MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Kementrian Kesehatan Gaza Sampaikan Terima Kasih atas Bantuan MER-C untuk Klinik Lapangan di Gaza Selatan

Kementrian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza (MoH) menyampaikan terima kasih kepada Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan masyarakat Indonesia atas bantuan serta dukungan untuk Klinik Lapangan Al Aqsa B Medical Center di Gaza Selatan. “Terima kasih untuk masyarakat Indonesia dan MER-C Indonesia serta semua timnya, untuk upaya ini. Saya harap kita juga dapat membuat rencana proyek lain, proyek untuk mendukung masyarakat Palestina di Gaza Utara dan area lain, karena mereka sangat membutuhkan dukungan selama genosida ini, di mana pasukan Israel menghancurkan semua fasilitas kesehatan dan pusat perawatan kesehatan primer di Gaza. Sekali lagi terima kasih banyak,” ujar dr. Ahmed Shatat, Direktur Unit Kerja Sama dan Perencanaan Internasional MoH. MER-C Indonesia dan Kementerian Kesehatan Gaza pada 26 Oktober 2024 lalu menandatangani MoU untuk memberikan dukungan biaya operasional berupa insentif bagi seluruh staf klinik, yang rencananya akan diberikan selama enam bulan ke depan, terhitung sejak 1 Desember 2024 hingga 31 Mei 2025 mendatang.  Dengan bantuan ini, diharapkan Al Aqsa B Medical Center bisa beroperasi kembali untuk memberikan layanan Kesehatan pengungsi yang berada di sekitar Klinik, di tengah lumpuhnya sistem kesehatan akibat serangan penjajah ke fasilitas Kesehatan di sepanjang Jalur Gaza. Dr. Shatat juga mengatakan bantuan ini sangat penting dilakukan, untuk dapat menyediakan obat-obatan pada sistem layanan kesehatan dan memberkan layanan spesialis bagi masyarakat Gaza, yang sebagian besar dari para korban mengungsi dari Gaza Utara dan tempat lain di Al-Mawasi, yang hidup dalam kondisi sangat buruk.  Al Aqsa B adalah klinik spesialis lapangan di bawah Kementerian Kesehatan Palestina yang terletak di wilayah padat pengungsian, di Al Mawasi, Khan Younis. Al Aqsa B melayani setidaknya 600,000 warga pengungsi di Jalur Gaza, dengan pasien harian sekitar 500-800 orang.  Al Aqsa B memiliki sekitar 36 staf yang terdiri dari Direktur dan Wakil Direktur, Sektretaris, 11 dokter spesialis, 3 dokter umum, 3 farmasi, 6 perawat, 2 petugas kebersihan, 1 ahli gizi, 5 security, 2 admin/pendaftaran, dengan pelayanan untuk penyakit dalam, Cardiovascular, Nephrology, Surgery, Orthopedic, Dental, Ophthalmology, ENT, Radiology, Psychiatry, General Medicine and Obgyn.

