MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Rindu Suara Adzan

Cebu, Filipina – Ada satu hal yang sangat dirindukan sembilan relawan MER-C yang telah bertugas di Filipina selama satu minggu ini. Ya, rindu akan suara adzan yang biasanya akrab terdengar di Indonesia kala memasuki waktu-waktu shalat. Rasa rindu itu akhirnya terobati. Bukan karena pulang ke Indonesia, namun karena ketika melakukan pengobatan keliling (mobile clinic) hari itu, Sabtu (30/11), tim bertemu dengan komunitas muslim di wilayah Bogo, tepatnya di San Remigio yang ternyata letaknya tidak jauh dari posko tempat Tim MER-C tinggal selama ini. San Remigio adalah salah satu wilayah yang turut dilanda topan dahsyat Haiyan. Karena bertepatan dengan hari libur nasional di Filipina, yaitu Bonifacio Day atau hari kemenangan pahlawan lokal terhadap penjajahan di Filipina, maka pada hari ini hampir tidak ada aktifitas di semua sektor kehidupan. Meskipun demikian, Tim Bedah MER-C tetap melakukan jadwal operasi seperti biasa dan perawatan luka pada beberapa pasien post operasi. Sebelumnya Tim mobile clinic MER-C agak kesulitan untuk mencari transportasi. Menjelang sore hari tim baru bisa mendapatkan mobil untuk menuju San Remegio, Cebu. Seorang kontak person warga lokal yang memandu dan mengantarkan Tim ke sana. San Remegio merupakan perkampungan muslim yang baru berkembang pada tahun 2007 dan mungkin satu-satunya kampung muslim di pulau Cebu ini. Diawali oleh seorang muallaf yang berdakwah sendirian secara perlahan. Di desa ini, dan berkat upaya dakwahnya, meskipun belum selesai pembangunannya, tampak sudah berdiri tegak sebuah masjid dengan luas bangunan kira-kira 40×20 m persegi. Ini adalah satu-satunya masjid yang tim temui selama menunaikan misi kemanusiaan di Filipina, mesjid ini diberi nama masjid Madinah. Tim MER-C memulai pengobatan massal pada pukul 16.00 di area depan masjid dan diakhiri saat azan maghrib berkumandang, dengan jumlah pasien sebanyak 112 orang.  ” Subhanallah … Kami sangat terharu bertemu dengan komunitas muslim yang hanya 10 kepala keluarga. Kami juga terharu akhirnya bisa mendengar suara adzan dan bisa sholat berjamaah dengan saudara-saudara seiman kami di sini,” ungkap Islamiyah salah satu anggota tim MER-C. Bertindak sebagai Imam sholat maghrib adalah anggota Tim MER-C, dr. M. Nurul Qomaruzzaman, SpOT. “Kami juga menyampaikan salam dari muslim Indonesia,” tambah Islamiyah, yang juga akrab disapa dengan Iis. “Rasa haru tidak bisa kami sembunyikan. Sampai yang mengantar kami kesini warga local yang nonmuslim pun juga ikut terharu,” lanjutnya. ———- Selama menunaikan misi medis di Filipina, Tim MER-C tinggal di Bogo-Medellin Medical Center, sebuah RS Advent. Tim mengoperasikan dan mengobati siapa saja korban topan Haiyan di RS ini tanpa memandang ras dan agama. Meskipun berada di lingkungan nonmuslim, namun Tim MER-C merasakan perlakuan yang luar biasa dari sejawat medis di RS dan warga lokal. “Subhanallah perlakuan saudara kita di sini luar biasa, selalu menyiapkan makanan halal bagi kami,” tutur Islamiyah

