MER-C Luncurkan Gerakan Rp 50 ribu/orang untuk Alkes RSI

Jakarta – Setelah gerakan Rp 20 ribu perorang untuk pembangunan fisik RS Indonesia (RSI) di Jalur Gaza, Palestina, kini MER-C meluncurkan gerakan Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan dan interior RSI. Selain gerakan untuk perorangan, MER-C juga meluncurkan Proposal Alat Kesehatan Ruangan RSI yang ditujukan bagi perusahaan dan instansi dalam negeri yang ingin berpartisipasi. Semua ini adalah bagian dari komitmen MER-C untuk menyelesaikaan amanah pembangunan RSI sebagai bukti cinta rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. “Respon rakyat Indonesia pada program Rp 20ribu per orang untuk RSI sangat besar. Dukungan dan donasi datang dari berbagai kalangan masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Dengan donasi tersebut, pembangunan fisik RSI bisa terus berlangsung hingga saat ini,” papar dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Presidium MER-C. Progress RSI sendiri sudah dalam tahap 2 berupa pekerjaan arsitektur dan ME (mechanical electrical). Pekerjaan tahap ini dilakukan oleh 33 relawan Indonesia yang seluruhnya unpaid volunteers. Pembangunan RSI direncanakan selesai pada akhir tahun 2013. Ikhtiar selanjutnya adalah pengadaan alat kesehatan dan interior rumah sakit. Berdasarkan perhitungan Tim Relawan Alkes RSI, dana yang dibutuhkan untuk melengkapi RSI sebagai sebuah RS Traumatologi dan Rehabilitasi mencapai Rp 65 Milyar. Untuk itu, MER-C meluncurkan kembali gerakan rakyat untuk RSI, kali ini sebesar Rp 50 ribu per orang. “MER-C menutup bantuan asing untuk program RSI karena kami ingin RSI sebagai simbol persaudaraan Indonesia dan Palestina benar-benar murni dari rakyat Indonesia. Kami juga yakin kita rakyat Indonesia mampu mewujudkan amanah ini,” tegas dr. Sarbini, Ketua Presidium MER-C. Be a part of History… Dukungan bagi program ini dapat disalurkan melalui: BCA, 686.0153678 BSM, 700.1352.061 a.n Medical Emergency Rescue Committee
RSI Gaza masuki Tahap Mechanical Electrical, Selesai Tahun Ini

Jakarta, 13 Rajab 1434/23 Mei 2013 (MINA) Presidium Medical Emergeny Rescue Committee (MER-C) dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT mengatakan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, saat ini tengah memasuki tahap pembangunan Mechanical Elektrical (ME), dan dijadwalkan selesai tahun ini. Progres RSI Gaza, saat ini memasuki pembangunan mekanikal elektrikal, insya-Allah selesai tahun ini ujarnya kepada wartawan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency), di Jakarta, Rabu, (22/5). Kita akan cari dana sekitar Rp65 miliar untuk penyedian alat kesehatan, sebagian peralatan rumah sakit seperti tempat tidur kita coba bawa dari Indonesia, dan peralatan lain kita beli dari Mesir dan Eropa, papar dr. Jose. Kita memiliki program gerakan Rp20 ribu, dan menjadi gerakan Rp50 ribu untuk penyediaan alat- alat kesehatan tersebut, tambahnya. MER-C melakukan kampanye penggalangan dana tersebut dari Sabang sampai Merauke, semua lapisan masyarakat turut andil dalam pembangunan RSI Gaza tersebut. Menurutnya, komitmen para relawan di Jalur Gaza sanat luar biasa, juga teman-teman di MER-C yang giat mencari pendanaan untuk pembangunan RSI Gaza tersebut. Para relawan berjibaku dalam pembangunan RSI Gaza, buktinya adalah mereka bertahan ketika terjadi perang pada bulan November lalu, walaupun mengalami kesulitan, mereka tetap bertahan ujarnya. Menurutnya, dana pembangunan RSI murni dari masyarakat Indonesia, menunjukan betapa tingginya semangat rakyat Indonesia terhadap persahabatan dengan rakyat Palestina. RSI Gaza ini adalah sesuatu yang mampu kami berikan terhadap rakyat Gaza, yang