MER-C Beri Bantuan Medis Ke Warga Apartemen Yang Diputus Aliran Air dan Listrik-nya

Jakarta, 27 Rabiul Awwal 1435/29 Januari 2014 (MINA) – Tim kesehatan Medical Emergency Rescue- Committee (MER-C) memberikan bantuan medis kepada warga apartemen Graha Cempaka Mas, Jakarta yang saat ini bersengketa dengan pihak pengembang Duta Pertiwi (grup Sinar Mas). Aliran listrik dan air pada mereka diputus, sehingga banyak di antara mereka mengalami masalah kesehatan beberapa diantaranya mengalami masalah kesehatan yang serius. Ada pula warga yang jadi korban penganiayaan. Presidium MER-C, Jose Rizal Jurnalis mengatakan pihaknnya memberikan layanan bantuan kemanusiaan kepada siapa saja yang membutuhkan.”Kami akan selalu konsisten memberi bantuan kemanusiaan kepada siapapun, tapi sama sekali tidak masuk ke dalam ranah konflik yang terjadi,” katanya saat meninjau lokasi, Rabu malam. “Saat ini warga apartemen ini (Graha Cempaka Mas) tidak memiliki akses listrik dan air untuk kebutuhan hidupnya selama beberapa hari ini. Akibatnya mereka kini membutuhkan bantuan medis karena banyaknya warga yang menderita akibat minimnya pasokan kedua unsur kebutuhan primer itu. “Ada di antara mereka yang mengalami trauma karena kekerasan fisik, ada anak-anak yang lumpuh dan tidak bisa meninggalkan tempat tinggalnya. Ada juga orang tua yang stroke dan mereka butuh bantuan segera,”papar Jose. Irawati (72) warga Graha Cempaka Mas yang menderita stroke berharap agar masalah warga dengan pihak pengembang segera selesai agar tidak ada warga yang dirugikan atas beberapa insiden yang terjadi beberapa hari terakhir.” Kasihan kami para orang tua, juga anak anak, mereka harus jadi korban tanpa bisa berbuat banyak,” katanya. Sementara itu, Veri, warga apartemen yang menjadi korban penganiayaan mengatakan, pihak pengembang harus memberikan hak-hak warga apartemen, seperti listrik, air dan fasilitas lan yang akhir- akhir ini ditahan pengembang.“Air dan listrik adalah hak warga. Itu semua sangat diperlukan untuk kehidupan kami,” katanya. Warga lainnya, Agnes menyatakan telah melaporkan hal ini kepada Wakil Gubernur, Basuki Cahaya Purnama (Ahok). Namun belum ada tanggapan dari dia maupun pemerintah terkait. “ Saya sudah kirim laporan pengaduan ke pak wakil gubernur, tapi belum ada respon,” ungkapnya. Mulai Rabu Malam, tim Mer-C menyediakan ambulan dan beberapa tenaga medisnya di lokasi. “Kita akan terus stand by sampai kondisi benar-benar kondusif,”kata Jose Rizal kepada wartawan Mi’raj News Agency (MINA). “Kita bertugas adalah murni misi kemanusiaan. Kita tidak masuk ke ranah konfliknya. Namun, siapapun yang membutuhkan pertolongan medis, akan berusaha kita bantu, baik dari pihak warga maupun pihak lainnya,”tambahnya. Apartemen Graha Cempaka Mas terdiri atas 188 unit apartemen dan 161 rukan (rumah kantor). Mereka bersengketa dengan pihak Duta Pertiwi selaku pengembang sejak enam bulan lalu. Puncaknya, pihak pengembang memutus aliran listrik dan air para penghuninya beberapa hari terakhir ini. Warga juga merasakan teror dan ancaman keamanan dari pihak pengembang.(L/P04/IR) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/14536-mer-c-beri-bantuan-medis-ke-warga-graha-cempaka-mas.html
Polisi Diminta Tegas Soal ‘Ormas Preman’ Peneror Warga Cempaka Mas

