MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Ukhuwah Al-Fatah Rescue: Warga Naiman NTT Kekurangan Air Bersih

Malaka Tengah, MINA – Warga Naimana Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi korban paska Banjir Bandang saat ini mengalami kekurangan air bersih. Demikian laporan Ketua Koordinator Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) NTT Jawir Julfikar kepada MINA, Kamis (15/4). “Selain itu, (di lokasi terdampak parah) rawan kelaparan karena penyimpanan hasil panen hampir semuanya rusak akibat air banjir menghantam rumah-rumah warga,” kata Jawir. Dia mengatakan, UAR bersama lembaga kegawatdaruratan medis Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) mendirikan dua posko dan memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban bencana banjir. Sebelumnya, MER-C dan UAR memberikan pelayanan kesehatan untuk 100 Kartu Keluarga desa Naimana NTT, korban banjir yang menghantam warga. “UAR dan MER-C memberikan pelayanan kesehatan untuk 100 KK, rata-rata warga Naimana mengalami sakit batuk, flu, gatal-gatal karena lumpur dan demam dialami anak-anak,” ujarnya. Lanjut kata Jawir, mereka merasa tertolong dengan bantuan Sembako tapi tidak menjamin untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu yang lama.Tim UAR dan MER-C difungsikan penanganan medis, UAR mendampingi MER-C untuk bantuan medis. Tim MER-C berjumlah 5 relawan terdiri dari 1 orang Dokter Bedah, 1 orang dokter umum, bersama 3 perawat, sedangkan team UAR menerjunkan 2 relawannya. (L/R4/R1) Sumber : https://minanews.net/ukhuwah-al-fatah-rescue-warga-naiman-ntt-kekurangan-air-bersih/

Nasionalisme Dan Kemanusiaan Di Batas Negeri

(Catatan Tim Relawan MER-C untuk NTT)   Rabu/14 April 2021, menjumpai para mama, papa, oma, opa, beserta adik-adik yang memilih  untuk setia pada NKRI sejak tahun 1999, ketika Timor Timur atau yang saat ini dikenal dengan Timor Leste memisahkan diri dari Indonesia. Mereka lebih memilih Indonesia ketimbang Timor Leste karena merasakan hidup di NKRI lebih aman. Konon kabarnya saat itu kondisi Timor Leste sangat tidak stabil, sering terjadi pembunuhan. Entah apa motif pembunuhan tersebut, kami juga tidak memahami.   Memilih menjadi WNI meninggalkan tanah kelahirannya Timor Leste bukanlah hal yang mudah. Terutama bagi mereka yang tidak memiliki cukup harta untuk memulai kehidupan baru di negeri baru. Seorang mama menceritakan, dia tidak memiliki tanah sama sekali. Keluarganya bertahan hidup dari kebaikan saudara sesuku yang mengijinkan tanahnya untuk dikelola.    Para pemilik wajah eksotis khas Timor Leste ini, berdiam di sebuah kampung yang dikenal dengan Trans Kotun di desa Naimana kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketika kami menanyakan salah seorang Mama, apakah punya KTP Indonesia? “Tentu saja punya,” jawab Mama dengan dialek khasnya. Apa mama bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya? Tentu saja bisa, seketika serentak para mama dan papa beserta muda-mudinya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Rasa haru terpancar dari sorot mata masyarakat transkotu, dan juga para relawan yang hadir di sana. Tak lama kemudian relawan MER-C bergegas mempersiapkan layanan pengobatan umum bagi warga Trans Kotun, sambil sesekali berdialog dengan warga yang menunggu antrian untuk diperiksa. Sebelumnya memang pernah ada bantuan layanan kesehatan, di sekitar lokasi kampung mereka, cukup jauh lokasinya. Ketika mereka berbondong-bondong datang, ternyata pengobatan telah bubar.    Lokasi pengobatan umum kami buka di pekarangan rumah seorang warga Trans Kotun, terdapat juga kuburan keluarga khas katolik di pekarangan tersebut. Mama bercerita saat itu banjir air bercampur lumpur setinggi lebih dari 1 meter, masuk ke dalam rumahnya. Mereka bertahan di loteng rumah bersama 30 warga lainnya, hingga bantuan untuk mengungsi datang. Mereka tidak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga hasil kebun yang diharapkan untuk menyambung kehidupan sehari-hari. Saat ini mereka bertahan hidup dari bantuan sembako yang disalurkan oleh pemerintah setempat maupun LSM. Cerita pilu lainnya dari dusun Kobadein, Kab. Malaka Tengah. Seorang mama bercerita mereka bertahan hidup di atas atap rumah selama 2 hari tanpa makan dan minum hingga bantuan datang. Mereka sangat bersyukur keluarga dan tetangga sekitarnya selamat semua, hanya harta yang hilang.    Di negeri batas Timor Leste ini, bahasa kemanusiaan dan nasionalisme begitu terasa, tanpa ada sekat pemisah agama, ras, ataupun pandangan politik. Semoga akan selalu ada semangat berbagi untuk saudara kita yang membutuhkan.   —— Bantuan dan Donasi dapat disalurkan melalui Rekening Amanah Kemanusiaan MER-C :   BCA. 686.0099339 BSM. 701.5658.899 BNI Syariah. 303.2000.922 Bank Mega Syariah. 1000.209.400   Semua rekening atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info lebih lanjut : Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG dan Twitter : @mercindonesia Youtube : MER-C Indonesia

