Kunjungi RS Indonesia Gaza, PM Palestina: Kemenangan Sudah Dekat

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina, mendapat kunjungan istimewa dengan kedatangan Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah, Selasa 23 Juli 2013 malam waktu setempat. Haniyah datang bersama rombongan parlemen serta ditemani Menteri Dalam Negeri Palestina, Dr Fathi Hamad. Haniyah merasa sangat bahagia dan berterima kasih kepada para relawan dan rakyat Indonesia atas semua usaha dalam meringankan beban rakyat Palestina. “Kami sangat bahagia atas kunjungan kami malam ini ke RSI, Kami berterima kasih atas sambutan kalian semua serta usaha kalian semua dalam meringankan beban seluruh rakyat Palestina,” kata Haniyah di Gaza. Ia mengungkapkan, keberadaan relawan pembangunan RSI di Gaza memberikan semangat dan motivasi bagi seluruh rakyat Palestina. “Setiap Kami melihat kalian kami merasa yakin bahwa kemenangan kita semakin dekat. Kalian jauh meninggalkan istri, anak, keluarga, harta benda untuk menjadi relawan di negeri ini. Insya Allah, keberadaan kalian semua di sini dicatat di sisi Allah sebagai pahala ribat dan jihad,” ungkap Haniyah kepada relawan dari MER-C yang bekerja sama dengan Pesantren Al-Fatah, Indonesia. (Mirajnews/Adi/Ein) Sumber : http://news.liputan6.com/read/648473/kunjungi-rs-indonesia-gaza-pm-palestina-kemenangan-sudah-dekat
Haniyah Kunjungi RSI Gaza

Bayt Lahia, 16 Ramadhan 1434/24 Juli 2013 (MINA) – Di antara kesibukannya sebagai kepala pemerintah, Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah menyempatkan diri mengunjungi Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza pada pertengahan Ramadhan, Selasa malam (23/7). Haniyah datang bersama rombongan parlemen serta ditemani oleh Menteri Dalam Negeri Palestina, Dr. Fathi Hamad. Dalam kunjungannya, Haniyah merasa sangat bahagia dan berterima kasih kepada para relawan dan rakyat Indonesia khususnya atas semua usaha dalam meringankan beban seluruh rakyat Palestina. “Kami sangat bahagia atas kunjungan kami malam ini ke RSI, Kami berterima kasih atas sambutan kalian semua serta usaha kalian semua dalam meringankan beban seluruh rakyat Palestina,” kata Haniyah memulai sambutannya. PM Palestina, Ismail Haniyah bersama relawan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza saat berkunjung ke RSI di Bayt Lahia, Gaza Utara, Selasa (23/4). (Doc. MER-C/MINA) Dia mengungkapkan, keberadaan relawan pembangunan RSI di sana memberikan semangat dan motivasi bagi seluruh rakyat Palestina di Jalur Gaza. “Setiap Kami melihat kalian kami merasa yakin bahwa kemenangan kita semakin dekat. Kalian jauh meninggalkan istri, anak, keluarga, harta benda untuk menjadi relawan di negeri ini. Insya Allah, keberadaan kalian semua di sini dicatat di sisi Allah sebagai pahala ribat dan jihad,” ungkap Haniyah mengagumi keberadaan para relawan yang merupakan unpaid volunteers dari MER-C bekerja sama dengan Pesantren Al-Fatah, Indonesia. Sementara itu, koordinator kunjungan PM Palestina tersebut, Muhammad Husain mengungkapkan, “Malam pertengahan Ramadhan tahun ini para relawan Indonesia di Jalur Gaza mendapatkan hadiah istimewa. Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya mengenai rencana Perdana Menteri Palestina Dr. Ismail Haniyah yang akan berkunjung ke RSI dengan izin Allah terwujud,” kata koordinator kunjungan PM Palestina, Muhammad Husain kepada Mi’raj News Agency (MINA), Rabu dini hari (24/7) waktu Jakarta. “Para relawan yang memang sedang menanti kedatangan beliau tampak sangat bahagia atas kunjungan bersejarah ini,” tambah Husain. Para relawan berusaha memberikan persiapan yang terbaik untuk PM Palestina. Barak tempat mereka tidur pun disulapnya menjadi bentangan lesehan khas masyarakat setempat. Suasana hangat tercipta antara relawan dan PM Palestina saat mereka duduk melingkar, tanpa ada perbedaan. Pertemuan tersebut, menurut Husain, merupakan pertemuan antara Muhajirin dan Anshar pada masa Rasulullah SAW, bukan dalam konteks delegasi Indonesia bertemu kepala negara. (L/P02/P015/P01). Sumber : http://www.mirajnews.com/palestina/7262-haniyah-kunjungi-rsi-gaza.html
MER-C Susuri 25 Desa di Wilayah Gempa Aceh Tengah

