Dua Relawan MER-C Kembali Berhasil Masuk Gaza, Langsung Bertugas di RS An-Nasser

Dua relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) ke-4 kembali berhasil masuk Jalur Gaza dan langsung bertugas membantu tim medis di Rumah Sakit An-Nasser. Dokter Spesialis Bedah Umum Faradina Sulistiyani dan Dokter Anestesi Dede Subrata masuk melalui perbatasan Karem Abu Salem dan tiba di Guest House MER-C di wilayah Al-Mawasi, Gaza Selatan, pada hari Jumat (24/5/2024) pukul 16.00 waktu setempat. Dr. Faradina mengatakan, hari Sabtu mereka bertemu dengan Koordinator untuk NGO yang bertugas di Jalur Gaza membahas terkait penempatan medical staf EMT di medical point yang ditunjuk. Selanjutnya hari Minggu relawan bertemu General Manajer RS An-Nasser untuk meninjau lokasi dan melakukan orientasi. Keduanya mulai bertugas sejak Senin (27/5) di RS An-Nasser di Khan Younis, yang baru sepekan kembali beroperasi setalah sebelumnya berhenti akibat serangan Israel. Tim EMT MER-C ke-4 sempat tertunda masuk ke Jalur Gaza akibat invasi Israel ke Rafah, Gaza Selatan. Invasi juga mengakibatkan TIM 3 tertunda keluar dari Jalur Gaza. Namun kini WHO dan UNOCHA telah dapat memfasilitasi pergerakan keluar dan masuk relawan meski dengan jumlah terbatas. Dengan masuknya dua relawan dari Tim EMT MER-C ke-4 dan telah keluarnya total enam relawan dari Tim EMT MER-C ke-3 dari Jalur Gaza, maka saat ini ada 8 relawan MER-C yang masih bertugas di Jalur Gaza.
Tujuh Relawan MER-C Ikut Konferensi Kemanusiaan Internasional di Kuala Lumpur

Tujuh relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengikuti Konferensi Kemanusiaan Internasional bertajuk ‘’Humanitarian Development Nexus: Building Resilience Transforming Lives” yang digelar di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Kuala Lumpur, 27-29 Mei 2024, oleh Mercy Malaysia. Tujuh orang yang hadir yaitu Ketua Emergency Medical Team (EMT) MER-C Indonesia dr. Arief Rachman, Sp.Rad, yang menjadi pembicara dalam konferensi tersebut. Kemudian enam relawan lainya Apt. Dini Rahmawati, S.Farm. Wunandi Artia Binar Phasa, S.Farm, dr. Fahmi Anshori, Sp.OT, dr. Tonggo Meaty Fransisca, dr. Reyfal Khaidar dan Kipa Jundapri, S.Kep., Ners., M.Kep. Acara konferensi dibuka oleh Sultan Perak Darul Ridzuan, Sultan Nazrin Muizzuddin Shah bin (alm) Sultan Azzlam Muhibbuddin. Relawan MER-C Raih Juara ke-3 Poster Presentasi Terbaik Dalam konferensi ini Tim MER-C membawa lima poster presentasi terkait topik bencana di Indonesia dan konflik terkini yang terjadi di Jalur Gaza berdasarkan pengalaman langsung relawan MER-C di lapangan. Salah satu poster relawan MER-C berjudul “Profile of Desease and Injury in Primary Health Care During Gaza Conflict 2023/2024, MER-C Indonesia Experience” yang dipresentasikan oleh dr. Reyfal Khaidar, salah satu relawan yang baru kembali dari Gaza mendapat penghargaan sebagai poster terbaik ke-3. Konferensi Kemanusiaan Internasional MERCY Malaysia (MMIHC) adalah forum yang mempertemukan para aktor dan jaringan kemanusiaan dari berbagai belahan dunia dan pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Konferensi ini mempertemukan para pemikir dan praktisi kemanusiaan terkemuka dari seluruh dunia untuk membahas praktik terbaik, pembelajaran dan implikasinya terhadap orang-orang yang menjadi inti pekerjaan kemanusiaan. Edisi 2024 membahas isu-isu jauh lebih kompleks yang memerlukan perhatian, mencakup meningkatnya kerapuhan dan konflik, krisis iklim, kesehatan, keuangan dan ekonomi akibat meningkatnya risiko bencana dan tantangan pembangunan, agenda lokalisasi, serta isu-isu kemanusiaan, diplomasi, pandemi global, ilmu pengetahuan dan teknologi, sumber daya keuangan yang didedikasikan untuk bantuan kemanusiaan juga pembangunan, dan banyak lainnya.