Bertemu Menteri Hukum, MER-C Mengajukan Kolaborasi Kerja Kemanusiaan

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Senin (30/12) bertemu dengan Menteri Hukum Republik Indonesia Dr. Supratman Andi Agtas, S.H., M.H di Gedung Kementerian Hukum (Kemenkum).  Tim MER-C yang hadir sebanyak lima orang yaitu Presidium dr. Yogi Prabowo, Sp.O.T, SubSp.Onk.Orth.R (K)., Sp.Em., dan dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.O.T., SubSp.C.O.(K)., M.A.R.S., Project Manager MER-C for Rohingya Ira Hadiati, SH., Ketua Divisi Humas Diana Caroline serta Manajer Operasional Rima Manzanaris.  Dalam kesempatan itu, dr. Yogi Prabowo mngajukan kolaborasi ke Kementrian Hukum RI terkait kegiatan kemanusiaan MER-C baik di dalam dan luar negeri.  dr. Yogi secara khusus menyampaikan permasalahan pengungsi Rohingya di Aceh, terkait status pengelolaan dan pemenuhan kebutuhan HAM pengungsi.  Ia juga meminta adanya perlindungan hukum internasional bagi RS Indonesia Gaza dan RS Indonesia Rakhine, Myanmar, karena adanya permasalahan pelanggaran HAM dan Hukum International di Gaza dan Rakhine terkait akses bantuan kemanusiaan.  Untuk penanganan pengungsi Rohingya, MER-C lebih lanjut meminta penanganan yang mengedepankan HAM, dan pemerintah untuk memberikan akses sekolah, kebebasan bergerak, peluang berkontribusi terhadap lingkungan seperti warga domisili sementara sambil mereka menunggu proses selanjutnya, serta tempat penampungan yang layak atau akses ketempat-tempat tinggal mandiri seperti pengungsi-pengungsi yang tinggal mandiri di kota-kota lain.  Dalam kesempatan itu, Menteri Hukum Supratman menyampaikan apresiasi atas kerja kemanusiaan yang telah dilakukan oleh MER-C dan menyatakan siap untuk memberikan dukungan serta bantuan yang diperlukan dalam melakukan kerja kemanusiaan ini.  “Saya sangat senang berinteraksi dan menerima kunjungan teman-teman MER-C. Pertama-tama saya memberi apresiasi atas seluruh kerja kemanusiaan yang telah dilakukan oleh MER-C, itu adalah sebuah pekerjaan yang tidak semua orang bisa lakukan, terutama kepada teman-teman pengungsi di Rohingya di Indonesia, maupun di Rohingya sendiri,” ujar Supratman.  “Keterlibatan MER-C dalam kerja kemanusiaan patut kita apresiasi dan untuk itu pemerintah akan memberikan dukungan maksimal, termasuk dalam hal perubahan regulasi yang dibutuhkan oleh MER-C maupun lembaga-lembaga internasional yang melakukan kerja-kerja kemanusiaan terutama di bidang pengungsi,” tambahnya.  Selain itu, Supratman juga memberikan apresiasi atas langkah MER-C di Gaza, yang memberikan layanan walaupun dalam kondisi perang. Menurutnya, pengelolaan RS Indonesia oleh MER-C menjadi sesuatu yang sangat membanggakan dan sekali lagi pemerintah memberikan apresiasi yang sangat tinggi.  “Bekerja terus untuk nilai-nilai kemanusiaan, memperjuangkan kemanusian adalah tugas mulia. Saya berharap MER-C terus berdiri di garis terdepan untuk memberikan pelayanan, terutama di daerah-daerah konflik maupun bencana alam,” tuturnya.   

Ketua Presidium MER-C: Apa yang Terjadi di Gaza adalah Kejahatan Kemanusiaan

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) DR. dr. Hadiki Habib, Sp. PD., Sp.Em mengatakan apa yang saat ini terjadi di Gaza bukan hanya krisis kemanusiaan, tapi kejahatan kemanusiaan. “Kita harus menyuarakan mengenai kejahatan karena ini bukan lagi soal krisis kemanusiaan, tapi kejahatan kemanusiaan. Jadi kalau sudah kejahatan, isunya bukan lagi hanya medis tapi juga sosial, budaya dan politik,’ ujar dr. Hadiki dalam kesempatan Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar, Ahad (29/12). Untuk itu, ia mengungkap saat ini MER-C juga sedang berjuang di bidang budaya, untuk menjadikan RS Indonesia sebagai aset internasional, yang merupakan bukti kerja sama antar negara. Sehingga merusaknya bukan hanya terkena pasal hukum medis atau kemanusiaan, tapi juga cagar budaya. “Terkait hal ini kami butuh ahli-ahli dari semua bidang keilmuan untuk dapat memberikan narasi, bukti, serta argumen-argumen  akademik supaya fakta tidak diputarbalikkan oleh penjajah,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini secara fisik RS Indonesia masih berdiri dan digunakan sebagai shelter untuk warga Gaza. RS Indonesia terkahir digunakan di bulan Oktober 2024 oleh Tim EMT MER-C ke-5. Tim EMT ke-6 sempat berusaha ke (Gaza) Utara, namun hanya berhasil sampai Kamal Adwan, tidak bisa ke RS Indonesia karena di sekitarnya sudah ada check point. “Kemudian sumber-sumber energi yang memang diperlukan untuk sebuah rumah sakit beroperasi memang sengaja dilumpuhkan, ada generator, kita juga pasang panel surya sudah dirusak, terakhir sumber air, listrik dan pompa juga rusak,” ungkapnya. Terkait kondisi RS Indonesia ini, maka menurutnya perintah pemindahan pasien dan tenaga kesehatan yang ada di Kamal Adwan ke RS Indonesia oleh penjajah Israel adalah instruksi yang jelas-jelas tidak boleh dilakukan, karena ini bukan pindah rumah sakit tapi ke bangunan karena saat ini RS Indonesia tidak bisa beroperasi. Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar ini digelar secara daring atas kerja sama sejumlah lembaga di antaranya, Komite Makassar for Gaza, Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah (PS MRPI), GEMMA 9, MER-C dan Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN), yang digelar untuk mengajak masyarakat luas mendukung program “Makassar for Gaza”.

Dua Bulan Bertugas, Relawan MER-C Saksikan Langsung Keteguhan Warga Gaza di Tengah Agresi

Salah satu relawan MER-C yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) ke-6, dr. Taufik Nugroho, Sp.B menceritakan pengalamannya menyaksikan secara langsung keteguhan warga Gaza di tengah agresi penjajah Israel yang masih berlangsung, dalam kesempatan Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar hari Minggu (29/12), yang digelar secara daring. Dr. Taufik yang saat ini masih bertugas di Jalur Gaza mengatakan, dengan kerusakan yang nyaris total di Gaza saat ini, ia hampir tidak percaya warga Gaza bisa bertahan sampai satu tahun sejak peristiwa 7 Oktober kemarin, dengan sarana dan prasarana yang sudah hancur total mereka hanya tinggal di tenda-tenda atau bawah reruntuhan dengan pasokan makanan, air bersih dan obat-obatan sangat terbatas, karena bahkan konvoi bantuan makanan pun dibom. “Tapi dalam kondisi itu mereka bisa bertahan. Hanya Allah-lah yang memberikan kekuatan kepada mereka dalam keadaan seperti ini, dan itulah yang kami lihat,” ujarnya Lebih lanjut ia juga menceritakan, selama dua bulan bertugas sebagai tim medis di Gaza, dr. Taufik bersama relawan MER-C lainnya telah melakukan lebih dari 100 operasi besar. “Kami melakukan lebih dari 100 operasi besar yang kami lakukan selama dua bulan di Gaza, termasuk operasi-operasi yang bahkan mungkin tidak kami lakukan di Indonesia. Seperti dr. Yasmeen (salah satu Tim EMT ke-6), itu spesialis obgyn tapi di sini beliau membantu saya memotong kaki, tangan, buka perut, sesuatu yang tidak mungkin beliau lakukan di Indonesia, tapi harus kami lakukan di sini,” ujarnya. Dr. Taufik mengatakan, selain melakukan pertolongan dan operasi di rumah sakit, Tim EMT ke-6 juga menyalurkan bantuan untuk warga Gaza berupa bantuan makanan dan bahan makan mentah, baju dingin, air bersih serta bantuan-bantuan lainnya di tengah musim dingin yang sedang berlangsung di Gaza. “Saudara-saudara kita di Indonesia dapat membayangkan saudara kita di pengungsian, di tenda-tenda yang tipis tanpa baju dingin, tanpa alat penghangat, dengan kekurangan makanan. Sungguh mengurunkan tangan untuk memberikan bantuan kepada mereka tidak harus jadi dermawan yang kaya raya atau muslim yang sangat baik, kita hanya perlu menjadi manusia yang punya hati,” ujarnya. “Oleh karena itu, mudah-mudahan apa yang sudah kami lakukan selama di Gaza dua bulan ini memberikan arti, memberikan manfaat buat mereka, dan bisa mengetuk dan mengajak hati saudara-saudra kami di Indonesia. Mari kita ulurkan tangan kita, mari kita berikan bantuan kepada mereka, berapa pun akan sangat membantu,” pungkasnya. Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar ini digelar secara daring atas kerja sama sejumlah lembaga di antaranya, Komite Makassar for Gaza, Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah (PS MRPI), GEMMA 9, MER-C dan Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN), yang digelar untuk mengajak masyarakat luas mendukung program “Makassar for Gaza”.

