MER-C Lihat Langsung Kerusakan RS Jabal Amel di Lebanon Selatan, Identifikasi Kebutuhan Mendesak

Beirut – Tim MER-C pada Sabtu (6/6/2026) meninjau langsung kondisi Rumah Sakit Jabal Amel di Kota Tyre, Lebanon Selatan, yang terdampak serangan penjajah Israel. Tim menyaksikan kerusakan parah akibat serangan tersebut. Sejumlah fasilitas seperti laboratorium medis, ruang perawatan intensif (ICU), dan area parkir mengalami kerusakan berat, dengan puing-puing berserakan dan langit-langit yang jebol. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan 4 orang dan melukai 127 orang, dengan sebagian besar korban luka merupakan tenaga medis rumah sakit. Selain meninjau kondisi rumah sakit pasca serangan, kedatangan Tim MER-C juga bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang diperlukan oleh Rumah Sakit Jabal Amel yang merupakan salah satu pusat layanan medis utama di Kota Tyre, Lebanon Selatan. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DZ8-TOeTmCi/?igsh=MWczb3d0bnltZGNsdQ== https://www.facebook.com/share/v/1Bd13LRDST/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSC8H4J3S/ https://x.com/mercindonesia/status/2069617733747249489?s=46 ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
Apotek MER-C Indonesia Medical Center Direnovasi, Tingkatkan Kualitas Layanan untuk Warga Gaza

Gaza – Apotek MER-C Indonesia Medical Center (MMC) baru saja selesai direnovasi dan kini menghadirkan pelayanan yang lebih baik serta berkualitas bagi warga Gaza, Palestina. Salah satu apoteker, Reem Al Adeisi, mengatakan bahwa layanan apotek kini menjadi lebih terorganisir dan efisien dibandingkan sebelumnya, yang masih memiliki keterbatasan dari segi ruang maupun kapasitas. “Sekarang layanan apotek lebih terorganisir dan efisien dibandingkan sebelumnya yang sangat terbatas, baik dari segi ruangan maupun kapasitas,” ujarnya. Apotek kini dibagi menjadi empat bagian khusus. Bagian pertama diperuntukkan bagi obat-obatan neurologi dan kesehatan mental yang dipisahkan dari bagian lainnya. Bagian kedua khusus untuk obat penyakit kronis, sementara tersedia juga area tersendiri untuk obat-obatan umum. Selain itu, terdapat area khusus untuk perlengkapan medis, seperti kantong kolostomi dan kantong urin. Apotek juga kini dilengkapi dengan rak penyimpanan khusus dan dua unit pendingin udara untuk memastikan obat-obatan disimpan dalam kondisi yang memenuhi standar, termasuk pengaturan suhu yang sesuai. Sebelumnya, apotek beroperasi di bangunan sementara dengan ruang terbatas dan kondisi suhu yang kurang sesuai. Setelah renovasi, apotek kini memiliki ruang yang lebih luas dan lebih sesuai untuk penyimpanan obat-obatan. Apotek juga telah terintegrasi sepenuhnya dengan sistem komputerisasi untuk mengurangi kepadatan pasien serta meningkatkan kecepatan dan efisiensi pelayanan. Memberikan pelayanan yang berkualitas dan efisien merupakan komitmen MER-C Indonesia bagi warga Gaza. Upaya untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serta fasilitas medis merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan ini. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DZ66ME5TkfK/?igsh=bGYxeTlodXJ3YWZq https://www.facebook.com/share/v/1GbKyJUErY/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSCdjTUWL/ https://x.com/mercindonesia/status/2069330755994747310?s=46 #mercindonesia #relawanmerc #relawangaza #JanganLupakanPalestina #BerdiriBersamaPalestina #StopGenocide #FreePalestina #bantuanpalestina #donasipalestina #emtmercindonesia
Mengintip Rutinitas Perawat MER-C Indonesia Medical Center di Gaza Selatan

