MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Sistem Manajemen Bencana (Sudut Pandang Kesehatan)

Negara Indonesia merupakan salah satu supermarket bencana di dunia. Setiap wilayah di Indonesia mempunyai potensi bencana tersendiri. Dari sudut ketahanan nasional, bencana sering menjadi lokus minoris suatu bangsa dan negara dalam menghadapi intervensi bangsa atau negara lain. Oleh karena itu, pembangunan sistem manajemen bencana di Indonesia merupakan investasi besar untuk kejayaan suatu bangsa. Negara-negara besar dan maju seperti Jepang membuat sistem penanggulangan bencana secara terstruktur di setiap wilayah (perfecture) berdasarkan potensi bencana masing-masing wilayah. Lalu bagaimana dengan Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia? Sistem manajemen bencana seperti apa yang cocok? Bidang kesehatan merupakan pertahanan penting dan lini terdepan dalam penanggulangan bencana. Sistem Manajemen Bencana di bidang kesehatan menjadi tolok ukur dalam keberhasilan manajemen bencana di suatu negara terkait dampak mortalitas dan morbiditas. Dari sudut pandang kesehatan, sistem manajemen bencana dibedakan menjadi: 1. Sistem Manajemen Bencana Intra Hospital2. Sistem Manajemen Bencana Extra Hospital 1. Sistem Manajemen Bencana Intra Hospital Rumah sakit merupakan tempat yang sibuk dalam menghadapi dampak bencana. Pusat komando kesehatan berada di RS dan Dinas Kesehatan setempat. RS merupakan INDIKATOR level ketangguhan suatu wilayah dalam menghadapi bencana. Dalam akreditasi JCI (Joint Commission International) juga sudah mulai mensyaratkan suatu RS mempunyai sistem penanggulangan bencana (Hospital Disaster Plan). Menciptakan RS Tahan Bencana menjadi suatu keharusan di negara rawan bencana. Ketangguhan IGD suatu RS dalam menghadapi bencana merupakan tolok ukur suatu RS dalam ketahanan bencana. Seringkali RS terdampak bencana baik akibat gempa bumi, tsunami, dan pandemi Covid-19. Kita saksikan banyak IGD yang tutup atau RS yang kolaps pada masa pandemi. Hal tersebut diakibatkan lemahnya sistem manajemen alur pasien, sistem logistik dan sistem SDM RS tersebut. Apabila IGD atau layanan emergensi tutup sama dengan lumpuhnya RS tersebut karena tidak bisa lagi menolong orang dalam kondisi gawat darurat. Sistem Manajemen Bencana Intra Hospital meliputi: A. Manajemen alur pasien dan triage, mulai dari IGD, kamar operasi hingga ruang perawatan dan juga sistem rujukan ke luar RS. B. Sistem mobilisasi sumber daya manusia, dokter, perawat dan nakes lainnya C. Sistem pasokan dan mobilisasi logistik serta penunjang. D. Luwesnya perubahan sistem quality control mutu pelayanan yang bisa bergeser cepat dari konsep mutu excellent ke arah konsep mitigasi dalam situasi serba terbatas. 2. Sistem Manajemen Bencana Extra Hospital Sistem manajemen bencana extra hospital sejatinya merupakan sistem manajemen bencana komunitas atau wilayah. Ada beberapa wilayah atau kota yang menggabungkan sistem manajemen bencana di bidang kesehatan dengan bidang lainnya seperti keamanan dll berupa Call Center Emergency (ambulans, damkar, polisi, dll).  Sistem manajemen bencana extra hospital meliputi: A. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). Sistem ini memerlukan bukan hanya sistem data IT dan komunikasi tetapi juga perlu ada “Host” atau komandan berupa medical director yang memiliki kemampuan Triase Bencana (Disaster Triage). Jadi fungsi SPGDT sejatinya:a) Menerima, memilah rujukan pasien berdasarkan derajat keparahannya lalu memilihkan RS yang sesuai levelnya.b) Melakukan Triase Bencana (Disaster Triage) pada saat bencana. B. Sistem Ambulans Sistem ambulans yang dianut di suatu negara atau wilayah akan menentukan keberhasilan penanggulangan kegawatdaruratan atau bencana.  Ada beberapa macam sistem ambulans di dunia, yaitu: a) Ambulans sebagai ranah medis: konsepnya ambulans merupakan bagian dari layanan medik, perluasan IGD (Extended Emergency Room). Sistem ini mempunyai: standar layanan medik ambulans, Surat Izin Praktik tenaga medis (SIP) yang berinduk kepada RS atau fasilitas kesehatan serta tarif pelayanan medis ambulans. Sistem ambulans seperti ini akan menciptakan safety bagi masyarakat dan memberikan layanan kesehatan yang paripurna mulai dari RS hingga sampai ke rumah. Selain itu, sistem ambulans seperti ini akan sangat membantu dalam kondisi bencana dan mass casualties karena memiliki medical director dan komandan yang akan memimpin proses triase dan rujukan. Pada sistem ini, ambulans tidak diperbolehkan dimiliki oleh selain fasilitas kesehatan seperti lembaga sosial, parpol dll. b) Ambulans sebagai ranah sosial: konsepnya ambulans sebagai bagian dari kegiatan sosial sehingga bisa dimiliki oleh siapa saja tanpa ada standarisasi layanan medis dan petugas tidak memiliki SIP. BPJS tidak bisa menanggung pembiayaan ambulans karena bukan ranah layanan medis dan sehingga sistem ini membuat layanan medis tidak paripurna dan terputus. Pada kondisi bencana, sistem ini akan membuat ambulans bergerak sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi dan komando. Realitas kondisi di Indonesia saat ini SPGDT tidak mempunyai sistem “host” atau medical director sehingga masih kita saksikan pasien keliling RS untuk mencari ICU serta masih kita saksikan banyak RS yang overload pada kondisi bencana yang akan mengakibatkan “secondary disasters”. Sementara itu sistem ambulans di Indonesia masih berada di ranah sosial sehingga bisa menipu masyarakat yang  “merasa sudah aman” ketika berada di ambulans padahal tidak demikian adanya. Tingginya angka DOA (Death on Arrival) ketika pasien sampai di IGD merupakan indikator penting keamanan sistem ambulans. Mari kita perbaiki bersama negeri ini. Salam Kebencanaan dan Kemanusiaan Dr. Yogi Prabowo, SpOT(K)Pendiri dan Relawan MER-C

