MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

RS Indonesia Di Gaza, Dari Rakyat Indonesia Untuk Palestina

Jakarta, 13 Jumadil Awwal 1435/14 Maret 2014 (MINA) – Ketua tim pembangunan rumah sakit (RS) Indonesia di Gaza, Faried Thalib mengatakan pembangunan RS Indonesia itu bukti kecintaan rakyat Indonesia untuk perjuangan rakyat Palestina. Faried yang baru saja datang dari Gaza bersama enam relawan lainnya tiba di Jakarta, Kamis malam, pukul 23.00 WIB. Keenam relawan itu adalah Edy Wahyudi (Ketua Tim), Tata Lukita, Karidi, Rochman, Luthfi Paimin, dan M. Arsyad Ridho (semuanya berasal dari Pondok Pesantren Al Fatah, Bogor).  Faried mengucapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah mendermakan hartanya untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza itu. “Semua dana pembangunan RS Indonesia murni berasal dari rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, terutama golongan menengah ke bawah,” paparnya. “Mudah-mudahan tahun 2014 ini RS Indonesia sudah bisa beroperasi. Mohon dukungan dan doa semua masyarakat Indonesia,” tambah Faried. Mengenai penanganan operasional RS Indonesia, Faried mengatakan, akan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah setempat sebagai tuan rumahnya. ”Mereka yang lebih tahu sasaran dan manajemennya, kita hanya menyediakan peralatan dan gedungnya,” katanya. Sementara itu, Edy Wahyudi dalam sambutan pelepasan relawan mengatakan, pembangunan fisik RS Indonesia sudah selesai, saat ini timnya tengah berkonsentrasi menyediakan alat kesehatannya. Pembangunan RS Indonesia itu di motori oleh Medical Emergency Rescue Commettee (MER-C), Radio Silaturahim (RASIL), Pondok Pesantren Al Fatah Indonesia yang berpusat di Bogor, Aqsa Working Group (AWG), dan Kantor Berita Islam Internasional Mi’raj Islamic News Agency/MINA. RS Indonesia, menjadi sejarah dan bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia bisa mewujudkan solidaritas internasional dalam bentuk nyata. Karena itu, kaum muslim harus menyempurnakan apa yang sudah dicapai dengan melengkapi rumah sakit tersebut melalui pengadaan peralatan kesehatan mutakhir agar bisa berfungsi secara optimal untuk membantu kemanusiaan. “Ini merupakan wujud semangat ke-Islaman kita melawan kolonialisme Israel,” tambah Edy. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa mengatakan, pengadaan alat kesehatan untuk RS Indonesia Gaza membutuhkan anggaran Rp 60 milyar lebih atau dua kali lipat dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk grup band Slank untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahkan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009. Lokasi RS Indonesia itu berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel, sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU penjajah Zionis Yahudi tersebut. Meski selalu dipantau, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina, di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. (L/P04/P015/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/16174-rs-indonesia-di-gaza-dari-rakyat-indonesia-untuk-palestina.html        

Relawan RS Indonesia Kembali

Tanggerang – pada tanggal 13 Maret 2014 sebanyak enam orang relawan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza telah kembali ke tanah air. Karidi, Edy Wahyudi, Luthfi Paimin, M. Arsyad Ridho, Tata Lukita S dan Rochman tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta pada Pukul 22.20 Wib dengan menaiki maskapai Etihad Airways. Ke enam relawan kembali ke tanah air bersama-sama dengan tim yang diberangkatkan MER-C untuk melakukan Assessment terhadap alat kesehatan untuk RS Indonesia, yang terdiri dari Ir. Faried Thalib, Ahya Sodri, serta wartawan Yoebal Ganesha Rasyid dari Republika dan Subhan Hariadi Putra TV One.   Saat ini fisik RS Indonesia telah dapat dikatakan rampung, akan tetapi selain pembangunan Wisma Rakyat Indonesia  dan renovasi masjid yang terletak di dekat RS Indonesia, MER-c juga masih menggalang dana untuk pengadaan alat kesehatan yang berjumlah sekitar 65 miliar rupiah              

