MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Bantu Korban Banjir Bandang Bima

Bima, 25 Rabiul Awwal 1438/25 Desember 2016 (MINA) –  Menyusul banjir bandang yang melanda Bima  baru-baru ini, lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melalui Cabangnya di Mataram menurunkan Tim Relawan Medis untuk membantu para korban. “Tim pertama berangkat ke lokasi pada Kamis 22 Desember 2016 sekitar pukul 16.00 bersama rombongan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB. Tim terdiri dari tiga relawan, yaitu dr. Muhammad Fadillah, dr. Aten Aswari Putra dan dr. Ivan Aprian Akbar,” demikian keterangan dari MER-C yang diterima MINA Ahad (25/12). Tim tersebut membawa bantuan berupa makanan dan minuman serta obat-obatan.   Dua hari sebelumnya, tim MER-C dari Cabang Mataram diwakili dr. Editia Subihardi berangkat bersama rombongan Ikatan Alumni FK UNRAM (IKA FK UNRAM) sebanyak lima dokter dan anggota Tim Bantuan Medis Bumi Gora sebanyak enam orang. Tim juga membawa bantuan berupa makanan, minuman, pakaian, selimut, terpal dan genset hasil sumbangan dari para donatur ke IKA FK UNRAM dan TBM BG FK UNRAM. Menurut tim di lapangan, saat ini bantuan yang sangat dibutuhkan adalah berupa makanan dan minuman cepat saji atau matang untuk bayi dan dewasa, air bersih, pakaian, kain selimut, dan obat obatan. Tim menyerukan bagi masyarakat yang ingin memberikan bantuan donasi melalui Bank BRI, No Rek 470601011328534, atas nama dr. AD Irma Ramdani. Sedangkan bantuan berupa barang (makanan, minuman, pakaian dan kain selimut) dapat menghubungi nomor tim dr. AD Irma Ramdani (081803614631), dr. Januarman (081805718326), dan dr. Denuna Enjana (089674115662). (L/RE1/R02)   Mi’raj Islamic News Agency (MINA) Sumber : http://mirajnews.com/2016/12/mer-c-turunkan-tim-bantuan-korban-banjir-bandang-bima.html

Dua Mobil Ambulans Sumbangan Rakyat Indonesia Tiba di RSI Gaza

Gaza, 22 Rabi’ul Awal 1438/ 22 Desember 2016 (MINA) – Dua unit mobil ambulans  sumbangan rakyat Indonesia tiba di Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza, Rabu (21/12), setelah dibeli di Uni Emirat Arab dan sempat tertahan di Mesir selama kurang lebih satu tahun. Kedua mobil tersebut masuk ke Jalur Gaza melalui pintu perbatasan darat Rafah yang sempat dibuka oleh otoritas Mesir selama tiga hari sejak 18 – 20 Desember kemarin. Reza Ardilla, relawan Indonesia asal Kalimantan yang saat ini menjadi Koordinator Utama MER-C di Gaza, mengawal langsung proses masuknya mobil-mobil ambulans tersebut.   Kepada wartawan Kantor Berita Islam Miraj di Gaza, Reza menjelaskan, proses pemasukan kedua ambulans ini tidaklah mudah. Selain kondisi blokade atas Gaza yang semakin parah dalam beberapa tahun terakhir, kurang harmonisnya hubungan antara otoritas Mesir dan Pemerintah Palestina di Gaza juga menjadi hambatan utama. Ditemani oleh seorang insinyur lokal RSI, Samir Abu Nada, Reza harus tiga kali pulang pergi ke perbatasan Rafah di Jalur Gaza selatan untuk menyelesaikan berkas-berkas yang dibutuhkan hingga akhirnya berhasil memarkir kedua unit mobil ambulans tersebut di halaman RSI di Jalur Gaza bagian utara. Kedua ambulans yang merupakan bagian dari proyek RSI Gaza itu dibeli dari Uni Emirat Arab, karena tidak tersedia di Gaza, sementara sebagian besar peralatan medis di RSI Gaza didatangkan dari sejumlah negara di Eropa. Rumah Sakit Indonesia di Gaza adalah murni sumbangan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina yang diinisiasi dan diaplikasikan oleh LSM medis  kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia. Bangunan yang menghabiskan dana sekitar 130 miliar rupiah tersebut kini menjadi rumah sakit utama di wilayah Jalur Gaza Utara, Palestina. (L/K02/Reza/P001) Mi’raj Islamic News Agency (MINA) Sumber : http://mirajnews.com/2016/12/dua-mobil-ambulans-indonesia-tiba-rsi-gaza.html  

MER-C Menerima Kunjungan dari Peserta “Indonesia International Leadership Camp”

Senin/12 Desember 2016, kantor Pusat MER-C yang terletak di bilangan Senen, Jakarta Pusat menerima kunjungan dari peserta Indonesia International Leadership Camp (IILC). Indonesia International Leadership Camp (IILC) 2016 adalah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Al Azhar Youth Leader Institute (AYLI). Tahun ini adalah IILC ke-5 dengan tema Building Global Leadership Through Youth Empowerment. Salah satu kegiatan peserta adalah diperkenalkan dengan Organisasi Indonesia secara holistik. MER-C menjadi salah satu tempat bagi peserta untuk mempelajari organisasi di Indonesia.   Bertempat di Aula MER-C Training Center, sebanyak 21 peserta dari 7 negara, yaitu Afrika Selatan, Srilanka, Filipina, Thailand, Australia, Mesir, dan Indonesia mendengarkan pemaparan mengenai MER-C dan kerelawanan dari dr. Arief Rachman (Presidium MER-C). Beberapa relawan MER-C yang pernah melakukan tugas-tugas kemanusiaan ke berbagai wilayah juga turut membagikan pengalamannya dan memberikan motivasi kepada para peserta untuk dapat berbuat sesuatu bagi lingkungan mereka.

Tim MER-C Susuri Wilayah-wilayah Gempa di Aceh

Aceh. Menyusul gempa berkekuatan 6,4 SR, MER-C segera menggerakkan relawannya yang berada di Aceh dan Medan untuk menuju lokasi bencana guna melakukan Early Assessment of Disaster. Rabu pagi, relawan MER-C di Aceh mulai bergerak ke lokasi bencana, disusul oleh ambulans dan tim medis dari MER-C Cabang Medan.   Setelah melakukan koordinasi dan assessment, Kamis/8 Desember 2016, Tim MER-C langsung menuju posko Tampung Blang Cut, Meusa Jurung, Kecamatan Meurah Dua. Posko pengobatan di posko ini menangani pasien korban gempa sebanyak 108 orang, terdiri dari 33 pasien anak-anak dan 75 pasien dewasa dengan mayoritas lansia.     Jum’at/9 Desember 2016 Tim MER-C mencari wilayah gempa lainnya yang masih minim bantuan medis. Tim melakukan pelayanan kesehatan di posko Masjid Besar At-Taqarrub Tarienggading. Jumlah pasien yang mendapatkan pengobatan sebanyak 84 orang, yang terdiri dari 28 orang anak-anak dan 56 orang dewasa.       Di hari yang sama, Tim Medis MER-C melanjutkan pengobatan ke posko Desa Gampong Dee. Sesampainya di posko Gampong Dee, Tim sempat merasakan getaran gempa pada pukul 16:50 waktu setempat. Para pengungsi terlihat masih dalam keadaan trauma. Pasca gempa anak-anak dan ibu-ibu pun langsung menangis. Di posko ini, Tim MER-C juga menemukan pasien trauma pasca bencana, yaitu seorang wanita yang tidak dapat menggerakkan anggota gerak bawah. Pasien selanjutnya dirujuk ke RS Sigli untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Jumlah pasien di posko Gampong Dee sebanyak 78 orang, dengan perincian dewasa 48 orang dan anak-anak 30 orang.     Sabtu/10 Desember 2016, Tim MER-C kembali menyusuri wilayah gempa lainnya di Aceh. Kali ini Tim berupaya mencapai desa Temanah, kecamatan Trienggading yang sama sekali belum mendapatkan bantuan medis disebabkan akses yang sulit dan jarak tempuh yang jauh. Tim MER-C berhasil mencapai desa ini dan membuka posko pengobatan. Pada kegiatan ini MER-C kolaborasi dengan Tim Medis dari TNI-AD, TNI-AL, dan TNI-AU. Jumlah pasien korban gempa yang mendapatkan pelayanan medis sebanyak 128 orang.       Pelayanan medis yang dilakukan Tim MER-C selama di lapangan adalah pengobatan dasar, perawatan luka, ekstraksi kuku, eksisi abses, transportasi pasien trauma, serta pemeriksaan dan konsultasi kehamilan  

MER-C Kirimkan Relawan dari Aceh dan Medan Bantu Korban Gempa Pidie

Aceh, Duka kembali menoreh Aceh. Rabu, 07 Desember 2016 sekitar pukul 5 pagi, gempa berkekuatan 6,4 SR mengguncang tiga kabupaten di wilayah Aceh, yaitu Kab Pidie Jaya, Kab. Pidie dan Kab. Bireun. Relawan MER-C wilayah Aceh, yaitu Ira Hadiati, SH yang juga pernah diamanahi sebagai Project Manager MER-C untuk bencana tsunami Aceh beberapa tahun silam, bersama relawan lokal lainnya langsung menuju lokasi gempa untuk melakukan penilaian awal bencana.   Sore harinya di hari yang sama, MER-C Cabang Medan sebagai cabang yang terdekat dengan lokasi bencana, juga segera mengirimkan relawan medisnya dengan menggunakan ambulans menempuh jalur darat menuju Aceh. Tim yang diketuai oleh dr. Rifwanul Basir Nst ini berencana melakukan mobile clinic untuk menjangkau korban-korban gempa yang mengalami luka ringan agar bisa langsung mendapat penanganan medis sehingga tidak perlu dirujuk ke Rumah Sakit.     Laporan sementara dari Tim MER-C di lapangan, korban meninggal akibat gempa sampai sudah mencapai 96 orang, kasus luka berat sebanyak 125 orang dan kasus luka ringan sebanyak 452 orang. Total pengungsi sebanyak 3.200 orang. Saat ini sudah tersedia 21 posko yang tersebar di 5 kecamatan.     Tim Medis MER-C mendapat wilayah tugas di Kampung Blang Cut, Meusa Jurung, kecamatan Meurah Dua. Pelaksanaan yang dilakukan oleh Tim Medis MER-C adalah pemeriksaan dan pengobatan dasar serta pemeriksaan dan konsultasi kandungan.     Tim medis awal ini diperkirakan akan bertugas hingga satu minggu ke depan atau lebih tergantung kondisi di lapangan. Relawan dari MER-C Pusat dan cabang lainnya baik tim medis umum maupun tim bedah bersiaga dan siap diberangkatkan sewaktu-waktu apabila dibutuhkan berdasarkan hasil penilaian tim yang sudah berada di lapangan.     Bantuan untuk korban bencana gempa bumi Aceh dapat disalurkan melalui : Bank Syariah Mandiri (BSM), 701.565.8937 An. Medical Emergency Rescue Committee   Info : 021-3159235 / 0811990176 www.mer-c.org

MER-C Siagakan 200 Relawan Medis untuk Aksi 212

y;”> /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Jakarta, Animo relawan medis untuk turut mengawal Aksi Bela Islam III bertambah besar. Hal ini terlihat dari jumlah relawan yang mendaftarkan diri untuk menjadi Tim Medis MER-C pada Aksi Super Damai 212 meningkat dua kali lipat lebih. Sebelumnya pada Aksi Bela Islam ke-2, Jumat (4/11) jumlah Tim Medis MER-C sebanyak 70 orang, kali ini jumlahnya mencapai hampir 200 orang. Tim terdiri dari berbagai dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi dan perawat serta relawan pendukung lainnya.   Tidak hanya menyiagakan Tim Medis di lokasi utama aksi, yaitu Monas, MER-C juga menyiagakan Tim Medis di Masjid Istiqlal, salah satu tempat menginap terbesar bagi para peserta aksi yang datang dari luar Jakarta dan di Masjid At-Tin TMII yang menjadi tempat kedatangan peserta aksi yang berjalan kaki dari Ciamis. Posko Kesehatan MER-C di Masjid Istiqlal mulai diaktifkan sejak H-2 atau Rabu sore karena seperti aksi sebelumnya, peserta aksi diperkirakan mulai berdatangan sejak dua harinya sebelumnya. Pada H-1, Kamis/1 Desember 2016, seiring makin banyaknya peserta aksi yang tiba di Istiqlal, MER-C mengaktifkan posko kesehatannya non-stop sejak Kamis hingga Jumat malam. Ratusan peserta aksi dari berbagai daerah yang kelelahan dan sakit datang ke posko kesehatan MER-C untuk mendapatkan pelayanan medis.  Peserta aksi yang berjalan kaki dari Ciamis juga turut menjadi perhatian Tim MER-C. Kamis/1 Desember 2016, MER-C mengirimkan satu tim medisnya untuk mengawal para peserta aksi yang masih dalam perjalanan menuju Jakarta. Tim Medis MER-C akhirnya menuju ke Masjid At-Tin dan membuka posko kesehatan di masjid ini setelah adanya informasi bahwa peserta aksi sudah difasilitasi bus dan telah berdatangan di Masjid At-Tin TMII. Meski hari yang sudah menjelang malam, posko kesehatan tetap diserbu oleh para peserta aksi dari Ciamis untuk mendapatkan pengobatan atas keluhan kesehatan yang mereka alami. Sementara itu, mengantisipasi jumlah peserta aksi dan jumlah tim medis yang lebih besar, maka divisi bantuan dan logistic pada aksi 212 mempersiapkan lebih banyak set obat dan alat medis, yaitu sebanyak 100 paket untuk pelayanan mobile dan penanganan kasus emergency. Selain itu, MER-C juga menyiagakan 4 ambulans dan 2 kendaraan operasional untuk mengawal aksi.

Puluhan Relawan Medis MER-C Kawal Aksi Damai 4/11

Jum’at, 4 November 2016 telah berlangsung aksi damai rakyat terbesar sepanjang sejarah NKRI. MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam menurunkan sekitar 70 relawan untuk mengawal aksi ini disertai dua ambulans dan dua kendaraan operasional.     Sesuai pembagian wilayah kerja dari Panitia Pusat Bidang Medis GNPF-MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa – Majelis Ulama Indonesia), titik lokasi Tim MER-C berada di depan gedung Indosat. Untuk aksi kali ini Tim MER-C dibagi menjadi 4 kelompok besar, ada yang bertugas standby di posko tetap dan ada yang bertugas mobile menyebar menjadi tim-tim kecil lagi untuk memantau kondisi para peserta aksi yang membutuhkan pertolongan medis.       Melengkapi kerja relawan, MER-C juga menyiapkan 10 set emergency kit dan beberapa perlengkapan emergency pendukung lainnya seperti tandu lipat, oksigen dan lain-lain untuk persiapan penanganan medis di lapangan sebelum korban dirujuk ke Rumah Sakit.       dr. Zackya Yahya Setiawan, SpOk selaku Koordinator Lapangan Tim Medis MER-C untuk Aksi Damai 4/11 mengatakan bahwa Tim memutuskan standby hingga malam hari dikarenakan masih ada konsentrasi massa di sekitar Istana. Keputusan ini tepat karena menjelang jam 7 malam mulai terjadi kericuhan dan penembakan gas air mata yang mengakibatkan sejumlah peserta aksi menjadi korban.       Dengan peralatan yang ada, Tim MER-C segera memberikan pertolongan medis kepada para korban yang saat itu dievakuasi ke area gedung RRI (Radio Republik Indonesia). Hari yang sudah mulai gelap membuat Tim MER-C harus bekerja dengan penerangan seadanya. Usai menangani pasien di lokasi aksi ini, Tim MER-C melanjutkan pengawalan peserta aksi yang bergerak ke gedung DPR/MPR RI.                                      

Silahkan bertanya?