Peduli Anak-Anak Palestina, Penggiat Musik Jazz Galang Donasi Lewat Jazz in Unity

Sejumlah pegiat musik Jazz menggalang donasi untuk anak-anak Palestina melalui konser amal bertajuk “Jazz in Unity” yang digelar di salah satu hotel di Jakarta Selatan, Jumat (14/6). Bagas Indyatmono Inisiator Jazz in Unity mengatakan, donasi dikumpulkan melalui platform Kitabisa.com untuk kemudian disalurkan melalui lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Jazz in Unity dimeriahkan oleh sejumlah musisi di antaranya Armiya Husein, Bella Fawzi, Chika Fawzi, Dara Swandana, Dira Sugandi, Eka Annash, Elfa Zulham, Fia, Jamie Aditya, Kevin Yousua, Kojek Rap Betawi, Rebecca Kezia, Sri Hanurga, Yudi Ahmad Tajudin dan lainya. “Awalnya memang dari keresahan kami para penggiat musik jazz terhadap apa yang terjadi sekarang di Palestina, karena memang pastinya yang berdampak sangat parah adalah anak-anak di sana. Maka dari keresahan ini, saya sempat membuat ajakan lewat Instagram story dan ternyata ajakan itu secara organik melebar ke mana-mana. Terkumpullah beberapa orang yang memang punya keresahan dan kegelisahan yang sama dan akhirnya kita sepakat untuk membuat acara ini,” kata Bagas. Ia berharap acara ini akan terus bergulir tidak hanya di Jakarta, tapi juga digelar di kota-kota lain atau luar negeri jika memungkinkan. Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya memilih MER-C sebagai penyalur donasi karena telah percaya dengan rekam jejak yang dilakukan di Gaza, dan merupakan salah satu lembaga yang saat ini relawannya langsung membantu warga Gaza. Selain itu, beberapa orang juga merekomendasikan untuk mempercayakan donasi kepada MER-C. Jazz in Unity akan digelar selama dua bulan ke depan dan donasi juga masih terus bisa dilakukan. Bagi yang tidak sempat hadir bisa menyaksikan acara ini lewat streaming di Youtube Jazz ini unity. “Harapannya lebih banyak lagi yang bisa terlibat di acara ini dan pastinya juga berikan hadiah dan donasi terbaik untuk anak-anak di Palestina,” ujar Bagas. Vikra Co Founder dan CEO Kitabisa mengaku senang bisa diajak meremaikan Jazz in Unity yang merupakan salah satu bentuk ekspresi baru dalam memberikan dukungan kepada Palestina. “Harapannya kita dapat terus mengawal sampai Palestina merdeka, sampai tidak ada genosida lagi. Namun, secara realistis ini merupakan perjalanan dan perjuangan jangka panjang,” kata Vikra. “Kami bersyukur sudah menjadi mitra MER-C sejak lama, yang melakukan berbagai kegiatan kemanusiaan, seperti bantuan Rumah Sakit Indonesia di Gaza,” tambahnya. Ia juga mengajak untuk bergerak dan konsisten memberikan dukungan kepada Palestina apapaun bentuknya, baik doa, share di sosial media atau berdonasi ke lembaga yang kongkret dan nyata seperti MER-C atau Kitabisa.
Ketua Presidium MER-C Bertemu Menkopolhukam Bahas Situasi Jalur Gaza

Ketua Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad bertemu Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), Hadi Tjahjanto, di Kantor Kemenkopolhukam, di Jakarta, Senin (10/6). Keduanya membahas situasi terkini Jalur Gaza di tengah serangan Israel yang masih berlangsung, serta progres bantuan MER-C ke wilayah tersebut. Dalam kesempatan itu, Sarbini menyampaikan kondisi relawan MER-C di Jalur Gaza, juga rencana renovasi Rumah Sakit Indonesia yang hancur akibat serangan Israel, setelah genjatan senjata permanen berhasil dicapai. Ia mengatakan, renovasi Rumah Sakit Indonesia tentu membutuhkan bantuan serta dukungan dari berbagai pihak, terutama selama proses masuk ke Jalur Gaza melalui Rafah, Mesir. Menko menyambut baik rencana tersebut dan siap membantu apabila MER-C membutuhkan bantuan selama proses renovasi yang akan dilakukan. Menko juga mengapresiasi kerja kemanusiaan luar biasa yang telah dilakukan MER-C baik di dalam maupun luar negeri. Ia juga mengaku senang bisa bertemu dengan ketua Presidium MER-C, yang ia sebut sebagai “pahlawan kemanusiaan”.
Sempat Tertunda Sebulan, Satu Relawan MER-C Akhirnya Bisa Masuk Gaza

