Pelayanan Kesehatan Imigran Rohingya Dalam Upaya Peningkatan Kesehatan di Tempat Pengungsian

Dalam upaya menjaga kesehatan para imigran, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia melakukan kegiatan screening Hepatitis-B terhadap imigran asal Rohingya pada Selasa (17/12/2024). Kegiatan ini berlangsung di Aceh Timur dengan melibatkan kerjasama bersama International Organization for Migration (IOM) dan Puskesmas Aceh Timur. Screening ini dilakukan kepada 19 imigran Rohingya sebagai langkah pencegahan dini dalam mendeteksi penyakit Hepatitis-B. Dengan kondisi kesehatan yang kerap menjadi tantangan di tempat penampungan, upaya ini menjadi penting untuk memastikan penanganan kesehatan yang tepat bagi para imigran. Hasil dari pemeriksaan menunjukkan bahwa satu dari 19 imigran dinyatakan positif Hepatitis-B. MER-C kemudian merekomendasikan kepada IOM agar pasien tersebut segera diisolasi dan mendapatkan perawatan medis di fasilitas kesehatan yang memadai. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah penyebaran penyakit di tengah komunitas pengungsi yang berjumlah cukup besar. Saat ini, jumlah total imigran Rohingya yang berada di Aceh Timur mencapai 143 jiwa. Mereka datang dalam kondisi yang rentan, sehingga pengawasan kesehatan menjadi prioritas utama bagi organisasi kemanusiaan seperti MER-C. Selain pemeriksaan Hepatitis-B, MER-C juga mengadakan serangkaian layanan kesehatan dasar lainnya. Layanan tersebut meliputi pemeriksaan kehamilan bagi para ibu hamil dan pemeriksaan kesehatan umum untuk memastikan kondisi kesehatan para imigran tetap terjaga. Banyaknya ibu hamil di antara pengungsi Rohingya membuat pemenuhan kebutuhan gizi menjadi perhatian serius bagi MER-C dan mitranya. Dalam kegiatan ini, kebutuhan nutrisi khusus bagi ibu hamil pun dibagikan agar mereka dan janin yang dikandung tetap sehat. Selain nutrisi, bantuan berupa kebutuhan pokok dan obat-obatan juga disediakan untuk memastikan kesejahteraan para pengungsi selama masa tinggal mereka di Aceh Timur. “Project Manager MER-C for Rohingya Ira Hadiati (Relawan MER-C) beserta 1 perawat komunitas, 1 bidan dan 3 tim logistik berkomitmen untuk memberikan layanan kesehatan terbaik, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil dan mereka yang berisiko terkena penyakit menular”. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi risiko penyakit yang berpotensi menyebar di tengah keterbatasan fasilitas penampungan. Kegiatan kolaborasi antara MER-C, IOM, dan Puskesmas ini menunjukkan pentingnya sinergi antara berbagai lembaga untuk memastikan kondisi kesehatan imigran Rohingya terjaga. Dengan demikian, langkah-langkah pencegahan dan penanganan dini dapat dilakukan secara efektif. Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin di kalangan pengungsi semakin meningkat, sehingga potensi penyebaran penyakit menular dapat ditekan. Dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak diharapkan mampu meringankan beban para imigran yang membutuhkan perhatian dan perlindungan.