Jakarta – Beberapa hari menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, tepatnya tanggal 2 Juli 2013, masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam kembali diuji dengan musibah bencana gempa bumi. Gempa melanda 2 kabupaten di provinsi ini, yaitu Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah. Kamis (4/7), MER-C Cabang Medan sebagai cabang yang terdekat dengan lokasi gempa segera menurunkan Tim medisnya yang terdiri dari 3 perawat, 1 psikolog dan 1 supir. Tim menempuh jalur darat dengan menggunakan kendaraan operasional MER-C Medan berupa ambulans menuju Aceh. Sementara Tim dari MER-C Pusat Jakarta yang terdiri dari 3 dokter, 1 perawat bedah, 1 tenaga logistik dan 1 supir menyusul ke Aceh pada hari Sabtu (6/7). Perjalanan jalur darat ke lokasi gempa baik dari Medan maupun Banda Aceh harus ditempuh selama belasan jam. Hal ini diakibatkan oleh kondisi jalan yang rusak dan terjadi longsor di sejumlah titik akibat getaran gempa. Terletak di wilayah dataran tinggi membuat kondisi jalan menuju lokasi cukup berbahaya, jurang di satu sisi dan tebing yang rawan longsor di sisi yang lain. Untuk itu, supir kendaraan tim MER-C harus ekstra hati-hati. Lokasi gempa yang pertama dilalui adalah Bener Meriah. Tim MER-C Medan langsung menyusuri dan memberikan pelayanan medis kepada para korban gempa yang ditemui di wilayah ini. Pada hari Minggu siang (7/7), Tim MER-C Medan dan Jakarta telah bertemu dan berkumpul di lokasi gempa dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, Tim MER-C dari Medan dan Jakarta sepakat untuk berfokus memberikan bantuan medis bagi korban gempa di Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini dikarenakan Kabupaten ini mengalami dampak yang luas akibat gempa. Dari informasi resmi yang dikeluarkan oleh Bupati Aceh Tengah, gempa melanda 12 kecamatan dari 14 kecamatan di wilayah ini atau sekitar 85,71%. Jumlah kampung yang mengalami dampak kerusakan akibat gempa mencapai 232 kampung dari 352 kampung yang ada atau sekitar 65,50%. Jumlah warga yang mengungsi diperkirakan 5.000 jiwa, belum termasuk warga yang mengungsi di depan atau halaman rumah mereka dengan membuat tenda sederhana. Tim MER-C diberi kewenangan dan tanggung jawab oleh Pemda dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) wilayah Aceh Tengah untuk memberikan bantuan medis bagi korban gempa di wilayah kecamatan Kute Panang. Di kecamatan ini, sebanyak 25 desa terkena dampak gempa. Dengan kekuatan 11 personil, MER-C menyanggupi tanggung jawab ini dan segera membuka posko utama tepatnya di Desa Ratawali, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah. Ketua tim langsung dibagi menjadi dua. Tim Pertama memberikan bantuan pengobatan di posko, sementara Tim kedua melakukan mobile clinic dengan menggunakan kendaraan operasional untuk mencari wilayah yang belum terjangkau bantuan. Luasnya wilayah cakupan membuat Ketua Tim Misi Gempa Aceh pada keesokan harinya memutuskan agar pada siang seluruh tim difokuskan pada kegiatan mobile clinic. Sedangkan untuk pengobatan di posko jadwalnya diubah menjadi pagi hari sebelum tim melakukan mobile dan malam hari sepulang Tim dari kegiatan mobile. Dengan sistem ini, diharapkan lebih banyak desa-desa yang terkena dampak gempa bisa terjangkau bantuan medis dengan lebih cepat. Bagi relawan MER-C yang sudah beberapa kali mengikuti misi kemanusiaan ke wilayah bencana lain baik di dalam maupun di luar negeri, misi kali ini termasuk cukup berat. Hal ini dikarenakan cuaca yang dingin dan lokasi gempa yang merupakan dataran tinggi. Gempa membuat jalan banyak yang rusak dan terbelah, sehingga para relawan harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki meskipun tengah berpuasa agar dapat mencapai korban gempa yang berada di desa-desa. Alhamdulillah, pada hari ke-5 Tim berada di lokasi gempa Aceh Tengah, sebanyak 25 desa wilayah cakupan Tim MER-C yang diamanahkan oleh Pemda dan IDI setempat sudah berhasil dikunjungi oleh Tim. Selain memberikan pengobatan, Tim Medis MER-C juga memberikan edukasi kepada para korban untuk merawat dan membersihkan luka. Dari hasil assessment dan pelayanan kesehatan di kedua puluh lima desa tersebut, Tim MER-C memutuskan tidak diperlukan Tim lanjutan berupa Tim Bedah karena pasien korban gempa yang memerlukan operasi lebih lanjut sudah dapat ditangani oleh Pemda setempat.
