Tenang Di Sekitar RSI

Gaza – Pada hari Kamis, 21 November 2013, Ir Edy Wahyudi kembali memberi kabar mengenai Gaza lewat bbm, akan tetapi kali ini kabar yang disampaikan merupakan kabar gembira. “Alhamdulillah malam ini di wilayah sekitar RSI tidak ada serangan Israel. Sejak serangan serentak, relawan Indonesia tetap melakukan amal sholih berkarya membangun RSI. Serangan bukan hanya terihat jelas tapi juga getarannya sampai ke RSI. Semoga kita semua dalam lindunganNYA Aamiin yaa Rabb.” (Ir. Edy Wahyudi-Pimpinan Proyek Pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina) Saat ini pembangunan RSI sedang berada dalam tahap penyelesaian, sementara MER-C masih terus menggalang dana untuk keberadaan alat medis bagi RSI.
Kunjungan dan Pemeriksaan Keluarga Relawan RSI di Lampung

Lampung – Selasa, 19 November 2013 MER-C mengirimkan 3 orang relawannya yang terdiri dari dr. Zacky Eko Wahyudi MARS, dan dr. Hadiki Habib, perwakilan MER-C ini untuk menghadiri acara Grand launching Suffah Al Quran Abdullah bin Masud Online di desa Muhajirun, Negarabatu, Natar, Lampung. Selain menghadiri acara grand launcing, tim juga mengadakan pemeriksaan kesehatan salah satu anggota pondok pesantren Al Fattah dengan diagnosa Bening Prostat Hiperlapsia. Presidium MER-C Ir. Faried thalib ikut bergabung dengan tim MER-C mengadakan kunjungan ke keluarga dari Bukhori Muslim Sadeli dan Syuhada Busyro, yang merupakan relawan MER-C dari pondok pesantren al Fattah yang saat ini sedang bertugas merampungkan pembangunan RSI di Gaza, Palestina. Selain mengadakan pemeriksaan para dokter juga memberikan edukasi medis di salah satu rumah relawan RSI.
Kembali Israel Serang Gaza

Gaza, Palestina – Rabu 20 November 2013, sekitar pukul 10.57 pagi waktu Gaza, salah seorang relawan pembangunan RSI, Edy Abu fikri menyampaikan kabar terakhir tentang Gaza . “Serangan serentak Israel bombardir dg Drone, Apache dan F16 ke wilayah Gaza dari utara hingga selatan sejak terbenamnya matahari selasa malam rabu ini. mohon doanya,” demikian pesan singkat yang disampaikan Edy Abu Fikri melalui BBM. Saat ini pembangunan RSI masih menjalani tahap penyelesaian pembangunan fisik, sementara MER-C masih terus menggalang dana untuk keberadaan alat medis bagi RSI.
Again, Israel Attacks Gaza

Jakarta – November 20, 2013, 10.57am, one of volunteers of Indonesian Hospital Construction project at Gaza, Edy Abu Fikri reported the latest update toward Gaza situation to MER-C’s blackberry messenger group. “Simultaneous attacked by Drone, Apache and F16 of Israel hit northern and southern Gaza, since Tuesday night. Please pray for us,” said Edy. In the meantime, RSI is on the finishing phase meanwhile MER-C has still been doing fundraising for medical equipments at Indonesian Hospital at Gaza.
Apa Kabar Keluarga Relawan MER-C di Gaza?