Serangan Terbaru Penjajah Israel Kembali Sebabkan Kerusakan Parah di RS Indonesia

Beberapa hari terakhir penjajah kembali melancarkan sejumlah serangan ke Rumah Sakit Indonesia dan area sekitarnya yang menyebabkan banyak korban syahid dan terluka, serta kerusakan cukup parah. Direktur RS Indonesia dr. Marwan Al-Sultan melalui pesan teks pada hari ini Rabu (18/12) mengatakan, serangan terbaru ini menyebabkan bagian rangka atap dan jendela rusak. Ia juga mengatakan beberapa pasien dan seorang perawat terluka parah di wajahnya. Serangan terjadi di tengah kondisi tidak ada makanan, bahan bakar dan air. “Tolong selamatkan Rumah Sakit Indonesia dan tim medis serta pasien. Lakukan yang terbaik untuk menjaga Rumah Sakit Indonesia tetap hidup,” ujarnya. Penjajah Israel telah menargetkan serangannya ke RS Indonesia dan area di sekitarnya sejak Sabtu (14/12) dini hari, sekitar pukul 02.30 waktu Gaza. Staf lokal RS Indonesia mengatakan tank-tank sempat melakukan pengepungan namun tidak masuk ke dalam. Staf lokal tersebut mengungkap, serangan juga terjadi pada Senin (16/12) tengah malam pukul 23.59, hingga menjelang Selasa dini hari (17/12). “Penyerangan dilakukan langsung ke kamar pasien, di mana ada seorang pasien dengan susah payah keluar dari ruangan menuju koridor. Penembakan terus-menerus ini membahayakan pasien yang ada di dalam Rumah Sakit,” katanya. Selain RS Indonesia, sejumlah wilayah di sekitarnya juga tidak luput dari serangan penjajah Israel. Pada Selasa (17/12) setidaknya dua kali penyerangan terjadi di Sekolah Khalifa bin Zayed yang hanya berjarak 200 meter dari RS Indonesia. Serangan ini menyebabkan banyak korban syahid dan luka, termasuk anak-anak. Staf RS Indonesia sempat berusaha mengambil jenazah para martir, namun hanya satu yang berhasil dievakuasi dan dimakamkan di Rumah Sakit. Penyerangan juga terjadi di wilayah Tal al-Zaatar pada Rabu pagi (18/12) pukul 2 pagi waktu Gaza. Jenazah korban syahid banyak bergeletakan di sekitar Rumah Sakit Indonesia akibat serangan ini. Sejak agresi 7 Oktober 2023 penjajah Israel telah melancarkan serentetan serangan serta pengepungan ke RS Indonesia, yang mengakibatkan kerusakan sangat parah di seluruh bagian Rumah Sakit. Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Berpartisipasi dalam Lokakarya Penanganan Pengungsi Rohingya di Aceh

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) berpartisipasi dalam Lokakarya bertajuk “Refleksi Penanganan Pengungsi Rohingya di Aceh: Praktik Baik, Tantangan dan Langkah ke Depan” yang digelar oleh Pemerintah Aceh bersama UNHCR, pada 12-13 Desember 2024, di Banda Aceh. Workshops ini dihadiri oleh sejumlah pejabat Provinsi Aceh serta perwakilan NGO lokal dan internasional. PJ Gubernur Aceh Safrizal dalam sambutannya mengatakan, tantangan dalam penanganan pengungsi tidaklah ringan. Kompleksitas isu ini melibatkan aspek hukum, sosial, ekonomi, hingga koordinasi antar berbagai pemangku kepentingan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Untuk itu, melalui Lokakarya ini diharapkan dapat dirumuskan rekomendasi-rekomendasi strategis yang mengintegrasikan hukum internasional, hukum nasional, dan hukum adat dalam tata kelola pengungsi. “Pendekatan terpadu ini bertujuan untuk memastikan penanganan pengungsi yang optimal, berbasis pada prinsip-prinsip kemanusiaan, sekaligus memberikan perlindungan yang sesuai dengan standar hukum dan nilai-nilai lokal di Indonesia,” ujarnya. Pada