telah diisolasi oleh Zionis Israel selama lima tahun lebih, kata Jose. Persahabatan kita denga rakyat Palestina bukan tanpa sejarah, mereka adalah salah satu penyokong terhadap kemerdekaan negara Indonesia, jadi ini bukan persahabatan yang baru. Maka, apabila mereka menderita kita juga merasa menderita, dan kita ingin mengurangi rasa sakit mereka dengan memberikan hadiah RSI ini, tegasnya. Dalam pembangunan RSI Gaza, bekerja 33 relawan Indonesia dari berbagai keahlian pekerjaan, mulai dari tukang batu, ahli listrik, ahli air, mahasiswa hingga insinyur sipil. Seluruh relawan berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah binaan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) berpusat di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, sebagai mitra dakwah dan ukhuwah MER-C. (L/P015/P01/R1). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/5221-rsi-gaza-masuki-tahap-pembangunan-mekanikal-elektrikal.html
MER-C Seleksi 11 Relawan Gaza

Pendiri organisasi kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C), Joserizal Jurnalis REPUBLIKA.CO.ID,BOGOR — Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia, kembali menyeleksi relawan yang akan diberangkatkan ke Jalur Gaza, Palestina. Keberangkatan ini untuk melanjutkan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap kedua.Kali ini Tim Seleksi MER-C menyiapkan 11 orang relawan untuk pengerjaan Mechanical Electrical (ME). “Kita niatkan semua karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, jangan bertujuan untuk selain mengharap ridha-Nya,” kata Nur Ikhwan Abadi, Koordinator Tim Seleksi MER-C, saat memberikan pembekalan pada para peserta di Ponpes Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Rabu (22/5). Sementara itu, Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT mengatakan, pemberangkatan 11 relawan tersebut dijadwalkan sebelum Ramadhan atau ketika Ramadhan tahun ini. Komitmen kita jelas bahwa RSI Gaza ini sebagai tanda persaudaraan rakyat Indonesia, yang harus kita selesaikan, katanya menegaskan kepada Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency) di Jakarta. Joserizal mengharapkan proses pembangunan RSI Gaza selesai pada tahun ini dan dapat mulai dioperasikan pada pertengahan tahun depan.Insya Allah mudah-mudahan proses pembangunan RSI Gaza selesai tahun ini dan diharapkan berfungsi pertengahan tahun depan, tambahnya. Sebelumnya, MER-C memberangkatkan relawan, Ir. Edy Wahyudi untuk membantu mengawasi pekerjaan pembangunan RSI tahap kedua. berupa pekerjaan arsitektur dan Mechanical Electrical pada 16 Februari 2013 lalu. Ia berangkat beserta tiga utusan Pesantren Al-Fatah, Ustaz M.Sholeh Iskandar, Reza Addila Kurniawan dan Muqorrobin Al-Fikri, yang mendapat tugas mengikuti program Tahfidzul Quran metode Tajul Waqar di Mahad Tahfidzul Quranul Karim was Sunnah Gaza. Dalam pembangunan RSI Gaza, bekerja 33 relawan Indonesia dari berbagai keahlian pekerjaan, dari tukang batu, ahli listrik, ahli air, mahasiswa, hingga insinyur sipil. Seluruh relawan berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah binaan Jama’ah Muslimin (Hizbullah), yang berpusat di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, sebagai mitra dakwah dan ukhuwah MER-C. Reporter : Indah Wulandari Redaktur : A.Syalaby Ichsan Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/05/23/mn8qrv-merc-seleksi-11-relawan-gaza
RSI di Gaza Pelipur Lara Muslim Palestina

