MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Gempa 6,1 SR Guncang Sumbar, MER-C Kirim Tim Medis

Gempa bumi berkekuatan 6,1 SR mengguncang wilayah Pasaman Barat, Sumatera Barat, Jumat/25 Februari 2022. Gempa bumi yang terjadi sekitar pukul 8.35 waktu setempat, berdasarkan data sementara telah menyebabkan 7 warga meninggal dunia, puluhan warga luka-luka dan sebanyak 5.000 warga terpaksa mengungsi yang tersebar di 35 titik pengungsian. Gempa susulan dikabarkan telah terjadi sebanyak 40 kali. Pada hari kejadian bencana terjadi, MER-C Indonesia segera menurunkan tim relawan medisnya. Tim advance yang terdiri dari satu perawat dan satu supir yang berada di Batipuh, Sumatera Barat, pada pukul 2 siang langsung bergerak ke lokasi bencana. Jarak tempuh via darat diperkirakan akan memakan waktu sekitar 5 jam. Sementara itu, pada Jum’at malamnya/25 Februari 2022, Tim lanjutan yang terdiri dari dua dokter umum, satu perawat dan dua mahasiswa kedokteran juga berangkat dari Medan, Sumatera Utara menuju ke lokasi bencana di Pasaman. Tim advanve akan bertugas hingga satu minggu ke depan untuk melakukan assessment awal dan pelayanan kesehatan bagi warga yang terdampak bencana. Dukungan dan bantuan bagi program ini dapat disalurkan melalui : Rekening Kemanusiaan MER-CBSI – BSM, 701.565.8899BCA, 686.0099339Atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info lebih lanjut :Call Center MER-C : 0811990176Website : www.mer-c.orgFB & Youtube : MER-C IndonesiaTwitter & IG : @mercindonesia

Kasus Omicron Meningkat, MER-C Aktifkan Lagi Program Isomantau

Kasus varian baru Covid-19, yaitu Omicron terus meningkat. Meski tidak seganas Delta (varian sebelumnya), namun Covid-19 varian Omicron disebutkan lebih cepat penyebarannya. Mengantisipasi hal ini, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia telah mengaktifkan kembali program Isomantau atau Isolasi Mandiri Terpantau, yaitu program yang memberikan bimbingan dan pemantauan terhadap pasien-pasien terkonfirmasi Covid-19 bergejala ringan dan/atau tanpa gejala selama mereka menjalani isolasi mandiri di rumah. Program ini gratis dan terbuka untuk seluruh masyarakat Indonesia sebagai bentuk peran serta MER-C dalam membantu penanganan Covid-19 di tanah air. Ketua Tim Isomantau MER-C dr. Tasykuru Rizqa, SpPD mengatakan bahwa MER-C sudah mengaktifkan kembali program Isomantau sejak Januari 2022. “Sebenarnya program Isomantau tidak pernah kami tutup, namun seiring kasus Covid menurun, jumlah pasien yang mendaftar pun menurun. Kini ketika kasus Covid varian Omicron meningkat, mulai banyak lagi masyarakat yang menghubungi call center Isomantau MER-C untuk mendaftar dan mengikuti program ini,” ujarnya. Merespon pemberitaan tentang meningkatnya kasus Covid-19, MER-C menghimbau agar masyarakat tetap antisipatif namun juga rasional dalam mencerna informasi. Antisipatif artinya tetap konsisten menjaga budaya rajin cuci tangan dan memakai masker. Rasional artinya melihat informasi berdasarkan fakta, menghindari komentar hiperbola serta tetap mendukung usaha menjaga kesehatan masyarakat. Bagi masyarakat yang terpapar, khususnya yang bergejala ringan dan/atau tanpa gejala agar mengerjakan isolasi mandiri dengan pemantauan Tim Kesehatan yang terlatih. Hal ini dikarenakan pemantauan merupakan variable penting dalam menjaga kondisi individu dan stabilitas pelayanan kesehatan. Rumah sakit perlu kita manfaatkan seefektif mungkin untuk merawat pasien sesuai indikasi rawat, baik itu karena Covid-19 atau kasus lainnya yang non-Covid-19. Untuk itu, MER-C kembali mengaktifkan program Isomantau, sebuah layanan telemedicine yang memberikan pemantauan setiap hari selama pasien menjalani isolasi mandiri di rumah sampai masa isolasi selesai. Pemantauan rutin setiap hari ini yang membedakan Isomantau MER-C dengan program telemedicine lainnya. Dengan pemantauan rutin diharapkan pasien yang kondisinya memberat akan dapat diketahui dan segera diarahkan ke RS untuk mendapatkan penanganan. Masyarakat yang membutuhkan layanan Isomantau dapat menghubungi Call Center Isomantau MER-C di nomor 0822-9922-5050. Salam,MER-C Indonesia

MER-C dan Dinkes DKI Jakarta Lakukan Pertemuan Virtual Bahas Kerjasama Isomantau

Kasus Covid-19 varian Omicron merebak, MER-C kembali berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Pada Selasa/15 Februari 2022, Tim Isomantau MER-C yang diwakili oleh dr. Naenda Stasya, MARS dan dr. Hadiki Habib, SpPD serta beberapa relawan lainnya melakukan pertemuan virtual dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Pertemuan dimaksudkan untuk menginformasikan pengaktifan kembali program Isomantau atau Isolasi Mandiri Terpantau oleh Tim MER-C dan membahas mengenai kerjasama dalam program ini. Kerjasama MER-C dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dalam program penanganan Covid-19 bukan baru pertama kali. Kerjasama sudah berlangsung sejak gelombang pertama Covid-19 pada tahun 2020, pada gelombang ke-2 pada tahun 2021 dan kini ketika terjadi gelombang ke-3 Covid-19 dengan varian Omicron, MER-C dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta kembali menguatkan kerjasama yang ada dan mensinergikan program penanganan Covid-19 khususnya Isomantau di provinsi DKI Jakarta. Dalam waktu dekat, akan dilakukan pertemuan virtual lanjutan dengan seluruh Puskesmas di enam wilayah Provinsi DKI Jakarta untuk mensosialisasikan alur kerjasama Isomantau terbaru dan informasi lainnya yang diperlukan. Isomantau atau Isolasi Mandiri Terpantau adalah sebuah program yang memberikan bimbingan dan pemantauan terhadap pasien-pasien terkonfirmasi Covid-19 bergejala ringan dan/atau tanpa gejala selama mereka menjalani isolasi mandiri di rumah sampai masa isolasi selesai. Program ini gratis dan terbuka untuk seluruh masyarakat Indonesia sebagai bentuk peran serta MER-C dalam membantu penanganan Covid-19 di tanah air.  

MER-C Meminta Pameran dan Museum Holocaust di Minahasa Ditutup

Ketua Presidium MER-C Indonesia, dr. Sarbini Abdul Murad menyayangkan diselenggarakannya pameran foto sejarah Holocaust dan pembukaan Museum Holocaust di Indonesia pada Kamis/27 Januari 2022. Sarbini juga meminta kegiatan tersebut dihentikan dan museum yang berlokasi di Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara yang dibangun oleh pengusaha Indonesia berdarah Yahudi, Yaakov Baruch segera ditutup serta aktifitas-aktifitas serupa lainnya dilarang di Indonesia. “Ini adalah langkah-langkah yang secara tidak langsung merupakan upaya membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Ini prolog yang ingin disampaikan oleh orang-orang Yahudi minoritas bahwa ada peristiwa Holocaust menyedihkan yang pernah dialami bangsa Israel. Mereka ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia bahwa Israel adalah bangsa yang tertindas dan menderita,” ujar Sarbini. Walaupun Holocaust memang ada, namun menurutnya masih menjadi perdebatan sejarah mengenai jumlah orang Yahudi yang menjadi korban “Mereka ingin mengetuk dan membuka hati rakyat Indonesia dengan informasi-informasi semacam ini. Targetnya diharapkan ke depan rakyat Indonesia tidak akan menolak pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel,” katanya. Sarbini juga meluruskan bahwa kita bukan memusuhi warga Yahudi. Namun yang kita tentang adalah paham Zionisme yang identik dengan kolonialisme dan rasialisme. Menurut Sarbini, justru yang terjadi sekarang adalah sebaliknya, “Israellah yang tengah melakukan Holocaust terhadap rakyat Palestina!”. Untuk itu, ia berharap Pemerintah Indonesia konsisten dengan dukungan dan pembelaan terhadap Palestina, yang berarti hal-hal seperti ini harus dianggap sebagai suatu aktifitas ilegal. “Pendirian museum dan pameran foto Holocaust yang berlangsung di Minahasa melukai sejarah dan perjuangan rakyat Indonesia yang selama ini selalu bersama Palestina dan mendukung perjuangan bangsa Palestina,” ungkapnya. “Pemerintah Indonesia jangan di satu sisi membela Palestina, namun di sisi lain membiarkan ada orang-orang yang melakukan upaya-upaya yang bertentangan dengan aspirasi pemerintah dan rakyat Indonesia untuk Palestina. Pemerintah harus melarang aktifitas-aktiftas serupa di Indonesia,” harapnya. Sarbini juga menyayangkan kehadiran Duta Besar Jerman untuk Indonesia pada acara tersebut. “Tidak tepat kehadiran Dubes Jerman karena Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel dan rakyat Indonesia mendukung perjuangan Palestina. Jangan sampai hal-hal seperti ini mengganggu hubungan dengan rakyat Indonesia,” ujarnya. Sekali lagi Sarbini juga mengingatkan agar pemerintah dan rakyat Indonesia jangan sampai kecolongan, “Museum Holocaust dan Pameran Holocaust harus ditutup,” tegasnya.

Triase COVID-19 dan Akses terhadap Layanan Kesehatan yang Sesuai

Gelombang demi gelombang COVID-19 sudah pernah dialami. Sebagai petugas kesehatan, triase adalah langkah penting untuk memilah kondisi pasien dan memberikan tatalaksana yang sesuai, sehingga kita bisa melakukan penanganan yang terbaik bagi orang-orang yang paling membutuhkan. Triase dimulai sejak di komunitas, mulai dengan memberikan informasi yang akurat (tidak hanya jumlah kasus positif namun juga derajat keparahan), kebijakan kesehatan yang berbasis data sendiri, dan usaha preventif individu seperti memakai masker dan cuci tangan. Kasus ISPA tentu membutuhkan terapi suportif, istirahat, isolasi mandiri dan menghindari stress, namun perlu dipantau oleh tenaga kesehatan terlatih, namanya Isomantau atau Isolasi Mandiri Terpantau. Isomantau diperlukan untuk menghindari penanganan yang berlebihan. Pemantauan ini untuk menjaga agar terhindar dari terlambatnya mengambil keputusan ke rumah sakit, jika memang dianggap perlu, tentunya sesuai indikasi medis. Mengisolasi pasien dengan klinis ringan di rumah sakit akan menghabiskan sumber daya yang dibutuhkan. Kasus-kasus pneumonia COVID-19 yang membutuhkan perawatan malah bisa tertahan di IGD, atau malah tidak bisa masuk IGD sama sekali. Dan ingat, masih ada pasien non-covid yang membutuhkan perawatan. Mereka mau dirawat dimana, kalau rumah sakit diisi dengan kasus ISPA COVID-19? Dr. Hadiki Habib, SpPDRelawan Medis MER-C Salam Kemanusiaan,MER-C IndonesiaCall Center : 0811990176FB dan Youtube : MER-C IndonesiaIG dan Twitter : @mercindonesia #disastermedicine #Isoman #isomantau #isomantaumerc #covid_19 #mercindonesia

Saran MER-C untuk Proses Relokasi Pengungsi Semeru, Belajar dari “Permasalahan Relokasi Sinabung dan Merapi”

Siaran Pers Kembali MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia mengirimkan tim untuk membantu pada fase rehabilitasi erupsi Semeru, 14 Januari 2022. Tim terdiri dari tujuh orang relawan, yaitu dr. Yogi Prabowo, SpOT(K), Ir. Faried Thalib, dr. M. Hardian Basuki, SpOT(K), dr. Muhammad Zuhdi, Iis Islamiah, Marissa Noriti, dan Izzati Rozi Zulmi. Turun dengan tim rekonstruksi berkoordinasi dengan Pemda Lumajang untuk memberikan asupan dalam proses relokasi pengungsi dan meninjau tempat rencana relokasi di desa sumber mujur untuk ikut serta dalam pembangunan faskes di lokasi tersebut. Keinginan kuat Pemda Lumajang untuk tidak mengulangi kegagalan relokasi pengungsi terlihat dari upaya yang serius dalam perencanaan pembangunan huntara (hunian sementara)/huntap (hunian tetap) lengkap dengan fasilitas umum seperti sarana ibadah, sekolah dan fasilitas kesehatan. Belajar dari permasalahan relokasi Sinabung, dimana erupsi yang berkelanjutan dan berulang, membuat upaya penanggulangan bencana khususnya medis menjadi kronis. Setidaknya butuh waktu lebih dari 6 hingga 8 tahun sejak dari tahun 2010 upaya relokasi menemukan banyak hambatan, bahkan menimbulkan secondary disaster berupa konflik sosial antara pengungsi dan masyarakat lokal di daerah relokasi. Sedangkan di Merapi, terkendala mempertahankan mata pencaharian dan budaya lokal yang begitu kuat, menyebabkan para pengungsi kembali ke daerah terdampak. Huntara-huntara yang sudah dibangun ditinggalkan menjadi kurang berguna . Beberapa hal yang mesti diantisipasi dalam relokasi pengungsi: 1. Aspek hukum, legal formal status tanah dan pemanfaatan lahan tempat relokasi. Perlu upaya hukum yang serius dalam memperjelas status tanah relokasi 2. Aspek budaya lokal, psikososial, tanah adat leluhur. Perlu pendekatan sosiokultural yang agresif dalam proses relokasi. Pendekatan tidak hanya kepada pengungsi, namun juga kepada penduduk di sekitar tempat relokasi agar bisa menerima kehadiran pengungsi 3. Aspek ekonomi, mata pencaharian para pengungsi. Dicarikan lokasi dimana mereka bisa mendapatkan mata pencaharian yang sesuai sebelumnya 4. Aspek tehnik, geografis, ekologis dan lingkungan. Kestabilan lahan, zona yang aman dari aliran lahar dan awan panas, keterjangkauan lokasi dengan transportasi, proses evakuasi penyelamatan juga menjadi pertimbangan. Tersedianya fasilitas-fasilitas umum seperti rumah ibadah, pasar, sekolah, fasilitas kesehatan. 5. Aspek kesehatan. Pengungsi adalah kelompok masyarakat mempunyai resiko terabaikannya kesehatan. Selain masalah sanitasi (mandi, air minum, tempat pembuangan dll), kelompok rentan seperti Balita, Bumil dan menyusui, geriatri atau orang tua, serta para penderita penyakit kronis (kanker, gagal ginjal, dll) juga akan terancam timbul morbiditas atau mortalitas. Oleh karena perlu dilakukan identifikasi resiko dan upaya mitigasi kesehatan yang komprehensif. Oleh karena itu, salah satu konsep relokasi dengan menggunakan konsep seperti transmigrasi yang pernah dilakukan zaman orde baru, dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas. Salam, Dr. Yogi Prabowo, SpOT(K)Presidium MER-C    

MER-C Mengutuk Penghancuran Rumah Warga Palestina di Sheikh Jarrah

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengutuk keras aksi brutal tentara Israel terhadap warga sipil Palestina di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur yang masih terus berlanjut. Hal ini disampaikan oleh Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad sebagai respon atas aksi keji berupa pengusiran secara paksa, penghancuran rumah dan penyerangan serta penangkapan pada Rabu (19/1/2022) yang menimpa keluarga Salhiya di wilayah tersebut. “Untuk kesekian kalinya, kekuatan pendudukan Israel dan pasukannya melakukan aksi rasis dan brutal terhadap rumah warga sipil Palestina yang sudah ditempati sejak lama serta menahan pemiliknya,” ujar Sarbini. “Ini adalah kejahatan perang yang tidak bisa dibiarkan terus berlanjut,” tegas Sarbini. Menurutnya, aksi-aksi keji dan illegal yang dilakukan Israel dengan dalih yang mengada-ada akan merusak iklim perdamaian. Untuk itu, Sarbini mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan masyarakat Internasioanal melakukan langkah proaktif agar aksi brutal Israel bisa segera berhenti. “Apabila masyarakat Internasional diam dan hanya menjadi penonton, maka kebrutalan ini akan terus berlanjut. Untuk itu, kami MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia meminta segera dikirim tim internasional untuk memantau dan mengawasi aktivitas ilegal Israel di Sheikh Jarrah agar pelanggaran hak sipil dan hak asasi warga Palestina bisa di minimalkan,” pungkas Sarbini.

Masyarakat Nagan Raya Salurkan Donasi untuk Palestina melalui MER-C

Kedekatan emosional antara masyarakat Aceh dan masyarakat Palestina terus berlanjut. Hal ini dibuktikan dengan perhatian masyarakat Aceh akan kondisi di Palestina dengan terus mengalirnya donasi dari masyarakat Aceh yang pada hari ini diwakili oleh masyarakat Nagan Raya.                             Jum’at/7 Januari 2022, masyarakat Nagan Raya atas nama Komite Nagan Raya Peduli Palestina memberikan donasi sebesar Rp 136.421.200,- untuk Palestina melalui MER-C. Donasi diserahkan secara langsung oleh Bupati Nagan Raya, H. M. Jamin Idham, SE yang diterima oleh Perwakilan Presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah, MSi. Turut hadir pada acara ini Sekretaris Daerah Kabupaten Nagan Raya, Ir. H. Ardimartha, dan perwakilan MER-C Aceh, Ira Hadiati, SH. Bantuan senilai Rp 136.421.200,- dari Masyarakat Nagan Raya akan sangat bermanfaat untuk menyempurnakan pembangunan tahap dua RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina yang saat ini dalam proses pengadaan alat kesehatan. Pembangunan tahap dua untuk membangun dua lantai tambahan di RS Indonesia telah dimulai sejak awal tahun 2019. Pembangunan selesai pada pertengahan tahun 2020 lalu yang kemudian diikuti dengan pengadaan alat kesehatan.                               Dengan selesainya pembangunan tahap dua, maka bangunan RS Indonesia saat ini terdiri dari 4 lantai dan 1 lantai basement, dengan total kapasitas 230 tempat tidur. Sebagian alat kesehatan saat ini sudah terinstalasi di RS Indonesia. Proses ini terus dikejar dan secara bersamaan juga dilakukan pengecekan bertahap untuk semua item alat kesehatan antara perwakilan MER-C, manajemen RS Indonesia dan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza agar dua lantai tambahan bisa segera dibuka dan beroperasi. Kebutuhan akan sarana dan prasarana kesehatan hingga saat ini memang masih sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita di Palestina. Dengan donasi dari rakyat Indonesia, MER-C akan terus melakukan program pengembangan RS Indonesia yang diperlukan untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik bagi saudara-saudara kita di Palestina yang saat ini masih terus berjuang meraih kemerdekaannya.

130 Tempat Tidur Pasien Tiba di RS Indonesia Gaza

Pengadaan alat kesehatan untuk dua lantai tambahan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina terus berlangsung. Pada akhir Desember 2021, sebanyak 130 tempat tidur pasien tiba di RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina.                       “Alhamdulillah kami mendapat kabar dari relawan MER-C di Jalur Gaza bahwa 130 tempat tidur pasien akhirnya tiba di Rumah Sakit Indonesia,” ujar dr. Arief Rachman, SpRad, tim pengadaan alat kesehatan RS Indonesia. Dengan tibanya 130 tempat tidur pasien ini, pengadaan alat kesehatan tahap dua untuk dua lantai tambahan di RS Indonesia Gaza sudah hampir lengkap. “Sudah hampir lengkap, tinggal menunggu matras saja,” tambah Arief, relawan medis MER-C yang berprofesi sebagai dokter spesialis radiologi. Arief yang juga merupakan anggota Presidium MER-C menjelaskan bahwa kedatangan alat kesehatan tahap dua RS Indonesia Gaza mundur dari jadwal yang seharusnya. “Kedatangan alat kesehatan mundur sekali dari jadwal yang dijanjikan oleh para supplier. Kami memesan seluruh alat kesehatan pada rentang Februari – Maret 2021 lalu. Seharusnya waktu pengiriman alat sekitar 1 – 3 bulan setelah pemesanan,” jelas Arief.                                 Namun kondisi blokade berkepanjangan di Gaza, diperparah dengan pandemi yang masih berlanjut membuat kedatangan hampir semua alat kesehatan mundur tiga hingga enam bulan. Arief mengatakan bahwa sebagian alat kesehatan saat ini sudah terinstalasi di RS Indonesia. Proses ini, menurutnya akan terus dikejar dan secara simultan juga dilakukan pengecekan bersama secara bertahap untuk semua item alat kesehatan antara perwakilan MER-C, manajemen RS Indonesia dan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza. Pihak Kementerian Kesehatan juga menurutnya sudah mendesak agar dua lantai tambahan RS Indonesia berikut alat kesehatan yang sudah ada dapat diserahterimakan. “Pihak Kementerian berharap dua lantai tambahan RS Indonesia bisa segera diserahterimakan untuk segera dibuka, karena memang mereka sangat membutuhkan ruangan untuk menampung pasien yang selama ini sudah melebihi kapasitas,” pungkas Arief.                                 Pembangunan tahap dua untuk membangun dua lantai tambahan di RS Indonesia, Jalur Gaza, Palestina telah dimulai sejak awal tahun 2019. Pembangunan selesai pada pertengahan tahun 2020 lalu yang kemudian diikuti dengan pengadaan alat kesehatan. Dengan selesainya pembangunan tahap dua, maka bangunan RS Indonesia saat ini terdiri dari 4 lantai dan 1 lantai basement, dengan total kapasitas 230 tempat tidur.  

Silahkan bertanya?