MER-C to open Indonesian health center in Myanmar

Jakarta (ANTARA News) – MER-C Indonesia has been helping with the construction of an Indonesian Health Center in the Rakhine state of Myanmar. “The Rakhine state government in Myanmar, has allocated a plot of land located in the Mrauk U region for a health center,” Dr. Joserizal Jurnalis, Chairman of the Team-3 of MER-C for Myanmar, said recently. The Myanmar government is also supporting the plan to set up a health center. The team left for Minbya through Sittwe, on August 28 with the assistance of the Indonesian embassy in Yangon. From Sittwe, they took a speedboat for a three-hour journey to Minbya. In Minbya, the team also visited two schools constructed by the Indonesian government. One school is for Buddhists and another for Muslims. The two-story schools are located at a distance of just 500 meters from each other. In February this year, MER-C Indonesia donated two power generators to support the schools activities. “Students in both the Buddhist and Muslim schools were very happy to meet the team,” Jurnalis said. From Minbya, the team was accompanied by an Indonesian embassy staff member and officers of the Rakhine state administration, who proceeded to Mrauk U in six cars. When they arrived in Mrauk U, they could see that the area was still chaotic in the aftermath of flooding. The 4000 square meter site for an Indonesian Health Center is located between the Site village, which has a Muslim population of 650, and the Nanja village having 1,700 Buddhist inhabitants. MER-C Indonesia has paid Rp17.6 million to the local farmers to compensate the state-owned land. The construction of the health center building is estimated to cost Rp3 billion. For Indonesians interested in extending financial aid for the health centers construction, the Medical Emergency Rescue Committee has opened bank accounts in Bank Central Asia (BCA), with account number 686.028.0009 and in Bank Syariah Mandiri (BSM), with account number 700.1306.833. Earlier, the team had gifted an ambulance to the residents of Rakhine in Sittwe, the states capital. MER-C Indonesia is currently also preparing to inaugurate an Indonesian Hospital in Gaza, Palestine.(*) Source : http://www.antaranews.com/en/news/100318/mer-c-to-open-indonesian-health-center-in-myanmar
MER-C akan Bangun “Indonesia Health Center” di Mrauk U, Myanmar

Usai melakukan serah terima bantuan ambulans untuk masyarakat Rakhine State, dari Sittwe (ibukota Rakhine State), Tim ke-3 MER-C untuk Myanmar atas fasilitasi dari KBRI Yangon bergerak ke Minbya, Jum’at (28/8). Kunjungan ini dilakukan untuk meninjau dan memastikan rencana lokasi pembangunan “Indonesia Health Center” yang telah mendapat respon positif dari pemerintah Myanmar. Bahkan pemerintah Rakhine State, Myanmar telah menyediakan sebidang lahan, tepatnya di wilayah Mrauk U untuk pembangunan sarana kesehatan ini. Selain meninjau lahan untuk “Indonesia Health Center”, Tim MER-C didampingi oleh Staf KBRI Yangon dan Staf Pemerintah Rakhine State juga akan mengunjungi bantuan sekolah yang telah dibangun oleh pemerintah Indonesia di Minbya, dimana sebelumnya pada Februari 2015 dengan donasi dari rakyat Indonesia, MER-C telah menyumbangkan dua unit genset untuk membantu kegiatan belajar mengajar di sekolah ini. Jum’at pagi (28/8), Tim menuju pelabuhan di Sittwe, karena perjalanan ke Minbya harus melalui sungai dan delta sungai menggunakan speedboat selama kurang lebih 3 jam. Tujuan pertama Tim adalah mengunjungi sekolah bantuan dari pemerintah Indonesia. Ada dua unit sekolah yang telah dibangun pemerintah Indonesia di wilayah Minbya. Satu sekolah khusus untuk Budha dan satu sekolah khusus untuk muslim dengan jarak keduanya sekitar 500 meter. Masing-masing bangunan sekolah terdiri dari 2 lantai. Suasana pasca banjir masih terlihat di sana-sini, bahkan sekitar satu minggu lalu bangunan sekolah ini sempat terendam hingga 1 meter akibat bencana banjir yang melanda Myanmar. Anak-anak, baik di sekolah Budha maupun Muslim nampak ceria menyambut kedatangan Tim. Menuju Mrauk U Dari Minbya, Tim bersama Staf KBRI Yangon dan Staf Pemerintahan Rakhine melanjutkan perjalanan menuju Mrauk U yang ditempuh dengan menggunakan enam kendaraan jeep. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam, tim tiba di Mrauk U. Daerah ini pun masih terlihat porak poranda pasca terjangan bencana banjir. Antara desa Muslim bernama Site berpenduduk sekitar 650 jiwa dan desa Budha bernama Nanja berpenduduk sekitar 1.700 jiwa, pemerintah Rakhine State telah menyiapkan sebidang lahan seluas 4.000 meter persegi untuk lokasi pembangunan “Indonesia Health Center”. Lokasi cukup strategis karena dapat diakses dengan dua sarana moda transportasi, yaitu dipinggir jalan raya Yangon – Sittwe dan di bagian belakangnya terdapat sungai besar yang berfungsi sebagai sungai transportasi. Pembebasan Lahan untuk “Indonesia Health Center” Di Rakhine State, seluruh tanahnya adalah milik negera. Untuk itu, setelah mempertimbangkan lokasi lahan yang cukup strategis dan wilayah ini pun adalah wilayah pasca bencana yang masih sangat membutuhkan adanya sarana kesehatan, maka Tim MER-C langsung melakukan proses pembebasan lahan dengan membayar ganti rugi kepada para petani penggarap. Saat itu juga, proses pembayaran kepada 3 orang petani penggarap lahan sebesar 1,6 juta kyat atau sebesar 17,6 juta rupiah langsung dilakukan di kantor Pemerintah Daerah setempat. “Yang mengusulkan lokasi adalah pemerintah Rakhine State,” ujar dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Ketua Tim ke-3 MER-C untuk Myanmar. “Pertimbangannya adalah di Mrauk U ada komunitas Budha dan Muslim yang bisa hidup berdampingan, walaupun ada juga internal displacement,” tambahnya. Lebih lanjut Joserizal menyampaikan bahwa sekolah Indonesia di Minbya juga menjadi sarana berbaur masyarakat Budha dan Muslim. “Kita berharap Indonesia Health Center pun demikian dan akan menjadi bagian dari humanitarian politics MER-C berikutnya untuk masalah konflik di Myanmar,” imbuhnya. Drs. Ichsan Thalib, anggota Tim dari Divisi Konstruksi MER-C memperkirakan dengan luas lahan 4.000 meter persegi, maka perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan fisik “Indonesia Health Center” sekitar 3 Milyar rupiah, belum termasuk peralatan kesehatannya. “Biaya fix akan kami hitung kembali setelah tiba di Jakarta,” ujarnya. Dukungan dan bantuan untuk pembangunan “Indonesia Health Center” dapat disalurkan melalui: Bank Central Asia (BCA), Rek. No. 686.028.0009 Bank Syariah Mandiri (BSM), Rek. No. 700.1306.833 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee
Misi Myanmar : MER-C Serahkan Bantuan Ambulans
Menunaikan amanah donasi dari rakyat Indonesia, Kamis (27/8), MER-C menyerahkan bantuan satu unit ambulans jenis Toyota Hiace Super Long Body kepada Chief Ministy of Health of Rakhine State. Serah terima dilakukan di kantor Chief Minister of Rakhine State yang turut dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Myanmar DR. Ito Sumardi, dan sejumlah pejabat setempat diantaranya Chief Minister of Rakhine State, Ministry of Boarder Security, Ministry of Transportation, dan Ministry of Health. Bantuan ambulans dibeli oleh Tim MER-C pada bulan Februari 2015, ketika menunaikan misi ke-2 ke wilayah ini. Ambulans senilai 44.000 US dollar didatangkan langsung dari Thailand dan baru tiba di Sittwe, Rakhine State sekitar satu minggu yang lalu. Sementara itu, hari Jum’at ini (28/8), setelah mendapat respon positif dari Pemerintah Rakhine State, Tim MER-C didampingi oleh KBRI Yangon akan berangkat ke Minbya Township untuk meninjau rencana lokasi pembangunan “Indonesia Health Center” dan akan mengunjungi bantuan sekolah yang telah dibangun oleh Pemerintan Indonesia. Dukungan dan bantuan untuk pembangunan “Indonesia Health Center” dapat disalurkan melalui: Bank Central Asia (BCA), Rek. No. 686.028.0009 Bank Syariah Mandiri (BSM), Rek. No. 700.1306.833 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Kirim Tim ke-3 ke Myanmar

Jakarta – Sebagai bagian dari komitmen jangka panjangnya, Selasa (25/8), MER-C Indonesia kembali mengirimkan Tim Relawannya ke Rakhine State, Myanmar. Tim yang dikirimkan berjumlah tiga orang relawan, yaitu dr. Joserizal Jurnalis, SpOT selaku Ketua Tim, Drs. Ichsan Thalib dari Divisi Konstruksi MER-C dan dr. Tonggo Meaty Fransisca relawan yang telah mengikuti dua kali misi kemanusiaan ke wilayah ini. Keberangkatan tim ke-3 MER-C ke Rakhine State, Myanmar dimungkinkan setelah adanya izin dari MOFA (Ministry of Foreign Affairs) Myanmar yang pengurusannya difasilitasi oleh KBRI Yangon. Tujuan keberangkatan tim kali ini adalah melakukan serah terima bantuan satu unit ambulans jenis Toyota Hiace Super Long Body donasi dari rakyat Indonesia. Selain itu, Tim juga akan melakukan peninjauan lahan di wilayah Minbya untuk rencana lokasi program pembangunan “Indonesia Health Center”. Dukungan dan bantuan donasi untuk pembangunan “Indonesia Health Center” dapat disalurkan melalui : Bank Central Asia (BCA), Rek. No. 686.028.0009 Bank Syariah Mandiri (BSM), Rek. No. 700.1306.833 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee
Rute Menantang Jurang Menembus Tolikara

Ahad malam, 26 Juli 2015, lembaga medis kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberangkatkan Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua. Tim terdiri dari tiga orang relawan yang diketua oleh Ir. Nur Ikhwan Abadi, relawan yang pernah memimpin dan terlibat aktif dalam proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Pengiriman tim ini adalah langkah awal dari program “Satu untuk Papua” yang dicanangkan oleh MER-C, pasca insiden kerusuhan yang terjadi di Tolikara, Papua. Dengan pengalaman membangun sarana kesehatan di Aceh, Yogyakarta, Galela (Maluku Utara), dan Jalur Gaza, serta membangun sarana pendidikan di Padang Pariaman (Sumatera Barat), maka melalui program “Satu untuk Papua”, MER-C menetapkan program rehabilitasi jangka panjang untuk wilayah ini. “Apa yang akan kita bangun di Tolikara menunggu hasil assessment Tim ini,” ujar dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C saat mengantar Tim di Bandara Soekarno Hatta Ahad malam (26/7). Kiprah MER-C di Papua sendiri sudah dimulai sejak Februari 2006 melalui Program Klinik Sosial di Timika dan Sorong. Perjalanan menantang jurang Nur Ikhwan memaparkan kisah perjalanannya pada Senin 27 Juli 2015 untuk mencapai Tolikara, sebagaimana yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA) sebagai berikut: Pukul 12.20 WIT, kami bergerak dari Wamena menuju Tolikara menggunakan mobil Mitsubishi Strada. Alhamdulillah, meskipun hari sudah siang, kami masih bisa mendapat tempat duduk di dalam (bukan di bak belakang mobil), berkat bantuan Sertu Prayogi, teman Pak Abdullah (relawan MER-C yang turut dalam Tim) di Wamena. Sertu Prayogi mengantar hanya sebatas di Wamena saja. Satu mobil mengangkut 16 orang, yaitu dua di depan, empat di tengah (termasuk kami), dan sepuluh di luar. Ongkos pun berbeda, untuk di dalam harganya Rp 250.000 per penumpang dan untuk di luar harganya Rp 150.000 per penumpang. Sebelum berangkat, sopir mencari solar terlebih dahulu untuk cadangan bahan bakar. Harga solar per liter Rp 22.000, sedangkan bensin Rp 20.000 per liter. Setelah bahan bakar penuh, kami mulai berangkat keluar dari Wamena, namun sebelumnya penumpang dihentikan di sebuah rumah makan membeli perbekalan untuk selama perjalanan. Adapun Tim tidak membeli perbekalan, karena seorang sedang shaum (puasa) dan bekal dari Jakarta masih ada. Kemudian kendaraan berpenumpang 16 orang ini mulai bergerak menyusuri jalan pegunungan yang track-nya menantang. Jalan berkelok dan menanjak, ditambah lagi tidak sepenuhnya mulus atau banyak berlubang. Di kanan dan kiri adalah jurang, jika selip sedikit saja, jurang di kanan dan kiri siap menyambut. Diperkirakan, jika perjalanan lancar, akan memakan waktu 4-5 jam. Terjebak di tengah hutan tanpa sinyal Setelah tiga jam perjalanan, mobil yang kami tumpangi mengalami masalah. Awalnya sopir menduga solar yang dipakai dicampur air oleh penjualnya, sehingga kendaraan tidak ada tenaga untuk menanjak. Namun setelah beberapa kali dicoba, ternyata kampas kopling Mitsubishi Strada ini rusak, sehingga kendaraan tidak bisa bergerak, meskipun sudah coba diperbaiki. Kendaraan dihentikan di tengah hutan pegunungan, kami mulai waspada, terlebih tidak adanya sinyal sedikit pun ditengah hutan seperti itu. Khawatir dengan situasi ini, kami terus tingkatkan kewaspadaan, mengingat ada peringatan dari Sertu Prayogi bahwa sering terjadi para penumpang dibawa ke tengah hutan oleh orang-orang OPM (Organisasi Papua Merdeka). Kendaraan terpaksa balik arah untuk mencari tempat yang ada sinyalnya. Namun sebelum mendapat sinyal, kendaraan sudah tidak dapat bergerak dan berhenti total. Sopir pun meminta semua penumpang turun dan dia akan berjalan kaki menuju ke sebuah tempat untuk menghubungi rekannya agar mengirim kendaraan cadangan. Tidak lama kemudian, sebuah mobil Toyota Hilux Double Cabin dengan