Bandar Lampung, 10 Rajab 1434/20 Mei 2013 (MINA) – Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza menjadi pelipur lara bagi warga muslim Palestina. Waleed Hasan Ahmad, anggota Haiah Ulama Filistine mengatakan hal itu kepada wartawan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency) di sela acara konser penggalangan dana untuk Palestina di Bandar Lampung, Ahad, (19/5). RSI di Gaza, seolah menjadi pelipur lara kami. Sehingga kami warga Palestina merasa sudah sembuh. Kami sangat bersyukur dan berterimakasih terhadap masyarakat Indonesia, kata Waleed. Waleed juga menekankan peran penting masyarakat Indonesia untuk pembebasan Palestina dan dalam memperhatikan Masjid Al-Aqsha. Warga Palestina mungkin hanya 12 juta jiwa saja, namun kami tidak takut, karena di belakang kami ada ratusan juta masyarakat Indonesia yang terus membantu kami, katanya. Yahudi terus melakukan Yahudisasi, mereka akan membagi Masjid Al-Aqsha menjadi dua bagian, selain itu mereka terus membangun permukiman penduduk Yahudi di sekitar Masjid Al-Aqsha dengan menghancurkan rumah-rumah warga Palestina, papar Waleed. Sementara itu, saat dihubungi MINA, Ir. Nur Ikhwan Abadi, Manajer Lapangan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Pembangun RSI di Gaza menjelaskan, kemajuan pembangunan RSI di Gaza sekarang memasuki tahap penyelesaian akhir, berupa pemasangan hajar Qudsi (batu alam yang didatangkan khusus dari Hebron, Tepi Barat Palestina), pengerjaan pemasangan AC, kamar jenazah dan sumur bor. Dengan mohon pertolongan Allah dan jika tidak ada halangan insya-Allah akhir tahun 2013 ini pekerjaan bangunan fisik selesai, kata Ikhwan. Ia juga menambahkan, untuk menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit persembahan umat Islam Indonesia tersebut, masih memerlukan dana sekitar Rp65 miliar, terutama untuk pengadaan peralatan medis. (L/K1/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/5103-rsi-gaza-pelipur-lara-muslim-palestina.html
MER-C Cabang Jogjakarta Adakan Seminar Stimulasi Dini pada Bayi dan Balita

Jogjakarta – Minggu (19/5), MER-C Cabang Jogjakarta kembali mengadakan event seminar bertempat di Gedung Praktek Dokter MER-C yang terletak di Bokoharjo Prambanan, Sleman – Jogjakarta. Gedung ini adalah sarana kesehatan yang dibangun oleh Divisi Konstruksi MER-C dari donasi masyarakat pasca gempa yang mengguncang Jogjakarta pada tahun 2006 silam. Seminar terselenggara atas kerjasama MER-C Cabang Jogjakarta dengan TPA/PAUD Farhan Al Atfal, atau biasa disebut Tasafa. Ini adalah kedua kalinya MER-C Cabang Jogjakarta bekerja sama dengan TPA/PAUD yang berada dekat dengan lokasi Gedung Praktek Dokter MER-C. Seminar yang mengusung tema kecerdasan anak, dengan judul “Stimulasi Dini pada Bayi dan Balita, Optimalkan Kecerdasan Multiple dan Kreatifitas Anak,” disampaikan oleh pemateri Sekar Sari Ardiyati, S.Psi. Dalam paparannya Ibu Sekar Sari Ardiyati S. Psi menjelaskan bahwa setiap anak itu terlahir cerdas dan memiliki keistimewaan masing-masing. Tidak ada anak yang terlahir tidak cerdas. Tugas orang tua adalah membantu memberikan stimulasi (merangsang) setiap kecerdasan yang dimiliki anak-anak dengan pola asuh dan pendidikan yang tepat pada setiap tahap perkembangan anak. Dengan dihadiri sekitar 40 orang peserta yang terdiri dari orang tua murid Tasafa dan para undangan, seminar berlangsung sekitar 3,5 jam mulai pukul 08.30 hingga pukul 12.00 siang. Sebagian besar peserta adalah kaum ibu yang membawa serta anak-anak mereka sehingga membuat suasana seminar semakin ramai oleh keriuhan suara anak-anak. Kepala Sekolah Tasafa, Ibu Tika Wulandari mengungkapkan bahwa kegiatan ini Insha Allah akan menjadi agenda rutin tahunan kerjasama antara Tasafa dan MER-C Cabang Jogjakarta untuk seterusnya, setelah sebelumnya pada bulan Februari 2012 telah diselenggarakan seminar kesehatan dan pemeriksaan kesehatan anak-anak rutin setiap bulan bekerjasama dengan MER-C Jogjakarta.
Relawan RS Indonesia Hadiri Acara Kunjungan Yusuf Qordhowy

Gaza Palestina. Persatuan Ulama Muslimin Dunia dengan pimpinan masyhur Syeikh Doktor Yusuf Qordhowy dengan didampingi 50 delegasi ulama dari berbagai negara seperti Libya, Suriah, Arab Saudi sampai Australia mengadakan kunjungan ke kota Gaza-Palestina untuk mengadakan Konferensi Pembebasan Al-Aqsha dan para tahanan. Relawan RS Indonesia berkesempatan mengikuti selama dua hari acara kunjungan cendekiawan muslim asal Mesir ini. Rabu (8/5) sekitar pukul 21.00 waktu Gaza, rombongan Syeikh Doktor Yusuf Qordhowy tiba di Jalur Gaza dan disambut langsung oleh PM Palestina Ismail Haniya. Keesokan harinya, Kamis (9/5), bertempat di Katibah kota Gaza, Syeikh Doktor Yusuf Qordhowy menyampaikan bahwa ummat Islam jangan pernah berhenti melawan musuh dalam rangka pembebasan Al-Aqsha. Di tengah kesibukan para relawan MER-C dalam program pembangunan RS Indonesia di Gaza, sebanyak 30 relawan turut menghadiri momen penting ini. Hal ini atas izin dari Ir. Edy Wahyudi selaku Ketua program pembangunan RS Indonesia di Gaza. Ir. Edy Wahyudi memberikan liburan khusus selama satu hari untuk refreshing fisik para relawan RSI yang setiap harinya bekerja untuk pembangunan RS Indonesia. Liburan khusus seperti ini diberikan 1 hari dalam jangka waktu 4 bulan. Pada hari itu para relawan dibagi menjadi dua kelompok untuk menuju Katibah kota Gaza. Relawan RSI tiba di lokasi dua jam sebelum acara dimulai. Dengan penjagaan yang sangat ketat dari pemerintahan kota Gaza, para relawan RSI berhasil menempati kursi di barisan paling depan. Pada hari Jumat (10/5), rombongan Syeikh Yusuf Qordhowy melaksanakan shalat Jumat bersama di masjid Umari, sebuah masjid berusia 4.000 tahun yang terletak di Distrik Darj, Gaza City. Dengan penjagaan yang sangat ketat dan jamaah yang melimpah ruah sejak dua jam sebelum adzan dikumandangkan. Alhamdulillah, hari Jumat adalah hari libur untuk kawasan Palestina dan sekitarnya, sehingga para relawan RS Indonesia kembali dapat menghadiri khutbah dan melaksanakan shalat berjamaah bersama rombongan Asy-Syeikh dengan mendapatkan shaf terdepan. Selama dua hari berturut-turut para relawan memanfaatkan waktunya untuk mengikuti acara kunjungan Syeikh Yusuf Qordhowi, tentulah bukan tidak merasa lelah, tetapi semua terbayar dengan hasil yang mereka peroleh. Keesokan harinya mereka kembali bekerja seperti biasa dengan agenda pekerjaan RS Indonesia di Gaza yang terdiri dari pembangunan gedung utama dan gedung pelengkap. Bidang-bidang pekerjaan antara lain pemasangan instalasi listrik (cable tray, stop kontak, saklar), Pekerjaan Sanitair dan Plumbing (Pemipaan saluran: air bersih, air panas, air kotor dan air hujan) serta Pekerjaan Plesteran dan Blok. Dengan mengucap syukur kepada Allah SWT kami berterimakasih kepada seluruh rakyat Indonesia atas doa dan dukungan baik moral maupun materilnya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan yang lebih baik atas keikhlashan rakyat Indonesia dalam membantu pembangunan RS Indonesia di Gaza-Palestina.