MER-C Segera Selesaikan Pembangunan RS Galela

Jakarta, 15 Ramadhan 1434/23 Juli 2013 (MINA) – Tim Medical Emergency Committee (MER-C), segera selesaikan pembangunan rumah sakit di Galela, Maluku Utara. Rumah sakit tersebut ditargetkan bisa selesai tahun depan dengan harapan menjadi rumah sakit yang bisa memudahkan masyarakat sehingga tidak perlu menempuh jarak yang jauh untuk berobat. “Rumah sakit Galela merupakan bukti komitmen kita terhadap Galela, di mana kita sempat bertugas pada tahun 2000 ketika terjadi konflik horizontal di sana,” ungkap Joserizal Jurnalis, Presidium MER-C kepada Mi’raj News Agency (MINA). Setelah sempat terhenti beberapa saat, atas donasi dari masyarakat, RS MER-C di Galela di atas luas bangunan 2.800 m2 memasuki tahap arsitektur. Pengerjaan Rumah Sakit Galela juga dipercayakan kepada relawan dari pesantren Al-Fatah, Cileungsi seperti yang terjadi dalam pembangunan RS Indonesia di Gaza. Seperti RSI Gaza, dalam pengerjaannya RS Galela ini mengutamakan masyarakat. “Kita membangkitkan semangat dan potensi masyarakat dalam pembangunan tersebut,” tambah Joserizal. Menurut laporan MER-C, fokus pekerjaan RS Galela adalah pemasangan rangkap atap baja ringan dan atap RS berwarna biru. Material pembangunan dikirim menggunakan ekspedisi laut dari Jakarta, yang perjalanannya bisa memakan waktu satu bulan. Material terakhir dilaporkan tiba di Pelabuhan Galela akhir Juni lalu. Sehingga pekerjaan pemasangan atap dimulai Juli saat ini. Semua dapat terwujud semata-mata atas pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, juga didukung oleh doa dan shadaqah dari warga lokal, Pemda dan rakyat Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Sementara itu, Tim MER-C Pusat dengan ketua tim, Faried Thalib sedang berkunjung ke Galela untuk melakukan supervisi pekerjaan atap bangunan. Faried Thalib, Kepala Divisi Konstruksi MER-C itu mengatakan, meski sebagian besar energi MER-C sedang fokus pada proses pembangunan RSI di Gaza, namun MER-C terus akan berusaha sekuat tenaga menyelesaikan proses pembangunan RS Galela ini. (L/P01/P015/P02). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/7240-mer-c-segera-selesaikan-pembangunan-rs-galela.html
Ramadhan MER-C Tetap Jalankan Tugas Kemanusiaan

Jakarta, 11 Ramadhan 1434/19 Juli 2013 (MINA) – Selama bulan puasa Ramadhan Medical Emergency Committee (MER-C) tetap bertugas menjalankan amanahnya di bidang kemanusiaan di sejumlah lokasi di Indonesia maupun di Jalur Gaza, Palestina. Di antaranya, pengiriman sejumlah 11 relawan membantu korban gempa di Aceh Tengah, NAD. Mereka terdiri dari : 3 dokter, 4 perawat, 1 psikolog, 1 logistik, 2 driver. Sejumlah 33 relawan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza selama Ramadhan juga tetap melanjutkan pembangunan, walaupun lebih banyak dilaksanakan malam hari, rilis Presidium MER-C dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT, yang diterima redaksi Mi’raj News Agency (MINA), Kamis (18/7). Kegiatan lainnya, penempatan siaga dokter dan perawat di Klinik Sosial MER-C di daerah Timika (Papua), Sorong dan Raja Ampat (Papua Barat). Menurutnya, MER-C juga menempatkan tenaga medis dokter dan perawat yang bertugas melayani kesehatan dalam program Klinik BNI Berbagi MER-C di 25 wilayah seluruh Indonesia. Ada juga penempatan seorang relawan teknis yang bertugas mengawasi pembangunan atap Rumah Sakit Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara. “Semoga semua itu menjadi amal shalih