Gaza – Di tengah padatnya kamp-kamp pengungsian di Khan Younis, Gaza Selatan, MER-C Indonesia Medical Center hadir sebagai tempat harapan bagi ribuan warga yang membutuhkan layanan kesehatan. Meski beroperasi di tengah keterbatasan akibat blokade dan genosida yang terus berlangsung, MER-C Indonesia Medical Center punya sosok-sosok tenaga kesehatan tangguh yang terus bekerja untuk memastikan pelayanan tetap berjalan. Salah satu perawat, Iman Mohsen, menceritakan bagaimana rutinitas mereka dimulai sejak pagi hari. Tepat pukul 08.00, para perawat telah bersiap memulai aktivitas. Mereka terlebih dahulu membersihkan bangsal sesuai standar kesehatan dan pengendalian infeksi agar pasien dapat memperoleh pelayanan yang aman dan nyaman. Saat ini, departemen keperawatan di MER-C Indonesia Medical Center dibagi menjadi dua bagian, yakni bangsal pria dan bangsal wanita. Setelah seluruh persiapan selesai, para perawat mulai menerima pasien. Di tengah keterbatasan yang ada, mereka tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi setiap pasien yang membutuhkan pertolongan. Mohsen juga mengatakan saat ini mereka menghadapi tantangan menipisnya persediaan bahan habis pakai seperti kain kasa, perban, prep, dan berbagai perlengkapan medis penting lainnya. Sulitnya bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza akibat blokade yang ketat membuat kebutuhan medis sulit dipenuhi. Setiap hari, tim medis terus mengajukan permintaan tambahan stok, namun jumlah yang diterima masih jauh dari kebutuhan. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DZ36oMoTKWW/?igsh=MXhkNHBjeGMxM3psdA== https://www.facebook.com/share/v/17poANj1qg/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSQoQFYXj/ https://x.com/mercindonesia/status/2068905949549707695?s=46 #mercindonesia #relawanmerc #relawangaza #JanganLupakanPalestina #BerdiriBersamaPalestina #StopGenocide #FreePalestina #bantuanpalestina #donasipalestina #emtmercindonesia
Kunjungi Kamp Shatila di Beirut, MER-C Soroti Krisis Kemanusiaan dan Kepadatan Pengungsi

Beirut — Tim MER-C Indonesia pada 1 Juni 2026 mengunjungi Kamp Pengungsi Shatila di Beirut, kamp pengungsian Palestina tertua di Lebanon yang berdiri sejak tahun 1949. Tim juga sempat mengunjungi makam para syuhada korban pembantaian Israel pada tahun 1982. Kamp Shatila turut merasakan dampak krisis kemanusiaan di tengah meningkatnya konflik sejak 2 Maret 2026. Meskipun bukan lokasi pengungsian resmi, kamp ini menerima tambahan keluarga pengungsi dari berbagai wilayah, di antaranya Tyre (Sour), Al-Buss, Burj Al-Shemali, serta sebagian warga dari kawasan Dahiyah, Beirut Selatan, yang terdampak serangan. Bahkan saat kunjungan Tim MER-C, Kamp Shatila kembali menerima pengungsi dari wilayah Dahiyah akibat adanya seruan evakuasi menyusul ancaman serangan bom di kawasan tersebut. Selama kunjungan, Tim MER-C meninjau kondisi permukiman, pusat layanan kesehatan, serta berdiskusi dengan pengelola kamp. Dari hasil pemantauan, ditemukan sejumlah tantangan yang dihadapi, antara lain: 1. Kepadatan penduduk yang sangat tinggi.2. Keterbatasan akses air bersih dan sanitasi.3. Meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan primer serta ketersediaan obat-obatan.4. Tingginya angka kemiskinan dan ketergantungan terhadap bantuan kemanusiaan.5. Meningkatnya kebutuhan dukungan psikososial, khususnya bagi anak-anak dan perempuan yang mengalami trauma akibat konflik. Kondisi ini semakin memperkuat perlunya dukungan kemanusiaan yang berkelanjutan, terutama dalam bidang kesehatan, pangan, sanitasi, serta perlindungan bagi kelompok rentan. Saat ini, Shatila dihuni sekitar 11.600 pengungsi Palestina yang terdaftar. Namun, jumlah penduduk yang benar-benar tinggal di dalam kamp diperkirakan mencapai 14.000–15.000 jiwa, termasuk pengungsi Suriah dan kelompok rentan lainnya. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DZwnvEfEyTS/?igsh=MTUxMnMxaHZoNm5tZQ== https://www.facebook.com/share/p/18cJGLXxed/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSQ74CQ7u/ https://x.com/mercindonesia/status/2067877928785133907?s=46 ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
MER-C Indonesia Medical Center Gaza Gelar Wawancara Calon Perawat Sukarelawan

Gaza – MER-C Indonesia Medical Center di Al-Mawasi, Khan Younis, pada Sabtu (13/6/2026), menggelar wawancara untuk calon perawat sukarelawan. Wawancara dilakukan oleh Direktur Administrasi Mohammed Al-Naqa, mantan Direktur Klinik Dr. Youssef Al-Farra, Direktur Klinik saat ini Dr. Issam Radwan, Kepala Departemen Keperawatan Ibu Amina Al-Adini, Administrator Proyek Alaa Abu Halima, serta EMT MER-C Nadia Rosi. Wawancara dilakukan guna menilai pelamar dan memilih kandidat yang memenuhi syarat untuk mendukung dan memperkuat layanan kesehatan di MER-C Indonesia Medical Center. Calon perawat sukarelawan, Amal Albashity, mengungkapkan alasannya ingin bergabung karena ia sangat menyukai pekerjaan sebagai perawat dan senang membantu sesama. “Begitu saya memutuskan bekerja di sini sebagai sukarelawan, saya menemukan tempat ini sebagai tempat yang suportif dan dapat membantu saya meningkatkan keterampilan. Itulah sebabnya saya ingin bergabung menjadi bagian dari MER-C Indonesia Medical Center,” ujarnya. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DZufqvDEw-N/?igsh=MXd5aDN1MTNldm9qcw== https://www.facebook.com/share/v/18FPrtbQRw/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSQnYaKuJ/ https://x.com/mercindonesia/status/2067579088936829160?s=46 #mercindonesia #relawanmerc #relawangaza #JanganLupakanPalestina #BerdiriBersamaPalestina #StopGenocide #FreePalestina #bantuanpalestina #donasipalestina #emtmercindonesia
MER-C Sambut Kepulangan Dua Liaison Officer EMT dari Misi Kemanusiaan di Kawasan Timur Tengah

Jakarta – MER-C menyambut kepulangan dua Liaison Officer Emergency Medical Team (EMT) ke Tanah Air pada Sabtu (13/6/2026), setelah menyelesaikan tugas kemanusiaan di kawasan Timur Tengah. Dua relawan tersebut adalah Marissa Noriti dan Nanang Khoirino yang memiliki peran penting dalam mendukung berbagai misi kemanusiaan MER-C, khususnya untuk Jalur Gaza. Marissa Noriti bertugas sebagai Liaison Officer MER-C di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, seperti Yordania, Mesir, dan Uni Emirat Arab (UEA), sejak 21 Juli 2025. Marissa terlibat dalam berbagai lini koordinasi, mulai dari pelaksanaan program, pengaturan keamanan, hingga prosedur pengiriman relawan ke Gaza. Sementara itu, Nanang Khoirino berangkat ke Mesir pada 20 April 2026 bersamaan dengan keberangkatan EMT ke-13 menuju Gaza. Dalam misi kali ini, ia bertugas membangun sistem supply chain atau rantai pasok logistik kemanusiaan MER-C. Pembangunan fondasi dan jaringan supply chain kemanusiaan menjadi bagian penting dalam penguatan berbagai program kemanusiaan yang saat ini dijalankan MER-C, tidak hanya di Jalur Gaza tetapi juga di sejumlah negara lainnya. Upaya ini memiliki tantangan yang cukup kompleks sehingga memerlukan penguatan jejaring dan kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari korporasi, pemerintah, lembaga kemanusiaan, hingga organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan WHO. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DZtiiHNTJak/?igsh=MTJnNWtiYm85Nmd6Zg== https://www.instagram.com/reel/DZtiiHNTJak/?igsh=MTJnNWtiYm85Nmd6Zg== https://vt.tiktok.com/ZSQGcGoJ6/ https://x.com/mercindonesia/status/2067445929595355595?s=46 #mercindonesia #relawanmerc #relawangaza #JanganLupakanPalestina #BerdiriBersamaPalestina #StopGenocide #FreePalestina #bantuanpalestina #donasipalestina #emtmercindonesia
Tim MER-C Tinjau Kebutuhan Layanan Luka Bakar di Turkish Hospital di Lebanon