Ombat dukung Penggalangan Dana untuk RS Indonesia Di Gaza

Jakarta, 11 Jumadil Awal 1435/12 Maret 2014 (MINA) – Vokalis grup band ‘Tengkorak’ Ombat  yang biasa membawakan lagu-lagu underground (metal) mengajak penggemarnya dan seluruh rakyat Indonesia menyukseskan pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza Palestina. “Allahu Akbar, ayo kita dukung pengadaan alat kesehatan untuk penyelesaian pembangunan RS hdonesai Gaza Palestina,” katanya kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Jakarta, Rabu (12/3).  Ombat yang punya nama asli Muhammad Hariadi Nasution sebagai ‘komandan’  band ‘Tengkorak’ salah satu band metal yang mengusung tema islami dalam lagu-lagunya ini menunjukkan kepeduliannya dengan mendukung program Gerakan Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan (Alkes) RS Indonesia Gaza. “Ini amal nyata yang harus kita dukung untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina,” kata Ombat yang juga menjadi ketua Lembaga Bantuan Hukum Muslim Indonesia (LBHMI). Ombat sangat mendukung pembangunan RS Indonesia di Gaza sebagai bentuk silaturahim, dukungan dan  bantuan rakyat Indonesia pada rakyat Palestina. Dia juga ikut ambil bagian dalam pembuatan video untuk kampanye program Gerakan Rp 50 ribu per orang yang dimotori oleh Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C). “Untuk kemanusian terlebih untuk Palestina kita harus dukung dan suskseskan pengadaan Alkes RS Indonesia di Gaza,” katanya. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa, mengatakan, pengadaan Alkes untuk RS Indonesia Gaza membutuhkan anggaran Rp 65 milyar, atau dua kali lipat lebih dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu MER-C bekerja sama dengan berbagai pihak untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. “Guna suksesnya program Gerakan Rp 50 ribu per orang ini untuk pengadaan Alkes RS Indonesia Gaza dan kami kerjasama dengan banyak pihak termasuk Ombat Tengkorak,” kata Luly. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari  2009 lalu. Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahudi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke (L/P07/EO2 ). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/16129-ombat-tengkorak-dukung-galang-dana-untuk-alkes-rs-indonesia-di-gaza.html                

Vadi Akbar Ajak Masyarakat Bantu Pengadaan Alkes RS Indonesia Di Gaza

Jakarta, 10 Jumadil Awal 1435/11 Maret 2014 (MINA) – Artis dan penyanyi muda berbakat, Vadi Akbar Kalamata mengajak masyarakat Indonesia mendukung pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza Palestina. Vadi mengajak untuk andil dalam dalam program Gerakan Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan (Alkes) RS Indonesia Gaza. “Pembangunan RS Indonesia Gaza merupakan kegiatan amal rakyat Indonesia untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina,” katanya kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Selasa (11/3) di Jakarta.  Vadi yang juga pendiri dan ketua Komunitas Suara Anak Bangsa ini mengatakan, kepeduliannya pada pembangunan RS Indonsia di Gaza atas dasar kemanusian semata. Terlebih pembangunannya dilakukan oleh putra-putra Indonesia yang dimotori oleh Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C) yang selama ini banyak kiprah dalam membantu sesama. “Saya percaya dengan MER-C yang amanah dan profesional dalam setiap program amalnya,” kata adik kandung dari vokalis Vidi Aldiano ini. Dukungan penyanyi yang telah merilis single perdananya, “Jangan Salah” ini juga dibuktikan pada kesediaannya terlibat dalam pembuatan video kampanye program Gerakan Rp 50 ribu per orang yang dibuat MER-C. “Sebaik-baik orang adalah yang bisa memberi manfaat pada sesama, mari kita bantu pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza,” kata Vadi saat pengambilan gambar. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa, mengatakan, pengadaan Alkes untuk RS Indonesia Gaza membutuhkan anggaran Rp 65 milyar, atau dua kali lipat lebih dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu MER-C bekerja sama dengan berbagai pihak untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. “Guna suksesnya program Gerakan Rp 50 ribu per orang ini untuk pengadaan Alkes RS Indonesia Gaza dan kami kerjasama dengan banyak pihak termasuk artis Vadi Akvar,” kata Luly. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari  2009 lalu. Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahudi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke (L/P07/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/16085-vadi-akbar-ajak-masyarakat-bantu-pengadaan-alkes-rs-indonesia-di-gaza.html                