Misi Konflik Myanmar, 2012

  Jakarta – Setelah menunaikan tugas kemanusiaan selama satu minggu di Myanmar, Rabu (19/9) Tim Medis MER-C alhamdulillah telah tiba dengan selamat ke tanah air. Adapun tim yang telah diberangkatkan untuk melaksanakan misi kemanusiaan di Myanmar yaitu dr.Yogi Prabowo,SpOT (Ketua Tim), dr.Zakya Yahya, SpOk, dr.Tonggo Meaty Fransisca, dr. Kresna Agung Prabowo, dan Azis Muslim (logistik). Tim medis MER-C pertama ini bertugas untuk melakukan assessment awal kondisi konflik Myanmar serta kebutuhan para korban dan pengungsi. Selain itu, tim juga mempersiapkan untuk melakukan pelayanan kesehatan kepada para pengungsi yang sakit dan menyalurkan bantuan berupa uang serta obat-obatan kepada para pengungsi di beberapa kamp pengungsi.   Tiba di Myanmar Rabu (12/9), Tim MER-C dijemput oleh staf KBRI dan dibawa ke Hotel Clover.   Kemudian tim MER-C  berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Myanmar yaitu dengan Bpk Jumara Supriyadi. KBRI kemudian membantu Tim berkoordinasi lebih lanjut dengan Ministry of Border Myanmar dan Myanmar Red Cross. Dari hasil koordinasi tersebut Tim MER-C memperoleh izin mengunjungi Rakhine State. Namun menurut KBRI, Tim MER-C tidak mendapatkan izin melakukan pengobatan kepada para pengungsi. Tim MER-C juga berkoordinasi dan mencari informasi dengan beberapa organisasi lokal seperti Al-Azhar Institute of Myanmar dan Rakhine Relief. Diperoleh informasi bahwa situasi di Rakhine dengan ibukota Sitwee masih mencekam walaupun pertikaian sudah diredam. Di Yangon tim mempersiapkan tiket ke Sitwee dan membeli obat-obatan senilai 3500 USD dari PT Kalbe Farma cabang Yangon. Di Yangon Tim MER-C sempat mengalami kesulitan dalam menggunakan alat komunikasi. Walaupun sudah membeli nomor lokal, namun buruknya sistem telekomunikasi di Myanmar menjadi hambatan yang cukup mengganggu.    Dengan koordinasi dan adanya surat izin dari Kemenlu Myanmar, pada Jum’at siang (14/9), Tim akhirnya bisa memasuki kota Sittwe (ibukota Rakhine State). Setibanya di bandara Sittwe, tampak militer dan polisi Myanmar masih berjaga ketat. Suasana ketegangan mulai terasa di sini. Pemerintah dan militer Myanmar memeriksa setiap orang yang datang. Tim dijemput oleh perwakilan dari Red Cross Myanmar, Ministry of Border dan Pejabat Militer setempat.   Selama berada di Sittwe, tim juga mendapat pengawalan yang sangat ketat dari tentara Myanmar. Satu mobil pasukan dan satu mobil komando senantiasa mengiringi perjalanan Tim bahkan pada saat mengunjungi kamp-kamp pengungsian.   Dari pengamatan Tim MER-C mengunjungi kamp-kamp pengungsian, konflik Myanmar sendiri terjadi antara etnis Rakhine yang beragama Budha dan etnis Rohingya yang beragama Islam. Akar permasalahan belum jelas, ada dua informasi yang berbeda (versi pemerintah Myanmar dan versi masyarakat rohingya). Namun kami melihat konflik ini terbatas pada dua etnis tersebut dan belum menjadi konflik agama karena di Yangon antara umat Budha dan umat Islam masih berdampingan. Namun demikian kami melihat konflik ini bisa berpotensi meluas apabila diprovokasi oleh pihak lain, seperti demo para biksu di Mandalay atau sikap pemerintah Myanmar yang menganggap etnis Rohingya bukan bagian dari warga Negara (stateless). Konflik terjadi dibeberapa daerah di Rakhine state, yaitu di Sitwee, Minbya, Maungdwe, dan Kyauktaw. Di Sitwee kami melihat beberapa lokasi kerusakan, sisa puing-puing rumah yang di bakar namun kami hanya bisa mengunjungi Sitwee. Situasi di Sitwee masih sangat sensitif antara kedua belah pihak, dan masih terasa penuh rasa curiga, juga terhadap orang asing yang memberikan bantuan. Militer Myanmar membatasi ruang gerak bantuan kemanusiaan, dengan alasan keamanan mereka mengawal setiap bantuan kemanusiaan yang masuk. Tidak semua organisasi kemanusiaan diperbolehkan, bahkan sangat besar penolakan masyarakat terhadap bantuan UN (PBB), kami melihat di surat kabar lokal tentang dokter UN yang ditahan.    Berikut Hasil temuan tim MER-C dilapangan. Ada beberapa potensi yang dapat memicu konflik didalam memberikan bantuan yaitu ;   ·         Ketidak netralan pihak pemerintah dan Myanmar Red Cross dalam memberikan bantuan kedua belah pihak. Hal ini terjadi karena seluruh aparat dan Myanmar Red Cross beragama Budha, sehingga mereka juga takut bila masuk ke kamp pengungsian rohingya, akibatnya  pengungsi rohingya lebih terabaikan, terutama dalam pelayanan kesehatan. Ketika kami tiba di kamp rohingya tampak beberapa pasien tergeletak sakit tanpa perawatan. ·         Kurangnya  koordinasi antara pemerintah pusat Myanmar dengan pemerintah daerah Rakhine State. Hal ini terbukti walaupun pemerintah pusat Myanmar menginstruksikan harus membantu  kedua belah pihak, namun tetap saja pemerintah daerah tidak atau sulit melaksanakan hal tersebut. Di lapangan tim kami sempat tidak diizinkan ke kamp rohingya ·         Usaha untuk membangun shelter atau perumahan dengan memindahkan lokasi  juga merupakan hal yang sensitif dan dapat memicu konflik baru, karena masyarakat tidak mau meninggalkan tanah leluhur mereka yang sudah mereka diami ratusan tahun   Kamp pengungsian terbagi menjadi 2 kelompok yaitu kamp pengungsian Muslim dan kamp pengungsian Budha. Tim MER-C mengunjungi 4 lokasi pengungsian, yaitu Danyawaddy Football Camp, Min Ban Camp, Danyawaddy North Camp dan Chaung Camp/Clinic Camp (Rohingya Camp). Jumlah pengungsi warga Rakhine sekitar 8.000  orang, sementara pengungsi Rohingya mencapai sekitar 18.000 orang.   Kebutuhan para pengungsi yang mendesak antara lain bahan makanan, air bersih, tempat tinggal dan kesehatan (obat-obatan dan pelayanan kesehatan). Bahkan di lokasi pengungsian Rohingya Camp, Tim MER-C menjumpai beberapa pasien dewasa dan anak-anak terbaring lemah tanpa pelayanan medis. Pemerintah Myanmar dan Myanmar Red Cros mengalami kesulitan dalam memberikan bantuan kepada kedua belah pihak karena alasan keamanan.   Awalnya Tim MER-C juga tidak diperbolehkan mengunjungi Rohingya Camp karena alasan yang sama. Namun setelah melobi dan mendesak Pemerintah dan Militer Myanmar bahwa MER-C harus menyampaikan amanah donasi dari rakyat Indonesia dan meyakinkan bahwa Rohingya Camp dapat menerima keberadaan Tim MER-C, akhirnya tim MER-C diizinkan memberikan pelayanan kesehatan dan memberikan donasi di Kamp Rohingya. Bahkan Tim MER-C juga memfasilitasi Pemerintah dan Myanmar Red Cross untuk melakukan pelayanan kesehatan di kedua belah pihak yang bertikai. Oleh karena itu, Tim MER-C menjadi tim medis pertama yang dapat memberikan pelayanan kesehatan di kedua belah pihak. Kurang lebih selama 1 minggu tim MER-C memberikan pelayanan kesehatan terhadap ratusan pengungsi yang sakit.   Dari rencana lama misi 2 minggu, namun sesuai tujuan awal sebagai tim assessment, maka dengan berbagai pertimbangan dan kondisi di lapangan, maka misi kemanusiaan awal ini berlangsung selama 1 minggu. Guna menindaklanjuti hasil assessment Tim awal dan menyalurkan lagi amanah donasi dari rakyat Indonesia, MER-C berencana mengirimkan tim lanjutan ke Myanmar. Fokus program Tim lanjutan adalah pelayanan kesehatan, bantuan obat obatan, makanan balita dan bila memungkinkan membangun Pusat Pelayanan Kesehatan Primer khususnya yang bersifat permanen bagi para pengungsi.   Kami melihat penerimaan pemerintah dan masyarakat Myanmar terhadap bantuan Indonesia  cukup baik.  Keberhasilan

Relawan Indonesia Di Gaza Kunjungi Rumah Duka Ismail Haniyah

Perdana Menteri Ismail Haniyah sedang membawa jenazah cucu pertamanya Amal Abdussalam Haniyah, di salah satu rumah sakit di Gaza City, Rabu (27/11). (Foto: Team Palestina) Gaza City, 24 Muharram 1435/28 November 2013 (MINA) – Para relawan Indonesia di Gaza berkunjung ke rumah duka Perdana Menteri Palestina Ismail Haniya setelah cucu satu-satunya pemimpin di Jalur Gaza itu meninggal pada Rabu (27/11) akibat krisis yang melanda negeri itu semakin memburuk. Amal Abdussalaam Haniyah yang masih berumur satu tahun meninggal karena penyakit infeksi pencernaan yang kemudian menyerang saraf otaknya. Amal merupakan putri dari putra sulung Ismail Haniyah yang bernama Abdussalam Haniyah. Cucu perempuan Haniyah satu-satunya itu dinyatakan meninggal di Rumah Sakit An-Nasr, Jalur Gaza, menyusul kekurangan peralatan dan obat-obatan akibat blokade berkelanjutan yang kini melanda daerah kecil itu. Dua puluh dua relawan yang kini tinggal di Beit Lahiya, utara Gaza, berangkat pada Kamis sore (28/11) ke rumah Ismail Haniyah di Jalur Gaza dan disambut langsung Perdana Menteri beserta keluarga dan jajaran pemerintahan yang juga tengah berkunjung. ‘Pada saat kami ke sana, para tamu dan warga yang ikut ta’ziah (melawat) ke rumah Ismail Haniyah,” kata koresponden MINA (Mi’raj News Agency), Muhamad Hussein. Hussein melaporkan, minimnya peralatan medis di Jalur Gaza akibat blokade Israel menyebabkan banyak pasien di berbagai rumah sakit terbengkalai dan tidak mampu dirawat sebagaimana mestinya. Namun, Hussein melanjutkan, Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang tidak lama lagi akan selesai proses pembangunannya diharapkan dapat meringankan penderitaan  masyarakat Gaza.(L/K11/P03/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/12479-relawan-indonesia-di-gaza-ta-ziah-ke-rumah-ismail-haniya.html

