Kisah Relawan MER-C di Jalur Gaza (2)

Karidi dan sejumlah relawan bersama PM Ismail Haniyah REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Peristiwa paling mengharukan, tentunya adalah tatkala kami berpamitan untuk kembali ke Indonesia karena tugas sudah selesai, untuk diteruskan oleh relawan lainnya.“Saya lihat mata mereka berkaca-kaca, dan saya lihat itu air mata kesedihan, haru, kecintaan dan persaudaraan”. Itulah, tanggal 15 Februari 2014, setelah 17 bulan atau hampir 1,5 tahun saya membantu membangun RS Indonesia, sungguh perjalanan fisik dan spiritual yang luar biasa, tak ternilai dengan harta apapun jua. Saya sangat berterima kasih kepada saudara-saudaraku di Jalur Gaza, yang banyak mengajarkan saya arti penting ketegaran jiwa, keberanian dalam kebenaran, keshabaran dalam perjuangan dan persaudaraan dalam ketertindasan. Kepada masyarakat Indonesia yang telah berdonasi untuk pembangunan rumah sakit tersebut, saya juga ucapkan terima kasih “Jazakumullahu khaira”, Semoga Allah pun membalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Tetapi, masih ada yanga mengganjal, yaitu bahwa bangunan tipe RS Traumatologi dan Rehabilitasi, dua lantai dan lantai basement, dengan kapasitas 100 tempat tidur itu memang sudah selesai. Terkesan kokoh, tegar, megah, dan berwibawa. Bendera Palestina hitam-putih-hijau-merah, bersanding dengan bendera mera-putih Indonesia, berkibar menyongsong kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha oleh putera-putera terbaik dari Indonesia. Adapun yang mengganjal adalah, bangunannya sudah berdiri, tetapi isinya belum ada, yaitu berupa alat kesehatan (alkes). Menurut penghitungan MER-C, masih memerlukan dana sekitar 65 miliar rupiah. Dana tersebut untuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), Intensive Care Unit (ICU), Instalasi Radiologi, Laboratorium, dan lainnya. RS Indonesia di Gaza, adalah sebuah karya anak bangsa, bukti silaturahim Indonesia-Palestina. Untuk itu, bagi saudara-saudaraku dari seluruh kalangan, dari seluruh penjuru negeri Indonesia, masih terbuka pintu amal untuk pengadaan alat kesehatan RS Indonesia. “Ya Allah berilah kekuatan, kesabaran, keberkahan, keselamatan dan kemenangan untuk para pejuang di jalan-Mu, untuk para relawan pembangun rumah sakit guna mengobati hamba-hamba-Mu, untuk para donatur yang rela merogoh hartanya untuk amal mulia ini.” Aamiin. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/alamsemesta/14/05/16/n5nsuh-kisah-relawan-merc-di-jalur-gaza-2
Penyuluhan Kesehatan Reproduksi dan Pergaulan Remaja SMA NEGERI 2 HALUT

Galela – Berawal dari keperihatinan melihat tingginya kasus kehamilan diluar pernikahan akibat dari hubungan seks bebas diusia dini di wilayah Halmahera Utara, BNI dan MER-C berinisiatif untuk melakukan penyuluhan mengenai Kesehatan Reproduksi dan Pergaulan Remaja sebagai upaya promotif dan preventif kasus ini. Kegiatan yang dilakukan tanggal 16 Mei 2014 ini digelar di sekolah yang letaknya sangat dekat dari lingkungan klinik BNI MER-C yaitu SMA Negeri 2 Halmahera utara. Dibantu para guru SMA NEGERI 2 HALUT, BNI MER-C mendapat kesempatan untuk dapat melakukan penyuluhan di SMA tersebut. Kegiatan ini juga dilakukan dengan bekerja sama dengan Puskesmas Soasia. Tim MER-C sendiri terdiri dari drg.Herlina (Dokter Gigi PTT Puskesmas Soasio dan dari BNI MER-C) dan dr. Siti Lirih Chumairoh. Peserta yang hadir merupakan siswa-siswi kelas X dan XI SMA Negeri 2 HALUT. Presentasi yang diberikan berisi materi seputar pengetahuan yang dibutuhkan bagi remaja, seperti penjelasan mengenai pubertas dan reproduksi, serta dampak dari seks pra-nikah.