bersama, khususnya pada bulan Ramadhan ini,” ujar Joserizal. Pemasangan Atap RS Galela Sementara itu di wilayah Timur Indonesia, MER-C tengah melanjutkan pembangunan Rumah Sakit di Galela, Maluku Utara. Setelah sempat terhenti beberapa saat, atas shadaqah donasi dari masyarakat, RS MER-C di Galela di atas luas bangunan 2.800 m2 memasuki tahap arsitektur. “Kali ini fokus pekerjaan adalah pemasangan rangkap atap baja ringan dan atap RS berwarna biru. Material rangka baja ringan dan atap semua dipesan dan dibuat di Jakarta,” ujar Jose, sapaan akrabnya. Catatan laporan MER-C menyebutkan, material pembangunan dikirim menggunakan ekspedisi laut dari Jakarta, yang perjalanannya bisa memakan waktu satu bulan. Material terakhir dilaporkan tiba di Pelabuhan Galela akhir Juni lalu. Sehingga pekerjaan pemasangan atap dimulai Juli saat ini. Menurutnya, hal ini semua dapat terwujud semata-mata atas pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, juga didukung oleh doa dan shadaqah dari warga lokal, Pemda dan rakyat Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Ir. Farid Thalib mengatakan, Tim MER-C Pusat direncanakan pekan depan berkunjung ke Galela untuk melakukan supervisi pekerjaan atap bangunan. Setelah itu, dalam bulan ini juga berharap izin visa via Mesir bisa keluar, sehingga Tim dapat melakukan supervisi pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Khusus RS Galela, bagi masyarakat yang ingin menitipkan shadaqah donasinya dapat melalaui BNI Cab. Kramat, No. Rek. 0140600983, a/n. Medical Emergency Rescue Committee. (L/P06/R1). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/7000-ramadhan-mer-c-tetap-jalankan-tugas-kemanusiaan.html
Konflik Mesir dan Bulan Suci Ramadhan; Apa Kabar RSI dan Relawan Indonesia di Gaza?

Gaza, Palestina – Telah kita ketahui bersama konflik yang tengah terjadi di Mesir dengan segala kepahitannya bagi ummat Islam. Hal ini bukan tidak berdampak pada pembangunan RS Indonesia (RSI) di Gaza. Krisis beberapa bahan bangunan seperti semen yang saat ini sangat langka, krisis gas, bensin dan solar yang terlebih dahulu menimpa Gaza, bahkan hampir-hampir beras pun sangat sulit didapat. Inilah yang terjadi hingga saat ini di Jalur Gaza. Bahan bangunan berupa semen sangatlah vital dalam suatu proyek khususnya pembangunan RSI ini. Masuknya semen dari Mesir sangatlah terbatas melalui jalur normal. Kecil kemungkinan untuk mendapatkannya seperti sebelum-sebelumnya. Bukan hanya dibatasi untuk masuknya semen ke Jalur Gaza, tetapi juga harga dinaikkan berkali lipat. Yang semula harga perton semen sebesar 400 shekel kini menjadi 1000 shekel. Terwongan-terowongan yang biasa warga Jalur Gaza gunakan sebagai wasilah ke dua untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka pun hancur oleh sebab dampak dari konflik Mesir. Segala usaha dilakukan para relawan RSI agar pembangunan dapat terus berjalan, Alhamdulillah semen bisa didapatkan walaupun tidak sejumlah target normal. Pekerjaan dapat terus berlanjut walaupun agak sedikit tersendat oleh beberapa faktor di atas. Hingga menjelang Ramadhan para relawan tetap fokus pada pekerjaan pembangunan RSI. Jenis pekerjaan yang sedang dilaksanakan adalah mekanikal elektrikal (ME), pengecatan, pemasangan dinding batu alam (hajar quds), perataan jalan dan halaman RSI, pagar dinding, main entrance dan granolitik. Kegiatan Relawan Kala Ramadhan Menjelang bulan suci Ramadhan para relawan yang saat ini berjumlah 33 orang berunding mengenai waktu kerja yang akan mereka jalankan. Pada umumnya saat Ramadhan warga Gaza berkerja malam hari setelah shalat tarawih hingga menjelang sahur. Berdasarkan kesepakatan bersama akhirnya diputuskan bahwa waktu kerja para relawan RSI pada bulan Ramadhan ini ialah mulai ba’da shubuh jam 05.00 hingga menjelang Dzuhur jam 12.30 dengan sekali istirahat untuk shalat Dhuha pada jam 09.00 hingga setengah jam ke depan. Tersisa waktu sekitar 45 menit dari selesainya waktu kerja menjelang Dzuhur, para relawan menggunakannya untuk beristirahat sejenak kemudian mandi untuk persiapan shalat Dzuhur di masjid. Setelah shalat Dzuhur para relawan menggunakan waktu mereka dengan bertadarrus Al-qur’an di masjid dan ada pula yang di RSI. Diantara mereka yang menetap di masjid dari shalat Dzuhur hingga menjelang buka puasa dengan bertadarrus Al-qur’an diselingi dengan istirahat sejenak. Pada bulan Ramadhan seluruh masjid di Gaza tidak ada jeda waktu setelah adzan Maghrib dan Isya. Iqomah langsung dikumandangkan oleh muadzin setelah adzan. Ini membuat para relawan berangkat ke masjid jauh sebelum waktu adzan Maghrib dikumandangkan dengan membawa bekal bukaan puasa berupa buah wajib bagi mereka setiap harinya, yaitu tiga butir kurma dan buah lainnya yang tersedia seadanya. Usai menunaikan shalat maghrib para relawan langsung kembali ke RSI untuk makan malam bersama, kemudian setelah makan malam mereka melanjutkan tadarrus hingga shalat Isya. Tibalah waktunya Sholat Tarawih berjamaah. Sebagian relawan melakukannya dengan safari sholat Tarawih, yaitu berpindah-pindah masjid setiap harinya. Sebagian lain memilih sholat Tarawih berjamaah di Basement RSI yang dimulai sekitar Jam 2 malam waktu Gaza dengan bacaan murotal Al Qur’an 1 juz setiap malamnya yang diimami oleh Reza Adilla Kurniawan, salah satu relawan RSI asal Pesantren Al Fatah yang hafal 30 juz Al Qur’an. Kegiatan ibadah relawan kemudian dilanjutkan dengan sholat witir yang diimami oleh Ust Abdurrahman, yang sudah dua kali bertugas di Gaza untuk RSI. Doa qunut pun dilantunkan para relawan untuk memohon pertolongan Allah agar kembalinya Palestina dan Masjidil Aqsha ke pangkuan kaum muslimin, juga berharap Allah memenangkan kaum muslimin yang tertindas dan terdzolimi di seluruh negeri muslim lainnya. Kegiatan pembangunan RSI dimulai lagi ketika para relawan selesai melakukan sahur bersama dan sholat Subuh berjamaah. “Alhamdulillah kami tetap terus bersemangat walau setelah Sholat Subuh melanjutkan kembali pekerjaan amal sholih pembangunan RS Indonesia yang kami mulai jam 05.00 pagi sampai dengan jam 12.30 siang nanti,” ujar Ir. Edy Wahyudi, Site Manager Pembangunan RSl di Gaza, Palestina. Dukungan berupa do’a dan lainnya masih sangat diharapkan oleh kami relawan RSI dan harapan kami jangan berhenti berdo’a untuk kelancaran pembangunan RSI demi terjalinnya hubungan silaturahim jangka panjang antara warga Indonesia dan warga Palestina ke depan. Bagi masyarakat Indonesia yang ingin berdonasi untuk Program Pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina dapat mengirimkan melalui : BCA, No. Rek. 686.0153.678, a/n. Medical Emergency Rescue Committee BSM, No. Rek. 700.1352.061, a/n. Medical Emergency Rescue Committee BNI Syariah, No. Rek. 0811192973, a/n. Medical Emergency Rescue Committee RS MER-C di Galela Mulai Pemasangan Atap Galela, Maluku Utara – Sementara program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina terus berjalan diantara blokade Israel dan konflik