MER-C bersama Sejumlah Organisasi Wartawan Gelar Peringatan 20 Tahun Tsunami Aceh

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan 4 Organisasi Wartawan yakni Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Aceh, Pewarta Foto Indonesia (PFI) menggelar peringatan 20 tahun gempa dan tsunami Aceh pada Kamis (26/12), dengan tema “Mengenang Sahabat”. Acara ini digelar di Sinargalih, AJI Banda Aceh, dengan rangkaian acara tausyiah, doa bersama, santunan untuk 50 anak yatim-piatu dan dhuafa serta syukuran atau makan bersama.  Koordinator MER-C Aceh Ira Hadiati mengatakan, hampir setiap tahun MER-C mengadakan peringatan tsunami Aceh bersama lembaga-lembaga lainnya yang berada di Aceh. “Ini sebagai pengingat dan untuk mengambil pelajaran dari kejadian gempa dan tsunami tersebut agar kita kedepan bisa menjadin insan yang lebih baik dan berguna untuk umat,” ujarnya.  Ia mengatakan hingga saat ini MER-C telah menjalankan berbagai macam misi kemanusiaan di luar negeri seperti Palestina, Afganistan, Suria, Myanmar/Rohingya, namun  MER-C tetap memperhatikan dan menjalankan berbagai misi kemanusiaan di dalam negeri. 20 tahun yang lalu tepatnya 26 Desember 2004, terjadi gempa dan tsunami Aceh. Tsunami terjadi setelah gempa berkekuatan 9,2 SR, mengguncang Aceh, disusul gelombang laut setinggi 30 meter.  Tsunami Aceh ini menelan korban hingga ratusan ribu jiwa. Disebutkan sekitar 126.741 orang tewas dan 93.285 orang dinyatakan hilang tersapu ombak. Bencana ini merupakan bencana alam paling mematikan pada abad ke-21, dan bencana terburuk sepanjang sejarah Indonesia.