Lokakarya ini, Project Manager MER-C for Rohingya Ira Hadiati menyampaikan sejumlah rekomendasi, di antaranya ia menekankan pentingnya kordinasi dalam penanganan pengungsi Rohingya, mulai dari tingkat gubernur, sampai perangkat desa yang menjadi tempat kamp penampungan sementara, sehingga dapat ditetapkan kamp penampungan khusus di satu lokasi. Ira juga merekomendasikan pembuatan Standar Prosedur Operasional (SPO) terkait cara penangan pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh, sampai waktu tunggu mereka mendapatkan negara yang bersedia menerima mereka. Lokakarya ini menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk penanganan pengungsi Rohingya di Indonesia, antara lain: 1. Percepatan revisi Perpres No. 125 tahun 2016 tentang penanganan pengungsi dari luar negeri untuk dapat mengakomodir segara permasalahan di lapangan; Penegasan kepada Pemerintah Daerah untuk melakukan penanganan pengungsi sesuai dengan Perpres No. 125 tahun 2016; 2. Penyediaan dan penetapan lokasi tempat penampungan pengungsi yang bersifat permanen, tertutup, dan jauh dari pemukiman warga; Perlu mengoptimalkannya pelibatan tokoh agama setempat dalam penanganan pengungsi Rohingya; 3. Peningkatan patroli laut dan udara di wilayah perairan Indonesia untuk mencegah masuknya kapal yang membawa pengungsi Rohingya; Perlu mengoptimalkannya pelibatan tokoh agama setempat dalam penanganan pengungsi Rohingya; 4. Peningkatan kerjasama di kawasan Asia Tenggara dan diplomasi bilateral dalam penanganan pengungsi; Kerjasama dengan resettlement country dalam menerima pengungsi dari Indonesia
MER-C Hadiri Undangan Pertemuan Kemlu RI, Bahas Penguatan Bantuan untuk Palestina

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Jumat (13/12) menghadiri undangan pertemuan yang digelar oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI), guna membahas penguatan bantuan untuk Palestina. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari sejumlah lembaga baik nasional maupun internasioanl, yang memiliki akses untuk menyalurkan bantuan ke Palestina. Adapun MER-C diwakili oleh Ketua Divisi Emergency Medical Team (EMT) dr. Arief Rachman, SpRad., dan Relawan EMT ke-1 dr. Reyfal Khaidar. Beberapa hal yang dibahas dalam pertemuan ini antara lain; pemaparan situasi terkini di Gaza dan Palestina dari organisasi internasional, akses bantuan kemanusiaan Palestina saat ini, serta mekanisme penyaluran bantuan untuk Palestina dari lembaga kemanusiaan di Indonesia melalui organisasi internasional. Direktur Jendral Kerja Sama Multilateral Aidil Khairunsyah dalam sambutannya mendorong kemitraan lebih erat antara lembaga kemanusiaan Indonesia dan organisasi internasional, untuk mengatasi tantangan dalam penyaluran bantuan di Palestina dengan memanfaatkan pengetahuan lokal serta sumber daya dan pengaruh diplomatik organisasi internasional. Dr. Arief Rachman dalam kesempatan itu meminta Kemlu untuk bisa memberikan dukungan dalam pengiriman tim medis ke Jalur Gaza, yang saat ini menjadi salah satu fokus program bantuan MER-C. MER-C sejak agresi 7 Oktober 2023 terus berupaya menyalurkan bantuan ke Jalur Gaza. Bantuan yang diberikan antara lain sembako, makanan cepat saji, air bersih, obat-obatan dan kebutuhan dasar lainnya. Sejak 18 Maret 2024, MER-C telah mengirimkan puluhan relawan medis yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT). Relawan medis ini terdiri dari dokter spesialis dan umum, perawat serta bidan.
