Dukung Advokasi Pengungsi, MER-C Hadiri Workshop JRS di Banda Aceh

Banda Aceh, 5-7 Mei 2025 – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) baru-baru ini mengikuti Workshop Advokasi Pengungsi dari Luar Negeri “Menuju Penanganan dan Perlindungan yang Partisipatoris”, yang diselenggarakan oleh Jesuit Refugee Service (JRS) di Banda Aceh. Dalam workshop ini, MER-C diwakili oleh Ira Hadiati selaku Project Manager MER-C for Rohingya. Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas lembaga kemanusiaan dan pemerintah dalam menangani pengungsi, khususnya di Aceh dan sekitarnya. Dalam satu tahun terakhir, kondisi pengungsi Rohingya di Aceh dan sekitarnya semakin menjadi perhatian, dan workshop ini menjadi sarana penting untuk berbagi informasi dan pengalaman antara daerah dan pusat. MER-C aktif dalam menangani pengungsi Rohingya dan telah mengajukan upaya untuk mendorong perbaikan Perpres Nomor 125 Tahun 2016 berupa Policy Brief yang disampaikan melalui Dirjen Peraturan Perundang-undangan Kemenhum RI. Workshop ini menjadi kesempatan bagi MER-C untuk berkolaborasi dengan lembaga kemanusiaan dan pemerintah lainnya dalam menangani pengungsi. Pembicara dalam kegiatan ini meliputi unsur pemerintahan, lembaga internasional, dan lembaga kemanusiaan, seperti Kombes Pol. Benny M Saragih, S.I.K., S.I. (Satgas Kemenkopolham), Prof Tri Nuke Pudjiastuti (Peneliti Pusat Riset BRIN), perwakilan UNHCR, dan perwakilan IOM. Ira Hadiati berharap workshop ini dapat menjadi langkah penting dalam meningkatkan penanganan pengungsi yang lebih holistik dan partisipatoris, serta memperkuat kolaborasi antara lembaga kemanusiaan dan pemerintah dalam menangani krisis pengungsi.
Empat Syuhada dan 15 Korban Luka-Luka Serangan Israel Dilarikan ke RS Indonesia

Gaza — Empat syuhada dan 15 korban luka-luka akibat serangan Israel dilarikan ke RS Indonesia di Beit Lahia, Gaza utara, pada Rabu (7/5). Sejak gencatan senjata berakhir dan penjajah Israel kembali menggempur Jalur Gaza pada 18 Maret lalu, korban sipil kembali berjatuhan. RS Indonesia yang tengah perlahan pulih menjadi salah satu tumpuan bagi warga Gaza, di tengah sistem kesehatan yang terus memburuk akibat agresi dan blokade berkepanjangan. Meski sejumlah kerusakan sudah mulai diperbaiki, namun fasilitas yang ada di RS Indonesia masih sangat terbatas.
Rumah Sakit Indonesia di Gaza Kembali Bangkit

Sejak agresi brutal 7 Oktober 2023, MER-C terus berupaya untuk dapat hadir membersamai rakyat Palestina. Di tengah gempuran bom dan blokade yang kian mencekik, MER-C berkomitmen untuk menyalurkan bantuan secara langsung, salah satunya dengan mengirimkan tim medis yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT), yang berada di bawah koordinasi Badan Kesehatan Dunia (WHO). Estafet perjuangan ini telah sampai pada tim ke-8. Tak hanya merawat yang luka, tapi MER-C juga memastikan Rumah Sakit Indonesia bisa bangkit kembali. Dan hari ini, perlahan—di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk, RS Indonesia sudah kembali beroperasi. Terima kasih, rakyat Indonesia. Dukungan dan doa kalian telah menjadi bagian dari harapan yang terus menyala di Gaza. MER-C masih terus mengajak untuk membangun kembali RS Indonesia dan membantu saudara-saudara kita di Jalur Gaza, karena meski sudah beroperasi fasilitas yang ada masih sangat minim dan agresi masih berlangsung.
MER-C Siagakan Tim Medis dalam Aksi Demo Mahasiswa “Selamatkan Pendidikan Indonesia”

Jakarta, 2 Mei 2025 — Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menurunkan tim medis dalam aksi demonstrasi mahasiswa bertajuk “Selamatkan Pendidikan Indonesia” yang digelar di depan Gedung Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Jakarta Pusat, Kamis (2/5). Aksi ini merupakan bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Dalam upaya mendukung keselamatan peserta aksi, MER-C mengerahkan delapan personel yang terdiri dari dua orang dokter, tiga perawat, dan tiga relawan non-medis. Tim ini disiagakan untuk memberikan pertolongan pertama dan layanan medis darurat kepada para mahasiswa yang mengikuti unjuk rasa. Aksi tersebut diikuti oleh ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk perwakilan dari ISMKI dan BEM Seluruh Indonesia (BEM SI). Mereka melakukan long march dari kawasan Al Azhar/Taman Patra hingga ke depan Gedung Kemendikbud Ristek untuk menyuarakan berbagai tuntutan, di antaranya pendidikan gratis, kesejahteraan tenaga pendidik, dan penolakan terhadap aparat yang memasuki kampus. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, sempat menemui massa aksi yang telah berkumpul di depan kantornya. Lima perwakilan mahasiswa menyampaikan langsung persoalan yang mereka hadapi dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Dengan keberadaan tim medis di lokasi, MER-C berharap dapat membantu memastikan keselamatan dan kesehatan para mahasiswa yang mengikuti aksi demo ini.
Kelaparan dan Malnutrisi Meluas di Gaza Utara, Tenaga Medis Terimbas

Kondisi kelaparan juga sangat terasa di wilayah utara Jalur Gaza. Dr. Basel Al-Basyouni, Dokter Spesialis Ortopedi di Rumah Sakit Indonesia, menyebut bahwa wilayah ini kini menderita kelaparan luar biasa di tengah genosida yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel. Blokade yang terus berlanjut menyebabkan lonjakan harga bahan pangan yang drastis, sehingga penduduk Gaza kesulitan memenuhi kebutuhan makanan pokok. Dr. Basel bahkan harus membagi sepotong roti kepada seluruh anggota keluarganya. Kekurangan gizi menyebabkan penyembuhan luka pasien menjadi sangat lambat atau bahkan gagal. “Pasien-pasien ini membutuhkan nutrisi yang sehat dan makanan yang mengandung protein, vitamin, karbohidrat, dan gula,” kata dr. Basel. Kondisi yang terus memburuk juga berdampak kepada tenaga medis, yang mengalami kelelahan akut dan kehilangan berat badan akibat kurangnya makanan.
Kelaparan dan Kekurangan Gizi Ancam Gaza: Akibat Blokade

Jalur Gaza saat ini menghadapi krisis kemanusiaan sangat parah akibat blokade berkepanjangan yang dilakukan oleh penjajah Israel. Di tengah sulitnya bantuan masuk ke wilayah tersebut, kondisi gizi anak-anak semakin memprihatinkan. Dr. Osama Qudeih, Dokter Pediatri di Klinik Al Aqsa B di Al-Mawassi, Gaza Selatan, yang dikelola MER-C bersama Kementerian Kesehatan Palestina (MoH), melaporkan bahwa sebagian besar pasien yang ia tangani adalah anak-anak yang mengalami kekurangan gizi (malnutrisi), baik pada tahap awal maupun dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Dari sekitar 200 kasus yang ditanganinya, 40 hingga 50 di antaranya merupakan kasus malnutrisi serius. “Kasus malnutrisi terutama terjadi pada anak-anak di bawah usia dua tahun dengan penyebab utama berupa melemahnya sistem kekebalan tubuh mereka. Hal ini pula disebabkan oleh kurangnya (defisiensi) berbagai ketersediaan jenis makanan,”ujarnya. Ia mengatakan kelangkaan dan tidak adanya susu formula bayi di pasaran berdampak sangat signifikan. “Beberapa gejala yang muncul antara lain adalah penurunan berat badan, di mana dalam banyak kasus dapat menjadi sangat berbahaya,”ungkap dr. Osama Jumana Abu Arab menambahkan, untuk menangani kondisi ini sebelumnya Kementerian Kesehatan memberikan suplemen gizi secara rutin ke Klinik tersebut. Namun, stok yang tersedia mulai menipis karena kebutuhan terus meningkat dan pasokan di pasaran semakin terbatas. Kelaparan dan malnutrisi juga terjadi di Gaza utara Kondisi kelaparan juga sangat terasa di wilayah utara Jalur Gaza. Dr. Basel Al-Basyouni, Dokter Spesialis Ortopedi di Rumah Sakit Indonesia, menyebut bahwa wilayah ini kini menderita kelaparan luar biasa di tengah genosida yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel. Selain serangan udara yang menyasar lembaga masyarakat, tempat tinggal warga sipil, dan gudang penyimpanan makanan, blokade yang terus berlanjut menyebabkan lonjakan harga bahan pangan yang drastis. Dampak sangat negatifnya bisa dirasakan oleh penduduk Gaza, khususnya para pencari nafkah. “Sebagai pencari nafkah bagi keluarga, saya menghadapi kesulitan ekstrem dalam memenuhi kebutuhan makanan pokok anak-anak saya, karena kurangnya sumber pendapatan. Bahkan kalaupun saya mampu membeli kebutuhan mereka, saya merasa kesulitan berinteraksi dengan anak-anak saya, terutama anak-anak saya yang masih kecil, karena saya merasa tidak dapat menyediakan makanan yang cukup layak bagi mereka,” katanya. Keluarganya kini hanya mampu makan sekali sehari. Dr. Basel bahkan harus membagi sepotong roti kepada seluruh anggota keluarganya. semua kebutuhan rumah tangga masyarakat seperti persediaan bahan makanan dan makanan kaleng telah habis. Dari situlah tanda-tanda kekurangan gizi mulai tampak, khususnya di kalangan anak-anak. Berat badan mereka mengalami penurunan antara 5 hingga 10 kilogram. sebagai dokter ortopedi yang banyak menangani korban serangan Israel, ia mengamati bahwa kekurangan gizi menyebabkan penyembuhan luka pasien menjadi sangat lambat atau bahkan gagal. “Pasien-pasien ini membutuhkan nutrisi yang sehat dan makanan yang mengandung protein, vitamin, karbohidrat, dan gula. Dulu, luka-luka seperti itu dapat sembuh dalam waktu singkat, tetapi sekarang memerlukan waktu dua kali lipat atau lebih lama untuk pulih,”kata dr. Basel. Ia juga menyampaikan banyak pasien kini mengalami kulit pucat (pallor), kelemahan umum (general weakness), dan anemia, yang menyebar hampir ke seluruh pasien. Sistem kekebalan tubuh yang lemah menyebabkan penyebaran infeksi dan epidemi makin sulit dicegah. Kondisi yang terus memburuk juga berdampak kepada tenaga medis “Kami bahkan hampir tidak dapat menjalankan tugas kami secara menyeluruh akibat rasa lelah yang sudah akut,” katanya. Ia mengaku telah kehilangan sekitar 30 kilogram berat badan, dan rekan-rekannya mengalami kondisi yang sama karena kurangnya makanan, terutama daging. “Keputusasaan dan rasa tidak ada harapan mulai menguasai kehidupan profesional kami, yang berdampak negatif, khususnya pada pasien yang sedang terluka, dan masyarakat pada umumnya,” tutur dr. Basel.
MER-C Serahkan Bangunan Mushollah, Sekolah, dan Posyandu kepada Yayasan Pendidikan Islam Mentawai

Siberut Utara — Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) secara resmi menyerahkan banngunan Musholla Al Ikhlas, Madrasah Tsanawiyah Al Muhtadin, dan Posyandu Muara, di Desa Simatumu, Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, kepada Yayasan Pendidikan Islam Mentawai (YAPISMEN). Acara serah terima dilakukan pada Rabu (30/4), yang dihadiri sejumlah perwakilan MER-C, yaitu Presidium MER-C Dr.Ir. Ahyahudin Sodri, M.Sc., Pembina MER-C Padang dr. Yusri Dianne Jurnalis, relawan MER-C Padang Ir. Zirma Juneldi, MSi., serta relawan pembangunan sarana umum MER-C di Mentawai Khoirul Mustofa dan Turut hadir Ketua Yayasan YAPISMEN Zubir Sakarebau, Kepala Sekolah Mts Al Muhtadin Muara Sikabaluan, Imam Musholla Haris Edi Hidayat, serta para guru dan tokoh masyarakat setempat. Presidium MER-C dalam sambutanya menyampaikan harapan bahwa sejumlah bangunan yang telah direnovasi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat secara luas. “Harapan kami dari sedikit yang kami lakukan, di mana itu termasuk juga Alhamdulillah dengan selesainya program rekonstruksi pembangunan sekolah, posyandu dan juga renovasi madrasah dapat memberikan manfaat yang seluas-luasnya untuk masyarakat,” ujar Ahyahudin. Imam Mushola Haris Edi Hidayat mengaku warga sangat senang dengan adanya mushollah bantuan MER-C ini. ia mengatkan, selain untuk shalat berjamaah, Mushollah ini juga dipakai untuk kegiatan mengaji anak-anak. Kedepannya diharapkan juga dapat digunakan untuk kegiatan majelis taklim. Salah satu fasilitas yang diserahterimakan adalah Posyandu Muara yang juga dirancang sebagai markas MER-C di wilayah tersebut. Pemanfaatannya akan dilakukan atas kerja sama Yayasan, Desa dan Puskesmas Sikabaluan. Ke depannya Posyandu ini akan melayani enam desa di sekitarnya. Proses pembangunan dan renovasi ini dilakukan mulai 20 Mei 2024 dan selesai pada 14 Agustus 2024. Dana renovasi dan pembangunan berasal dari donasi masyarakat Indonesia melalui MER-C untuk amanah Mentawai, wilayah yang rawan diguncang gempa dan tsunami.
BRIN dan MER-C Satukan Sikap terkait Rencana Evakuasi Warga Palestina ke Indonesia

Jakarta – Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bekerja sama dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menggelar talkshow terkait “Problematika Evakuasi Warga Gaza ke Indonesia”, pada Rabu (30/4) di Jakarta. Talkshow ini diadakan sebagai respons atas pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait rencana evakuasi 1.000 warga Gaza Palestina yang terluka ke Indonesia untuk mendapatkan pengobatan dan rehabilitasi sementara. Dalam sambutannya, Ketua Presidium MER-C, dr. Hadiki Habib, menegaskan pentingnya membangun narasi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) untuk merespons situasi Gaza. Ia menyampaikan bahwa fakta dan data di lapangan harus menjadi dasar dalam menentukan sikap dan langkah, terutama dalam menghadapi upaya-upaya yang berpotensi memutarbalikkan informasi. Menurutnya, ini merupakan langkah yang sangat penting untuk membangun evidence melalui talkshow yang nanti diikuti oleh sebuah policy brief. Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Athiqah Nur Alami, dalam sambutannya menyatakan bahwa rencana Presiden Prabowo perlu diapresiasi sebagai bentuk nyata komitmen pemerintah Indonesia terhadap Palestina. Namun, ia juga menekankan perlunya diskusi untuk mengkaji kelayakan serta dampak kebijakan tersebut dari berbagai aspek.Ia mengatakan, diskusi ini penting untuk menilai kesiapan Indonesia, juga mencakup tantangan sosial dan budaya, kesiapan regulasi, serta sikap masyarakat terhadap kehadiran warga Gaza. Selain itu, pengalaman MER-C yang baru kembali dari Gaza diharapkan bisa memberikan pembaruan kondisi terkini di lapangan, serta respons terkait rencana evakuasi ini. Kegiatan ini menghadirkan dialog interdisipliner antar para akademisi, pembuat kebijakan, praktisi kemanusiaan, dan masyarakat sipil. Harapannya, mereka dapat berkontribusi dengan memberikan pemahaman yang tepat dalam merespons kebijakan evakuasi warga Palestina ke Indonesia. Adapaun narasumber yang hadir sebagai pembicara yaitu M. Hamdan Basyar, M.Si., Peneliti Bidang Timur Tengah, Pusat Riset Politik BRIN; Dr. dr. Hadiki Habib, SpPD., SpEM., Ketua Presidium MER-C; dan Prof. Dr. Tri Nuke Pudjiastuti, Peneliti Bidang Migrasi Paksa, Pusat Riset Politik BRIN. Diskusi ini diharapkan akan menghasilkan potensi solusi dan peran aktif Indonesia dalam merespons kebijakan evakuasi warga Palestina ke Indonesia, sehingga dapat menentukan langkah terbaik dalam membantu warga Palestina ke depannya di tengah konflik yang terus memanas
Serangan Israel di Gaza Kembali Telan Korban Sipil, Seorang Anak Syahid dan Empat Luka Parah

Gaza — Penjajah Israel kembali melancarkan serangan di wilayah Gaza, menyebabkan jatuhnya korban di kalangan warga sipil. Serangan yang terjadi pada Rabu (1/5) menewaskan seorang anak dan melukai sedikitnya empat anak lainnya di kawasan pemukiman padat penduduk. Pengeboman terjadi di belakang Syeikh Zayed Tower, sekitar 300 meter di sisi timur Rumah Sakit Indonesia yang berada di wilayah Gaza Utara. Seorang anak dilaporkan syahid di tempat kejadian, sementara empat anak lainnya mengalami luka serius dan langsung dilarikan ke RS Indonesia. Serangan ini menambah daftar panjang korban anak-anak dalam agresi yang terus berlangsung di Gaza. Selain serangan yang belum juga berhenti, kondisi di Jalur Gaza juga terus memburuk akibat blokade yang diberlakukan penjajah Israel, yang melarang bantuan kemanusiaan memasuki wilayah tesebut.
Lembaga Wakaf MER-C Resmi Terima Izin Nazhir Wakaf Uang dari BWI

Jakarta — Lembaga Wakaf MER-C menandai tonggak penting dalam upayanya mengembangkan wakaf produktif dengan resmi memperoleh izin sebagai nazhir wakaf uang dari Badan Wakaf Indonesia (BWI). Sertifikat dan surat keputusan tersebut diserahkan oleh Wakil Ketua BWI Dr. KH. Tatang Astarudin, S.Ag., S.H., M.Si., dalam acara pembinaan nazhir yang digelar di Hotel Horison Ultimate, Bekasi, Jawa Barat, pada Selasa (29/04/2025). Dalam acara tersebut, dr. Citra Haflinda P, Sp.An., TI, selaku Ketua Lembaga Wakaf MER-C, hadir secara langsung dan menerima sertifikat serta surat keputusan dari BWI. Izin ini memberikan legitimasi resmi bagi Lembaga Wakaf MER-C, yang berada di bawah naungan Yayasan Pertolongan Kegawatdaruratan Medis, untuk mengelola dan menyalurkan wakaf secara lebih profesional dan amanah. Dengan izin sebagai nazhir wakaf uang, Lembaga Wakaf MER-C berkomitmen untuk terus menjaga transparansi, akuntabilitas dalam pengelolaan dana wakaf. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas serta memastikan bahwa dana wakaf digunakan secara optimal untuk mendukung program-program yang bermanfaat bagi masyarakat Lembaga Wakaf MER-C berharap bahwa izin ini akan memperkuat kiprah lembaga dalam mengelola wakaf dan meningkatkan dampak positif bagi masyarakat, sejalan dengan visi dan misi BWI untuk mengembangkan wakaf produktif di Indonesia. Lembaga Wakaf MER-C akan terus berupaya untuk menjadi lembaga wakaf yang terpercaya dan berdampak dalam mendukung kesejahteraan umat.