Ulama Palestina Kunjungi Keluarga Relawan rumah Sakit Indonesia Di Gaza

Wonogiri, Jawa Tengah, 28 Sya’ban 1434/7 Juli 2013 (MINA) – Ketua Rabithah Ulama Palestina, Syeikh Prof. Dr. Muhammad Mahmud Shiyam kunjungi keluarga relawan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. “Darah yang mengalir dan nafas yang dihembuskan suami dan anak-anak mereka di Gaza akan mengalir pula pahala yang sama kepada mereka di kampung halaman bila mereka ikhlas dan bershabar merelakan mereka berjihad,” kata Syeikh Shiyam dalam bahasa Arab yang diterjemahkan oleh Ustadz Yakhsyallah Mansur, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fatah, rabu, (3/7). “Saya kagum kepada mereka, meskipun di daerah, tetapi semangat membebaskan Masjid Al-Aqsha tetap tinggi.” Ujarnya. Imam dan Khatib Masjid Al Aqsha periode 1984-1988 itu berkunjung ke Indonesia dan Malaysia dalam rangka safari dakwah dan mensosialisasikan perjuangan pembebasan Al-Aqsha dan Palestina pada khususnya serta perjuangan dunia Islam umumnya. Beberapa kota yang dijadwalkan untuk dikunjungi dalam safarinya selama Ramadhan, antara lain; Jakarta, Bogor, Bandar Lampung, Balikpapan, Kupang, Batam, dan Kuala Lumpur. Rumah Sakit Indonesia di Gaza Rumah Sakit Indonesia di Gazamenjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Dalam pembangunan RSI ini, MER-C bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawan ke Gaza. Pembangunan sekarang memasuki tahap kedua, berupa pekerjaan arsitektur dan mechanical electrical (ME). Pekerjaan tahap ini dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan yang tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RSI dijadwalkan selesai akhir tahun 2013. (L/P06/P015/R2). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/6558-ulama-palestina-kunjungi-keluarga-relawan-rumah-sakit-indonesia-di-gaza.html
MER-C Turunkan Tim Medis dari Medan dan Jakarta untuk Bantu Korban Gempa Aceh

NAD – Menyusul gempa bumi yang beberapa kali mengguncang Nanggroe Aceh Darussalam, MER-C menurunkan Tim Medisnya dari Cabang Medan dan Pusat Jakarta untuk memberikan bantuan pengobatan bagi para korban. MER-C Cabang Medan, sebagai cabang yang terdekat dengan lokasi gempa, memberangkatkan Tim Medisnya yang terdiri dari 3 perawat dan 1 psikolog ke Aceh pada hari Kamis (4/7). Pada esok lusanya, Sabtu (6/7), MER-C Pusat Jakarta memberangkatkan 5 relawannya ke Aceh yang terdiri dari 3 dokter, 1 perawat bedah dan 1 logistik untuk memperkuat Tim yang sudah berada di lokasi bencana. Perjalanan dari Medan ke Aceh ditempuh dengan jalur darat menggunakan armada ambulans milik MER-C Cabang Medan. Kondisi jalan yang rusak dan longsor di beberapa titik membuat perjalanan membutuhkan waktu belasan jam bagi Tim MER-C Medan untuk bisa mencapai lokasi bencana. Hal yang sama juga dialami oleh Tim Medis dari Jakarta yang menempuh jalur darat dari Banda Aceh ke lokasi gempa. Meskipun demikian, kedua Tim MER-C khususnya dari Jakarta Minggu siang ini (7/7) dikabarkan sudah tiba di lokasi gempa dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Tim MER-C saat ini berfokus memberikan bantuan medis bagi di Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini dikarenakan Kabupaten ini mengalami dampak yang luas akibat gempa. Berdasarkan informasi resmi yang dikeluarkan oleh Bupati Aceh Tengah, gempa melanda 12 kecamatan dari 14 kecamatan di wilayah ini atau sekitar 85,71 %. Jumlah kampung yang mengalami dampak kerusakan akibat gempa mencapai 232 kampung dari 352 kampung yang ada atau sekitar 65,50 %. Jumlah warga yang mengungsi diperkirakan 5.000 jiwa, belum termasuk warga yang mengungsi di depan atau halaman rumah mereka dengan membuat tenda sederhana. Tim MER-C Medan sudah mulai membuka posko sejak hari Sabtu (6/7) tepatnya di Kampung Ratawali, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah. Tim dibagi menjadi dua. Tim Pertama memberikan bantuan pengobatan di posko. Tim kedua melakukan mobile clinic dengan menggunakan ambulans untuk mencari wilayah yang belum terjangkau bantuan medis. Tim MER-C Jakarta yang baru tiba Minggu siang ini (7/7), langsung diarahkan dan dipandu oleh Satkorlak setempat untuk menuju lokasi yang masih terisolir, yaitu di Kampung Jaluk, Kecamatan Ketol. Di kecamatan ini tercatat, sebanyak 31 kampung terkena dampak gempa. Selain memberikan bantuan pengobatan, Tim MER-C juga akan melakukan pendataan korban gempa yang memerlukan penanganan lebih lanjut, yaitu operasi bedah tulang. Apabila dibutuhkan, MER-C akan mengirimkan Tim lanjutan berupa Tim Bedah.