Tim MER-C Lakukan Mobile Clinic ke Kampung Malaus Papua Barat

Selain tetap membuka pelayanan di Posko, Tim MER-C juga melakukan mobile clinic. Kali ini ke kampung Malaus, kec. Salawati Utara, kab. Sorong, Papua Barat. Kp Malaus adalah salah satu wilayah yang ditangani secara rutin oleh Tim MER-C.                             Jarak kampung dari Klinik MER-C sekitar satu jam dengan menggunakan motor. Kegiatan mobile clinic di kampung Malaus sudah berlangsung sejak tahun 2013. Kenapa kampung ini dipilih ? Hal ini karena akses warga ke Puskesmas setempat yang cukup jauh. Untuk itu, secara terjadwal dan rutin, Tim MER-C mengunjungi kampung Malaus untuk mengecek kondisi kesehatan warganya. Yuk Bantu Papua…Sehat untuk Papua… Dukungan dan Donasi dapat melalui :BCA, 686.066.6608BNI Syariah, 081.119.2962An. Medical Emergency Rescue Committee Atau melalui :https://kitabisa.com/campaign/sehatuntukpapua                                   Dukungan dan Bantuan Kita Sangat Berarti #mercpedulipapua#pedulianakpapua#mercindonesia#welovepapua#behealthyforpapua#sehatuntukpapua   Info lebih lanjut :Call Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG dan Twitter : @mercindonesiaYoutube : MER-C Indonesia

