MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Mufti Gaza: Relawan Indonesia Harus Pimpin Pembebasan Al-Aqsha

Syaikh DR. Samih Hajaj (Abu Anas). (Foto: MINA/Rana) Gaza City, 18 Dzulqo’idah 1434/24 September 2013 (MINA) – Mufti Palestina di Jalur Gaza, Syaikh DR. Samih Hajaj menyatakan, para relawan dari Indonesia harus tampil di depan dalam memimpin perubahan peradaban dunia, pembebasan Masjid Al-Aqsha, dan perjuangan kemerdekaan Palestina. Hal itu diungkapkannya saat para relawan Indonesia yang tergabung dalam tim pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza-Palestina berkunjung ke kediamannya, Ahad (22/9).   “Kehadiran para relawan Indonesia di Gaza ibarat garam dalam sebuah masakan. Meskipun sedikit, tapi mereka sanggup memberikan warna yang baik pada lingkungan tempat mereka berada,” kata Syaikh Hajaj yang juga dikenal dengan Abu Anas. Syaikh Abu Anas juga mengungkapkan harapannya agar para relawan Indonesia dapat hadir ke seluruh penjuru dunia untuk menjadi penyejuk dalam panasnya peradaban di tengah pergolakan yang terjadi di negara-negara Islam, khususnya di Timur Tengah. Ulama yang pernah berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia itu berharap ia dapat berjumpa dengan para relawan Indonesia sesering mungkin. “Saya berharap akan ada lebih banyak lagi relawan Indonesia yang berada di Jalur Gaza. Kehadiran para relawan Indonesia sangat ditunggu-tunggu rakyat Palestina dan tentunya Muslimin di seluruh dunia,” ungkapnya. Syaikh Hajaj berpesan kepada para relawan agar pembinanya yang ada di Indonesia bisa hadir di Jalur Gaza. “Saya sangat ingin bertemu dengan pembina kalian di Indonesia. Sampaikan kepadanya, saya rindu ingin berjumpa dengannya,” ujar Syaikh Abu Anas. Syaikh Abu Anas juga menyatakan harapannya bahwa dari Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia kelak akan memimpin perubahan peradaban dunia yang kini sedang bergejolak dan pembebasan Masjid Al-Aqsha yang kini masih dijajah Zionis Israel. “Muslimin Indonesia jangan berkecil hati dengan kiprah dan peran mereka dalam perjuangan. Ingat, Shalahuddin Al-Ayyubi itu bukan orang Quraisy. Ia orang Irak. Tapi ia mampu memimpin perubahan, membebaskan Masjid Al-Aqsha dari tangan penjajah,” ungkapnya. Tim relawan Indonesia yang berkunjung ke kediaman Syaikh Hajaj adalah Ir. Edi Wahyudi (Jakarta), Ust. Abdurahman (Jawa Tengah), Luthfi (Kalimantan Barat) dan Tata Lukita (Jawa Barat). RSI di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. Saat ini MER-C sedang mengerjakan dua pembangunan rumah sakit sekaligus di dua daerah berbeda, Jalur Gaza, Palestina dan Galela, Maluku. Pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza memerlukan dana sekitar 100 miliar rupiah yang terbagi untuk biaya pembangunan bangunan utama RSI dan sarana penunjang berupa alat-alat kesehatan. (L/P06/P04/P02)  Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/9976-mufti-gaza-relawan-indonesia-harus-pimpin-pembebasan-al-aqsa.html