Assessment Tim MER-C ke wilayah terdampak bencana di Bena Timor Tengah Selatan, NTT

Assessment Tim MER-C ke wilayah terdampak bencana di Bena Timor Tengah Selatan, NTT, Senin/12 April 2021. Bena adalah salah satu wilayah yang dilanda banjir akibat siklon tropis Seroja.   Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 3,5 jam dikarenakan akses jalan utama menuju Bena terputus pasca banjir. Jalan yang dilalui Tim adalah jalan alternatif yang rusak dan sempit serta menggunakan metode buka-tutup untuk dapat melintas.   Pkl 17.30 wita Tim MER-C bersama Tim Al Fatah Rescue tiba di posko bencana Bena yang terletak di sebuah gereja.    Masih tampak jelas kerusakan di sana sini akibat bencana banjir yang menerjang Bena beberapa hari lalu. Sebagian warga Bena juga masih mengungsi karena rusaknya tempat tinggal mereka. Tim MER-C berkoordinasi langsung dengan Bupati dan Kadis Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Selatan.    Berdasarkan hasil koordinasi dan assessment langsung di lapangan, masalah kesehatan di Bena kami nilai sudah dapat tertangani oleh Peskesmas setempat yang standby 24 jam.   Yang masih menjadi perhatian di wilayah ini adalah nutrisi bagi ibu hamil dan balita, sumber air bersih masih banyak yang belum layak konsumsi dan saat ini dalam proses uji kelayakan, serta pembangunan kembali infrastruktur yang rusak.   Karena masalah kesehatan yang sudah tertangani, Tim MER-C memutuskan untuk bergerak ke wilayah terdampak bencana lainnya yang belum terjangkau bantuan medis. Tujuan Tim selanjutnya adalah Malaka.   “To Help the Most Neglected and the Most Vulnerable People”   Bantuan dan Donasi dapat disalurkan melalui Rekening Amanah Kemanusiaan MER-C :   BCA. 686.0099339 BSM. 701.5658.899 BNI Syariah. 303.2000.922 Bank Mega Syariah. 1000.209.400   Semua rekening atas nama: Medical Emergency Rescue Committee   Info lebih lanjut : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG dan Twitter : @mercindonesia Youtube : MER-C Indonesia