INDONESIA HARUS MEMPROTES KERAS INVASI MILITER ISRAEL TERHADAP SISTEM KESEHATAN DI GAZA UTARA

Surat Terbuka  INDONESIA HARUS MEMPROTES KERAS INVASI MILITER ISRAEL TERHADAP SISTEM KESEHATAN DI GAZA UTARA Kepada Yth.,Presiden RIBapak Menteri Luar Negeri RIKetua MPR RIKetua DPR RIDir. Timur Tengah Kemlu RIDir. HAM dan Kemanusiaan Kemlu RIKetua Badan Kerjasama Antar Parlemen MPR RI Assalamu’alaikum Wr Wb, Hampir 90 hari sistem layanan kesehatan di Gaza Utara mengalami tekanan, mulai dari pembatasan tim medis internasional, pengurangan suplai logistik medis dan bahan bakar hingga yang terakhir masif terjadi dalam sepekan terakhir adalah pemaksaan pemindahan pasien dan staff medis yang dibarengi penyerangan langsung terhadap RS Kamal Udwan dan RS Al Awda. Dalam kurun waktu tersebut, tidak terdengar nada protes dari para pemimpin internasional, apalagi pemimpin negara-negara Muslim. Berkali-kali teriakan memohon intervensi internasional disampaikan oleh Kementerian Kesehatan di Gaza dan oleh direktur RS Kamal Udwan sendiri, dr. Husam Abu Safiya, namun hanya seperti bisikan angin malam di musim dingin semata. Bagi Indonesia, tekanan militer terhadap sistem kesehatan di Gaza Utara juga berarti ancaman terhadap RS Indonesia. Dalam sejarahnya, RS Indonesia adalah sumbangsih terbesar masyarakat Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina, yang pada akhirnya menjelma menjadi tulang punggung sistem kesehatan di Gaza Utara. Sebagai lembaga yang konsisten mengirimkan tim medis ke Jalur Gaza, kami menyaksikan bagaimana pasien dan staff medis harus bertahan di bawah ancaman perang dan di saat yang sama melawan penyakit yang diderita. Dalam 3 bulan terakhir kondisi semakin sulit, tidak hanya berdampak terhadap pelayanan namun juga kesehatan mental seluruh pekerja kesehatan yang berada di RS. Karenanya, kami berharap kepada Bapak-bapak yang terhormat, dengan posisi dan wewenang yang dimiliki saat ini, untuk memprotes keras invasi militer Israel terhadap sistem kesehatan di Gaza Utara yang merusak infrastruktur RS dan membunuh para pekerja kesehatan didalamnya saat bertugas.  Kami berharap, suara Bapak-bapak yang mewakili 200-an juta masyarakat di Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina, akan memberikan dorongan dan inspirasi bagi pemimpin dunia lainnya agar mau bersuara dan memberikan tekanan kepada pemerintah Israel agar menghentikan penyerangan terhadap fasilitas kesehatan yang merupakan pelanggaran terhadap International Humanitarian Law. Keterlambatan dalam menyuarakan masalah ini, tidak hanya berpotensi pada penghancuran sistem kesehatan, namun dalam skala yang lebih besar merupakan bagian dari genosida terencana dan sistematis. Mari selamatkan saudara kita di Gaza, Palestina dari upaya penghilangangan paksa eksistensi mereka dari muka bumi. Wassalamu’alaikum Wr Wb., Jakarta, 28 Desember 2024 Hormat kami, Presidium MER-C IndonesiaDR. dr. Hadiki Habib, Sp.P.D, Sp.Em. (Ketua)dr. Tonggo Meaty Fransiscadr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.O.T., SubSp.C.O.(K)., M.A.R.S. DR. Ir. Ahyahudin Sodri, M.Scdr. Yogi Prabowo, Sp.O.T, SubSp.Onk.Orth.R (K)., Sp.Em. ———————————————————— Open Letter   INDONESIA MUST STRONGLY PROTEST THE ISRAELI MILITARY INVASION OF THE HEALTHCARE SYSTEM IN THE NORTH OF GAZA   To: The President of the Republic of Indonesia The Minister of Foreign Affairs of Indonesia The Chairman of People’s Consultative Assembly of Indonesia (MPR) The Chairman of the House of Representatives of Indonesia (DPR) The Director of Ministry in Foreign Affairs of the Middle East in Indonesia The Director of Ministry in Foreign Affairs of Human Rights and Humanitarian Affairs of Indonesia The Chairman of the Inter-Parliamentary Cooperation Agency of the People’s Consultative Assembly of Indonesia   Assalamu’alaikum (Peace be upon you),   For almost 90 days, the healthcare service system in Northern Gaza has been under heavy tension, starting from restrictions upon the presence of international medical teams, reductions in medical logistics and fuel supplies, to the most recent massive incident in last week, where patients and medical staffs forced to transfer while at the same time getting direct attacks in the Kamal Adwan Hospital and Al Awda Hospital.   During this period, no protest was heard from the international leaders, let alone leaders in the Muslim countries. Many times, the cries for help for the international intervension were declared by the Ministry of Health in Gaza and by the director of Kamal Adwan Hospital himself, Dr. Hussam Abu Safiya, only to get treated like whispers in the winter night wind by the international communities.   For Indonesia, the military tension from IOF on the healthcare system in Northern Gaza also means a threat to the Indonesia Hospital. Historically, the Indonesia Hospital was the largest contribution from the Indonesian people themselves to support the struggle for Palestinian independence, which eventually became the backbone of the healthcare system in the North of Gaza.   MER-C as an institution that consistently delegates medical teams into the Gaza Strip, have witnessed how patients and medical staffs have tried to survive under the threat of war while at the same time have to fight the diseases they have suffered. In the last 3 months, the conditions have become increasingly difficult, not only affecting the overall healthcare services but also the mental health state of all the healthcare workers in the hospital. Therefore, we put our hope to the honoured leaders, with all the honorable positions and authorities they currently have, to strongly protest the Israeli military invasion of the healthcare system in the North of Gaza, which created damage at the hospital infrastructure and killed the on duty healthcare workers inside the hospitals.   We are hoping, that the voices of the honoured Leaders in Indonesia who represent the 200 million people in Indonesia and their support for the Palestinian independence cause will provide encouragement and inspiration for the other world leaders to speak up and put pressure on the Israeli government to stop their attacks on the healthcare system facilities which are a violation of International Humanitarian Law.   The delay in voicing this issue not only holds the potential to destroy the healthcare system itself, but on a larger scale is part of complicity in a planned and systematic genocide.   Let’s rescue our brothers and sisters in Gaza, Palestine, from any attempt to forcibly remove their existence from the face of the earth.   Wassalamu’alaikum (May peace be upon you all.)   Jakarta, December 28th, 2024   Yours sincerely,   Presidium of MER-C Indonesia DR. dr. Hadiki Habib, Sp.P.D, Sp.Em. (The Chairman) dr. Tonggo Meaty Fransisca dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.O.T., SubSp.C.O.(K)., M.A.R.S. DR. Ir. Ahyahudin Sodri, M.Sc Dr. Yogi Prabowo, Sp.O.T, SubSp.Onk.Orth.R (K)., Sp.Em.

MER-C Turut Berbelasungkawa atas Wafatnya Lima Staf RS Kamal Adwan di Gaza Utara

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengucapkan turut berbelasungkawa untuk para syuhada, lima petugas kesehatan yang menjadi martir di Rumah Sakit Kamal Adwan akibat serangan langsung dari penjajah Israel pada Kamis (26/12).  Kelima staf tersebut adalah Dokter Anak dr. Ahmed Samour, Spesialis Laboratorium Israa Abu Zaida, paramedis Abdul Majeed Abu Al-Aish dan Maher Al-Ajrami serta Spesialis Perawatan Fares Al-Hudali. MER-C juga mengutuk keras segala bentuk serangan terhadap para petugas kesehatan serta paramedis dan menyerukan perlindungan penuh bagi relawan dan tim medis, untuk memastikan penyediaan bantuan medis yang optimal. Sangat penting untuk menjamin keselamatan dan keamanan tim medis dan relawan saat mereka menjalankan tugasnya. Terletak di Beit Lahia, RS Kamal Adawan telah mengalami puluhan serangan rudal dan senjata api sejak awal Oktober, juga blokade militer. Meskipun menghadapi tantangan ini, Rumah Sakit tersebut masih terus memberikan perawatan kepada warga Gaza dalam kondisi yang mengerikan.

PRESS RELEASE : Hospitals of North Gaza Under Aggressive Attacks to Shut Down All Healthcare Provision in the Area

Three hospitals in Northern Gaza have been under siege for over 80 days. During this period, the Emergency Medical Team (EMT) of MER-C Indonesia has been providing assistance at Kamal Adwan Hospital, where they have witnessed intense attacks. Due to security concerns, they were ultimately forced to leave the facility. On Saturday Morning, December 21, 2024, Dr. Hussam Abu Safiya, the Director of Kamal Adwan Hospital, received an evacuation order via loudspeaker directly on the ground, instructing the transfer of patients to Indonesia Hospital. On Sunday, December 22, 2024, medical staff at Indonesia Hospital made preparations to receive patients from Kamal Adwan Hospital. At present, Indonesia Hospital is sufficiently equipped in terms of available space to accommodate these patients. However, several constraints remain, including the operation of only one functional generator, and insufficient supplies of water, food, and medical provisions. In response, MER-C Indonesia calls upon the international community, world leaders, and the United Nations to take the following actions: 1.    Deconfliction and Hospital Functionality: Given that the IOF has ordered the evacuation of patients from Kamal Adwan to Indonesia Hospital, it is imperative that Indonesia Hospital be deconflicted, allowed to operate as a functioning hospital, and that humanitarian access be guaranteed to enable the delivery of aid; 2.    Safe Passage for Patient Transfer: There must be a guarantee of safe passage for the transfer of patients from Kamal Adwan Hospital to Indonesia Hospital; 3.    Support for the Evacuation Process: The IOF must permit the Palestinian Ministry of Health and the international community to facilitate and support the evacuation process; 4.    Maintaining Kamal Adwan Hospital as a Functional Medical Facility: Given the logistical and time constraints in transferring all patients from Kamal Adwan to Indonesia Hospital, it is imperative that Kamal Adwan Hospital be maintained as a functional medical facility to continue providing care to patients until the full evacuation can be completed. 5.    Full Protection for Volunteers and Medical Teams To ensure the provision of optimal medical assistance, it is essential to guarantee the safety and security of medical teams and volunteers as they carry out their duties. We call for the preservation of the remaining healthcare infrastructure in northern Gaza and firmly oppose the forced displacement of residents from the region. Furthermore, we condemn all efforts by the Israel Occupation Forces (IOF) to close hospitals and disrupt the healthcare system in northern Gaza. Jakarta, December 24th, 2024MER-C Indonesia ———————————————————————– SIARAN PERS  Rumah Sakit di Gaza Utara Jadi Sasaran Serangan Agresif hingga Menutup Semua Layanan Kesehatan di Wilayah Tersebut  Tiga rumah sakit di Gaza Utara telah dikepung selama lebih dari 80 hari. Selama periode ini, Tim Emergency Medical Team (EMT) MER-C Indonesia telah memberikan bantuan di RS Kamal Adwan, dimana para relawan menyaksikan serangan hebat di lokasi tersebut. Untuk masalah keamanan, mereka akhirnya terpaksa meninggalkan RS tersebut. Pada Sabtu pagi, 21 Desember 2024, dr. Husam, direktur RS Kamal Adwan, menerima perintah evakuasi melalui pengeras suara langsung di lapangan yang menginstruksikan pemindahan pasien ke RS Indonesia. Pada Minggu, 22 Desember 2024, staf medis di RS Indonesia melakukan persiapan untuk menerima pasien dari RS Kamal Adwan. Saat ini, RS Indonesia memiliki cukup perlengkapan dalam hal kesediaan ruangan yang bisa menampung pasien-pasien ini. Namun masih ada beberapa kendala, termasuk kendala pengoperasian yang dimana hanya satu generator yang dapat berfungsi, dan juga kendala persediaan air, makanan, dan perlengkapan medis yang tidak mencukupi. Sebagai tanggapan, MER-C Indonesia menyerukan kepada masyarakat internasional, para pemimpin dunia, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengambil tindakan berikut: 1. Dekonfliksi dan Fungsionalitas Rumah Sakit: Mengingat bahwa IOF telah memerintahkan evakuasi pasien dari Kamal Adwan ke Rumah Sakit Indonesia, sangat penting bahwa RS Indonesia didekonfliksi, diizinkan untuk beroperasi sebagai rumah sakit yang berfungsi, dan memastikan bahwa akses kemanusiaan dijamin untuk memungkinkan pengiriman bantuan. 2. Jalur Aman untuk Pemindahan Pasien: Harus ada jaminan jalur aman untuk pemindahan pasien dari Rumah Sakit Kamal Adwan ke Rumah Sakit Indonesia. 3. Dukungan untuk Proses Evakuasi: IOF harus mengizinkan Kementerian Kesehatan Palestina dan masyarakat internasional untuk memfasilitasi dan mendukung proses evakuasi pasien RS. 4. Menjaga Fungsionalitas Rumah Sakit Kamal Adwan sebagai Fasilitas Medis yang Berfungsi: Mengingat keterbatasan logistik dan waktu dalam memindahkan semua pasien dari Kamal Adwan ke Rumah Sakit Indonesia, sangat penting bagi Rumah Sakit Kamal Adwan untuk tetap dipertahankan sebagai fasilitas medis yang berfungsi untuk dapat terus memberikan perawatan kepada pasien hingga evakuasi penuh dapat diselesaikan. 5. Perlindungan Penuh bagi Relawan dan Tim Medis: Untuk memastikan penyediaan bantuan medis yang optimal, sangat penting untuk menjamin keselamatan dan keamanan tim medis dan relawan saat mereka menjalankan tugasnya. Kami menyerukan pelestarian infrastruktur perawatan kesehatan yang tersisa di Gaza Utara dan dengan tegas menentang pemindahan paksa penduduk dari wilayah tersebut. Dan kami mengutuk semua upaya Pasukan Penjajahan Israel (IOF) untuk menutup rumah sakit dan mengganggu sistem perawatan kesehatan yang ada di Gaza utara. Jakarta, 24 Desember 2024 MER-C Indonesia