Kisah Karidi dan Relawan di Jalur Gaza (1)

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Tidak terpikir sebelumnya, menjadi relawan di medan perang, Jalur Gaza, yang selama bertahun-tahun dalam blokade Zionis Israel. Blokade darat, laut dan udara. Jangankan untuk membangun klinik atau posko kesehatan, untuk mendatangkan keperluan pokok harian saja, mesti harus melalui terowongan — yang semakin banyak ditutup oleh Mesir. Jalur lain melalui perbatasan Rafah, yang juga buka-tutup tidak menentu oleh pihak keamanan Mesir. Karidi memasang instalasi listrik di Gaza Begitulah, tanpa terasa, saya pun diberangkatkan pada 21 Oktober 2012, sebagai relawan (unpaid volunteers), oleh MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), sebuah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis . Kemampuan saya dipilih di bidang Mecanical Electric (ME), dengan izin Allah mengantarkan saya berziarah ke bumi para Nabi, Jalur Gaza. Walaupun, terus terang nol besar dalam komunikasi bahasa Arab. Ya, memang dari lingkungan pesantren. Tetapi ya, sebagai tukang, yang hanya mampu beberapa ucapan bahasa Arab yang umum-umum saja, seperti bismillah, assalamu’alaikum, kayfa haal, innaa lillaah… Menginjakkan kaki di kampung Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, saya bersama relawan Indonesia lainnya, pun mulai bekerja (amal sholih) melanjutkan pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia. Terutama sesuai bidang saya, masang-masang alat-alat listrik, urusan kabel-kabel, lampu, ac, dan sejenisnya. RS Indonesia berdiri di atas lahan 16.261m2 waqaf pemerintah Palestina, dinamakan RS Indonesia, menurut yang saya dengar dari Pengurus MER-C, karena memang seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. “Di samping itu juga diharapkan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dengan rakyat Palestina”, itu kalimat yang saya camkan. Saya, dibantu relawan yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Arab, sempatkan jalan-jalan dan bergaul dengan masyarakat sekitar. Sungguh luar biasa sambutan dan penghormatan warga di sana. Keramahannya membuat saya yang harus rela meninggalkan Tina isteri saya, dan keluarga besar saya di Jawa Tengah, serasa mendapat ganti keluarga besar, di bumi yang pernah disinggahi oleh para Nabi dan sahabat-sahabatnya itu. “Menakjubkan, kalian dari negeri yang sangat jauh dari Gaza, datang untuk membangun rumah sakit buat kami,” ujar Abu Muslim, Imam Masjid di daerah Ghalebo, Gaza Utara, tidak jauh dari lokasi RS Indonesia. Tak hanya itu, Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza, Ismail Haniyya pun, demi rasa hormatnya terhadap umat Islam Indonesia yang sedang membangun RS Indonesia, menyempatkan hadir berkunjung ke lokasi bangunan pada Juli 2013 lalu. “Ini bukti kepedulian dan cinta rakyat Indonesia terhadap rakyat Palestina, terutama di Jalur Gaza,” ujar Haniyya di hadapan relawan waktu itu. Apalagi, menurutnya, artistek Indonesia membuat bentuk bangunan RS Indonesia itu, segi delapan, yang menyerupai segi delapan bentuk Kubah Sakhrah di kompleks Al-Aqsha Palestina. Saya dan teman-teman relawan, dalam tim pambangunan, yang ketika di Indonesia bekerja sebagai teknisi AC dan listrik, cukup mengalami kesulitan untuk mendapatkan beberapa bahan elektrik yang tidak biasa dipakai seperti di Indonesia. Walaupun kemudian bisa juga. Kesulitan lainnya, kita sangat tergantung dari donasi masyarakat. Di samping itu, beberapa bahan listrik ternyata juga sulit didapat. Kita mesti order dulu, dan itu perlu waktu cukup lama. Jadi, pekerjaan jadi tertunda waktunya. Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi, adalah tatkala Zionis Israel menggempur sepanjang Jalur Gaza pada November 2013. Pesawat menderu-deru di angkasa, bom berjatuhan di mana-mana.Kami sempat panik, karena belum terbiasa mendengar dentuman bom di atas kepala kita. Apalagi beberapa kaca RS Indonesia sempat pecah berantakan oleh getaran bom yang jatuh tidak jauh dari lokasi RS. Tetapi setelah ditenangkan warga setempat, bahwa hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Akhirnya terbiasa juga. Anggaplah itu petasan mainan.“Kami pun tetap bekerja, terutama di ruang dalam, seperti pemasangan lantai, kabel-kabel dalam ruangan, dan sebagainya”. Namun, apapun risiko yang terjadi, saya merasa bahwa apa yang saya lakukan dan teman-teman relawan lainnya, dalam ikut serta membangun RS Indonesia di Gaza, adalah bagian dari amal shaleh kami. Kami ingin ini menjadi bukti sejarah ikatan perjuangan Palestina-Indonesia secara keseluruhan. “Ini Insya Allah akan saya jadikan sebagai amal shaleh bagi saya sendiri dan keluarga saya. Saya sangat bersyukur dengan menjadi relawan ini”. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/alamsemesta/14/05/16/n5nsex-kisah-karidi-dan-relawan-di-jalur-gaza-1
Artis Pun Dukung Pengadaan Alkes RS Indonesia di Gaza

JAKARTA. Artis papan atas Indonesia ternyata tidak hanya menghabiskan waktunya di dapur rekaman dan panggung hiburan Indonesia. Tetapi mereka pun peduli dan mendukung kampanye pengadaan alat kesehatan (alkes) Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza. SLANK grup musik Indonesia bergenre ‘rock and blues’, salah satu kelompok artis pendukungan gerakan kampanye ’50 ribu rupiah’ untuk pengadaan alkes tersebut. “Kita yang memiliki kesempatan memberikan sumbangan donasi untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina sana, mari kita ikut berbagi,” ujar Kaka, vokalis Slank pada acara Konferensi Pers dan Peluncuran Video Campaign RS Indonesia di Gaza, Jakarta, Rabu (30/4/2014) beberapa waktu lalu. Grup musik yang dibentuk Bimbim akhir 1983, dengan lirik-lirik lagu anak muda dan beberapa di antaranya berupa kritik sosial, mengajak Slankers (sebutan untuk para penggemar Slank) dan generasi muda untuk ikut berpartisipasi menyumbangkan dana membantu pengadaan alkes RS Indonesia di Gaza. “Dengan membahagiakan orang lain, pasti kita akan berkah, ini keajaiban sedekah, ini gerakan kemanusiaan, walau dianggap sedikit tapi berarti” ujarnya. Wali Menggugah Grup musik terkenal lainnya, Wali Band, yang memiliki jutaan penggemar di kalangan anak muda, turut mendukung pengadaan alkes guna mengisi RS Indonesia, yang sudah berdiri megah dan berwibawa di lahan wakaf seluas 16.261 m2 di daerah Bayt Lahiya, Gaza Utara. Apoy, salah satu personil Wali mengatakan, pengadaan alkes wajib didukung seluruh masyarakat, karena jelas-jelas untuk kepentingan warga yang sangat memerlukan di Palestina. Ia bersama personil Wali lainnya, Faank (vokal), Tomi (drum) dan Ovie (keyboard), juga mengajak Para Wali (sebutan untuk penggemarnya) ikut berbagi menggalang dana kemanusiaa tersebut. Selama ini lirik-lirik lagu pop Wali dikenal luas, dengan sentuhan sederhana, mengena, dan banyak mengandung nilai-nilai relegius. Maklum saja, personalnya adalah jebolan pondok pesantren dan perguruan tinggi Islam terkenal di Jakarta. Personal Wali, Faank (vokalis) dan Apoy (gitaris), jebolan Ponpes La Tansa, Pandegelang Banten, Tomi (drum), lulusan Ponpes Al Fatah Lampung dan Ovie (keybord) lulusan Ponpes Al-Hikmah Annajiyah Bogor. Seolah ingin menggugah masyarakat