Prinsip Netralitas dan Rahmatan Lil’alamin untuk Korban Bencana Sinabung

Medan – Kamis (19/9), MER-C Cabang Medan kembali menurunkan tim medisnya untuk memberikan bantuan pengobatan bagi pengungsi korban bencana letusan gunung Sinabung. Ini adalah Tim ke-2 yang diturunkan MER-C Cabang Medan, setelah Tim pertama yang turun saat awal letusan Sinabung, Minggu (15/9) lalu dengan lokasi pengobatan di Masjid Raya Kabanjahe. Lokasi pengungsian yang dipilih kali ini adalah Komunitas Ora et Labora Kabanjahe yang sebagian besar merupakan warga nonmuslim. Prinsip netralitas dan rahmatan lil’alamin tidak membedakan ras, suku, agama dan ideologi adalah dua prinsip yang senantiasa dipegang teguh oleh para relawan MER-C dalam memberikan bantuan bagi korban perang, konflik dan bencana alam di manapun. Kamis malam setibanya di lokasi, Tim MER-C langsung melakukan peninjauan ke beberapa titik pengungsian. Titik pengungsian Komunitas Ora et Labora Kabanjahe yang sebagian besar terdiri dari pengungsi nonmuslim ini akhirnya dipilih oleh Tim MER-C Cabang Medan karena belum terjamah bantuan sama sekali baik bantuan medis maupun makanan dari pihak manapun termasuk pemerintah setempat. Sementara, beberapa titik pengungsian lainnya tampak pengungsi sudah tertangani dan sudah mendapat bantuan.   Jumlah pengungsi di komunitas ora et labora sekitar 170 orang, banyak diantaranya adalah balita dan lansia. Para pengungsi rata-rata menderita ISPA, Dispepsia dan Darah tinggi.   “Selain bantuan pengobatan di posko maupun sistem door to door visit, kami juga menyalurkan sumbangan barang dari donatur berupa makanan, minuman, makanan bayi dan masker yang kami terima dari Mode Grup. Bantuan ini kami salurkan langsung ke pengungsi yang diterima oleh Bapak Markus Ginting,” ujar dr. Rinaldi, Ketua Tim Medis MER-C untuk Bencana Sinabung.   Esoknya, hari Jum’at (20/9) pagi sekitar pukul 01.00 dini hari, terjadi lagi gempa vulkanik. Debu vulkanik menyebar ke arah barat, timur dan selatan puncak gunung Sinabung. BMKG SUMUT belum berani memastikan status gunung Sinabung yang statusnya masih siaga 3.  Meskipun ada gempa, namun masih ada warga di daerah Lau Kawar, sekitar 6 km dari puncak gunung Sinabung yang enggan mengungsi.   Sementara itu, hingga Jum’at siang, status gunung Sinabung  masih siaga 3, tetapi para pengungsi yang bermukim lebih dari 3 km dari puncak gunung sudah diperbolehkan pulang. Walau sudah diijinkan pulang tapi masih banyak warga yang memilih tinggal di pengungsian karena erupsi gunung Sinabung yang tidak bisa terprediksi. Tim ke-2 MER-C untuk bencana Sinabung memutuskan kembali ke Medan setelah adanya informasi dari Komandan TNI Andika selaku Pimpinan Koordinasi Bantuan Sinabung yang menyatakan bahwa gunung Sinabung sudah kondusif dan warga yang bermukim lebih dari 3 km dari puncak sudah diperbolehkan pulang.   “Kami akan terus memantau dan siaga untuk bencana ini. Terima kasih kepada para donatur dan relawan untuk sumbangsihnya, semoga menjadi amal ibadah bagi kita semua,” tutur dr. Ahmad Handayani, Ketua MER-C Cabang Medan

