MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Terus Melanjutkan Monitoring Pasien Dalam Pemantauan Covid-19

Sejak merebaknya wabah Covid-19 di Indonesia, selain menyalurkan bantuan APD (Alat Pelindung Diri) bagi tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan, sejak Maret 2020, MER-C membentuk Tim Relawan untuk Monitoring Pasien dalam Pemantauan Covid-19. Pasien-pasien yang dipantau oleh Tim Relawan MER-C saat ini adalah pasien yang sudah pulang dari rumah sakit dan melanjutkan isolasi mandiri di rumah. Program ini dilakukan untuk membantu penderita Covid-19 mendapatkan edukasi terkait isolasi mandiri, pelaporan ke pihak puskesmas, dan melaporkan hasil pemeriksaan laboratorium yang masih sering belum diketahui pasien. Monitoring Pasien dalam Pemantauan Covid-19 dilakukan selama kurang lebih 14 hari sejak pulang dari RS atau disesuaikan dengan kondisi pasien. Sebanyak 25 relawan medis tergabung dalam Tim, yang terdiri dari 3 orang dokter spesialis, 21 orang dokter umum dan 1 orang perawat. Salah satu relawan dalam Tim, dr. Tasykuru Rizka, memaparkan bahwa Tim Relawan MER-C tetap berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dalam hal program monitoring ini. Data sementara jumlah pasien yang dimonitoring sebanyak 101 orang. Lebih lanjut Iis, sapaan akrabnya, memaparkan bahwa Tim Relawan MER-C melakukan monitoring melalui whatsapp, SMS dan telepon yang dilakukan setiap 3 hari sekali kepada pasien, setiap relawan memantau 2 – 4 orang pasien. Tim akan menanyakan kondisi pasien serta memantau keluhan lain yang disampaikan, dilanjutkan dengan memberikan edukasi terkait isolasi mandiri, keharusan untuk melapor ke puskesmas, indikasi harus ke rumah sakit, dan membantu menyampaikan hasil swab kepada pasien dan puskesmas setempat untuk melakukan contact tracing. Lebih lanjut dokter yang tengah menempuh pendidikan akhir Spesialis Penyakit Dalam FK UI ini menjelaskan bahwa data yang didapat akan diolah secara Deskriptif dan Analitik sebagai informasi Epidemiologi. Laporan hasil selanjutnya akan diserahkan kepada Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta untuk membantu mengambil keputusan yang Evidence-Based. Kepedulian dan Donasi anda dapat di salurkan melalui : BCA, 686.0099.339BSM, 701.565.8899BNI Syariah, 303.2000.922 An. Medical Emergency Rescue Committee Info :www.mer-c.orgCall Center : 0811990176 #LawanCorona#LawanCovid19#MERCIndonesia