untuk membantu alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, untuk mencari berkah, Wali menyentil pendengarnya untuk gemar bersedekah. Seperti dalam lirik lagu ‘Cari Berkah’ (biasa disingkat Cabe), Wali bersenandung pantun, “Bang, beli bawang, beli bawang gak pake kulit. Bang, jadi orang, jadi orang jangan pelit-pelit. Neng, beli batik, beli batik warnanya terang. Neng, tambah cantik, kalo sering bantu orang”. Kepada masyarakat yang memiliki kelebihan harta, Wali pun meminta untuk jangan sungkan-sungkan menolong, sebab harta tidak akan dibawa mati. Tetapi yang diberikan itulah yang membawa berkah. Lanjutan lagu ‘Cabe’ tadi, “Banyak harta ngapain (ngapain). Kalo gak berkah pikirin (pikirin). Oh punya harta gak mungkin (gak mungkin), dibawa mati. Hidup indah bila mencari berkah. Punya rezeki bagiin (bagiin). Bantu yang susah tolongin (tolongin). Oh, jadi miskin gak mungkin (gak mungkin), Allah yang jamin. Hidup indah bila mencari berkah”. Selain Slank dan Wali, artis lain yang juga turut memberikan dukungan RS Indonesia di Gaza, Palestina, di antaranya Jihan Fahira, Naif, Sore, Vadi Akbar dan Ombat Tengkorak Band. Video lengkap kampanye penggalangan dana untuk Alat Kesehatan RS Indonesia dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=VOsH7xGf4IE . Ikatan Indonesia-Palestina Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larissa Agiel, mengatakan, pengadaan alkes memerlukan anggaran sekitar Rp 65 milyar. Menurutnya, Pembangunan RS Indonesia di Gaza, yang mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun oleh MER-C dengan para relawan dari Indonesia, dan dukungan donatur rakyat Indonesia. Ia menambahkan, RS ini memiliki tipe Trauma Center & Rehabilitation, dengan kapasitas 100 tempat tidur, serta bangunan 2 lantai dan 1 lantai basement. Bangunan atap RS ini didesain berbentuk segi delapan, seperti kubah Masjid Al-Aqsha. “Ini diharapkan menjadi karya anak bangsa dan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina,” ujarnya. Apalagi, katanya, seluruh donasi berasal dari masyarakat Indonesia. Bahkan, sebagian besar berasal dari kantong-kantong kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Untuk itu, bagi masyarakat yang berniat memberikan bantuan donasi untuk Alat Kesehatan RS INDONESIA di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.929.73 BCA, No. Rek. 686.0153.678 BRI, No. Rek. 033.501.0007.60308 BSM, No. Rek. 700.1352.061 BMI, No. Rek. 301.00521.15 atas nama Medical Emergency Rescue Committee ————————————– (MINA/MER-C.Red:AFTA)
MER-C Yogyakarta Gelar Diklat Kerelawanan

Tak seperti biasanya, suasana Klinik MER-C Yogyakarta yang berlokasi di Bokoharjo tampak ramai. Bukan oleh pasien yang hendak berobat, melainkan semarak oleh puluhan relawan peserta Diklat Kerelawanan yang dihelat oleh MER-C Yogyakarta. Acara yang berlangsung dari 19 – 20 April itu mengusung tema “Bersapa, Berbagi, Beraksi”. Ketua Pelaksana Diklat, Arief Wahyu, Mengatakan, kegiatan yang diikuti oleh delegasi tiga cabang MER-C, yaitu Yogyakarta, Solo, dan Semarang, bertujuan untuk mempererat tali silaturahim bagi para calon relawan. Selain itu, juga membangun sinergitas antarcabang MER-C di ketiga daerah. “Titik penting dari diklat ini adalah adanya keterikatan antar peserta,” papar mahasiswa FKU UGM 2009 ini. Suasana diklat berjalan dengan cukup dinamis dengan peserta sebanyak 54 peserta meski waktu pelaksanaannya cukup singkat. Peserta diklat merupakan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta, Solo dan Semarang. Mereka berasal dari fakultas dan angkatan. Tidak hanya