Dari Jarak Ribuan Kilometer Relawan MER-C Sambut Kelahiran Anaknya

Gaza, Palestina Bukan pekerjaan yang mudah di kala seseorang meninggalkan istri, anak-anak maupun keluarga dengan jarak yang jauh dan jangka waktu yang lama. Sakti Wibowo bin Wakijo, salah seorang relawan MER-C asal Wonogiri (Jawa Tengah) yang saat ini bertugas membantu pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza menempuh tantangan di atas demi memunaikan amanah rakyat Indonesia dan menggapai ridho-Nya. Tidak tanggung-tangung jarak dan waktu yang ditempuh adalah ribuan kilometer dari Indonesia ke Jalur Gaza. Masa tugas yang harus dilalui pun tidak sebentar, bisa mencapai 1 tahun bahkan lebih tergantung selesainya pembangunan fisik RS Indonesia yang akan menjadi sebuah persembahan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Namun berkat keteguhan doa dari seluruh keluarga, membuat pahit manis masa tugas yang dilalui relawan yang akrab dipanggil Abu Zaki ini terasa lebih banyak sisi kesenangan. Inilah nikmat yang menurutnya berhasil menyempurnakan pola hidup yang ia rangkai hingga saat ini, Pada hari Selasa (23/4), relawan asal Wonogiri (Jawa Tengah) ini mendapat kabar gembira dari keluarga di tanah air. Telah lahir putrinya yang ke-4 sekitar pukul 04.00 wib dalam keadaan sehat dengan berat 3.8 kg dan panjang 51 cm. Mendengar kabar tersebut, pria yang dikenal periang ini langsung mengucap syukur dengan menengadahkan kepala dan kedua tangannya ke langit Gaza. Dengan bangga pria yang juga pernah menjadi relawan ke wilayah gempa Padang (Sumbar) tahun 2009 lalu, telah menyiapkan nama yang istimewa bagi buah hati yang baru saja lahir. Dibantu Muhammad Husein, rekan sesama relawan yang juga salah satu mahasiswa di Universitas Islam Gaza (UIG), sepakat memberi nama istimewa KHANSA AL-GHOZIYAH, yang bermakna Khansa (nisbat kepada shohabiyah) wanita Gaza yang anggun.
Drone Israel Kembali Serang Gaza, Satu Warga Syahid

Haytsam Mishaal (29), Syahid diserang drone Zionis (MINA/Husein) Jakarta, 21 Jumadil Akhir 1434/1 Mei 2013 (MINA) Sebuah serangan pesawat tanpa awak (Drone) Zionis Israel telah membunuh seorang pemuda Palestina di Gaza Barat, Palestina. Haytsam Mishaal (29) menjadi korban dalam serangan tersebut. Pihak Israel mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Mereka beralasan bahwa Haytsam Mishaal adalah seorang peluncur serangan roket dari jalur Gaza ke Israel. Seorang petugas keamanan setempat yang menjadi saksi mata kejadian dan tidak mau disebutkan namanya mengatakan, serangan tersebut terjadi pada selasa pagi, pukul 10 waktu Gaza. “Beberapa menit sebelum menemui syahidnya, pemuda itu sempat berjalan melintas dihadapan saya seorang diri, kemudian mengucapkan salam saat melewati pos tempat saya jaga ini,” kata petugas keamanan itu kepada wartawan MINA, Muhammad Husain. “Setelah pemuda itu berjalan kurang lebih 50 meter, terdengar dua suara ledakan, awalnya saya kira itu suara latihan para pejuang, ternyata setelah saya lihat ke arah utara, saya menyaksikan asap mengepul dan terlihat seorang tergeletak di tengah jalan, dan saya yakini adalah pemuda tersebut” tegasnya. “Kemudian saya segera berlari mendatangi kepulan asap itu sambil menghubungi ambulan, ketika saya sampai saya melihat pemandangan yang mengenaskan terhadap tubuh pemuda itu,” tambahnya. Menurut keterangan dokter kepada MINA, jenazah Haytsam kemudian dibawa menuju ke Rumah Sakit Asy-Syifa, setelah akhirnya