MER-C Terus Salurkan Bantuan APD ke Berbagai Daerah

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia sejak awal wabah Covid-19 merebak hingga kini terus bergerak untuk turut melakukan penanganan virus ini. Dua kegiatan utama yang dilakukan MER-C adalah membentuk Tim Monitoring Pasien Dalam Pemantauan Covid-19 dan menyalurkan bantuan APD (Alat Pelindung Diri) ke tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Khusus untuk APD hingga kini bantuan sudah terdistribusikan ke lebih dari 125 fasilitas kesehatan dari mulai Aceh hingga sampai Papua Barat. “Tercatat sudah lebih dari 125 fasilitas kesehatan baik itu rumah sakit, puskesmas, klinik, praktek dokter yang kami distribusikan APD diantaranya berupa face shield, hand sanitizer, masker, nurse cap, sarung tangan, hazmat, dll. Ini dilakukan dalam rangka turut mendukung keamanan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan terbaik mereka kepada masyarakat,” ungkap Ketua Divisi Bantuan dan Logistik MER-C, Ita Muswita AmdKeb, SIkom. “Bantuan kami salurkan sesuai amanah donasi dari masyarakat dan stok yang ada,” lanjut Ita, relawan medis yang sudah berpengalaman di berbagai wilayah konflik dan bencana alam baik di dalam maupun di luar negeri. “Awalnya distribusi APD diprioritaskan untuk fasilitas kesehatan di DKI Jakarta dan sekitarnya sebagai wilayah dengan jumlah kasus Covid-19 terbanyak. Namun seiring kasus yang mulai muncul di berbagai daerah, distribusi bantuan juga sudah menjangkau fasilitas kesehatan di Aceh, Sumbar, Sumut, wilayah Sumatera lainnya, DI Yogyakarta, Jawa tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Kalimantan bahkan Papua Barat,” tambahnya. Khusus face shield, dikarenakan sulit mendapatkan barang dalam jumlah banyak dan harga yang tinggi, relawan MER-C mencoba berinovasi membuat face shield sendiri. “Dengan kondisi barang sulit dan harga yang mahal, kami para relawan mencoba membuat face shield sendiri yang berasal dari bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan dan harganya pun terjangkau, namun tetap memperhatikan kenyamanan dan keamanan saat face shield digunakan oleh tenaga medis ketika memberikan pelayanan kepada pasien,” terang Ita. “Alhamdulillah face shield sederhana ini memdapat tanggapan positif dari rekan-rekan medis karena ringan dan dapat dipakai berulang kali,” ujarnya. Untuk itu, lanjut Ita, sampai saat ini Tim relawan MER-C masih terus memproduksi face shield setiap harinya guna memenuhi permintaan yang masuk dari fasilitas kesehatan di berbagai daerah. Jumlah face shield yang diproduksi oleh relawan sudah mencapai lebih dari 3.000 buah. Cabang-cabang MER-C di daerah juga diaktifkan untuk dapat membuat face shield sendiri untuk dapat didistribusikan di wilayah kerja masing-masing. Selain face shield, Tim relawan MER-C juga membuat hand sanitizer sendiri ketika cairan ini mulai sulit dicari padahal sangat diperlukan oleh rumah sakit dan klinik. “Tim relawan MER-C berlatar belakang farmasi juga berpartisipasi membuat Hand sanitizer sesuai standar organisasi dunia WHO. Hand sanitizer juga sampai saat ini terus dibuat secara berkala untuk kemudian didistribusikan ke rumah sakit dan klinik yang membutuhkan,” tambah Ita. Yang masih memprihatinkan adalah harga-harga APD lain seperti masker bedah, masker N95, hazmat yang masih tinggi. Barangnya pun masih sulit didapat. Hal ini menurut Ita, membuat Tim MER-C kesulitan untuk menyetok kembali barang-barang tersebut padahal permintaan terus masuk. Ita mencontohkan baju hazmat. “Misalnya baju hazmat, karena harga mahal dan sulit didapat, rumah sakit – rumah sakit bahkan sampai menanyakan apakah MER-C punya jas hujan. Apabila tidak ada hazmat, jas hujan pun mereka terima daripada tidak ada perlindungan sama sekali,” ujar Ita. Ia berharap kondisi ini dapat segera ditangani oleh Pemerintah dan Pihak Berwenang. Meskipun berdasarkan data jumlah kasus Covid-19 menunjukkan tren penurunan, namun pandemi belum berakhir. Kita semua harus terus bergerak melakukan apapun yang kita bisa untuk bersama-sama melawan pandemi ini. Kepedulian dan Donasi anda dapat di salurkan melalui : BCA, 686.0099.339BSM, 701.565.8899BNI Syariah, 303.2000.922An. Medical Emergency Rescue Committee Info :www.mer-c.orgCall Center : 0811990176 #LawanCorona#LawanCovid19#MERCIndonesia

Meski adanya wabah Covid-19, MER-C Tetap Aktifkan Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat di Sorong, Papua Barat.

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Yang berbeda, kegiatan mobile clinic yang biasanya rutin dilakukan secara terjadwal ke sekitar lebih dari 20 desa/kampung binaan, harus dihentikan sementara mengikuti aturan Pemerintah setempat. Tim dokter dan perawat MER-C di Sorong saat ini hanya memberikan pelayanan kesehatan kepada  masyarakat yang datang berobat ke klinik. Tim juga dilengkapi dengan alat pelindung saat memberikan pelayanan untuk mengantisipasi wabah Covid-19.     Selain pengobatan, edukasi untuk menggunakan masker dan melakukan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) seperti mencuci tangan dsb juga diberikan kepada masyarakat.   Terus dukung Papua Sehat, bantuan dan donasi bagi program ini dapat disalurkan melalui :   BNI Syariah, 081.119.2962 BCA, 686.066.6608 An. Medical Emergency Rescue Committee   Info lebih lanjut : www.mer-c.org Call Center : 0811990176   #MERCIndonesia #LawanCorona #LawanCovid19