bak belakang kosong melintas. Sopir Mitsubishi Strada langsung hentikan kendaraan tersebut dan meminta agar memberikan tumpangan kepada kami untuk ke Tolikara yang jaraknya masih tiga jam lagi. Setelah negosiasi, akhirnya kami dizinkan naik Toyota Hilux tadi, tapi di bak belakang karena di dalam sudah penuh. Sopir Strada memberi uang Rp 400.000 kepada sopir Hilux sebagai kompensasi untuk empat orang yang ikut di mobilnya. Kemudian ketika akan berangkat, empat orang penumpang Strada ikut juga naik ke kendaraan bersama kami. Dengan sopir orang lokal, kami pun mulai bergerak lagi, track yang kami lalui ternyata jauh lebih menantang dari sebelumnya. Jalan yang kami lalui sebelumnya ternyata belum apa-apa dari jalan yang kami lalui setelahnya. Mobil terus lanjutkan perjalanan yang terus menanjak, mobil berkali-kali berhenti untuk ambil ancang-ancang ketika akan menanjak. Jalan menanjak, berkelok, bebatuan campur tanah, jika hujan licin dan rawan longsor, kemiringan 45 derajat bahkan lebih. Ketika mobil akan menanjak ke puncak, si sopir berhenti dan meminta empat orang yang tadi naik tanpa persetujuan pemilik kendaraan untuk turun. Alasannya karena daerah tanjakan membuat mobil tidak kuat, dan juga karena mereka tidak bayar seperti kami berempat. Alhamdulillah, dengan izin Allah, kami akhirnya tiba di Tolikara. Setelah melapor ke Koramil setempat, kami diarahkan untuk menginap di penginapan di belakang kantor Koramil, dekat pasar dan masjid yang dibakar. Keesokannya kami di minta melapor ke posko kemanusiaan yang dipusatkan di kantor bupati lama. (L/P001/P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/artikel/feature/rute-menantang-jurang-menembus-tolikara/
MER-C Kirim Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua

Minggu malam (26/7), MER-C memberangkatkan Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua. Tim terdiri dari tiga orang relawan yang diketuai oleh Ir. Nur ikhwan Abadi, relawan yang pernah memimpin dan terlibat aktif dalam proses pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Pengiriman tim ini adalah langkah awal dari program “Satu untuk Papua” yang dicanangkan oleh MER-C, pasca insiden yang terjadi di Tolikara, Papua. Dengan pengalaman membangun sarana kesehatan di Aceh, Yogyakarta, Galela (Maluku Utara) dan Jalur Gaza, Palestina serta membangun sarana pendidikan di Padang Pariaman (Sumatera Barat), maka melalui program “Satu untuk Papua”, MER-C pun menetapkan program rehabilitasi jangka panjang untuk wilayah ini. Pengiriman tim relawan ke Tolikara yang merupakan Tim Advance bertujuan untuk melakukan initial assessment dan evaluasi kebutuhan sarana yang diperlukan warga setempat. “Apa yang akan kita bangun di Tolikara menunggu hasil assessment Tim ini,” ujar dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C saat mengantar Tim di Bandara Soekarno Hatta Minggu malam (26/7). Turut melepas keberangkatan Tim adalah dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib, anggota Presidium MER-C. Kiprah MER-C di Papua sendiri sudah dimulai sejak 9 tahun silam, tepatnya Februari 2006 melalui program Klinik Sosial yang berada di Timika (Papua) dan Sorong (Papua Barat). Program Klinik Sosial di Timika dan Sorong masih terus berjalan hingga saat ini melalui pelayanan kesehatan di klinik dan pelayanan secara mobile clinic untuk menjangkau desa-desa dan wilayah-wilayah yang jauh dari lokasi klinik. Dukungan dan Donasi program “Satu untuk Papua” dapat disalurkan melalui: BCA, 686.06666.08 BNI Syariah, 08.111.92962 An. Medical Emergency Rescue Committee
Ramadhan 2015, MER-C Bagikan 1.000 Paket Sembako dan 500 Paket Ifthar di Gaza

Di bulan suci Ramadhan tahun ini, MER-C Indonesia kembali menyalurkan bantuan dari para donator di Indonesia yang masuk melalui rekening amanah khusus kemanusiaan Gaza. Bantuan yang diberikan berupa 1.000 paket sembako ditambah 500 paket ifthar (buka puasa) yang ditujukan bagi para anak yatim di Gaza. Kegiatan ini dilakukan langsung oleh 4 relawan MER-C Indonesia yang masih melanjutkan tugas di Jalur Gaza, Palestina mempersiapkan Grand Opening RS Indonesia. Menurut dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C, “Kegiatan ini dilakukan selain dalam rangka menyalurkan amanah donasi dari para donator, juga membantu rakyat Gaza yang mengalami kondisi terblokade darat, laut dan udara yang menjadi lebih