DISASTER ACADEMY : Mass Gathering Medicine
MER-C Indonesia dan RS Budi Kemuliaan mempersembahkan : 1st DISASTER ACADEMY“Mass Gathering Medicine” Sabtu, 12 Oktober 2019Pkl 07.00-16.00 wibAula RS Budi Kemuliaan,Jakarta Pusat Advokasi akademik dalam menghadapi bencana di masyarakat urban. Info & Pendaftaran :MER-C Training Center – 081284447594MER-C Call Center – 0811990176
MER-C Kutuk Tindakan Israel Menahan Jenazah Warga Palestina

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Israel terus menambah daftar panjang kejahatan kemanusiaan terhadap Palestina. Berdasarkan data kampanye nasional untuk pemulangan jenazah syuhada Palestina, otoritas Israel telah menahan lebih dari 260 jenazah Palestina sejak tahun 1967. Israel terus mempertahankan kebijakan kejinya selama bertahun-tahun termasuk penahanan 51 jenazah para syuhada di lemari pendingin sejak Oktober 2015 lalu. Menanggapi hal ini, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, sebuah lembaga kegawatdaruratan medis dan kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam, menyatakan mengutuk tindakan keji Israel yang telah menahan dan menyembunyikan jenazah para syuhada Palestina, karena melanggar semua hukum dan nilai-nilai universal kemanusiaan. Ini adalah sebuah kejahatan perang. Jenazah seharusnya dihormati, diberikan hak-haknya sesuai dengan aturan yang berlaku dan dikuburkan sesuai dengan keyakinannya. MER-C Indonesia juga meminta organisasi besar dunia seperti PBB dan OKI untuk melakukan penekanan kepada Israel agar segera mengembalikan seluruh jenazah warga Palestina. Kepada Pemerintah Indonesia, MER-C berharap untuk terus melakukan lobby-lobby kepada PBB terkait masalah ini. Sebagai bagian dari warga dunia, MER-C sebuah lembaga medis kemanusiaan berkomitmen untuk terus mendukung perjuangan rakyat Palestina, satu-satunya negara di dunia yang masih terjajah, hingga Palestina meraih kemerdekaannya. Salah satu dukungan bagi Palestina adalah pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Diinisiasi pada 2009, pasca operasi besar-besaran Israel terhadap Jalur Gaza saat itu, MER-C langsung menyatakan komitmen bantuan jangka panjangnya dalam bentuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Pekerjaan pembangunan dimulai pada Mei 2010 dan selesai pada 2015. Akhir Desember 2015, RS Indonesia mulai dibuka untuk memberikan pelayanan medis bagi warga Gaza yang membutuhkan. Sebagai wilayah perang, kapasitas RS Indonesia dengan 100 tempat tidur ternyata tidak cukup menampung warga yang datang berobat. Ditambah lokasi RS Indonesia yang hanya berjarak 2,5 km dari perbatasan Israel membuat RS Indonesia menjadi sarana kesehatan penting di Jalur Gaza untuk merujuk para korban. Untuk itu, sejak Februari 2019, MER-C melakukan pengembangan RS Indonesia, yaitu pembangunan dua lantai tambahan untuk menambah kapasitas RS menjadi 200 tempat tidur dan menambah fasilitas lainnya yang diperlukan. Saat ini pembangunan masih terus berlangsung dan diperkirakan memakan waktu selama 1,5 – 2 tahun.