Manajemen Outbreak Covid-19

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Melihat pertambahan kasus positif covid-19 mengalami lonjakan deret ukur, maka langkah2 yang akan dibuat harus TEPAT Beberapa sektor akan terdampak, terutama bidang kesehatan yang akan menjadi GARDA TERDEPAN (dalam hal ini Kemkes, Bukan BNPB).   Beberapa pertanyaan : 1. Apakah kita akan menggunakan seluruh RS yang ada untuk merawat pasien Covid-19 ?? 2. Bagaimana bila terjadi OVERLOAD kasus Covid-19 ? Perpegang kepada konsep apabila tjdak outbreak, maka ISOLASI dilakukan pada yang TIDAK TERINFEKSI, maka konsep awal kemkes dengan ZONASI RUMAH SAKIT sudah benar dengan hanya menunjuk beberapa RS khusus infeksi, tetapi MEMPERBANYAK jumlah RS rujukan , dan kemungkinan akan terus bertambah MENIMBULKAN KEKHAWATIRAN. Akan mengancam keberlangsungan Pelayanan Kesehatan Nasional, Sistem Rujukan Nasional. Pasien Covid-19 akan memenuhi Rumah Sakit utama , dan akan MENGKONTAMINASI pasien lain dan Nakes. Pelayanan Kesehatan Nasional akan LUMPUH kalau tjdak OVERLOAD. Oleh karena itu sebelum terjadi kami mengusulkan untuk membuat suatu Mass Quarantine Area, misalnya dengan RS lapangan di suatu lokasi yang aman untuk menampung pasien-pasien yang dirujuk. Untuk Nakes juga harus diberikan perlindungan, pakaian isolasi, alat pelindung diri, alat komunikasi, transportasi (ambulance ) Membuat sistem Call Center Covid-19 yang siap antar jemput dari RS lain   Salam ——————————- dr. Yogi Prabowo, SpOT Pendiri, Presidium & Relawan Medis MER-C

MER-C mensikapi Kasus Corona Positif di Indonesia, Bagaimana Langkah Selanjutnya?

Kasus Corona (Covid-19) merebak di berbagai negara di dunia, data 5 Maret 2020 jumlah terinfeksi Covid-19 mencapai  lebih dari 95 ribu yang tersebar di 77 negara dengan angka mortalitas lebih dari 3.000 jiwa. Dengan dinyatakannya 2 WNI positif Corona oleh Pemerintah, gejolak sosial dan ekonomi mulai nampak sebagai dampak ditemukannya kasus Corona positif. Upaya mitigasi dilakukan oleh berbagai negara seperti Italia yang meliburkan sekolah dan universitas untuk beberapa waktu, Arab Saudi mengeluarkan keputusan menyetop sementara umrah. Hal tersebut upaya mengantisipasi penyebaran virus ini. Bagaimana dengan Indonesia? Beberapa upaya di bidang kesehatan dilakukan baik oleh pemerintah, RS, dan organisasi profesi, bahkan Pemda, untuk menghindari penyebaran dan tertularnya virus, antara lain: 1.    Edukasi masyarakat dengan menghindari kontak, cuci tangan dan menggunakan masker; 2.    Membuat pos-pos konsultasi Corona; 3.    Membuat alur rujukan RS penanganan pasien terduga Corona; 4.    Menyediakan layanan Call Center dan jemputan ambulance bagi terduga penderita Corona oleh Pemda DKI; 5.    Rencana membangun atau memfungsikan RS isolasi khusus Corona di pulau dan lain lain. Selain dampak di bidang kesehatan, Corona (Covid-19) juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang cukup signifikan, dengan membatasi mobilisasi manusia dan transportasi baik dalam dan luar negeri. Banyak sektor terpengaruh di era keterbukaan informasi ini akibat Corona. Beberapa pertanyaan yang belum terjawab antara lain: 1.    Bagaimana konsep manajemen disaster-nya kalau terjadi outbreak dalam jumlah besar dimana terjadi overload kebutuhan ruang isolasi?? 2.    Konsep karantina apa yang akan dilakukan? 3.    Bagaimana melayani kebutuhan pemeriksaan laboratorium yang banyak apabila hanya bergantung pada satu atau dua laboratorim saja? 4.    Bagaimana membatasi penyebaran Corona di situasi kota yang padat penduduk seperti DKI Jakarta;5.    Bagaimana upaya mengurangi dampak (mitigasi) nonmedis sosioekonomi apabila terjadi ledakan kasus Berdasarkan hal tersebut MER-C mensikapi dan merekomendasikan langkah: 1.    Ketika jumlah kasus Corona masih sedikit maka KONSEP MANAJEMEN-nya adalah meng-ISOLASI korban di ruang pemantauan atau perawatan isolasi di tempat-tempat yang sudah ditentukan seperti RS. Namun apabila terjadi ledakan jumlah kasus, outbreak Corona, maka KONSEP MANAJEMEN BENCANA-nya adalah mengisolasi dan melokalisir korban dan ISOLASI MASYARAKAT,  membatasi kontak antar sesama masyarakat dengan jalan berdiam diri di dalam rumah, gedung atau kompleks, tidak melakukan aktifitas di luar rumah; Agar masyarakat bisa survive, tenang dan tidak resah dalam kondisi isolasi maka KEBUTUHAN DASAR harus difasilitasi oleh Pemerintah, kondisi yang bisa menguntungkan manajemen dipermudah di era serba digital dan virtual sekarang ini: •    Layanan suplay listrik dan internet; •    Pasokan bahan makanan dengan transaksi ekonomi serba digital antar jemput; •    Layanan kesehatan aktif ambulance, pra hospital bagi yang memerlukan; •    Dll 2.    Karantina yang dilakukan adalah karantina massal, misalnya bisa di pulau atau area yang jauh dari aktifitas penduduk. Warga yang terdiagnosis laboratorium positif maka harus dikarantina; 3.    Untuk melayani kebutuhan pemeriksaan laboratorium dibutuhkan lebih banyak keterlibatan laboratorium lain yang mampu (tidak hanya satu atau dua laboratorium saja), agar diagnosis bisa cepat ditegakkan dan bisa cepat mengambil langkah penanganan; Beberapa CATATAN PENTING, mengamati sifat dan perilaku virus Corona yang berubah-ubah dari waktu ke waktu, dengan angka mortalitas yang berbeda-beda di tiap negara dan tempat, misalnya seperti angka mortalitas lebih tinggi di Iran dibanding negara lain. MER-C merekomendasikan masyarakat TETAP WASPADA dan tidak underestimate terhadap Corona, namun juga tidak perlu panik dan tetap tenang. Atas perhatian dan kehadiran rekan-rekan media kami mengucapkan terima kasih. Jum’at, 6 Maret 2020 Salam, MER-C Indonesia www.mer-c.org Call Center: 0811990176