MER-C held Palestine Talkshow at Islamic Book Fair

Jakarta, 9/3, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) held a Talkshow titled “Palestine as the Focus of Uniting  the Struggle of Muslims “ at Islamic Book Fair at Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. The event presented speakers ex- Indonesian Cooperative Minister and ICMI member, Mr. Adi Sasono and MER-C’s Presidium Dr Joserizal Jurnalis. An hour and half talkshow moderated by Angga Aminudin of Radio Silaturahim 720 am, discussing about the reason behind Palestine becoming the unity of Muslims Struggle in the world. Joserizal, as one of MER-C founders and pioneer of Rumah Sakit Indonesia at Gaza said that struggle for Palestinian liberation is the struggle of people who love peace and welfare of mankind. Furthermore, Joserizal added that Jerusalem liberation has also been supported by non-muslims like The Pope and Catholics, also the Jews who do not approve Israel Zionism. Meanwhile, Adi Sasono also mentioned about MER-C important role in building Indonesia Hospital at Gaza, Palestine, becoming the benchmark of justice and humanity in the world. He also added that the action marked a strong commitment from Indonesian people for Palestinian, mainly for Gaza people, that the struggle must keep going on and has been fully supported by Indonesian people from Sabang to Merauke. Joserizal explained that MER-C building such a hospital instead of worship house since it will be more beneficial to the people of Gaza. He then added that the hospital would need a sustainable program, skills of volunteers, hospital management and etcetera. Joserizal also uttered that the hospital building has been fully funded from Indonesian people, built by the spirit of Indonesian for Palestinian struggle for Independence The talkshow also presented AbdelRahim Shihab of Islamic Society of Gaza, a Palestinian, that he and Palestinian people showed their gratitude to Indonesian people for their support for all Palestinians. The event concluded with question-and-answer session and also taking picture between participants and the speakers.                

MER-C selenggarakan Talkshow “Palestina Fokus Pemersatu Perjuangan Umat Islam” di Islamic Book Fair

Jakarta, 9/3, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengadakan Talkshow bertopik “Palestina Fokus Perjuangan Pemersatu Umat Islam pada acara Islamic Book Fair di Panggung Selasar,  Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Acara ini menghadirkan narasumber Mantan Menteri Koperasi dan anggota ICMI, Adi Sasono dan Presidium MER-C Dr Joserizal Jurnalis SpOT.   Talkshow berdurasi satu setengah jam yang dimoderatori oleh Angga Aminudin dari Radio Silaturahim  720 am mendiskusikan tentang mengapa Palestina menjadi pemersatu umat Islam di dunia. Dr Jose sebagai salah satu pendiri MER-C dan pelopor Rumah Sakit Indonesia di Gaza mengemukakan bahwa perjuangan terhadap pembebasan Palestina merupakan perjuangan manusia yang cinta akan perdamaian dan kemaslahatan umat. Selanjutnya Dr Jose juga menambahkan bahwa pembebasan tanah Jerusalem ini didukung oleh umat non Muslim, seperti umat Katholik dan Paus, sebagai perwakilan dari umat Katholik di dunia serta warga Yahudi yang tidak menyetujui Zionisme Israel. Sementara itu, Adi Sasono juga menyebutkan, peranan penting MER-C dalam membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina menjadi tolak ukur akan penegakan keadilan dan kemanusiaan di dunia. Ditambahkannya lagi, hal tersebut juga merupakan sebuah komitmen yang kuat dari rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina dan Gaza khususnya, bahwa perjuangan ini  harus tetap berlangsung dan mendapat dukungan sepenuhnya dari masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Ketika ditanyakan lebih lanjut mengenai atas dasar apa MER-C membangun Rumah Sakit di Gaza dan bukan dalam bentuk rumah ibadah, Dr Jose menjelaskan bahwa dengan dibangunnya rumah sakit di Gaza ini diperlukan program berkesinambungan, seperti keperluan akan keahlian dari para relawan, manajemen rumah sakit, dan sebagainya yang nantinya akan lebih bermanfaat bagi rakyat Gaza.  Dr Jose juga mengemukakan pembangunan rumah sakit ini 100 persen disokong oleh dana dari warga Indonesia, serta dibangun dengan spirit dan semangat rakyat Indonesia untuk perjuangan rakyat Palestina. Talkshow ini juga menghadirkan AbdelRahim Shihab dari Islamic Society of Gaza yang merupakan warga Palestina, yang mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia atas perjuangan dan bantuannya untuk masyarakat Palestina. Acara ditutup dengan acara tanya jawab dengan peserta yang hadir serta foto bersama dengan nara sumber.        