Pasca Siklon Tropis, MER-C Kirim Tim ke NTT

MER-C Indonesia mengirimkan lima relawannya ke Nusa Tenggara Timur (NTT), provinsi yang sebagian wilayahnya diterjang bencana angin kencang, banjir bandang dan tanah longsor akibat siklon tropis Seroja, Minggu/11 April 2021. Setibanya di Kupang, ibukota NTT Tim langsung berkoordinasi dengan BPBD, Dinas Kesehatan setempat dan pihak terkait lainnya.                             Berdasarkan hasil koordinasi sementara, Tim MER-C yang beranggotakan Dr. Rifqi Zulfikar, SpB, Dr. Laily Anna Diah Ardi Shinta, Ade Andrian, S.Kep., Ns., Iis Islamiah dan Marissa Noriti, S.Farm, memutuskan untuk melakukan assessment ke Desa Bena di Timor Tengah Selatan (TTS). “Setelah berkoordinasi dengan berbagai pihak, dari BPBD Provinsi menyarankan kami ke Desa Bena di Timor Tengah Selatan,” ujar dr. Rifqi Zulfikar, SpB, Ketua Tim MER-C untuk NTT. “Menurut data yang kami dapat belum ada tim medis ke sana. Info dari lokasi juga masih sangat terbatas karena sulitnya sinyal pasca bencana. Untuk itu, kami akan melakukan assessment langsung ke lapangan,” tambahnya. Bena adalah salah satu desa yang dilanda bencana banjir. Desa ini sering mengalami banjir karena wilayahnya landai, ditambah adanya siklon tropis Seroja yang memicu cuaca ekstrem di NTT.                               Senin/12 April 2021, Tim MER-C bersama Relawan Ukhuwah Al Fatah Rescue (UAR) bergerak menuju desa Bena. Sebelumnya, Tim membeli tambahan obat-obatan di Kupang untuk persiapan pelayanan medis bagi warga korban bencana. “Sebagian obat kami bawa dari Jakarta, beberapa tambahan obat kami beli di Kupang. Kami juga membawa emergency kit dan set bedah minor yang memungkinkan penanganan operasi kecil di lapangan jika diperlukan. Dengan bekal ini, kami akan melakukan assessment ke wilayah terdampak bencana yang masih membutuhkan bantuan medis. Mohon doanya,” ujar dr. Rifqi, relawan yang baru saja menyelesaikan pendidikan spesialis bedahnya dan langsung terpanggil untuk menjalankan tugas kemanusiaan ke NTT.                               Bantuan dan Donasi dapat disalurkan melalui Rekening Amanah Kemanusiaan MER-C : BCA. 686.0099339BSM. 701.5658.899BNI Syariah. 303.2000.922Bank Mega Syariah. 1000.209.400Semua rekening atas namaMedical Emergency Rescue Committee Info lebih lanjut :Call Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG dan Twitter : @mercindonesiaYoutube : MER-C Indonesia

NTT Dilanda Bencana, MER-C Siapkan Tim Medis

Bencana angin kencang, banjir bandang, dan tanah longsor menerjang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu/4 April 2021 lalu. Bencana alam yang dipicu oleh siklon tropis Seroja telah meluluhlantakkan sebagian wilayah NTT, menghancurkan rumah-rumah warga dan berbagai fasilitas umum yang ada. Tercatat lebih dari 100 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya menderita luka-luka. Jumlah korban masih bisa terus bertambah karena puluhan orang dikabarkan hilang dan masih dalam pencarian. Belasan ribu warga di beberapa kabupaten terdampak juga terpaksa mengungsi karena kehilangan tempat tinggal. Bencana terasa lebih berat bagi warga karena terjadi di tengah wabah covid yang masih mendera. MER-C Indonesia kembali mengirimkan Tim Relawan untuk memberi bantuan kepada para korban. Tim terdiri dari dokter bedah, dokter umum, perawat dan relawan logistik akan berangkat menuju lokasi bencana pada Minggu 11 April 2021. Bantuan dan Donasi dapat disalurkan melalui Rekening Amanah Kemanusiaan MER-C : BCA. 686.0099339BSM. 701.5658.899BNI Syariah. 303.2000.922Bank Mega Syariah. 1000.209.400Semua rekening atas namaMedical Emergency Rescue Committee Info lebih lanjut :Call Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG dan Twitter : @mercindonesiaYoutube : MER-C Indonesia #prayforNTT #bencana #bencanaalam #siklontropis #siklonseroja #banjirbandangdanlongsor #amanahbagikemanusiaan #donasikemanusiaan#pedulikemanusiaan#timmedismerc#relawanmerc