yang tengah melanda Mesir, begitu juga dengan pembangunan Rumah Sakit di Galela, Maluku Utara. Di wilayah timur Indonesia yang memiliki sejarah kelam akibat konflik ini, bangunan Rumah Sakit yang dilakukan Divisi Konstruksi MER-C juga semakin hari semakin tampak kokoh dan cantik. Hal ini semua dapat terwujud atas pertolongan Allah SWT juga doa serta donasi dari warga lokal, Pemda dan rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Seperti RS Indonesia di Gaza, RS MER-C di Galela dengan luas bangunan 2.800 m2 juga tengah memasuki tahap Arsitektur. Setelah sempat terhenti, namun atas donasi dari masyarakat yang masuk ke rekening donasi amanah RS Galela, pekerjaan pembangunan bisa dimulai kembali. Kali ini fokus pekerjaan adalah pemasangan rangkap atap baja ringan dan atap RS yang berwarna biru. Material rangka baja ringan dan atap semua dipesan dan dibuat di Jakarta. Material tersebut kemudian dikirim menggunakan ekspedisi laut yang perjalanannya memakan waktu selama satu bulan. Alhamdulillah pada akhir Juni 2013, material tiba di Pelabuhan Galela sehingga pekerjaan pemasangan atap bisa mulai dilakukan per awal Juli 2013. Untuk mengawasi pekerjaan tahap ini, Divisi Konstruksi MER-C menugaskan satu orang relawan Teknis yang sejak awal sudah terlibat dalam proses pembangunan. Pemasangan atap dijadwalkan selama 1 bulan. Dalam awal pekan depan, Ketua Divisi Konstruksi MER-C dan Tim akan berkunjung ke Galela untuk melakukan supervisi pembangunan. “Awal pekan depan saya dan tim akan berkunjung ke Galela untuk melakukan supervisi pekerjaan atap bangunan RS yang sudah berjalan selama 2 minggu. Setelah Galela, dalam bulan ini juga kami berharap bisa melakukan supervisi pembangunan RS Indonesia di Gaza,” tutur Ir. Faried Thalib, Ketua Divisi Konstruksi MER-C. Bagi masyarakat Indonesia yang ingin
Safari Ramadhan Relawan RS Indonesia di Gaza

Gaza, 7 Ramadhan 1434/ 15 Juli 2013 (MINA) – Relawan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Ir. Edy Wahyudi, melaporkan kegiatan para relawan RS Indonesia (RSI) di Gaza dalam bulan Ramadhan ini. “Kegiatan para relawan RSI di Gaza pada bulan Ramadhan yaitu, sholat Tarawih berjamaah, sebagian dengan safari Ramadhan, yaiut shalat Tarawih dengan berpindah-pindah masjid setiap harinya”, kata Edy Wahyudi melalui rilis yang diterima Mi’raj News Agency (MINA), Senin (15/7). Gambar Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza terbaru. (dokumen MER-C) Menurut Edy Wahyudi, site manager pembangunan RSI Gaza, sebagian relawan RSI di Gaza sholat Tarawih berjamaah di lantai dasar RSI, dimulai sekitar pukul dua dini hari waktu Gaza, dengan bacaan murotal Al Qur’an satu juz setiap malamnya yang diimami oleh Reza Adilla Kurniawan, salah seorang Relawan yang hafal 30 juz Al Qur’an. Kemudian kata Edy, dalam shalat witir, para Relawan melakukan doa qunut untuk memohon pertolongan Allah bagi kembalinya Masjid Al-Aqsha kepangkuan muslimin, dan berharap Allah memenangkan muslimin dari penindasan kaum kafir di seluruh negeri muslim. Sebelumnya, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) cabang Gaza mengadakan acara silaturahmi ke warga sekitar lokasi RSI, pada Ahad, (7/7). Acara itu diadakan usai sholat maghrib di masjid Zawiyah yang terletak di sebelah utara RSI. Masjid Zawiyah adalah masjid di mana relawan RSI biasa menunaikan kewajiban shalat lima waktu. Imam Besar masjid Zawiyah, Akram Nashar Abu Al-Amin, menyampaikan keutamaan Ramadhan dan menjaga Al-Qur’an