MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Hakim MA : Bantu Palestina Lebih Utama Karena Belum Merdeka

Jakarta, 27 Jumadil Awwal 1435/28 Maret 2014 (MINA) – Hakim Tinggi Mahkamah Agung Pri Pambudi Teguh  menilai rakyat Palestina seharusnya lebih utama mendapat bantuan dari rakyat Indonesia karena negeri itu satu-satunya yang belum merdeka di dunia hingga sekarang.  Hal itu disampaikan oleh Pri Pambudi kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) seusai menyalurkan donasinya untuk rakyat Palestina melalui lembaga kemanusiaan di bidang kegawatdaruratan, MER-C (Medical Emergency Rescue – Committee) di Jakarta, Jumat. “Alasan saya berdonasi untuk rakyat Palestina, karena mereka belum merdeka. Jika di negara-negara lain, Muslimin sudah merdeka tapi mereka teraniaya di negerinya. Berbeda untuk Palestina, selain mereka teraniaya, mereka juga sedang memperjuangkan kemerdekaannya,” kata Hakim Tinggi yang juga mengajar di beberapa universitas itu. Pri mengaku, dirinya sudah lama simpati dengan perjuangan rakyat Palestina dan secara pribadi ia hanya bisa berdoa kepada Allah. Baru pada kesempatan ini ia akhirnya mendonasikan sebagian hartanya untuk rakyat Palestina melalui MER-C. Menurut pria asli Jawa Tengah itu, sudah sepatutnya rakyat Indonesia mendukung dan membantu perjuangan rakyat Palestina, karena jauh sebelumnya, rakyat Palestina sudah membuat dukungan terbuka bagi kemerdekaan Republik Indonesia. “Itu wujud nyata pengorbanan rakyat Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia,” kata Pri. Ia mengungkapkan, sebelum Indonesia merdeka, sudah ada pengusaha kaya raya Palestina yang mengorbankan hartanya untuk kemerdekaan Indonesia. Pri juga menyampaikan apresiasinya kepada MER-C yang dinilainya telah memberikan sumbangsih terhadap apa yang dibutuhkan oleh masyarakat Gaza dengan pelaksanaan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang merupakan rumah sakit traumatologi khusus untuk korban perang. “Pembangunan rumah sakit traumatologi yang diprakarsai oleh MER-C adalah tepat sasaran. Sebab, setelah Perang Gaza 2008-2009, di mana wilayah yang terblokade digempur habis-habisan oleh Israel, hampir tidak ada rumah sakit yang sanggup menangani trauma akibat perang itu,” katanya. Pembangunan Rumah Sakit Indonesia oleh MER-C yang bekerjasama dengan relawan dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah se-Indonesia, telah selesai dalam pembangunan. Kini memasuki tahap ketiga, yaitu pengadaan alat kesehatan. Dana pembangunan tersebut murni berasal dari rakyat Indonesia yang mayoritas dari kalangan menegah ke bawah. Meski dibangun di daerah konflik yang sewaktu-waktu penjajah Israel menembakkan roket, namun sejak pembangunan dimulai pada 14 Mei 2011, rumah sakit tidak pernah mengalami serangan. Melalui MINA, Pri juga menghimbau para donatur yang lain agar tidak pernah berhenti membantu saudara-saudara mereka di negeri lain, khususnya bagi rakyat Palestina. “Meskipun hanya sekedar doa di dalam hati. Saya juga melihat, ada saudara-saudara kita yang hanya bermodal tenaga, dengan ikhlas meninggalkan keluarganya untuk membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza sesuai dengan keahliannya,” tambahnya. (L/P09/P04/EO2). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/nasional/16748-hakim-ma-bantu-palestina-lebih-utama-karena-belum-merdeka.html              

Laporan Tim MER-C Terkait Konferensi Pers Penyerangan Freedom Flotilla di Turki

Istanbul – Pada hari ini (28/3) telah diadakan konferensi press oleh koordinator Fredoom Flotilla dan pengacara yang mewakili para penuntut atas kasus di mana tentara Israel melakukan penyerangan terhadap awak Freedom Flotilla. Adnan Wirawan dari TPM ( Tim Pengacara Muslim) bertanya apa yang akan dilakukan jika peradilan Turki memutuskan untuk menutup kasus ini, dan dijawab oleh ketua IHH Bulent Yildirim bahwa sebenarnya sejak awal pihak Freedom Flotilla telah memenangkan kasus ini. Hukum yang ada di Turki pun sebenarnya sudah menyediakan landasan yang jelas bahwa dalam kasus seperti ini ke empat Jenderal Israel yang dituntut segera ditangkap. Sebuah “public case” tidak dapat ditutup menurut hukum yang berada di Turki. Setiap sidang yang dilaksanakan menunjukkan kepada dunia bahwa kasus ini masih berjalan. Jika pun kasus ini akhirnya ditutup oleh para hakim, maka ini hanya menunjukkan kekalahan dari pihak negara Turki, karena kasus ini merupakan kesempatan besar untuk menunjukkan kekuatan hukum negaranya. Dan kalaupun kasus ini ditutup, maka kapal Mavi Marmara ada, dan dapat digunakan untuk kembali berlayar menuju Gaza.                

Slank Galang Dana Untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Slank selalu tertarik dengan kegiatan sosial. Mereka antusias melakukan penggalangan dana untuk membantu sesama manusia. Sekarang, mereka bekerjasama dengan relawan Mer-C guna membantu pengadaan isi atau peralatan rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina.   “Kami bersama Mer-c galang dana untuk rumah sakit di Palestina. Sekarang kami mau kumpulkan lagi dana untuk mengisi isinya rumah sakit di rumah sakit Indonesia di Palestina,” ucap Bimbim, Jumat, (28/3/2014), di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Begitulah personel Slank. Mereka mengaku lebih tertarik mengikuti kegiatan kemanusiaan, ketimbang kegiatan kampanye yang biasanya berlangsung menjelang pemilu. “Dari Januari, kami selalu manggung di acara sosial. Karena kami percaya dengan kedahsyatan sedekah. Kami percaya Tuhan akan memberikan yang lebih,” ucapnya. Ivanka, sang bassis menambahkan Slank ingin selalu hadir dalam kegiatan sosial untuk membantu orang yang membutuhkan. Misalnya, untuk mereka yang menjadi korban bencana. “Kalau untuk ke depannya mengalir saja,” tandasnya. Sumber : http://www.tribunnews.com/seleb/2014/03/28/slank-galang-dana-untuk-rumah-sakit-indonesia-di-gaza                

Witness Court Hearing on Mavi Marmara Case

Istanbul – On March 27,  2014 has been held a further hearing over an assault case against the  Freedom Flotilla 2010 that caused the death of 9 activists aboard Mavi Marmara.   The trial called some of Freedom Flotilla organizers Turkey, namely those who were responsible on guarding Mavi Marmara and a cargo ship named Defne Y , that brought building materials  to be used in Gaza,Palestina.  Dilaver Kutluay, who was on board of Defne Y when the attack occurred, witnessing how he saw Israeli soldiers were continuously shooting, throwing gas bombs and pointing laser guns at Mavi Marmara ship. He also heard people on board screaming, ensuring him that many people were injured. Dilaver recalled at least 20 Israeli soldiers who boarded Defne Y and underlined the existence of a person who claimed to be Jew, speaking fluent Turkish, and acknowledged he was a Turkish representative in Israel, forcing Defne Y passengers to sign off a document while threatening that if the document was not signed, the penalty is 10 years in prison, in Israel Dilaver claimed that his goods were taken, being stripped off and beaten several times, even when he wanted to help an injured friend at Ashdod prison. Dilaver added that there was an Israeli soldier who spoke fluent Turkish to Kapal Defne Y and when asked, he said that he came from Istanbul. Omer, who were aboard Mavi Marmara when the attack occurred, said until now he is still traumatized by the incident that he experienced almost four years ago, since he always thinks that Israeli soldier will come from the helicopter on the deck of his house. At the end of trial, all lawyers filed a claim to the court. They said that in Turkish law, the case categorized as systematic torture so that judges should perform procedure arrest toward General Gavriel Ashkenazi, Admiral Eliezer Marom, Brigadir General Avishai Levi, and Major General Amos Yaldin. Lawyers also asserted that human right is above all law and all defendants were required to comply with all court orders and explained the reason of their actions. They also demanded judges to freeze the property of four people and asked the connection between Turkish police department and the Israeli since while a passport of one Turkish citizen was returned back after being hold in Israel, the person asked who gave the passport to them. The police officer only asked the Mavi Marmara passenger not to ask more details. By the end of the trial session, judges announced that the decision of procedure arrest will be on the next court which falls on May 26, 2014.              

