Pembangunan RS Indonesia di Rakhine tidak Terganggu Konflik
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Bentrokan kembali terjadi antara pihak yang mengatasnamakan gerilyawan Rohingya dengan aparat keamanan Pemerintah Myanmar pada Jumat (25/8). Akibat bentrokan tersebut, puluhan orang meninggal dunia dan ribuan Muslim Rohingya melarikan diri ke perbatasan Bangladesh. Medical Rescue Commite (MER-C) yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Myanmar berharap pihak-pihak yang sedang bentrok segera mengambil jalan diskusi agar tidak banyak jatuh korban. Meski demikian, MER-C menginformasikan pembangunan RSI di Myanmar tetap berjalan. Presidium MER-C, Dr Sarbini Abdul Murad mengatakan, proses pembangunan RSI tidak terganggu dengan bentrokan yang terjadi pada Jumat (25/8). Pembangunan RSI didukung semua pihak, termasuk Pemerintah Myanmar, umat Islam, Buddha dan masyarakat umum lainnya. Ia mengungkapkan, setelah berdirinya RSI diharapkan dapat menjadi peredam konflik di Myanmar. “Diharapkan dengan cepatnya berdirinya Rumah Sakit, mudah-mudah bisa menjadi simbol perdamaian dengan adanya Rumah Sakit Indonesia itu,” kata Sarbini kepada Republika, Ahad (27/8). Ia menyampaikan, MER-C saat ini sedang melaksanakan proses pembangunan RSI di wilayah Muaung Bwe, Mrauk U, Provinsi Rakhine, Myanmar. MER-C berharap pihak-pihak yang saat ini sedang bentrok segera melakukan dialog untuk menyelesaikan masalah. Di harapkan semua pihak yang terkait dengan konflik di Myanmar bisa duduk bersama untuk melakukan komunikasi guna mencari solusi penyelesaian masalah dengan jalan terbaik. MER-C meyakini kekuatan dialog dapat menyelesaikan konflik, seperti di Aceh, bisa damai karena dialog. “Kalau dialog tidak dibangun, akan sulit saling pengertian, dialog inilah yang akan membuat saling pengertian antara semua elemen di Myanmar,” ujarnya. Sarbini menerangkan, RSI yang sedang dibangun MER-C diperuntukkan untuk umum, artinya untuk semua komunitas agama. RSI ini akan menjadi simbol netralitas. Masyarakat Muslim dan non-Muslim akan berobat bersama-sama di RSI. Masyarakat yang sedang berobat akan bertemu, saling sapa dan berbicara. Secara perlahan akan membuka pintu saling percaya antara semua komunitas di Myanmar. RSI dibuat oleh MER-C, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan PMI. “Jadi dengan ada Rumah Sakit ini maka masyarakat dan Pemerintah Myanmar bisa melihat di Indonesia harmonis antar umat beragama, buktinya RSI ini didirikan oleh komunitas Muslim dan Buddha,” jelasnya. MER-C menginformasikan, proses pembangunan RSI sudah sampai pengurugan, bulan ini sedang dibuat pagar. Pada Oktober mendatang akan dibuat rumah untuk dokter dan paramedis. Setelah itu baru akan dibangun bangunan Rumah Sakit. Ditargetkan pertengahan 2018 RSI bisa dioperasikan. MER-C juga akan membangun sarana air bersih di sekitar RSI. Sebab, masyarakat di sana kesulitan mendapatkan air bersih. Dokter dan paramedis dari Myanmar akan dilatih di Indonesia. “Diharapkan mereka bisa belajar bagaimana dokter Indonesia melayani pasien-pasien yang tidak melihat kelas dan status. Dokter melayani pasien secara profesional dan atas dasar rasa kemanusiaan,” ujarnya.