Relawan Medis MER-C di Jalur Gaza Lakukan Tindakan Persalinan Caesar

Dua Relawan Medis Medical Emergency Rescue (MER-C) pada 29 November 2024, bersama tenaga medis lokal di Jalur Gaza melakukan tindakan persalinan caesar di tengah kondisi yang sangat terbatas. Dalam video dokumentasi yang dikirimkan, Dokter Kandungan dr. Regintha Yasmeen, Sp. OG dan satu perawat Nadia Rosi, Amd.Kep. yang merupakan Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-6, tengah melakukan operasi caesar dan menunjukkan bayi yang dilahirkan serta ibunya dalam kondisi sehat. Dr. Regintha mengungkap, operasi dilakukan di tengah ketersediaan bed rumah sakit yang sangat terbatas, jadi pasien dalam enam jam harus pulang dengan hanya berbekal obat nyeri parasetamol dan antibiotik sederhana. Ia mengatakan, indikasi operasi dikarenakan kasus persalinan pertamanya juga caesar. “Ibu ini hamil pertama kembar tiga dengan proses bayi tabung, lahir selamat ketiganya perempuan. Kehamilan kedua ini pasien hamil natural dan berdoa agar punya anak laki-laki Alhamdulillah Qadarullah saat perang seperti ini beliau hamil natural dan anaknya laki-laki,” ujarnya. Dr. Regintha mengaku salut dengan wanita-wanita di Gaza yang masih terus semangat untuk melahirkan generasi penerus mereka meski dengan segala keterbatasan tempat tinggal, makanan, nutrisi dan vitamin untuk ibu hamil. Mereka juga rela menempuh pelayanan rumah sakit walau harus berjalan jauh. Saat ini fasilitas kesehatan di Jalur Gaza sedang dalam kondisi krisis serius, terutama Gaza Utara di mana serangan Israel yang disengaja terhadap ambulans dan pekerja pertahanan sipil telah membuat wilayah tersebut kehilangan hampir semua layanan penyelamatan. Tim EMT MER-C ke-6 yang telah berugas sejak akhir Oktober saat ini masih bertahan di Jalur Gaza dan kembali bertugas di Public Aid Hospital, Gaza City, setelah sebelumnya bertugas di Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza Utara, namun terpaksa pergi ketika penjajah Israel kembali melancarkan serangan ke Rumah Sakit tersebut. Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Serahkan Bantuan Diapers dan Medical Gas ke Public Aid Hospital di Gaza City

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyalurkan bantuan gas medis dan diapers untuk pasien dewasa, lanjut usia dan pasien pasca operasi di Public Aid Hospital di Gaza City. Bantuan gas medis dan diapers ini diberikan berdasarkan permintaan mendesak dari pihak Public Aid Hospital kepada MER-C Indonesia. Pengisian ulang medical gas sebesar 60 kg, yang diperlukan untuk departemen operasi Public Aid Hospital, Gaza City, dilakukan pada awal Desember 2024, dengan total Sedangkan bantuan diapers diserahkan oleh perwakilan Tim EMT MER-C ke-6 di Jalur Gaza, Perawat Kamal Putra Pratama, kepada perwakilan Public Aid Hospital, Abu Salamah, pada Kamis, 12 Desember 2024. Bantuan diapers dewasa berbagai ukuran sangat diperlukan dalam perawatan pasien-pasien khususnya pasien dewasa, lanjut usia dan pasien pasca operasi di Public Aid Hospital, Gaza City. Fasilitas kesehatan di Jalur Gaza saat ini sedang dalam kondisi krisis di tengah blokade dan agresi tanpa henti penjajah Israel. MER-C terus mengupayakan bantuan dan pengiriman Tim medis yang saat ini sangat diperlukan warga Gaza. Tim EMT MER-C ke-6 saat ini masih bertahan di Jalur Gaza dan kembali bertugas di Public Aid Hospital setelah sebelumnya bertugas di Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza Utara dan terpaksa pergi ketika penjajah Israel kembali melancarkan serangan ke Rumah Sakit tersebut. Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee
Ketua Divisi EMT MER-C Penuhi Undangan sebagai Fasilitator Public Health Emergency Training