terbatas pada mahasiswa fakultas medis, tetapi juga mahasiswa non medis. Hadir dalam acara ini, para pengurus MER-C Yogyakarta dan perwakilan MER-C Pusat. Presidium MER-C Pusat, dr. Joserizal Jurnalis, berkesempatan menghadiri kegiatan ini. Dalam kesempatan itu, pria yang akrab dipanggil dr. Jose itu menekankan bahwa menjadi mahasiswa yang cerdas dan peduli adalah salah satu modal untuk menjadi relawan seutuhnya. Ini, ungkap dia, dimulai dari niat yang lurus dan tulus dibarengi dengan pengesahan ilmu dan kemampuan yang kemudian diarahkan pada misi kemanusiaan. “Dan, yang paling pentingadalah konsistensi atau keiatiqamahan berjuang melalui MER-C,” tuturnya. Dr. Jose juga membeberkan kepada para peserta perihal agenda Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Bagaimana proses berdirinya RS Indonesia di Gaza, Palestina, lengkap dengan perjalanan misi ke sana. Ia mengajak peserta untuk memaknai bersama makna Pembukaan UUD 1945 tentang hak merdeka bagi segenap bangsa, tak terkecuali bangsa Palestina yang terjajah hingga kini oleh Zionis Israel. Sumber : Republika, Minggu 11 Mei 2014, Hal. 24
Konferensi Press dan Peluncuran Video Campaign Rumah Sakit Indonesia di Gaza – Palestina

Alhamdullilah, berkat rahmat Allah SWT dan atas dukungan dari rakyat Indonesia, pembangunan gedung Rumah Sakit Indonesia di Gaza – Palestina dinyatakan telah selesai. Rumah Sakit Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang dan berliku-liku sejak kemunculan gagasannya pada masa agresi militer Israel di Gaza di tahun 2008/2009 lalu. Rumah sakit ini juga tidak akan menjadi bangunan yang megah seperti sekarang ini tanpa dukungan dari begitu banyak pihak yang telah merapatkan barisan selama beberapa tahun lamanya baik lewat pemikiran, tetes keringat, dana, pemberitaan, doa, waktu, dan dukungan semangat, yang insya Allah itu semua akan menjadi bukti bagi rakyat Palestina dan dunia, bahwa uluran tangan tanda persaudaraan dari rakyat Indonesia telah sampai dan diterima oleh rakyat Palestina, dan semoga tali persaudaraan ini akan terjalin untuk selamanya. Kembali dukungan kita dinanti oleh rakyat Palestina. MER-C mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bahu-membahu melengkapi pengadaan alat kesehatan bagi Rumah Sakit Indonesia yang memerlukan dana sekitar 65 miliar rupiah. Alhamdullilah, Pembaca Republika telah mengawali donasi bagi alat kesehatan di Ruang Poliklinik sebesar satu milyar rupiah, serta Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) telah menyumbangkan dana sebesar 650 juta rupiah untuk melengkapi Ruang Farmasi. Hari ini, kami meresmikan awal kampanye pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia yang didukung oleh Slank, Wali, Bapak Adi Sasono, Jihan Fahira, Naif, Vadi Akbar, Sore, White Shoes & the Couples Company, Wanadri, Farida Thalib, Indra Hidayat, Salma yang telah mempersembahkan karya seninya untuk MER-C dan Hengky Saing yang telah mempersembahkan lagu berjudul “Satu Untuk Semua” untuk dijadikan lagu soundtrack bagi kampanye alat kesehatan RS Indonesia. Tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada BNI Syariah yang telah menjadi sponsor demi terselenggaranya acara hari ini. Semoga usaha kita semua akan diterima sebagai amal baik, dan semoga rakyat Palestina dapat segera menikmati pelayanan kesehatan dari Rumah Sakit Indonesia. Donasi untuk Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina dapat disalurkan melalui: BNI Syariah No. Rek. 08.111.929.73 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee Jakarta, 30 April 2014 Divisi Humas MER-C