Ilustrasi penyerangan. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Organisasi kemanusiaan medis, Mer-C menyesalkan terjadinya penyerangan dari beberapa massa organisasi kemasyarakat (ormas) kepada warga di sekitar Apartemen Cempaka Mas, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (28/1) malam. Menurut Mer-C penyerangan oleh beberapa ‘ormas preman’ ini ancaman konflik kemanusiaan di wilayah Jakarta apabila tidak segera ditangani oleh aparat kepolisian. “Kita khawatir ‘ormas preman’ ini terus meneror masyarakat bila Polisi tidak menindak tegas mereka,” ujar Ketua Mer-C Jose Rizal Jurnalis kepada Republika, Rabu (29/1). Mer-C khawatir kesewenang-wenangan ‘ormas preman’ ini. Ini terlihat dari penyerangan ke kantor Pengurus Pengelola Rumah Susun (PPRS) Apartemen Cempaka Mas. Penyerangan oknum ormas ini merusak kantor PPRS Apartemen Cempaka Mas. Permasalahan muncul setelah pihak pengembang apartemen PT Duta Pertiwi yang bertindak sepihak memutus aliran listrik dan air bersih di apartemen itu. Penghuni apartemen yang tergabung dalam PPRS berupaya melawan, hingga akhirnya terjadi penyerangan dari oknum massa ormas yang diduga membekingi pihak pengembang. Menurut Kepolisiam Resor Metro Jakarta Pusat, Kombes Angesta Romano Yoyol, konflik antar pengembang dan warga apartemen yang melibatkan pihak ormas ini terkait sengketa lahan. “Kedua pihak merasa berhak memiliki lahan,” ujarnya. Saat ini, ujar dia, pihak kepolisian sedang memediasi kedua belah pihak. Dari aksi penyerangan ini, seorang warga apartemen luka akibat pemukulan dari beberapa oknum ormas tersebut. Reporter : Amri Amrullah Redaktur : Joko Sadewo Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/14/01/29/n05fk0-polisi-diminta-tegas-soal-ormas-preman-peneror-warga-cempaka-mas
MER-C dan Rasil bantu Korban Banjir Muara Gembong

Bekasi – Pada tanggal 28 Januari 2014 MER-C bekerjasama dengan Rasil (Radio Silaturahim 720 AM) memberikan bantuan medis Dan sembako kepada para korban banjir di Cabang Dua, Muara Gembong, Bekasi Utara. Di daerah ini banjir yang terendah tercatat setinggi 1,5 m. Sementara jumlah warga yang terimbas banjir di daerah ini tercatat sebanyak 500 KK (6000 orang).
MER-C Jalankan Misi Kemanusiaan Dengan Prinsip ‘Rahmatan Lil Alamin’

Jakarta, 25 Rabi’ul Awwal 1435/27Januari 2014 (MINA) – Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C), Dr. Henry Hidayatullah, menyatakan Ahad malam di kantor pusatnya, Jakarta, bahwa MER-C memegang prinsip Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) dengan cara bersikap dan berposisi netral di setiap daerah bencana. Dan itu disebut sebagai cara MER-C berdakwah. Berikut ini adalah petikan wawancara ekslusif reporter MINA Rudi Hendrik dengan Dr. Henry: MINA: Sebagai lembaga kemanusiaan dalam bidang medis, apakah MER-C bisa masuk ke semua wilayah bencana dan semua kalangan? Dr. Henry: Kita usahakan untuk bisa masuk ke semua daerah bencana. Dalam konteks pertolongan, kita sebisa mungkin menempatkan diri dalam posisi yang netral. Bencana itu ada dua: bencana alam dan bencana konflik atau perang. Kita harus netral, karena kita menolong. Jika kita sudah memihak, berarti tidak netral lagi, tentunya akan terbedakan. Sementara, kita tahu bahwa nilai-nilai ke-Islaman adalah nilai-nilai yang universal, bisa semuanya. Inilah yang kita angkat dari apa yang Rasul ajarkan, sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam), kita adopsi nilai-nilai itu dalam konteks menolong korban bencana. MINA: MER-C cenderung religius, apa pertimbangan MER-C hingga mengirim tim ke Filipina untuk korban Topan Haiyan (Yolanda), padahal mereka negeri yang mayoritas penduduknya beragama Katolik? Dr. Henry: Orang mendapat hidayah tidak selalu dalam konteks yang sakral atau nilai-nilai religi yang pakem seperti dari shalat atau puasa saja. Tapi bisa juga dari nilai-nilai kemanusiaan yang lain, nilai-nilai keadilan, nilai-nilai kejujuran, dari nilai-nilai yang memang ada di Islam. Sebenarnya kita juga dai. Dai itu bisa juga mengajak, tapi juga bisa berupa prilaku. Dan kami dalam konteks membantu, seperti itulah yang diajarkan Islam. Pintu hidayah itu banyak, mudah-mudahan dengan membantu, hidayah masuk dari pintu itu. Dalam konteks Filipina yang negerinya notabene mayoritas non-Muslim, mereka welcome dengan kita. Mereka ada menujukkan rasa terima kasih yang sangat besar kepada kita. Tapi kita tidak mengharapkan terima kasihnya, melainkan agar jalinan kemanusiaan dan nilai-nilai Islam bisa tersampaikan. Kita Islam, tapi dengan cara seperti itu kita bisa menghilangkan stigma bahwa Islam itu teroris. Dengan itu sangat bisa. Ketika stigma itu gembar-gembor di media, mereka pastinya juga menerima stigma bahwa Islam teroris. Mudah-mudahan dengan hadirnya kita kemarin, bisa mengubah gambaran itu. MINA: Pernah memberi sumbangsih saat konflik Ambon. Bagaimana tim menempatkan diri dalam wilayah konflik dua keyakinan yang siap saling bunuh atas dasar agama? Dr. Henry: Atas dasar-dasar itulah, kita harus menunjukkan. Identitas kemusliman harus muncul dengan nilai-nilainya universal, itu yang harus tampil. Pada konteks di Ambon, kebetulan kita Muslim, sedangkan konfliknya Muslim dan non-Muslim, maka yang paling aman pada saat itu, kita ditempatkan di masjid. Kebetulan, korban yang banyak terlantar, adalah Muslim. Nasrani di Ambom punya rumah sakit sendiri. Di Tual, Maluku Tenggara, mereka punya rumah sakit sendiri. Dan Muslim tidak punya. Sisi-sisi ini seharusnya menjadi tanggungjawab Muslim bersama, kenapa bisa terjadi ketimpangan seperti ini. Ketika kita ke tempat pengungsi, ada yang terkena panah dan lainnya, sehingga harus dioperasi. Karena dia mengungsinya di masjid, itu tidak tertangani. Di lain pihak, kita mengunjungi rumah sakit Langgur milik Nasrani. Korban-korban mereka secara medis sudah tertangani. Sekali lagi, kita memposisikan diri kita netral, sebagai seorang dokter dan sebagai seorang Muslim. Lalu kami tanya kepada pihak rumah sakit Nasrani: Adakah korban yang perlu dioperasi dan bisa kami operasi? Akhirnya ada satu. Walaupun di awal, mereka sempat menyatakan: Mohon maaf, kami tidak menerima pasien Muslim. Mereka menyangka kami ingin menolong orang Muslim yang kemudian dilakukan penanganan di rumah sakit itu. Saya tahu alasannya kenapa, karena alasan keamanan. Yang pasien Muslim ke mana? Awalnya di pengungsian, kemudian kami mengoperasinya di rumah sakit umum yang notabene kosong, karena tenaga-tenaga medisnya juga mengungsi. Bisa saja pasien Muslim ditangani di sana (rumah sakit Nasrani), tapi bisa saja karena mereka emosi atau lainnya, sehingga tidak bisa membuat mereka tetap netral. MINA: Apakah tim medis Nasrani bersikap netral? Dr. Henry: Nah, itu dia masalahnya. Netral atau tidak netral, ditampakkan dengan statement atau dengan sikap. Kalau dari segi statement, jelas mereka tidak netral, karena mereka katakan “kami tidak terima pasien Muslim”. Itu pun saya coba memahaminya sebagai suatu kewajaran. Pengurus Rumah sakit itu dominan Nasrani. Akan menjadi kerepotan sendiri jika ada pasien Muslim datang ke sana, bisa jadi bentrok. Sebab kesalahpahaman sangat tinggi. Karena kita pun, ketika menjalankan operasi bagi pasien Nasrani, dijaga oleh aparat. MINA: Kesulitan apa yang dijumpai jika memasuki wilayah konflik dua agama, apa lagi MER-C lebih Islami? Dr. Henry: Pertama, Kesulitan yang jelas adalah kurangnya SDM. Untuk mendapatkan SDM yang mau masuk ke daerah konflik, relatif lebih susah dibandingkan dengan daerah bencana alam. Kedua, memilih relawan pun harus yang trusted (yang terpecaya), artinya tidak akan membuat yang macam-macam di daerah yang penuh kecurigaan tinggi. Kita memang harus membawa relawan yang paham dengan situasi itu dan benar-benar kita percaya. Ketiga, transportasi. Tidak semua transportasi bisa menjangkau daerah tersebut. MINA: Sejauh mana kepercayaan kalangan Nasrani terhadap tim? Dr. Henry: Kita bicara apa adanya, bahwa kita punya niatan untuk menolong. Bentuk kepercayaannya adalah ketika ada pasien yang di rumah sakit Langgur, memberikan kepercayaannya dengan pasien yang bisa kita operasi di rumah sakit umum, itu pun dengan resiko yang tinggi. Mungkin saja seandainya ada yang menyebarkan isu, itu sangat bahaya. Makanya, ketika kita melakukan operasi, dijaga oleh aparat TNI AD. Jadi ada beberapa yang bisa kita bantu dalam hal humanity (kemanusiaan), dalam konteks rahmatan lil ‘alamin, tapi juga harus dengan strategi. MINA: Untuk Banjir Manado, apakah ada cerita bernuansa SARA ditemukan? Dr. Henry: Sejauh ini tidak, saya belum menerima laporan lengkapnya. Kita di sana juga membuat pos di gereja, di masjid, karena kita mobile (bergerak terus dari satu tempat ke tempat lainnya). MINA: Apakah ada pemisahan penanganan pasien Muslim dengan non-Muslim di daerah dua agama? Dr. Henry: Itu situasional. Yang pernah saya lakukan di Tual Ambon, operasi di rumah sakit umum, setelah pasien Nasrani dioperasi, dikembalikan lagi ke rumah sakit Langgur milik Nasrani. Ini dilakukan dalam rangka keamanan. Jika tidak, justeru akan merepotkan dan membahayakan semuanya. Hal seperti itu juga pernah dilakukan oleh teman-teman di Ternate, menangani pasien Nasrani. Hanya mekanisme detailnya saya tidak tahu. MINA: MER-C sudah pernah memasuki perang Irak, bencana di
MER-C Joins Indonesian National Radio Station (RRI) for Jakarta Cares for Disaster Social Event

Jakarta – On Sunday, January 26, 2014, MER-C together with Indonesian National Radio Station (RRI), invited many parties who are also concerned including BRI, PT Dexa Medika, PT Kalbe Farma to hold a social event for flood victims in Jakarta. The event started from 10 am until its completion. MER-C sent 1 pediatrics, 3 General Practitioners, 5 Nurses and 2 Non-Medical Staffs by using 2 vehicles, that were one operational vehicle and one ambulance. From MER-C headquarter, the team gathered at RRI Medan Merdeka Barat to stay in touch at first with RRI Top Management and other cooperation partners. Of the meeting point, all team departed with a convoy of vehicles, heading to RRI Cares for Flood point, at Gg. Mesjid I, Kp Melayu Besar, Kebon Baru, Tebet, South Jakarta. It was recorded that there were 118 patients at the flood point.
Peduli Kesehatan dan Peduli Sinabung

Medan – Satgas MER-C yang merupakan relawan dari beberapa mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Keperawatan yang ada di Sumatera Utara mengadakan kegiatan “Peduli Kesehatan dan Peduli Sinabung”. Kegiatan ini rencananya akan diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu di Lapangan Merdeka yang telah dimulai sejak hari Minggu, 19 Januari 2014. Adapun rangkaian kegiatan terdiri dari pengukuran tekanan darah, kadar gula darah, asam urat, dan kolesterol. Donasi yang telah dikumpulkan pada kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap kesehatan khususnya dan juga kepedulian kepada para korban letusan Gunung Sinabung. Dana yang terkumpul sepenuhnya disalurkan langsung kepada masyarakat korban bencana yang berada di beberapa titik pengungsian. Info lebih lanjut mengenai kegiatan ini dan bencana alam Sinabung dapat menghubungi: Berikut daftar contact person relawan MER-C Medan di beberapa kampus kesehatan di Sumatera Utara terkait bencana Sinabung:
Rumah Sakit Indonesia di Gaza Diserahkan Maret

Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bangunan fisik Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina direncakan selesai Maret 2014. Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Jose Rizal Jurnalis mengatakan instalasi fisik berupa gedung, listrik, pendingin ruangan dan gas sudah selesai. “Direncanakan Maret kita serahkan ke rakyat Palestina,” ujarnya saat dihubungi Republika, Ahad (26/1). Namun, selesainya bangunan fisik belum sepenuhnya membuat RSI di Gaza bisa berjalan. Karena, peralatan medis masih belum banyak. Setelah penyerahan kepada rakyat Palestina, Mer-C akan melakukan kampanye untuk bantuan peralatan medis. Menurutnya, angka bantuan peralatan medis justru lebih besar ketimbang bantuan pembangunan fisik. “Kalau pembangunan gedung habis Rp 40 miliar, untuk peralatan medis kita butuh Rp 65 miliar,” ujar Jose. Meski belum sempurna benar, saat diserahkan nanti, RSI di Gaza sudah bisa mengoperasikan Unit Gawat Darurat (UGD), satu atau dua ruang operasi, 10 tempat tidur dan satu poliklinik. Ia masih membutuhkan perlatan seperti CT scan, instalasi ruang ICU, peralatan laboratorium dan penambahan tempat tidur untuk perawatan. Mer-C sudah berkomitmen akan terus mendampingi operasional RSI hingga lengkap peralatan medisnya. Di sisi lain, operasional RSI nantinya akan diserahkan sepenuhnya kepada rakyat Palestina. Sesuai dengan cita- cita awal, prinsip RSI adalah bantuan dari rakyat Indonesia untuk masyarakat Palestina. Teknisnya, nanti akan dibentuk kepengurusan rumah sakit yang sepenuhnya diisi orang Palestina. “Syaratnya harus berisi faksi-faksi di sana,” terang dia. Untuk itu, ia sudah menjalin komunikasi dengan faksi-faksi di Palestina utama di Gaza. Hamas, Fatah dan Jihad Islami sudah menyambut seruan ini. Namun untuk penanggung jawab tetap akan diserahkan kepada otoritas pemerintahan di Gaza. Untuk mengimbangi, ia juga menjalin komunikasi dengan Duta Besar Palestina di Indonesia yang berafiliasi dengan pemerintahan di Tepi Barat. “Jika mereka tak bisa bersatu secara politik, minimal dalam bidang kesehatan.” Sementara untuk tenaga kesehatan, dokter dan perawat lokal memiliki kompetensi yang cukup untuk menjalankan RSI. Meski secara kuantitas, Jose mengakui jumlah tenaga kesehatan asal Palestina masih kurang. “Di masa damai mencukupi. Kalau masa perang sangat kurang,” pungkas Jose. Reporter : Hafidz Muftisany Redaktur : Mansyur Faqih Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/01/26/n002lq-rumah-sakit-indonesia-di-gaza-diserahkan-maret
MER-C Bergabung Dengan RRI – Baksos Jakarta Peduli Bencana

Jakarta – MER-C bersama-sama dengan Radio Republik Indonesia yang juga menggandeng banyak pihak yang juga peduli diantaranya BRI, PT Dexa Medika, PT Kalbe Farma mengadakan bakti sosial untuk para korban banjir Jakarta. pada hari Minggu/26 Jan 2014. Kegiatan ini dilaksanakan dari mulai pukul 10.00 pagi sampai dengan selesai MER-C mengirimkan 1 dokter spesialis anak, 3 dokter umum, 5 perawat, & 2 non medis. Dengan menggunakan 2 armada, yaitu 1 kendaraan operasional & 1 ambulans. Dari MER-C tim berkumpul di RRI Medan Merdeka Barat untuk bersilaturahmi terlebih dahulu dengan Direksi RRI dan mitra kerjasama yang lain, berangkat dari meeting point tersebut, semua tim berangkat bersama-sama dengan konvoi kendaraan menuju titik RRI peduli banjir, yaitu di Gg. Mesjid I, Kp Melayu Besar, Kebon Baru, kecamatan Tebet Jakarta Selatan. Tercatat jumlah pasien saat itu sebanyak 118 orang.
MER-C Dan FIM Bantu Korban Banjir

Jakarta – pada tanggal 25 Januari 2014 MER-C bekerjasama dengan FIM RESCUE (Forum Indonesia Muda) mengadakan pengobatan bagi korban banjir di kamp pengungsian di lantai basement Carrefour MT Haryono Cawang. Tim yang terdiri dari 3 dokter, 1 pengemudi turun di wilayah ini. Tercatat jumlah pasien sebanyak 85 warga
MER-C, Berjibaku Bantu Korban Banjir Manado

Jakarta, 24 Rabi’ul Awwal 1435/25 Januari 2014 (MINA) – Pagi itu, Ahad 19 Januari 2014, tim MER-C dari Jakarta tiba di Bandara Sam Ratulangi Sulawesi Utara tepat pukul 09.30 wita. Kurang lebih setengah jam, tim medis yang sudah melahirkan sejarah besar dengan mendirikan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza itu menunggu tim medis Makasar hingga pukul 11.15 wita dengan rencana menuju Kantor BASARNAS. Setelah berkumpul dan saling melepas rindu, tim langsung menuju Kantor BASARNAS Manado. Di BASARNAS, tim MER-C mendapatkan informasi mengenai letak posko utama penanganan bencana banjir Manado, tepatnya di Kantor Walikota Manado. Sekitar pukul 12.00 wita, tim medis itu, walikota beserta wakilnya bersiap untuk berkordinasi. Selepas kordinasi itulah tim MER-C segera diarahkan ke beberapa titik bencana di Kota Manado. Untuk memudahkan dalam memberi bantuan di lapangan, tim itu dipandu oleh RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) Rescue Manado. Menurut tim MER-C, sepanjang perjalanan menuju titik bencana, terlihat para warga yang menjadi korban bahu-membahu bersama TNI membersihkan rumah dan jalanan yang tertutup lumpur. Gundukan sampah seperti pakaian, perabotan rumah dan serpihan genting serta tembok rumah yang hancur pun tertimbun lumpur. Jalan-jalan utama menjadi padat akibat timbunan lumpur dan sampah sehingga memperlambat sampai titik bencana. Pukul 15.00 waktu setempat, tim akhirnya sampai di titik pengungsian pertama, tepat di Taman Makam Pahlawan Kai Ragi Weru. Di tempat itulah tim mulai memberikan bantuan medis kepada 20 pasien. Sebagian besar pasien itu berusia dibawah 18 tahun. Mayoritas pasien di titik pertama itu menderita penyakit dermatitis, cephalgia, hipertensi dan diare. Di titik ini juga, tim selesai menjalankan tugasnya sekitar pukul 16.30 wita. Tanpa menunda-nuda, tim kemudian berlanjut menuju titik kedua dari bencana banjir tersebut yang terletak di Kampung Kumoraka, Kecamatan Werang. Di titik itu, tim memberikan bantuan kepada 30 warga. Mayoritas pasien di titik ini berusia dibawah 18 tahun. Para pasien di tempat ini kebanyakan menderita ISPA, hipertensi dan dermatitis. Sekitar pukul 18.15 wita, tim ke penginapan untuk melepas lelah. Pembagian Tim Di hari kedua, Senin (20/1), untuk memaksimalkan memberikan bantuan kepada korban, tim MER-C dibagi menjadi dua. Tim pertama beranggota dr. Andi Fajar Wela dan Yan Adhitya Kusuma, sedang tim kedua dr. Rifki Hidayat dan dr. Fathul Rochman. Tim pertama bertugas melakukan survey ke Tomohon, wilayah yang terkena longsor. Sementara tim kedua melakukan mobile clinic bersama RAPI Rescue. Sekitar pukul 08.30 wita tim berangkat menuju posko utama untuk melakukan kordinasi dengan walikota dan jajarannya. Setelah melakukan kordinasi, dengan kendaraan bermotor, tim pertama menuju dinas kesehatan Kota Manado untuk mengambil obat-obatan yang dibutuhkan pasien. Obat-obatan itu lalu dibawa tim pertama menuju daerah pengungsi di Tinoor, Tomohon. Kurang lebih 90 menit, tim sampai di tempat tujuan. Tak mudah rupanya menuju tempat pengungsi di hari kedua itu. Meski jalannya beraspal, namun mendaki, licin dan rusak. Meski jalan sepertinya tak bisa dilalui, namun akses untuk mencapai lokasi masih bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Walau berat, akhirnya tim pertama sampai juga di lokasi. Bantuan medis pun segera diberikan. Sementara itu, tim kedua bersama RAPI Rescue melakukan mobile clinic di Gereja GKBP Sidan Hosanna, Tikala Kumaran. Tak kurang 30 orang korban ditangani tim kedua itu. Sebagian besar pasien itu adalah wanita berusia di atas 18 tahun. Penyakit yang diderita antara lain; dermatitis, ISPA, hipertensi, dan diabetes mellitus. Setelah selesai memberikan pengobatan, tim melanjutkan perjalanan untuk memberi bantuan kepada korban di Sindulan, Manado Utara. Sekitar 30 pasien bisa ditangani dengan baik. Di lokasi kedua ini, jenis penyakit yang diderita pasien hampir sama dengan pasien di lokasi sebelumnya. Memasuki hari ketiga, Selasa (21/1), tim MER-C melakukan kegiatan bersama dengan anggota Korem 131 Manado. Seperti hari sebelumnya, tim tetap dibagi dua dengan tugas sama seperti hari sebelumnya. Yang membedakan, tim kedua pada hari ketiga ini bekerja sama dengan FKPPI (Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan Indonesia) menuju beberapa titik bencana di wilayah Manado Utara. Sementara itu, tim pertama melakukan survey ke Kampung Merdeka, Dendengan Dalam. Dengan berjalan kaki, kurang lebih 30 menit untuk menempuh lokasi yang dituju. Menurut pengamatan tim, daerah yang dituju itu merupakan wilayah terparah yang diterjang bencana akibat luapan Sungai Tondano. Menurut penuturan korban, air meluap hingga mencapai ketinggian lebih kurang 4 meter. Akibatnya, sebagian besar rumah warga tenggelam. Beruntung, luapan air itu tak menelan korban jiwa. Sekitar pukul 12.00 wita, tim pertama tiba di posko bencana, tepat di sebuah masjid di Kampung Merdeka. Selepas shalat Dzuhur, tim MER-C bersama tim Calcaneus Universitas Hasanudin (Unhas) memberikan bantuan medis kepada masyarakat sekitar. Menurut tim MER-C, penyakit yang diderita warga kebanyakan penyakit kulit dan ISPA. Jumlah pasien yang ditangani sekitar 20 orang. Tepat pukul 14.00 wita, bantuan medis selesai diberikan. Kerjasama yang Baik /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Memasuki hari keempat, Rabu (22/1), baik tim pertama maupun tim kedua bergerak menggunakan kendaraan bermotor menuju daerah bencana. Tim pertama membuka posko di salah satu rumah warga di Kampung Merdeka. Tidak seperti hari sebelumnya, posko kali ini jauh dari masjid. Untuk mempersiapkan perlengkapan bantuan, tim baru bisa membuka layanan medis pukul 10.00 – 12.30 wita. Di hari keempat itu, pasien yang datang berobat berjumlah 10 orang, dengan usia dibawah 18 tahun. Sebagian besar menderita penyakit kulit. Sementara itu, tim kedua melakukan survey ke beberapa titik di Sario, Ketang Baru dan Tanjung. Namun kali ini tim kedua tidak memberikan bantuan medis karena di lokasi itu sudah banyak didirikan posko kesehatan. Selesai melakukan tugas di lokasi masing-masing, semua tim kembali ke Korem untuk melakukan kordinasi. Kali ini yang menjadi tujuan survey adalah daerah Pakowa. Tim berangkat sekitar pukul 15.30 wita menggunakan dua motor. Perjalanan menuju Pakowa memakan waktu sekitar 35 menit. Tiba di lokasi, tim langsung memberikan bantuan kepada pengungsi di masjid yang ada di Pakowa. Memasuk hari kelima, Kamis (23/1), dr. Wela dan dr. Fathul sudah kembali lebih awal ke Makasar. Sementara, dr. Rifki Hidayat dan Yan A Kusuma untuk sementara tetap di posko bencana. Sekitar pukul 14.00 wita, tim yang tersisa melakukan kunjungan kepada para warga untuk memeriksa kesehatan mereka. Setelah itu, tim menuju Kampung Bugis di Kecamatan