Dubes Myanmar untuk Indonesia Berharap RS Indonesia di Rakhine State Dapat Segera Diresmikan

Dubes Myanmar untuk Indonesia, Ei Ei Khin Aye berharap Rumah Sakit yang dibangun di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar dapat segera diresmikan dan dibuka. Hal ini disampaikannya saat menerima kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad, Selasa/3 Maret 2020 di Kantor Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta. Dubes Myanmar Ei Ei Khin Aye memberikan apresiasi atas kedatangan Ketua Presidium MER-C untuk menginformasikan perkembangan Rumah Sakit dan mengucapkan terima kasih atas upaya pembangunan rumah sakit di Rakhine State, Myanmar. “Ini suatu hal yang mulia, membangun rumah sakit yang tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat di sana. Ini adalah suatu keputusan yang konstruktif,” ujarnya. Menurutnya, membangun rumah sakit di wilayah Rakhine State membutuhkan upaya yang besar. Terlebih, di wilayah Rakhine State, seperti di Mrauk U dimana rumah sakit berada, di Minbya dan sekitarnya yang hingga saat ini masih terjadi konflik antara Tentara Myanmar dan Tentara Arakan. “Kami sangat mengapresiasi dapat selesainya pembangunan rumah sakit di Rakhine State,” tambahnya. Pada kesempatan ini, Ketua Presidium MER-C juga mengucapkan terima kasih atas akses, kerjasama dan kesempatan yang telah diberikan Pemerintah Myanmar untuk membangun Rumah Sakit Indonesia. “Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan akses dan kesempatan sehingga dapat membangun rumah sakit di Rakhine State dimana saat awal tidak sedikit yang meragukan program ini dapat terwujud. Namun kita lihat sekarang rumah sakit ini sudah berdiri,” ungkap Sarbini. “Kami bersyukur bisa diterima dengan baik oleh Pemerintah dan Masyarakat Myanmar. Kami bahagia menjadi bagian dari hubungan sejarah dua bangsa serta berharap rumah sakit ini dapat menjadi simbol persatuan, mempersatukan hubungan batin antara kedua bangsa,” tambahnya. Rumah Sakit Indonesia dibangun atas kerjasama MER-C, PMI dan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia), merupakan symbol dari kebhinekaan Indonesia yang terdiri dari berbagai macam agama. Sarbini memaparkan bangunan rumah sakit sudah selesai dibangun oleh MER-C pada November 2019. Saat ini rumah sakit dalam proses pengadaan dan instalasi alat kesehatan oleh PMI. Menanggapi hal ini, Dubes Myanmar untuk Indonesia sangat berharap proses pengadaan alat kesehatan bisa cepat selesai dan rumah sakit bisa segera diresmikan dan dibuka. Sambil menyerahkan foto-foto rumah sakit Indonesia yang terdiri dari 2 lantai dengan kapasitas 32 tempat tidur, Sarbini berharap setelah penyerahan rumah sakit, hubungan kerjasama yang ada dapat terus berlanjut. “Kami berharap kerjasama yang ada antara Indonesia dan Myanmar dapat terus berlangsung meskipun rumah sakit telah diserahkan, seperti pelatihan bagi tenaga medis lokal yang akan bertugas.” Rencana pelatihan ditanggapi positif oleh Kedutaan Besar Myanmar yang akan mengkoordinasikan lebih lanjut dengan Kementerian Kesehatan Myanmar.

