuk semua komunitas agama. RSI ini akan menjadi simbol netralitas. Masyarakat Muslim dan non-Muslim akan berobat bersama-sama di RSI. Masyarakat yang sedang berobat akan bertemu, saling sapa dan berbicara. Secara perlahan akan membuka pintu saling percaya antara semua komunitas di Myanmar. RSI dibuat oleh MER-C, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan PMI. “Jadi dengan ada Rumah Sakit ini maka masyarakat dan Pemerintah Myanmar bisa melihat di Indonesia harmonis antar umat beragama, buktinya RSI ini didirikan oleh komunitas Muslim dan Buddha,” jelasnya. MER-C menginformasikan, proses pembangunan RSI sudah sampai pengurugan, bulan ini sedang dibuat pagar. Pada Oktober mendatang akan dibuat rumah untuk dokter dan paramedis. Setelah itu baru akan dibangun bangunan Rumah Sakit. Ditargetkan pertengahan 2018 RSI bisa dioperasikan. MER-C juga akan membangun sarana air bersih di sekitar RSI. Sebab, masyarakat di sana kesulitan mendapatkan air bersih. Dokter dan paramedis dari Myanmar akan dilatih di Indonesia. “Diharapkan mereka bisa belajar bagaimana dokter Indonesia melayani pasien-pasien yang tidak melihat kelas dan status. Dokter melayani pasien secara profesional dan atas dasar rasa kemanusiaan,” ujarnya.