MER-C Rawat Warga Palestina di Indonesia Pasca Operasi

Cileungsi, MINA – Relawan Lembaga Kemanusiaan Medis Kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Dr. Zecky Eko Triwahyudi mengatakan, MER-C merawat dr Fayez, salah seorang warga Palestina yang sedang mengungsi di Indonesia, tepatnya di Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi setelah melakukan operasi tulang karena cidera di tangan. “Jadi sistemnya rawat jalan, hari ini MER-C kontrol lukanya, ada jaitan diluar, posisi jaitan bagus sudah kering, cuma masih bengkak, kemudian kita latih untuk gerak di tangan, gerakan otot-ototnya supaya bengkaknya juga berkurang, kalau tidak digerakkan nanti jadi kaku,” Kata Dr. Zecky ketika diwawancarai MINA, Kamis (11/3). “Jahitannya InsyaAllah pekan depan akan dilepas, ” lanjutnya. Kedepannya, pemulihan untuk patah tulang butuh waktu sekitar 2 bulan untuk bisa menyambung kembali. “Kalau kuatnya butuh waktu 4 sampai 6 bulan,  tergantung asupan gizinya dan aktivitas dr Fayez, dan beliau harus banyak digerakkan juga, karena yang terlibat patah itu disendi,  cuma harus hati-hati sementara ini, karena tulangnya baru nyambung jadi belum terlalu kuat untuk menahan beban, ” ujarnya. Selain dr Fayez, warga Palestina, Walid yang terpapar Covid-19, MER-C juga ikut andil dalam penyembuhannya.“Walid dirawat di RS pemerintah,di situ ada relawan MER-C yang terlibat banyak, ikut memantau dan mengarahkan, ” terang dr Zecky “Doakan saja beliau, dan sudah ada perbaikan, semoga segera pulih dan bisa kembali kerumah, ” tambahnya. Ia berharap, hal itu menjadi pelajaran buat kita untuk bersama-sama mencegah resiko tertular Covid-19, jika merasakan gejala, sebisa mungkin meminimalisir kontak dengan yang lain, dan meminimalisir kemungkinan dampaknya. Sebelumnya, Rumah Sakit (RS) Ridhoka Salma, Bekasi, menggratiskan biaya operasi tulang dari dr Fayez, hal itu karena RS Ridhoka Salma sangat menjunjung tinggi rasa persaudaraan termasuk terhadap muslim Palestina. Selama ini, MER-C dikenal sebagai organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi di dalam maupun di luar negeri. MER-C bertujuan memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. MER-C dibentuk oleh sekumpulan mahasiswa Universitas Indonesia yang berinisiatif melakukan tindakan medis untuk membantu korban konflik di Maluku, Indonesia Timur pada Agustus 1999. MER-C merupakan lembaga yang keanggotaannya disebut relawan (unpaid volunteers). (L/Hju/P2) Sumber : https://minanews.net/mer-c-rawat-warga-palestina-di-indonesia-pasca-operasi/

MER-C Indonesia Terima Penghargaan Penanggulangan Bencana dari BNPB

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia menerima penghargaan penanggulangan bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Anugerah penghargaan diberikan atas intensitas, konsistensi, dan inovasi MER-C dalam penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya di masa pandemi Covid-19.   Penghargaan tersebut diserahkan secara daring pada acara Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Rakornas PB) Tahun 2021, Rabu/10 Maret 2021. Acara dihadiri secara virtual oleh pengurus serta relawan MER-C lainnya.     Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad bersyukur dan berterima kasih atas penghargaan yang diterima dari BNPB. Menurutnya, anugerah penghargaan adalah berkat kontribusi segenap relawan MER-C di seluruh Indonesia yang selama ini telah siap sedia meluangkan waktu dan keahlian tanpa pamrih untuk menunaikan tugas-tugas kemanusiaan di berbagai wilayah terdampak bencana di tanah air. Sarbini juga mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan masyarakat Indonesia kepada MER-C.     Penghargaan ini diharapkan menjadi motivasi bagi MER-C dan seluruh relawannya dimanapun berada untuk terus berkiprah bersama elemen bangsa lainnya dalam membantu penanggulangan bencana alam dan pandemi di tanah air. ***

MER-C Turunkan Tim, Bantu Korban Banjir yang Belum Terjangkau Bantuan Medis

Jakarta, Minggu, 28 Februari 2021, Tim MER-C berjumlah 9 orang relawan yang terdiri dari dokter, perawat dan relawan non medis, berangkat menuju lokasi bencana banjir di kecamatan Pebayuran, kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Wilayah ini menjadi perhatian Tim MER-C karena berdasarkan informasi yang diterima, belum ada Tim Relawan Medis yang mendatangi lokasi terdampak banjir dan memberikan bantuan pengobatan bagi warga setempat yang menjadi korban. Perjalanan menuju lokasi bencana banjir terbilang lancar, kecuali ketika mendekati lokasi kampung Pisang Batu yang menjadi tujuan pertama Tim. Kampung ini berada cukup dekat dari lokasi tanggul yang jebol, yang mengakibatkan melimpahnya air sungai Citarum membanjiri kampung tersebut. Perjalanan menuju desa Karang Segar, dusun Tiga, kampung Pisang Batu melewati genangan air yang cukup dalam dan tidak bisa dilewati oleh mobil yang rendah. Jalan ini hanya bisa dilewati oleh mobil double gardan. Melewati genangan air ini Tim sangat berhati-hati karena batas antara pinggir jalan dan selokan yang tidak terlihat. Alhamdulillah tim berhasil mencapai lokasi kampung Batu dan mengadakan pengobatan massal bagi warga korban banjir. Pengobatan di kampung Pisang Batu ini juga melayani warga dari kampung sekitar, yaitu kampung Kasegaran dan kampung Kura-kura. Berdasarkan pengamatan dan pembicaraan dengan masyarakat sekitar, saat ini sebagian besar rumah tidak terendam air lagi, tetapi beberapa masih terdapat lumpur banjir, dan warga masih sangat waspada karena masih sering terjadi hujan. Daerah kampung ini di tahun-tahun sebelumnya juga terkena musibah banjir, akan tetapi tahun ini adalah yang terbesar dan terlama diakibatkan oleh jebolnya tanggul. Seorang warga menceritakan bahwa banjir di rumahnya mencapai hingga sepinggang orang dewasa dan berlangsung selama seminggu. Kebutuhan logistik warga selama banjir dibantu oleh para relawan dari berbagai komunitas dan organisasi yang telah datang sejak hari pertama banjir. Namun untuk bantuan medis, baru Tim MER-C yang memberikan pengobatan bagi warga terdampak banjir di wilayah ini. Dalam memberikan layanan pengobatan, Tim MER-C tidak hanya melayani warga yang datang ke posko pengobatan, tetapi juga mendatangi warga (home visit) yang tidak bisa datang ke posko pengobatan. Sebanyak empat warga kampung Pisang Batu yang menderita lumpuh atau cedera kaki yang tidak bisa mendatangi posko pengobatan dikunjungi oleh perwakilan Tim MER-C, yaitu dr. Dany Kurniadi Ramdhan, SpBS dan perawat Muhammad Edy. Penyakit yang banyak diderita oleh warga kampung batu adalah hipertensi, badan pegal, dan kaki terluka karena paku atau benda tajam lainnya. Kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh faktor kelelahan dan stress. Setelah mengobati kurang lebih 100 pasien di desa kampung Pisang Batu, Tim MER-C bergerak menuju lokasi ke-2, yaitu dusun Satu, kampung Babakan Rengas. Jumlah pasien di kampung ini juga cukup banyak sekitar 87 orang, penyakit yang diderita kurang lebih sama dengan di kampung Pisang Batu. Dalam melakukan pengobatan ini, tim MER-C tetap memperhatikan protokol kesehatan, membagikan masker kepada warga yang datang untuk berobat, mengatur jarak antara pasien dan juga jarak antara pos pengobatan, seperti pos pendaftaran, pengecekan tekanan darah, pemeriksaan dokter dan pegambilan obat. Tim MER-C juga menempatkan hand sanitizer di setiap pos. Pada misi kemanusian kali ini Tim MER-C bekerja sama dengan Ukhuwah Al Fatah Rescue (UAR) dan beberapa komunitas lainnya. MER-C akan terus hadir untuk memberikan bantuan bagi the most neglected and the most vulnerable people. Yuk Bantu Sesama… Salurkan Bantuan dan Donasi Sahabat melalui Rekening Amanah Kemanusiaan MER-C: BCA, 686.0099339 Bank Syariah Mandiri (BSM), 701.5658.899 BNI Syariah, 303.2000.922 Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400 Semua rekening atas nama: Medical Emergency Rescue Committee

Sarbini: Keputusan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) Patut Diapresiasi

Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) membuka peluang penyelidikan terhadap Israel atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan terhadap warga Palestina, baik yang berada di Jerusalem Timur, Tepi Barat dan Jalur Gaza.     Ini langkah maju dan tepat. Selama ini ada kesan yang sangat mencolok membiarkan kejahatan kemanusiaan dilakukan Israel tanpa tersentuh oleh ICC. Kami kagum atas keberanian Jaksa ICC, Fatou Bensouda, yang akan menyelidik kejahatan perang Israel.   Dengan keputusan yang berani ini, dunia mengharapkan tidak ada lagi kejahatan kemanusiaan yang masif terjadi di Palestina.   Palestina sudah lama mendambakan kemerdekaannya. Adapun perlawanan yang dilakukan oleh Palestina bertujuaan mendapatkan hak keadilan dan kebebasan serta kemerdekaan sebagai solusi dua negara.     Jakarta, 8 Februari 2021   Dr. Sarbini Abdul Murad Ketua Presidium MER-C

MER-C: Kudeta Militer Membuat Myanmar Mundur dalam Berbangsa Bernegara

SIARAN PERS Kudeta yang dilakukan militer terhadap pemerintahan sipil yang terpilih melalui pemilu demokratis merupakan keputusan ilegal yang membuat Myanmar mundur dalam berbangsa dan bernegara. MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) sebagai organisasi kemanusiaan bersama PMI (Palang Merah Indonesia) dan WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia) sudah berupaya merekat persatuan dan kebersamaan antara umat Budha dan Muslim di sana dengan membangun rumah sakit di Myanmar. Keputusan membangun Rumah Sakit Indonesia tepatnya di negara bagian Rakhine (Rakhine State) adalah wujud kepedulian kami dalam merekatkan persaudaraan antar umat beragama di Myanmar. Langkah kudeta yang dilakukan oleh militer menimbulkan keprihatinan kami akan kelangsungan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine. MER-C meminta kepada pihak militer menghormati hasil pemilu dan menghormati supremasi sipil. Selanjutnya kami menghimbau terutama kepada ASEAN untuk memastikan agar militer Myanmar tidak melakukan langkah yang berlebihan terhadap etnis Rohingnya dan warga negara lainnya sehingga tidak terjadi bencana kemanusiaan yang hebat. Selanjutnya kami minta agar bantuan Indonesia seperti sekolah dan rumah sakit agar tetap sebagaimana mestinya. Jakarta, 2 Februari 2021 Dr. Sarbini Abdul MuradKetua Presidium MER-C

Tim MER-C lakukan Disaster Triage, Bantu Korban yang Takut Ke RS akibat Covid

Penanganan korban Gempa Sulbar memiliki kesulitan tersendiri. Tak banyak korban yang mau dibawa ke RS akibat takut Covid. Percaya tidak percaya, mau tidak mau kenyataan dilapangan adalah stigma “dicovidkan” masih menghantui para korban gempa. Hal ini cukup menambah tingkat kesulitan penanganan Gempa Sulbar. Sementara itu ada 3 RS yang masih bisa difungsikan oleh para ahli bedah ortopedi yang datang untuk mengoperasi para korban. Banyaknya korban yang tidak mau ke RS ini menimbulkan resiko banyaknya “Neglected Cases” yang akan berujung kepada kematian atau kecacatan. Sementara itu masih banyak jalan-jalan ke desa-desa terdampak yang sulit dijangkau. Tim Relawan MERC dan Ukhuwah Al Fatah Rescue pun melakukan “Mobile Disaster Triage” dengan menembus ke daerah-daerah yang sulit dijangkau seperti  dusun Kassa Botteng Mamuju. Medan yang dilalui cukup berat. Menemui para korban, melakukan penilaian diagnosis tingkat cedera yang dialami oleh korban dan membangun komunikasi agar korban mau dibawa ke RS adalah salah satu upaya tim MER-C dilapangan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Disaster Triage berupa Case Finding & Referral Activity. Selain itu Tim Bedah MER-C yang terdiri dari spesialis Orthopedi dan Traumatologi, dipimpin oleh Dr Zecky EkoTriwahyudi, SpOT MARS dan Dr Muhammad Mulky Yasin Asshoffat, SpOT  juga berkoordinasi membantu penanganan korban di RS yang masih bisa beroperasi. Salam Kemanusiaan, Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Presidium dan Relawan MER-C

MER-C Kirim Tim Medis Bantu Korban Gempa Sulbar

Merespon bencana gempa bumi yang mengguncang Sulawesi Barat, Medical Emergency Rescue Commitee (MER-C) sebagai lembaga kemanusiaan dan kebencanaan turut mengirimkan Tim Relawan Medisnya ke lokasi bencana untuk memberikan bantuan bagi para korban. Tim yang berangkat pada hari Jumat/22 Januari 2021 terdiri dari dokter spesialis bedah orthopedi, perawat bedah, perawat umum dan non medis. Anggota Tim tidak hanya berasal dari Jakarta, namun juga dari MER-C Cabang Jawa Timur yang baru saja terbentuk. Sesuai karakteristik bencana gempa, selain menugaskan dokter spesialis bedah tulang dan perawat bedah, Tim MER-C dilengkapi dengan set peralatan dan perlengkapan operasi untuk membantu mengoperasi korban-korban gempa di rumah sakit. Obat-obatan umum dan emergency kit juga disiapkan untuk program mobile clinic ke wilayah-wilayah terdampak gempa atau titik-titik pengungsian yang ada. Kegiatan ini dilakukan untuk dapat menjangkau korban-korban cedera dan trauma yang belum mendapat penanganan medis dikarenakan jauh atau tidak dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada. Pasien-pasien yang memerlukan tindakan lebih lanjut akan dirujuk ke rumah sakit. Situasi pandemi covid-19 yang masih merebak menjadi perhatian MER-C. Edukasi mengenai protokol kesehatan dan keamanan tim, pasien serta korban-korban yang ditangani menjadi prioritas. Untuk itu, Tim Medis juga dilengkapi dengan APD yang adekuat dan cukup nyaman untuk bertugas di lapangan. Tim MER-C direncanakan akan bertugas hingga 10 hari ke depan, tergantung situasi di lapangan. Tim lanjutan dan spesifikasi relawan yang akan dikirimkan berikutnya akan disesuaikan dengan kebutuhan dan hasil penilaian di lapangan. ——–Bantuan dan donasi bagi program-program Kemanusiaan MER-C dapat disalurkan melalui : BCA, 686.0099339BSM, 701.565.8899Bank Mega Syariah, 1000.209.400Atas nama : Medical Emergency Rescue Committee Info lebih lanjut :www.mer-c.orgCall Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesiaTwietter : @mercindonesia

Resiko Hazard dan Protokol Covid bagi Sukarelawan Bantuan Bencana Gempa Sulbar

Bencana bertubi-tubi menghantam negeri tercinta. Di tengah pandemi Covid-19 yang sedang menggila, kembali gempa besar meluluhlantakkan Sulawesi Barat.    Di tengah situasi seperti ini semangat sukarelawan tak padam dalam memberikan bantuan kemanusiaan. Saat ini resiko sukarelawan dalam menolong meningkat di tengah pandemi. Berikut analisa beberapa resiko dan hazard yang harus diwaspadai para relawan dalam menolong terkait Covid-19 :   1. Tidak nyaman menggunakan APD di lapangan, karena panas; 2. Kelelahan dan stres; 3. Kurang istirahat, karena belum tentu mendapatkan tenpat istirahat yang layak; 4. Kurang asupan gizi, karena makan seadanya di situasi bencana; 5. Sulit menghindari kerumunan.   Dengan adanya resiko-resiko tersebut, maka akan rawan terkena infeksi Covid-19. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya mitigasi antara lain ;   1. Seleksi sukarelawan yang berangkat harus kondisi sehat, tidak punya comorbid berat;   2. Membawa bekal APD yang adekuat, baiknya APD yang nyaman, jangan menggunakan baju coverall atau hazmat yang sangat tidak nyaman, juga membawa hand sanitizer;   3. Membawa cukup makanan dan air minum;   4. Membawa obat-obat covid bagi relawan seperti antivirus dan anti inflamasi, vitamin-vitamin;   5. Jangan tinggal di tenda-tenda yang tidak nyaman sehingga bisa beristirahat cukup, kalau perlu tinggal di desa atau kota yang tidak terkena dampak gempa. Tidur jangan kurang dari 6 jam;   6. Bertugas maksimal 1 minggu agar tidak lelah fisik dan fikiran;   7. Screening pasien yang mau diobati atau operasi minimal dengan swab antigen;   8. Screening relawan minimal dengan swab antigen, apabila ada relawan yang kena, segera diistirahatkan dan dipulangkan;   8. Lakukan triage dan damage control bagi pasien trauma.   Selamat bertugas para relawan   Salam Kemanusiaan,   Dr. Yogi Prabowo, SpOT Relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)

Silahkan bertanya?