MER-C LAKUKAN KHITANAN MASSAL DAN PENGOBATAN UMUM DI SALAWATI TENGAH

Sorong – Papua Barat. Medical Emergency Rescue Committee atau MER-C menerjunkan 7 dokter, 3 perawat dan 1 orang logistik dalam khitanan massal dan pengobatan umum bagi warga di Distrik Salawati Tengah sejak Rabu hingga Sabtu minggu ini. Kegiatan tersebut merupakan agenda bersama yang dirancang oleh Asia Moslem Charity Foundation (AMCF) dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Sorong bertajuk “Kapal Kemanusiaan”. “Hari Rabu kemarin MER-C mengadakan khitanan bagi total 95 anak. Sedangkan Kamis dan Jumat peserta pengobatan setidaknya ada 120-an pasien. Ini terpaksa distop dulu karena hujan dan dilanjut setelah warga selesai sholat jumat,” demikian penjelasan Islamiyah Samaun yang merupakan staf logistik dalam kegiatan ini di Kalobo. dr. Zackya Yahya, Sp.Ok selaku perwakilan MER-C untuk Papua merasa gembira dengan adanya program Kapal Kemanusiaan ini. “Sudah lebih dari 11 tahun kami hadir di Papua melalui klinik sosial. Relawan medis kami menyusuri pelosok SP untuk memberikan layanan kesehatan berkualitas dan terjangkau. Sekarang dengan adanya kapal ini kami berharap jangkauan kami bisa lebih luas ke pulau-pulau terpencil di Papua Barat.” Demikian jelasnya perihal program Kapal Kemanusiaan. Bagi MER-C, kerja sama dengan AMCF sudah dimulai lama semenjak bencana gempa dan tsunami Aceh pada 2004. Khusus untuk kali ini, AMCF menyediakan kapal dan awaknya, sedangkan pembiayaan kegiatan tim medis didapat dari Badan Amil Zakag Nasional (BAZNAS). Sedikitnya 36 titik akan mendapat layanan kesehatan dari tim medis MER-C dalam kurun 12 bulan ke depan. “Teknisnya kami akan kirim tim pendahulu untuk melakukan survei dan pemetaan masalah kesehatan di lokasi yang akan dimasuki. Lalu akan disusun prioritas kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut. Tim medis sendiri akan bekerja selama maksimal 2 minggu di 3 titik tiap bulannya.” jelas dr. Zackya. “Bukan tidak mungkin ke depan kami akan melibatkan dokter spesialis jika memang dibutuhkan. Pasien-pasien yang membutuhkan tindakan akan didata dan dikumpulkan, lalu dokter spesialis yang sesuai akan bekerja di satu rumah sakit yang sudah memiliki kesepakatan. Atau jika mau, dokter spesialisnya yang ikut keliling naik kapal bersama kami.” Keterbatasan akses kesehatan dan minimnya tenaga serta fasilitas kesehatan masih merupakan masalah tersendiri di kawasan timur Indonesia. Hingga sekarang beberapa program sudah dilakukan untuk menjangkau warga di daerah terpencil, termasuk pulau-pulau terluar untuk mengurangi permasalahan ini. Diharapkan dengan adanya Kapal Kemanusiaan ini, bertambah lagi upaya untuk memberikan hak kesehatan bagi setiap warga negara.
PROGRAM KAPAL KEMANUSIAAN DILUNCURKAN DI SORONG

Sorong – Program kapal kemanusiaan yang diinisiasi oleh Asian Moslem Charity Foundation (AMCF), resmi diluncurkan di Sorong – Papua Barat pada hari Rabu, 24 Mei 2017. Acara seremonial dilakukan di Aula Politeknik Kelautan dan Perikanan, dihadiri oleh pimpinan lembaga yang terlibat serta tamu undangan dari kalangan pejabat sipil dan militer di lingkungan pemerintah kabupaten dan kota Sorong. Dalam peresmian tersebut, Dra. Endang Gunaisah, MSi. selaku Plt Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong menyampaikan selamat atas peresmian program Kapal Kemanusiaan. “Kami sangat berbahagia, karena aula kami yang saat ini menjadi tempat peresmian, justru belum diresmikan oleh pejabat yang berwenang,” ujarnya yang disambut tawa hadirin. Aula yang didominasi warna biru cerah dengan dekorasi langit-langit berupa gambaran awan dan dipenuhi poster kegiatan bawah laut, menciptakan atmosfir laut terbuka yang sangat kental. “Jangan kaget. Dulu kami dikenal sebagai Akademi Perikanan Sorong (APSOR), namun sekarang kami berganti nama menjadi Poltek Perikanan dan Kelautan.” Sementara itu, dalam sambutannya Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Sorong, Drs. Rustamadji, menyampaikan kegembiraannya terhadap peresmian program Kapal Kemanusiaan ini. “Sudah lama kami bermitra dengan AMCF. Dan kami berbahagia bisa meningkatkan kemitraan melalui Kapal Kemanusiaan ini,” katanya. Dari sekian banyak perguruan tinggi dan swasta yang ada di Papua Barat, STKIP yang juga dikenal sebagai Kampus Biru adalah satu-satunya perguruan tinggi yang mendapat peringkat B. “STKIP sebagai sayap pendidikan Munammadiyah selalu berusaha untuk memberikan manfaat bagi sekitar dan terbuka bagi siapa saja. Buktinya, 70% mahasiswa kami berasal dari masyarakat lokal Papua yang beragama Nasrani,” paparnya sambil menunjuk ke belakang dimana barisan mahasiswanya duduk. Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengirimkan ketua presidiumnya dr. Henry Hidayatullah, MSi untuk memberikan sambutan dan mengunjungi lokasi awal kegiatan kesehatan oleh tim medis MER-C. “Kami ingat bahwa di bulan ini 7 tahun yang lalu, kami bergabung bersama NGO lain dari banyak negara dalam kapal kemanusiaan untuk membuka blokade Gaza,” ujarnya merujuk pada peristiwa penyerbuan tentara Israel ke Kapal Mavi Marmara pada 31 Mei 2010 silam. “Dan tentunya, kini kami bergabung dalam program kapal kemanusiaan ini juga untuk membuka blokade akses kesehatan masyarakat Papua di pulau-pulau terpencil.” Menurut dr. Henry setidaknya ada 36 titik yang akan dikunjungi oleh tim medis dengan berbagai program kesehatan sesuai hasil survei oleh tim pendahulu. “Dan kami berterima kasih kepada BAZNAS yang bersedia menyokong pembiayaan program kesehatan di kapal ini.” Sebagai kegiatan awal, aktivitas tim medis akan dipusatkan di Salawati Tengah untuk mengadakan sunatan massal dan pemeriksaan kesehatan. Dalam sambutan peresmian, Ahmad Yaman, Direktur AMCF, menyampaikan bahwa program kapal kemanusiaan ini adalah capaian baru bagi AMCF, karena sebelumnya AMCF tidak memiliki pengalaman bekerja dengan kapal. “Kami menyiapkan 3 kapal kemanusian untuk Sorong, Ternate dan Pontianak agar bisa menjangkau area sekitar menjalankan program dakwah kami. Untuk menambah manfaat, kami bersinergi dengan elemen lain seperti STKIP selaku mitra lokal sekaligus menjalankan program pendidikan, dan MER-C yang sudah dikenal luas dalam memberikan bantuan kesehatan di daerah terpencil.” Ahmad berharap ke depan sinergi ini bisa diperluas untum meningkatkan kemanfaatan program Kapal Kemanusiaan. “Alhamdulillah, meski sempat mengalami hambatan dalam setahun terakhir, Kapal Kemanusiaan ini bisa diresmikan pada hari ini,” pungkasnya. Setelah peresmian, Kapal Kemanusiaan segera bertolak ke Salawati Tengah untuk mengunjungi lokasi pengobatan dimana sehari sebelumnya tim medis MER-C sudah masuk untuk persiapan dan perbekalan medis. Sedikitnya 11 petugas yang terdiri dari dokter, perawat dan logistik akan membantu kegiatan sunatan massal pada hari Rabu dan pengobatan umum pada hari Kamis. Diperkirakan Kapal Kemanusiaan akan bertugas sekitar 2 minggu untuk menyampaikan program bagi masyarakat yang dikunjungi.
Perluas Jangkauan Pelayanan Kesehatan, MER-C Jalin Kerjasama Program Kapal Kemanusiaan

Jakarta – Dua belas tahun berkiprah di Papua, MER-C terus berupaya untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan melalui sinergi dengan berbagai pihak. Khusus untuk wilayah Papua Barat, MER-C bekerjasama dengan Baznas (Badan Amil Zakat Nasional), AMCF (Asia Muslim Charity Foundation) dan STKIP Muhammadiyah akan mengadakan program kapal kemanusiaan. Program ini akan menjelajah dan menjangkau wilayah-wilayah terpencil serta sulit di akses di provinsi Papua Barat. Koordinator MER-C untuk wilayah Papua, dr. Zackya Yahya Setiawan, SpOk menyatakan bahwa program kerjasama Kapal Kemanusiaan di Papua Barat akan berlangsung selama satu tahun. Bulan suci ramadhan dirasa sebagai waktu yang tepat untuk memulai program ini. Untuk itu launching program rencananya akan diadakan pada hari Rabu/24 Mei 2017 di Sorong, Papua Barat beberapa hari menjelang Ramadhan. Senin malam/22 Mei 2017, MER-C memberangkatkan 8 relawan medis beserta obat-obatan, alat kesehatan dan perlengkapan logistik ke Sorong untuk persiapan launching dan dimulainya program ini. Perwakilan dari semua lembaga yang terlibat dalam kerjasama serta beberapa pejabat daerah, tokoh masyarakat dan organisasi lokal akan hadir pada acara ini. Melalui kerjasama dengan berbagai lembaga, MER-C berharap pelayanan dan bantuan yang diberikan kepada masyarakat di Papua Barat bisa menjadi lebih luas dan komprehensif. Cakupan program Kapal Kemanusiaan Papua Barat akan meliputi pelayanan kesehatan yang akan dicover oleh MER-C dan Baznas. Sementara renovasi rumah warga agar layak huni, pendidikan dan keagamaan khususnya bagi warga muslim dhuafa di provinsi ini akan dicover oleh AMCF selaku pemilik kapal dan STKIP Muhammadiyah. Selama jangka waktu satu tahun ke depan, target wilayah yang akan dijangkau tim kapal kemanusiaan sebanyak 36 kampung/distrik di Papua Barat yang akan dibagi dalam 12 kali trip. Setiap kali trip akan mengunjungi tiga distrik. Distrik pertama yang akan dikunjungi langsung saat peresmian, yaitu distrik Salawati Tengah. Dr. Zackya Yahya Setiawan,SpOk menambahkan bahwa khusus bidang kesehatan, pelayanan MER-C mencakup pengobatan umum, sirkumsisi dengan target minimal 1.000 anak, pemeriksaan gizi anak, pemeriksaan mata dan penyuluhan kesehatan. Sebelumnya, MER-C bersama Baznas, AMCF dan STKIP Muhammadiyah telah melakukan ujicoba kapal kemanusiaan (sea trial) untuk memastikan kesiapan armada program ini.
Pembangunan Infrastruktur RS Indonesia Dimulai Bulan Depan

Rakhine – Pembangunan infrastruktur berupa pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia di Myanmar akan dimulai segera dalam bulan depan, Juni 2017. Hal ini disampaikan salah satu anggota Tim Pembangunan RS Indonesia, Dr. Ir. Idrus M. Alatas usai mengunjungi lokasi lahan RS Indonesia yang terletak di Muaung Bay, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, hari Kamis/18 Mei 2017. Prioritas utama lainnya yang harus diselesaikan adalah air bersih yang sulit didapat di wilayah ini. Padahal kebutuhan air bersih tinggi dan vital bagi sebuah rumah sakit. Idrus M. Alatas yang juga Ketua Divisi Konstruksi MER-C mengemukakan bahwa pembangunan RS Indonesia akan dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap awal infrastruktur lalu tahap pembangunan rumah sakit itu sendiri. Infrastruktur RS Indonesia mencakup diantaranya pemagaran dan pengurukan. Untuk pengurukan, lahan RS Indonesia harus diuruk setinggi dua meter untuk untuk menghindari banjir yang setiap tahun melanda daerah ini. “Direncanakan pemagaran dan pengurukan dapat dilaksanakan Juni depan, dilanjutkan dengan pembangunan rumah sakit yang sedang didisain ulang disesuaikan dengan standar nasional yang berlaku di Myanmar. Pembangunan RS akan dilaksanakan setelah musim hujan periode September,” lanjutnya. Saat kunjungan ke lokasi yang berjarap sekitar 4,5 jam perjalanan darat dari kota Sittwe, ibukota Rakhine State, tim menemukan permasalah krusial yang juga harus diatasi, yaitu permasalahan air bersih. Melihat kondisi air yang sangat tidak layak, Tim memutuskan bahwa hal ini juga akan menjadi prioritas utama untuk diselesaikan karena terkait dengan kesehatan warga sekitar dan keberlangsungan pelayanan RS Indonesia nantinya. Air di wilayah ini payau meski sudah dibuat sumur yang dalam. Air sungai juga payau tidak bisa diminum sehingga warga mengandalkan air hujan yang ditampung pada penampungan air untuk mereka gunakan kala musim kemarau tiba. Idrus M. Alatas, relawan teknis yang juga ahli geologi tanah akan mengajukan program pengolahan penampungan air yang lebih efektif dan sehat. Tim rencananya juga akan melibatkan ahli tata kelola air untuk membantu mengatasi permasalahan air bersih di wilayah ini. Pembangunan RS Indonesia adalah program kerjasama MER-C (medical Emergency Rescue Committee) bersama PMI (Palang Merah Indonesia) dengan dukungan Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak berpartisipasi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini.
MER-C dan Pemerintah Myanmar Sepakati Lokasi RS Indonesia

Rakhine – MER-C dan Pemerintah Myanmar sepakati lokasi untuk pembangunan RS Indonesia, yaitu di desa Muaung Bay, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar. Lokasi ini dipilih setelah Tim Pembangunan RS Indonesia yang terdiri dari Drs. Ichsan Thalib, Dr. Ir. Idrus M. Alatas dan Ir. Faried Thalib melakukan kunjungan langsung ke lapangan, Kamis/18 Mei 2017. Kunjungan didampingi oleh dr. Swei Tein (Kepala Kesehatan Rakhien State), Bonifatius A. Herindra (Pelaksana Fungsi Politik KBRI Yangon) dan tiga kontraktor yang berminat mengikuti tender pembangunan RS Indonesia. “Lokasi berjarak sekitar 2,3 km dari lokasi lama yang telah Tim MER-C kunjungi pada Agustus 2015 lalu,” ungkap Ichsan Thalib yang sudah tiga kali mengunjungi Rakhine State, Myanmar. Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia di Myanmar ini menyatakan bahwa lokasi disepakati karena dilihat dari strategisnya sama dengan lokasi yang lama. Bahkan di lokasi baru mobilisasi warga di RS akan lebih memungkinkan. Di sini lebih ramai dan lebih dekat ke pemukiman warga baik muslim maupun Budha. Lahan RS Indonesia yang diberikan pemerintah Myanmar sekarang juga lebih luas, yaitu sekitar 7.000 meter persegi, terletak di pinggir jalan raya Sittwe – Yangon.” Hal penting lainnya, tambah Ichsan, lokasi ini juga tetap mudah diakses dan dapat memberikan pelayanan bagi warga Rakhine State dari kedua belah pihak baik Muslim maupun Budha. Di samping lahan RS Indonesia saat ini ada rumah sakit tua (station hospital) yang dibangun tahun 1972 yang sudah mengalami beberapa kerusakan. Pada kesempatan kunjungan tersebut Tim memberikan santunan pada para pasien yang terbaring di bangsal RS yang sekitar 70% adalah warga Muslim. Tim memberikan santunan kepada pasien baik muslim maupun budha dan kepada paramedis. Rumah sakit (station hospital) inilah yang selama ini menjadi tumpuan warga sekitar dikala sakit. Apabila RS Indonesia telah selesai, maka operasional pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang ada akan dipindahkan ke RS Indonesia. Pembangunan RS Indonesia adalah program kerjasama MER-C (medical Emergency Rescue Committee) bersama PMI (Palang Merah Indonesia) dengan dukungan Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak berpartisipasi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini.
MER-C dan Kemenkes Myanmar Tandatangani Kesepakatan Pembangunan Rumah Sakit

Selasa/16 Mei 2017 menjadi salah satu hari bersejarah dalam rangkaian proses pembangunan RS Indonesia di Myanmar. Pada hari ini, dilakukan penandatanganan kesepakatan jenis rumah sakit yang akan dibangun oleh MER-C bekerjasama dengan PMI di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar. Penandatanganan dilakukan antara Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia di Myanmar, drs. Ichsan Thalib dengan Wakil Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar, dr. Myat Wunna Soe, di Naypyidaw. Penandatanganan turut disaksikan oleh Faried Thalib (Presidium MER-C), Idrus M. Alatas Ketua Divisi Konstruksi MER-C serta Pelaksana Fungsi Sosial Budaya KBRI Yangon, Yasfitha Febriany Murthias. Menurut Ichsan Thalib, RS Indonesia akan berjenis station hospital sesuai standar nasional yang berlaku di Myanmar. Untuk itu, disain yang sudah dibuat oleh Divisi Konstruksi MER-C akan disesuaikan dengan jenis Rumah Sakit yang sudah disepakati. “Detail disain akan dinegosiasikan lagi besok” tambahnya. Lebih lanjut Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia menyampaikan bahwa Pemerintah Myanmar sangat mengapresiasi bantuan rumah sakit dari rakyat Indonesia yang akan dibangun di wilayah Muslim dan Budha. RS Indonesia nantinya akan dioperasionalkan oleh pemerintah Myanmar. Tenaga kesehatan dari Indonesia bisa membantu sebagai relawan di rumah sakit ini. Mengenai teknis pembangunan, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Idrus M. Alatas menjelaskan bahwa sebagai wilayah dengan iklim monsoon, maka perlu dilakukan pengurugan lahan RS Indonesia. Pengurugan akan dibuat setinggi dua meter untuk mengantisipasi banjir. “Dalam kunjungan sepekan ini kita harapkan dapat deal untuk pengerjaan tahap infrastruktur, yaitu pagar dan pengurugan lahan rumah sakit.” Hari Rabu ini tim pembangunan RS Indonesia bersama KBRI dijadwalkan bertolak ke Sittwe, Ibukota Rakhine State untuk bertemu dan berkoordinasi dengan pemerintah dan kontraktor lokal. Dukungan dan donasi untuk program Pembangunan RS Indonesia di Myanmar: Bank Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Diplomasi Kemanusiaan, MER-C berangkatkan Insinyur untuk Bangun RS Indonesia di Myanmar

Jakarta – Hari ini, Senin/15 Mei 2017, MER-C melepas keberangkatan tiga relawan teknis yang akan menindaklanjuti rencana pembangunan sarana kesehatan di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar. Ketiga relawan teknis dari Divisi Konstruksi MER-C tersebut adalah Drs. Ichsan Thalib (Project Manager RS Indonesia di Myanmar), Dr. Ir. Idrus Muhamad Alatas, M.Sc (Ketua Divisi Konstruksi MER-C) dan Ir. Faried Thalib (Presidium MER-C yang memiliki pengalaman sebagai Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina). Tim bertolak ke Myanmar untuk bertemu dan berkoordinasi dengan pemerintah dan pihak-pihak terkait di negara ini. Tim teknis MER-C dijadwalkan akan berada di Myanmar selama 6 hari hingga tanggal 21 Mei 2017. Sejumlah agenda untuk bisa segera merealisasikan program ini seperti pertemuan dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, konsultan dan kontraktor pembangunan telah diagendakan atas bantuan dan fasilitasi Kemenlu RI dan KBRI Yangon. Diharapkan dalam waktu satu minggu tim berada di Myanmar, seluruh agenda misi dapat terlaksana. MER-C tidak sendiri, lembaga PMI (Palang Merah Indonesia) telah berkomitmen bekerjasama mewujudkan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. MER-C juga berharap dukungan dan partisipasi dari seluruh rakyat Indonesia untuk dapat merealisasikan RS Indonesia di wilayah ini seperti halnya yang telah kita lakukan di Gaza, Palestina. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan rakyat Indonesia dalam bidang kesehatan, setelah Pemerintah Indonesia melakukan hal serupa di bidang pendidikan dengan membangun 4 sekolah di Rakhine State. Setelah pembangunan RS Indonesia di wilayah terblokade Jalur Gaza (Palestina), MER-C mulai berfokus pada wilayah konflik di belahan dunia lainnya. Rakhine State, Myanmar menjadi pilihan untuk program kemanusiaan jangka panjang MER-C selanjutnya. Berdasarkan hasil assessment tim medis pertama MER-C ke wilayah ini pada September 2012 lalu ke Rakhine State, MER-C memutuskan untuk melakukan pembangunan sarana kesehatan yang keberadaannya masih sangat dibutuhkan masyarakat setempat. Program ini pun mendapat apresiasi dan dukungan dari Pemerintah kedua negara. Dukungan dan bantuan bagi program Pembangunan “RS INDONESIA” di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui: Bank Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info : www.mer-c.org 0811990176
MER-C Bangun TPA di Wilayah Pasca Gempa Pijay Aceh

Menindaklanjuti misi kemanusiaan sebelumnya ke wilayah pasca gempa Pijay Aceh pada Desember 2016 lalu, kini MER-C kembali mengirimkan tim relawannya. Selain melakukan kegiatan pelayanan kesehatan dan konseling bagi masyarakat korban gempa khususnya anak-anak, tim juga melakukan survey lokasi untuk penyaluran bantuan amanah dari para donatur. Tim dipimpin oleh salah satu Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad dengan beranggotakan 11 relawan yang merupakan gabungan dari MER-C Pusat Jakarta, Aceh, Medan dan Yogyakarta. Untuk memberikan manfaat jangka panjang dan dalam rangka membantu korban gempa Pijay melengkapi fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat setempat, MER-C akan membangun fasilitas Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA), tepatnya di desa Blangusi, kelurahan Blangusi, kecamatan Ulim, kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Wilayah ini dipilih karena merupakan salah satu wilayah terdampak gempa. “TPA akan dibangun di atas tanah wakaf seluas 20 x 10 meter. Kita telah melakukan koordinasi dengan Pemda setempat dan Pemda sangat mendukung program ini. Setibanya di Jakarta, tim kami akan segera membuat rancangan bangunan TPA. Dengan donasi yang ada, kami berharap TPA ini bisa segera terealisasi dalam waktu dekat,” papar Sarbini Abdul Murad saat kunjungannya ke Aceh. Ke depan, Tim MER-C dari Medan juga akan mengadakan program trauma healing di TPA ini. Lebih lanjut menurut Sarbini, bangunan TPA juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sosial atau kegiatan masyarakat lainnya. Selama misi kali ini, Tim MER-C mengadakan bantuan pelayanan kesehatan di empat lokasi di dua kecamatan di kabupaten Pidie Jaya, yaitu kecamatan Ulim dan kecamatan Bandar Baru. Selain pelayanan kesehatan, relawan MER-C juga melalukan konseling, terutama kepada anak-anak korban gempa. Metode yang digunakan adalah konseling sederhana dengan pendekatan personal terhadap pasien dengan melibatkan keluarganya.
Menlu RI Dukung Rencana Pembangunan RS Indonesia di Myanmar

Jakarta – Sebagai tindaklanjut dari rencana program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar, hari ini Selasa/14 Maret 2017, Menteri Luar Negeri RI menerima audiensi perwakilan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia). Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut, Menteri Retno Marsudi, menyatakan dukungannya kepada rencana program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Menteri Luar Negeri juga mengapresiasi dan bersyukur NGO-NGO di Indonesia sejalan dan bekerjasama dengan Pemerintah untuk melakukan pendekatan-pendekatan yang konstruktif khususnya dalam membantu menangani permasalahan konflik etnis di Myanmar. Pada pertemuan ini, Tim MER-C yang dipimpin oleh dr. Sarbini Abdul Murad dan didampingi oleh Drs. Ichsan Thalib (Project Manager RS Indonesia di Myanmar), Ir. Luly Larissa Agiel (Ketua Divisi Penggalangan Dana MER-C) dan Rima Manzanaris (Manajer Operasional) menyampaikan rancangan gambar RS Indonesia di Rakhine State (Myanmar) yang sudah mengalami perbaikan dan pengembangan disain. Disain bangunan RS Indonesia dibuat netral karena diperuntukkan bagi 2 komunitas, baik Muslim maupun Budha yang ada di Myanmar. Untuk dapat segera merealisasikan pembangunan, pada akhir Maret 2017 ini akan ada pengiriman Tim Gabungan ke Myanmar untuk menjajaki teknis pembangunan Rumah Sakit. Tim Gabungan akan membicarakan masalah-masalah detail terkait pembangunan RS kepada pihak-pihak terkait di Myanmar. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa membangun RS Indonesia karena Wapres RI meminta dalam tahun ini RS Indonesia di Myanmar bisa selesai. Menlu juga telah menunjuk Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan/Duta Besar Kemenlu RI, Bapak Salman Alfarisi, sebagai Ketua Penghubung sehingga semua elemen NGO atau ormas Indonesia yang akan membantu Myanmar akan dikoordinir melalui satu pintu,” ujar dr. Sarbini Abdul Murad usai menghadiri pertemuan dengan Menlu RI. “Kita mohon doa dan dukungan dari masyarakat Indonesia agar RS ini sebagai simbol perdamaian, simbol persatuan, simbol harmoni hubungan antar umat beragama di Indonesia bisa segera terwujud. Kita harapkan juga Myanmar bisa mengadopsi pesan-pesan ini,” tambahnya. Dukungan dan bantuan untuk pembangunan RS Indonesia di Myanmar dapat disalurkan melalui : Bank Syariah Mandiri (BSM), 700.130.6833 Bank Central Asia (BCA), 686.028.0009 Atas nama : Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Kirim Tim ke-3 ke Bima

Rabu/28 Desember 2016, sekitar pukul 16.00, MER-C melalui cabangnya di Mataram kembali mengirimkan tim relawan ke Bima. Tim ini adalah tim ke-3 yang dikirimkan ke wilayah bencana banjir bandang Bima sejak banjir menerjang wilayah ini pada hari Rabu/21 Desember 2016. Selain melanjutkan kegiatan pelayanan kesehatan pasca bencana terhadap para korban, tim juga bertugas melakukan assessment terhadap dampak banjir bandang terutama di bidang medis. Tim yang terdiri dari tiga relawan, yaitu dr. AD Irma Ramdani (Ketua MER-C Cabang Mataram), dr. Denuna Enjana dan dr. Muhammad Nauval berangkat dari Mataram menuju Bima melalui jalur darat dengan menggunakan ambulance. Tim membawa bantuan obat-obatan, alat medis, pakaian, dan bantuan logistic lainnya. Bantuan Donasi untuk korban banjir bandang Bima dapat disalurkan ke: BCA, 686.0099.339 An. Medical Emergency Rescue Committee Info lebih lanjut: 0811990176 www.mer-c.org