Laporan Tim MER-C dari Sidang Lanjutan Kasus Mavi Marmara

Istanbul – Pada tanggal 27 Maret 2014 telah diadakan sidang lanjutan atas kasus penyerangan terhadap Freedom Flotilla 2010 yang menyebabkan kematian 9 aktifis di atas kapal Mavi Marmara. Sidang kali ini memanggil sebagian dari panitia penyelenggara Freedom Flotilla asal Turki, yaitu mereka yang bertanggung jawab mengawal kapal Mavi Marmara dan kapal kargo bernama Defne Y yang saat itu membawa di antaranya bahan bangunan untuk digunakan di Gaza, Palestina. Dilaver Kutluay, yang berada di atas kapal Defne Y ketika penyerangan terjadi, dalam kesaksiannya menceritakan bagaimana ia dapat melihat tentara Israel menembak tanpa henti, melempar bom gas dan mengarahkan laser senjata ke arah kapal Mavi Marmara. Ia juga mendengar jeritan dari orang-orang yang berada di atas kapal Mavi Marmara yang membuat ia yakin bahwa banyak orang yang terluka di sana. Dilaver mengingat bahwa setidaknya ada 20 orang tentara Israel yang menaiki kapal Defne Y. Dilaver juga menggarisbawahi mengenai adanya orang yang mengaku sebagai orang Yahudi yang berbicara bahasa Turki dengan sangat fasih sebagaimana orang Turki pada umumnya, yang mengaku sebagai perwakilan konsulat Turki di Israel, memaksa penumpang Defne Y untuk menandatangani sebuah dokumen sambil mengancam bahwa jika dokumen ini tidak ditandatangani maka hukumannya adalah 10 tahun penjara di Israel. Dilaver mengaku bahwa barangnya diambil, ditelanjangi beberapa kali, dipukuli beberapa kali bahkan ketika ingin membantu kawan yang terluka di penjara Ashdod. Dilaver menambahkan bisa bahwa ada tentara Israel yang berbicara kepada kapten Kapal Defne Y dengan menggunakan bahwa Turki yang sangat fasih, dan ketika ditanya, tentara Israel ini menjawab bahwa ia berasal dari Istanbul. Omer, yang berada di atas kapal Mavi Marmara ketika penyerangan terjadi mengatakan bahwa sampai saat ini ia masih trauma atas kejadian yang ia alami hampir empat tahun lalu, karena ia selalu berpikir bahwa tentara Israel akan datang dan turun dari helikopter ke teras rumahnya. Di akhir sesi kesaksian kali ini para pengacara menyatakan tuntutannya kepada pengadilan. Mereka mengatakan bahwa dalam hukum Turki kasus ini masuk ke dalam kategori penyiksaan sistematis maka para hakim harus melakukan prosedur penangkapan terhadap General Gavriel Ashkenazi, Admiral Eliezer Marom, Brigadier General Avishai Levi, dan Major General Amos Yaldin. Para pengacara juga menegaskan bahwa hak asasi manusia terletak di atas semua hukum, dan para tertuntut harus mematuhi semua perintah pengadilan dan menjelaskan alasan perbuatan mereka. Para pengacara juga menuntut para hakim untuk membekukan kekayaan ke empat orang tersebut. Para pengacara juga mempertanyakan hubungan antara kepolisian Turki dan Israel karena ketika paspor salah satu warga Turki dikembalikan setelah disita di Israel, dan ditanyakan kepada polisi, siapa yang memberikan paspor ini kepada mereka, polisi ini hanya meminta penumpang Mavi Marmara ini untuk tidak banyak bertanya. Di akhir persidangan, hakim mengumumkan bahwa keputusan untuk melakukan prosedur penangkapan akan dilakukan di sidang berikutnya yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2014.                

