MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Tim EMT MER-C ke-6 Berhasil Masuk ke Jalur Gaza

Seluruh relawan Medical Emergency Team (EMT) MER-C ke-6 telah berhasil masuk ke Jalur Gaza, Palestina, bersama sejumlah relawan lainya yang tergabung dalam konvoi Badan Kesehatan Dunia (WHO). Tim EMT MER-C ke-6 ini terdiri dari lima orang relawan yang diberangkatkan dalam dua tahap. Tahap pertama berangkat pada Sabtu (26/10), yaitu Dokter Bedah dr. Faradina Sulistiyani, Sp.B, Dokter Kandungan dr. Regintha Yasmeen, Sp. OG dan satu perawat Nadia Rosi, Amd.Kep. Ketiga relawan berhasil masuk Gaza hari Selasa (29/10). Dua relawan kemudian berangkat pada hari Selasa (29/10) l, yaitu Dokter Bedah dr. Taufiq Nugroho, SpB., FINACS. FICS, dan Perawat Kamal Putra Pratama, AMK., keduanya tiba di Gaza hari Kamis (31/10). “Alhamdulillah proses kami selama perjalanan dari Yordania sampai masuk ke Jalur Gaza lancar. Mohon doa dan dukungan dari teman-teman semua agar kami bisa menjalankan misi-misi kami,” kata Relawan MER-C dr. Regintha Yasmeen saat baru tiba di Gaza. Dari kelima relawan ini, empat diantaranya sudah pernah bertugas di Jalur Gaza, bergabung dengan Tim EMT 3 dan 4. Tim EMT ke-6 ini akan bertugas selama satu bulan. Namun WHO berharap seluruh tim bisa bekerja lebih panjang setidaknya untuk jangka waktu tiga bulan. MER-C sendiri masih akan melakukan evaluasi lebih lanjut terkait hal ini. Berdasarkan informasi yang diterima sebelum keberangkatan, Tim EMT ke-6 akan bertugas di Gaza Tengah, di Rumah Sakit Lapangan Public Aid Hospital. Namun kondisinya masih tentatif dan Tim masih menunggu informasi lebih lanjut terkait penempatan tugas.A