Salma Arsitek Cilik Bandung Peduli Palestina

Bandung – Semilir angin sore Kota Kembang menghembuskan hawa sejuk yang membuai, membawa kedamaian dan ketenangan. Nampak di sebuah rumah, seorang anak perempuan berpakaian serba putih dengan jilbab yang juga putih sedang asyik melukiskan beberapa sketsa kehidupan.  Ketika ditengok lebih dekat, ternyata anak perempuan itu sedang menggambarkan sebuah sketsa bangunan berbentuk segi delapan dengan serius. Saya langsung sadar, itu bukan sembarang bangunan, itu bukan sembarang gambar, itu bangunan bersejarah yang bahkan sejak belum dibangun, bangunan tersebut sudah membuat sejarah. Ya, bangunan segi delapan itu adalah bangunan Rumah Sakit Indonesia yang berada di wilayah perang Gaza, Palestina. Saat ini MER-C sedang mengkampanyekan gerakan 50 ribu rupiah untuk membantu pengadaan alat kesehatan di RS Indonesia yang sudah selesai dibangun. Pada Jumat (7/3), Miraj Islamic News Agency (MINA) bersama MER-C berkesempatan bersilaturahim ke rumah orang tua Salma di kawasan Arcamanik, Bandung. Nampak sekali rumah itu penuh dengan karya-karya jenius Salma yang dipajang maupun dibundel. Ketika saya mencoba berkenalan, anak itu menjawab dengan tersipu malu khas gaya anak perempuan seusianya. “Namanya siapa neng?” sapaku. “Salma…,” jawabnya dengan malu-malu. Siti Salma Khairannisa Soemadiredja yang lebih akrab dipanggil Salma, saat ini duduk di kelas V SD Muhammadiyyah 7 Bandung. Putri dari Bapak RM Zainal Hasan Soemadiredja dan Ibu Anarita Devi ini lahir di Bandung, 26 Juli 2003. Sejak kecil Salma memang senang bereksplorasi terutama menggambar. Awalnya dari gambar orang lalu kemudian arsitek. Tingkahnya memang tidak jauh berbeda dengan anak seusianya yang masih gemar bermain, tapi ada suatu yang istimewa dari Salma, dia sudah tergerak untuk membantu anak-anak Palestina dengan jerih payahnya sendiri. Sejak tahun 2007 sampai 2013, Salma sudah menghasilkan lebih dari 2000 gambar dengan berbagai tema. Lomba yang pernah diikuti diantaranya Lomba Gambar di Museum Geologi Bandung. Gambar-gambar Salma juga pernah dipamerkan di pentas Reuni Arsitektur Universitas Parahyangan angkatan 87 di Bandung, 2012. Mewarisi keahlian arsitek dari orang tuanya, karya-karya Salma mampu mengundang decak kagum arsitek yang saat ini menjabat sebagai Walikota Bandung, M. Ridwan Kamil. Salma dan Om Emil (sapaan akrab Ridwan Kamil), berkolaborasi mendesain sebuah rumah tinggal yang saat ini digunakan oleh penduduk Cibodas Lembang, Bandung. Salma berharap bisa bertemu lagi dengan Om Emil untuk kembali berkolaborasi mendesain. Sikap solidaritas tinggi Salma terlihat ketika memberikan karya gambar untuk pasien kanker dalam rangka Hari Kanker Anak Internasional pada 2013 yang dibuka oleh Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar. Dan sekarang, Salma pun kembali terlibat dalam aksi solidaritas tinggi membantu rakyat Palestina yang terjajah dengan mendukung program pembangunan RS Indonesia di Gaza. Ada sebuah cerita menarik dari Salma ketika dia melihat foto-foto anak Palestina korban agresi militer Israel yang ada di ponsel pintar ibunya, Salma pun menangis. Mata kecil polos itu meneteskan butiran air mata yang mengundang tanya buat sang ibu, Anarita Devi. “Kenapa Salma?” tanya sang ibu. “Salma sedih bu,,,” ucap mulut mungil Salma menjawab pertanyaan sang ibu. Akhirnya Anarita pun berinisiatif menghubungi pihak Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) untuk menyumbangkan karya sketsa Salma kepada MER-C dan Salma pun mengaku senang bisa membantu menguruangi kesedihan rakyat Palestina melalui MER-C. Salma mengaku senang bisa berbuat yang bermanfaat bagi saudara-saudaranya di Palestina. (L/P01/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/artikel/feature/16015-salma-arsitek-cilik-asal-bandung-peduli-palestina.html                          

MER-C Jogjakarta Bergerak di Acara Voluntary Day

Jogjakarta – Pada tanggal 9 Maret 2014 MER-C cabang Jogjakarta telah ikut ambil bagian dalam acara Voluntary Day yang diadakan oleh Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI). Acara yang diadakan di Benteng Vrederburg Gedung E Jogkakarta ini juga diikuti oleh beberapa komunitas dan organisasi, di antaranya PMI yang hadir dengan program donor darahnya. MER-C cabang Jogjakarta menawarkan pemeriksaan tekanan darah gratis disamping memberikan sosialiasi mengenai organisasi MER-C dan menjual merchandise MER-C. Tercatat sekitar lima pulu orang mengunjungi stand MER-C cabang Jogjakarta.                

Wanadri Ajak Bangsa Indonesia Lebih Peduli Kemanusiaan

Bandung, 7 Jumadil Awwal 1435/8 Maret 2014 (MINA) – Ketua Umum Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung WANADRI, M. Ilham Faizal mengajak segenap komponen bangsa untuk meningkatkan kepedulian terhadap masalah kemanusiaan. Permasalahan kemanusiaan yang saat ini terjadi, menurut dia,  antara lain adalah masalah bangsa Palestina yang masih dijajah Israel, padahal,  selayaknya penjajahan sudah tak terjadi di zaman ini. Ilham mengibaratkan masalah kemanusiaan seperti ketika berada di alam liar. Alam memperlakukan semua manusia sama, oleh sebab itu semua manusia  juga harus mendapatkan haknya secara adil. Sementara itu mahasiswa ITB yang juga anggota WANADRI, Indra Hidayat  menyatakan kesiapannya mendukung program pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza. WANADRI siap mendukung segala upaya untuk membantu rakyat Palestina, salah satunya dengan dukungan terhadap pengadaan alat kesehatan untuk RS Indonesia yang baru saja selesai dibangun. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C saat itu, Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Saat ini, pengadaan alat kesehatan untuk RS Indonesia membutuhkan anggaran Rp60 milyar lebih atau dua kali lipat dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu MER-C bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk WANADRI untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. (L/P012/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/15989-wanadri-ajak-indonesia-wujudkan-peduli-kemanusiaan-yang-lebih-baik.html                      

Adi Sasono : Berikan Yang Terbaik Bantu Palestina

Jakarta, 7 Jumadil Awal 1435/8 Maret 2014 (MINA) – Mantan Menteri Koperasi dan UKM pada era Presiden BJ Habibie, Adi Sasono mengimbau bangsa Indonesia untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat Palestina dengan tindakan-tindakan dan sumbangan yang nyata. Adi merujuk pada wujud bantuan masyarakat Indonesia melalui Medical Emergency Rescue-Comittee (MER-C) kepada Palestina berupa Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang baru saja dibangun. Saat ini, MER-C tengah mencoba menggalang dana untuk pengadaan alat kesehatan untuk melengkapi fasilitas RS Indonesia. “Pembangunan RS Indonesia ini menjadi bukti solidaritas rakyat Indonesia dalam bentuk nyata,” ungkap Adi kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) saat ditemui di Jakarta, Jumat (7/3). RS Indonesia, ujarnya, menjadi bukti sejarah bahwa masyarakat Indonesia bisa mewujudkan solidaritas dalam bentuk yang nyata. Karena itu kita harus menyempurnakan apa yang sudah dicapai dengan melengkapi melalui pengadaan peralatan mutakhir agar bisa berfungsi secara optimal untuk membantu kemanusiaan. “Ini wujud semangat ke-Islaman yang harus kita jaga, sekarang kita ditantang oleh kolonialisme Israel sehingga kita harus buktikan dengan langkah nyata,” lanjut Adi. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa mengatakan, pengadaan alat kesehatan untuk RS Indonesia Gaza membutuhkan anggaran Rp 60 milyar lebih atau dua kali lipat dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk grup band Slank untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. “Untuk suksesnya program Gerakan Rp 50 ribu per orang ini untuk pengadaan alat kesehatan RS Indonesia Gaza dan kami kerjasama dengan Slank dan juga lainnya,” katanya. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009. Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahudi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. (L/P01/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/15980-adi-sasono-berikan-yang-terbaik-bantu-palestina.html                

Silahkan bertanya?