Jenazah Haytsam di bawa menuju kediaman keluarga sang korban yang terletak di sebuah daerah di tepi pantai jalur Gaza barat bernama “Mu’askar As-Syati”. Ribuan masyarakat menanti sejak beberapa jam sebelumnya di Masjid As-Syuhada As-Syathi untuk ikut melakukan sholat jenazah. Wartawan MINA juga turut mengiringi jasad seorang syahid tersebut bersama ribuan masyarakat Gaza menuju pemakaman bernama “Makam Para Syuhada” di sebuah daerah bernama An-Nashr, Gaza Barat. Dia melihat tidak ada tangis kesedihan pada pemakaman tersebut, yang ada melainkan ucapan-ucapan selamat yang dilantunkan seorang pria dengan mikrofon di tangannya. Selamat menempuh hidup baru wahai syahid, selamat karena engkau telah mendahului kaum muslimin lainnya menghadap Rabb-mu sebagai syahid yang mulia,” tutur pria itu. Pria itu juga membacakan ayat Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 169, yang artinya “janganlah kamu mengira orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, melainkan di sisi Rabb mereka diberi rizqi”. Dengan serangan tersebut, Zionis Israel semakin mempertegas usaha mereka melanggar kesepakatan gencatan senjata yang dicapai oleh pihak Israel dengan pejuang Palestina pasca perang delapan hari lalu. (L/K9/P015/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/4496-drone-israel-kembali-serang-gaza-satu-warga-palestina-syahid.html
Asosiasi Ikatan Insinyur Gaza Lakukan Studi Banding ke RS Indonesia

Gaza, Palestina Salah satu asosiasi ikatan insinyur Gaza Association of Engineers, Gaza Governorates Palestine, Sabtu (27/04) siang sekitar pukul 15.00 waktu Gaza, dengan anggota sekitar 15 orang datang berkunjung ke RS Indonesia yang terletak di kota Bait Lahiya Gaza Utara. Tujuan kunjungan mereka dalam rangka melakukan studi banding ke RS Indonesia. Di dampingi Ir. Edy Wahyudi sebagai perwakilan dari MER-C, salah satu perwakilan dari asosiasi insinyur, Mr. Wahid, mengungkapkan tujuan mereka memilih studi banding ke RS Indonesia. Keunikan konstruksi bangunan Rumah Sakit Indonesia yang berbeda dengan bangunan-bangunan di Gaza pada umumnyalah yang membuat asosiasi yang didirikan pada 19 Desember 1976 ini memilih Rumah Sakit Indonesia sebagai objek yang menantang untuk dipelajari. Sangat terlihat jelas antusiasme dari raut muka kelima belas orang insinyur ini menerima arahan dan penjelasan baik dari Mr. Wahid selaku pimpinan kelompok maupun dari Ir. Sulis Dian serta Ir. Edy Wahyudi yang dengan gamblang menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui oleh para insinyur ini. Mereka mengelilingi semua ruangan di RS Indonesia yang mereka anggap wajib untuk mereka gali pengetahuannya. Berawal dari meneliti bagian basement RS Indonesia, kelompok insinyur ini melanjutkan kunjungan ke lantai satu, kemudian ke lantai dua dan kunjungan berakhir di sumur bor RS Indonesia yang baru saja selesai proses pengeborannya sehari sebelumnya. Mengakhiri kunjungannya ke RS Indonesia para insinyur ini memperlihatkan senyum dan salam hangat yang menandakan kepuasan mereka selama sekitar satu setengah jam lebih berkeliling di RS Indonesia. Dengan menggunakan tansportasi mobil carry ala Gaza dan motor mereka kemudian berpamitan untuk pulang. Seperti kepuasan para rekan-rekan insinyur Gaza ini, kami sebagai relawan Indonesia yang mengemban amanah pembangunan RS Indonesia juga puas atas pelayanan kami menjamu tamu-tamu yang datang silih berganti ke RS Indonesia baik siang maupun malam.