MER-C Beri Pengobatan Dokter Spesialis di Rutan Pondok Bambu

Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) bekerjasama dengan Pengurus Besar Wanita Al Irsyad menggelar bakti sosial pengobatan di Rumah Tahanan Wanita Kelas 2 A Pondok Bambu, Jakarta Timur, Rabu/28 Agustus 2019. MER-C menurunkan sebanyak 24 relawan medis dari berbagai keahlian, yaitu Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Dokter Spesialis Kandungan, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Spesialis Orthopedi dan Traumatology, Dokter Spesialis Radiologi, Dokter Spesialis Bedah, Dokter Spesialis Mata, Dokter THT, Dokter Umum, Dokter Gigi, Bidan dan Perawat. Kegiatan bertema “Jantung dan Kesehatan Perempuan” diselenggarakan dalam rangka memperingati hari jadi MER-C ke-20 pada 14 Agustus 2019 lalu. Tercatat sekitar 200 warga binaan yang sakit di Rutan Pondok Bambu mendapatkan bantuan pengobatan. Pada kesempatan ini, MER-C juga menyerahkan bantuan satu buah tempat tidur pasien untuk melengkapi Klinik Rutan. “Di hari jadi MER-C ke-20, kami ingin berbagi dengan sesama dan kami memilih Rutan Pondok Bambu sebagai wilayah sasaran kegiatan pengobatan kali ini,” ujar Rima Manzanaris, Manajer Operasional MER-C. “Kami pun menggandeng Pengurus Besar Wanita Al Irsyad yang sudah rutin mengadakan berbagai kegiatan di sini untuk bersama-sama menyukseskan kegiatan pengobatan yang ternyata baru kali ini diadakan di Rutan Pondok Bambu,” tambahnya. Warga binaan yang sakit dapat berkonsultasi langsung dengan relawan dokter umum MER-C dan selanjutnya jika diperlukan mereka akan dirujuk ke Dokter Spesialis untuk mendapat pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Kepala Rutan Pondok Bambu, Eko Suprapti, dalam sambutannya mengucapkan apresiasi dan terima kasih atas perhatian dari MER-C dan Al Irsyad yang telah memilih Rutan Pondok Bambu sebagai sasaran kegiatan pengobatan. Menurutnya, kegiatan seperti ini baru kali ini diadakan. Kepala Rutan juga memaparkan bahwa jumlah warga binaan di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur berjumlah 682 orang, ada napi yang sedang hamil, dan ada 4 anak kecil. “Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat berkelanjutan karena kesehatan adalah hal yang sangat penting,” harapnya. Sementara mewakili Pengurus Besar Wanita Al Irsyad, dr. Jamilah berharap kegiatan kerjasama MER-C dan Al Irsyad ini dapat membantu pelayanan warga binaan di Rutan Pondok Bambu dan menyelesaikan beberapa masalah kesehatan yang ada. Info :Website : www.mer-c.orgCall Center : 0811990176
Penghancuran Desa Sur Baher, Dunia tidak Boleh Diam

Senin (22/7), serdadu Israel mulai menghancurkan dan meratakan pemukiman Palestina di desa Sur Baher, Jerusalem Timur. Tindakan ini mengakibatkan sejumlah warga Palestina termasuk anak-anak kecil kehilangan tempat tinggal dan dievakuasi secara paksa dari daerah tersebut. Menanggapi hal ini, Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad menyatakan kecamannya dan mengajak dunia untuk segera menghentikan kebiadaban Israel. “Kami mengecam keras tindakan Israel yang melakukan penghancuran pemukiman warga Palestina. Kami mengajak dunia melakukan langkah tegas dan nyata agar menghentikan kebiadaban Israel yang sudah berkali-kali melanggar hukum Internasional,” ungkap Sarbini. Menurutnya, Indonesia sebagai anggota Dewan Keamanan PBB bisa menginisiasi pertemuan darurat untuk menghentikan kebiadaban Israel terhadap warga Palestina. Info:www.mer-c.org
MER-C Menyayangkan Kunjungan KADIN ke Israel