Lampung – Huzaifah dan Muaz, begitu nama kedua anak kecil yang sedang bercengkrama di atas tikar plastik di rumah pak Bukhori. Ayahnya sudah hampir 1 tahun berjihad, menunaikan amanah pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Kisah Keluarga Bapak Bukhori Muslim Sadeli Jalan darat selama 2 jam kami tempuh dari kota Bandar Lampung ke desa Bangunrejo pedalaman Lampung Tengah, di sore hari mendung tanggal 19 November 2013. Perjalanan melintasi perkebunan PTPN 7 jauh dari nyaman, karena sebagian jalan yang beraspal sudah digantikan dengan lobang-lobang, dan sebagian yang tidak beraspal menjadi kubangan lumpur besar-besar, namun amanah ini harus disampaikan, menjalin tali silaturahmi dan membawa sedikit oleh-oleh buat keluarga para mujahid, bukan karena mereka ingin dihargai, tapi karena kami merasa mereka pantas dihormati. Rombongan MER-C dari Jakarta yang terdiri atas pak Ir. Farid Thalib, ibu yuni, Nurfitri Taher (a.k.a mbak Upik) dr. Habib, dan dr. Zecky tiba jam 4 sore di rumah sederhana itu. Disambut oleh mertua pak Bukhori yaitu bapak Slamet, Istri pak Bukhori dan 2 orang anak beliau, yang tertua berusia 3 tahun, dan paling kecil berusia 1 tahun. Hadir juga beberapa anggota keluarga yang tinggal berdekatan dengan rumah pak Bukhori. Pak Farid membuka silaturahmi dengan menceritakan bahwa kondisi relawan konstruksi di Gaza dalam keadaan sehat walafiat, dan bagaimana rmereka bekerja keras sehingga pembangunan sebuah rumah sakit di Gaza, yang awalnya dianggap rencana gila dengan izin Allah dapat terlaksana sampai pembangunan fisik selesai. Diserahkan pula sebuah album foto untuk keluarga, yang berisi gambar-gambar aktivitas relawan di Gaza, Palestina. “Ini bapakmu Huzaifah” kata pak Slamet, sang Mertua, sembari menunjuk ke sosok pria di album foto, mata kecil Huzaifah bolak-balik dari gambar di album foto ke wajah kakeknya. “bapakmu mujahid” lanjut sang kakek dengan nada bangga. “Saya tahu bagaimana sikap Bukhori, dia memang orangnya berani dan nekat, tapi saya percaya kepadanya, dan semua keluarga mendukung perjuangannya, kami disini juga bahu-membahu merawat cucu dan anak saya, Istri Bukhori, jika kami tidak mampu menyusul perjuangannya, Insya Allah anak cucu kami yang akan melanjutkan perjuangan itu”, demikian ucapan sang mertua. Diskusi ditutup dengan hidangan khas pedesaan dengan rasa bintang lima, nasi putih hangat, tumis kangkung, ayam kampung goreng, kerupuk dan sambal colek, meskipun awalnya tim MER-C keberatan karena ini memang tidak ingin memberatkan tuan rumah, tapi pak Slamet dengan senyum lebar menyahut, “tamu-tamu tidak saya izinkan pulang sebelum menyicipi apa yang terhidang”. (HH).
MER-C Visit Indonesia Hospital, Gave Medical Checkups

Lampung – November 19, 2013 MERC-C has dispatched a medical assistance teamtothe grand launchof onlineQur’anof Abdullah bin Masud in the village Muhajiroun, Negarabatu, Natar, Lampung.The team comprises of Dr Eko Zezky Triwahyudi, MARS and Dr. Habib Hadiki, where the team to examine the health of one member of the boarding school Al Fattah that has been diagnosed with Benign Prostatic Hiperlapsia. MER-C Presidium Ir Faried Talib, who presented at the inauguration of the Online Qur’an of Abdullah bin Masud, has joined the team to meet the families of Bukhari Muslim Sadeli and Syuhada Busyro. Both of them are MER-C’s volunteers from al Fattah boarding school which are currently finalizing the Indonesian Hospital construction project at Gaza, Palestine. The medical doctors also provided medical education at one of RSI volunteer’s place.
MER-C Siaga Erupsi Semburan Gunung Merapi

Solo – Untuk kesekian kalinya Gunung Merapi meletus lagi. Gunung Merapi mengeluarkan asap tebal disertai abu vulkanik setinggi sekitar 2.000 meter, Senin (18/11/2013) sekitar pukul 04.50 WIB. Hal ini menyebabkan hujan pasir dan abu yang cukup tebal di Boyolali, hingga Kartosuro, dan wilayah barat Kota Solo. Meski situasi saat ini menurut Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, masih dalam status normal (ANTARA, 18/11/2011). Letusan hari ini lebih besar daripada 22 Juli, namun saat ini status masih normal aktif (level I),” tegas Sutopo. Dihubungi pagi tadi, relawan MER – C cabang Solo dr.Ambar Waluyo mengatakan bahwa belum Ada kondisi emergency, dan MER-C Solo menunggu perkembangan situasi. Tetapi belajar dari kejadian sebelumnya, dimana keadaan bisa meningkat menjadi darurat, MER-C telah menyiapkan tim medis yang terdiri dari dokter dan tim non medis yang setiap saat siap diturunkan jika keadaan berubah menjadi darurat.
Berita Duka Untuk Relawan RSI Gaza

Berita duka datang untuk salah satu relawan Mer-C yang sedang berada di jalur Gaza Palestina, Karidi. Karidi adalah relawan MER-C yang sedang menjalankan amanah membangun RS Indonesia di jalur Gaza, Palestina. Ayahanda Karidi berpulang ke Rahmatullah pada Minggu 10/11/13 di Wonogiri Jawa Timur. Pada usia 70 tahun, Marino, Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Wonogiri Jawa Timur, dengan diagnosa dokter pembengkakan pada jantung. Karidi sudah satu tahun lebih menjadi relawan di Gaza, Palestina sejak 21/10/12 hingga saat ini, Karidi adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, putra dari Sisum dan Almarhum Marino. Karidi yang sedang di jalur Gaza, Palestina di beritakan oleh sang istri yang juga merupakan sekertaris Mer-c, Tina Leonard dan kakak ipar Mba Yani. Karidi sendiri tidak mempunyai firasat apapun atas kepergian ayahanda tercinta, dan baru berhubungan via telepon dengan ayah tercinta satu minggu sebelum wafat. Ayahnya memang sudah beberapa waktu terakhir sakit di sebabkan usia lanjut dan keadaannya kemudian menjadi kritis 2 minggu terakhir ini. Keadaan Karidi saat ini Alhamdulillah sehat dan terus menjalankan tugas sebagai ketua mechanical electrical pembangunan Rs Indonesia di Gaza, Palestina. Almarhum Marino meninggalkan sang istri Sisum, tiga orang anak dan tiga cucu.
Dokter Indonesia Bersatu (DIB): Berbenah Diri untuk Indonesia Yang Sehat

Jakarta – Sabtu sore yang sejuk diiringi oleh gerimis kecil tanggal 16 November 2013 pukul 16.00 perwakilan Dokter Indonesia Bersatu (DIB) mengunjungi kantor MER-C. Dialog hangat berlangsung dalam pertemuan itu. Perwakilan DIB antara lain dr. Agung Sapta, dr. Feny Ramadiana, dan dr. Yuliani, parwakilan ini disambut oleh dr. Yogi Prabowo, dr, Joserizal Jurnalis, dr. Rizky Adriansyah, dr, Hadiki Habib, dan dr. Zecky Eko, dari MER-C. Membicarakan masalah kesehatan di Indonesia, memang agak sulit dicari ujung pangkalnya, oleh karena itu, dalam forum sederhana itu diskusi ditujukan untuk sosialisasi latar belakang dan aktivitas yang dilakukan DIB. Dr. Yogi mengawali diskusi dengan menjelaskan bahwa MER-C sebagai organisasi dengan latar belakang medis tentu tetap harus mengikuti perkembangan dunia kesehatan di Indonesia. Secara pribadi, beliau berpendapat bahwa tenaga kesehatan di Indonesia khususnya dokter masih kurang mau bekerjasama untuk memperjuangkan hak-hak profesi mereka. Bahwa profesi kedokteran secara kolektif saat ini telah menjadi kelompok pekerja dalam satu bisnis kesehatan, dan dalam menyikapi BPJS, beliau mengharapkan dokter ditempatkan di posisi yang layak sebagai pemberi pelayanan kesehatan dan diberikan keleluasaan untuk menangani pasien sesuai dengan standar pelayanan medis. Dr. Agung dari DIB menjelaskan sejarah dan latar belakang berdirinya DIB berasal dari keresahan pada dokter terhadap berbagai masalah kesehatan, aspirasi yang mereka punya saat itu tidak tersalurkan dan mereka menganggap belum ada advokasi yang kuat untuk membantu menyelesaikan masalah kedokteran, mulai dari pendidikan dokter, internship, BPJS, sampai persoalan hukum. Dijelaskan juga bahwa DIB merupakan gerakan sosial, dan mereka tetap berhadap Ikatan Dokter Indonesia masih bisa dijadikan saluran aspirasi dan perjuangan agar tercipta sistim kesehatan yang mampu menyehatkan masyarakat (dokter dan pasien). Beberapa pendapat dan tanggapan hadir dalam forum diskusi, dan akhirnya tercipta beberapa sintesis, antara lain diperlukan dialog berkelanjutan dan sistimatis bila perlu menghadirkan narasumber dari pihak Ikatan Dokter Indonesia, Departemen Kesehatan, dokter yang bertugas dan dibutuhkan data-data valid, sebelum melakukan argumentasi mengenai suatu masalah Untuk melaksanakan diskusi, divisi kajian MER-C melalui dr Rizky menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi tempat dan sosialisasi melalui jaringan MER-C yang ada, sedangkan Dr. Joserizal memberikan usul agar DIB menjadi organisasi resmi sehingga memiliki Legal Standing untuk melakukan peninjauan kembali terhadap beberapa point yang dianggap rancu dalam undang-undang kesehatan dan praktik kedokteran.
Di Tengah Krisis, Relawan RS Indonesia Di Gaza Gunakan Kayu Bakar Untuk Masak

Bayt Lahiya, 11 Muharram 1435/15 November 2013 (MINA) – Relawan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Jalur Gaza dalam beberapa hari terakhir terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memasak di tengah krisis gas, bahan bakar, serta listrik yang melanda jalur Gaza. Salah satu relawan Abu Fikri mengatakan, dirinya beserta para relawan yang lain menggunakan kayu bakar bekas bahan bangunan RS Indonesia yang terletak di Utara Gaza itu. “Kami menggunakan kayu palet, kayu dudukan keramik, atau kayu bekas lainnya yang didapati di sekitar RSI,” terang Abu Fikri kepada Kantor Berita Islam Internasional MINA (Mi’raj News Agency) melalui telepon, Jumat (15/11). Relawan yang berperan sebagai site manager dalam pembangunan RS Indonesia di Distrik Bayt Lahiya itu menerangkan lebih jauh, di tengah kekurangan bahan pokok di Jalur Gaza akibat penutupan terowongan dan blokade penjajah Israel, para relawan memasak tiga kali sehari dengan menggunakan bahan kayu di lantai dasar (basement) RS Indonesia yang masih dibangun. “Salah satu relawan yang setiap hari mengatur urusan masak memasak, sudah mulai mempersiapkan bahan untuk dimasak mulai dari pukul dua pagi waktu setempat agar para relawan bisa menikmati sarapan di pagi hari,” tambah Abu Fikri. Menjelaskan lebih lanjut, Abu Fikri mengatakan, relawan mulai menyiapkan makan siang mereka sejak pukul sepuluh pagi dan makan malam mulai setelah pukul dua siang karena kebutuhan energi yang besar bagi para pekerja keras ini. Pembangunan RS Indonesia tetap berlanjut Jalur Gaza mengalami krisis bahan bangunan dan kebutuhan pokok seperti solar yang berpengaruh pada semua sektor kehidupan di satu-satunya daerah di dunia itu yang masih berada dalam penjajahan (Israel). Kekurangan bahan bakar menyebabkan ribuan sopir menjadi pengangguran, generator listrik mati karena tidak ada solar, serta alat-alat kesehatan di banyak rumah sakit berhenti bekerja. Relawan yang sudah tiga tahun di Jalur Gaza itu mengatakan, meskipun pembangunan terkendala bahan seperti semen akibat blokade, dia dan timnya terus melakukan pekerjaan sebisa mungkin sehingga rumah sakit bisa cepat rampung. “Kami tidak berpangku tangan meskipun persediaan semen sudah habis. Kawan-kawan masih melakukan pekerjaan yang tidak membutuhkan bahan itu, seperti penyelesaian tempat parkir, nge-cat, pemasangan sound system, AC, panel utama, dan lain sebagainya,” ujar Abu Fikri. Abu Fikri menegaskan, penderitaan warga Gaza yang sudah menderita sejak sebelum krisis akibat blokade penjajah Israel dan mengharapkan peran semua pihak, termasuk Indonesia, untuk ikut membantu meringankan beban yang sedang dialami warga di tengah krisis semua sektor itu. “Kami melihat obat-obatan di sini sudah hampir habis, warga Gaza harus menyeberang ke Mesir untuk berobat, masih di perbatasan saja susah keluar,” terang Abu yang menambahkan, “Saya harap pemerintah Indonesia mampu melakukan diplomasinya untuk membujuk Mesir memudahkan warga yang menyeberangi lewat Rafah.” Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Ma’had Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. Pekerjaan pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia di mana seluruh pekerjanya tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RS Indonesia dijadwalkan selesai akhir tahun 2013 ini. Rumah Sakit Indonesia itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel. RS Indonesia di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke.(L/P03/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/11963-relawan-rsi-di-gaza-gunakan-kayu-bakar-untuk-masak-di-tengah-krisis.html