MER-C Buka Program Qurban di Gaza

Gaza – Masyarakat Indonesia yang ingin berqurban bagi saudara-saudaranya di Gaza, sebuah wilayah yang masih terblokade dari darat, laut dan udara, kini dapat merealisasikan niatnya melalui MER-C. MER-C melalui Cabangnya di Gaza, siap menyalurkan amanah qurban masyarakat Indonesia secara langsung kepada rakyat Gaza yang membutuhkan. MER-C Cabang Gaza sampai saat ini adalah satu-satunya Proses qurban mulai dari pembelian, pemotongan, pembagian hingga pengantaran secara langsung door-to-door hewan qurban kepada rakyat Gaza yang membutuhkan akan dilakukan oleh relawan Indonesia yang saat ini berjumlah 32 orang. Program hewan qurban telah dibuka sejak hari Kamis (12/9) lalu hingga tanggal 7 Oktober 2013 nanti atau 1 minggu menjelang Hari Raya Idul Adha. Harga hewan qurban yang ditawarkan berupa domba dengan berat 40 – 50 kg adalah Rp 3,5 juta per ekor. Harga ini sudah termasuk biaya operasional yang meliputi biaya transportasi, biaya dokumentasi, dll. Bagi masyarakat Indonesia yang berminat memberikan amanah qurbannya untuk Gaza dapat mengirimkan biaya qurban ke rekening MER-C amanah Kemanusiaan Gaza di BSM (Bank Syariah Mandiri), nomor rekening 700.2905.803, atas nama Medical Emergency Rescue Committee. “Kami mohon konfirmasi dari Bapak, Ibu, Sahabat apabila sudah melakukan transfer dana qurban agar dapat kami mengecek dananya dan melakukan pendataan. Data dan dana akan kami kirimkan ke Gaza untuk ditindaklanjuti oleh relawan kami di sana,” papar Tina, staf MER-C yang bertanggung jawab dalam program qurban MER-C. “Kami akan mengirimkan laporan pelaksanaan qurban kepada masing-masing donatur baik dalam bentuk email maupun pos,” lanjutnya.  Sementara itu, Ketua MER-C Cabang Gaza, Muqorrobin Alfikri menyampaikan bahwa wilayah penyaluran hewan qurban nanti diantaranya adalah Jabaliya dan Tal Za’tar di Gaza Utara. “Pertimbangan kami memilih wilayah ini adalah karena di sana banyak masyarakat yang miskin, terutama di Syekh Zaid dekat lokasi RS Indonesia ada gedung pemukiman para janda,” ujar Fikri yang saat ini juga tengah menempuh kuliah di Universitas Islam Gaza.

Meskipun Ada Hambatan, Bangunan RSI Semakin Mendekati Sempurna

Gaza – Perkembangan terakhir Rumah Sakit Indonesia di Gaza semakin mendekati sempurna terutama dari segi fisik atau bangunan nampak bahwa RSI sudah terlihat indah dari luar karena pemasangan dinding marmer atau biasa disebut oleh orang Gaza sebagai Hajar Quds telah selesai 100%. Demikian dilaporkan oleh Ketua MER-C Cabang Gaza, Muqorrobin Alfikri, Senin (16/9). “Pekerjaan yang sedang berlangsung adalah pemasangan keramik, pemasangan plafon yang sudah mencapai 60%, pengecatan dinding lantai satu dan lantai dua serta pemasangan pagar keliling RSI,” ungkap Fikri, salah satu relawan yang juga tengah menempuh pendidikan melalui program beasiswa di Universitas Islam Gaza. Selain pekerjaan arsitektur, pekerjaan Mekanikal Elekterikal RSI juga terus dilakukan oleh para relawan asal Indonesia yang meliputi pekerjaan sanitair, nursecall, instalasi listrik panel, pemasangan AC dan fire fitting (hydrant). “Pekerjaan Mekanikal Elektrikal RSI yang belum bisa dikerjakan oleh relawan adalah sound system dan fire alarm. Hal ini dikarenakan memang sulitnya bahan,” tambahnya. Pergolakan yang terjadi di Mesir yang berimbas pada ditutupnya Perbatasan Rafah sebagai jalur keluar masuk dari Mesir ke Gaza juga menjadi hambatan tersendiri bagi pembangunan RSI. “Hambatan yang dialami pada pembangunan RSI tahap ini secara umum ialah sulitnya mendapatkan bensin dan solar. Bensin dan solar adalah sesuatu yang sangat inti dalam kaitannya dengan pemadaman listrik yang dilakukan Israel yang semakin tidak mengenal waktu,” ujar Fikri. Tidak hanya bensin dan solar, semen juga menjadi bahan yang langka karena pasokan yang dikirimkan melalui jalur Rafah sempat terbatas. Begitupun cat dalam volume besar juga sulit didapat karena berasal dari Mesir. Pekerjaan Mekanikal Elektrikal (ME) pun tidak luput dari hambatan. Para relawan ME mengaku sulit mendapat kabel 25 mm, 50 mm dan 240 mm, pipa untuk fire alarm dan juga lampu karena keterbatasan pengiriman dari Mesir. Ditengah hambatan-hambatan yang ada, pekerjaan pembangunan RS Indonesia tetap berlangsung. “Semua relawan RSI tetap bekerja sesuai bidang keahlian dan amanah yang mereka terima. Kami hanya bisa berdoa dan berusaha dengan sebaik-baiknya agar pembangunan RS Indonesia bisa selesai sesuai jadwal pada akhir tahun ini. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan,” tutur Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RS Indonesia.