Supervisi Pembangunan RSI, MER-C Kembali Kirim Tim ke Jalur Gaza

Meskipun kondisi Jalur Gaza sempat memanas, MER-C Indonesia kembali mengirimkan Tim Relawannya ke wilayah okupasi Israel ini. Tim yang terdiri dari 11 orang relawan dengan berbagai keahlian, yaitu dokter, insinyur, ahli mekanikal elektrikal, ahli instrumentasi medis dan lainnya bertolak ke Kairo Mesir, negara yang berbatasan langsung dengan Jalur Gaza, pada hari ini Minggu pagi/16 Februari 2020. Tim dijadwalkan tiba di Kairo Mesir pada Minggu malam, dan berencana untuk melanjutkan perjalanan darat esok paginya menuju Perbatasan Rafah untuk mencoba menembus Jalur Gaza Palestina. Salah satu Presidium MER-C yang juga Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia, Ir. Faried Thalib mengatakan tujuan keberangkatan Tim adalah untuk melakukan supervisi pembangunan tahap 2 RS Indonesia di Gaza yang sudah berlangsung selama satu tahun. “Bulan ini satu tahun lalu, kami memberangkatan 32 relawan ke Jalur Gaza untuk memulai pembangunan tahap 2, yaitu membangun dua lantai tambahan untuk menambah kapasitas tempat tidur sebanyak 100 buah lagi dan melengkapi alat kesehatan tambahan karena bangunan dan 100 lebih tempat tidur lebih yang ada saat ini sudah tidak dapat menampung pasien yang datang berobat,” kata Faried. “Bulan ini tepat satu tahun proses pembangunan tahap dua telah berlangsung, untuk itu kita perlu segera melakukan supervisi,” tegasnya. Keberangkatan Tim diputuskan setelah adanya izin masuk Gaza dan izin masuk Mesir yang telah didapat oleh Tim dari otoritas setempat. “Setelah menunggu sekitar 3,5 bulan akhirnya kedua izin kami dapatkan dan kami segera memutuskan untuk berangkat ke Gaza,” kata Faried. Tim supervisi berencana bertugas di Jalur Gaza selama dua pekan. Saat ini sebanyak 29 relawan tengah bertugas di Jalur Gaza untuk menunaikan pembangunan tahap dua RS Indonesia. Waktu pembangunan diperkirakan selama 1,5 – 2 tahun, namun semuanya tergantung situasi di lapangan. “Kami memohon doa dari seluruh rakyat Indonesia agar perjalanan yang kami sadari tidak mudah dan penuh resiko ini, agar senantiasa diberi perlindungan, kemudahan dan kelancaran. Kami juga mohon doa bagi para relawan yang sedang bertugas di Jalur Gaza juga agar senantiasa diberi kekuatan untuk menunaikan amanah ini ditengah berbagai krisis yang tengah melanda Jalur Gaza, juga menguatkan para keluarga relawan yang berada di tanah air. Doakan kami, doakan rakyat Palestina,” ungkapnya. Ditanya mengenai biaya yang dibutuhkan untuk merampungkan pembangunan tahap ini, Faried mengungkapkan biaya untuk bangunan dan alat kesehatan diperkirakan mencapai Rp 70 hingga 75 Milyar. Untuk itu, Faried berharap terus dukungan dari rakyat Indonesia untuk pembangunan tahap dua RS Indonesia. “Bismillah, semoga kita bisa mewujudkan pengembangan RS Indonesia sebagai bukti cinta dan dukungan dari rakyat Indonesia untuk perjuangan rakyat Palestina,” harapnya. Dukungan dan donasi untuk Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia dapat disalurkan melalui: BSM, 700.1352.061BCA, 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111925BNI Syariah, 081.119.2973BRI, 033.501.0007.60308Bank Muamalat, 358.000.1720 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Info :Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia, @rsindonesia

Joserizal Jurnalis, Pendiri MER-C Tutup Usia

Innalillaahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun   Telah berpulang ke rahmatullah *Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT* Pendiri & Dewan Pembina  MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) pagi ini, Senin/20 Januari 2020 pkl 00.38 dalam usia 56 tahun (11 Mei 1963 – 20 Januari 2020) di RS Harapan Kita, Jakarta.     Mohon dimaafkan segala kesalahan dan kekhilafan beliau. Terima kasih atas segala doa dan perhatian dari kerabat, teman, relasi, saudara2 seperjuangan selama beliau sakit hingga akhir hayatnya.   Jenazah dr. Joserizal akan disemayamkan di Pendopo Silaturahim, Jl. Kalimanggis Raya No. 90 Cibubur, Bekasi, disholatkan bada Dzuhur di Masjid Silaturahim dan dimakamkan di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur.    Selamat Jalan dr. Joserizal, Semoga Husnul Khotimah…   Selamat menghadap Allah Sang Maha Pencipta yang mencintaimu lebih dari kami…    Kami yang kehilangan, ~ Keluarga Besar MER-C ~

Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Diserah Terimakan

Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar diserahterimakan kepada pemerintah Myanmar melalui Kemenetrian Kesehatan dan Olahraga Myanmar di Ibukota Myanmar, Nay Pyi taw, Selasa 10/12. Hadir dalam acara serah terima tersebut, Menteri Kesehatan dan Olahraga Myanmar, Dr. Myint Htwe, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Prof. Dr. Iza Fadri, Koordinator Relawan MER-C, Dr. Tonggo Meaty Fransisca, dan Kepala Kantor PMI, Sunarbowo Sandi Hardjosudiro. Dalam sambutannya, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, menyatakan ucapan terima kasih dan  apresiasi atas kerja PMI dan MER-C sebagai inisiator dan eksekutor pembangunan Rumah Sakit ini. “Selama pelaksanaan pekerjaan konstruksi, tim MER-C yang berada di lapangan telah menghadapi banyak tantangan seperti, kendala keamanan, hujan yang terus menerus sehingga menyebabkan banjir, dan kesulitan dalam mencari pekerja dan material serta performance kontraktornya” kata Iza di Meeting Hall Kementrian Kesehatan dan Olahraga  di Nay Pyi Taw. Profesor dalam bidang hukum itu juga menyampaikan penghargaan khusus kepada 4 orang tim MER-C yang telah berada di lokasi selama proses pengerjaan pembangunan hingga selesai. “Saya ingin menyampaikan penghargaan khusus kepada empat orang pengawas dari MER-C Indonesia, Saudara Nur Ikhwan Abadi, Ahmad Fauzi, Karidi dan Wanto yang telah berada di lokasi sejak awal pekerjaan konstruksi pada 2017 dan membuat upaya keras untuk menyelesaikan project ini” kata Iza. Iza juga menekankan bahwa pembangunan rumah sakit ini akan membawa pesan perdamaian antar dua komunitas baik Islam maupun Budha. “Saya sangat yakin bahwa Rumah Sakit ini akan membawa pesan yang sangat penting bagi kedua agama, Islam dan Budha bisa bekerja secara bersama – sama” katanya. Sementara itu Menteri Kesehatan dan Olaharaga Myanmar, Dr. Myint Htwe, menyampaikan apresiasinya kepada rakyat Indonesia. Pada kesempatan tersebut, MER-C juga diminta untuk memaparkan proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, yang diwakili oleh Nur Ikhwan Abadi, selaku Site Manager pembangunan Rumah Sakit ini. “Pada hari yang sangat berharga bagi kedua negara ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Indonesia atas Rumah Sakit ini, dan saya meyakini bahwa Rumah Sakit ini akan terus diingat dan