Ketua Divisi Emergency Rescue Committee (EMT) MER-C Indonesia dr. Arief Rachman, SpRad., memenuhi undangan sebagai Fasilitator dalam Public Health Emergency Training, yang diselenggarakan oleh National Critical Care and Trauma Response Center (NCCTRC) Australia bekerja sama dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (RIDU), pada 11-12 Desember 2024 di Kampus Unhan, Bogor, Indonesia. Dalam kesempatan itu, dr. Arief menyampaikan materi terkait proses dan perkembangan Emergency Medical Team di Indonesia, serta mencontohkan aktivitas EMT di bidang bencana, krisis dan public health emergency (PHE). Selain dr. Arief, turut hadir pada acara tersebut, memenuhi undangan sebagai Observer, yaitu Ketua Presidium MER-C, DR. dr. Hadiki HAbib, SpPD., SpEm. Rektor Unhan RI Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Jonni Mahroza, S.I.P., M.A., M.Sc., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kolaborasi strategis ini, yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas nasional dalam menghadapi berbagai situasi darurat kesehatan. “Kerja sama ini tidak hanya bertujuan memperkuat kesiapan dan respons Indonesia terhadap ancaman kesehatan publik, tetapi juga menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antara Indonesia dan Australia dalam membangun ketahanan kesehatan global yang berkelanjutan,” ujarnya. Rektor Unhan RI juga menekankan pentingnya kemitraan internasional yang solid, di mana pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan praktik terbaik menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan sistem kesehatan yang tangguh. Dengan saling mendukung dan berbagi wawasan, kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam melindungi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik di tingkat nasional maupun global. Program pelatihan ini sendiri dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan penting akan peningkatan kesiapan dan kapasitas operasional dalam mengelola keadaan darurat kesehatan masyarakat, dengan penekanan kuat pada latihan simulasi, lokakarya pengembangan keterampilan, dan sesi berbagi pengetahuan, dengan tujuan mendorong kolaborasi dan inovasi di antara para ahli dan praktisi dari berbagai sektor. Peserta yang hadir belajar tentang regulasi kesehatan internasional, agenda keamanan kesehatan global, dan sistem darurat kesehatan Indonesia, dengan fokus pada pengembangan kemampuan koordinasi dan komunikasi dalam penanganan darurat kesehatan.
Tim EMT MER-C di Jalur Gaza Tangani Korban MCI Akibat Serangan Penjajah Israel

Kembali bertugas di dua rumah sakit di Gaza City, Emergency Medical Team (EMT) Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menangani sejumlah kasus Mass Casualties Incident (MCI) akibat serangan penjajah Israel yang masih terus berlangsung. Lima Relawan MER-C yang tergabung dalam EMT ke-6, yaitu Dokter Bedah dr. Faradina Sulistiyani, Sp.B, dan dr. Taufiq Nugroho, SpB., Dokter Kandungan dr. Regintha Yasmeen, Sp. OG dua perawat Nadia Rosi, Amd.Kep, serta Kamal Putra Pratama, AMK., kembali bertugas di dua rumah sakit di Gaza City, Public Aid Hospitl dan RS Al-Shifa, setelah sebelumnya terpaksa pergi dari RS Kamal Adwan di Gaza Utara saat penjajah Israel melancarkan serangan massif ke Rumah Sakit tersebut. “Siang ini, 14 Desember 2024, jam 12.19 waktu Gaza, telah terjadi MCI yang menyebabkan banyak sekali korban yang berdatangan ke RS Al-Shifa dan empat orang dinyatakan syahid akibat adanya serangan roket Israel yang ditujukan kepada masyarakat sipil yang ada di area Al-Jala, Gaza City,” ujar Relawan MER-C Kamal Putra Pratama. Kamal mengatakan, serangan Israel yang cukup besar ini mengakibatkan