sulit pasca perang 51 hari lalu. Dengan adanya bantuan ini, kami berharap bisa sedikit meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita di sana, sebagaimana amanah yang kami terima.” Koordinator program Ramadhan 2015 yang juga Site Manager RS Indonesia, Ir. Edy Wahyudi mengatakan bahwa pembagian 1.000 sembako mulai dilakukan secara bertahap sejak hari Selasa lalu. “Pada tanggal 7 bulan 7 pukul 7 waktu setempat, persiapan kami lakukan untuk memulai pembagian paket sembako. Tim relawan yang masih tersisa sebanyak 4 orang dibagi menjadi 2 tim yang menyalurkan bantuan sembako kepada warga yang berhak menerimanya di berbagai wilayah di Jalur Gaza. Paket sembako yang berisi beras 5 kg, daging kornet 4 kaleng, gula pasir 3 kg, saos tomat 2 kaleng besar, broad beans/kacang kara oncet 3 kaleng, kacang fudi (fuul) 1 kaleng, macaroni besar 2 bungkus, macaroni golda 1 bungkus, macaroni filiz 1 bungkus, kacang adas 1 bungkus, kacang humus 1 bungkus, kacang fasuliah 1 bungkus, teh celup 1 kotak besar, dan mentega (samnah) 1 kaleng diangkut dengan menggunakan 3 kendaraan operasional truk terbuka, mobil box dan mobil operasional RS Indonesia. “Alhamdulillah seluruh paket telah selesai tersalurkan ke berbagai tempat yang berhak menerimanya, kepada para anak-anak yatim dan fakir miskin baik di Gaza bagian Utara hingga ke wilayah Gaza bagian Selatan,” jelas Ir. Edy Wahyudi yang sudah tiga kali bertugas di Jalur Gaza untuk memimpin program pembangunan RS Indonesia. 500 Anak Yatim dan Janda Para Syuhada Berbuka Puasa Bersama di RS Indonesia Sementara itu paket bantuan ifthar (buka puasa) dilakukan dengan mengundang 500 anak yatim untuk berbuka puasa bersama di RS Indonesia, Kamis (9/7). Relawan Indonesia yang mempersiapkan 4 bus besar untuk membawa seluruh para anak yatim dari berbagai wilayah di Jalur Gaza ke lokasi RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. “Kami mempersiapkan 600 kursi yang disusun di depan RS Indonesia dan Alhamdulillah hampir semuanya terisi penuh oleh anak-anak yatim yang didampingi oleh ibunda atau keluarga mereka,” tutur Ir. Edy Wahyudi. Sekitar 30 menit sebelum adzan maghrib, atau sekitar jam 19.30 waktu setempat, para anak yatim sudah berkumpul di RS Indonesia. Sejumlah menu berbuka puasa terbaik yang ada di Gaza telah disiapkan oleh para relawan untuk menyambut mereka. “Kami menyiapkan kurma-kurma dengan kualitas terbaik (kurma Ajwa), sebotol minuman dalam kondisi dingin, satu nampan makanan Dajaj untuk 2 – 3 orang/nampan (makanan khas Arab dengan nasi bercampur bumbu khas dan satu ekor ayam/nampan), sebotol juz buah kualitas terbaik, Laban (sejenis susu yang sudah difermentasi dalam keadaan dingin) dan ditutup dengan Halawiyat (kue kacang dengan berbalut bahan serabut gandum),” ungkap Ir. Edy. Tidak hanya itu, sebelum pulang anak-anak juga diberikan satu paket oleh-oleh berisi berbagai macam snack, permen, cokelat dan makanan lainnya yang disukai anak-anak Gaza yang dikemas dalam plastik bergambar RS Indonesia. Hari itu RS Indonesia benar-benar semarak dan dipenuhi oleh keceriaan anak-anak Gaza. Terima kasih kepada para donator yang telah menyisihkan rizkinya sehingga kegiatan-kegiatan seperti ini bisa berlangsung. MER-C melalui relawan-relawannya yang bertugas di Jalur Gaza, siap menyalurkan amanah donasi dari para donator untuk berbagai program kemanusiaan di Jalur Gaza. Rekening Kemanusiaan Gaza, Palestina : BCA, 686.033.5555 Bank Mandiri, 124.000.3753754 BSM, 700.290.5803 Semua rekening atas nama: Medical Emergency Rescue Committee
Selamat Datang Kembali di Tanah Air Para Mujahid Kami, Relawan RS Indonesia dari Jalur Gaza, Palestina

Rumah Sakit Indonesia adalah sebuah Karya Anak Bangsa. Selain dana pembangunan yang murni berasal dari rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, yang sebagian besar adalah kalangan menengah ke bawah, Rumah Sakit ini juga dirancang, didisain, diawasi dan dikerjakan pembangunannya oleh putra-putra bangsa Indonesia. Mereka, para relawan (unpaid volunteers), rela meninggalkan keluarga tercinta, pekerjaan di tanah air, mendedikasikan waktu dan keahlian dalam rangka melakukan Jihad Profesional menunaikan amanah rakyat Indonesia dalam program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Dimulai pada 14 Mei 2011, pembangunan fisik Rumah Sakit Indonesia saat ini telah selesai dan proses