MER-C Kirim Tim Medis Ke Lokasi Gempa Aceh

Jakarta, 27 Sya’ban 1434/6 Juli 2013 (MINA) – Lembaga kegawatdaruratan medis MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Pusat Jakarta hari ini mengirimkan tim medis untuk membantu pengobatan korban gempa Aceh. Tim Medis yang dikirim terdiri dari tiga dokter, satu perawat bedah dan satu tenaga logistik bertolak ke Banda Aceh melalui jalur udara, Sabtu pagi (6/7). Tim MER-C Pusat akan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat ke lokasi bencana gempa bumi di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Tim Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Medan melakukan mobile clinic (pengobatan medis keliling) di desa Kelumpang Payung, Kab. Bener Meriah, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), 5 Juli 2013. (Doc. MER-C) “Tim MER-C Pusat akan bergabung dengan Tim MER-C Medan yang sudah tiba lebih dulu di lokasi dan melakukan mobile clinic (pengobatan medis keliling) ke wilayah-wilayah gempa yang masih minim dari jangkauan bantuan medis,” kata Manajer Operasional MER-C, Rima dalam rilis yang diterima Mi’raj News Agency (MINA). Sebelumnya, Kamis (4/7), MER-C Cabang Medan mengirimkan tim awal yang terdiri dari tiga perawat dan satu nonmedis ke lokasi bencana gempa di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah. Kedatangan Tim Dokter dari MER-C Pusat Jakarta, selain untuk melengkapi susunan Tim Medis, juga akan melakukan pendataan korban gempa yang memerlukan penanganan lebih lanjut seperti operasi bedah tulang. Hal itu dikarenakan pada bencana gempa bumi korban-korban yang biasa ditemui adalah korban-korban yang mengalami patah tulang akibat terkena atau tertimbun reruntuhan bangunan. “Untuk itu, apabila diperlukan, MER-C akan mengirimkan Tim lanjutan berupa Tim Bedah,” kata Rima. 36 Meninggal, 16.000 Mengungsi Menurut Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), memasuki hari kelima pasca gempa 6,2 SR di Aceh, hingga Sabtu (6/7) tercatat jumlah korban meninggal 36 orang, yaitu 9 orang di Bener Meriah dan 27 orang di Aceh Tengah. Gempa 6.2 SR di Aceh dinyatakan sebagai bencana tingkat provinsi oleh Gubernur Aceh karena menyangkut dua kabupaten yang terdampak parah yaitu Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah. Masa tanggap darurat ditetapkan selama dua pekan yaitu 3-17 Juli 2013. “Pencarian dan penyelamatan korban oleh tim SAR gabungan masih terus dilakukan karena dilaporkan masih ada delapan orang hilang di Aceh Tengah,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB melalui rilis resmi BNPB yang diterima Mi’raj News Agency (MINA). Sementara jumlah pengungsi dilaporkan mencapai 16.000 jiwa, terdiri dari 12.500 jiwa di Kabupaten Bener Meriah dan 3.500 jiwa di Kab. Aceh Tengah. “Pengungsi ada yang tersebar di titik-titik pengungsian tetapi juga ada yang di halaman rumahnya. Masyarakat sebagian masih trauma tinggal di rumah,” ungkap Sutopo. Sementara itu, gempa susulan masih terjadi, tercatat 23 kali gempa susulan pasca gempa 6,2 SR pada 2 Juli 2013 lalu. (T/P02/R1) Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/6543-mer-c-turunkan-tim-medis-ke-wilayah-gempa-aceh.html
Perkembangan Mujahid di Jalur Gaza Kini

Jakarta, 22 Syaban 1434/2 Juli 2013 (MINA) Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Nur Ikhwan Abadi menyampaikan beberapa perkembangan para relawan lainnya yang berada di Jalur Gaza Palestina. Sejak dikumandangkan Ghazwah Fathul Aqhsa oleh Imamul Muslimin pada tahun 2006, berbagai usaha dilakukan untuk mengembalikan Masjid Al-Aqsha yang dikuasai Zionis Yahudi. Usaha-usaha tersebut dilakukan meliputi seminar-seminar, konferensi, tabligh akbar, long march cinta Al-Aqsha, bedah buku, kajian-kajian tentang Aqsha yang dilakukan hampir di seluruh Indonesia, kata Nur Ikhwan pada Tabligh Akbar yang diselenggarakan Pondok Pesantren Al-Fatah pada 20-21 Syaban 1434/29-30 Juni 2013 di Masjid At-Taqwa, Pasirangin, Cileungsi-Bogor. Tahun 2009 sejumlah 25 orang dikirim ke Yaman untuk belajar tentang Al-Aqsha dan Palestina, baik dari sejarah atau topograpi. Pada tahun yang sama sejumlah 68 orang diberangkatkn ke Jantung Palestina, guna melihat secara langsung kondisi al-Aqsha. Dengan izin Allah semua pasukan tersebut dapat masuk ke Al-Quds dan melihat kondisi secara langsung, kata pembicara pertama pada Tabligh Akbar yang bertema Dengan Ramadhan Kita Tingkatkan Ukhuwah Khairu Ummah Menuju Pembebasan Masjid Al-Aqsha di Tengah Hegemoni Barat itu. Kondisi yang sangat mengenaskan, masjid suci ketiga kaum muslimin dijaga ketat oleh zionis Yahudi, untuk memasukinya saja dibatasi umur dan waktu. Waktu hanya dari jam 4 pagi hingga 10 malam. Selebihnya ditutup dan tidak ada yang boleh masuk. Pembatasan umur juga dilakukan hanya orang tua sepuh yang boleh masuk, sedangkan yang masih muda berusia dibawah 50 tahun dilarang masuk dan beribadah di sana, kata pemuda yang sempat mengkibarkan bendera hitam liwa rasulullah bertuliskan الله اكبر di Halaman Masjid Al-Aqsha itu. Tahun 2010 dengan izin Allah, Jama’ah Mulimin (Hizbullah) diberikan kenikmatan untuk lebih dekat dengan Al-Aqsha. Bekerja sama dengan MER-C membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Bait Lahiya, Gaza, kata relawan binaan Jamaah Muslimin (Hizbullah) yang sudah 3 tahun lebih di Gaza, Palestina itu. Jama’ah Muslimin (Hizbullah) mengirimkan Nur Ikhwan Abadi dengan melakukan pelayaran bersama para relawan dari seluruh dunia menggunakan kapal Mavi Marmara, Freedom Flotilla atau armada kebebasan bergabung dengan para aktivis kemanusiaan yg dimotori IHH Turki menembus jalur Gaza yang diblokade Zionis Israel secara ilegal. Di tengah laut internasional, Laut Mediterania, kapal penumpang lebih dari 600 org tersebut dibajak dan dirampok oleh Zionis Yahudi, kata Relawan MER-C asal Lampung itu. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengerahkan pasukan komando elitnya untuk mengepung para aktivis. Setelah barang-barang dirampok, para aktivis dijebloskan ke penjara dan diinterogasi, kemudian diberi makan yang mengandung racun arsenik yang sangat berbahaya. 9 orang dari Turki tewas, serta puluhan lainnya luka-luka, ucap ayah dari dua anak itu. Enam bulan berselang kembali diutus 5 relawan untuk memperkuat shaf, di antaranya Ir. Edy Wahyudi, Ir. Ahmad Fauzi, Ust Abdurrahman Parmo, Darusman dan Muhammad Husain. Setelah berjalan 1 tahun lebih keenam relawan membantu proses pembangunan tahap awal. Setelah selesainya tahap pertama yang berupa struktur pada bulan Mei 2012, kata Ikhwan. Tahap awal pembangunan RSI dikirim 4 relawan berasal dr Wonogiri, Jawa Tengah Selatan untuk mempersiapkan tempat tinggal relawan di basement RSI, kemudian setelah selesai 4 bulan berselang kembali dikirim 23 relawan untuk membantu menyelesaikan bangunan RSI tersebut, kata Ikhwan. Selain membantu RSI, para relawan juga mengikuti beberapa kegiatan seperti 3 orang yang diterima kuliah dengan bea siswa di Universitas Islam Gaza. Mereka adalah Muhammad Husain, Reza Adilla Kurniawan, dan Muqarrabin al-Fikri. Dan Ustadz Sholeh Iskandar yang ikut magang di kantor pusat Darul Quranul Karim was Sunnah. Lantas setiap hari selepas shalat Shubuh para relawan belajar bahasa Arab dan selepas Maghrib menghafal al-Qur’an, kata Ikhwan. November 2012, Gaza kembali dilanda perang besar. Namun atas pertolongan Allah para relawan diberikan rasa tenang tanpa merasa takut atas serangan tersebut. Hampir ratusan bom meledak di sekitar lokasi RSI. Perang tersebut tercatat sejumlah korban, 200 gugur, puluhan di antaranya adalah wanita dan anak-anak, 1400an luka-luka, baik luka berat atau luka ringan kata Ikhwan. Dalam perang yang dinamakan Hijaratus Sijjil itu Israel terus-terusan menyerang Gaza dengan intensitas tinggi selama delapan hari. Berbagai dukungan datang agar para relawan menyelamatkan diri dari serangan Israel, Sebenarnya kami sudah diminta pindah dari RSI mengingat lokasi tersebut sangat rawan. Permintaan tersebut datang dari berbagai pihak mulai dari MER-C sendiri, teman-teman di Gaza, pemerintah Gaza juga para pejuang yang ada di front terdepan meminta semua ikhwan untuk pindah dari lokasi RS, karena jarak antara RS Indonesia dan perbatasan lebih kurang 3 km, dikhawatirkan jika terjadi perang darat maka yang terlebih dahulu menjadi sasaran adalah RS tersebut. Namun kami tetapi istiqomah memohon pertolongan Allah setelah melakukan istikhoroh dan mempertimbangkan bahwa RS ini adalah amanah dari rakyat Indonesia yang harus dipertahankan dan dijaga, katanya. Menurut Ikhwan, lokasi RSI berada dekat dengan perbatasan. Di sisi bagian depan sekitar 20 meter adalah tempat latihan para pejuang Gaza. Di sisi sebelah kiri atas merupakan sebuah bukit yang juga tempat latihan para pejuang. Sehingga pada saat perang berlangsung kedua tempat tersebut menjadi sasaran Israel dan dibombardir sedemikian rupa. Tujuh tahun berselang, sejak amanah Ghazwah Fath Al-Aqsha dikumandangkan, saat ini dengan takdir dan pertolongan Allah jejak Khilafah ‘ala min hajin nubuwwah sudah berada di Gaza, yang berjarak 80 km dari Masjid Al-Aqsha. Semoga ini menjadi sebuah sinyal dari Allah, dengan demikian dekatnya ke Masjid Al-Aqsha akan lebih memotivasi kita, bahwa sesuatu yang tidak mungkin, sesuatu yang tadinya hanya sebuah hayalan semata, bahkan tidak sedikit orang yang mencibir dan meremehkan, saat ini perlahan mulai menjadi kenyataan, mulai Allah tampakkan kemudahan-kemudahan dan pertolongannya. Kuncinya, bersungguh-sungguh di jalan Allah dalam memperjuangkan Al-Aqsha untuk kembali ke pangkuan muslimin. ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, Al Aqsha Haqquna, tegas Nur Ikhwan. (L/P06/P013/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/6372-perkembangan-mujahid-di-jalur-gaza.html
Tim Pembela Muslim Tegur Keras Media Penyebar Fitnah

Jakarta, 17 Syaban 1434/26 Juni 2013 (MINA) Ketua Dewan Pembina Tim Pembela Muslim (TPM) Muhammad Mahendradatta,M.H. menegur keras media online dan jejaring sosial yang dengan mudah menyebarkan berita-berita yang berpotensi memunculkan fitnah sesama umat Islam. Mahendradatta menanggapi fitnahan yang menimpa rekannya dr. Joserizal Jurnalis, Presidium MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) yang diberitakan sebagai syiah atau simpatisan syiah, padahal media yang bersangkutan belum mengadakan wawancara langsung dengan yang bersangkutan. Media online atau siapapun, terlebih media Islam, jangan mudah membuat dan menyebarkan berita yang memunculkan fitnah, apalagi terhadap sesama muslim, katanya dalam acara diskusi bertema Kenapa Suriah di Universitas Yarsi Jakarta, Rabu (26/6). Lebih lanjut Mahendradatta mengatakan agar semua elemen umat Islam merapatkan barisan dan menghindari saling serang satu sama lain. Justru media Islam itu harus menjadi pemersatu demi terciptanya persatuan dan kesatuan antara sesama umat Islam. Bukan malah menjadi ajang fitnah dan perpecahan, tambahnya. Mahendradatta mengingatkan adanya undang-undang pencemaran nama baik melalui media online yang perlu diperhatikan. Jika itu dilanggar, sanksinya sudah pasti berat dan itu akan merugikan semua pihak. Yang terbaik tentu tetap mengedepankan prinsip ukhuwah Islamiyah agar tidak terjebak ke dalam perpecahan sesama umat Islam, tegasnya. Namun demikian, TPM siap memberikan bantuan hukum apabila ada media yang mencemarkan nama baik dr. Joserizal Jurnalis dan Lembaga Kemanusiaan MER-C, yang hingga kini sedang menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. RS Indonesia di bumi Palestina merupakan persembahan persaudaraan umat Islam Indonesia kepada warga Palestina yang sangat membutuhkan layanan kesehatan sehari-hari. TPM selama ini dikenal karena menangani berbagai kasus kontroversial, mulai dari pembelaan hukum terhadap Ustadz Jafar Umar Thalib, Panglima Laskar Jihad Ahlus’sunnah Wal Jamaah (Aswaja), Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, juga beberapa terdakwa seperti Amrozi, Imam samudera dan Ali Ghufron Sementara itu, salah seoran relawan kemanusiaan dan salah satu pendiri MER-C dr Henry Hidayatullah merasa sedih dan prihatin atas fitnah yang menyebut dr. Joserizal dan Lembaga Kemanusiaan MER-C terkait isu syiah di dalamnya. Menurutnya, sepanjang dirinya mengikuti perjalanan jihad bersama Joserizal ke berbagai medan konflik mulai dari Ambon, Tual, Saparua, Sudan, Afghanistan sampai Gaza, hingga sekarang. Dirinya menyaksikan bahwa dr Joserizal dan Lembaga Kemanusiaan MER-C bukan syiah. (L/P04/P06/P10/P015/R1). Sumber http://mirajnews.com/indonesia/6232-tim-pembela-muslim-tegur-keras-media-penyebar-fitnah.html
Joserizal Jurnalis: Hentikan Perang Suriah

Jakarta, 17 Syaban 1434/26 Juni 2013 (MINA) Aktivis Lembaga Kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT. menyerukan hentikan perang di Suriah. Mereka harus duduk bersama untuk berunding, sehingga tidak menambah jumlah korban dari warga, ujar Joserizal, pada Diskusi Terbuka Kenapa Suriah di Universitas Yarsi Jakarta, Rabu (26/6). Menurutnya, salah satu upayanya adalah dengan mengijinkan lembaga kemanusiaan internasional untuk masuk ke Suriah membantu kedua belah pihak. Lembaga kemanusiaan termasuk MER-C harus diizinkan masuk membantu kedua belah pihak yang bertikai dengan membawa prinsip netralitas dan independen, ujar Presidium MER-C yang bersama groupnya sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza tersebut. Rancangan Zionis Dalam presentasinya, Joserizal mengungkapkan bahwa konflik berdarah yang terjadi di Suriah sudah dirancang oleh Zionis melalui program yang dikenal dengan istilah Novus Ordo Seclorum atau era zaman baru yang sekuler. Melalui program ini, Zionis membuat rancangan rahasia ditujukan kepada negara-negara yang menentang Israel agar menjadi negara kecil dan lemah, sehingga tak berdaya menghadapi kekuatan Zionis. Zionis mengetahui, bahwa Suriah secara fakta dan data membuktikan memang selama ini dikenal sebagai negara yang sering menentang kebijakan Israel, katanya. Suriah juga dikenal sebagai negara yang kuat dalam bidang militer dan intelejen. Hal ini terbukti ketika mereka berperang melawan Israel pada 1967 dan 1973, ungkap aktivis kemanusiaan yang juga pernah terjun langsung di Mindanau Selatan, Kashmir, Pattani, Lebanon dan Darfur. Untuk itu, sebagai bagian dari upaya kemanusiaan meredam konfik Suriah, hendaknya sesama kaum muslimin di belahan dunia lainnya yang mengiktui perkembangan Suriah, dituntut saling menghormati, menghargai dan menjaga ukhuwah Islamiyah. Kalau kita pernah terjun ke medan perang, kita pasti tidak galak sesama umat Islam. Sebab musuh kaum muslimin satu, Zionis. Jangan kita jadi alat permainan mereka, tegas dokter yang aktif dalam dunia kegawatdaruratan sejak 1999 itu. Tampil sebagai pembicara lain, Drs. M.Hamdan Basyar,M.Si (Peneliti LIPI), Jerry D. Gray (Penulis dan Pengamat Politik Internasional), sambutan dr. Sarbini Abdul Murad, serta dipandu Moderator Zulfatan Faizin (Metro TV). (L/P04/P06/P10/P015/R1). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/6230-joserizal-jurnalis-hentikan-perang-konflik-suriah.html
Republika Serahkan Sumbangan Pembaca untuk Rumah Sakit Gaza

Penyerahan bantuan pembaca Republika sebesar Rp 1 Miliar untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Genap Rp 1 miliar hasil sumbangan pembaca Republika terkumpul. Sumbangan itu selanjutnya diserahkan untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Pengelolaan dana sumbangan pembaca Republika ini selanjutnya diserahkan ke lembaga nirlaba MER-C. Prosesi penyerahan sumbangan pembaca itu dilakukan langsung Pemred Harian Republika, Nasihin Masha kepada Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad di ruang pertemuan Harian Republika di Jl Warung Buncit, 37, Jakarta Selatan, Senin (17/6). MER-C dianggap paling konkret untuk mengelola dana sumbangan pembaca, ujar Pemred Republika, Nasihin Masha, Sarbini menyatakan, sumbangan ini sangat bernilai bagi kelangsungan pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza. Rumah sakit yang berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza Utara itu diutamakan untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel. Fasilitas itu dapat menampung sedikitnya 100 pasien. Bangunan dua lantai plus satu ruang bawah tanah dan satu lantai area tengah itu didirikan di atas tanah seluas 16.261 meter persegi. Tanahnya merupakan wakaf dari pemerintah Palestina. Reporter : Maman Sudiaman Redaktur : Hafidz Muftisany Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/13/06/17/moixzv-republika-serahkan-sumbangan-pembaca-untuk-rumah-sakit-gaza
Ketua umum PERSIS Gerakkan Wakaf Umat Untuk RS di Gaza

Ketua Umum PP Persatuan Islam (PERSIS), Prof. Dr. KH. Maman Abdulrahman, M.A. (kiri) dalam pertemuan dengan Ketua Divsi Konstruksi MER-C, Ir. Farid Thalib (kanan) mengenai gerakan wakaf umat Islam di Indonesia dalam membantu pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. (Foto: MAR/MINA). Jakarta, 2 Syaban 1434/11 Juni 2013 (MINA) Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PERSIS) Prof. Dr. K.H.M. Abdurrahman,MA. mengemukakan tekadnya untuk ikut serta menggerakkan wakaf umat Islam Indonesia untuk membantu warga Palestina melalui pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Prof. M. Abdurrahman mengatakan hal itu dalam pertemuan dengan Pimpinan Lembaga Kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) di Jakarta, Selasa (11/6). Kepada wartawan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency), ia bersama organisasinya bermaksud ikut serta mensosialisasikan gerakan wakaf dari umat Islam di Indonesia untuk menyelesaikan pembangunan RS Indonesia di Gaza yang dalam tahap penyelesaian akhir. Di samping ia turut menyampaikan kepada Pimpinan Organisasi Massa, tokoh Islam dan umat Islam pada umumnya untuk membantu pembangunan RS tersebut. Dirinya bahkan ingin berziarah ke Jalur Gaza, Palestina. Saya bahkan ingin berkunjung ke Gaza, Palestina mengunjungi saudara-saudara kita di sana, dan menyaksikan langsung bangunan RSI ini, ujar Ketua Sidang Konferensi Internasional Pembebasan Al-Quds dan Palestina yang diselenggarakan di Bandung Juli 2012 lalu. Sekaligus dalam kunjungan itu, ia dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan sekitar 100 mahasiswa PERSIS yang sedang menuntut ilmu di Kairo, Mesir, ujar Penulis Buku Fiqih Lingkungan itu. Ia yang juga aktif dalam pemberdayaan ekonomi keumatan berusaha mempersiapkan penyerahan dana bantuan titipan dari umat untuk Palestina melalui RSI di Jalur Gaza. Sementara itu, Kepala Divisi Konstruksi MER-C, Ir. Farid Thalib mengatakan, pembangunan RSI di gaza saat ini memasuki tahap pembangunan Mechanical Electrical (ME). Tahap akhir ini memerlukan dana sekitar Rp65 miliar, terutama untuk penyediaan alat kesehatan. Untuk itu, MER-C tengah menggencarkan gerakan Rp50 ribu untuk penyediaan alat-alat kesehatan RSI. “Kampanye penggalangan dana dari Sabang sampai Merauke yang melibatkan semua lapisan masyarakat,” ujar Farid. Saat ini di RSI Gaza terdapat sejumlah 33 relawan Indonesia dari berbagai keahlian pekerjaan, usia, dan daerah, sedang beramal sholeh menyelesaikan bangunan persembahan rakyat Indonesia untuk warga Palestina. “Semangat kesungguhan, ruhul jihad, dan keshabaran para relawan Indonesia di Gaza, merupakan modal utama sumber daya manusia di sana,” katanya. Bahkan dalam Perang Delapan Hari November 2012 lalu, saat relawan akan ditarik sementara ke luar Gaza, mereka semuanya mengatakan, “Demi ibadah kepada Allah di medan jihad, rasa cinta kepada saudara-saudara karena iman, kami lebih baik syahid di sini daripada harus pulang,” ujar Farid menirukan jawaban para relawan. Para relawan terdiri dari tukang batu, ahli listrik, ahli air, ahli air conditioner (AC), sopir, mahasiswa hingga insinyur sipil. Seluruh relawan berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Indonesia, binaan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai mitra dakwah dan ukhuwah MER-C. (L/P01/P04/P015/R1). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/5783-mer-c-jajaki-kerjasama-pembangunan-rsi-dengan-persis.html
Gaza Gelar Peringatan Tragedi Kemanusiaan Mavi Marmara Ketiga

Gaza, Palestina Peringatan tragedi kemanusiaan Mavi Marmara sudah dua kali diperingati di Gaza-Palestina. Jumat (31/5) kembali dilangsungkan peringatan mengenang tragedi Mavi Marmara yang ke-3 di Gaza, tepatnya di Monumen Mavi Marmara yang terletak di pinggir pantai Gaza. Dihadiri oleh Ketua Insani Yardim Vakfi (IHH) Turki cabang Palestina Mohammed Kaya dan beberapa staffnya, acara berlangsung dengan lancar selama kurang lebih dua jam mulai pukul 09.00 11.00 waktu Gaza. Acara peringatan tersebut dihadiri juga oleh berbagai kalangan masyarakat dan wartawan-wartawan dari berbagai stasiun televisi di Gaza. Dalam wawancaranya ketua IHH ini menyampaikan, Alhamdulillah tiga tahun yang lalu Allah memberikan kami peristiwa yang menyebabkan syahidnya beberapa orang dari kami yang kami bangga dengannya. Itu juga yang menyebabkan kami semakin terikat dengan warga Palestina karena tujuan kami berlabuh pun untuk mereka (warga Palestina). Sesungguhnya kami bersama kalian (warga Palestina) atas izin Allah. Di sela-sela pengerjaan pembangunan RS Indonesia, relawan MER-C Indonesia berkesempatan menghadiri peringatan Mavi Marmara dengan tidak lupa memakai atribut lengkap dan membawa bendera Merah putih. Pekerjaan arsitektur RSI yang terus berjalan dan ME (Mechanical Electrical) yang telah mencapai pembuatan AC, membuat relawan harus terus berkonsentrasi terhadap amanah pekerjaan mereka. Tetapi bukan khas relawan RSI jika tidak mengisi waktu libur hari Jum’at dengan hal-hal yang bermanfaat seperti menghadiri acara seperti ini jika memang bertepatan waktunya.
MER-C Luncurkan Gerakan 50 Ribu untuk RS Indonesia di Gaza

Jakarta (SI ONLINE) – Setelah gerakan Rp 20 ribu perorang untuk pembangunan fisik RS Indonesia (RSI) di Jalur Gaza, Palestina, kini MER-C meluncurkan gerakan Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan dan interior RSI. Selain gerakan untuk perorangan, MER-C juga meluncurkan Proposal Alat Kesehatan Ruangan RSI yang ditujukan bagi perusahaan dan instansi dalam negeri yang ingin berpartisipasi. Semua ini adalah bagian dari komitmen MER-C untuk menyelesaikan amanah pembangunan RSI sebagai bukti cinta rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. “Respon rakyat Indonesia pada program Rp 20 ribu per orang untuk RSI sangat besar. Dukungan dan donasi datang dari berbagai kalangan masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Dengan donasi tersebut, pembangunan fisik RSI bisa terus berlangsung hingga saat ini,” papar dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Presidium MER-C. Progress RSI sendiri sudah dalam tahap 2 berupa pekerjaan arsitektur dan ME (mechanical electrical). Pekerjaan tahap ini dilakukan oleh 33 relawan Indonesia yang seluruhnya unpaid volunteers. Pembangunan RSI direncanakan selesai pada akhir tahun 2013. Ikhtiar selanjutnya adalah pengadaan alat kesehatan dan interior rumah sakit. Berdasarkan perhitungan Tim Relawan Alkes RSI, dana yang dibutuhkan untuk melengkapi RSI sebagai sebuah RS Traumatologi dan Rehabilitasi mencapai Rp 65 Milyar. Untuk itu, MER-C meluncurkan kembali gerakan rakyat untuk RSI, kali ini sebesar Rp 50 ribu per orang. “MER-C menutup bantuan asing untuk program RSI karena kami ingin RSI sebagai simbol persaudaraan Indonesia dan Palestina benar-benar murni dari rakyat Indonesia. Kami juga yakin kita rakyat Indonesia mampu mewujudkan amanah ini,” tegas dr. Sarbini, Ketua Presidium MER-C. Be a part of History… Dukungan bagi program ini dapat disalurkan melalui: BCA, 686.0153678 BSM, 700.1352.061 a.n Medical Emergency Rescue Committee Red: Syaiful Sumber: www.mer-c.org Sumber : http://www.suara-islam.com/read/index/7294/MER-C-Luncurkan-Gerakan-50-Ribu-untuk-RS-Indonesia-di-Gaza