Secara Bertahap, Relawan MER-C Kembali ke Tanah Air Usai Bertugas di Jalur Gaza

Berkoordinasi dengan WHO dan UNOCHA, Tim ke-3 EMT (Emergency Medical Teams) MER-C yang tertahan di Rafah akibat serangan darat Israel akhirnya bisa keluar. Relawan pertama berhasil keluar dari Jalur Gaza pada hari Selasa (21/5) pukul 22:15 waktu Amman Yordania dan telah tiba di tanah air pada hari ini, Jumat (24/5). Selanjutnya, satu relawan lagi berhasil keluar dari Jalur Gaza pada hari Kamis (23/5). “Kedua relawan berhasil keluar dari Jalur Gaza bersama konvoi WHO UNOCHA dengan menempuh perjalanan sekitar 7 jam dari pintu perbatasan Karem Shalom menuju Amman Yordania,” ujar Ketua EMT MER-C Indonesia, dr. Arief Rachman, SpRad yang terus memantau proses exit relawan langsung di Amman, Yordania. Pada hari ini, Jum’at (24/5), dua relawan EMT MER-C lainnya juga dijadwalkan keluar dari Jalur Gaza melalui pintu perbatasan Karem Shalom bersama konvoi WHO UNOCHA. “Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses ini. Kepada WHO, lalu kepada KBRI Amman yang turut menjemput relawan di Imigrasi King Husein Bridge Yordania,” ucap Arief. “Terima kasih juga kami sampaikan kepada teman-teman relawan dari Tim Peduli pimpinan Pak Eko Sulistio atas dukungan dan bantuannya dalam hal akomodasi serta transportasi bagi Tim EMT MER-C selama berada di Yordania,” lanjut Arief. Semua relawan yang telah berhasil keluar dari Jalur Gaza tergabung dalam Tim 3 EMT MER-C yang berhasil masuk Jalur Gaza, Palestina, sejak Senin (22/4). Saat ini, masih terdapat delapan relawan MER-C di Jalur Gaza. MER-C terus berkomunikasi dengan EMTCC WHO agar relawan yang telah menyelesaikan misi kemanusiaan di Jalur Gaza, bisa segera kembali ke tanah air.
Sebuah Serangan Udara Jatuh dekat Guest House MER-C di Gaza

Jum’at/17 Mei 2024, sekitar pukul 20.53 malam waktu Indonesia atau 16.53 waktu gaza, sebuah serangan udara menyasar sebuah bangunan rumah dekat guest house MER-C di Rafah, Gaza Selatan. Serangan terjadi ketika Tim MER-C Pusat Jakarta sedang menghubungi salah satu relawan di Gaza. Alhamdulillah semua relawan selamat dan dalam kondisi baik. Namun beberapa bagian Guest house mengalami kerusakan dampak getaran yang cukup kuat. Saat ini semua relawan sudah dievakuasi ke Guest House MER-C yang baru di daerah Almawasi. MER-C sudah berkoordinasi dengan EMTCC WHO di Gaza dan Cairo serta Kemenlu RI terkait situasi ini. Saat ini masih ada 12 relawan MER-C di Gaza yang tergabung dalam Tim EMT (Emergency Medical Teams). Rotasi tim EMT MER-C Indonesia dan semua tim EMT di bawah WHO tertunda pasca operasi militer Israel di Rafah sejak 6 Mei 2024. Upaya untuk mengeluarkan relawan yang telah selesai bertugas dari Gaza masih terus diupayakan. Sementara menunggu izin keluar Gaza, relawan medis MER-C di sana masih melakukan pelayanan medis di fasilitas kesehatan yang direkomendasikan. Mohon doa dari seluruh rakyat Indonesia untuk keselamatan para relawan.
Tertunda Keluar, Tim MER-C Tetap Bertugas Bantu Sejumlah Rumah Sakit di Rafah

Tertunda keluar akibat invasi Israel, Relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C yang saat ini masih berada di Rafah, Gaza Selatan, tetap bertugas membantu di sejumlah rumah sakit.Tertunda keluar akibat invasi Israel, Relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C yang saat ini masih berada di Rafah, Gaza Selatan, tetap bertugas membantu di sejumlah rumah sakit. Sejak Rabu (8/5), empat relawan EMT MER-C diarahkan oleh WHO untuk bertugas di Rumah Sakit Al Kuwaiti. Tim terdiri dari dokter spesialis bedah orthopedi, dokter layanan primer dan perawat. Tim MER-C bertugas bersama Tim EMT dari Mercy Malaysia yang membantu tenaga medis local memberikan pertolongan kepada para korban serangan. Selain di RS Kuwaiti, relawan EMT MER-C lainnya, yaitu dua perawat juga masih bertugas di klinik Tal Al-Sultan Primary Health Care Center. Sejak Kamis pagi (9/5), kedua relawan membantu melayani pasien dan korban luka-luka yang terus berdatangan. Sementara itu, RS An Najjar yang biasa menjadi lokasi tugas TIM EMT MER-C, saat ini sudah berhenti beroperasi. Salah satu relawan medis MER-C, Ita Muswita mengatakan, RS Kuwaiti merupakan pintu pertama pasien sehinga sejak ditugaskan mereka banyak menerima pasien korban langsung perang yang terkena bom, terutama luka bakar yang perlu dirujuk. “Alhamdulillah kami bisa bantu mereka sebelum border (perbatasan) dibuka. Atas izin Allah, kami menerima apapun bentuk takdir Allah karena memang ini yang terbaik dari Allah. Doa kan kami tetap istiqomah dalam tugas,” tuturnya. Saat ini tersisa 12 relawan MER-C di Gaza. Hari Senin/6 Mei 2024, aktifitas medis relawan MER-C sempat dihentikan imbas serangan darat Israel ke Rafah. Hal ini juga mengakibatkan pergerakan masuk dan keluar Gaza untuk semua Tim EMT dibawah koordinasi WHO ditunda, termasuk Tim EMT MER-C.
MER-C Berangkatkan Tim EMT ke-4 untuk Bertugas di Jalur Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberangkatkan Emergency Medical Team (EMT) ke-4 untuk bertugas di Jalur Gaza, Palestina. “Alhamdulillah hari ini MER-C bisa memberangkatkan Emergency Medical Team yang ke-4. Di Gaza saat ini masih bertugas Tim ke-3 yang nanti kemudian sebagian Tim ini akan bertukar dengan Tim ke-4 diperkirakan di tanggal 6,” ujar dr. Arief Rachman, salah satu anggota Presidium MER-C yang juga merupakan Ketua EMT MER-C, saat melepas keberangkatan Tim EMT ke-4 di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Jumat (3/5/2024). “Tim yang berangkat hari ini terdiri dari 7 orang, sesuai dengan kapasitas maksimal yang diminta oleh EMTCC di Kairo bahwa untuk anggota dari setiap lembaga itu 7 orang, dan dalam 7 orang yang kita kirimkan ini terdiri dari satu dokter spesialis kandungan, satu dokter spesialis bedah, satu dokter spesialis anestesi, satu dokter umum dan dua perawat,” katanya. Arief mengatakan, tidak ada kendala berarti selama pengiriman tim ke Jalur Gaza yang telah memasuki tahap ke-4 ini karena adanya skema yang dibuat oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). “Hanya mungkin yang perlu menjadi perhatian adalah, untuk pemberangkatan itu memerlukan prosedur pendaftaran. Jadi untuk entri dan exit plan-nya itu sudah harus dikirimkan 7 hari sebelum pemberangkatan. Nah itu memerlukan waktu dan di satu sisi teman-teman yang akan berangkat dari Indonesia mereka bekerja di tempat-tempat seperti klinik dan rumah sakit yang memerlukan kepastian kapan mereka akan berangkat. Ini yang kemudian biasanya menyebabkan pengiriman diundur,” ungkapnya. Selain itu, ia menambahkan situasi keamanan di Jalur Gaza secara keseluruhan terutama di Gaza Selatan, tempat banyak lembaga bantuan asing bekerja, juga menjadi pertimbangan apakah jadwal pengiriman relawan akan mengalami penundaan. “Ini yang selalu kita pantau di Indonesia melalui Liaison Officer kami yang langsung berkomunikasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina dan juga pihak WHO,” tuturnya. MER-C sejak 18 Maret 2024 terus mengirimkan bantuan Tim Medis ke Jalur Gaza, Palestina. Dengan dikirimnya Tim EMT ke-4, terhitung MER-C telah mengirimkan total 31 relawan yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat dan bidan. Saat ini Tim Medis MER-C bertugas di sejumlah rumah sakit yang masih berfungsi di Rafah, Gaza Selatan, yaitu Rumah Sakit An Najjar, Rumah Sakit Al-Helal Al-Emiraty dan Klinik Tal Al Sultan Primary Health Care Center.
Cerita Haru Relawan MER-C Bantu Persalinan di Jalur Gaza

Salah satu relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang merupakan seorang bidan dan ikut menjadi bagian dari tim medis yang berhasil memasuki Gaza beberapa waktu lalu membagikan ceritanya saat membantu persalinan di wilayah yang sedang berada di bawah blokade itu. Sebelas relawan MER-C yang telah berhasil memasuki Gaza sejak Senin (18/3/2024) lalu langsung ditempatkan dan bertugas di sejumlah rumah sakit untuk membantu warga Gaza. Relawan MER-C dibagi menjadi tiga tim yang disebar di tiga fasilitas Kesehatan di Gaza bagian Selatan yang masih beroperasi. Pembagian tim berdasarkan hasil kordinasi dengan Kementrian Kesehatan Palestina. Relawan MER-C yang merupakan seorang bidan masuk ke Tim 2, yang ditempatkan di RS Bersalin Al-Helal Al-Emirati di Rafah yang memang didedikasikan untuk perawatan pasien-pasien melahirkan. Jumlah operasi Sectio Caesaria di RS ini mencapai 15 operasi perhari. Sementara jumlah persalinan yang ditangani di RS ini mencapai 7000 kasus perbulannya. Mendapat kesempatan menjadi tim medis yang bisa masuk ke Jalur Gaza dan membantu tim medis di sana meski serangan masih terus berlangsung, ia justru merasa beruntung. Ia juga punya cerita tersendiri saat menangani persalinan bayi-bayi di Gaza. Ia menceritakan, satu waktu ia sedang dinas di delivery room, untuk menolong persalinan. Selama proses persalinan, ia berbicara dengan dokter di sana. Dokter itu mengungkapkan, pertolongan spartan selama perang membuat semua staf medis lelah. Tentu saja, sejak agresi berlangsung pada 7 Oktober, tim medis di Jalur Gaza harus bekerja selama 24 jam karena jumlah pasien yang cukup banyak. Mereka juga harus berjuang di tengah keterbatasan obat-obatan dan peralatan medis akibat blokade Israel. Untuk itu, mereka sangat membutuhkan bantuan tim medis. “Saya bilang, saya merasa sangat bersyukur bisa menolong persalinan di sini, karena saya merasa menjadi orang yang beruntung membantu lahirnya para pejuang Gaza. Mendengar jawaban saya, dokter itu terdiam,” ujarnya. “Lalu saya bilang, apalagi kamu yang sudah membantu melahirkan ratusan pejuang.” Kemudian ia hanya menjawab berkali-kali dengan “Alhamdulillah! Alhamdulillah!” Setiap anak yang lahir di Jalur Gaza tentu saja calon pejuang. Lahir di tengah agresi ini mereka sudah harus berjuang sejak di dalam kandungan. Situasi mengerikan, kekurangan kebutuhan dasar seperti air, makanan dan listrik. Setelah lahir mereka masih harus berjuang tinggal di pengungsian. “Tidak terasa, air mata saya mengalir di tengah percakapan kami saat menolong persalinan calon pejuang Gaza ini,” tuturnya. Ia lebih lanjut mengatakan bahkan sudah empat kali menolong persalinan sendirian karena banyaknya jumlah persalinan yang harus ditangani dan terbatasnya ketersediaan meja persalinan. Hal ini juga mengharuskan ibu-bu yang baru melahirkan dipulangkan kebih awal. Apabila melahirkan secara normal tiga jam sudah pulang, sedangkan jika dioperasi, sembilan jam sudah harus pulang. “Cukup sedih, kita melihat ibu-ibu yang baru melahirkan pulang ke pengungsian dengan tertunduk memegangi perutnya bersama keluarganya yang menggendong bayi. Tapi ini realita yang terjadi di Gaza dan mereka sudah terlatih. Saya juga akhirnya mengerti,” ujarnya. Selama beberapa hari bertugas di Gaza, ia mengungkapkan setiap malam Tim mendengar suara drone hingga menjelang subuh. Tak jarang mereka juga mendengar suara dentuman dan tembakan. Padahal, ledakan dan tembakan itu terjadi di Khan Younis, cukup jauh dari tempat Tim berada. Para relawan dokter dan nakes dari berbagai negara mulai masuk ke Gaza untuk membantu. EMT MER-C merupakan tim Indonesia pertama yang memberikan pertolongan medis sejak agresi 7 Oktober terjadi. Tim membantu melakukan operasi pasien trauma, layanan maternal dan layanan umum. Tim akan bekerja selama dua pekan hingga maksimal satu bulan. Pengiriman bantuan tim medis ini membutuhkan keberlanjutan program. Oleh karena itu, besar harapan Kementrian Kesehatan Gaza, Indonesia bisa mengirimkan bantuan tim medis secara berkelanjutan dengan kebutuhan dokter-doketer spesialis ortopedi traumatologi, obgyn, bedah saraf, bedah plastik, spesialis anestesi, spesialis anak, spesialis penyakit dalam dan dokter umum serta layanan bidan dan perawat. Apa saja yang kita punya amat sangat dibutuhkan oleh warga Palestina di Gaza saat ini. Bantuan medis dari Indonesia bagaikan oase persaudaraan Indonesia-Palestina
Tim Medis ke-3 MER-C kembali Berhasil Memasuki Jalur Gaza

Tim Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang tergabung dalam Emergency Medical Teams (EMT) ke-3 bersama rombongan WHO lainnya kembali berhasil memasuki Jalur Gaza, Palestina, pada Senin (22/4/2024). Tim EMT ke-3 MER-C berjumlah sembilan orang relawan, terdiri dari lima dokter dan empat perawat. Kelima dokter tersebut adalah; satu Dokter Spesialis Anak (Neonatologi), satu Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi, PD HCHM, Hand Microsurgery and Upper Limb Surgery Fellow Consultan, satu Dokter Spesialis Bedah Orthopedi dan Traumatologi, satu Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer (KKLP) serta satu Dokter Umum. Tim EMT ke-3 berangkat dari Jakarta ke Kairo pada Jumat (19/4/2024). Tiba di Kairo hari Sabtu, Tim langsung membeli alat-alat operasi bedah orthopedi dan bedah plastik yang sudah dipesan sebelumnya serta alat-alat medis lainnya, sejumlah bahan medis habis pakai, obat-obatan dan beberapa keperluan yang dibutuhkan selama bertugas di Jalur Gaza. Pada Minggu (21/04/2024), Tim mengikuti security briefing yang diadakan EMTCC (Emergency Medical Teams Coordination Cell) WHO di Kairo untuk teknis konvoi perjalanan darat dari Kairo ke Jalur Gaza. Tim Medis MER-C berjumlah 11 orang pertama kali berhasil memasuki Jalur Gaza pada Senin (18/03/2024). Kemudian MER-C kembali mengirimkan Tim ke-2 yang terdiri dari empat relawan, yaitu satu dokter umum, dua perawat dan satu liaison officer, yang berhasil masuk ke Gaza hari Rabu (03/04/2024).
Relawan Medis MER-C Bertugas di Tengah Keterbatasan di RS An Najjar Rafah

Relawan Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang bertugas di Rumah Sakit An Najjar di Rafah, Gaza Selatan, harus berjuang di tengah keterbatasan fasilitas dan obat-obatan. Tidak ada lagi tempat di IGD untuk menangani pasien. Jadi tindakan terpaksa dilakukan di kursi-kursi yang ada di sekitar ruang IGD. Tempat tidur yang tersedia sudah penuh. Menjadi salah satu dari empat rumah sakit yang masih berfungsi di Gaza Selatan, RS An Najar menerima 1000 hingga 2000 pasien per harinya. Salah satu relawan MER-C yang bertugas di Rumah Sakit tersebut mengatakan, ia bisa melakukan tindakan penjahitan kepada 30-40 pasien per harinya atau bahkan lebih jika sedang terjadi serangan. “Tantangan paling sulit karena lokasinya terbatas dan ada pasien yang cukup banyak. Di ruang ini hanya ada satu tempat tidur, yang bisa kami gunakan untuk 2-3 orang sekaligus. Kebutuhan medis juga tidak full di suplay hanya beberapa poin yang dipenuhi,” ujarnya. Relawan MER-C mengungkap, di RS An Najjar mereka menangani banyak pasien kelelahan, beberapa pasien yang mengalami infeksi saat di pengungsian, demam serta pasien luka. Pasien didominasi oleh anak-anak. Menariknya, saat Relawan MER-C melakukan peliputan langsung salah satu anak yang mengalami luka di kepalanya terus membaca ayat suci Al Quran selama dokter melakukan penanganan. 11 relawan MER-C berhasil memasuki Gaza sejak Senin (18/3/2024) lalu dan langsung bergabung dengan sejumlah rumah sakit untuk membantu warga Gaza. Berdasarkan hasil kordinasi dengan Kementrian Kesehatan Palestina Relawan Medis MER-C dibagi menjadi tiga tim. Tim 1 terdiri dari dokter bedah ditempatkan di An-Najar Hospital di Rafah yang diperuntukkan melayani pasien-pasien bedah dan trauma. Tim 2 terdiri dari bidan ditempatkan di Emiraty Hospital di Rafah yang didedikasikan untuk perawatan pasien ibu dan anak. Sedangkan Tim 3, Primary Care Team, ditempatkan di Tal Al-Sultan Primary Health Clinic di Rafah yang cukup besar dengan fasilitas seperti X Ray dan laboratorium. Di sini ada lima poli, satu poli spesialis anak (SpA), dua poli General Practitioner (umum) dan dua poli lain-lain.
Tak Hanya Rafah, Relawan MER-C juga Lakukan Tindakan Operasi di Gaza Tengah

Relawan Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang saat ini bertugas di Jalur Gaza, Palestina, masih terus membantu tim medis di sejumlah rumah sakit di wilayah itu. Terbaru, tidak hanya di rumah sakit yang terletak di Rafah, Gaza Selatan, Tim Medis MER-C juga melakukan tindakan operasi di Rumah Sakit Syuhada Al Aqsa yang berada di Kota Dirbalah, Gaza Tengah. Dua Relawan Medis MER-C dr. Fahmi Anshori, SpOT dan dr. Reyfal Khaidar bersama dua relawan MER-C lainya di Jalur Gaza Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan telah melakukan kunjungan ke RS Syuhada Al Aqsa untuk melakukan assessment, guna memastikan kondisi Rumah Sakit sebelum kedua dokter tersebut bertugas. Dr. Reyfal mengatakan, karena kondisi yang terbatas, ruang kebidanan yang ada di RS Syuhada Al Aqsa saat ini digunakan untuk ruang operasi. Pada kesempatan itu, dua relawan medis MER-C melakukan tindakan operasi korban fraktur tulang paha yang disebabkan oleh reruntuhan rumahnya yang hancur terkena bom.Dr. Fahmi mengatakan, ada situasi berbeda saat bertugas di Gaza Tengah di mana suara ledakan lebih sering terdengar dibandingkan di Gaza Selatan, yang sekarang memang menjadi satu-satunya wilayah aman serta memungkinkan bagi tim medis untuk bertugas. “Kalau di Gaza Selatan itu kita mendengar ledakan bom setiap jam, kalau di Gaza Tengah ini setiap menit. Ini cukup mendebarkan tapi Alhamdulillah Allah masih menjaga kita,” ujarnya. Ia mengungkap, untuk alasan keamanan WHO melarang Tim melakukan perjalanan saat malam hari dan menginap di Rumah Sakit, sehingga operasi yang dilakukan masih terbatas dan tim harus segera kembali ke Gaza Selatan sebelum matahari tenggelam. Dr. Fahmi menyerukan kepada dokter maupun relawan yang ingin membantu warga Gaza secara langsung untuk bisa melalui MER-C. Saat ini tim medis di Jalur Gaza sangat membutuhkan bantuan. 11 Relawan Medis MER-C berhasil memasuki Gaza pertama kali pada Senin (18/3/2024). Tim ke-2 sebanyak empat orang relawan menyusul masuk ke Jalur Gaza pada tanggal 3 April 2024. MER-C secara berkelanjutan terus mengirimkan relawanya untuk bertugas di Jalur Gaza yang tergabung dalam Emergency Medical Teams (EMT).