pengadaan Alat Kesehatan untuk seluruh ruangan di rumah sakit ini sebagai Rumah Sakit Traumatologi dan Rehabilitasi juga telah mencapai tahap akhir. Kamis/25 Juni 2015, pukul 14.40 sebanyak 14 orang relawan yang telah bertugas selama minimal 1 (satu) tahun di Gaza, Palestina, mendarat di Bandara Soekarno Hatta setelah menempuh belasan jam penerbangan dengan menggunakan maskapai Etihad Airways. Beberapa hari sebelumnya, pada hari Kamis/18 Juni 2015, satu relawan bersama istri tercinta seorang gadis asal Gaza telah tiba lebih dulu di Jakarta, sehingga total relawan RS Indonesia yang telah kembali ke tanah air sampai saat ini berjumlah 15 orang relawan. Sebanyak 4 (empat) orang relawan masih diberikan amanah untuk melanjutkan tugas di Jalur Gaza, Palestina guna mempersiapkan segala sesuatunya untuk “Grand Opening RS Indonesia” dan menunggu relawan pengganti dari Indonesia yang akan datang untuk bertugas selanjutnya di Jalur Gaza, Palestina. Kelima belas relawan yang telah kembali ke tanah air adalah sbb : No Nama Masa Tugas Asal 1 Abdul Aziz Hisyam 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Jambi 2 Abdul Hadi Bujang 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Kalimantan Barat 3 Moqorrobin Alfikri 15 Februari 2013 – 25 Juni 2015 Cileungsi, Jawa Barat 4 Hidayatullah Hissam Damiri 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Jambi 5 Luthfi Paimin Mualim 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Kalimantan Barat 6 Nasrullah Saukani Johdi 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Kalimantan Barat 7 Ngatiyat Wiryadiharjo Wongso 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Jogjakarta 8 Ir. Nur Ikhwan Abadi 17 Februari 2014 – 25 Juni 2015 Lampung 9 Osamah Dakam Mansur 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Kalimantan Barat 10 Muhamad Gulam Romdony 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Tj Priok, Jakarta 11 Suryadi Sarto Soirejo 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Wonogiri, Jawa Tengah 12 Tata Lukita Sudrajat 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Bandung, Jawa Barat 13 Teguh Bin Samino Rejo 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Wonogiri, Jawa Tengah 14 Najmudin Kubro Maschun 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Cilacap, Jawa Tengah 15 Muhammad Husein 2 Desember 2010 – 18 Juni 2015 Cileungsi, Jawa Barat Empat relawan yang masih bertugas di Jalur Gaza, Palestina adalah sbb : No Nama Masa Tugas Asal 1 Ir. Edy Wahyudi 15 Februari 2013 – sekarang Cileungsi, Jawa Barat 2 Karidi bin Martono Parjo 28 Juni 2014 – sekarang Wonogiri, Jawa Tengah 3 Miyanto Modo Sodimejo 28 Juni 2014 – sekarang Wonogiri, Jawa Tengah 4 Reza Aldilla Kurniawan 15 Februari 2013 – sekarang Kalimantan Barat Para relawan dimungkinkan keluar dari Gaza setelah adanya perpanjangan pembukaan Perbatasan Rafah pada hari Selasa, Rabu, Kamis (23 – 25 Juni 2015) ini. Padahal selama satu tahun belakangan, ini blockade adalah yang paling sulit karena Perbatasan Rafah hanya dibuka 3 – 4 kali. Kesempatan pembukaan Perbatasan Rafah pada Minggu ini segera dimanfaatkan relawan untuk mencoba keluar dari Gaza setelah mendapat persetujuan dari MER-C Pusat Jakarta dan tugas-tugas yang diamanahkan juga telah rampung, yaitu selesainya pembangunan Wisma Rakyat Indonesia (Indonesia Guest House), selesainya perbaikan masjid yang berada di Kompleks RSI dan hampir selesainya proses pengadaan Alat Kesehatan RSI. Setelah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Palestina dan Kedutaan Besar RI di Kairo, Selasa/23 Juni 2015, 14 relawan menuju Perbatasan Rafah Gaza untuk mencoba keluar dari Gaza. Pagi itu, para relawan bersiap-siap dan berpamitan kepada relawan Indonesia yang masih harus menetap di Gaza, relawan lokal dan rakyat Gaza yang tinggal di sekitar RSI. Suasana haru meliputi pagi hari itu. Menunggu proses di Imigrasi Rafah Gaza dan Imigrasi Rafah Mesir selama beberapa jam, akhirnya sekitar pukul 2 siang waktu Gaza, 14 relawan berhasil keluar dari Gaza untuk pulang ke tanah air bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga tercinta. Jakarta, 25 Juni 2015 Medical Emergency Rescue Committee
Menuju Momentum Bersejarah Grand Opening RS Indonesia di Gaza, Palestina

Senin, 15 Juni 2015 menjadi salah satu hari yang bersejarah dari rangkaian panjang program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Pada hari itulah MER-C melalui relawannya di Jalur Gaza telah melakukan Soft Opening RS Indonesia yang pembangunan fisiknya telah selesai dan proses pengadaan alat kesehatannya telah mencapai tahap akhir. Salah satu proses penting dalam acara ini adalah penandatanganan MOU serah terima RS Indonesia. MER-C selaku inisiator pembangunan RS Indonesia, menyerahkan bangunan fisik RS Indonesia berikut seluruh alat kesehatan yang ada di dalamnya kepada rakyat Palestina. Penandatanganan MOU dilakukan oleh Ir. Nur Ikhwan Abadi, salah satu relawan MER-C di Gaza selaku wakil dari rakyat Indonesia dan Dr.Ashraf Abu Mahadi selaku Dirjen Hubungan Luar Negeri Kementerian Kesehatan, mewakili rakyat Palestina. Bendera kedua Negara tampak menghiasi area rumah sakit Indonesia sebagai tanda ikatan dan silaturahmi yang semakin erat dari kedua bangsa. Prosesi sederhana serah terima itu dihadiri oleh seluruh relawan Indonesia yang berjumlah 19 orang, para Pejabat dan rakyat Gaza. RS Indonesia akhirnya diputuskan untuk diserah terimakan dengan tujuan agar Kementerian Kesehatan Palestina bisa segera melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan agar RS Indonesia bisa segera beroperasional, diantaranya mempersiapkan SDM lokal yang akan bertugas, mempersiapkan manajemen RS dan mengadakan pelatihan-pelatihan yang diperlukan bagi para SDM yang akan mengoperasikan alat-alat medis tertentu. Sebagai tahapan selanjutnya dan sebagai acara puncak dari rangkaian ini, MER-C akan melakukan Grand Opening RS Indonesia, yaitu peresmian dan pembukaan RS Indonesia yang rencananya akan dihadiri oleh delegasi dari Indonesia. Sejumlah pejabat Indonesia, bahkan Presiden RI, Ketua DPR RI serta donatur RS Indonesia telah menyatakan kesediaannya untuk hadir pada acara ini. Kami berharap Grand Opening RS Indonesia bisa terlaksana dalam waktu dekat dan saat itu RS Indonesia telah dapat beroperasionalisasi memberikan pelayanan kesehatan kepada rakyat Gaza yang membutuhkan. Presiden RI Akan Meresmikan RS Indonesia di Gaza Berbagai persiapan menuju momentum bersejarah Grand Opening RS Indonesia tengah dilakukan, diantaranya audiensi dengan sejumlah pejabat pemerintahan telah dilakukan untuk melaporkan perkembangan Program Pembangunan RS Indonesia dan rencana Grand Opening RS Indonesia. Program ini mendapat apresiasi mendalam salah satunya dari Presiden RI. Tim MER-C berkesempatan bertemu dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Istana Negara, Rabu/17 Juni 2015 lalu. Mendengar pemaparan tentang RS Indonesia, Presiden Joko Widodo menyatakan keinginannya untuk memenuhi undangan MER-C ke Gaza untuk meresmikan RS Indonesia. Keinginan ini bahkan sampai tiga dinyatakannya dan langsung meminta kepada Mensesneg RI (Prof. Dr. Pratikno), Wakil Menteri Luar Negeri (AM Fachir) dan Tim Komunikasi Presiden (Teten Masduki) yang mendampinginya menerima audiensi Tim MER-C, untuk dapat menyusun kunjungannya ke Gaza, Palestina. Mensesneg RI, Prof. Dr. Pratikno saat di wawancarai usai menerima audiensi Tim MER-C menyampaikan bahwa Presiden sangat tertarik dengan pembangunan RS Indonesia di Gaza, yang merupakan RS terbesar di Gaza yang dibangun oleh masyarakat Indonesia, tanpa dana pemerintah, tanpa dana dari masyarakat negara lain. Menurutnya, Presiden akan melakukan kunjungan ke Timur Tengah. Dalam konteks semacam ini, teman-teman dari MER-C juga mempunyai program yang sangat menarik, yaitu pembangunan RS Indonesia di Gaza yang didanai oleh masyarakat Indonesia sepenuhnya dan merupakan RS terbesar di Gaza. RS Indonesia di Gaza akan menjadi titik tambahan dari rencana kunjungan Presiden ke Timur Tengah yang sampai saat ini belum terjadwal, karena perlu komunikasi dengan negara-negara di Timur Tengah yang sedang dijajaki oleh Kemenlu RI. Menurut Pratikno, bagi Presiden yang menarik adalah ini kontribusi dari masyarakat Indonesia, recehan yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia tanpa dana dari pemerintah, tanpa dana dari masyarakat negara lain. Selain Presiden RI, Ketua DPR RI, Setya Novanto juga mengapresiasi pendirian Rumah Sakit Indonesia. Hal ini disampaikan saat menerima audiensi Tim MER-C pada hari Senin/20 April 2015 di Gedung DPR RI. Ketua DPR RI yang dturut didampingi oleh Wakil Ketua DPR RI, Fachri Hamzah dan Staf Ahli Ketua DPR Nurul Arifin, menyambut baik