Paket RAMADHAN untuk PAPUA

Assalamu’alaikum Sahabat, Bulan Suci Ramadhan sebentar lagi tiba. Bulan penuh berkah yang dinanti-nanti umat muslim di dunia, tak terkecuali umat muslim di Papua. Menyambut bulan Ramadhan tahun ini MER-C kembali mengajak Sahabat semua untuk berbagi kepedulian bagi saudara-saudara muslim di Papua melalui program: “Paket RAMADHAN untuk PAPUA” Paket Ramadhan terdiri dari :1. Paket Alat Sholat (mukena, sarung dan sajadah)2. Paket Sembako # Paket Ramadhan akan dibagikan di awal – tengah bulan Ramadhan # Paket Ramadhan akan disalurkan langsung oleh Tim MER-C di Sorong, Papua Barat kepada masyarakat muslim di wilayah-wilayah sasaran mobile clinic MER-C yang benar-benar membutuhkan. Dukungan & Donasi bagi program ini dapat disalurkan melalui : BNI Syariah, 08.111.929.62BCA, 686.066.6608 A/n. Medical Emergency Rescue Committee Harap menambahkan angka 1 di akhir nominal yang akan ditransfer, contoh Rp 50.001,-  untuk memudahkan perekapan donasi. # Donasi untuk program ini kami buka s/d hari Ahad (18 April 2021). Mari Berbagi Kebaikan dan Kebahagiaan Ramadhan bersama MER-C Info lebih lanjut :Call Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG dan Twitter : @mercindonesiaYoutube : MER-C Indonesia #welovepapua#mercpedulipapua#mercpedulianakpapua#mercindonesia

GeNose untuk Penerbangan

GeNose memang karya anak bangsa yang mesti diapresiasi. Pemerintah harus membuka jalan pasar untuk penggunaan Genose. Dikabarkan akurasi, sensitifitas, dan spesifisitas uji diagnostik GeNose cukup baik. Tentu ini sangat membanggakan bagi Indonesia. Namun GeNose harus digunakan dengan INDIKASI yang tepat. Untuk diagnostik PASTI Covid-19, BAKU EMAS atau GOLD STANDARD-nya masih dipegang oleh swab PCR. Pemerintah harus memilah dan memilih indikasi penggunaan GeNose dengan baik, misalnya untuk SCREENING MASSAL. Sama dengan SWAB ANTIGEN yang digunakan untuk screening pasien untuk tindakan darurat hitungan jam di IGD. Swab antigen bisa dalam 4,5 jam saja. Sementara swab PCR masih butuh lebih lama hingga satu hari, sehingga tak mungkin menunggu hasil swab PCR untuk melakukan tindakan medis darurat di IGD. GeNose juga diklaim bisa mendapatkan hasil dengan cepat. Untuk penerbangan, standar safety yang dianut adalah ZERO RISK, atau hampir tanpa resiko. Termasuk untuk resiko penularan Covid-19 karena sirkulasi di dalam pesawat yang tertutup. Apabila ada satu saja penumpang yang mengidap Covid-19, maka akan berpotensi menularkan ke semua penumpang. Oleh karena itu, konteks pemeriksaan Covid-19 untuk penerbangan adalah BUKAN konsep SCREENING umum, tetapi konsep KEPASTIAN atau memastikan bukan Covid-19. Jadi pemeriksaan Covid-19 yang dilakukan harus menggunakan standar BAKU EMAS atau GOLD STANDARD, yaitu swab PCR. Salam Dr. Yogi Prabowo, SpOT (K)Pendiri, Presidium dan Relawan MER-C

EMT (Emergency Medical Team), Sebuah Kerancuan Konsep Penanggulangan Bencana di Indonesia

Indonesia merupakan negara rawan bencana. Banyaknya tim tim medis dari berbagai pihak yang terjun di kancah penanggulangan bencana baik di Indonesia ataupun luar negeri menimbulkan perbincangan dan perdebatan perlunya pembentukkan EMT (Emergency Medical Team) di Indonesia. Maka upaya penyusunan regulasi mengenai EMT ini dilakukan terutama oleh kementerian kesehatan ataupun organisasi profesi dokter. Penulis mengikuti beberapa kali proses rapat-rapat tersebut                             Relawan MER-C saat turun misi kemanusiaan gempa Majene – Mamuju, Sulbar, Januari 2021 EMT atau Emergency Medical Team adalah tim medis darurat atau emergency yang diturunkan untuk membantu menangani korban di lokasi bencana. Saat ini Indonesia sedang berupaya membentuk EMT baik pada level lokal, nasional, bahkan untuk meregistrasi ke level internasional.  Pertanyaannya : Perlukah Indonesia membentuk EMT mulai dari level daerah atau wilayah hingga level nasional ? Kalau kita lihat sejarah awal mula EMT ini sebenarnya berasal dari FMT (Foreign Medical Team) yang diperkenalkan oleh WHO untuk membantu “negara ketiga” yang belum mempunyai sistem penanggulangan bencana yang baik di negaranya. Misalnya untuk membantu korban gempa Haiti 2010 dan gempa Nepal tahun 2015 yang memakan banyak korban meninggal dan cedera. Kala itu WHO berupaya “meregistrasi tim medis asing” yang masuk ke wilayah bencana tersebut. Sehingga pada akhirnya WHO memperkenalkan istilah FMT atau Foreign Medical Team yang berikutnya berkembang menjadi EMT atau Emergency Medical Team yang juga disertai dengan  klasifikasi EMT. Namun di Indonesia EMT akan dibuat untuk kepentingan baik domestik dan internasional sebagai upaya membuat sistem penanggulangan bencana. Apakah hal ini cocok? Kalau kita tanya negara Jepang apakah mereka punya EMT domestik? Tentu sistem penanggulangan di Jepang sudah tertata sedemikian rupa dengan sistem regional bukan dengan membangun EMT. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah lebih baik membangun EMT atau membangun sistem  penanggulangan bencana yang sistematis dengan memperkuat sumber daya wilayah? Namun pada akhirnya EMT lah yang dipilih sebagai solusi penanggulangan bencana . Dibuatlah EMT dengan berbagai klasifikasinya antara lain ; EMT tipe mobile, EMT tipe fixed dan EMT spesialisasi. Kemudian nantinya para EMT ini akan berkoordinasi dengan EMT-CC atau EMT Command Center. Pedebatan berikutnya adalah ; siapakah yang membentuk EMT ini? Apakah organisasi profesi apakah itu IDI dan PPNI, ataukah Universitas, LSM, ataukah rumah sakit yang mempunyai sumber daya lengkap? Semua pihak berlomba lomba ingin membentuk EMT, mulai dari organisasi profesi dokter umum, dokter spesialis, dinas kesehatan, lembaga sosial, universitas hingga rumah sakit. Menurut pendapat penulis yang membentuk EMT harusnya oleh rumah sakit atau pihak2 yang mempunyai SDM yang lengkap dan adekuat. Sementara itu organisasi profesi bisa berperan sebagai men-support tenaga dokter ahli atau perawat saja tak perlu buat EMT sendiri, karena sejatinya EMT tidak hanya terdiri dari dokter, namun juga perawat, farmasi, kesehatan masyarakat dan lain lain. Padahal di lapangan EMT – EMT yg tidak lengkap ini sering kali kesulitan dalam bekerja sendiri dan pada akhir bergabung dengan tim-tim lainnya. Fenomena lainnya adalah pihak pihak yang membentuk EMT ini juga berupaya meregistrasi EMT nya baik pada level nasional dan internasional. Untuk level internasional WHO sebagai lembaga yg memberikan lisensi suatu EMT boleh atau tidaknya masuk ke suatu daerah bencana berdasarkan kualifikasi yang dibuat oleh WHO. Padahal kenyataan di area bencana apalagi di area konflik dan peperangan seperti Palestina, Rohingya Myanmar dan Afghanistan, WHO itu sendiri belum tentu diberikan izin oleh negara-negara tersebut untuk masuk, karena sejatinya “kebijakan atau kearifan lokal” negara yang mengalami bencana itu sendiri yang punya wewenang mengizinkan suatu EMT memasuki wilayahnya. Jadi sebenarnya registrasi internasional belum tentu berguna. Bahkan bisa jadi EMT yang belum teregistrasi internasional oleh WHO bisa diizinkan masuk seperti ke Gaza – Palestina atau Rohingya karena upaya diplomasi yang dilakukan. Sementara itu registrasi nasional belum ada lembaga yang dapat atau mempunyai kapabilitas melakukan registrasi.                         Relawan MER-C saat turun misi kemanusiaan gempa Lombok, NTB, September 2018 Regulasi lain yang dibuat, misalnya untuk sukarelawan medis yang berangkat ke lapangan disyaratkan adanya SIP (Surat Izin Praktek) sementara untuk layanan medis di dalam ambulans tidak perlu SIP. Sejatinya SIP itu terkait TEMPAT dan WAKTU. Artinya kalau anda punya SIP di suatu tempat belum tentu bisa praktek di tempat lain, apalagi di daerah bencana. Jadi tidak mungkin SIP disyaratkan pada tenaga kesehatan yang ingin berangkat ke daerah bencana. Kontradiktif dengan layanan ambulan yang sejatinya harus memiliki SIP karena ada unsur standard layanan medik, namun malah tidak disyaratkan. Akibatnya ranah ambulans ini bukan menjadi ranah medis tapi ranah sosial. Kalau kita lihat di luar negeri memang tidak pernah ada tenaga kesehatan yang diminta SIP-nya ketika terjun membantu, tetapi biasanya STR (Surat Tanda Registrasi) saja yang menyatakan bahwa ybs adalah benar benar mempunyai kualifikasi yang sesuai. Penulis khawatir distorsi regulasi dalam pembentukkan EMT sebagai salah satu sistem penanggulangan bencana di Indonesia ini menjadi fenomena kontradiktif dan paradoksal ditengah upaya membangun animo partisipatif masyarakat dalam penanggulangan bencana. Masyarakat akan merasa “tersekat” dan tidak bisa turun membantu tanpa bergabung dan registrasi EMT. Sementara di sisi lain bencana ini sangat tidak bisa diprediksi baik skala ataupun kerusakan yang ditimbulkan serta memerlukan respon yang cepat ketimbang memperhatikan kualifikasi EMT yang akan membantu. Mudah-mudahan para eksekutif pemerintah bisa membaca tulisan ini dan merenungkan yang terbaik bagi bangsa ini. Salam Kebencanaan & Kemanusiaan, Dr. Yogi Prabowo, SpOT(K)Pendiri dan Relawan MER-C

Welcome to Arar

Sabtu/20 Maret 2021, Tim MER-C kembali melakukan mobile clinic yang merupakan program wajib Klinik MER-C di Sorong. Kali ini sasaran mobile adalah Kampung Arar yang terletak di Pulau Arar, Distrik Mayamuk, Sorong, Papua Barat.                             Tim mobile clinic terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat, sementara tim lainnya tetap bertugas melakukan pelayanan medis di Klinik Utama MER-C yang terletak di Distrik Aimas, Sorong. Perjalanan ke kampung Arar ditempuh dengan dua moda transportasi. Dari Klinik, tim menggunakan kendaraan operasional yang ada, yaitu motor yang selama ini setia menemani perjalanan tim menjelajah kampung-kampung di Papua Barat. Setelah naik motor selama lebih kurang 20 – 30 menit, perjalanan dilanjutkan dengan perahu kecil menuju Pulau Arar. Usai menempuh perjalanan laut sekitar 20 menit juga, tibalah Tim di Pulau Arar. Gapura bertuliskan “Welcome to Arar” menyambut kedatangan Tim. Warga Arar yang mengetahui kedatangan MER-C pun berdatangan ke tempat pengobatan untuk berobat.                        Selain memberikan pelayanan medis, Tim MER-C juga senantiasa memberikan edukasi kesehatan kepada warga agar lebih peduli pada kesehatan terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini. Pemandangan alam yang dilalui selama perjalanan membuat rasa lelah Tim seakan sirna. Setiap perjalanan mobile ke pelosok-pelosok Papua semakin menambah kecintaan kami pada negeri ini, menambah kecintaan kami pada Papua. SEHAT UNTUK PAPUAWE LOVE PAPUA Ayo Bantu Program Kesehatan untuk Papua & Papua Barat. Donasi dapat melalui : BCA, 686.066.6608BNI Syariah, 081.119.2962An. Medical Emergency Rescue Committee Atau melalui :https://kitabisa.com/campaign/sehatuntukpapua Video perjalanan bisa dilihat di :https://youtu.be/ZMNrTh4xQ1c #sehatuntukpapua#behealthyforpapua#welovepapua#mercpedulipapua#mercpedulianakpapua#mercindonesia Info lebih lanjut :Call Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG dan Twitter : @mercindonesiaYoutube : MER-C Indonesia

Penghargaan BNPB, pembuktian atas kinerja kemanusiaan MER-C

Jakarta (ANTARA) – “Kalau cerita aktivitas MER-C saat misi di luar negeri sering dikutip media massa, terutama soal Palestina. Tapi cerita sukarelawan kami di pelosok negeri yang membantu korban bencana memang jarang diberitakan, padahal kami ada dari Sabang hingga Merauke, dan selalu mengirim tim”. Kalimat itu meluncur dari Ketua Presidium organisasi sosial kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan kesehatan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr Sarbini Abdul Murad saat berbincang mengenai penghargaan yang baru diterima dari negara, melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ya, BNPB baru saja memberikan anugerah penghargaan kepada MER-C atas intensitas, konsistensi, dan inovasi MER-C dalam penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya di masa pandemi COVID-19 saat ini. Penghargaan tersebut diserahkan secara daring pada acara Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Rakornas PB) Tahun 2021 di Jakarta pada Rabu (10/3/2021), yang dihadiri secara virtual oleh pengurus serta sukarelawan MER-C lainnya. Sarbini Abdul Murad — yang di lingkungan MER-C akrab disapa “dokter Ben” itu — bersyukur dan berterima kasih atas penghargaan yang diterima dari BNPB. Anugerah penghargaan itu adalah berkat kontribusi segenap relawan MER-C di seluruh Indonesia, yang selama ini telah siap sedia meluangkan waktu dan keahlian tanpa pamrih untuk menunaikan tugas-tugas kemanusiaan di berbagai wilayah terdampak bencana di Tanah Air. Ucapan terima kasih juga disampaikan atas dukungan dan kepercayaan masyarakat Indonesia kepada MER-C. Penghargaan dari BNPB itu diharapkan menjadi motivasi bagi MER-C dan seluruh sukarelawannya di mana pun berada untuk terus berkiprah bersama elemen bangsa lainnya dalam membantu penanggulangan bencana alam dan pandemi di “Bumi Pertiwi” ini.                             Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad. (FOTO ANTARA/HO-Humas MER-C) Imparsialitas Tak dipungkiri, masih muncul tudingan adanya keberpihakan dalam misi-misi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan sukarelawan MER-C di tempat terjadinya konflik dan bencana. Namun, sejak awal didirikan organisasi nirlaba itu, salah satu pendiri MER-C kala itu, (alm) dr Joserizal Jurnalis, Sp.OT menegaskan bahwa mereka mengusung prinsip imparsialitas dalam tugas-tugas kemanusiaan. Dalam beragam wacana, prinsip imparsialitas dimaknai sebagai upaya ketidakberpihakan, kenetralan, serta sikap tanpa bias dan prasangka dalam menolong sesama. Pada perspektif lain, prinsip imparsial berarti prinsip yang memiliki pandangan yang memuliakan kesetaraan hak setiap individu dalam keberagaman latarnya terhadap keadilan, dengan perhatian khusus terhadap mereka yang kurang beruntung dan membutuhkan uluran tangan untuk dibantu, termasuk pada bidang kesehatan, khususnya di kawasan konflik dan bencana. Prinsip itu sejatinya sudah menjadi pijakan tatkala MER-C, yang keanggotannya berbentuk sukarelawan (unpaid volunteers) dibentuk oleh sekumpulan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang tergerak melakukan tindakan medis guna membantu korban konflik di Maluku, pada Agustus 1999. Ada narasi yang menyebut MER-C mengedepankan asas Islam dalam menjalankan tugas, yakni dengan pijakan rahmatan lil’aalamiin, dengan makna mereka memberikan pertolongan kepada semua orang tanpa memandang latar belakang, agama, mazhab, kebangsaan, etnis, golongan atau politik. Menurut Sarbini AbdulMurad, saat konflik di Ambon, Maluku, tim medis MER-C melakukan operasi kepada yang terluka kepada dua komunitas. Dalam misi di dalam negeri, sukarelawan kesehatan MER-C sudah berada di Papua sejak 2007 atau sudah 14 tahun guna memberikan pelayanan bantuan kesehatan. Mahasiswa Program Doktor Pengkajian Islam Konsentrasi Dakwah dan Komunikasi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Rubiyanah mengulas peran MER-C itu (2019/1439 H). Dalam disertasi berjudul “Dakwah Berbasis Kemanusiaan: Studi Terhadap Aksi Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia di Gaza (2009-2015) dan Lombok (2018)”, ia mendeskripsikan secara lebih mendalam tentang aktivitas MER-C sebagai sebuah lembaga kemanusiaan di Indonesia, bukan di luar negeri saja, namun juga di dalam negeri. Melalui kata pengantarnya, Rubiyanah menyatakan secara eksplisit, MER-C tidak menyebut lembaga mereka memiliki misi dakwah, akan tetapi dalam perspektif dakwah, aksi kemanusiaan yang telah dilakukan MER-C sejalan dengan prinsip- prinsip dakwah yang tertuang dalam Al-Qur’an maupun al-Sunnah. Di antaranya adalah prinsip kemanusiaan universal sebagai perwujudan ukhrijat Li al-nas, amar ma’ruf dalam aksi kemanusiaan MER-C, nahy munkar melalui jihad profesi dan rahmatan lil ‘alamin sebagai wujud prinsip keimanan. Sarbini menambahkan MER-C pernah mendirikan banyak klinik-klinik kesehatan di seluruh Indonesia bekerja sama dengan Bank BNI. Di Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh, MER-C sejak bencana tsunami, menghibahkan puskesmas ke pemerintah daerah sehingga menjadi aset pemerintah daerah setempat. Karena itu, misi kemanusiaan MER-C dalam bidang kesehatan di Tanah Air, secara kuantitas jauh lebih banyak ketimbang di mancanegara, di mana data itu juga bisa diakses melalui laman organisasi, termasuk di saat pandemi COVID-19 saat ini.                             Menlu Retno Marsudi (empat dari kiri) saat menerima delegasi yang dipimpin Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad (tiga dari kiri) saat melaporkan perkembangan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Tahap II di Gaza, dan RSI di Myanmar. (FOTO ANTARA/HO-Humas MER-C/2019) Validasi Bukti imparsialitas dalam kinerja kemanusiaan MER-C, juga divalidasi oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam Rencana Strategis Kemenlu 2020-2024 (https://kemlu.go.id). Laporan Menlu itu menyebutkan dinamika di kawasan Asia Tenggara juga diwarnai dengan terjadinya konflik di Rakhine State, Myanmar. Pada Agustus 2017, dipicu oleh serangan yang dilakukan oleh Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) terhadap pos-pos polisi, dilakukan operasi militer di wilayah tersebut. Berbagai bentrokan senjata telah menyebabkan korban jiwa dan lebih dari 700 ribu etnis Rohingya kehilangan tempat tinggal dan mengungsi ke wilayah Bangladesh, sementara pengungsi Buddha menyelamatkan diri ke selatan (Sittwe). Sebagai tetangga dan sebagai bagian dari keluarga besar ASEAN, untuk mewujudkan dan menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan, Indonesia mengambil peran aktif dalam upaya penyelesaian konflik di Rakhine State. Merespons situasi yang terjadi, Menlu RI pada 4-5 September 2017 melakukan kunjungan ke Myanmar dan Bangladesh. Dalam kunjungan ke Myanmar, Menlu telah bertemu dengan State Counsellor Myanmar Aung San Suu Kyi. Pada kesempatan itu, Menteri Luar Negeri menyampaikan formula 4+1, yaitu mengembalikan stabilitas dan keamanan; menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan; perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State, tanpa memandang suku dan agama; pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan dan +1, yaitu mengimplementasikan rekomendasi Laporan Komisi Penasihat untuk Negara Bagian Rakhine yang dipimpin oleh mantan Sekjen PBB Kofi Annan. Dari pertemuan tersebut juga berhasil diperoleh kesepakatan dari Pemerintah Myanmar untuk dibukanya akses

Silahkan bertanya?