Saida – Tim MER-C untuk misi kemanusiaan Lebanon pada Sabtu (6/6/2026) mengunjungi Turkish Trauma and Emergency Hospital di Saida, Lebanon Selatan. Kunjungan ini untuk meninjau secara langsung kebutuhan bantuan di unit luka bakar (burn unit) rumah sakit tersebut, yang saat ini menerima banyak pasien trauma seiring meningkatnya eskalasi konflik dengan Israel. Direktur rumah sakit, dr. Noura Shakaroun, menjelaskan bahwa burn unit di Turkish Hospital telah tersedia, baik dari sarana maupun sumber daya manusia (SDM). Pada awal tahun, rumah sakit menerima bantuan peralatan serta pelatihan penanganan trauma luka bakar dari lembaga amal Inggris. Saat ini, rumah sakit juga memiliki satu dokter spesialis bedah rekonstruksi dan telah siap menangani pasien luka bakar yang dirujuk ke fasilitas mereka. Dr. Noura menuturkan, kebutuhan yang sebenarnya ingin dikembangkan lebih luas adalah departemen pediatrik secara menyeluruh, baik untuk penanganan kasus trauma, termasuk luka bakar, maupun kasus non-trauma. Rumah sakit bahkan telah menyiapkan ruangan khusus untuk departemen anak, termasuk Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dengan kapasitas lima tempat tidur. Karena kebutuhan yang dihadapi lebih besar daripada sekadar unit luka bakar anak, kebutuhan pendukung yang diperlukan pun semakin luas, mulai dari peralatan medis, bahan habis pakai, tenaga kesehatan, hingga pelatihan agar layanan pediatrik dapat berjalan secara menyeluruh, mulai dari instalasi gawat darurat (IGD), rawat inap, hingga PICU. Harapannya, departemen ini dapat terus beroperasi secara berkelanjutan meskipun tim bantuan internasional telah menyelesaikan tugasnya. Secara umum, dr. Noura menyampaikan bahwa pihaknya lebih memilih bantuan dalam bentuk peralatan dan pelatihan dibandingkan bantuan dana tunai. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DZr5JwuE-Xv/?igsh=ajcyOHQ3anBpazI0 https://www.facebook.com/share/v/17tdA2wGmv/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSQs8RggN/ https://x.com/mercindonesia/status/2067212651017732537?s=46 ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
MER-C Kunjungi KBRI Lebanon, Perkuat Koordinasi untuk Penyaluran Bantuan Kemanusiaan

Beirut – Tim MER-C untuk misi kemanusiaan Lebanon pada Rabu (3/6/2026) berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Baabda, selatan Beirut. Kedatangan tim MER-C disambut hangat oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon, H.E. Dicky Komar, beserta jajaran staf KBRI. Dalam pertemuan tersebut, Dubes Dicky menyampaikan apresiasi atas upaya kemanusiaan yang dilakukan MER-C bagi masyarakat Lebanon. Dubes juga menjelaskan terkait perkembangan situasi konflik di Lebanon, termasuk peristiwa penyerangan Kontingen Garuda yang bertugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) beberapa waktu lalu. Tim MER-C kemudian memaparkan hasil survei lapangan serta sejumlah pertemuan yang telah dilakukan dengan mitra lokal, antara lain Al-Shifaa for Medical & Humanitarian Services, Public Health Emergency Operations Center (PHEOC), dan EMT Liaison. Tim juga menyampaikan berbagai kebutuhan bantuan yang saat ini diperlukan oleh masyarakat Lebanon. Dubes berharap MER-C terus menjalin komunikasi dan koordinasi dengan KBRI terkait seluruh aktivitas kemanusiaan yang dijalankan di Lebanon. Tim Assessment MER-C untuk Misi Kemanusiaan Lebanon berangkat dari Jakarta pada Jumat (29/5/2026) dan tiba di Beirut pada Sabtu (30/5/2026). Tim terdiri dari tiga relawan medis, yaitu dr. Tonggo Meaty Fransisca, dr. Arief Rachman, Sp.Rad., dan Wirsal Adiansyah Harahap, S.Kep., Ners. Tim ini bertugas melakukan penilaian awal terhadap kebutuhan medis yang paling mendesak serta memetakan wilayah-wilayah potensial untuk penyaluran bantuan kemanusiaan pada tahap selanjutnya. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DZmes-XE6de/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA== ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
Tim MER-C Bertemu PHEOC Lebanon, Bahas Kebutuhan Bantuan Kesehatan di Lebanon Selatan