Ketua TPM Ingatkan Dukungan Adili Israel Sebagai langkah Nyata Perlawanan

Jakarta, 12 Dzul Qa’idah 1434/18 September 2013 (MINA) – Ketua Tim Pembela Muslim (TPM), M. Mahendradatta mengajak umat Islam untuk mendukung usaha mengadili Israel di Pengadilan Internasional dalam kasus Mavi Marmara yang diprakarsai oleh LSM Turki, Insani Yardim Vakfi (IHH) pada 10 Oktober 2013. “Jika selama ini kita hanya melawan antek-antek Israel, maka ini kesempatan kita untuk head to head langsung melawan Israel. Maka semua harus mendukung kita, termasuk pemerintah,” kata Mahendradatta kepada Wartawan Mi’raj News Agency (MINA) di Jakarta, Selasa (17/9). TPM bersama lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) tengah menyiapkan bukti untuk menggugat Israel dalam persidangan internasional di Istanbul, Turki pada 10 Oktober mendatang. Persidangan itu akan mengadili Israel karena melakukan penyerangan terhadap Kapal Mavi Marmara mengambil bagian dalam armada kapal “Gaza Freedom Flotilla”pada 31 Mei 2010 lalu. Dalam serangan tersebut, sembilan warga negara Turki menjadi korban setelah tertembak oleh pasukan keamanan Israel di atas kapal. Dalam konvoi kemanusiaan “Gaza Freedom Flotilla” itu, MER-C mengirimkan lima relawannya yang juga tergabung dengan relawan Indonesia lainnya ikut serta dalam pelayaran yang mendapatkan serangan melibatkan para petinggi Israel. Kelima relawan Indonesia yang berada dalam kapal Mavi Marmara adalah Arief Rachman, Nurfitri Moeslim Taher, Nur Ikhwan Abadi, Muhammad Yasin dan Abdillah Onim. Dalam persidangan nanti mereka akan didampingi oleh Ketua TPM, M. Mahendradatta. Paska serangan tersebut, Israel mendapat kecaman dari dunia internasional karena melakukan pelanggaran HAM berat dengan menyerang konvoi kemanusiaan di perairan internasional. Pada Mei lalu dalam peringatan tiga tahun tragedi Mavi Marmara, para aktivis Mavi Marmara menuntut Israel tetap diadili meskipun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah meminta maaf kepada Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan. IHH sebagai pihak penyelenggara menyebutkan, permintaan maaf itu tidak akan mempengaruhi keputusan-keputusan yang telah ditetapkan pada sidang yang menjerat empat jenderal Israel yang bertanggung jawab terhadap serangan tersebut, yaitu Kepala Staf Angkatan Darat Israel saat itu, Letjen Gabi Ashkenazi; Panglima Angkatan Laut Israel, Laksamana Eliezer Marom; Kepala Intelijen Militer Israel, Mayjen Amos Yadlin, dan Kepala Intelijen Angkatan Udara Israel, Brigjen Avishai Levi.. Permintaan maaf tersebut sebenarnya merupakan syarat dari Turki kepada Israel yang ingin memperbaiki kembali hubungan bilateral antara Turki dengan Israel setelah sempat pecah pasca penyerangan tersebut. Selain syarat itu, Turki juga memberikan syarat untuk mencabut blokade Israel atas Gaza dan memberi kompensasi kepada keluarga korban yang meninggal dalam serangan yang terjadi di perairan internasional tersebut. (L/P01/P02). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/9714-ketua-tpm-ingatkan-dukungan-adili-israel-sebagai-langkah-nyata-perlawanan.html

MER-C dan TPM Siapkan Bukti Gugat Israel ke Pengadilan Internasional

Jakarta, 12 Dzulqa’idah 1434/18 September 2013 (MINA) – Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) bekerja sama dengan Tim Pembela Muslim (TPM) menyiapkan bukti untuk menggugat Israel dalam persidangan internasional di Istanbul, Turki pada 10 Oktober mendatang. Pengadilan yang diprakarsai oleh LSM Turki, Insani Yardim Vakfi (IHH) itu akan mengadili Israel karena melakukan penyerangan terhadap Kapal Mavi Marmara dalam konvoi kemanusiaan Gaza Freedom Flotilla pada 31 Mei 2010 lalu. Dalam serangan tersebut, sembilan warga negara Turki menjadi korban setelah tertembak oleh pasukan keamanan Israel di atas kapal. Dalam konvoi itu, MER-C mengirimkan lima relawannya yang juga tergabung dengan relawan Indonesia lainnya ikut serta dalam pelayaran yang mendapatkan serangan melibatkan para petinggi Israel, di antaranya Kepala Staf Angkatan Darat Israel saat itu, Letjen Gabi Ashkenazi; Panglima Angkatan Laut Israel, Laksamana Eliezer Marom; Kepala Intelijen Militer Israel, Mayjen Amos Yadlin, dan Kepala Intelijen Angkatan Udara Israel, Brigjen Avishai Levi. Kelima relawan Indonesia yang berada dalam kapal Mavi Marmara adalah Arief Rachman, Nurfitri Moeslim Taher, Nur Ikhwan Abadi, Muhammad Yasin dan Abdillah Onim. Dalam persidangan nanti mereka akan didampingi oleh Ketua TPM, M. Mahendradatta. Pada 31 Mei 2010 sekitar pukul 04.30 pagi, Kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang berlayar dari Antalya, Turki menuju Jalur Gaza, Palestina mendapat serangan dari pasukan khusus Israel di perairan internasional sekitar 73 mil laut dari wilayah pendudukan Israel di Palestina yang terjajah. Pasukan Israel akhirnya menahan dan menggiring mereka ke pelabuhan Ashdod. Kapal Mavi Marmara mengambil bagian dalam armada kapal “Gaza Freedom Flotilla“ yang dioperasikan oleh kelompok aktivis dari 37 negara dengan tujuan membawa bantuan secara langsung menembus blokade Israel atas Jalur Gaza. Paska serangan tersebut, Israel mendapat kecaman dari dunia internasional karena melakukan pelanggaran HAM berat dengan menyerang konvoi kemanusiaan di perairan internasional. Pada Mei lalu dalam peringatan tiga tahun tragedi Mavi Marmara, para aktivis Mavi Marmara menuntut Israel tetap diadili meskipun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah meminta maaf kepada Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan. IHH sebagai pihak penyelenggara menyebutkan, permintaan maaf ini tidak akan mempengaruhi keputusan-keputusan yang telah ditetapkan pada sidang yang menjerat empat jenderal Israel yang bertanggung jawab terhadap serangan tersebut. Permintaan maaf ini sebenarnya merupakan syarat dari Turki kepada Israel yang ingin memperbaiki kembali hubungan bilateral antara Turki dengan Israel setelah sempat pecah pasca penyerangan tersebut. Selain syarat itu, Turki juga memberikan syarat untuk mencabut blokade Israel atas Gaza dan memberi kompensasi kepada keluarga korban yang meninggal dalam serangan yang terjadi di perairan internasional tersebut. (L/P01/P02). Sumber : http://www.mirajnews.com/palestina/9713-mer-c-dan-tpm-siapkan-bukti-gugat-israel-ke-pengadilan-internasional.html