Mavi Marmara Conference Search for Justice in Istanbul

Istanbul – Mavi Marmara Conference Search for Justice  “Not the law of the strong but justice for all” has been held on March 25, 2014 at Ali Emiri Kultur Merkezi, Istanbul, Turkey. The conference that was initiated by IHH aiming to unite mission and vision in an effort to prosecute Israel crimes mainly on Mavi Marmara ship and Freedom Flotilla in general.  On the opening session, IHH Chairman Bulent Yildirim said although there are so many challenges in order to prosecute Israel, whereas the Turkey’s judges refused on Furkan Dogan’s murder case, but however this is the first time Israel has been prosecuted by many countries for the same case, which means that Israel is experiencing the largest upsets in the history of their occupation. At the meantime, Dror Feiler, who is a former Israel citizens insisted that Israel should be brought to the International Court that has already brought Milosevich in Den Haag. Ahmet Dogan, the father of the late Shahid Furkan Dogan said that his son was a US citizen although he did not receive justice from the US court since to date, US law does not allow criminal prosecution on Israel state due to no agreement yet to the state. Meanwhile Greta Berlin told the initial movement voyage to Gaza was pioneered by  Greta herself with other four members in  2008. At the same time, Dimitri Plionis explained that there should be a common perception that Freedom Flotilla was an international initiation consisting 36 countries, not only initiated by Turkey. Ziyad Patel who is the lawyer of Gadija Davids (South Africa) comparing apartheid system that happened in South Africa to the one that has been still going in Palestine. Ziyad said that international colonialism  is heavily criticized by international community and this case can be raised in the lawsuits against Israel. Prof Dr Ali Emrah Bozbayindir explained that there are two things that can make these cases become more strategic, namely the attacks against humanitarian reinforcements can be categorized as a serious war crime, meanwhile if we can prove that the killing was done by “execution style”, this can be eliminate Israel’s alibi that they had done self defense on Mavi Marmara ship. Some of speakers presented included Ismail Bilgen, son of Shahid Ibrahum Bilgen, Ugur Yildirim, Yasin Samli, Ahmet Turk of Palestine, Boye Gonzales of Spain, France and Gilles Dever from Gulden Sonmez of IHH.              