MER-C Beri bantuan Medis Ke Pelosok Filipina

Warga menggunakan terpal untuk melindungi mereka dari hujan saat topan melanda kota Tacloban di provinsi Leyte, Filipina tengah, Ahad (10/11). (AP/Bullit Marquez) REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) mengirimkan tim medis untuk membantu pengungsi badai Haiyan di Filipina. Tim yang terdiri dari dokter ahli bedah, ortopedi, saraf dan umum dibantu tim perawat terjun hingga pelosok Filipina. Presidium MER-C, Jose Rizal Jurnalis menyebutkan tim MER-C fokus pada pertolongan medis, mobile clinik dan tindakan operasi. Tim medis MER-C sementara bermarkas di Medellin Medical Clinic. “Tim mobile clinic juga melakukan bedah di lokasi yang memungkinkan,” ujarnya saat dihubungi Republika, Kamis (28/11). Jose menyebut lembaganya fokus memberi bantuan medis meski memiliki divisi konstruksi. Sebagai lembaga yang bergerak di bidang medis, timnya lebih mendahulukan menolong pengungsi dibanding rekonstruksi. Namun timnya juga siap menyalurkan bantuan untuk konstruksi. “Sesuai amanah masyarakat. Kalau amananahnya bangun sekolah, rumah sakit, Insya Allah disalurkan,” ujar Jose. Ketua Tim MER-C untuk Filipina, Abdul Mughni melaporkan saat ini tim sedang melakukan mobile clinic di pulau Instrasan. Daerah ini adalah daerah terjauh yang dijangkau tim dari posko di Medellin. Tim harus menempuh tiga jam perjalanan dengan ferry dilanjut boat kecil ke lokasi ini. “Separuh rumah sudah hancur atapnya. Pohon-pohon juga habis bertumbangan,” ujar Mughni dari Filipina, Kamis (28/11). Medical Clinic yang digelar sejak kedatangan disambut antusias pengungsi. Rata-rata 250 pasien ditangani setiap harinya. Saat ini yang dikeluhkan pengungsi adalah diare, Ispa dan gatal. “Tiga pekan setelah bencana tidak ada air sehingga penyakit kulit muncul,” terang Mughni. Tim membagi peran dalam misi ini. Ada yang berjaga di Medellin untuk melakukan tindakan operasi dan ada tim yang terjun dengan mobile clinic. Relawan MER-C juga telah melakukan tindakan operasi terhadap 20 pasien. Sebagian besar karena luka yang terlambat ditangani. “Kasus patah tulang 4 orang kita operasi,” ujarnya. Tim yang tiba di Filipina sejak, Sabtu (23/11) direncakan akan kembali ke tanah air 4 Desember mendatang. MER-C akan terus menggalang bantuan kemanusiaan untuk Filipina. Jose menerangkan dana untuk Filipina diambil dari pos kemanusiaan. “Kita tak ambil dari dana untuk Gaza dan Afghanistan,” kata Jose. Pihaknya juga masih menerima donasi dari masyarakat untuk membantu korban badai Haiyan Filipina. Bagi masyarakat yang ingin menyumbang lewat MER-C bisa melalui rekening BCA Cabang Kwitang 6860099339 atau Bank Syariah Mandiri Cabang Salemba  7015658899 atas nama Medical Emergency Rescue Committe. Reporter : Hafidz Muftisany Redaktur : Heri Ruslan Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/11/28/mwz801-merc-beri-bantuan-medis-ke-pelosok-filipina

Sinabung Awas, MER-C Medan Turunkan Tim Medis

Medan, Sumatera Utara – “… Saat ini status Sinabung adalah AWAS yang merupakan status tertinggi dari gunung api. MERC Medan pada subuh ini (26 November 2013) memberangkatkan tim medis terdiri dari 2 dokter dan 2 perawat untuk melakukan bantuan medis dan sekaligus penyaluran bantuan sembako, selimut dan masker. Mohon doa dan dukungan kita semua untuk misi kemanusiaan ini…bantuan yang saat ini dibutuhkan antara lain: obat-obatan, makanan siap konsumsi dan air bersih… Bantuan dalam bentuk uang dapat dikirimkan via transfer ke Bank Mandiri, Rek 1060010570243, A.n. Rinaldi Sani Nst dan konfirmasi ke CP kami. Terima kasih…CP: RINALDI 085275025138,” demikian penggalan isi pesan singkat dari relawan MER-C Cabang Medan, dr. Rinaldi Sani Nasution. Saat ini Tim MER-C Medan mengabarkan bahwa mereka sudah tiba di kota Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo. “Di sini suasana kondusif, dan hari ini tidak ada abu vulkanik,” ujar Ketua Tim medis MER-C Medan dr. Rahmad Gunawan. Lebih lanjut ia melaporkan bahwa kegiatan tim hari ini adalah melakukan assessment lapangan. “Saat ini ada 31 titik pengungsian dengan jumlah pengungsi 17 ribu. Tapi pengungsi ini kalau pagi beraktivitas biasa, sore malam mereka ke pengungsian,” tambahnya. Hari ini Tim MER-C akan melakukan rapat koordinasi dengan posko bencana BNPB, karena saat ini BPBD daerah Karo belum dibentuk. Dari hasil koordinasi dan pengamatan sementara Tim MER-C di lapangan, ada 3 titik di luar kota Kabanjahe yang perlu jadi perhatian, karena jauh dari akses Puskesmas atau RS, yakni di wilayah Payung, Tiga Binanga, dan Berastagi.

Tim MER-C Lakukan Tindakan Operasi dan Pengobatan bagi Korban Topan Haiyan

Cebu, Filipina – Tim Bedah MER-C yang dipimpin oleh Dr. Abdul Mughni SpB KBD yang bertolak ke Cebu Filipina pada Jum’at malam (22/11), telah tiba dengan selamat di Bandara Mactan Cebu pada esok tanggal harinya Sabtu (23/11) pukul 11.30 waktu setempat. Setiba di Cebu, Tim langsung berkoordinasi dengan Health Management Center guna mengurus perizinan dan pemetaan lokasi-lokasi bencana yang dianggap penting. Usai mendapatkan informasi, tim langsung meluncur ke arah utara Cebu, tepatnya Municipality of Medellin yang turut dilanda bencana dahsyat topan Haiyan pada 8-9 November 2013 lalu. Di sini tim mengunjungi Bogo-Medellin Medical Center, sebuah rumah sakit umum daerah setempat yang juga tampak mengalami kerusakan pada beberapa bagian ruangan akibat topan. Setelah berkoordinasi dengan Kepala dan staf RS serta mengevaluasi kebutuhan medis, maka Tim MER-C memutuskan untuk memberikan bantuan terlebih dahulu di wilayah ini. Malam itu, tim pun beristirahat di ruangan laboratorium yang sudah disiapkan oleh pihak RS, untuk melepas lelah setelah sehari semalam melakukan perjalanan. Esok harinya, Minggu (24/11), untuk mengefektifkan waktu dan pekerjaan, dr. Abdul Mughni selaku Ketua membagi timnya yang terdiri dari 9 relawan menjadi 2, yaitu Tim Bedah dan Tim Mobile Clinic. Tim Bedah berfokus membantu penanganan pasien-pasien trauma di RS sementara Tim Mobile Clinic bertugas menyisiri wilayah-wilayah utara Cebu yang menjadi sasaran topan Haiyan. Dr. Abdul Mughni, SpB KBD, dr. Dany Kurniadi, SpBS, dr. Nurul Qomaruzzaman, SpOT dan Ita Muswita (perawat bedah) sejak Minggu pagi langsung membantu menangani pasien yang dirawat maupun yang datang ke IGD RS. Hari itu juga dilakukan tindakan operasi dengan kasus fraktur pergelangan tangan kiri (Radius Ulna). Walaupun dengan peralatan operasi yang seadanya, yaitu ketiadaan alat electric cauter, namun operasi berhasil diselesaikan dalam waktu kira-kira satu setengah jam.  Seperti padatnya kegiatan Tim Bedah di RS, Tim yang memberikan pelayanan medis mobile clinic juga demikian halnya. Tim disambut antusias oleh warga masyarakat korban topan, tepatnya warga di Barangay of Kawit. Di wilayah ini kerusakan akibat topan terlihat di sana-sini. Meskipun rumah dan bangunan tempat tinggal mereka terkena sapuan topan, tapi warga tidak mengungsi. Mereka membuat tenda di samping reruntuhan dan sisa rumah. Bertempat di Kawit Barangay Hall yang berjarak sekitar satu jam dari Bogo Medelin Medical Center, Tim Mobile yang terdiri dari 2 dokter umum, 1 perawat dan 2 non medis melayani satu-persatu warga yang datang. Obat-obatan yang diberikan tim adalah obat-obatan yang dibawa dari Indonesia, sumbangan para donatur. Meskipun ramai warga yang berkumpul, namun mereka terlihat dengan sabar dan tertib mengantri untuk mendapatkan pengobatan. Tercatat warga yang berobat pada hari itu mencapai 216 orang. Tim dijadwalkan masih akan menginap di Bogo-Medellin Medical Center satu hari lagi sebelum bergerak ke wilayah bencana topan lainnya. Hal ini dikarenakan masih ada warga korban topan Haiyan yang memerlukan bantuan penanganan operasi, seperti fraktur pergelangan tangan bawah dan necrotic wound debridemant.

MER-C Conduct Surgery and Medical Treatment for Haiyan Typhoon Victims

Cebu, Philippines – MER-C surgical team, led by Dr. Abdul Mughni SpB KBD, which was departed to Cebu, Philippines on Friday night (22/11), has arrived safely at Mactan Cebu airport on the following day, Saturday (23/11), 11.30 am local time. At Cebu, the team has been directly coordinated with local Health Management Center in order to manage some clearance and to map out disaster locations that were considered urgent. After receiving information, all team members drove to North Cebu, on the Municipality of Medellin that has been hit by Haiyan typhoon on November 8-9, 2013. The team also visited Bogo-Medellin Medical Center, a local regional hospital that is appeared to experience damage in some parts due to the typhoon disaster. After coordinating to the Chief and Staffs of local hospital as well as evaluating medical needs, MER-C team decided to provide first aid in the region. The team stayed one night on that day in one laboratory that has been prepared by the hospital staffs, to unwind after day and night travel to the location. The following day, Sunday (24/11), to streamline time and work, dr Abdul Mughni as the Chief, divided his 9 team members into 2, they are Surgical team and Mobile Clinic Team. The surgical team would focus on traumatic patients at the hospital, meanwhile Mobile Clinic team would in charge on taking a look alongside North Cebu region that has been hit by Haiyan typhoon.   Since Sunday morning, Dr. Abdul Mughni, SpB KBD, dr. Dany Kurniadi, SpBS, dr. Nurul Qomaruzzaman, SpOT and Ita Muswita (surgery nurse) have directly treated both hospitalized patients and outpatients at Emergency room of the hospital. On that day, a surgery has also been conducted to one patient who suffered from left wrist fracture case (Radius Ulna). Despite lack of medical equipment, -without any cauterized electric appliance-, the surgery was successfully completed during one and half hour of time. The mobile clinic team was also quite hectic in providing medical treatment to the victims, as well as surgical team in the hospital. The team was greeted with great enthusiasm by victims of typhoon, mainly local people in Barangay Kawit. The damage caused by the typhoon were appeared alongside the region. Despite their houses and residential buildings have been swept away by the typhoon, they did not intend to evacuate themselves. They built tents next to the houses’ ruins and remains instead. Located in Kawit Barangay Hall about an hour Bogo Medellin Medical Center, the Mobile team consisting of 2 general practitioners, 1 nurse and 2 non-medical staffs had treated one by one local people that came for help. Medicine that has been given by the team was those which had been brought from Indonesia, from the donations of its people. Despite the crowds, local people seemed to be quite patient and make a queue in order to get medical treatment. The team is scheduled to stay one more day at Bogo-Medellin Medical Center before moving to other disaster regions. This is due to more victims that still need surgical treatment, as they are suffering from low-wrist fractures and necrotic wound debridemant.

Tim Bedah MER-C Berangkat Ke Filipina

Jakarta – Jumat, 22 November 2013 Setelah sempat tertunda beberapa hari karena masalah teknis, malam ini tim bedah MER-C yang dipimpin oleh Dr. Abdul Mughni Sp. B KBD berangkat ke Filipina. Tim yang terdiri dari sembilan relawan ini akan melakukan bantuan medis di tempat-tempat yang masih sangat memerlukan bantuan fase emergency pasca bencana. Abdul Mughni menjelaskan, “Pada masa-masa awal setelah kejadian bencana, kasus kesehatan yang sering dijumpai biasanya masalah trauma , baik trauma muskuloskeletal, trauma abdomen, trauma kepala maupun trauma yang lain. Setelah itu timbul penyakit-penyakit di pengungsian misalnya diare, infeksi saluran nafas, penyakit kulit dan masalah kesehatan ini diperberat oleh sanitasi yang kurang akibat bencana.” Tim diagendakan untuk kembali ke tanah air tanggal 4 Desember 2013.

Calm Around Indonesia Hospital

Gaza – On Thursday 21 November 2013, Eng. Edy Wahyudi has once again delivered news about Gaza though bbm, however, this time it was a good news that he gave. “Praise be to Allah, there is no Israeli attacks on the perimeters of Indonesia Hospital. Since the attack, Indonesian volunteers continued to finish the construction of Indonesia hospital. Not only that we could see the attacks clearly with our eyes, we could also feel the hospital shake. May Allah always keep all of us under his protection. Amin. “( Eng. Edy Wahyudi- chief of Indonesia hospital construction project in Gaza, Palestine. Today Indonesia hospital is undergoing its finishing stage, and MER-C continues to raise fund for the availability of medical equipment for the hospital.  

Silahkan bertanya?