Slank Ajak Rakyat Indonesia Berpartisipasi untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza

Jakarta, Pembangunan Rumah Sakit Indonesia memang sudah selesai Februari lalu. Namun ternyata hanya bangunannya saja yang sudah selesai, sementara gedung tersebut belum dilengkapi oleh alat dan fasilitas kesehatan apapun. foto: Reza/detikHealth Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C) sekaligus penggagas utama berdirinya rumah sakit tersebut mengatakan bahwa masih dibutuhkan banyak dana untuk mengisi alat kesehatan agar Rumah Sakit Terapitologi dan Rehabilitasi tersebut dapat beroperasi penuh. “Meski bangunan fisiknya sudah rampung, namun Rumah Sakit Indonesia belum bisa beroperasi karena belum ada alat kesehatannya. Dana yang kami butuhkan kurang lebih Rp 65 Miliar,” ujarnya kepada detikHealth usai acara Konferensi Pers dan Peluncuran Video Campaign Sumbangan Dana untuk Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di FX Sudirman, Jl Jend Sudirman, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (30/4/2014). Untuk itu, Mer-C pun membuat video kampanye yang bertujuan untuk mengajak rakyat Indonesia berpartisipasi dalam kegiatan ini. Video tersebut berdurasi selama 4 menit dan berisikan beberapa pendukung gerakan ini. Slank, Naif, wali dan pesinetron Jihan Fahira adalah beberapa nama yang ada di video. Disinggung mengenai alasannya tergabung dalam gerakan ini, Bimbim Slank yang hadir pada acara tersebut mengatakan bahwa dirinya termasuk orang yang senang memberi. Terlebih bantuan tersebut diberikan untuk membantu rakyat yang ada di Palestina. “Kalau gue percaya memberi itu pasti enggak rugi. Karena nanti pasti dibalas 10 kali lipat sama Tuhan,” ujarnya pada kesempatan yang sama. “Cukup dengan Rp 50 ribu kita sudah bisa membantu saudara-saudara kita yang di sana,” sambungnya lagi. Sumber : http://health.detik.com/read/2014/04/30/173358/2570327/763/slank-ajak-rakyat-indonesia-berpartisipasi-untuk-rumah-sakit-indonesia-di-gaza http://www.youtube.com/watch?v=VOsH7xGf4IE
Campaign Alat Kesehatan RS Indonesia Diresmikan

Jakarta – Pada tanggal 30 April 2014 telah diadakan peluncuran video Campaign Rumah Sakit Indonesia di cafe The Cone Indonesia, FX Lifestyle X’nter lantai 7. Acara dibuka oleh Hengky Saing yang membawakan lagu “Satu untuk Semua”. Lagu ini diciptakan Hengky dan dipersembahkan khusus untuk penggalangan dana bagi alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia. Acara dilanjutkan dengan penayangan video Campaign penggalangan dana bagi pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia, yang menampilkan di antaranya Slank, Wali, Bapak Adi Sasono, Jihan Fahira, Naif, Vadi Akbar, Sore, White Shoes & the Couples Company, Wanadri, Farida Thalib, Indra Hidayat dan seniman cilik Salma. Ketua Presidium MER-C dr Henry Hidayatullah mengatakan bahwa banyak peristiwa yang mengiringi proses pembangunan RSIndonesia dan RSIndonesia merupakan satu-satunya rumah sakit di Palestina yang dibangun atas nama rakyat. Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan Presidium MER-C dr Joserizal Jurnalis SpOT, presidium MER-C Ir. Farid Thalib, penanggung jawab pengadaan alat kesehatan RSIndonesia Ahyaudin Sodri, site manager RSIndonesia Edy Abu Fikry dan mechanical electrical manager RSIndonesia Karidi. Slank, Salma, Vadi Akbar, dan Hengky Saing hadir untuk menyatakan dukungannya terhadap program pengadaan alat kesehatan RSIndonesia. Acara ditutup oleh penampilan oleh seluruh peserta press conference di bawah arahan Sanggar Saung Mang Udjo yang membawakan lagu “Tanah Air”.