MER-C Berangkatkan Tim EMT ke-6 untuk Bertugas ke Jalur Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali memberangkatkan Emergency Medical Team (EMT) ke-6 untuk bertugas di Jalur Gaza, Palestina. Tim EMT MER-C ke-6 ini terdiri dari lima orang relawan yang diberangkatkan dalam dua tahap. Tahap pertama berangkat pada Sabtu (26/10), yaitu Dokter Bedah dr. Faradina Sulistiyani, Sp.B, Dokter Kandungan dr. Regintha Yasmeen, Sp. OG dan satu perawat Nadia Rosi, Amd.Kep. Dua relawan kemudian berangkat pada hari Selasa (29/10) yaitu Dokter Bedah dr. Taufiq Nugroho, SpB., FINACS. FICS, dan Perawat Kamal Putra Pratama, AMK. Ketua EMT MER-C dr. Arief Rachman, Sp.Rad, saat melepas keberangkatan Tim di Bandara Soekarno-Hatta, di Jakarta, pada Selasa (29/10), mengatakan situasi di Jalur Gaza selama satu bulan terakhir ini semakin memburuk, karena tidak adanya kepastian upaya kemanusiaan yang bisa diterapkan secara efektif di seluruh Jalur Gaza. Namun MER-C berkomitmen akan tetap konsisten mengirimkan tim medis. “Terlepas dari situasi yang berkembang saat ini, MER-C masih konsisten mengirimkan tim medis dalam koridor WHO. Situasi saat ini dengan banyaknya rumah sakit yang terpaksa tidak beroperasi karena keterbatasan dokter, medis dan obat-obatan, kita akan tetap memberikan support, memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan,” ujar dr. Arief. “Kita berharap dengan adanya tim medis di dalam, maka kita bisa mendorong pasokan obat-obatan dan alat kesehatan karena kita berasumsi di dalam masih ada kebutuhan. Kita tidak bisa bayangkan seandainya kemudian tenaga medis sudah tidak ada maka ketika kita mengirimkan barang-barang dari luar akan dipertanyakan untuk apa pemanfaatannya,” tambahnya. Dr. Arief lebih lanjut mengatakan, Tim EMT ke-6 ini akan bertugas selama satu bulan. Namun WHO berharap seluruh tim bisa bekerja lebih panjang setidaknya untuk jangka waktu tiga bulan. MER-C sendiri masih akan melakukan evaluasi lebih lanjut terkait hal ini.  “Kalau situasi memungkinkan dan teman-teman sanggup untuk bekerja tiga bulan, kita akan sangat menghargai dan akan kita upayakan agar kemudian teman-teman bisa bekerja di sana dalam situasi yang aman,” tegasnya. Terkait penempatan tugas, dr. Arief mengungkap situasinya masih sangat fleksibel tapi berdasarkan informasi yang diterima, Tim EMT ke-6 ini akan bertugas di Gaza Tengah, di Rumah Sakit Lapangan Public Aid Hospital. Dr. Arief juga mengatakan saat ini krisis kemanusiaan yang dihadapi jauh lebih berat dibandingkan dengan awal penyerangan tahun lalu. Ia mengingatkan kini krisis yang terjadi tidak hanya menimpa warga Gaza, tapi juga semua pihak termasuk pekerja kemanusiaan di sana dan mungkin saja termasuk relawan MER-C. “Bismillah kita berharap kepada Allah agar diberi kemudahan, kekuatan dan upaya yang kita berikan kepada saudara-saudara kita di Gaza ini bisa memberikan arti bahwa kemanusiaan itu masih ada,” pungkasnya. Saat ini tiga relawan yang berangkat pada tahap pertama sudah tiba di Jalur Gaza, dan dua relawan lainya tiba di Amman, Yordania, menunggu approval dari WHO.

MER-C dan AWG Siap Sinergi Sukseskan Gelaran Bulan Solidaritas Palestina 2024

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan Aqsa Working Group (AWG) siap bersinergi untuk menyukseskan gelaran Bulan Solidaritas Palestina 2024. “Jadi ada namanya kegiatan Bulan Solidaritas Palestina. Kami pikir ini adalah kegiatan yang sangat postif terutama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menyuarakan kemerdekaan Palestina, yang memang saat ini terjajah khususnya di Gaza yang mengalami krisis kemanusiaan berat. Jadi kita MER-C, mendukung,” ujar Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) DR. dr. Hadiki Habib, Sp.PD., Sp.Em, saat menerima kunjungan Tim Panitia BSP 2024 di Kantor MER-C, di Jakarta, Rabu (23/10). “Kami akan mempersiapkan diri juga supaya event ini betul-betul memberikan pesan dan manfaat untuk peserta, serta menjadi salah satu kampanye positif untuk kegiatan solidaritas Palestina. Semoga acara ini sukses lancar dan bermanfaat,” katanya. Kepala Humas AWG Angga Aminuddin, mengatakan tujuan kunjungan Tim Panitia BSP 2024 ke Kantor MER-C selain silaturahim juga untuk sosialisasi program dan kegiatan Bulan Solidaritas Palestina 2024. AWG mengajak untuk bersinergi dan terlibat dalam kegiatan ini. Secara khusus, BSP memang memiliki program sosial kesehatan, untuk itu MER-C diminta terlibat serta turut memeriahkan seluruh rangkaian kegiatan Bulan Solidaritas Palestina.  Lebih lanjut Angga menjelaskan, BSP merupakan agenda internasional yang dilaksanakan AWG berawal dari momen hari solidaritas Palestina yang jatuh di bulan November. Hal ini kemudian berkembang dari hari menjadi pekan, akhirnya sekarang menjadi bulan. Penyelenggaraan BSP ini sudah memasuki tahun ketiga. “Bulan Solidaritas Palestina ini kami isi dengan berbagai macam kegiatan, tujuan utamanya adalah untuk mensyiarkan perjuangan pembebasan Masjid Al Aqsa dan Palestina yang memang harus masuk ke berbagai elemen, bukan hanya beberapa lingkup seperti tempat-tempat ibadah atau masjid, tapi kami juga masuk ke tempat pendidikan seperti sekolah, kampus, komunitas masyarakat dan hobi,” tuturnya. “Harapannya acara ini sukses dan kami didukung berbagai pihak. Makanya salah satu agenda kami sebelum masuk bulan November adalah sosialisasi dan juga audiensi, mengajak bersama-sama, berjamaah melakukan kegiatan ini, karena dengan berjamaah insya allah nanti efeknya lebih luas,” pungkasnya.

BANDUNG for GAZA

Assalamu’alaikum Warga Bandung, Sebagai bentuk kepedulian dan dukungan untuk saudara-saudara kita di Gaza, Masjid Salman ITB bekerjasama dengan MER-C Indonesia serta sejumlah lembaga seperti Komunitas Pejuang Subuh MRPI dan Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN) akan menggelar Event “BANDUNG for GAZA”, yang akan diadakan pada: ? Waktu:Ahad, 3 November 2024 ? Tempat:Lokasi CFD Dago danMasjid Salman ITB, Bandung ✨ Agenda:“WALK for GAZA”Pkl. 06.00-09.00 WIBMulai dari Bundaran Cikapayang, berakhir di Masjid Salman.Daftar sekarang: https://goers.co/bandungwalkforgazaPendaftaran Walk for Gaza “LIVE from GAZA”Pkl. 09.00-11.30 WIBDi Masjid Salman ITB, Bandung–    Live Update dari Gaza–    Talkshow dengan Ketua Presidium MER-C & Relawan MER-C yang baru kembali dari Gaza–    Tausiyah oleh Ust. Miftah Faridl–    Pameran Foto Gaza Salurkan Donasi Terbaik Kita untuk Gaza:Rekening BSI: 8005004003Atas nama YPM SALMAN ITB Jadilah bagian dari gerakan ini dan ajak teman-teman serta keluar

MER-C Serahkan Bantuan Panel Surya dan Alkes untuk RS Indonesia

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyerahkan bantuan panel surya tahap pertama dan alat kesehatan untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara. Proses serah terima bantuan MER-C untuk RS Indonesia ini dilakukan oleh Ketua Tim EMT MER-C ke-5 dr. Dany K Ramdhan, SpBS, Site Manager Pembangunan RS Indonesia, Ir. Edy Wahyudi, Direktur Rumah Sakit Indonesia dr. Marwan Al-Sultan serta Manajer RS Indonesia Abu Muhammad, pada 28 September 2024. “Proses serah terima berlangsung khidmat dan penuh keharuan mengingat peralatan tersebut begitu penting dan ditunggu-tunggu oleh pihak RS Indonesia,” kata Edy. Ia mengatakan, paska agresi 7 Oktober 2023 dan dua kali masuknya tentara Israel ke RS Indonesia mengakibatkan 80 % peralatan rusak dan hancur. Israel juga terus melakukan pembatasan masuknya bahan bakar ke Jalur Gaza, sehingga rumah sakit menderita kekurangan bahan bakar. Untuk itu, bantuan alat kesehatan dan panel surya ini memang sangat diperlukan. Alkes yang disumbangkan oleh MER-C untuk RS Indonesia terdiri dari First Aid Medical Kit 17 jenis dengan jumlah 2.309 unit, Emergency Medical Kit 9 jenis dengan jumlah 325 unit, Primary Medical Kit 11 jenis dengan jumlah 56.050 unit, Trauma Medical Kit 11 jenis dengan jumlah 5.100 unit, Medical Surgery Kit 77 jenis dengan jumlah 476 unit. Pemasangan 30 lembar panel surya tahap pertama mulai dilakukan pada 8 September, dengan kapasitas 20 kV yang memback up 16 persen kebutuhan RS Indonesia. Kini panel surya sudah dapat difungsikan untuk jalur empat kamar operasi dan ruang ICU. Sebelumnya, MER-C melalui kerja sama dengan Kitabisa juga menyerahkan bantuan mobil bis dengan kapasitas 20 kursi untuk transportasi staf RS Indonesia dan mobil operasional MER-C jenis minibus Hyundai H-1, namun harus melalui perbaikan terlebih dahulu karena sempat terkena serangan penjajah Israel. Setelah menerima berbagai bantuan dari MER-C, dr. Marwan mengucapkan syukur kepada Allah dan terima kasih kepada Rakyat Indonesia yang telah berdonasi melalui MER-C. “Tidak ada kata yang dapat melukiskan betapa tinggi kemuliaan rakyat Indonesia yang telah peduli terhadap penderitaan rakyat Gaza Palestina saat ini,” ujarnya.

Tim EMT MER-C ke-5 Tiba di Tanah Air Usai Dua Bulan Bertugas di Gaza

Tim Medis yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-5 telah tiba di tanah air usai menjalankan tugas selama dua bulan di Rumah Sakit Indonesia, Gaza Utara. Tim EMT MER-C ke- 5 ini terdiri dari satu dokter spesialis bedah saraf, satu dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi, satu dokter spesialis anastesi serta satu dokter spesialis penyakit dalam. “Kita bertugas selama kurang lebih dua bulan di sana, dan kepulangan ini perasaanya campur aduk ada senang ketemu saudara, temen, anak, istri tapi ada sedih juga karena meninggalkan saudara-saudara kita yang sampai saat ini masih saja menerima cobaan di Gaza,” kata dr. Dany K Ramdhan, SpBS, saat baru tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (05/10/2024). “Berat meninggalkan Gaza tapi di sisi lain ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan di sini. Kalau bisa lebih lama, ya sebenarnya ingin tapi tidak bisa,” tuturnya. Ia menegaskan bahwa perjuangan masih panjang dan bantuan yang diberikan sekecil apapun itu sangat berarti bagi warga Gaza. Untuk itu, Dany menyerukan agar bantuan terus berkelanjutan. “Kalau cuma sekali kemudian tidak ada kelanjutan lagi terus terang kurang optimal. Untuk itu bantuan ini harus diteruskan, yaitu bantuan tim dan alat-alat medis, dokter-dokter spesialis yang jarang di sana tapi kasusnya banyak, mereka juga sebenarnya meminta untuk dikirimkan. Mudah-mudahan kita bisa memenuhinya,” ujarnya. Dany menegaskan, jika ada kesempatan dia ingin kembali lagi, kalau bisa sambil membawa serta keluarganya. Selain Tim EMT MER-C ke-5, kepulangan kali ini juga ditambah satu dokter gigi, drg. Elisabeth L. Sarri yang bergabung dengan Tim EMT MER-C ke-4. Ia bertugas lebih lama, yaitu sekitar 14 pekan dan sempat tertahan untuk bisa masuk ke Jalur Gaza, akibat invasi darat Israel ke Rafah pada awal Mei lalu. “Saya ditugaskan di Tim EMT MER-C ke-4 beberapa bulan lalu, tapi baru kembali bersamaan dengan Tim 5 keluar, karena setelah bisa masuk ke Gaza ternyata saya ingin berbuat lebih banyak. Untuk itu saya memutuskan bertugas lebih lama,” ujarnya. Sama seperti dr. Dany, ia merasa senang bisa kembali ke Indonesia tapi juga berat dan sedih harus meninggalkan Gaza. Elisabeth mengucapkan terima kasih kepada MER-C yang telah memberinya kesempatan untuk berangkat ke Gaza, serta kepada masyarakat yang telah memberikan dukungan dan doa. “Terima kasih atas kesempatannya, tidak pernah menyangka karena dulu memang ingin kalau lagi ada yang berangkat misi, apalagi kalau ke Gaza. Alhamdulillah MER-C kasih saya kesempatan, membaktikan ilmu yang saya punya buat rakyat Gaza,” kata Elisabeth. Setelah kepulangan Tim ke-5 ini, MER-C akan melanjutkan misinya dengan mempersiapkan keberangkatan Tim ke-6 untuk bertugas di Jalur Gaza.

Tim EMT ke-5 MER-C telah Selesaikan Tugas di Jalur Gaza

Emergency Medical Team (EMT) ke-5 Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang selama dua bulan membantu penanganan korban di Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara, telah menyelesaikan tugasnya. TIM EMT 5 yang terdiri dari satu dokter spesialis bedah saraf, satu dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi, satu dokter spesialis anastesi serta satu dokter spesialis penyakit dalam, pada hari Sabtu (28/9) berpamitan dengan Direktur RS Indonesia dr. Marwan Al-Sultan dan staf lainya. “Ada banyak kasus yang kami tangani di sini, dari pagi sampai tengah malam, juga banyak kenangan yang kami lewati selama dua bulan. Semoga jika punya kesempatan, kami akan ke sini lagi insya allah,” kata Ketua TIM EMT 5 dr. Dany K Ramdhan, SpBS. “Kami mohon maaf jika kami memiliki kesalahan. Kami mencintai kalian semua, semoga kita bertemu lagi dilain waktu,” tambahnya. Direktur RS Indonesia dr. Marwan Al-Sultan dalam kesempatan itu juga mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kerja yang dilakukan oleh TIM EMT 5. “Terima kasih banyak atas bantuan dan kerja kalian, apa yang kalian lakukan ini sangat luar biasa. kalian telah melakukan banyak hal untuk kami dan menjadi bagian dari kami, karena tim kalian adalah yang terlama bertugas di sini,” kata dr. Marwan. “Tidak ada kalimat yang bisa menggambarkan kerja kalian saat ini. Perasaan saya campur aduk. Waktu berlalu sangat cepat seperti baru kemarin kami menyambut kalian dan sekarang kita harus berpisah,” tuturnya. Ia menyampaikan, RS Indonesia masih memerlukan dukungan yang berkelanjutan dari MER-C untuk mengirimkan tim medis. Setelah berpamitan, keempat relawan kemudian bertolak ke Gaza City menuju Deir Al Balah dan bergabung dengan konvoi WHO menuju Yordania untuk kemudan kembali ke Indonesia. Saat ini, MER-C sedang mempersiapkan keberangkatan TIM EMT ke-6 untuk melanjutkan tugas di Jalur Gaza.

MER-C Mulai Renovasi Wisma dr. Jose Rizal Jurnalis di Jalur Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mulai melakukan renovasi Wisma Indonesia dr. Joserizal Jurnalis di Jalur Gaza, yang ikut terdampak saat penjajah menyerang Rumah Sakit Indonesia. Tim Engineer MER-C yang sebelumnya bertugas di selatan pada awal September bergerak menuju utara dan berhasil masuk kembali ke RS Indonesia setelah sempat tertahan selama satu hari. Tim kemudian melakukan pengecekan kerusakan secara detail dari yang besar hingga kecil, baik di dalam maupun di luar bangunan untuk menentukan rencana perbaikannya. Renovasi dilakukan Tim Engineer MER-C di Gaza setelah penyusunan rencana anggaran dan rencana kerja kemudian berkoordinasi dengan MER-C Pusat di Jakarta. Segera setelah menerima konfirmasi persetujun, Tim bergerak mencari lokasi-lokasi yang masih tersedia bahan bagunan dan material.  Relawan MER-C di Jalur Gaza Edy Wahyudi mengatakan, kondisi perang yang belum juga berhenti dan langkanya bahan yang dicari mengakibatkan harga naik hingga 10 kali lipat dari harga normal. Tapi itu adalah sebuah pilihan pahit yag harus diputuskan untuk tetap dibeli. Ia mengatkan, saat ini banyak penduduk Gaza Utara yang evakuasi ke selatan dan banyak pula yang syahid sementara untuk mendatangkan relawan pembangunan dari Indonesia masih belum memungkinkan. Maka MER-C mencari tenaga kerja yang tersisa di sekitar RS Indonesia dengan tetap melalui seleksi dalam prinsip keahlian yang dimiliki.  “Kini Wisma dr. Joserizal Jurnalis sudah siap menerima kembali para relawan MER-C baik medis maupun non-medis untuk beraktivitas dan beristirihat di dalamnya. Kebersihan insyaa Allah sudah terkondisikan mulai dari lantai satu hingga atap berkat para relawan yang saat ini bertugas di Wisma bekerja keras mencuci seluruh peralatan tidur siang dan malam,” kata Edy. “Kenyamanan beraktivitas juga sudah dilengkapi penerangan dan internet yang aktif insyaa Allah 24 jam bila tidak ada gannguan,” tambahnya. Wisma dr. Joserizal Jurnalis menjadi saksi saat RS Indonesia diserang dan sempat diduduki tantara penjajah Israel sebanyak dua kali, hingga meninggalkan banyak kerusakan di Wisma tersebut.  Edy mengungkap, di luar bangunan Wisma banyak tumpukan reruntuhan dari bangunan lain, bangkai-bangkai kendaraan yang hacur saat perang terjadi, area depan dan samping termasuk pagarnya semua hancur.  “Dinding depan Wisma juga dirobohkan mungkin untuk jalan masuk tantara ke dalam Wisma. Hampir seluruh jendela kaca pecah bahkan bingkainya terlepas. Sementara atap Wisma yang sudah kami cek, ada sekitar 120 buah genteng yang perlu diganti,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, instalasi plambing atau jalur air sebagian rusak termasuk torent air di atap wisma bolong-bolong terkena serpihan bom. Instalasi listrik pun ikut berantakan akibat plafon yang hampir seluruhnya ambruk akibat getaran-getaran bom yang dijatuhkan pesawat dan artileri tank Israel di sekitar RS Indonesia.  Untuk kerapihan dokumen pembangunan dan pengadaan peralatan, Edy mengungkap masih memerlukan waktu cukup panjang untuk menyeleksi dan menata kembali.  “Bisa terbayang dokumen mulai dari tahun 2011 hingga saat ini tahun 2024,” tuturnya.  Edy juga mengunggkap hal menarik saat proses renovasi berlangsung, di mana ia menemukan Al Quran di tiang tempat membaca dalam kondisi masih terbuka dengan baik padahal di sekelilingnya hancur berantakan diacak-acak. Berbagai peralatan elektronik, peralatan kantor bahkan peralatan dapur dilempar keluar dan berserakkan di luar Wisma.

Relawan MER-C Jadi Pembicara di MICOHEDMED 2024

Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Cabang Medan dr. Ahmad Handayani Sp.JP menjadi pembicara dalam Malikussaleh International Conference on Helath and Disaster Medicane (MICHOHEDMED) 2024, yang digelar pada 17-19 September 2024. Konferensi MICOHEDMED merupakan kegiatan dua tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh, Aceh. Tema besar konferensi tahun ini adalah “Improving Preparedness and Response in Emergency Care”. Konferensi yang digelar secara daring ini menghadirkan pembicara dari berbagai negara yaitu Prof. Yi-Hsuan Lee dari Taiwan, Prof. Mehmet Sever dari Turkiye, Nelson Tsuno, Ph.D, dari Jepang, Dr. Wittawat Wattanasiriporn dari Thailand, dr. Radi Muharris Mulyana, Sp. OT (K), Sp.EM, dr. Adirizka, Sp.B (K) Onk, serta dr. Ahmad Handayani, Sp.JP dari Indonesia. Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh mengundang MER-C sebagai pembicara karena  menilai sebagai sebuah lembaga kemanusiaan internasional, MER-C memiliki pengalaman dan kontribusi signifikan dalam penanganan kegawatdaruratan medis di daerah konflik maupun daerah terdampak bencana. Dr. Yani dalam kesempatan itu menyampaikan materi mengenai “Peran Lembaga Kemanusiaan dalam Penanganan Kegawatdaruratan Medis di Daerah Konflik atau Terdampak Bencana.” Ketua MER-C Cabang Medan Periode 2012-2018 itu mengatakan bahwa pada beberapa kondisi dapat terjadi korban, MER-C mengenali ini sebagai kelompok orang-orang yang the most neglected and vulnerable people di mana kondisi ini termasuk diantaranya adalah korban bencana alam, korban perang atau konflik, korban kebijakan pembangunan yang berdampak pada kesehatan pada orang-orang lemah, dan penduduk dunia tanpa kewarganegaraan.  Menurutnya, organisasi kemanusian memiliki peranan penting untuk menolong kelompok ini. Dan ciri khas MER-C dalam menjalankan misinya yaitu sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi.

MER-C dan Kitabisa Lakukan Kerja Sama Pengadaan Kendaraan untuk RS Indonesia

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan Kitabisa melakukan kerja sama pengadaan kendaraan untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara dan resmi diserahkan pada 10 September 2024. RS Indonesia sendiri telah beroperasi kembali sejak 1 Juni, setelah diserang penjajah pada November 2023 dan sempat diduduki tentara penjajah selama dua pekan. Meski pengoperasian masih secara terbatas, RS Indonesia terus berupaya memberikan pelayanan terbaik.  “Diantara pelayanan yang diperlukan adalah untuk menjemput dan mengantar pulang sebagian besar tenaga medis dan non-medis ke RS Indonesia sehingga diperlukan pengadaan sebuah bis sebagai sarana transportasi. MER-C bersama Kitabisa berinisiasi untuk memberikan bantuan sebuah bis dengan kapasitas 20 tempat duduk,” kata Relawan MER-C di Jalur Gaza, Edy Wahyudi, Kamis (19/9). Edy mengatakan, kondisi RS Indonesia yang sempat diduduki dan beberapa kali diserang pasukan penjajah saat ini masih menyisakan bangkai-bangkai kendaraan yang terbakar, hancur dan rusak. Relawan MER-C yang bertugas di Jalur Gaza juga banyak mengalami kendala dalam situasi perang yang masih terus berlangsung. Mulai dari terbatasnya lokasi yang dapat dikunjungi, harga yang jauh lebih mahal dari situasi normal hingga suku cadang kendaraan yang langka. Hal ini juga mempersulit pencarian bis untuk RS Indonesia. Namun Edy mengungkap, setelah melakukan survei beberapa pekan dari beberapa alternatif jenis bis dan dengan variasi harganya, ia dapat menemukan bis yang sesuai. Tak hanya sulit dalam proses mencari, perjalanan membawa bis dari Gaza Tengah ke RS Indonesia di Gaza Utara juga tidak mudah. Relawan MER-C bersama konvoi WHO harus menempuh waktu hingga dua hari untuk tiba di sana karena beberapa kali status “Green Light” dibatalkan. “Perjalanannya sangat berat karena sebagian besar jalan dirusak dan jembatan diruntuhkan oleh penjajah. Insiden lain juga kami alami saat melewati suatu kawasan, di mana ada seorang yang melemparkan batu ke sisi kanan sebuah jendela hingga hancur berkeping-keping,” ujar Edy. “Setelah perjalanan panjang, akhirnya Relawan MER-C dan konvoi WHO dapat tiba dengan selamat di RS Indonesia dan disambut gembira oleh staf Rumah Sakit dan warga Gaza,” tambahnya. Direktur RS Indonesia dr. Marwan Al-Sultan menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan bis dari rakyat Indonesia yang diberikan melalui MER-C dan Kitabisa ini. “Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik kepada MER-C, Kitabisa dan seluruh rakyat Indonesia,” kata dr. Marwan. “Setiap putaran roda menjadi balasan kebaikan dan setiap debu yang menempel akan menjadi saksi dan tameng di hari akhir, insyaa Allah menjadi jariyah yang terus mengalir bagi para donatur,” ujarnya.

Silahkan bertanya?