MER-C Tetapkan 5 Presidium Baru Periode 2013 – 2018

Foto (ki – ka): Ir. Faried Thalib, dr. Henry Hidayatullah, dr. Arief Rachman, dr. Sarbini Abdul Murad, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT. Jakarta – Sabtu (7/9) MER-C menggelar acara Musyawarah Besar Organisasi ke-4 yang dihadiri oleh pengurus, relawan aktif dan perwakilan cabang-cabang MER-C di Indonesia dan Gaza Palestina. Musyawarah Besar yang bertempat di Cisarua Bogor menghasilkan susunan Presidium MER-C yang baru untuk periode 2013-2018. Jumlah presidium yang sebelumnya hanya tiga orang, berdasarkan hasil Musyawarah Besar disepakati untuk ditambah menjadi 5 orang. Penambahan jumlah presidium ini selain untuk lebih meringankan amanah-amanah program yang ada dan dalam rangka kaderisasi MER-C. Inilah susunan presidium MER-C yang baru periode 2013 – 2018: 1.       Dr. Henry Hidayatullah (Ketua Presidium) 2.       Dr. Sarbini Abdul Murad 3.       Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT 4.       Ir. Faried Thalib 5.       Dr. Arief Rachman    dr. Henry Hidayatullah yang dipercaya sebagai Ketua Presidium MER-C periode 2013 – 2018 adalah salah satu pendiri MER-C dan anggota Presidium pada periode sebelumnya.  Dr. Sarbini dan dr. Joserizal kembali dipercayai untuk tetap berada di jajaran Presidium MER-C guna ikut memimpin gerak serta langkah organisasi MER-C ke depan yang tidak terasa sudah menginjak usia 14 tahun. Untuk pertama kalinya dalam sejarah MER-C, relawan berlatar belakang non medis berada di jajaran Presidium. Meskipun bukan dokter, namun kiprah Ir. Faried Thalib sebagai relawan sudah cukup besar. Bencana tsunami Aceh adalah awal keterlibatannya di MER-C. Sejak saat itu, insinyur bidang sipil ini selalu siap hadir di berbagai wilayah perang, konflik dan bencana baik di dalam maupun di luar negeri. Bahkan kini Ir. Faried Thalib tengah mengomandoi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina dan pembangunan Rumah Sakit MER-C di Galela, Maluku Utara. Anggota Presidium MER-C yang termuda adalah dr. Arief Rachman. Meskipun masih muda, namun dr. Arief sudah memiliki pengalaman dan memimpin misi kemanusiaan MER-C di luar negeri, seperti Ketua Tim 2 MER-C untuk Gaza Palestina dan mengikuti misi “Mavi Marmara”. Bahkan dokter yang sedang mengambil program pendidikan spesialis radiologi di FKUI ini sempat menetap di Gaza selama lebih dari 3 bulan untuk menindaklajunti penandatanganan MOU Pembangunan RS Indonesia. Selama tiga bulan, dr. Arief dan Tim MER-C melakukan survey lahan yang akan menjadi lokasi RS Indonesia dan berkoordinasi dengan Pemerintah setempat. “Semoga MER-C bisa memberikan manfaat lebih bagi ummat sesuai dengan prinsip rahmatan lil’alamin. Dan semoga MER-C menjadi tempat bagi orang-orang baik para professional medis maupun non medis untuk menjadi relawan yang sesungguhnya,” harap Ketua Presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah.

MER-C Medan Terus Pantau dan Siagakan Tim Medis untuk Bencana Sinabung

Medan – Minggu (15/9) sekitar pukul 02.00 dini hari gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo provinsi Sumatera Utara meletus. Menyusul kejadian tersebut, MER-C cabang Medan segera menyiapkan Tim Advance tanggap bencana untuk melakukan assesment dan pertolongan medis darurat kepada para korban. Pada Minggu sore, Tim yang terdiri dari 3 dokter, 3 perawat dan 1 tenaga kesehatan masyarakat berangkat ke lokasi bencana dengan menggunakan ambulans operasional MER-C Cabang Medan.  Tim pimpinan dr. Rinaldi Sani Nst tiba di wilayah Kabanjahe yang berada sekitar 5 km dari gunung Sinabung pada Minggu malam sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Tim langsung mengunjungi Masjid Raya Kabanjahe yang merupakan salah satu lokasi pengungsian. Sekitar 60-an warga mengungsi di masjid ini dan jumlahnya terus bertambah. Terdapat 5 titik pengungsian lagi di Jambur. Jumlah pengungsi di Kabanjahe dan Berastagi diperkirakan sebanyak 2.500 orang. Malam itu juga, Tim langsung melakukan kegiatan pelayanan kesehatan di Masjid Raya Kabanjahe.  Keesokan harinya, Senin (16/9) tim mulai bergerak ke arah gunung Sinabung untuk melihat langsung kondisi bencana dan warga di sana, tepatnya di kecamatan Nemanteran. “Sebagian warga sudah mengungsi ke kota Kabanjahe, sebagian lainnya masih ada yang menetap,” ujar dr. Rinaldi, Ketua Tim Advance Bencana Sinabung.   Lebih lanjut dr. Rinaldi, yang juga Ketua Divisi Yankes MER-C Cabang Medan memaparkan bahwa dari pantauan tim, warga cukup mendapatkan pengobatan dan makanan dari pemerintah setempat. Untuk mengecek kesehatan warga, Tim MER-C melakukan pelayanan medis dengan mobile clinic (pelayanan medis keliling). “Alhamdulillah, kondisi warga yang kami jumpai sehat-sehat saja,” tambah dr. Rinaldi. “Berdasarkan hasil evaluasi Tim Advance MER-C, maka untuk saat ini kami belum membuka posko. Namun kami tetap memantau dan siap turun ke lokasi apabila gunung Sinabung mulai aktif kembali,” ujar Ketua MER-C Cabang Medan, dr. Ahmad Handayani.  “Bantuan pakaian, logistik serta dana kita tutup sementara karena penyalurannya belum bisa dipastikan, melihat situasi Sinabung,” tambahnya.   MER-C Cabang Medan: Hp : 087768591522 BB : 28c45767 Rek. Donasi : BSM, 7019895167 an. MER-C Cabang Medan

Tim MER-C Medan Tiba di Lokasi Bencana Sinabung

Medan – Alhamdulillah Tim Advance Tanggap Bencana Medical Emergency Rescue Committee Cabang Medan yang terdiri dr 3 dokter, 3 perawat & 1 relawan kesehatan masyarakat telah sampai di Kabanjahe (pkl.19.30 tadi malam) kira-kira 5km dari Gunung Sinabung. Tim sampai di Mesjid Agung Kabanjahe. Banyak warga muslim yang mengungsi di mesjid. Sampai sekarang ada 60an warga di Mesjid Agung Kabanjahe dan akan bertambah. Terdapat 5 titik pengungsian lagi di Jambur. Jumlah pengungsi di Berastagi dan Kabanjahe sekitar 2500an orang. Mohon doanya utk para korban & Tim yang bertugas. Smg selalu diberi kemudahan & perlindungan. Amiin Contact MER-C Cab. Medan untuk info dan penyaluran bantuan: Hp 0877 68591522 Pin BB 28C45767 BSM, Rek No. 701.989.5167 a/n MER-C Cabang Medan

MER-C Medan Turunkan Tim Medis Untuk Korban Sinabung

Medan – Gunung Sinabung meletus Minggu dini hari (15/9) pukul 02.00 Wib. MER-C Cabang Medan akan menurunkan Tim Advance untuk assessment dan pertolongan medis darurat.  Insya Allah tim akan berangkat hari ini pukul 16.00 Wib. MER-C Medan membuka posko untuk mernerima bantuan yang akan di salurkan ke para korban Sinabung, berupa pakaian layak pakai, makanan siap saji, dan dana. Bantuan dapat disalurkan ke kantor MER-C Medan  di Jl. Setiabudi Komp Ruko Milala Blok C 6.   Contact MER-C Cab. Medan untuk info dan penyaluran bantuan: Hp 0877 68591522 Pin BB 28C45767 BSM, Rek No. 701.989.5167 a/n MER-C Cabang Medan

Silahkan bertanya?