MER-C Serahkan Aset Rp2,5 Miliar Kepada Pemerintah

Banda Aceh, 25/4 (Antaraaceh) – Lembaga Swadaya Masyarakat MER-C Indonesia menyerahkan aset Puskesmas dan peralatan medis senilai Rp2,5 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh. “Kami berharap aset ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan maksimal kepada masyarakat,” kata Projek manager MER-C for Aceh Ira Hadiati di Banda Aceh, Kamis. Dijelaskannya, aset di gampong/desa Panga Kecamatan Keude Panga Kabupaten Aceh Jaya itu diserahkan oleh Presidium MER-C Indonesia dr Sarbini Abdul Murad dan diterima Setkdakab setempat Teuku Irvan TB. Aceh Jaya merupakan salah satu kawasan yang cukup parah diterjang tsunami yang menewaskan tidak kurang dari 200 ribu penduduk di Provinsi Aceh pada 26 Desember 2004. Ira mengatakan Puskesmas dan peralatan medis yang diserahkan kepada Pemkab Aceh Jaya itu memadai untuk sebuah rumah sakit. Adapun aset yang diberikan itu terdiri dari tanah wakaf dari warga setempat Syarifuddin Yunus kpd MER-C seluas 1200 m2 dan tanah milik MER-C seluas 200 m2 beserta bangunannya. Kemudian peralatan medis lengkap untuk IGD, apotek, kamar bersalin, poliklinik umum, rawat inap, dental unit, laboraturium, ruang operasi dan X Ray. “Semua peralatan medis yang kami serahkan ini memenuhi standar untuk sebuah rumah sakit,” katanya. Aset yang diserahkan tersebut di bangun dan dipergunakan MER-C serta petugas Puskesmas Panga sejak 2006 yang merupakan salah satu bantuan dibangun untuk membantu pelayanan kesehatan untuk korban tsunami Aceh 26 Desember 2004. Pihaknya berharap dengan kehadiran Puskesmas dengan peralatan rumah sakit tersebut dapat memberikan tindakan medis secepatnya kepada masyarakat di gampong setempat khususnya dan Aceh Jaya umumnya. Pewarta : Muhammad Ifdhal Sumber : http://www.antaraaceh.com/2014/04/mer-c-serahkan-aset-rp25-miliar-kepada-pemerintah.html
Serah Terima aset MER-C di Puskesmas Panga kepada Pemerintah Daerah Aceh Jaya

Aceh – Pada tanggal 22 April 14, MER-C Indonesia telah menyerahkan seluruh aset MER-C yg berada di desa Panga, Kec Keude Panga, Kabupaten Aceh Jaya kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Jaya.Serah terima ini dilaksanakan oleh Presidium MER-C Indonesia dr. SarbiniAbdul Murad dan Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Jaya Drs. T. Irvan. TB. Aset tersebut berupa tanah wakaf dari warga setempat Bapak Syarifuddin Yunus kepada MER-C seluas 1200 m2, tanah milik MER-C seluas 200 m2 beserta bangunannya, dimana nilai total keseluruhan dari tanah dan bangunan saat itu adalah bangunan utama kurang lebih senilai Rp 700 juta, gudang senilai Rp 150 juta serta Rp 10 juta tanah perluasan. Selain itu, terdapat aset berupa peralatan medis lengkap antara lain : alat kesehatan untuk Instalasi Gawat Darurat, alat kesehatan apotik, alat kesehatan untuk bersalin, alat kesehatan untuk Poliklinik umum, alat kesehatan untuk Rawat Inap, alat kesehatan dental unit,alat kesehatan laboraturium, alat kesehatan ruang operasi, alat kesehatan X–Ray dengan nilai keseluruhan dari alat kesehatan saat itu kurang lebih 1,5 Milyar. Semua aset tersebut dibangun dan dipergunakan oleh MER-C dan petugas puskesmas Pangasejak tahun 2006 dimana pada saat itu di daerah Aceh Jaya belum terdapat sarana kesehatan yg memadai setelah bencana Tsunami pada tahun 2004. Pertimbangan diserahkannya semua alat kesehatan ini antara lain dikarenakan oleh kinerja rekan2 staf puskesmas sangat baik dan amanah, hal ini dibuktikandengan prestasi yg di raih sebagai Juara I se–Propinsi aceh katagori programIbu dan Anak pada tahun 2012, sebagai juara I kategori Puskesmas Bersahajase–propinsi aceh pd tahun 2013, sebagai juara I sekebupaten Aceh Jaya dalam kategori Puskesmas terakreditasi. Kedua, untuk mempermudah pemerintah daerah dalam pengalokasian dana untuk pengembangan Puskesmas Panga. Ketiga, agar Puskesmas Panga dapat lebih maksimal dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat Panga khususnya dan masyarakat Aceh Jaya pada umumnya.. Semoga dengan diseraherimakannya aset MER-C Indonesia di desa Panga dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat Panga, serta hubungan baik antara LSM MER-C Indonesia dan Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Jaya dapat terus terjalin dalam berbagai kegiatan lainnya.