dengan menghafalnya. Mewakili MER-C merupakan inisiator RSI dan relawan RSI, Muhammad Husein menyampaikan pesan dan kesan dari MER-C. Pada kesempatan tersebut, para relawan juga memberikan bantuan bagi guru tahfidz dan kegiatan operasional masjid, pembagian bingkisan berupa tas, mushaf Al-Qur’an, alat tulis dan bantuan dana bagi anak-anak penghafal Qur’an di masjid tersebut. Edy juga melaporkan, selama menunaikan puasa pada Ramadhan, para relawan RSI masih terus melakukan proses pembangunan tahap kedua, berupa pekerjaan arsitektur dan ME (mechanical electrical). “Alhamdulillah, para relawan tetap bersemangat walau setelah sholat Subuh melanjutkan pekerjaan amal sholih pembangunan RS Indonesia di mulai pukul 05.00 pagi hingga pukul 12.30 siang,” tambah Edy. RSI di Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Dalam pembangunan RSI ini, MER-C bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawan ke Gaza. Pembangunan sekarang memasuki tahap kedua, berupa pekerjaan arsitektur dan mechanical electrical (ME). Pekerjaan tahap ini dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan yang tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RSI dijadwalkan selesai akhir tahun 2013. (T/P015/P02) Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/6843-ramadhan-laporan-relawan-rs-indonesia-di-gaza.html
Relawan RSI Sambut Ramadhan dengan Memuliakan Al-Qur’an dan Para Penghafalnya

Gaza, Palestina – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, Ahad, 07 Juli 2013 usai shalat maghrib, MER-C Cabang Gaza mengadakan acara yang melibatkan warga sekitar RSI. Acara yang diadakan usai sholat maghrib ini bertempat di sebuah masjid tua sederhana bernama Zawiyah yang terletak di sebelah utara RSI. Masjid Zawiyah dipilih karena di sinilah sebagian besar relawan RSI biasa menunaikan shalat lima waktu mereka. Atas kerjasama dengan tokoh masyarakat setempat, imam besar masjid dan beberapa pemuda pengurus masjid, acara berlangsung sesuai dengan apa yang diharapkan. Acara dihadiri oleh segenap masyarakat jama’ah masjid dan seluruh relawan RSI yang saat ini berjumlah 33 orang. Rangkaian acara terdiri dari sambutan tokoh masyarakat yang juga Imam Besar masjid, Akram Nashar Abu Al-amin yang menyampaikan keutamaan Ramadhan dan menjaga Al-qur’an dengan menghafalnya. Mewakili pihak MER-C dan relawan RSI, Muhammad Husein menyampaikan pesan dan kesan dari MER-C. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian bingkisan bagi anak-anak penghafal Qur’an di masjid tersebut. Tak lupa para relawan juga memberikan bantuan bagi guru tahfidz dan kegiatan operasional masjid. Niat MER-C Cabang Gaza mengadakan acara ini bukanlah semata hanya untuk memberikan bingkisan atau lain sebagainya, akan tetapi yang terpenting adalah menyatukan tali silaturahmi dan menyampaikan pesan salam dan cinta kasih mewakili rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina terkhusus para anak-anak penghafal Al-qur’an di Gaza. Alhamdulillah pesan tersebut tersampaikan dengan do’a dari seluruh masyarakat yang hadir pada acara tersebut ketika di penghujung acara. Para relawan RSI juga sangat senang menyaksikan kebahagiaan yang tampak dari wajah-wajah para penghafal Al-qur’an yang terpilih menerima bingkisan dari MER-C. Semoga dengan do’a tersebut dapat menambah pahala dan kemudahan serta kelancaran bagi para relawan untuk menunaikan amanah pembangunan RSI di Gaza yang sedang dibangun sebagai persembahan bagi rakyat Gaza-Palestina.