Dr. Regintha Yasmeen, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, akhirnya mendapat kesempatan masuk ke Jalur Gaza, setelah menunggu selama satu bulan di Kairo, Mesir, Selasa (4/6). Dr. Regintha yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) 4, berangkat dari Jakarta ke Kairo bersama 6 relawan lainnya pada tanggal 3 Mei 2024. Ia dan Tim EMT 4 lain sebelumnya dijadwalkan masuk ke Jalur Gaza menggantikan Tim EMT 3 MER-C pada Senin (6/5). Namun invasi darat Israel ke Rafah pada hari itu membuat semua pergerakan konvoi relawan di bawah koordinasi WHO UNOCHA baik yang akan masuk ke Jalur Gaza, maupun yang akan keluar dari Jalur Gaza tertunda. Bahkan sejak saat itu, perbatasan Rafah ditutup total hingga hari ini. Kegagalan masuk ke Jalur Gaza tidak membuat para relawan putus asa. Keinginan besar untuk membantu warga Gaza yang menjadi korban membuat mereka bertahan menunggu kesempatan masuk berikutnya. Sebulan berlalu, kesempatan itu akhirnya datang. Sejak 31 Mei 2024, secara bertahap relawan dari Tim EMT 4 MER-C masuk ke Jalur Gaza dari Amman Yordania melalui Perbatasan Karem Abu Salem. Sementara itu, pada Selasa kemarin (4/6), satu relawan dari Tim EMT 1 MER-C, Ita Muswita, yang telah bertugas hampir tiga bulan juga berhasil keluar dari Jalur Gaza. Saat ini, ada tujuh relawan MER-C yang masih berada di Jalur Gaza dan bertugas di rumah sakit dan klinik yang masih beroperasi.
IDI Kabupaten Bogor Salurkan Donasi untuk Palestina Melalui MER-C

Ikatan Dokter Indonesia Kabupaten Bogor hari Rabu (5/6/2024) menyalurkan donasi untuk Palestina sebesar Rp. 25.000.000 melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) “Alhamdulillah hari ini kami bisa hadir di kantor pusat MER-C untuk menyalurkan donasi untuk Palestina yang kami dapatkan dari para anggota IDI Kabupaten Bogor,” kata dr. Kornadi Sp.JP (K) FIHA, MKM, Ketua IDI Kabupaten Bogor. Ia mengatakan, donasi ini diserahkan kepada MER-C karena melihat track record yang telah dilakukan, sehingga dari beberapa pertimbangan IDI melihat kerja besar untuk membantu Palestina ini perlu dukungan. “Situasi Gaza saat ini rumit dan butuh perjuangan serta kepedulian semua pihak. Kita harus terus berjuang dan tetap optimis sampai merdeka,” ujarnya. Ia berharap semoga donasi ini sampai kepada yang berhak dan bermanfaat bagi yang membutuhkan. Dalam kesempatan itu, Ketua Presidium MER-C Sarbini Abdul Murad mengucapkan terima kasih atas donasi yang telah diberikan oleh IDI Kabupaten Bogor. “Apa yang terjadi di Palestina saat ini merupakan kerja besar yang harus dilakukan bersama-sama. Setiap donasi yang diberikan juga merupakan amanat besar yang akan kami salurkan,” kata Sarbini. Sejak serangan Israel ke Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, MER-C terus menyalurkan berbagai bantuan baik berupa obat-obatan, makanan siap saji, paket sembako, air bersih dan kebutuhan warga Gaza lainnya. Bahkan sejak 18 Maret 2024, berkolaborasi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO), MER-C telah berhasil mengirimkan Tim EMT (Emergency Medical Team) secara bertahap ke Jalur Gaza untuk memberikan bantuan langsung kepada para korban. Tim EMT MER-C menjadi satu-satunya Tim dari Indonesia yang bertugas di dalam Jalur Gaza.
MER-C Papua Lakukan Mobile Clinic ke Pesantren Baitul Muallaf

Tim Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di Papua terus melakukan program mobile clinic, salah satunya ke Pesantren Baitul Mualaf di Kabupaten Sorong. Mobile clinic di pesantren yang membina sekitar 300 mualaf beserta keluarganya itu telah dilakukan Tim MER-C sejak dua bulan lalu. Pimpinan Pesantren Baitul Muallaf, Hono Salendro, mengucapkan terima kasih atas kehadiran MER-C. Ia mengatakan pengobatan melalui mobile clinic yang digelar setiap bulan ini sangat membantu. Dengan adanya mobile clinic, kini mereka tidak lagi pergi jauh dan mengantre ke puskesmas ketika ada yang sakit. “Adanya pemeriksaan MER-C setiap bulan saya sangat sangat senang dan terbantu, khususnya jama’ah kami,” katanya. Ia mengungkap, tidak hanya santri Baitul Muallaf, banyak warga sekitar yang juga merasakan manfaat dari mobile clinic ini. Untuk itu mereka juga sangat berterima kasih kepada MER-C.Hono mengaku, setiap ia keluar dan bertemu warga, banyak yang menanyakan kapan lagi pemeriksaan dari MER-C dilakukan. Selain di Baitul Muallaf, Tim MER-C di Papua juga rutin menggelar mobile clinic di sejumlah tempat yaitu, Pesantren Alam Inspirasi, Pesantren Darul Istiqomah, Pesantren Raudatul Khufaz, Pesantren Hidayatullah dan Panti Asuhan Sinar Kasih. Mobile clinic juga dilakukan hingga ke pelosok wilayah Papua Barat Daya seperti klalin 4, klalin 6, klalin 2, Arar kampung, Katapop 1, Modan 1, Modan 2 dan Rawa Sugi.MER-C telah hadir di Papua selama 18 tahun melalui program Sehat untuk Papua. Tidak hanya mobile clinic, MER-C juga mengadakan kegiatan sunatan masal, kurban untuk Papua, bantuan paket sembako, bantuan Ramadhan dan Idul Fitri, serta program kemanusiaan lainnya. Rekening Donasi Sehat untuk Papua:BSI, 8111 929.620BCA, 686.066.6608Atas nama:Medical Emergency Rescue Commmittee
Satu Lagi Relawan Medis MER-C Masuk ke Jalur Gaza

Satu relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali berhasil memasuki Jalur Gaza. Dr. Farhandika Muhammad yang tergabung dalam Tim Emergency Medical Team (EMT) 4 akhirnya masuk ke Jalur Gaza bersama konvoi WHO UNOCHA, Jumat (31/5). Tim MER-C yang ada di Yordania melepas dr. Farhandika di Amman, untuk masuk ke Jalur Gaza melalui Penyebrangan Karem Abu Salem, Kamis (30/5). Ketatnya pengecekan barang bawaan Tim di perbatasan tersebut, membuat perjalanan konvoi terhambat dan baru tiba di Gaza keesokan harinya. Dr. Far Proses pergantian relawan sempat tertunda akibat invasi Israel ke Rafah, Gaza Selatan, yang merupakan tempat bertugas relawan. Invasi ini juga mengakibatkan penyebrangan Rafah, antara Mesir dan Gaza ditutup. Saat ini pergerakan masuk dan keluar relawan medis dari Jalur Gaza melalui penyebrangan Karem Abu Salem, namun masih dengan jumlah yang sangat terbatas. Pada hari yang sama, Jumat (31/5), dua relawan perawat, Asrina Sari dan Nadia Rosi dari Tim EMT 3 MER-C juga berhasil keluar dari Gaza usai bertugas selama lebih dari satu bulan di sana. Dengan rotasi yang ada, saat ini total tujuh relawan MER-C yang masih berada di Jalur Gaza terdiri dari 4 relawan medis, yaitu dokter spesialis anastesi, dokter spesialis bedah umum, dokter umum dan bidan serta tiga relawan non-medis. Relawan medis EMT MER-C langsung bertugas di RS An-Nasser yang baru reaktivasi selama satu minggu dan medical point yang masih aktif di Gaza Selatan.
Dua Relawan MER-C Kembali Berhasil Masuk Gaza, Langsung Bertugas di RS An-Nasser

Dua relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) ke-4 kembali berhasil masuk Jalur Gaza dan langsung bertugas membantu tim medis di Rumah Sakit An-Nasser. Dokter Spesialis Bedah Umum Faradina Sulistiyani dan Dokter Anestesi Dede Subrata masuk melalui perbatasan Karem Abu Salem dan tiba di Guest House MER-C di wilayah Al-Mawasi, Gaza Selatan, pada hari Jumat (24/5/2024) pukul 16.00 waktu setempat. Dr. Faradina mengatakan, hari Sabtu mereka bertemu dengan Koordinator untuk NGO yang bertugas di Jalur Gaza membahas terkait penempatan medical staf EMT di medical point yang ditunjuk. Selanjutnya hari Minggu relawan bertemu General Manajer RS An-Nasser untuk meninjau lokasi dan melakukan orientasi. Keduanya mulai bertugas sejak Senin (27/5) di RS An-Nasser di Khan Younis, yang baru sepekan kembali beroperasi setalah sebelumnya berhenti akibat serangan Israel. Tim EMT MER-C ke-4 sempat tertunda masuk ke Jalur Gaza akibat invasi Israel ke Rafah, Gaza Selatan. Invasi juga mengakibatkan TIM 3 tertunda keluar dari Jalur Gaza. Namun kini WHO dan UNOCHA telah dapat memfasilitasi pergerakan keluar dan masuk relawan meski dengan jumlah terbatas. Dengan masuknya dua relawan dari Tim EMT MER-C ke-4 dan telah keluarnya total enam relawan dari Tim EMT MER-C ke-3 dari Jalur Gaza, maka saat ini ada 8 relawan MER-C yang masih bertugas di Jalur Gaza.
Tujuh Relawan MER-C Ikut Konferensi Kemanusiaan Internasional di Kuala Lumpur

Tujuh relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengikuti Konferensi Kemanusiaan Internasional bertajuk ‘’Humanitarian Development Nexus: Building Resilience Transforming Lives” yang digelar di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Kuala Lumpur, 27-29 Mei 2024, oleh Mercy Malaysia. Tujuh orang yang hadir yaitu Ketua Emergency Medical Team (EMT) MER-C Indonesia dr. Arief Rachman, Sp.Rad, yang menjadi pembicara dalam konferensi tersebut. Kemudian enam relawan lainya Apt. Dini Rahmawati, S.Farm. Wunandi Artia Binar Phasa, S.Farm, dr. Fahmi Anshori, Sp.OT, dr. Tonggo Meaty Fransisca, dr. Reyfal Khaidar dan Kipa Jundapri, S.Kep., Ners., M.Kep. Acara konferensi dibuka oleh Sultan Perak Darul Ridzuan, Sultan Nazrin Muizzuddin Shah bin (alm) Sultan Azzlam Muhibbuddin. Relawan MER-C Raih Juara ke-3 Poster Presentasi Terbaik Dalam konferensi ini Tim MER-C membawa lima poster presentasi terkait topik bencana di Indonesia dan konflik terkini yang terjadi di Jalur Gaza berdasarkan pengalaman langsung relawan MER-C di lapangan. Salah satu poster relawan MER-C berjudul “Profile of Desease and Injury in Primary Health Care During Gaza Conflict 2023/2024, MER-C Indonesia Experience” yang dipresentasikan oleh dr. Reyfal Khaidar, salah satu relawan yang baru kembali dari Gaza mendapat penghargaan sebagai poster terbaik ke-3. Konferensi Kemanusiaan Internasional MERCY Malaysia (MMIHC) adalah forum yang mempertemukan para aktor dan jaringan kemanusiaan dari berbagai belahan dunia dan pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Konferensi ini mempertemukan para pemikir dan praktisi kemanusiaan terkemuka dari seluruh dunia untuk membahas praktik terbaik, pembelajaran dan implikasinya terhadap orang-orang yang menjadi inti pekerjaan kemanusiaan. Edisi 2024 membahas isu-isu jauh lebih kompleks yang memerlukan perhatian, mencakup meningkatnya kerapuhan dan konflik, krisis iklim, kesehatan, keuangan dan ekonomi akibat meningkatnya risiko bencana dan tantangan pembangunan, agenda lokalisasi, serta isu-isu kemanusiaan, diplomasi, pandemi global, ilmu pengetahuan dan teknologi, sumber daya keuangan yang didedikasikan untuk bantuan kemanusiaan juga pembangunan, dan banyak lainnya.
MER-C Apresiasi Langkah Spanyol, Irlandia dan Norwegia Akui Negara Palestina