rencana Peresmian dan Grand Opening RS Indonesia dan berniat hadir pada acara ini. Bahkan, Fachri Hamzah mengusulkan kepada Ketua DPR agar pemerintah memberikan anggaran untuk mendukung operasionalisasi RS Indonesia ke depan melalui perencanaan APBN. Di kesempatkan lain, Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, saat ditemui oleh Tim MER-C untuk memberikan undangan peresmian Grand Opening RS Indonesia, Rabu/10 Juni 2015 menyampaikan harapannya bahwa RS Indonesia yang merupakan pemberian dari masyarakat Indonesia untuk masyarakat Palestina agar bisa menjadi pemersatu faksi-faksi yang ada di Palestina. Menteri Luar Negeri RI juga berpesan agar pemberian bantuan bagi rakyat Palestina jangan hanya kepada salah satu golongan/kelompok. Ir. Idrus M Alatas, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, khususnya untuk Pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza memaparkan bahwa selama ini MER-C dan relawannya di Jalur Gaza berusaha menjalin komunikasi dengan semua faksi-faksi yang ada di Palestina, begitupun dengan penyaluran bantuan kemanusiaan yang ditujukan bagi semua kelompok yang membutuhkan, tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Menanggapi undangan untuk menghadiri Grand Opening RS Indonesia, Menteri Luar Negeri mengatakan bahwa pihaknya belum bisa mengkonfirmasi hal tersebut sebelum adanya kepastian untuk memasuki wilayah Gaza yang diblokade. Sementara itu, sejumlah donator RS Indonesia yang juga akan turut hadir pada acara Peresmian dan Grand Opening RS Indonesia adalah Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf dan Aburizal Bakrie. RS Indonesia Dilengkapi Berbagai Alat Medis Canggih dan Modern Dengan donasi dan kedermawanan yang luar biasa dari rakyat Indonesia khususnya menengah ke bawah, target Rp 40 Milyar melalui kampanye Rp 20ribu per orang untuk pembangunan fisik RS Indonesia serta target Rp 65 Milyar melalui kampanye Rp 50ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina telah tercapai. Bahkan target dana Alat Kesehatan Rp 65 Milyar tercapai hanya dalam jangka waktu tidak lebih dari 2 bulan pada bulan Juni – Juli 2014 lalu. Tim pengadaan alat kesehatan RS Indonesia yang diketuai oleh Ahyahudin Sodri, MSc, VDI salah seorang relawan dengan keahlian dalam bidang medical technologist, bersama Timnya, menyusun daftar alat-alat kesehatan yang modern dan canggih dalam rangka menyalurkan amanah rakyat Indonesia dan memberikan yang terbaik bagi rakyat Palestina. Sebagai RS Traumatologi dan Rehabilitasi, RS Indonesia memiliki 4 ruang operasi yang fully equipped dengan meja operasi dan lampu operasi berteknologi LED
MER-C Adakan Lomba Gambar RS Indonesia dan Tahfidz Qur’an di Gaza

Seiring telah selesainya pembangunan RS Indonesia dan akan rampungnya proses pengadaan alat kesehatan RS Indonesia yang sudah mencapai hampir 90%, MER-C akan segera melakukan serah terima RS Indonesia kepada rakyat Gaza, Palestina. Segala persiapan menuju momentum bersejarah ini tengah dilakukan. Mengawali rangkaian acara menuju serah terima RS Indonesia, MER-C melalui cabangnya di Jalur Gaza, Palestina akan mengadakan lomba-lomba yang diperuntukkan bagi anak-anak di Jalur Gaza. Ada dua lomba yang akan dipertandingkan, yaitu lomba menggambar bangunan RS Indonesia dan lomba tahfidz Al Qur’an yang terbuka bagi anak-anak mulai tingkat pendidikan SD hingga SMU. Pengumuman lomba telah diiklankan di harian berbahasa Arab di Gaza, yaitu koran Palestina, yang terbit pada hari Minggu (7/6) lalu. Sejak adanya pengumuman tersebut, anak-anak di Jalur Gaza mulai berdatangan ke lokasi Rumah Sakit Indonesia untuk mendaftarkan diri mereka menjadi peserta. Rangkaian lomba dijadwalkan akan diselenggarakan pada tanggal 13 dan 14 Juni 2015 mendatang, bertempat di Rumah Sakit Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Lomba terdiri dari menggambar bangunan RS Indonesia untuk anak-anak di bawah usia 15 tahun serta tahfidz Al Qur’an juz 30 untuk anak-anak usia di bawah delapan tahun. Rencananya acara akan dibuka oleh Syaikh Dr. Abdurrahman Al-Jamal, Pimpinan Ma’had Tahfidz Darul Qur’an Karim Wa Sunnah Gaza. “Kelak anak-anak usia SD hingga SMU yang menjadi target peserta dari lomba ini akan mengingat event bersejarah ini, sehingga nama Indonesia akan tersimpan dalam ingatan dan hati mereka,” ujar Muqarrabin Al Fikri, Ketua MER-C Cabang Gaza.