Perjuangan Relawan MER-C Dirikan Rumah Sakit Indonesia di Gaza

Relawan MER-C dan para pekerja tengah melakukan pengecoran lantai tiga bangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza, di Jalur Gaza, Palestina, Selasa (20/3). (Doc MER-C) REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang dirintis Tim relawan Mer-C ternyata tak semudah yang dibayangkan. Bahkan relawan Indonesia hampir saja putus asa menghadapi berbagai rintangan yang ada. Salah satu rintangan yang terberat adalah menempuh birokrasi di Palestina. Hal itu dikemukakan salah seorang relawan Mer-C, Nur Ikhwan yang baru saja kembali dari Palestina, di Kantor Pusat Mersi, Sabtu (27/4). Pada kesempatan itu Ikhwan berkisah pengalamannya selama 2,5 tahun di Palestina. Ikhwan mengatakan, kala itu ia bersama relawan lainnya sudah berencana untuk kembali ke Indonesia jika kementrian kesehatan Palestina tidak juga memberikan izin proyek rumah sakit mereka. Ikhwan mengatakan, kementerian kesehatan Palestina menginginkan desain rumah sakit diubah sesuai keinginan mereka. Mereka berkeinginan, gambar tersebut diputar posisinya dan diulangi lagi modelnya. “Jadi setiap mendirikan bangunan, gambarnya harus disetujui oleh persatuan engineer (insinyur) setempat,” papar Ikhwan. “Kita udah maksimal. Kita udah tawakal saja,” tambah Ikhwan. Ketika sudah berusaha semaksimal mungkin dan mereka bertawakal, saat itulah Allah membukakan jalan bagi mereka. Saat gambar rumah sakit mereka dibawa ke tempat persatuan insinyur tersebut. Disanalah Allah membukakan jalan. Ternyata para insinyur tersebut langsung setuju dengan gambar mereka. “Ini gambar udah oke, Bismillah jalan,” kata Ikhwan meniru jawaban dari persatuan insinyur tersebut. Akhirnya, proyek mereka berhasil dan mulai di eksekusi pembangunannya. Namun kementrian kesehatan tidak melepaskan mereka begitu saja. Proyek senilai 30 miliar itu terus dipantau. “Setelah dua minggu kita kerjakan, kita diundang rapat lagi. Mereka bertanya, sudah sampai dimana pembangunannya? Mereka kaget karena kita ternyata sudah mempersiapkan semuanya,” papar Ikhwan. Namun hambatan tidak sampai di situ. Pihak Kementrian Kesehatan Palestina merasa ditinggalkan oleh Tim Mer-c. Pihak kemudian akhirnya mengirim satu orang untuk memantau segala hal yang berkaitan dengan pembangunan rumah sakit. “Mereka minta, segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah sakit tolong mereka dikasih tahu. Mereka juga mengirim satu orang untuk mengawasi kita,” jelas Ikhwan. Namun kini semua perjuangan mereka terbayar. Rumah sakit Indonesia di Gaza sudah memasuki tahap akhir. Terlebih, selama dua tahun pembangunan rumah sakit tersebut mereka mendapat bantuan dari warga sekitar. Reporter : Hannan Putra Redaktur : Hazliansyah Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/04/27/mlx82s-perjuangan-relawan-merc-dirikan-rumah-sakit-indonesia-di-gaza