oleh warga di Myaung Bwe Rakhine State dan akan makin mempererat hubungan Indonesia dan Myanmar” kata Myint Htwe. Ia juga menegaskan bahwa Islam dan Budha bisa bekerja secara bersama-sama dan mengharapkan bahwa Rumah Sakit ini akan menjadi symbol perdamaian bukan hanya bagi warga Rakhine namun juga seluruh Myanmar. “Rumah Sakit ini sangat penting bagi kami, bukan hanya bagi warga Rakhine State, namun juga bagi seluruh negara ini” lanjutnya. Myint Htwe juga menyatakan kegembiraanya terhadap fasilitas bangunan yang dimiliki oleh Rumah Sakit tersebut. “Saya juga sangat mengapresiasi apa yang telah disampaikan oleh insinyur tadi, bahwa rumah sakit ini juga telah dilengkapi dengan generator yang cukup besar dari 125 KVa yang dibutuhkan, namun disediakan 220 KVA, dan juga Kamar Jenazah, Landscaping, Groundtank yang cukup besar yang artinya Indonesia memiliki visi jangka panjang bagi rumah sakit ini, karena mungkin saja ke depan Rumah Sakit ini akan dibesarkan menjadi 30 atau 50 beds” ujar menteri yang mengaku sudah puluhan kali datang ke Indonesia ini. Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia dan semua tim yang terlibat dalam pembangunan Rumah Sakit. “Saya juga ingin menyampaikan salam hangat dan terima kasih saya kepada rakyat Indonesia atas bangunan Rumah Sakit yang cukup baik ini, dan mewakili masyarakat Myaung Bway Rakhine State, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih saya kepada masyarakat Indonesia, MER-C Indonesia dan semua insinyur yang telah berada hampir dua tahun di sana. Disini kita bisa membuktikan kepada dunia bahwa Muslim dan Budha bisa bekerjasama, dan pesan ini harus disebarluaskan secara luas ke seluruh dunia”.Htwe juga berharap ke depan Rumah Sakit ini akan menjadi Rumah Sakit yang modern dan semua data pasien bisa tercatat dengan baik dalam sistem komputerisasi. “Rumah sakit ini juga bukan hanya akan melayani kesehatan masyarakat, namun juga akan melayani segala aktivitas yang berkaitan dengan kesehatan dan akan dirawat dengan baik dan diharapkan nantinya akan disediakan juga sistem informasi yang baik, registrasi yang sudah terkomputerisasi dan lain sebagainya, dan Kementerian Kesehatan akan menjaga dan bertanggungjawab secara penuh menjaga rumah sakit ini,” pungkasnya. Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar merupakan inisiasi dari MER-C sejak tahun 2012 lalu. Saat inisiasi ini digulirkan banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh MER-C mengingat sangat sulitnya perizinan yang diberikan oleh pemerintah Myanmar. Perizinan dikeluarkan oleh pemerintah Myanmar tiga tahun kemudian atau pada 2015 setelah melihat netralitas MER-C dilapangan. Pemerintah Myanmar bahkan memberikan lahan kepada MER-C seluas 4.000 meter persegi guna dibangun satu rumah sakit untuk dua komunitas, yaitu Budha dan Muslim. Keluarnya perizinan tersebut mendapat sambutan yang sangat positif dari pemerintah Indonesia, Wakil Presiden RI saat itu, Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum PMI, menyatakan kegembiraanya dan kemudian mengajak PMI dan Walubi untuk bergabung dengan MER-C mensukseskan pembanguan RS ini. Pesan perdamaian kepada rumah sakit ini akan terus disebarluaskan, semoga RS Indonesia di Myaung Bway Village, Mrauk U Township, Rakhine State menjadi simbol perdamaian bagi warga di Rakhine, Myanmar dan juga Dunia. Info:Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176