Beirut – Tim MER-C Indonesia pada Selasa (2/6/2026) mengunjungi Rumah Sakit Universitas Rafik Hariri dan bertemu dengan Wahida Ghalayini, Koordinator Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) serta dr. Zahara selaku Liaison Officer EMT. Dalam pertemuan tersebut, keduanya memaparkan perkembangan situasi konflik di Lebanon Selatan serta aktivitas koordinasi bantuan yang dilakukan bersama tim-tim internasional. Mereka mengatakan saat ini, sejumlah tim medis internasional masih aktif memberikan pelayanan di beberapa wilayah, di antaranya Saida (Sidon), Tyre, dan Nabatieh. Berbeda dengan kondisi di Gaza, sebagian besar fasilitas dan sistem layanan kesehatan di Lebanon Selatan masih beroperasi. Namun, tingginya jumlah korban serta keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan menyebabkan terjadinya surge capacity di sejumlah fasilitas kesehatan. Untuk itu, PHEOC mengusulkan agar MER-C turut memperkuat layanan burn unit di Turkish Trauma & Emergency Hospital yang berada di Kota Saida. Rumah sakit tersebut belum memiliki unit penanganan luka bakar yang memadai, sehingga diperlukan dukungan baik dalam bentuk SDM maupun sarana dan prasarana pendukung. Rumah sakit pemerintah tersebut merupakan salah satu pusat rujukan utama yang berada di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan Lebanon (MOPH) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam penanganan korban konflik. Mereka juga menyarankan perlunya program capacity building untuk tenaga kesehatan lokal agar memiliki kemampuan menangani kasus-kasus luka bakar secara mandiri ketika tim bantuan internasional sudah tidak lagi bertugas di wilayah tersebut. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DZbpI39k-jt/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA== ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
Tim MER-C Melihat Langsung Kondisi Kamp Pengungsian Korban Serangan Israel di Lebanon

Beirut – Tim MER-C untuk misi kemanusiaan Lebanon pada Senin (1/6/2026) mengunjungi salah satu kamp pengungsian di Kota Saida (Sidon), yang menampung warga Lebanon Selatan korban serangan Israel. Kota Saida sendiri menjadi salah satu daerah konsentrasi pengungsi karena lokasinya yang berbatasan dengan wilayah Lebanon Selatan. Kamp pengungsian ini telah beroperasi sekitar tiga bulan, menampung sekitar 93 kepala keluarga, mulai dari anak-anak hingga lansia. Di kamp ini tidak ditemukan kasus trauma atau luka akibat serangan. Namun, banyak pengungsi lanjut usia yang menderita penyakit kronis, penyakit degeneratif, gangguan metabolik, maupun berbagai komplikasi kesehatan lainnya. Setiap keluarga menempati satu ruang yang dibatasi sekat-sekat terpal di dalam bangunan besar yang difungsikan sebagai shelter. Fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) tersedia berkat dukungan dari organisasi kemanusiaan MSF. Namun, koordinator bantuan setempat mengeluhkan keterbatasan pasokan makanan yang hanya diterima satu kali sehari, yakni saat makan siang, serta minimnya pasokan listrik. Ketersediaan listrik sangat dibutuhkan untuk mengoperasikan pompa air yang menyalurkan air ke fasilitas MCK. Sementara itu, kebutuhan air bersih diperoleh melalui proses filtrasi air dari jaringan pipa. Tim MER-C sebelumnya juga berencana mengunjungi wilayah Lebanon Selatan, namun belum memungkinkan karena serangan masih terus berlangsung. Kunjungan ke kamp pengungsian ini dilakukan bersama staf Yayasan Al Shifa, lembaga yang memiliki banyak program bantuan untuk para pengungsi di Lebanon. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DZZeycDE30-/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA== ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah