MER-C – RRI Kampanyekan Penggalangan Dana RSI Gaza

Jakarta, 15 Jumadil Akhir 1435/15 April 2014 (MINA) – Lembaga kemanusian medis MER-C (Medical Emergency Rescue Committe) dan Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta, menandatangani MoU kesepakatan terkait kampanye iklan penggalangan dana untuk pengadaan peralatan kesehatan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza. Naskah kesepakatan tersebut ditandatangani di gedung RRI Jakarta, Selasa oleh anggota Presidium MER-C Dr. Arief Rachman dan Kepala RRI Jakarta, Herman Zuhdi. Dalam kesepakatan itu, RRI Jakarta secara sosial akan menyiarkan iklan kampanye penggalangan dana RS Indonesia melalui Gerakan Rp 50 ribu/orang untuk alat kesehatan. Ada pun MER-C akan memberikan bantuan pelayanan medis gratis kepada RRI Jakarta dalam berbagai acara. Herman mengatakan, MER-C adalah lembaga kemanusiaan di bidang medis yang kerjanya sudah terlihat nyata di masyarakat. “Saya melihat MER-C adalah suatu komunitas yang kiprah dan kinerjanya sudah bisa kita lihat. Terutama berdirinya RS Indoensia di Gaza, tentunya membutuhkan suatu upaya kerja keras, cerdas dan ikhlas. Saya kira itu sejalan dengan RRI,” ujar Herman. Menurutnya, kerjasama tersebut adalah awal kolaborasi yang baik dan diharapkan bisa terus berlanjut hingga jaringan RRI di wilayah Indonesia lainnya dapat melakukan hal yang serupa. “Saya mempelajari dan melihat bagaimana kiprah MER-C di masyarakat dan ketika kami bergabung bersama dalam layanan bantuan bagi korban banjir di Kampung Pulo, Jakarta, MER-C tanpa menghitung rupiah,” kata Herman. Sementara itu, Dr. Arief Rachman mengakui bahwa MER-C sangat membutuhkan media partner, terutama untuk menyebarluaskan kempanye tentang RS Indonesia di Gaza, khususnya Gerakan Rp 50 ribu/orang. “Kita tahu jaringan RRI di Indonesia dari ujung timur hingga ujung barat, Sabang sampai Merauke. Semakin banyak orang yang tahu, kami harap akan semakin cepat upaya pembelian alat kesehatan RS Indonesia di Gaza terlaksana,” kata Arief. Arief menjelaskan bahwa RS Indonesia di Gaza adalah karya anak bangsa, di mana mulai dari gambar rancangannya hingga nanti asistensinya ketika operasional, semua dari Indonesia. Bahkan desain di dalam rumah sakit akan bernuansa khas Indonesia, seperti adanya corak batik dan tapis Lampung. Komentar dari masyarakat dan para pejabat di Gaza sangat baik dan kagum sekali dengan struktur rancangan RS Indonesia yang sangat berbeda dengan yang lain. Hanya ada dua negara yang menyumbang rumah sakit di Gaza, yaitu Uni Eropa dan Indonesia. Uni Eropa menyumbang dengan gabungan danan dari negara-negara Eropa. “Jika disepadankan, level Indonesia di Gaza sama dengan Uni Eropa. Ini suatu kebanggaan bagi kita yang perlu kita sampaikan kepada masyarakat Indonesia di tengah gonjang-ganjing dalam negeri,” tambah Arief. (L/P09/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/web/indonesia/nasional/17527-mer-c-dan-rri-jakarta-tandatangani-mou-untuk-rs-indonesia.html
Kehadiran Relawan RS Indonesia jadi Penyejuk bagi Perpecahan Gaza

Jakarta, 14 Jumadil Akhir 1435/14 April 2014 (MINA) – Ir. Abu Fikri adalah Pimpinan Proyek Pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina. Selama pembangunan rumah sakit dari tahun 2011 sampai awal 2014, dia dua kali berangkat ke Gaza memimpin pembangunan atas nama Relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Pria yang berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Bogor itu, mengungkapkan sekilas pengalamannya di bumi yang diblokade, saat ditemui oleh wartawan MINA Sabtu (12/4) di kantor MER-C, Jakarta. Berikut hasil wawancara Rudi Hendrik, wartawan MINA, dengan Ir. Abu Fikri: MINA: Bagaimana awalnya Anda bisa memasuki Gaza? Ir. Abu Fikri: Bermula pada akhir 2010 mengikuti aksi kemanusiaan “Asia Caravan To Gaza” bersama dengan negara-negara Asia lainnya. Ada sekitar 150 orang. Sementara tim kami sendiri yang bergabung dengan MER-C ada lima orang. Ketika kami, para relawan pertama datang, kami juga disambut oleh welcome bomb (bom selamat datang). Begitu sampai di perbatasan, ada istilah welcome bomb dari tentara Israel. Itu menunjukkan bahwa kedatangan setiap relawan ke Gaza sudah diketahui oleh Israel. MINA: Situasi Gaza awalnya bagi relawan seperti apa? Ir. Abu Fikri: Gaza identik dengan penjara terbesar di dunia. Untuk masuk sulit dan untuk keluar pun sulit. Yang kita lihat memang, bukan hanya daerah perang, tapi juga daerah yang terblokade selama bertahun-tahun. MINA: Apa kesulitan awal bagi para relawan di sana? Ir. Abu Fikri: Kesulitan awal bagi relawan adalah bahasa, karena ada Bahasa Arab formal dan ada Bahasa Arab yang umum digunakan oleh warga Gaza. Sedangkan yang kita pelajari adalah Bahasa Arab formal dalam pendidikan. Sementara dalam pembangunan, kita banyak bergaul dan berkomunikasi dengan masyarakat lapangan, sehingga bahasa yang harus digunakan adalah bahasa sehari-hari. Dan keduanya sangat jauh berbeda. Ada pun untuk peralatan dalam membangun, tidak seperti yang kami khawatirkan sebelumnya bahwa di sana tidak cukup lengkap, ternyata di sana cukup lengkap peralatan. Untuk bahan bangunan di tahap pertama tidak begitu menemui kesulitan. Justru di tahap kedua kami menemui kesulitan, karena di tahap ini kami kesulitan untuk mendapatkan beberapa bahan bangunan, salah satunya semen dan kelangkaan solar. Solar kita perlukan untuk mengoperasikan peralatan-peralatan berat. Dampak ketiadaan solar di Gaza, berdampak pada ketiadaan listrik, karena satu-satunya generator yang ada di Gaza menggunakan solar, sehingga harus dikurangi, setiap hari hanya empat jam dengan waktu yang tidak menentu. Juga berdampak pada gas dan terus berdampak kepada masalah air. Karena air pun harus dipompa dengan tenaga listrik dan solar. Bahkan sempat selama empat hari tidak bisa menggunakan air. Luar biasa kondisi yang kita hadapi di sana. MINA: Bagaimana dengan perang? Ir. Abu Fikri: Di sana, sewaktu-waktu perang bisa muncul. Tidak bisa dikategorikan kondusif. Selain perang besar, secara menyeluruh sering terjadi konflik-konflik. Baik dari Gaza sendiri maupun dari Israel. MINA: Adakah budaya negatif Indonesia di Gaza? Ir. Abu Fikri: Salah satunya, untuk relawan Indonesia, mereka terbiasa shalat menggunakan sarung, sedangkan di sana dipandang kurang baik. Bagi mereka, sarung digunakan untuk kegiatan-kegiatan saat tidur. Mereka kurang pas jika melihat kita shalat menggunakan sarung. Meski kita sudah berusaha untuk meyakinkan, tapi kita tidak bisa untuk mencoba meyakinkan masyarakat banyak yang memandang. Ada pun sisi positif yang kami temukan di sana yaitu sesuatu yang sudah sangat langka kita jumpai di Indonesia, yaitu memberi salam kepada orang yang tidak kita kenal, meski di jalan umum, kecuali memberi salam kepada beda jenis, itu tidak boleh. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami. MINA: Apakah pembangunan RS Indonesia sudah selesai? Ir. Abu Fikri: Pembangunan fisik RSI ada dua, yaitu pembangunan arsitektur dan mekanikal elektrikal. Untuk pembangunan di bidang fisiknya, alhamdulillah, tinggal masuk tahap perawatan dan service. Memang dalam setiap pembangunan, ada waktu sekitar enam bulan untuk perawatan. Karena memang pembangunan fisik sifatnya saling terpadu. Untuk perawatan, karena tidak sulit, pengawasan tetap dari pihak MER-C, namun pekerjanya dari tenaga lokal. Saat ini memasuki tahap ketiga, yaitu pengadaan alkes (alat kesehatan) yang membutuhkan dana lebih besar dari pembangunan fisik RS Indonesia. MINA: Kesulitan yang paling terasa bagi para relawan? Ir. Abu Fikri: Secara fisik memang banyak sekali kesulitan, tapi alhamdulillah, secara akidah, setiap kami menemui kesulitan maka disitu kami menemui kemudahan. Dan disitulah kami meyakini bahwa kemudahan yang kami rasakan adalah pertolongan Allah SWT. MINA: Apakah pada masa menunggu kepulangan yang tidak jelas setelah pembangunan selesai, ada relawan yang putus asa? Ir. Abu Fikri: Dalam pembangunan ini, kami berusaha sekuat mungkin menggunakan skejul dan bekerja sesuai itu. Tanggung jawab para relawan pada prinsipnya, akhir bulan Desember 2014 itu sudah selesai. Jadi sesuai dengan schedule. Ada waktu sekitar sebulan masa menunggu, dan itu pun hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan saja. Dalam masa menunggu itu, memang mereka merasa tanggungjawab utama itu sudah selesai, sehingga secara psikologis fisik mereka sudah terfokus pada keluarga. Mereka yang awalnya sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan yang ada, tapi karena dia sudah merasa akan segera kembali, maka secara otomatis kesabarannya teruji. Ujian itu mungkin juga dari pihak keluarga yang sudah lama menahan rindu ingin bertemu dengan ayahnya atau suaminya, tentunya ada tekanan-tekanan dari keluarga agar bisa segera kembali. MINA: Solusinya? Ir. Abu Fikri: Yang pertama kita terus melakukan siraman rohani kepada mereka, karena kita ada taklim setiap Jumat pagi dan itu memang efektif sekali untuk memompa semangat mereka, bagaimana mereka bisa tetap sabar. Karena permasalahannya adalah satu-satunya prinsip bagi para relawan, yaitu “kepastian relawan adalah ketidakpastian”. Jadi tidak ada kepastian bagi relawan. Apa pun yang direncanakan, kita kembalikan kepada apa yang diijinkan oleh Allah. Kita tahu bahwa Gaza sendiri adalah satu daerah konflik yang hingga kini tidak ada jalan keluarnya secara penuh dan kita tahu, Gaza semakin hari semakin sulit. Apa lagi kondisi negara-negara sekitarnya mulai tercarut-marut oleh perang seperti Suriah dan Mesir sendiri, sehingga membuat kondisi semakin tidak pasti. MINA: Bagaimana respon para pejabat Palestina di Gaza dengan adanya pembangunan RS Indonesia ini? Ir. Abu Fikri: Al hamdulillah sangat positif, bukan hanya pejabat, tapi juga warga gaza, tapi kami mengambil beberapa sample saja. Salah satunya adalah kunjungan Perdana Menteri Ismail Haniyah ke RS Indonesia di Gaza. Intinya dia menyampaikan: “Setiap kami melihat kalian, timbul semangat kami untuk terus bisa bertahan dalam kondisi yang serba sulit. Timbul juga semangat bagi kami bahwa Al-Aqsha akan
Pengamat: Amerika Target Hancurkan Tujuh Negara Arab

Tangerang, 13 Jumadil Akhir 1435/13 April 2014 (MINA) – Pengamat Timur Tengah Dr. Joserizal Jurnalis mengungkapkan, jauh sebelum peristiwa 11 September 2001, Amerika Serikat (AS) sudah mentargetkan untuk menghancurkan tujuh negara Arab. “Jauh sebelum 2001, Amerika sudah memiliki target bahwa tujuh negara Arab harus dihancurkan, yaitu Irak, Iran, Libanon, Suriah, Libya, Sudan dan Somalia,” kata Joserizal Ahad pagi (13/4) dalam Kuliah Dhuha di Masjid Raya Bintaro Jaya, Tangerang, Banten. Pernyataan anggota Presidium MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) itu, mengutip pengakuan mantan Panglima NATO Wesley Kanne Clark dalam bukunya “Winning Modern Wars”. Mantan calon Presiden Amerika itu mengungkapkan, ketika kembali ke negaranya pada tahun 1971 dan bertemu dengan para pejabat tinggi pertahanan Amerika, ternyata mereka sudah punya program yang telah disepakati, yaitu akan menghancurkan tujuh negara Arab. Joserizal mengaku bahwa kasus pembantaian terhadap Muslim Ambon di Tobelo, Pulau Halmahera, ia bawa keliling Eropa dengan tujuan bahwa konflik agama sangat berbahaya. “Kami sampaikan kepada masyarakat Eropa, jangan main-main dengan konflik agama. Jika terjadi, maka efeknya sangat besar. Tidak berapa lama, terjadilah peristiwa 11 Sepetember,” ujar dokter ahli bedah yang sudah berpengalaman dalam beberapa perang di Timur Tengah sebagai relawan medis tersebut. Menurutnya, yang menarik dalam peristiwa 11 September 2001 adalah telunjuk Amerika langsung mengarah Osama Bin Laden dan mujahidin Afghanistan. “Setelah pulang dari Afghanistan (sebagai relawan medis), saya mengambil kesimpulan bahwa ini bukan dilakukan oleh mujahidin,” katanya. Joserizal menilai bahwa rekayasa 11 September begitu kasar, terlalu jelas bahwa kejadian itu adalah rekayasa. Pria kelahiran Padang itu menyimpulkan, peristiwa peledakan gedung WTC dijadikan suatu kondisi sebagai alasan untuk menyerang Afghanistan. “Karena AS sudah memprogram ‘War on Teror’ sejak lama. Karenanya Amerika membuat gara-gara agar masyarakat menerima program itu.” Namun menurut Joserizal, masyarakat kini sudah tahu dan sudah banyak buku-buku yang ditulis berisi pengungkapan fakta-fakta dalam peristiwa itu. Joserizal menyimpulkan bahwa kejadian besar yang melanda negeri-negeri Timur Tengah yang dikenal sebagai “Arab Spring”, merupakan bagian dari konspirasi Zionis global, yaitu konspirasi Novus Ordo Seclorum (Tatanan Dunia Baru). “Jika di Islam dengan khilafahnya, Zionis dengan NOS, di Katolik ada Kerajaan Katolik. Cara Zionis adalah menimbulkan konflik dan memperalat. Jika tidak ada konflik, bisnis mereka tidak jalan, seperti penjualan senjata dan rente (bunga uang),” tambah Joserizal. Mengutip sejarah perseteruan Bani Aus dan Khazraj di Madinah, Joserizal mengatakan bahwa solusi yang dilakukan Nabi Muhammad terhadap perang saudara itu adalah mendamaikan keduanya dan melakukan operasi-operasi pasar yang dikuasai oleh Yahudi. (L/P09/P12/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/web/indonesia/nasional/17427-pengamat-timur-tengah-amerika-target-hancurkan-tujuh-negara-arab.html
Bakti Sosial MER-C dan Labs School Kebayoran

Jakarta – pada tanggal 12 April 2014 tim medis MER-C mengadakan bakti sosial dengan mengadakan pengobatan masal di daerah Gandaria, Kebayoran. Acara yang berlangsung sejak pukul 9.30 pagi sampai 13.00 siang ini terlaksana atas kerjasama dengan Lab School Kebayoran. Tim yang berjumlah 10 orang ini memberikan pengobatan kepada 250 pasien.
Relawan Gaza: Pendidikan Hijab Masyarakat Gaza Sejak Balita

Jakarta, 9 Jumadil Akhir 1435/9 April 2014 (MINA) – Masyarakat Gaza melaksanakan syariat hijab yang sangat kuat dan dididik sejak usia di bawah lima tahun (balita). Hal itu dikisahkan oleh salah seorang relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), Karidi, saat ditemui MINA di Jakarta, Selasa (8/4). Pria asal Wonogiri itu belum lama kembali dari Gaza setelah turut membangun Rumah Sakit (RS) Indonesia di sana sekitar satu setengah tahun lamanya bersama para relawan dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah yang berpusat di Cileungsi, Bogor. “Di masa balita, dari umur tiga sampai empat tahun ke atas, tidak ada anak-anak sebaya yang ngobrol atau main bareng antara anak laki-laki dan perempuan. Itu sudah sangat dijaga,” ujar Karidi. “Jika terjadi obrolan antara anak sebaya lawan jenis, maka anak itu dianggap aib bagi keluarga,” tegasnya. Relawan yang mengetuai bidang mekanikal elektrikal di pembangunan RS Indonesia itu mengisahkan, syariat hijab di masyarakat Gaza sangat kuat. Sejak sekolah sudah dipisah antara sekolah laki-laki dan perempuan. Demikian pula dari segi ruangan tamu di rumah orang Gaza, sudah di tata sedemikian rupa. Ruang tamu memiliki kamar mandi sendiri. Jika tamu mau ke kamar mandi, tidak sampai nyelonong ke belakang hingga melihat ruangan-ruangan yang lain. “Jika bertamu, kita juga tidak akan mungkin bisa melihat isteri pemilik rumah. Yang menyuguhkan makanan dan minuman adalah suaminya, bukan isterinya,” kata Karidi. Dia melanjutkan bahwa rumah-rumah warga Gaza memiliki pagar yang tinggi dengan tujuan orang yang lewat di depan rumah tidak bisa melihat langsung ke dalam. Demikian pula di tempat fasilitas umum, laki-laki dan perempuan sangat dibatasi. “Masyarakat di sana sudah dididik sejak kecil, jika berjalan menundukkan pandangan. Tidak ada yang namanya berpapasan dengan lawan jenis saling tatap face-to- face,” tambahnya. Selain itu, Karidi juga menceritakan betapa “luar biasanya” masyarakat dalam menyambut tamu, terutama terhadap para relawan yang sangat sering diundang untuk makan ke rumah warga. Terlebih ketika bulan Ramadhan saat berbuka puasa. “Saya sangat salut sekali dengan orang Gaza, mereka sangat memuliakan tamu. Mereka sangat hebat dalam memuliakan tamu. Kalau di sini (Indonesia), mungkin cukup sediakan air putih, selesai. Di sana sampai pesan makanan, seolah-olah semua dikeluarkan.” (L/P09/R2) Sumber : http://www.mirajnews.com/web/palestina-mb/17266-relawan-gaza-pendidikan-hijab-masyarakat-gaza-sejak-balita.html
Mobile clinic di Jere – Klinik Galela

Galela – Bulan Maret ini kami merencanakan untuk Mobile Clinic MER-C ke ujung Halmahera Utara yaitu Desa Jere. Untuk mobile clinic kali ini ada dua dokter gigi yang suka rela untuk berpartisipasi, yaitu drg.Herlina (dokter gigi PTT di Puskesmas Soasio) dan drg.Besse (dokter gigi PTT dipuskesmas Kupa-Kupa). Wilayah Jere sendiri sebenarnya masuk ke wilayah puskesmas salimuli untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakatnya untuk dapat sampai ke puskesmas salimuli haru melewati jalan berbatu yang berbukit-bukit dengan jurang disisi sampingnya (ini menurut cerita orang Galela mengenai Jere). Pasien Gigi dan umum saat penobatan di Jere Baru. (ket. Foto) Hari ini Sabtu, 9 Maret 2014, kami berangkat menuju Jere siang nanti. Persiapan untuk berangkat Kami berkumpul di Galela pukul 13.00 WIT dan berangkat pukul 13.55 WIT dari klinik MER-C Galela dengan menggunakan motor. Jalan menuju ke Jere medannya cukup berat sebelum sampai kesana kami harus melalui beberapa desa, dari mulai Limau hingga Jere. Sesampainya di kali Aru kami harus menyebrang kali karena jembatan yang baru dibangun sudah rusak kembali. Baru setelah melewati kali Aru kami sampai didesa Salimuli. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Saluta. Kami sampai di Saluta pukul 16.15 WIT dan rencana awal kami akan ke Jere dari Saluta dengan ketingting menyebrang laut, setelah sampai di Saluta kami tidak mendapatkan ketingting karena ombak bulan ini masih sangat tinggi dan berbahaya sehingga tidak ada jasa penyewaan ketingting yang stand by dipelabuhan Saluta. Akhirnya kami memutuskan lanjutkan perjalanan lewat jalan darat, dimana medan yg harus dilalui sangat sulit. Bismilah… Insya Allah aman. Daerah ini disebut gunung es karena posisinya yg curam, ini dua teman saya drg.Besse dan drg.Herlina (ransel hitam) sedang mendaki jalan. (ket. Foto) Saluta ke Jere lewat jalan darat sama artinya perjalan kesana baru akan dimulai (heheee.. lebayatun ya teh), kenapa?? Karena jalan yang menanjak, menurun, berkelok dan sisi kanan adalah jurang yg tinggi dengan dasar laut lepas ditambah lagi permukaan jalan yg penuh bebatuan. Untuk lebih amannya ketika menanjak kami berjalan kaki dan motor dikendarain dengan pelan. Tapi kami tetap semangat ini pengalaman yang baru untuk kami. Setelah melewati sekian belas tanjakan dan turunan (ga ngitung tepatnya) kami sampai juga didesa Jere Baru pukul 18.45 WIT. Selamat datang di Jere Baru. Jalan menuju rumah Kepala Desa Jere Baru (ket. Foto) Pak Kades memberitahu wilayah Jere kalau sudah tiba malam mati lampu hingga pagi hari. Saya harap untuk saat ini jangan mati lampu dulu karena disini tidak ada Genset dan emergency lamp pun kami tak punya. Setelah istirahat sebentar dan sholat maghrib, pelayanan pengobatan dari MER-C BNI kami bukan pukul 19.30 WIT untuk Jere Baru lokasinya tepat disampin rumah kepala desa setempat. Kedua teman saya pun ikut buka pengobatan gratis atas nama MER-C BNI untuk pasien gigi. Partisipasi masyarakat setempat sangat baik walaupun pengobatan dibuka malam hari, mereka antusias untuk dating ke lokasi. Tidak hanya pasien umum tapi pasien gigi juga lumayan terhitung ada 5 tindakan exo (cabut gigi) yang dilakukan di Jere Baru. Karena ketersedian alat, bahan serta obat yang terbatas untuk pasien-pasien gigi, hanya bias dilakukan 5 tindakan. Pengobatan malam itu kami tutup pukul 22.00 WIT. Alhamdulillah hari ini tidak mati lampu, suatu kebetulan. Mobile Clinic MER-C BNI di Jere Baru (ket. Foto) Dan pagi harinya kami lanjutkan ke desa tetangga yaitu Jere Tua. Jarak dari Jere Baru ke Jere Tua tidak terlalu jauh dengan menggunakan motor hanya sekitar 10 menit. Kami berangkat dari Jere Baru pukul 08.00 WIT kemudian singgah di rumah kepala desa Jere Tua dan membuka pengobatan tepat didepan halaman rumah pak kades ini. Disini kami mulai pengobatan pukul 08.30 dan tutup pengobatan setelah pasien habis semua sekitar pukul 11.30 dan pukul 13.00 kami berangkat pulang ke Galela. Dan tiba di Galela sekitar pukul 19.00. Alhamdulillah perjalanan kami selamat dari berangkat hingga tiba kembali di Galela. Selamat pagi Jere Tua. Dari Atas ke bawah searah jarum jam: Istihad, bu Nur, Wandi, drg.Herlina, dr.Lirih, dan drg.Besse (ket. Foto) Don, bu Nur, Wandi, drg.Herlina dr.Lirih, dan drg.Besse (ket. Foto) Mobile Clinic MER-C BNI Jere Tua (ket. Foto) Kesan kami untuk Jere adalah wilayah yang sangat amat terpencil bahkan untuk listrik saja hanya menyala sampai pukul 7-8 malam kemudian mati lampu hingga pagi hari. Keadaan geografisnya pun sangat sulit ditempuh jika menggunakan motor harus berhati-hati. Jarak puskesmas terdekat dengan Jere sangat jauh. Ini pengalaman yang menyenangkan semoga lain waktu kami bisa ke Jere lagi.
RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (3-habis)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Sang mufti telah menyatakan dukungan sebelum negara Indonesia resmi diproklamasikan. Saat itu, dari tempat pengungsiannya di Jerman, Syekh Muhammad Amin al-Husaini menyatakan rakyat Palestina mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dukungan ini disiarkan Radio Berlin berbahasa Arab pada 6 September 1944. Pernyataan dukungan tersebut gaungnya menggema ke kawasan Timur Tengah dan menarik simpati rakyat negara-negara di kawasan tersebut. Dukungan serupa juga dinyatakan seorang saudagar ternama Palestina saat itu, Muhammad Ali Taher, setahun sebelum Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI. Dia bersimpati terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia dan spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia.” Dukungan ini lalu menjadi modal besar untuk memperjuangkan pengakuan dari negara-negara lainnya di dunia. Setelah seruan dari mufti Palestina itu, negara berdaulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali yakni negara Mesir pada 1949, lalu diikuti India. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Timur Tengah lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan ini membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan dan pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional. Fakta sejarah tersebut tertulis dalam buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M Zein Hassan Lc. Faried mengatakan fakta sejarah tersebut juga yang membangkitkan MER-C untuk memprakarsai usaha bersama rakyat Indonesia guna membangun rumah sakit di Gaza-Palestina. “Kami memandang rumah sakit ini akan menjadi tali batin rakyat Indonesia, yang selalu akan mendukung kemerdekaan Palestina,” katanya. Kini bangunan rumah sakit boleh dikatakan telah selesai. Selanjutnya, masih dibutuhkan dana Rp 65 miliar untuk pengadaan peralatan medis. MER-C memasang target rumah sakit tersebut mulai dioperasikan tiga bulan ke depan, sekitar Juni. Untuk soft launching, kata Faried, dibutuhkan dana Rp 15 miliar untuk pembelian peralatan medis dari Rp 65 miliar keseluruhannya. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/04/03/n3f6zv-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-3habis
RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (2)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Rencananya di sana juga akan dibangun Wisma Rakyat Indonesia seluas 340 m2. Pembangunan rumah sakit tersebut diprakarsai oleh para aktivis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). LSM Indonesia yang bergerak di bidang kemanusiaan, terutama yang berhubungan dengan pengobatan dan kesehatan serta kegawatdaruratan. Bagi MER-C memang tak mudah mengumpulkan dana sebanyak itu tanpa peran serta nyata rakyat Indonesia. Memang, pembangunan rumah sakit ini terkesan lambat dibandingkan dengan proyek-proyek kemanusiaan, uang diprakarsai donatur individual maupun kelompok dari negara-negara Timur Tengah ataupun Uni Eropa. Negara-negara tersebut dengan cepat dapat merealisasikan proyek bantuan mereka tanpa kendala dana yang berarti, seperti jalan-jalan, sekolah-sekolah, dan rumah-rumah susun di Gaza. Setidaknya di Gaza telah berdiri juga rumah sakit bantuan masyarakat Uni Eropa, yang pembangunan hingga operasionalnya hanya memerlukan waktu sekitar dua tahun. Rumah sakit itu kini oleh pemerintah setempat dikelola sebagai rumah sakit umum. Lepas dari kesan lambat di atas, berbeda dengan pembangunan yang dilakukan donatur dari negara-negara Timur Tengah dan Uni Eropa, Rumah Sakit Indonesia memiliki nilai lain bagi masyarakat Gaza di sana. Warga Gaza mengetahui rumah sakit ini benar-benar dibangun dari sumbangan masyarakat Indonesia dan mungkin tanpa sepeser pun dana dari Pemerintah Indonesia (people to people). Dengan pendanaan semacam itu, rumah sakit tersebut akan menjadi monumen tali silaturahim dan persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Palestina, khususnya yang tinggal di Gaza. Ir Farid Thalib, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, mengatakan pembangunan rumah sakit ini bisa juga dikatakan sebagai ungkapan rasa terima kasih rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. Bagaimana tidak, katanya, sejarah mencatat rakyat Palestina merupakan warga dunia yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, saat negara Indonesia yang masih seumur jagung terpuruk karena blokade Belanda yang ingin menjajah Indonesia lagi, rakyat Palestina dengan lantang menyatakan kepada dunia pengakuan mereka terhadap kemerdekaan Indonesia. Dukungan ini diprakarsai mufti besar Palestina saat itu, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini. Kata Farid, surat dukungan yang ditandatangani sang mufti ini berhasil diselundupkan ke Indonesia dan diterima Presiden Sukarno yang saat itu sedang dalam pengungsian di Yogyakarta. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/04/03/n3f6mj-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-2
RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (1)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Rumah Sakit Indonesia di Gaza masih membutuhkan dana Rp 65 miliar guna pengadaan peralatan medis di sana. GAZA — Rupiah demi rupiah yang dikumpulkan para dermawan Indonesia telah menampakkan wujudnya di Jalur Gaza, kawasan Palestina yang kini didera blokade Zionis Israel. Di utara Gaza, tepatnya di kawasan Bayt Lahiya, Rumah Sakit Indonesia telah memasuki tahap akhir pembangunan. Bangunan rumah sakit tersebut terdiri atas dua lantai dan satu basement, tampak kokoh berdiri tanah sekitar 1,6 hektare. Bentuknya yang khas, didesain segi delapan, menyerupai bentuk Masjid Qubbah As-Sakhrah di dalam kompleks Masjid Al Aqsha, Yerusalem, membuat rumah sakit ini menonjol di lingkungannya. Namun, keberadaan rumah sakit tersebut juga dengan lingkungan di sekeliling yang dalam lima tahun terakhir ini telah dipenuhi dengan puluhan unit apartemen lima sampai 10 lantai dan kompleks sekolah di sana. Dulunya kawasan ini termasuk daerah pertanian. Kompleks apartemen di kawasan itu dibangun oleh donatur perorangan dari sebuah Negara Teluk. Sementara, sekolah-sekolah di kawasan ini dibangun atas bantuan donatur dari negara Turki. Setiap hari, di depan rumah sakit berlalu lalang anak-anak sekolah dan juga warga setempat yang akan pergi ke tempat kerja mereka di kawasan lain Gaza. Maklum, karena tempatnya yang boleh dikatakan di ujung utara Gaza, hanya sekitar 2,5 km dari perbatasan dengan Israel, kawasan ini relatif sepi dari aktivitas bisnis. Dalam perjalanan pergi dan pulang, warga sering menyempatkan diri mampir ke kompleks rumah sakit itu, terutama untuk meneguk segelas air bersih gratis yang disediakan khusus di halaman rumah sakit tersebut—untuk melepas dahaga mereka. Saat mampir, warga kadang bertanya, kapan rumah sakit ini akan selesai. Mereka berharap rumah sakit itu bisa memudahkan mereka untuk mengakses pelayanan kesehatan, tak perlu jauh-jauh lagi pergi ke rumah sakit di kawasan lain di Gaza. Kapan waktu itu akan datang? Walaupun bangunannya hampir 100 persen selesai, untuk operasional rumah sakit itu masih membutuhkan dana Rp 65 miliar guna pengadaan peralatan medis di sana. Gedung rumah sakit ini mulai dibangun sejak Mei 2011. Dana mencapai Rp 35 miliar telah tertanam untuk pembangunan bangunan utama rumah sakit (seluas 9,600 meter persegi) dan juga gedung manajemen rumah sakit. Dana tersebut murni dari sumbangan masyarakat Indonesia. Dana itu juga akan dipakai untuk membangun infrastruktur lingkungan rumah sakit (jalan, pagar, taman, dan saluran pembuangan air). Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/04/03/n3f61l-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-1
Press Conference conducted by Freedom Flotilla Coordinator

Istanbul – Today (28/3) was conducted a press conference by koordinator Fredoom Flotilla’s coordinator and lawyers representing prosecutors in a case of Israeli’s army attack toward the crew of Freedom Flotilla. Adnan Wirawan of TPM ( Muslim’s Lawyers team) has questioned on what to do if Turkey’s court decided to close the case, and IHH Chairman Bulent Yildirim has answered the fact since the beginning Freedom Flotilla has won the case. He also mentioned that Turkey’s law also has provided clear foundation that in a case like this, the four Israeli Generals would be immediately arrested. According to Bulent, a “public case” could not be covered according to Turkey’s law since each court’s session conducted would show to the world that the case has still been going on. Bulent also said if only the case was closed by the judges, therefore it only showed the defeat of Turkey, since the case is a great opportunity to show its national law power. And even if the case was closed, the Mavi Marmara ship is still available and ready to be used in re-sailing to Gaza.