MER-C Kecam Serangan Penjajah Israel ke Wisma dr. Jozerizal Jurnalis

Ketua presidium MER-C Indonesia Dr. dr. Hadiki Habib mengutuk serangan pasukan penjajah Israel ke Wisma dr. Joserizal pada Rabu (17/12) lalu, yang menyebabkan sejumlah kerusakan parah.  “Wisma tersebut merupakan situs bersejarah yang menjadi bagian perjanjian internasional antara pemerintah Palestina dan rakyat Indonesia yang di wakili MER-C ketika awal pendirian Rumah Sakit Indonesia,” ujar dr. Hadiki Habib, Sabtu (21/12).  Ia menegaskan, serangan militer ke situs budaya yang masih fungsional untuk sistem  kesehatan di Gaza Utara adalah kejahatan perang yang nyata, karena bertentangan dengan pasal 53 Konvensi Den Haag tahun 1953 dan pasal 15 Konvensi UNESCO tahun 1972. Selain serangan bertubi-tubi ke Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara, Penjajah Israel juga menyasar Wisma dr. Joserizal Jurnalis yang menyebabkan Semua pintu dan jendela Wisma hancur. Staf lokal mengatakan berusaha menutup pintu Wisma Joserizal Jurnalis saat serangan terjadi, tetapi tembakan artileri terus-menerus terjadi. Wisma dr. Joserizal Jurnalis mulai dibangun oleh MER-C pada Juli 2014. Terletak di dalam kompleks RS Indonesia, tanah wisma juga merupakan wakaf dari pemerintah Palestina di Gaza. Wisma dr. Joserizal Jurnalis selama ini dimanfaatkan sebagai kantor MER-C Cabang Gaza dan juga tempat tinggal relawan MER-C saat menunaikan tugas di Jalur Gaza.  Wisma mulai mengalami kerusakan sejak agresi hari pertama 7 Oktober 2023, saat salah satu serangan penjajah Israel menyasar area kompleks RS Indonesia dan mengenai kendaraan operasional MER-C yang terparkir tepat di depan Wisma dr. Joserizal Jurnalis. Sejumlah bagian Wisma mengalami kerusakan akibat terdampak ledakan dan getaran yang hebat. Wisma sempat diperbaiki pada Agustus – September 2024 saat Tim EMT MER-C bisa mencapai Gaza Utara dan bertugas di RS Indonesia. Namun akibat serangan terbaru yang menyasar RS Indonesia dan sekitarnya, Wisma dr. Joserizal Jurnalis kembali mengalami kerusakan parah.  