Delegasi Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) diberitakan melakukan kunjungan ke Israel pada awal Juli ini. Dalam kunjungan tersebut, delegasi Indonesia terdiri dari tujuh pengusaha yang dipimpin oleh Wakil Ketua KADIN bidang Hubungan Timur Tengah, Mufti Hamka Hasan. Diberitakan sejumlah media, bahwa delegasi ini bahkan sempat mengunjungi pameran permata yang digelar di kota Ramat Gan, padahal Indonesia tidak mempunyai hubungan dagang atau diplomatik dengan Israel. Ketua Presidium MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), Sarbini Abdul Murad, menyayangkan kunjungan tersebut. “Kami sangat menyayangkan apabila benar ada delegasi KADIN yang melakukan lawatan ke Israel. Hal ini tentunya melukai dan mencederai komitmen Indonesia dalam mendukung perjuangan Palestina merdeka,” ungkap Sarbini. “Kunjungan yang dilakukan KADIN menunjukkan bahwa KADIN tidak peka terhadap penderitaan Palestina. Padahal sudah seharusnya KADIN juga ikut serta memboikot semua produk-produk Israel sebagai wujud dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina,” tambahnya. Lebih lanjut menurut Sarbini, KADIN harus menjelaskan kepada publik perihal kunjungan ini, apakah merupakan kunjungan resmi KADIN atau bukan, sehingga tidak ada kesimpang siuran berita terkait hal ini. Info:www.mer-c.org
Keikhlasan Sang Istri Kuatkan Relawan RSI di Gaza

Jakarta, MINA – Sudah enam bulan tidak terasa, 28 relawan Indonesia berada di Palestina dalam rangka melakukan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap kedua di Gaza. Ke-28 relawan tersebut berasal dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah dan melakukan pembangunan RSI dI Gaza di bawah Lembaga Medis Kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Tidak terdengar keluhan maupun tangisan baik dari keluarganya. Padahal kondisi Palestina, khusunya di Gaza penuh dengan ancaman yang setiap waktu bisa terjadi konflik senjata. Dibalik kuat dan tegarnya para relawan, terdapat keikhlasan istri dan anak-anaknya yang selalu memberi dukungan. Hal ini ditunjukan oleh Huzaimah, istri Ir. Edi Wahyudi salah seorang relawan yang menjadi Site Manager pembangunan RSI di Gaza. Ketika ditanya tentang dorongan hati sang suami tercinta berasal dari mana sehingga rela meninggalkan keluarga untuk beramal shalih di tempat yang jauh di Gaza, sambil tersedu ia menjawab, “Barang siapa yang berbuat kebaikan maka kebaikan tersebut akan kembali kepada kita, itu lah mungkin yang membuat kami tegar dan kuat,” kata Huzaimah, saat diwawancarai Metro TV di Jakarta, Rabu (10/7). Ibu dengan empat anak tersebut juga mengatakan, menjadi jiwa relawan sudah ditanamkan sejak awal, ketika masuk pesantren Al Fatah, bahkan ia menyebut, relawan adalah juga profesinya. ” Mudah-mudahan bisa terwujud suami membantu saudara-saudara kita di Palestina dan ini juga membawa nama baik Indonesia,” jelasnya. Hal itu juga didukung oleh anak-anak mereka, karena ia juga sudah menanamkan kepada anak-anak tentang pentingnya punya jiwa penolong. “Kami sudah tanamkan sejak kecil bahwa kita harus punya jiwa menolong orang lain dan apalagi kondisi dari tempat tinggal di pesantren yang juga mendukung,” katanya. “Alhamdulillah anak-anak pun gak ada yang sampai nangis, nanya di mana Abi (Ayah),” tambahnya sambil menceritakan keceriaan dua anaknya yang ia bawa saat wawancara. Sebelum wawancara, Yayasan Media Group menyerahkan dana sebesar Rp 6.507.911.514 untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap kedua di Gaza, Palestina. Dana yang terkumpul dari masyarakat melalui Yayasan Media Group dan Metro TV tersebut, diserahkan secara simbolik oleh Ketua Yayasan Media Group, Ali Sadikin dan diterima oleh Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad. Dalam pembangunan RSI di Gaza tahap kedua ini, MER-C masih memerlukan dana sekitar Rp 75 miliar. MER-C sendiri telah bekerjasama dengan berbagai organisasi, media masa, dan start up di Indonesia untuk menggalang dana, termasuk dengan Minanews.net, Metro TV dan lainnya. (A/Sj/R01) Sumber : https://minanews.net/keikhlasan-sang-istri-kuatkan-relawan-rsi-di-gaza/
Media Group Serahkan Donasi Pembangunan RS Indonesia di Palestina

Jakarta: Media Group menyerahkan donasi pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia tahap dua di Gaza, Palestina. Media Group menyerahkan donasi berjumlah Rp6.507.911.514 kepada Lembaga Medis dan Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C). “Saya mengucapkan terima kasih kepada MER-C yang mempercayakan niat baiknya mendirikan rumah sakit, dan menjadikan Media Group sebagai salah satu kawan seperjalanan untuk mewujudkan cita-cita. Kami mengucapkan terima kasih karena diberikan kesempatan menjadi orang baik,” kata Deputy Chairman Media Group Rerie L Moerdijat di Gedung Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, Rabu, 10 Juli 2019. Rerie mengapresiasi kerja sama yang dibangun bersama MER-C. Ini bukan kali pertama Media Group terlibat dalam kerja kemanusiaan bersama MER-C. Sebelumnya, Media Group juga ikut membantu pembangunan RS Indonesia tahap pertama. Donasi ini dikumpulkan Yayasan Media Group dari masyarakat. Media Group merasa tergerak karena pada beberapa kesempatan juga sempat melihat langsung kondisi di Gaza, Palestina. Rerie pun berharap kerja sama serupa ini terus terjalin dengan lembaga kemanusiaan seperti MER-C. “Kita juga bisa menyampaikan dan menyiarkan kepada masyarakat bantuan tidak hanya bisa disampaikan negara dan LSM, tapi institusi media juga bisa melakukan banyak hal. Semoga apa yang dilakukan Media Group menjadi inspirasi,” kata dia. Ketua Presidium Mer-C Sarbini Abdul Murad mengapresiasi donasi yang diberikan Media Group. Ia sempat mengenang saat proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap pertama. Kata dia, banyak pihak yang meragukan rencana pembangunan rumah sakit itu. Tapi, Sarbini terbantu dengan pemberitaan di Metro TV. “Awalnya kami kesulitan, tapi itu membantu kami. Masyarakat ragu apakah mungkin bangun RS di tempat yang aksesnya sulit dari darat, laut, udara, tapi berkat berita Metro TV, masyarakat tergerak,” kata Sarbini. Sarbini mengatakan Rumah Sakit Indonesia dirancang dengan selera khas Nusantara. Nama ruangan pun sarat dengan identitas Indonesia, seperti ruangan Sumatra, ruangan Cik Di Tiro, dan ruangan Cut Nyak Dien. Awalnya, nama Rumah Sakit Indonesia akan diganti menjadi Rumah Sakit Ar Rayan, tapi MER-C menolak rencana itu. “Ini ikatan emosional masyarakat Indonesia dengan masyarakat Palestina,” kata dia. Sarbini berharap kerja sama serupa ini terus berlanjut. Apalagi, proyek kemanusiaan yang akan dibangun di Gaza, Palestina, tak berhenti pada pembangunan Rumah Sakit Indonesia. “Mudah-mudahan juga hubungan kita dengan rakyat Palestina terus berlanjut dan kita bisa meringankan beban masyarakat Palestina,” pungkas Sarbini. Donasi yang dikumpulkan selama setahun itu diserahkan secara simbolis oleh Ketua Yayasan Media Group Ali Sadikin kepada Sarbini. Dalam penyerahan itu, Ali Sadikin didampingi Deputy Chairman Media Group Rerie L Moerdijat, Chieff CSR Officer Media Group Lisa Luhur, dan Presiden Direktur Metro TV Suryopratomo. Selesai penyerahan donasi, Sarbini juga menyerahkan sejumlah cendera mata kepada Ali Sadikin. Salah satunya, syal berbendera Palestina yang dikalungkan langsung kepada Ali Sadikin. (DRI) Sumber : https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/0k8DLQWk-media-group-serahkan-donasi-pembangunan-rs-indonesia-di-palestina