Tindaklanjuti Pembangunan RS Indonesia, MER-C Kirim Tim ke Myanmar
Rabu pagi (6/9), dua relawan insinyur MER-C yang sudah berpengalaman dalam program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza Palestina, yaitu Ir. Faried Thalib dan Ir. Nur Ikhwan Abadi bertolak ke Myanmar. Kedua relawan dari Divisi Konstruksi MER-C inj akan meninklanjuti program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang akan memasuki tahap dua dari tiga tahap yang direncanakan. Meski situasi di Myanmar belum kondusif, namun proses pembangunan RS Indonesia di wilayah ini terus berjalan. Pembangunan tahap pertama telah selesai, akan dilanjutkan pembangunan tahap dua berupa pembangunan asrama dokter dan perawat. Pada keberangkatan kali ini tim akan melakukan finalisasi kontrak dengan para kontraktor lokal, juga mencari akses untuk bantuan kemanusiaan ke wilayah konflik. RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar diharapkan bisa segera selesai dan memberikan bantuan pelayanan kesehatan jangka panjang bagi para korban. Pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia). Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
MER-C dan RRI Jakarta Tandatangani Kerjasama Penggalangan Dana RS Indonesia di Myanmar

Jakarta – MER-C dan RRI Jakarta kembali sepakat menjalin kerjasama dalam rangka sosialisasi dan penggalangan dana untuk program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Kesepakatan kerjasama telah ditandatangani pada hari Rabu (23/8) di Gedung RRI oleh Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad dan Kepala RRI Jakarta, La Sirama, SSos, MM. Ini bukan kerjasama pertama kali bagi MER-C dan RRI Jakarta. Sebelumnya saat program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, RRI Jakarta juga menjadi salah satu media partner hingga pembangunan rumah sakit ini selesai. Kini, MER-C kembali menggandeng RRI Jakarta menjadi media partner untuk program pembangunan RS Indonesia yang sedang berlangsung di wilayah konflik di Myanmar, tepatnya di Muaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State. RRI Jakarta akan memberikan space iklan secara sosial sebagai bentuk dukungan RRI Jakarta bagi program kemanusiaan bangsa Indonesia di dunia internasional. Iklan Layanan Masyarakat berdurasi 60 detik yang dibuat oleh MER-C dengan melibatkan sejumlah tokoh dan artis yang peduli terhadap program ini akan diputar oleh RRI Jakarta setiap hari selama kurun waktu kerjasama. Program kerjasama MER-C, PMI dan Walubi yang turut didukung oleh pemerintah Indonesia ini diharapkan bisa tersosialisasikan secara lebih luas kepada masyarakat Indonesia dengan dukungan media, sehingga swmakin banyak masyarakat yang tergerak untuk berpartisipasi memberikan dukungan dan bantuannya. Saat ini pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar akan memasuki tahap pembangunan bangunan utama rumah sakit. Perkiraan dana yang dibutuhkan untuk pembangunan hingga pengadaan alat kesehatan rumah sakit mencapai Rp 25 Milyar. Pembangunan ditargetkan bisa selesai pada awal atau pertengahan tahun depan. Tidak hanya bangunan rumah sakit, masalah air bersih yang sulit di wilayah ini juga turut menjadi perhatian yang akan ditangani. Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Kondisi Terkini Kesehatan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir

Jakarta – Menyusul kondisi kesehatan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang menurun pasca pemeriksaan terakhir yang dilakukan Tim Medis MER-C, Rabu (25/5) di Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Bogor, MER-C sebagai lembaga medis yang selama ini mendampingi kesehatannya, segera melayangkan surat permohonan agar ulama sepuh terpidana kasus terorisme ini mendapat izin untuk dapat melakukan pemeriksaan ke luar Lapas. Permohonan pemeriksaan ke rumah sakit yang memiliki peralatan lengkap dilakukan guna mengetahui penyebab pembengkakan pada tungkai dan melakukan tindakan pengobatan yang diperlukan. Surat permohonan pemeriksaan ini ditujukan langsung oleh Presidium MER-C kepada