MER-C Beri Dukungan untuk Klinik Lapangan di Gaza Selatan

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) terus menyalurkan donasi dari masyarakat Indonesia untuk korban agresi di Jalur Gaza. Kali ini bentuk bantuan yang diberikan berupa dukungan operasional, yaitu insentif bagi staf Klinik Lapangan Al Aqsa B Medical Center di Gaza Selatan.  Liaison Officer EMT MER-C Marissa Noriti yang saat ini bertugas di Jalur Gaza mengatakan, dukungan biaya operasional berupa insentif bagi seluruh staf klinik rencananya akan diberikan selama enam bulan ke depan, terhitung sejak 1 Desember 2024 hingga 31 Mei 2025 mendatang.  Marissa menjelaskan, Al Aqsa B adalah klinik spesialis lapangan di bawah Kementerian Kesehatan Palestina yang terletak di wilayah padat pengungsian, di Al Mawasi, Khan Younis. Al Aqsa B melayani seridaknya 600,000 warga pengungsi di Jalur Gaza, dengan pasien harian sekitar 800 orang.  Al Aqsa B memiliki sekitar 36 staf yang terdiri dari Direktur dan Wakil Direktur, Sektretaris, 11 dokter spesialis, 3 dokter umum, 3 farmasi, 6 perawat, 2 petugas kebersihan, 1 ahli gizi, 5 security, 2 admin/pendaftaran, dengan pelayanan untuk penyakit dalam, Cardiovascular, Nephrology, Surgery, Orthopedic, Dental, Ophthalmology, ENT, Radiology, Psychiatry, General Medicine and Obgyn. Dukungan ini sendiri sebagai tindaklanjut dari MoU yang telah ditandatangani antara MER-C Indonesia dan Kementerian Kesehatan Gaza pada 26 Oktober 2024 lalu.  Dengan bantuan ini, diharapkan Al Aqsa B Medical Center bisa beroperasi kembali untuk memberikan layanan Kesehatan pengungsi yang berada di sekitar Klinik, di tengah lumpuhnya sistem kesehatan akibat serangan penjajah ke fasilitas Kesehatan di sepanjang Jalur Gaza.  “Program ini bertujuan untuk meningkatkan seluruh layanan kesehatan khusus bagi masyarakat di wilayah Al-Mawasi di Khan Yunis melalui klinik spesialis lapangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dimana terdapat kepadatan penduduk yang besar di wilayah tersebut, mencapai 600.000 orang. Mereka terpaksa mengungsi akibat agresi yang telah berlangsung lebih dari satu tahun,” ujarnya. Medical Director Al Aqsa B Medical Center dr. Yousif Salah Alfarra, mengucapkan terima kasih kepada MER-C Indonesia, atas bantuan yang sangat penting dan dibutuhkan. Ia menegaskan, saat ini Al Aqsa B Medical Center memiliki sejumlah spesialis, yang memang sangat diperlukan warga Gaza di Khan Younis, pengungsian terpadat di Gaza Selatan.   “Di sini kami memberikan pelayanan dengan banyak spesialis, jadi tempat ini sangat luar biasa dalam membantu para pengungsi khususnya di Khan Younis. Terima kasih MER-C Indonesia atas dukungannnya kepada Pusat Medis ini dan warga Gaza,” tuturnya. Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee

Silahkan bertanya?