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Sarbini Abdul Murad menyampaikan apresiasi kepada Spanyol, Irlandia dan Norwegia yang pada Selasa (28/5), secara resmi mengakui Palestina sebagai sebuah negara. “Keputusan Spanyol, Irlandia dan Norwegia mengakui kemerdekaan Palestina patut diapresiasi. Langkah berani ketiga negara Eropa tersebut tak lepas dari kekejaman dan kebrutalan Israel dalam membunuh penduduk sipil yang tak berdosa. Ketiga negara tesebut sejak awal memang sudah menentang serangan Israel ke Gaza Palestina karena memang akan memiliki dampak kemanusiaan begitu dahsyat dan memang kelak terbukti,” kata Sarbini, Rabu (29/5). “Terutama Irlandia yang memang punya pengalaman pahit di bawah penjajahan Inggris. Pengalaman kelam tersebut yang buat mereka empati dan simpati terhadap kesusahan dan kepedihan masyarakat Palestina terutama Gaza,” tambahnya. Ia juga mengatakan, Spanyol sendiri sejak awal agresi Israel ke Gaza telah secara tegas menentang serangan tersebut. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan langkah negaranya adalah tepat untuk mencapai perdamaian antara Israel-Palestina. Keputusan ini, menurutnya, tidak akan merugikan siapapun, termasuk Israel Menurutnya, pengakuan ketiga negara Eropa ini atas kemerdekaan Palestina bisa jadi pintu awal negara Eropa lainnya dapat mengikuti jejak mereka. “Pada sidang umum PBB, mayoritas negara anggota mendukung resolusi untuk mengakui Palestina menjadi anggota PBB, meski di Dewan Keamanan AS menolak resolusi tersebut. MER-C memandang ini kesempatan dunia untuk segera mengakui Palestina sebagai sebuah negara Merdeka,” ujarnya.
Hadiri Halal Bihalal HMI, dr. Sarbini Ceritakan Perjuangan Membangun RS Indonesia di Gaza

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad menceritakan perjuangan membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, saat menghadiri Halal Bihalal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). “Ini adalah mission impossible, karena kita membangun di tempat yang diblokade. Tidak hanya orang yang sulit masuk, bahkan uang pun sulit masuk Gaza,” katanya di Halal Bihalal dengan tema ‘Kemerdekaan Palestina, Amanah UUD 1945 dan Khittah Perjuangan HMI MPO’, yang digelar di Gedung Djoeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/5). “Dulu kami datang ke Gaza, kemudian terdengar ledakan bom, saat itu yang kami rasakan bukan takut. Kami justru sangat marah karena tidak ada yang bisa dilakukan menyaksikan hal tersebut. Maka dari itu kita berusaha membangun Rumah Sakit yang sangat monumental, hadiah rakyat Indonesian untuk bangsa Palestina,” ujarnya. Ia mengungkap, Rumah Sakit yang dibangun dari sumbangan masyarakat Indonesia ini dibangun sebaik mungkin, dengan peralatan dan fasilitas terbaik, karena MER-C sangat menghargai usaha pembangunan RS ini. Sarbini mengatakan, untuk itu RS Indonesia memiliki fasilitas terbaik dan terbesar kedua di Jalur Gaza. Terakhir sebelum diserang Israel karena tuduhan adanya terowongan Hamas, RS Indonesia menjadi rujukan korban-korban serangan Israel dan tempat berlindung bagi ribuan warga Palestina di Gaza. “Di dalamnya pun kita rancang dengan baik, ruangannya kita beri nama-nama Indonesia seperti Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi ada pahlawan seperti Cut Nyak Dhien, Cut Dik Tiro karena kita ingin mengenakan Indonesia kepada Bangsa Palestina,” tambahnya. “Warga Gaza sendiri saat awal Rumah Sakit ini dibangun mengatakan, ” Kami tidak tahu di mana Indonesia. Yang kami tahu itu negara sangat jauh” untuk itu warga Gaza sangat menghargai kehadiran dan bantuan kita,” kara Sarbini. Lebih lanjut, Sarbini menyerukan dukungan kepada warga Gaza yang saat ini masih terus diserang Israel. Ia sendiri menyayangkan di Indonesia masih ada orang yang mendukung tindakan Israel setelah menyaksikan apa yang terjadi. Rumah Sakit Indonesia berlokasi di atas bukit dekat Jabaliya, kamp pengungsi terbesar di Gaza yang dibangun dari sumbangsih rakyat Indonesia melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Serangan pasukan pendudukan Israel pada Kamis (23/11) malam telah menyebabkan kerusakan parah di RS Indonesia dan menyebabkan tiga relawan MER-C, staf Rumah Sakit, serta seluruh pasien dan warga Gaza yang berada di sana terpaksa mengungsi ke Gaza Selatan.