Presiden RI dengan tembusan Wakil Presiden RI dan berbagai Kementerian serta Lembaga terkait. Surat tertanggal 2 Juni 2017 itu berisi permohonan agar Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dapat melakukan MCU (Medical Check Up) di Rumah Sakit yang dipilih oleh MER-C, yaitu RS Jantung Harapan Kita, Jakarta. RS Jantung Harapan Kita dipilih karena adanya kekhawatiran bahwa bengkak berulang pada tungkai yang dialami Ustadz Abu Bakar Ba’asyir terkait dangan fungsi jantung. Setelah melalui proses perizinan yang cukup panjang, pada awal Agustus 2017 surat tersebut disetujui. Rabu sore (9/8) dengan pengawalan ketat, ulama berusia 80 tahun itu dibawa dari Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur Bogor menuju RS Jantung Harapan Kita. Tim Medis dan ambulans MER-C turut mendampingi dalam iringan. Sekitar pukul 19.00, iringan tiba di RS Jantung Harapan Kita. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang selama ini mengalami tahanan isolasi langsung dibawa menuju ruangan rawat super VIP dan mendapatkan pemeriksaan awal dari Tim Dokter rumah sakit. Kamis (10/8), serangkaian pemeriksaan Medical Check Up berupa Advance Cardiac Screening beserta beberapa pemeriksaan tambahan seperti MS CT (Multi Slice Computed Tomography) untuk toraks (rongga dada), abdomen (perut), dan coroner (pembuluh jantung) dilakukan sejak pagi hingga sore hari dengan penjagaan ketat dari aparat. Dari seluruh pemeriksaan yang telah dilakukan, kondisi kesehatan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir secara umum baik dengan resume medis Acute Decompensated Heart Failure (ADHF) dan Congestive Heart Failure (CHF). Adapun penyebab tungkai bengkak adalah gangguan katup pembuluh balik tungkai atau Chronic Venous Insufficiency (CVI). Beberapa penurunan nilai fungsi organ masih dalam batas normal untuk usia yang sudah mencapai 80 tahun. Adapun hal lainnya yang menjadi perhatian adalah Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) dan bengkak pada tungkai. Keluhan-keluhan yang ada akan ditangani melalui pemberian obat oral dan dijadwalkan untuk melakukan kontrol kembali dalam satu bulan ke depan. MER-C adalah Tim Medis yang diminta keluarga untuk mendampingi kesehatan Abu Bakar Ba’asyir selama dalam masa penahanan. Tim MER-C yang terdiri dari dokter spesialis orthopaedi, dokter spesialis penyakit dalam, serta dokter umum secara rutin mengunjungi untuk mengecek kesehatan Ustadz Abu sejak ditahan di LP Salemba, LP Cipinang, LP Pasir Putih Nusa Kambangan hingga akhirnya dipindahkan ke LP Gunung Sindur Bogor. Selanjutnya, ke depan Tim MER-C akan merekomendasikan agar Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dapat melakukan Comprehensive Geriatric Assessment untuk mengetahui status fungsional, mental, dan nutrisi secara komprehensif. Rekening Donasi amanah Keluarga Mujahid dapat disalurkan melalui: BSM, 701.565.8953 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Teknologi Ultra Filtrasi akan digunakan untuk suplai kebutuhan air RS Indonesia di Myanmar

Yangon – Tim Teknis RS Indonesia memutuskan akan menggunakan teknologi ultra filtrasi untuk mensuplai kebutuhan air bagi Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Hal ini dijelaskan oleh salah satu anggota tim ahli MER-C, Agus Subiyakto Saleh saat melalukan kunjungan ke lokasi pembangunan RS Indonesia di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, Rabu (9/8). “Setelah melakukan pengecekan di lapangan, air yang ada PH nya 7,1 dan TDS nya rendah hanya 2 yang berarti mineralnya rendah, maka kita akan menggunakan sistem ultra filtrasi, ini akan langsung jernih airnya” terang ahli pengolahan air asal ITB tersebut. Pria yang lahir 58 tahun lalu itu menjelaskan bahwa teknologi ultra filtrasi ini merupakan sebuah teknologi penyaringan air dengan menggunakan membran tertentu dan dapat menyaring setiap partikel yang ada di dalam air hingga ukuran 0,01 mikron. “Jadi ultra filtrasi itu adalah teknologi dengan menggunakan membran dengan ukuran rembesannya 0,01 mikron. Nah dengan adanya air yang masuk melalui membran tersebut, semua kotoran akan tertahan, sehingga air itu sudah bebas dari kemungkinan bakteri dan lain-lain” jelasnya. Ia juga menyatakan selain perawatan yang mudah, teknologi ini pun mampu menahan virus hingga ukuran 0,5 mikron. “Sampai dengan virus akan tertahan di membran itu, karena virus ukuran nya 0,5 mikron. Tekonologi ini mudah dioperasikan dengan menggunakan pompa karena tekanannya cukup rendah. Hanya membutuhkan tekanan 0,5 – 1 bar. Membersihkannya cukup mudah, dengan bayclin sudah bisa membersihkan membran” lanjutnya. Agus juga menambahkan bahwa dengan kapasitas penampungan air yang mencapai 120 ribu meter kubik, bisa melayani 1000 orang selama empat bulan kedepan. “Kapasitas penampungan air ini 120 meter kubik, bisa melayani 1.000 orang, dan jika dihitung kebutuhan air perorang 100 liter perhari, maka kapasitas air ini bisa digunakan hingga 120 hari kedepan atau 4 bulan,” terangnya. Lebih lanjut Agus menyatakan bahwa air hujan yang ditampung di kolam penampungan tersebut kualitasnya sangat baik, karena tidak ada polusi udara disekitarnya. “Saya langsung minum air tadi, karena saya yakin air tersebut tidak berbahaya, dan airnya bisa dikonsumsi langsung. Rasanya seperti rasa air yang punya TDS rendah. Ini karena air nya tidak tercemar oleh polusi” ungkapnya. Saat disinggung soal biaya Agus menyatakan bahwa biaya yang digunakan bisa terjangkau dan tidak terlalu tinggi. “Untuk kapasitas 3-4 meter kubik per jam jika di Jakarta seharga 15 jutaan. Berarti selama satu jam air ini bisa melayani 300 orang, sehingga untuk kapasitas 1.000 orang, bisa beroperasi hanya 3-4 jam perhari” katanya. Sebelumnya, Senin (7/8), MER-C memberangkatkan empat relawan teknis ke Myanmar dengan salah satu agenda adalah melakukan studi lanjutan untuk mengatasi permasalahan air bersih selain melakukan supervisi pekerjaan pembangunan tahap satu RS Indonesia yang sudah selesai. Tim dijadwalkan akan bertugas selama 5 hari hingga Jum’at (11/8) mendatang. Pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia), didukung oleh pemerintah Republik Indonesia. Keberadaan RS Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu perekat persatuan antara etnis di Myanmar sehingga bisa meredam konflik berkepanjangan yang terjadi untuk mendorong terciptanya perdamaian di Myanmar. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Pembangunan Tahap Pertama Selesai, Tim Teknis RS Indonesia Kembali Kunjungi Myanmar

Jakarta – Empat relawan teknis RS Indonesia, hari ini, Senin/7 Agustus 2017 kembali bertolak ke Myanmar. Kunjungan dilakukan seiring telah selesainya pembangunan tahap pertama, yaitu pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia seluas lebih dari 7.000 m2 yang terletak di Muaung Bwe, Mrauk U, provinsi Rakhine. Keempat relawan tersebut adalah Drs. Ichsan Thalib (Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia, Myanmar), Ir. Idrus M. Alatas, MSc (Ketua Divisi Konstruksi MER-C), Ir. Agus Subiyakto Saleh, MT dan Ir. Nur Ikhwan Abadi. Ichsan Thalib selaku Ketua Tim menyatakan bahwa agenda kunjungan kali ini adalah untuk melakukan supervisi pekerjaan tahap pertama yang dikerjakan oleh kontraktor lokal pemenang tender sekaligus melakukan finalisasi pembayaran. Pekerjaan tahap pertama semula diperkirakan memakan waktu 2 – 3 bulan. Namun sejak dimulai pada 25 Mei 2017 dan meski wilayah ini kerap dilanda hujan lebat, ternyata pada akhir Juli 2017 lalu, pekerjaan pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia bisa selesai hanya dalam jangka waktu 2 bulan. Ichsan melanjutkan, tidak hanya bidang teknis pembangunan, MER-C juga mengikutsertakan seorang ahli teknik lingkungan untuk mengadakan studi lanjutan dalam rangka mengatasi permasalahan air bersih yang sulit di wilayah sekitar RS Indonesia. “Air di wilayah ini payau sehingga selama ini masyarakat mengandalkan dan sangat bergantung dari air tadah hujan. Keikutsertaan ahli teknik lingkungan dalam misi ini diharapkan bisa mengatasi permasalahan air bersih yang tidak hanya sangat penting bagi operasional RS Indonesia ke depan namun juga bagi kehidupan masyarakat sekitar baik Muslim maupun Budha.” Sementara itu, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Idrus M. Alatas, relawan yang juga pernah terlibat dalam pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina mengungkapkan bahwa agenda penting tim lainnya di Myanmar adalah melakukan persiapan tender untuk pembangunan tahap selanjutnya, yaitu bangunan utama RS Indonesia serta sarana pelengkapnya seperti rumah dokter dan perawat. Lama kunjungan tim untuk menuntaskan semua kegiatan diperkirakan selama 5 hari hingga hari Jum’at/11 Agustus 2017 mendatang. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar adalah program kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) yang didukung oleh Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak masyarakat Indonesia berpartisipasi dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini. Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Salurkan Donasi Masyarakat, MER-C Bangun TPA bagi Korban Gempa di Pidie Jaya

Aceh – Sebagai tahap lanjut penyaluran bantuan bagi korban pasca gempa di wilayah Pidie Jaya, Aceh, MER-C membangun Ruang Kelas Belajar (RKB) TPA di salah satu wilayah terdampak gempa, tepatnya di Gampong Nangrhoe Barat, kecamatan Ulim, kabupaten Pidie Jaya. Hari ini, Senin/7 Agustus 2017, Tim MER-C melakukan peletakan batu pertama sebagai pertanda dimulainya pembangunan RKB TPA. Acara ini turut dihadiri oleh Camat Ulim, Geucik (Kepala Desa) setempat, beserta perangkat Gampong Nangrhoe Barat. Dr. Sarbini selaku Presidium MER-C Indonesia dalam sambutan singkatnya berharap pembangunan RKB TPA dapat berjalan lancar dan selesai tepat waktu sebagaimana sudah direncanakan. Ia juga menyampaikan terima kasih atas kerja sama yang baik dari aparatur gampong/desa juga Camat Ulim dalam membantu proses pendirian TPA. Dr. Sarbini berharap RKB TPA nantinya dapat bermanfaat untuk pendidikan anak-anak usia remaja sehingga dapat melahirkan karakter anak-anak yang berakhlakul karimah. Pembangunan ini juga sebagai bentuk kepedulian MER-C terhadap korban gempa yang terjadi di Pidie Jaya. Lebih lanjut, keberadaan TPA diharapkan bisa menjadi simbul ikatan batin antara masyarakat Pidie Jaya dan MER-C Indonesia. Sementara itu, M Rizky Syahdan sebagai Camat di Kecamatan Ulim menyampaikan terima kasih atas bantuan masyarakat melalui MER-C Indonesia yang akan membangun RKB TPA di wilayahnya, apalagi mengingat Pidie Jaya masih membutuhkan bantuan-bantuan dari pihak ketiga dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa yang terjadi pada Desember 2016 silam. Acara peletakan batu pertama ini ditutup dangan makan ketan bersama dan doa. Rekening Donasi amanah Aceh dapat disalurkan melalui: BSM, 701.565.8937 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Bantuan Ambulans dari rakyat Indonesia untuk rakyat Suriah Diserahterimakan

Setelah melalui proses panjang, akhirnya pada hari Rabu/26 Juli 2017, bantuan ambulans yang dibeli dari donasi rakyat Indonesia yang masuk ke rekening MER-C amanah “Ambulance(s) and Medical Aid for Syria” telah diserahterimakan. Terima kasih atas kepercayaan rakyat Indonesia, semoga bantuan ini bermanfaat untuk memberikan bantuan medis bagi rakyat Suriah yang menjadi korban perang. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Duta Besar RI untuk Suriah, Bapak Djoko Harjanto beserta seluruh jajaran staf KBRI Suriah yang telah membantu dan memfasilitasi pembelian bantuan ambulans ini. ———————– DUA AMBULANS DARI RAKYAT INDONESIA UNTUK RAKYAT SURIAH Pada hari Rabu (26/7), KBRI Damaskus telah menyerahkan dua mobil ambulans yang merupakan bantuan kemanusiaan Rakyat Indonesia dari dua organisasi kemanusiaan Indonesia yaitu: Dompet Dhuafa dan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), kepada Syrian Arab Red Crescent (SARC) bertempat di kantor Kementerian Administrasi Lokal Suriah. Serah terima ambulans tersebut dihadiri oleh Deputi Menteri Administrasi Lokal, Ketua Syrian International Rescue Committee (SIRC), para staf KBRI Damaskus dan delegasi dari SARC. Dalam kesempatan serah terima tersebut, Dubes RI Damaskus, Djoko Harjanto menjelaskan bahwa Bantuan Kemanusiaan Indonesia ini sebetulnya sudah dirintis sejak dua tahun yang lalu sebagai wujud solidaritas Rakyat Indonesia kepada Rakyat Suriah yang sedang menghadapi konflik. MER-C sesuai dengan misinya ”Giving Hope to Humanity and Help to People that Need the Most” dan misi Dompet Dhuafa yang juga perduli kepada sesama, dua unit ambulans ini kemudian dikirim dengan harapan segera dapat dimanfaatkan di Suriah dan menjadi catatan amal yang terus mengalir kepada para donaturnya. Dubes Djoko, atas nama Perwakilan Indonesia di Suriah, MER-C, dan Dompet Dhuafa menyampaikan terima kasih kepada Menteri Administrasi Lokal dan Ketua Bulan Sabit Merah Suriah serta pihak terkait lainnya yang telah membantu terselenggaranya acara serah terima Bantuan Kemanusiaan berupa ambulans dari Rakyat Indonesia untuk Rakyat Suriah. Dubes Djoko menyampaikan pula bahwa karena satu dan lain hal, Presidium MER-C, Bapak Ir. Faried Thalib dan Direktur Dompet Dhuafa, drg. Iman Rulyawan tidak dapat hadir di Suriah dan karenanya menyampaikan salam mereka kepada Bulan Sabit Merah Suriah serta semua pihak yang telah berjasa dan mengamanahkan kepada Kedutaan Besar RI di Damaskus untuk mewakili mereka dalam penyerahan Bantuan Kemanusiaan ini. Pada kesempatan yang sama, Menteri Administrasi Lokal Suriah, Hussein Makhlouf, turut menyampaikan terima kasih atas sikap dan dukungan Indonesia selama ini terhadap Suriah, baik dukungan politik di forum internasional, dukungan dalam bidang ekonomi, maupun bantuan kemanusiaan seperti ini. (Sumber: KBRI Damaskus) – https://www.facebook.com/kbri.damaskus?fref=ts
Progress Pembangunan RS INDONESIA di Rakhine State, Myanmar

Meski kerap dilanda hujan lebat, pembangunan tahap infrastruktur berupa pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia seluas lebih dari 7.000 m2 di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar terus berjalan. Pasca Idul Fitri Tim teknis pembangunan RS Indonesia berencana bertolak lagi ke Rakhine, Myanmar untuk melakukan evaluasi dan supervisi pekerjaan langsung ke lapangan serta mempersiapkan tender untuk pembangunan bangunan utama RS Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu/Sahabat yang sudah memberikan dukungan dan donasi untuk program ini. Kami masih berharap doa, dukungan dan partisipasi dari masyarakat Indonesia agar program ini dapat segera terwujud. Semoga program ini kembali dapat menjadi amal baik bersama bangsa Indonesia. Di suasana yang fitri ini, kami juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info : www.mer-c.org 0811990176
Pembangunan RS Indonesia di Myanmar Dimulai

Jakarta – Kamis/25 Mei 2017, pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) resmi dimulai. Pembangunan yang telah berjalan adalah pembangunan infrastruktur berupa pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia yang terletak di Muaung Bwe, Rakhine State. Pembangunan infrastruktur dikerjakan oleh kontraktor lokal hasil pemenang tender yang telah ditetapkan oleh Tim Pembangunan RS Indonesia saat melakukan kunjungan sepekan ke Myanmar pada tanggal 15 – 21 Mei 2017 lalu. Pembangunan tahap ini diperkirakan akan memakan waktu selama 3 bulan ke depan dan akan disupervisi langsung oleh MER-C dan PMI. Sementara pembangunan bangunan utama RS Indonesia akan dimulai setelah musim penghujan selesai sekitar akhir September atau awal Oktober 2017. Saat ini disain RS Indonesia di Myanmar sedang difinalisasi untuk persiapan tender tahap berikutnya yang rencananya akan dilakukan usai hari raya Idul Fitri mendatang. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar adalah program kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) yang didukung oleh Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak masyarakat Indonesia berpartisipasi dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini. Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176