Relawan MER-C Iedul Fitri Bersama Muslimin Rohingya

Empat orang Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang sedang melaksanakan tugas mengawasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar melaksanakan shalat Iedul Fitri 1440 Hijriah bersama dengan muslimin Rohingya, Rabu (5/6). “Alhamdulillah, ini yang kedua kalinya kami berempat melaksanakan shalat Iedul Fitri bersama muslim Rohingya” ujar Karidi salah satu relawan MER-C asal Wonogiri. Karidi yang juga pernah bertugas di Jalur Gaza, Palestina ini menjelaskan bahwa, shalat Iedul Fitri kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, konflik yang terjadi di Rakhine, meluas hingga mencapai lokasi RS Indonesia. “Ied kali ini sedikit berbeda, suasananya lebih mencekam, karena tiga hari sebelumnya terjadi pertempuran di dekat RSI, dan biasanya kami shalat di salah satu masjid di Kampung Muslim dekat RS Indonesia tersebut,” ujar relawan spesialis Mekanikal Electrikal ini. Karidi menambahkan, para relawan tidak bisa shalat di tempat biasanya karena kampung tersebut dijadikan basis tentara Myanmar untuk menyerang Arakan Army. “Kami tidak mendapatkan izin dari pihak keamanan untuk shalat Ied di kampung tersebut, karena situasi sedang tidak memungkinkan karena kampung tersebut dijadikan basis bagi 230 orang personel tentara Myanmar,” ujarnya. Para relawan akhirnya diperkenankan shalat di salah satu Masjid di Kampung Bina Para, berjarak 8 kilometer dari lokasi RSI. “Akhirnya kami shalat di salah satu kampung yang berjarak 8 km dari lokasi Rumah Sakit, itupun kami harus hati-hati, karena tentara sedang siaga satu, berjaga-jaga di setiap sisi jalan,” terangnya. Menurutnya perayaan Iedul Fitri Muslim Rohingya di kampung tersebut cukup sederhana, ratusan warga memulai shalat sekitar pukul 09.00 waktu setempat di dalam sebuah Masjid. “Warga di sini sangat sederhana, shalat ied di dalam masjid sekitar pukul sembilan, ratusan warga mengikuti shalat ied tersebut, sebelum shalat mereka biasanya tausiyah dengan menggunakan bahasa lokal, untuk kemudian shalat Ied dan diikuti khutbah berbahasa arab _full_” terangnya. Selesai shalat Ied dan Khutbah, Imam sekaligus Khatib memimpin doa, puluhan orang terlihat menagis tersedu-sedu saat doa dibacakan dalam bahasa Rohingya. Kami pun turut sedih melihat mereka menangis, meski kami tidak mengerti doa apa yang sedang dipanjatkan. Kemudian para warga bersalaman, satu sama lain dan juga dengan para relawan. Selesai bersalaman warga keluar dan kemudian membagi-bagikan uang kepada para fakir miskin yang sudah menunggu di depan Masjid. Nampak kebahagiaan menyelimuti warga muslim Rohingya ini, di luar halaman Masjid, banyak warga berjualan jajanan, anak-anak tua dan muda, bahagia menyambut datangnya hari kemenangan umat Islam ini. Sementara relawan diundang ke rumah salah satu warga untuk menyantap hidangan khas Iedul Fitri, makanan berupa bihun dicampur susu dan irisan kelapa. Alhamdulillah, meskipun berlebaran jauh dari keluarga, namun para relawan tetap semangat menunaikan amanah kemanusiaan pembangunan RS Indonesia di wilayah ini. Info : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia
Atap dan Dinding RS Indonesia di Rakhine Bolong Terkena Peluru

Setidaknya delapan titik di atap dan dinding Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State bolong akibat terkena peluru, saat terjadi baku tembak antara Arakan Army (AA) sayap militer suku Arakan yang beragama Budha dengan tentara Pemerintah Myanmar (Tatmadaw), Minggu (2/6) lalu. “Hari kamis ini kami baru bisa kembali ke lokasi Rumah sakit setelah Ahad lalu, terjadi pertempuran sengit antara AA dan Tatmadaw di dekat lokasi RSI, dan setelah kami cek ternyata ada setidaknya delapan titik di dinding dan atap yang bolong akibat peluru saat pertempuran kemarin” terang Ahmad Fauzi, salah satu relawan MER-C yang berada di lokasi. Fauzi juga menambahkan ditemukan setidaknya tiga proyektil peluru di dalam lokasi Rumah Sakit Indonesia ini. “Kami temukan 3 proyektil peluru didalam lokasi RS Indonesia, 2 diantaranya berukuran 2,5 cm dan satu berukuran 3 cm, ini cukup besar juga” terangnya. Ia menambahkan selain bangunan rumah sakit, kantor atau direksi kit di lokasi yang biasa digunakan sehari-hari untuk berkantor para relawan juga terkena tembakan. “Ada setidaknya 3 lubang di atap kantor, saya juga heran padahal direksi kit ini terbilang rendah, dan terhalang banyak pepohonan dan bangunan, namun tetap kena juga” terangnya. Sebagaimana diberitakan sebelumnya telah terjadi pertempuran antara Arakan Army (AA) dengan tentara pemerintah Myanmar (Tatmadaw) Minggu (2/6). Baku tembak terjadi sekitar pukul dua sore hari, ketika truk militer Tatmadaw diserang menggunakan ranjau darat oleh AA. Dari laporan media setempat, AA mengklaim telah menewaskan 10 tentara Myanmar dan melukai 40 orang lainnya. Tatmadaw segera membalas serangan tersebut dengan menggempur salah satu tempat yang dianggap basis AA yang berada di dekat lokasi RS Indonesia. Pertempuran sengit pun terjadi, hingga malam hari, Tatmadaw mengerahkan sekitar 230 personel untuk menghalau para tentara dari Suku Arakan Budha ini. Tatmadaw membuat base camp di salah satu kampung dekat RSI, dimana kampung tersebut merupakan satu-satunya kampung muslim yang diizinkan oleh pihak keamanan ketika relawan akan menunaikan shalat jumat. Akibat selain itu, diberitakan juga ada 2 warga muslim meninggal dan satu orang anak luka-luka akibat terkena tembakan saat terjadi pertempuran antara kedua belah pihak. Seorang anak yang terluka saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit lama, disamping bangunan RS Indonesia. Akibat pertempuran tersebut, pekerjaan pembangunan Rumah Sakit Indonesia sempat terhenti beberapa hari. Saat ini bangunan utama telah mencapai 91,5 persen dan sedang dikerjakan pekerjaan bangunan pendukung seperti, kamar jenazah, ground tank, rumah genset dan landscaping. Info : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia
Baku Tembak di Myaung Bwe, Pekerjaan RS Indonesia di Rakhine Terhenti