UGD RS Al-Shifa penuh oleh korban yang terus berdatangan, di mana sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Ambulans juga terus berdatangan. “Tim MER-C Indonesia bersama Tim Al-Shifa berupaya memberikan pertolongan penyelamatan secara cepat,” ujarnya. Setelah kembali bertugas di Gaza City, Tim MER-C terus mengoptimalkan diri untuk melakukan tindakan-tindakan penyelamatan kepada korban-korban yang ada di Gaza City, dan telah melakukan sejumlah tindakan operasi sejak 7 Desember 2024. “Semoga rakyat Indonesia terus memantau dan mendoakan Tim MER-C Indonesia yang masih ada di Gaza dan kami bisa optimal memberikan pelayanan kepada masyarakat yang ada di Gaza,” tuturnya. Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Salurkan Bantuan Makanan dan Air Bersih untuk Pengungsi di sekitar RS Al-Shifa Gaza City

Di tengah situasi yang semakin sulit dan bahan makanan yang sangat terbatas, MER-C dibantu warga lokal pada Sabtu, 30 November 2024 menyalurkan bantuan makanan siap saji dan air bersih. Makanan berupa Maftool dengan kacang polong dan buncis dibagikan kepada sekitar 900 hingga 1.000 orang pengungsi yang berada di dekat RS Al-Shifa Medical Complex. Tidak hanya makanan, MER-C juga menyalurkan 1 truk tanki air bersih bagi warga. MER-C berupaya untuk dapat terus menyalurkan bantuan berkelanjutan, termasuk makanan dan air bersih secara bergelombang ke sejumlah titik pengungsian khususnya di Gaza City. tempat Tim EMT MER-C bertugas saat ini. Ayo Terus Bantu Gaza PalestinaBersama MER-C Indonesia ! ——————————————— Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Hadiri Seminar Nasional Perlindungan Pengungsi Luar Negeri dalam Perspektif Agama dan Hukum

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Rabu (11/12) menghadiri Seminar Nasional terkait Perlindungan Pengungsi Luar Negeri dalam Perspektif Agama dan Hukum Indonesia, yang digelar oleh UIN Ar-Raniry Aceh. Seminar ini di menghadirkan tiga narasumber yaitu Akademisi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Prof. Dr. Syamsul Rijal, M. Ag., Hendra Saputra dari JRS Indonesia, Mellana dari Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia, serta Ketua Prodi Sosiologi Musdawati, S. Ag., M.A. MER-C diwakili oleh Project Manager MER-C for Rohingya Ira Hadiati, yang saat ini tengah fokus menangani program bantuan MER-C untuk pengungsi Rohingya di sejumlah kamp Pengungsian di Aceh. MER-C sendiri telah menyerahkan sejumlah bantuan untuk pengungsi Rohingya berupa sembako, pembangunan sumur dan MCK, peralatan ibadah, perlengkapan self hygiene serta keperluan lainnya. Beberapa hal baik terkait penanganan pengungsi Rohingya yang dibahas dalam Seminar ini adalah sudah adanya surat edaran Kementerian Pendidikan nomor 75253/Α.Α.4/HK/2019 tentang Pendidikan bagi anak pengungsi luar negeri, sudah ada surat edaran dari Kementerian Tenaga Kerja, yang memberikan peluang bagi pengungsi untuk bisa terlibat dalam pelatihan kerja. Kemudian pencatatan kelahiran bagi anak pengungsi luar negeri yang lahir di Indonesia, kolaborasi pelatihan keahlian pengungsi dengan masyarakat lokal, pembentukan Satuan Tugas Penanganan Pengungsi Luar Negeri di Level Provinsi serta adanya kearifan lokal Aceh “Adat Pemulia Jame”. Adapun tantangan penanganan pengungsi antara lain, budaya literasi kita masih sangat lemah, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, Isu TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang), smuggler versus kemanusian, pendekatan keamanan versus pendekatan kemanusiaan, ego sektoral, isu kewenangan dalam penanganan pengungsi, regulasi yang belum sepenuhnya berjalan serta kerjasama internasional untuk solusi jangka panjang belum terbaca.