Ditengah Konflik, Pembangunan Fisik RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar Selesai

Setelah RS Indonesia di Jalur Gaza – Palestina, satu lagi karya anak bangsa di kancah Internasional terwujud. Kali ini di wilayah yang masih bergejolak, Rakhine State – Myanmar. Sebuah sarana kesehatan, Rumah Sakit Indonesia telah berdiri yang berada di tengah-tengah antara desa Budha dan Muslim. RS ini diharapkan dapat menjadi symbol perdamaian masyarakat setempat dan juga menjadi symbol persahabatan dua negara, Indonesia – Myanmar. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar adalah bagian dari Diplomasi Kemanusiaan MER-C. Bukan hal mudah membangun di wilayah perang atau konflik. Namun, medis dan kesehatan adalah hal yang penting dalam kehidupan terlebih dalam situasi perang atau konflik. Itulah mengapa, di wilayah perang/konflik jangka panjang, MER-C juga menerapkan program bantuan jangka panjang. Seperti halnya di Rakhine State, Myanmar, sampai saat ini isu Rohingya masih menjadi isu utama di kawasan dan dunia. MER-C telah memberikan bantuan dengan mengirimkan Tim Medis untuk membantu korban konflik di wilayah ini sejak September 2012. Tim MER-C menjadi LSM pertama dari Indonesia yang dapat melakukan pelayanan kesehatan di kedua belah pihak, baik Muslim maupun Budha. Berdasarkan hasil assessment tim saat itu, fasilitas kesehatan di kamp-kamp pengungsi yang ada masih sangat minim dan MER-C mencanangkan pembangunan sarana kesehatan yang bersifat permanen yang dapat diakses oleh kedua belah pihak. Sejak saat itu, MER-C mengirimkan Tim secara berkala dan lobby-lobby dengan berbagai pihak terus dilakukan baik dengan Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Myanmar agar rencana pembangunan RS Indonesia dapat terealisasi. Inisiasi ini mendapat sambutan positif dari Wakil Presiden kala itu, Bapak M. Jusuf Kalla. Program ini kemudian menjadi program bersama MER-C, PMI dan WALUBI dengan MER-C sebagai pelaksana mulai dari penentuan lokasi lahan, disain rumah sakit hingga pembangunan fisik. Tercatat dalam kurun waktu 7 tahun (2012 – 2019), MER-C telah mengirimkan sedikitnya 14 Tim Medis dan Konstruksi ke Myanmar dengan total jumlah relawan sebanyak 40 orang yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, insinyur, tim ahli alat kesehatan, dan tenaga teknis Khusus untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia, MER-C menempatkan 4 relawan yang terdiri dari 2 insinyur dan 2 tenaga teknis di lokasi pembangunan di Myaung Bwe village, Mrauk U township yang berjarak sekitar 160 km perjalanan darat dari Sittwe, ibukota Rakhine State. Pembangunan RS Indonesia diawali dengan pengurugan dan pemagaran lahan yang dimulai sejak Mei 2017 – Agustus 2017. Pada 19 November 2017 dilakukan peletakan batu pertama RS Indonesia yang dihadiri oleh Pemerintah Indonesia (Dubes RI di Yangon), Pemerintah Myanmar, MER-C dan Tokoh Muslim dan Budha dan menandai dimulainya pembangunan bangunan utama RS Indonesia. Pembangunan diperkirakan akan memakan waktu selama 10 bulan. Namun akibat konflik yang masih terus terjadi, cuaca ekstrim, sulitnya SDM pekerja, material,  kontraktor lokal yang tidak dapat menyelesaikan pekerjaan, pembangunan RS Indonesia seluas lebih dari 2.300 m2 ini memakan waktu hingga selama 2 tahun. Bahkan pada bulan Juni 2019, konflik terjadi sangat dekat dengan lokasi pembangunan RS Indonesia antara Tentara Myanmar (Tatmadaw) dan Arakan Army (AA) terjadi dekat dengan lokasi pembangunan. Rentetan suara tembakan terdengar jelas, seketika pekerjaan terhenti, dan para pekerja berlari berlindung menyelematkan diri. Setidaknya delapan titik di atap dan dinding Rumah Sakit Indonesia bolong akibat terkena peluru, saat terjadi baku tembak antara Arakan Army (AA) sayap militer suku Arakan yang beragama Budha dengan tentara Pemerintah Myanmar (Tatmadaw – Budha). Konflik yang terus terjadi membuat sulit mencari pekerja yang berani datang ke lokasi pembangunan. Pembangunan pun terhenti karena kontraktor tidak dapat mendatangkan pekerja. Situasi yang tidak kondusif juga sempat membuat Tim MER-C di lapangan diharuskan keluar dari lokasi pembangunan oleh pemerintah setempat. Negosiasi untuk meyakinkan pemerintah setempat dan KBRI di Myanmar terus dilakukan bahwa Tim memilih tetap di lapangan karena amanah ini harus ditunaikan. Ketidakmampuan kontraktor untuk melanjutkan pembangunan karena alasan keamanan dan sulit mencari pekerja, membuat Project Manager Pembangunan RS Indonesia, DR. Ir. Idrus M. Alatas, memutuskan untuk mengambil alih seluruh pekerjaan. Sejak Mei 2019, pekerjaan pembangunan RS Indonesia dilakukan sendiri oleh Tim MER-C di lapangan yang terdiri 4 relawan. Berbekal doa dan keyakinan serta tekad yang kuat, dan terutama pertolongan-NYA yang senantiasa memberikan perlindungan dan kemudahan atas segala kendala yang ada, pembangunan RS Indonesia akhirnya selesai pada November 2019. Untuk selanjutnya pengadaan alat kesehatan akan dilakukan oleh PMI (Palang Merah Indonesia). RS Indonesia akan diserahterimakan secara resmi setelah seluruh peralatan kesehatan lengkap dan RS Indonesia bisa beroperasional memberikan pelayanan kepada masyarakat korban konflik di wilayah ini. Dengan berdirinya RS Indonesia, kami berharap masyarakat Budha dan Muslim dapat hidup rukun damai dan sama-sama mendapat akses pelayanan kesehatan yang lebih baik. RS Indonesia menjadi symbol awal bagi hubungan persahabatan dan persaudaraan jangka panjang antara Indonesia dan Myanmar. Untuk itu, MER-C bertekad bahwa program ini perlu diikuti dengan program lanjutan berupa local capacity building khususnya untuk tenaga medis lokal, pengiriman tenaga medis dari Indonesia untuk bertugas di RS Indonesia, dsb. MER-C juga siap untuk mendampingi proses repatriasi dalam bidang kesehatan. Dukungan dan donasi untuk program ini dapat disalurkan melalui :Bank Syariah Mandiri (BSM), 700.1306.833Bank Central Asia (BCA), 686.028.0009Bank Mandiri, 124.000.8111.982Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee Jakarta, 29 November 2019MER-C Indonesia | www.mer-c.org

Silahkan bertanya?