Laporan Tim MER-C dari Konferensi Mavi Marmara “Search for Justice” di Turki

Istanbul – pada tanggal 25 Maret 2014 telah diadakan konferensi  Mavi Marmara Search for Justice, “Not the law of the strong but justice for all” di Ali Emiri Kultur Merkezi, Istanbul, Turki.  Konferensi yang digagas oleh IHH ini bertujuan untuk menyatukan misi dan visi dalam usaha menuntut Israel atas kejahatannya di kapal Mavi Marmara khususnya dan Freedom Flotilla pada umumnya.   Pada sesi pembuka, ketua IHH Bulent Yildirim mengatakan bahwa walaupun terdapat banyak sekali tantangan yang dihadapi dalam menuntut Israel, di mana bahkan para hakim di Turki menolak kasus pembunuhan atas Furkan Dogan, akan tetapi ini adalah untuk pertama kalinya Israel dituntut oleh berbagai negara untuk kasus yang sama, yang mana ini berarti bahwa Israel sedang mengalami gangguan terbesar dalam sejarah penjajahan mereka. Sementara itu, Dror Feiler, yang merupakan mantan warga negara Israel menegaskan bahwa sudah seharusnya Israel diseret ke Mahkamah yang juga telah membawa Milosevich di Den Hague. Ahmet Dogan, ayahanda dari Syahid Furkan Dogan mengatakan bahwa anaknya yang merupakan warga negara Amerika Serikat sekalipun tidak mendapatkan keadilan di Mahkamah Amerika Serikat, karena hukum di Amerika Serikat tidak memungkinkan dilakukannya tuntutan kriminal atas negara Israel, karena belum ada kesepakatan dengan negara tersebut sampai saat ini. Greta Berlin menceritakan asal mula gerakan pelayaran menembus Gaza yang dipelopori antara lain oleh Greta sendiri bersama empat orang lainnya di tahun 2008. Dimitri Plionis menjelaskan bahwa harus ada kesamaan persepsi bahwa Freedom Flotilla merupakan inisiasi internasional yang terdiri dari 36 negara, bukan hanya inisiasi negara Turki.  Ziyad Patel yang merupakan pengacara dari Gadija Davids (Afrika Selatan) membandingkan sistem Apartheid yang terjadi di Afrika Selatan Adam yang sedang berlangsung di Palestina. Ziyad mengatakan bahwa kolonialisme internasional sangat dikecam oleh masyarakat internasional dan hal ini dapat diangkat dalam tuntutan terhadap Israel. Prof Dr Ali Emrah Bozbayindir menjelaskan bahwa ada dua hal yang dapat membuat kasus ini menjadi lebih strategis, yaitu bahwa penyerangan terhadap bala bantuan kemanusiaan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang serius, sementara apabila kita dapat membuktikan bahwa pembunuhan dilakukan dengan cara “excecution style”, ini dapat menghilangkan alibi Israel bahwa mereka melakukan sela defence di kapal Mavi Marmara. Hadir juga sebagai pembicara di antaranya Ismail Bilgen, anak dari Syahid Ibrahum Bilgen, Ugur Yildirim, Yasin Samli, Ahmet Turk dari Palestina, Gonzales Boye dari Spanyol, Gilles Dever dari Perancis dan Gulden Sonmez dari IHH.                

MER-C gelar Media Gathering di Waroeng Solo Kemang

Jakarta, 17/3, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menggelar Media Gathering di Waroeng Solo, Kemang, Jakarta Selatan. Acara ini dipandu oleh moderator Zulfatan Faizin dari Metro TV serta menghadirkan Dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C serta Dr. Joserizal Jurnalis SpOT, Presidium MER-C.   Acara dimulai dengan makan siang bersama, lalu menampilan video profil MER-C yang dibuat oleh Jurnalis Kompas TV, Silvano Hajid. Tayangan video menyorot mengenai berbagai aktivitas kemanusiaan yang digalang oleh MER-C sejak tahun 2004 hingga 2014, di dalam dan di luar negeri seperti aksi untuk Tsunami di Aceh, Rohingya di Myanmar, badai topan Haiyan, di Filipina, Somalia dan aksi perdamaian dengan kapal Mavi Marmara yang diserang oleh tentara Israel, bencana alam di Merapi, Yogyakarta, Sinabung, Medan dan Kelud, Jawa Timur.  Selain itu, MER-C juga sudah membangun 28 klinik yang tersebar dari Aceh hingga Papua, 3 buah rumah sakit di dalam dan luar negeri, seperti RS Galela di Halmahera Utara dan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Dr Henry memberi sambutan dan menuturkan sejarah MER-C yang tanpa sokongan dana dan sumber daya manusia yang besar namun berkat bantuan Allah SWT berhasil mengumpulkan dan membentuk tim medis serta donasi dari masyarakat. Ia juga menjelaskan bahwa seluruh relawan MER-C merupakan unpaid volunteers dan sama-sama memiliki tujuan bahwa aksi kemanusiaan ini merupakan ladang amal mereka. Sementara itu, Ir. Faried Thalib yang merupakan Presidium MER-C dan Ketua tim Konstruksi RS Indonesia di Gaza, Palestina memberikan laporan mengenai pembangunan RS Indonesia yang 100 persen secara fisik telah selesai. Ir. Faried yang merupakan salah satu Presidium MER-C dan baru saja pulang dari Gaza untuk melakukan equipment assessment untuk RS Indonesia mengatakan bahwa 95 persen bahan bangunan yang dibutuhkan untuk pembangunan RS Indonesia berasal dari Jerman dan Turki, yang masuk dan dijual ke Mesir dan Israel. Setelah kata sambutan dari para Presidium MER-C, diskusi dibuka dengan penuturan dari Subhan, Jurnalis TV One yang baru saja ikut misi medical equipment assessment untuk RS Indonesia di Gaza. Subhan menjelaskan kesulitan untuk masuk ke Gaza dari Rafah, Mesir dikarenakan perubahan jadwal pembukaan gerbang menuju Palestina yang hanya dibuka sekali dalam dua minggu selama tiga hari. Subhan juga menyatakan kekagumannya akan RS Indonesia yang telah dibangun oleh para relawan MER-C sebagai Rumah Sakit yang luar biasa besar dan bagus. Presidium MER-C Dr Sarbini menjawab pertanyaan dari moderator mengenai alas an MER-C juga melakukan aksi kemanusiaan di luar negeri, tak lain dan tak bukan adalah ingin membantu sesama manusia yang sangat membutuhkan bantuan, tanpa memandang suku bangsa, ras, dan agama. Seperti yang telah dikemukakan DR Joserizal, bahwa MER-C yang merupakan LSM yang merdeka, tidak tergantung pada suatu partai politik atau di bawah Negara, berusaha bersikap netral dalam memberikan bantuan kemanusiaan serta menjadi penyampai pesan-pesan politik kemanusiaan. Karenanya sangat diharapkan MER-C menjadi problem solver dari sebuah permasalahan. Acara ditutup dengan memberikan kenang-kenangan kepada jurnalis Kompas TV Silvano Hajid yang telah membuat video profil MER-C serta foto bersama dengan para Presidium dan relawan MER-C.        

Naif Band Peduli Derita Palestina

Jakarta, 15 Jumadil Awwal 1435/16 Maret 2014 (MINA) – Grup musik pop Indonesia, Naif Band, menunjukkan jiwa sosialnya dengan turut serta dalam kampanye peduli untuk warga Palestina melalui program “Gerakan Rp 50 Ribu/Orang”.  Di sela-sela acara panggungnya di ARTE Indonesia Art Festival 2014, Jakarta, Sabtu malam (15/3), Naif menyempatkan diri dalam pengambilan video kampanye penggalangan dana untuk pengadaan alat-alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang bertujuan membantu dan meringankan penderitaan warga Gaza yang selalu menjadi sasaran tembak militer Israel. Band yang terbentuk pada 22 Oktober 1995 di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu terdiri dari David (vokal), Emil (bass), Jarwo/Mr. J (gitar), dan Pepeng (drum). Bagi David, vokalis Naif, memberi adalah suatu kenikmatan yang lebih dari pada menerima. “Karena ada yang berkurang di sana (Palestina). Memang tujuan hidup kita memenuhi yang kurang di tempat yang lain,” katanya. “Ketika terjadi perang Gaza, saya merasa bahwa ini akan terjadi terus,” tambah David. Senada dengan rekannya, Emil mengatakan bahwa tidak ada alasan menolak untuk ikut terlibat dalam kampanye bantuan untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza. “Apa lagi untuk rumah sakit, tentunya karena alasan kemanusiaan. Apa lagi di negeri yang dijajah oleh ‘tamu’ (Israel), karena menyelamatkan satu manusia sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia,” katanya dengan mengutip sebuah ayat Al-Quran. Menurut putera (alm.) KH. Hussein Umar, mantan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu, peran serta Naif dalam membantu rakyat Palestina dinilai masih sangat kecil. “Saya pribadi, ini hanya secuil yang bisa kita lakukan untuk Palestina dan kemanusiaan,” tambah Emil kepada MINA. Naif sendiri adalah band yang sudah sering terlibat dalam kegiatan sosial untuk korban bencana alam dan pelestarian lingkungan. Rumah Sakit Indonesia di Gaza dibangun oleh para relawan Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C) dengan dana murni dari rakyat Indonesia sebagai bentuk peduli dan bantuan bagi rakyat Gaza. Bangunan Rumah Sakit Indonesia sudah selesai dibangun dan memasuki tahap pengadaan alat-alat kesehatan agar bisa segera dioperasikan. (L/P09O2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/16244-naif-band-peduli-derita-palestina.html                

Jihan Fahira : Bantu Rakyat Palestina Ibadah

Jakarta, 15 Jumadil Awwal 1435/16 Maret 2014 (MINA) – Menganggap membantu rakyat Gaza adalah ibadah, aktris dan model Jihan Fahira, turut berpartisipasi dalam kampanye “Gerakan Rp 50 Ribu/Orang” untuk pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza. “Terlibat dalam kampanye kemanusiaan ini, bagi saya adalah ibadah kepada Allah, apa lagi ini tidak sulit,” kata Jihan saat ditemui Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di kediamannya, Jakarta, Sabtu (15/3).   Menurut pesinetron di salah satu stasiun televisi swasta itu, dengan mengeluarkan Rp 50 ribu per-orang untuk membantu pembelian alat-alat kesehatan RS Indonesia, tidaklah begitu sulit. Ia juga menyimpulkan bahwa solidaritas rakyat Indonesia terhadap penderitaan rakyat Palestina di Jalur Gaza  ada kemajuan, namun belum maksimal dan signifikan. “Saya berharap, dengan adanya kampanye seperti ini, hati kami semua lebih tergugah untuk membantu para umat yang terzalimi di sana,” kata isteri aktor Primus Yustisio itu. Dalam kampanye pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza itu, Jihan menghimbau rakyat Indonesia agar bukan hanya umat Islam yang perduli terhadap penderitaan warga Gaza, tapi juga umat agama yang lainnya. Organisasi kemanusiaan di bidang medis, Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C), telah membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza menunaikan amanat rakyat Indonesia untuk membantu meringankan penderitaan rakyat Gaza yang selalu terancam oleh serangan militer Israel sewaktu-waktu. Anggota Presidium MER-C, Ir. Faried Thalib mengatakan ketika kepulangannya dari Gaza tiba di Bandara Internasional Soekano-Hatta, semua dana pembangunan RS Indonesia murni berasal dari rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, terutama golongan menengah ke bawah. Rumah sakit yang terletak sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel itu, secara fisik pembangunannya sudah selesai. Agar rumah sakit tersebut bisa beroperasi, maka dibutuhkan alat-alat kesehatan dengan perkiraan dana sekitar 65 milyar, dua kali lipat dari biaya pembangunan fisiknya yang sudah selesai, Karena itulah, MER-C melibatkan banyak figur publik untuk menggalang dana agar pengadaan alat kesehatan dapat cepat tercapai. (L/P09/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/16239-jihan-fahira-membantu-rakyat-gaza-adalah-ibadah.html                  

Silahkan bertanya?