Selama Ramadan, MER-C Indonesia Tetap Bekerja

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Selama Ramadan, organisasi masyarakat, MER-C Indonesia dipastikan tetap bekerja seperti biasa untuk melayani masyarakat Aceh yang baru saja tertimpa bencana gempa bumi. Dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Selasa (9/7/2013), MER-C yang telah mengirimkan tim medisnya ke Aceh, tetap akan bertugas selama Ramadan. “11 relawan (3 dokter, 4 perawat, 1 psikolog, 1 logistik dan 2 sopir) untuk membantu korban gempa di Aceh Tengah, NAD,” bunyi rilis tersebut. Selain itu, sejumlah program kerja yang sudah berjalan, akan tetap digarap pada bulan ini. “33 relawan pada Program Pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Selama Ramadan pekerjaan pembangunan biasanya akan dilakukan pada malam hari bada sholat tarawih sampai dengan jam 9 pagi esok harinya. Sementara, satu relawan teknis yang saat ini bertugas mengawasi pembangunan atap RS MER-C di Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara. SDM Dokter dan Perawat yang bertugas di Klinik Sosial MER-C di wilayah Timika (Papua), Sorong dan Raja Ampat (Papua Barat). SDM dokter dan perawat yang bertugas pada program klinik BNI BERBAGI -MER-C di 25 wilayah Indonesia. Sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2013/07/09/selama-ramadan-mer-c-indonesia-tetap-bekerja
MER-C Buka Klinik Keliling Ke Lokasi Terisolir Gempa Aceh

Jakarta, 29 Sya’ban 1434/8 Juli 2013 (MINA) – Tim Medis MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Pusat Jakarta bersama MER-C Cabang Medan sudah mulai membuka posko sejak Sabtu (6/7) di Kampung Ratawali, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah. Saat ini, Tim Medis MER-C melakukan klinik keliling (mobile clinic) dengan menggunakan ambulans untuk mencari lokasi terisolir yang belum terjangkau bantuan medis. Tim MER-C dipandu Satuan Koordinator Pelaksana (Satkorlak) pemerintah setempat menuju lokasi terisolir, yaitu di Kampung Jaluk, Kecamatan Ketol. Di kecamatan ini tercatat, sebanyak 31 kampung terkena dampak gempa. “Selain memberikan bantuan pengobatan, Tim MER-C juga melakukan pendataan korban gempa yang memerlukan penanganan lebih lanjut, seperti operasi bedah tulang,” kata Manajer Operasional MER-C, Rima, kepada Mi’raj News Agency (MINA). Tim dokter MER-C saat ini berfokus memberikan bantuan medis bagi korban gempa di Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini dikarenakan Kabupaten ini mengalami dampak yang luas akibat gempa, katanya. Berdasarkan informasi resmi Bupati Aceh Tengah, gempa melanda 12 kecamatan dari 14 kecamatan di wilayah ini atau sekitar 85,71 %. Jumlah kampung yang mengalami dampak kerusakan akibat gempa mencapai 232 kampung dari 352 kampung yang ada atau sekitar 65,50 %. Sedangkan jumlah warga yang mengungsi diperkirakan 5.000 jiwa. Belum termasuk warga yang mengungsi di depan atau halaman rumah mereka dengan membuat tenda sederhana. Rima menambahkan, masyarakat yang ingin berpartsiipasi memberikan donasi bantuan bagi korban gempa Aceh melalui Rekening MER-C amanah Aceh BSM 701.5658.937 atas nama Medical Emergency Rescue Committee, atau datang langsung ke Kantor MER-C Pusat Jalan Kramat Lontar J-157 Senen, Jakarta Pusat, telepon dan faksimili (021) 3159235 atau pesan singkat 0811990176. Siap Relawan Sementara itu, warga Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Niyabah Sukabumi, Jawa Barat dalam Ta’lim Niyabah dan Dialog dengan Redaktur Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency) Ahad (7/7), mengatakan kesiapan warga setempat jika diperlukan beramal sholeh sebagai relawan membantu korban gempa Aceh. Warga Sukabumi mengetahui perjalanan Tim Medis MER-C dan informasi perkembangan dunia Islam pada umumnya melalui Radio Silaturahim (Rasil), yang kini telah memiliki pemancar di Sukabumi. “Suaranya terdengar jelas dengan adanya pemancar di sini,” ujar Ahmad Hudaya, tokoh masyarakat setempat. Menurutnya, umat Islam di wilayah Sukabumi merasa tercerahkan dengan kehadiran Radio Silaturahim membawa misi untuk Islam yang satu. Banyak pejabat dan tokoh ulama mendengarkan Rasil melalui radio mobil dalam perjalanannya. (L/R1). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/6588-mer-c-buka-klinik-keliling-ke-lokasi-terisolir-gempa-aceh.html