Pertempuran terjadi antara tentara Myanmar (Tatmadaw) dan Arakan Army (AA) di dekat lokasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar, Minggu (2/6). “Ahad kemarin sekitar pukul dua siang, terdengar suara rentetan senjata di dekat lokasi pembangunan RS Indonesia, pekerjaan seketika terhenti, dan para pekerja berlindung menyelamatkan diri,” kata Ahmad Fauzi, salah satu relawan pembangunan RS Indonesia. Fauzi juga menambahkan, ketika terjadi baku tembak para pekerja yang sedang mengerjakan pekerjaan ground tank di bagian belakang berhamburan lari menyelamatkan diri. “Tiba-tiba saja, para pekerja berhamburan keluar dari dalam galian ground tank kemudian lari keluar dari lokasi,” terang insinyur yang pernah bertugas membangun RS Indonesia di Jalur Gaza ini. Ia menambahkan, warung-warung di sekitar lokasi RS Indonesia pun seketika tutup, situasi menjadi sangat mencekam dan warga masuk ke dalam rumahnya masing-masing. “Warung-warung seketika ditutup, warga berlarian masuk ke dalam rumahnya menyelamatkan diri” ujar Fauzi. Fauzi yang saat itu sedang bersama dengan seorang relawan lainnya, segera masuk ke dalam bangunan rumah sakit untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara itu, dua relawan lainnya saat itu sedang berada di Sitwee dan dalam perjalanan menuju Mrauk U. Ditengah perjalanan keduanya mendapatkan kabar kejadian tersebut, dan meminta dua relawan yang masih terjebak di lokasi, untuk berhati hati dan sementara tidak keluar dari lokasi bangunan RS Indonesia. “Kami meminta kepada dua relawan yang masih terjebak di lokasi RS untuk tidak keluar, sambil memastikan, jika baku tembak mereda, agar mereka segera kembali ke penginapan di Mrauk U” ujar Nur Ikhwan, salah satu relawan MER-C. Nur Ikhwan juga menjelaskan, satu jam setelah baku tempak pertama mereda, kedua relawan akhirnya bisa kembali ke penginapan yang berjarak 16 km dari lokasi pembanguann rumah sakit Indonesia itu. “Alhamdulillah, setelah satu jam kedua relawan bisa dengan selamat kembali ke penginapan kami,” tambahnya. Pertempuran sengit terjadi antara Arakan Army (AA) dengan tentara pemerintah Myanmar (Tatmadaw) pada Minggu (2/6) kemarin. Baku tembak terjadi sekitar pukul dua sore hari, ketika truck militer Tatmadaw diserang menggunakan ranjau darat oleh AA. Dari laporan media setempat, AA mengklaim telah menewaskan 10 tentara Myanmar dan melukai 40 orang lainnya. Tatmadaw segera membalas serangan tersebut, dengan menggempur salah satu tempat yang dianggap basis AA yang berada di dekat lokasi RS Indonesia. Pertempuran sengit pun terjadi, hingga malam hari, bahkan Tatmadaw mengerahkan sekitar 230 personel untuk menghalau para tentara dari Suku Arakan Budha ini. Tatmadaw membuat base camp di salah satu kampung dekat RSI yang biasa digunakan oleh para relawan untuk shalat jumat di salah satu masjid di kampung tersebut. Selain itu, diberitakan juga ada dua warga muslim meninggal dan satu orang anak luka-luka akibat terkena tembakan saat terjadi pertempuran antara kedua belah pihak. Akibat pertempuran tersebut, pekerjaan rumah sakit Indonesia sempat terhenti beberapa hari. Para pekerja takut untuk datang ke lokasi, karena suasana masih dalam peperangan. Para relawan juga diingatkan oleh warga dan pihak keamanan untuk tidak datang ke lokasi hingga keadaan menjadi aman. Pekerjaan RS Indonesia, saat ini telah mencapai 91.5 persen memang sedikit tertunda. Berbagai kendala yang dihadapi dilapangan membuat bangunan yang harusnya sudah selesai sejak tahun lalu ini, menjadi terlambat. Selain, cuaca, sulitnya pengiriman material, dan kendala para pekerja, faktor keamanan menjadi hal utama penyebab keterlambatan pembangunan Rumah Sakit Indonesia ini. Beberapa kali pembangunan sempat terhenti, karena situasi keamanan yang tidak bisa di prediksi. Jika tidak ada hambatan diperkirakan bangunan RS Indonesia akan selesai dalam tiga bulan mendatang dan akan segera difungsikan. Info : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia