MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

GMJ Konvoi Darat Tiba di Yordania

Jordan Rabu (28/03), dari KBRI Beirut, sebanyak 24 orang Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia langsung menuju bandara internasional Rafic Hariri Beirut Libanon untuk mengejar jadwal penerbangan ke Amman Yordania pada pukul 22.15. Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, Tim Konvoi darat GMJ Indonesia tiba di Bandara Internasional Queen Alia Amman Yordania pada pukul 23.10 waktu setempat. Di bandara Amman, Tim Konvoi Darat dijemput oleh Tim GMJ Indonesia rute 2 yang sudah lebih dulu tiba di Yordania yang kemudian dibawa ke penginapan dimana delegasi Indonesia lainnya sudah menunggu. Sesampainya di penginapan, di daerah Syifa Badran, rombongan Konvoi Darat GMJ bisa beristirahat dengan tenang dan membersihkan badan setelah hampir tiga hari tidak mandi. Kamis (29/03), pagi hingga siang harinya, tim GMJ Indonesia baik rute 1 (konvoi darat) maupun rute 2 sebanyak 79 orang berkumpul untuk melakukan evaluasi kegiatan konvoi darat yang telah dilalui, membahas segala kekurangan dan keterbatasan yang  ada untuk dilakukan perbaikan pada GMJ di tahun-tahun mendatang. Usai shalat maghrib seluruh rombongan GMJ Indonesia menghadiri acara jamuan makan malam di kediaman KBRI Jordania. Selepas menikmati hidangan, diadakan acara ramah-tamah dan sambutan dari pimpinan masing-masing delegasi. Acara dibuka oleh Bapak Zainul Bahar Noor, Duta Besar RI untuk Yordania sekaligus selaku tuan rumah yang didampingi oleh istri, Ibu Rosidah. Disusul oleh Bapak Bachtiar Nasir selaku Ketua ASPAC (Asia Pasific Committee for Palestine), kemudian dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT selaku Penggagas GMJ, lalu Bapak Ferry Nur dari KISPA, Ibu Marwah Daud Ibrahim (ASPAC), Koordinator AWG (Aqsha Working Group), M. Hafidz dari DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) dan Ibuu Siti Aminah Assegaf dari VOP (Voice of Palestine). Masing-masing delegasi berkomitmen dan bersepakat bahwa rombongan dari Indonesia harus bersatu dalam satu barisan untuk acara yang akan digelar esok hari, 30 Maret 2012. Usai acara resmi ditutup, dilakukan pembicaraan antar koordinator delegasi untuk membahas masalah teknis di lapangan, termasuk memilih Koordinator Pusat untuk seluruh rombongan, yaitu Ust. Agus Sudarmaji dari AWG dan Lilik Nur Kholili dari ASPAC. Acara berakhir pukul 23.00 waktu lokal, para delegasi menuju kediaman masing-masing untuk menyiapkan acara keesokan harinya. Diperoleh informasi via SMS dari pelabuhan Beirut Lebanon bahwa tadi malam rekan-rekan delegasi GMJ dari India, Turki, Iran dan lain-lain sudah diizinkan menginjakkan kaki di Beirut dan saat ini  dalam perjalanan menuju Nabakhtiye, Beirut Selatan. Laporan dari Tim GMJ Indonesia dr. Naf’an Akhun (MER-C)

8,5 Jam Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia Tertahan di Kapal

Turki – Selasa (27/03), dini hari pukul 02.00 wib, bus yang mengangkut rombongan Konvoi darat GMJ (Global March to Jerusalem) tiba di kota Pelabuhan Mersin, pelabuhan yang terletak di wilayah pesisir selatan negara Turki. Meski demikian para penumpang masih tertidur lelap dalam bus, kecuali yang bangun untuk mencari toilet setelah menahan buang air kecil semalaman. Seluruh rombongan baru terbangun pada pukul 05.30 saat terdengar adzan subuh dari sebuah masjid terdekat.   Sebagian rombongan, termasuk saya, segera mencari arah suara adzan untuk mengikuti shalat berjamaah. Usai shalat subuh, para delegasi segera membersihkan diri walau hanya sekedar menyikat gigi di masjid bernama Haliliye (Resadiye) Camii. Masjid mungil dan cantik ini dibangun pada masa H. Mehmet Pasa Tarafindan pada tahun 1908. Diperoleh informasi bahwa pemberangkatan menuju Beirut (Libanon) ditunda karena cuaca buruk dan angin kencang, ditambah lagi pengurusan visa masuk Beirut yang belum selesai. Namun satu alasan paling mendasar adalah mewaspadai mata-mata bila perjalanan dilakukan di siang hari. Untuk sementara, seluruh rombongan sementara menunggu di Cypru Bazaar, sebuah toko di tepi pantai yang masih dalam renovasi untuk menampung bagasi para delegasi. Pukul 21 waktu lokal, kapal laut yang ditunggu-tunggu mulai kelihatan. Perlahan kapal merapat di dermaga dekat lokasi penampungan bagasi. Seluruh delegasi bersiap, mulai dilakukan pengecekan paspor dan visa masuk Beirut. Jam 23.30 waktu lokal, Emeraude Express, kapal laut yang ditumpangi seluruh delegasi mulai melaju perlahan menuju arah selatan, membelah ombak laut Mediterania dengan tujuan pelabuhan Beirut di Libanon. Rabu (28/03) pukul 07.00 pagi waktu lokal, mulai nampak bayangan gedung-gedung bertingkat kota Beirut. Emeraude Express tetap melaju dengan kecepatannya yang konstan hingga akhirnya bersandar di pelabuhan Beirut pada pukul 09.30 waktu Beirut. Di pelabuhan, para delegasi GMJ dari berbagai negara; India, Indonesia, Filipina, Malaysia, Iran, Turki dll berpikir bisa segera turun dan bergabung dengan delegasi yang lain. Tapi ternyata masih menunggu lama dengan ketidakpastian. Informasi simpang siur; belum bisa keluar dari kapal karena masih terganjal dengan masalah visa masuk Beirut. Awalnya para delegasi bersikap tenang dengan mengobrol dan bercanda di dalam kapal maupun di dek. Ada juga yang berusaha mengajak ngobrol aparat keamanan yang mondar mandir di luar kapal, walaupun tidak membuahkan hasil. Aparat bersenjata lengkap hanya diam dan memasang muka sangar. Pukul 12.00, Feroze Mithiborwala, selaku koordinator GMJ India, membawa informasi bahwa tertahannya para delegasi ternyata bukan karena masalah visa belaka, tetapi karena situasi politik Libanon dengan adanya pihak-pihak yang tidak menginginkan delegasi GMJ memasuki Libanon. Para delegasi mulai emosional, berbondong-bondong naik ke palka/atap kapal sambil meneriakkan yel-yel dan memukul-mukul atap kapal. Setelah tertahan selama kurang lebih 8,5 jam di kapal, khusus delegasi Indonesia yang berjumlah 28 orang mendapat jaminan visa dari KBRI Libanon sehingga akhirnya mendapat kemudahan untuk keluar dari kapal, dengan syarat yang digaris bawahi: delegasi Indonesia dilarang menuju Lebanon Selatan. Syarat ini bisa menjadi masalah di kemudian hari, karena delegasi Konvoi Darat GMJ Indonesia memutuskan berkampanye di dua front, yaitu front Lebanon selatan dan front Yordania. Bagi front Yordania, syarat tersebut tidak menjadi masalah karena delegasi Indonesia memasuki Beirut hanya sekedar transit, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan via udara menuju Amman, Yordania pada malam harinya. Pukul 19.30 waktu lokal, rombongan dari Indonesia menghadiri jamuan makan malam di KBRI yang diterima langsung oleh Duta Besar RI untuk Lebanon, Bpk. Dimas Samodra Rum. Usai makan malam dan shalat, rombongan segera menuju bandara Internasional Rafiq Hariri Beirut, mengejar jadwal pesawat yang akan take off pada pukul 22.15 waktu lokal. Alhamdulillah, penerbangan selama 45 menit lancar hingga mendarat di bandara Internasional Queen Alia Amman Yordania pada pukul 23.10 waktu setempat. Di bandara Amman, rombongan GMJ (yang telah bertemu dengan panitia penjemputan) langsung meluncur untuk bergabung dengan Tim GMJ Rute 2 yang sudah lebih dulu tiba di Yordania dan menunggu di penginapan. Sesampainya di penginapan, di daerah Syifa Badran (Belakang Levant Academic School), rombongan Konvoi Darat GMJ bisa beristirahat dengan tenang dan membersihkan badan setelah hampir tiga hari tidak mandi. Sampai berita ini ditulis, belum diperoleh informasi mengenai nasib delegasi GMJ dari negara lain yang kami tinggal di atas kapal dan nasib delegasi GMJ Indonesia front Libanon. Naf’an Akhun GMJ Indonesia dari MER-C

Hari ini, Rombongan Terakhir GMJ Indonesia Bertolak ke Yordania

Jakarta Hari ini, Selasa (27/03), dua rombongan terakhir GMJ (Global March to Jerusalem) Indonesia bertolak ke Amman Yordania. Rombongan pertama berjumlah 9 orang telah bertolak ke Amman Yordania pada pukul 00.40 wib dengan menggunakan Emirates Airlines. Kesembilan orang tersebut merupakan perwakilan dari beberapa lembaga seperti MER-C, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Aqsa Working Group (AWG), Front Pembela Islam (FPI), dan Forum Indonesia Muda (FIM). Rombongan langsung dipimpin oleh dr. Joserizal Jurnalis, SpOT. Rombongan kedua sebanyak 3 orang yang semuanya berasal dari Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) akan menyusul terbang ke Amman (Yordania) pada siang ini.   Untuk itu, sampai dengan saat ini total jumlah delegasi Indonesia di bawah koordinasi MER-C yang akan berkumpul di Amman Yordania untuk mengikuti gerakan masyarakat sipil dunia Global March to Jerusalem (GMJ) pada tanggal 30 Maret 2012 mendatang, berjumlah 79 orang. Sebanyak 28 orang mengikuti GMJ melalui konvoi darat (rute 1) yang telah bertolak ke Karachi (Pakistan) pada tanggal 9 Maret 2012 lalu. Sementara sisanya, sebanyak 51 orang mengikuti GMJ rute 2, dari Jakarta langsung ke Amman Yordania. Sebelum berangkat, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT mengingatkan kepada para peserta bahwa misi kali ini adalah untuk pembebasan Jerusalem dan mematahkan 4 mitos hak yang selama ini diyakini oleh zionis Israel. Keempat hak tersbeut adalah Yahudi adalah etnis terpilih untuk memimpin dunia, mereka adalah pemilik tanah Palestina yang dijanjikan, mereka berhak kembali ke tanah itu dan mereka berhak untuk melakukan serangan lebih dulu. Empat hak inilah yang harus kita patahkan karena tidak bisa berdampingan dengan norma-norma peradaban manusia, tegas dr. Joserizal pada saat briefing singkat Tim di Terminal 2D Bandara Internasional Soekarno Hatta tadi malam.

RSI Gaza Bukukan Rekor untuk Kedua Kalinya

Gaza Palestina: RS Indonesia (RSI) Gaza, kembali memecahkan rekor pengecoran terbesar yang pernah terjadi di Gaza. Beton sejumlah 500 m3 (meter cubic) yang dimuntahkan dalam satu waktu selama 8 jam proses pengecoran lantai 3 RSI pada Selasa (20/03) ini menjadikannya sebagai pengecoran terbesar yang pernah terjadi di Gaza. Jika di Indonesia atau negara lainnya, pengecoran sejumlah tersebut terbilang biasa, namun berbeda dengan Gaza, negeri yang terblokade ini belum pernah melakukan pengecoran sebesar itu.   Rekor pertama dipecahkan pada saat pengecoran lantai 2 RSI sekitar 2 bulan yang lalu, pengecoran sejumlah 484 m3 (meter cubic) berhasil dilakukan. Belum pernah sebelumnya dilakukan pengecoran sebesar ini dalam satu waktu. Awalnya para insinyur di Gaza tidak yakin bisa melakukan pengecoran ini dalam sekali waktu. Berkali-kali mereka meminta kepada Tim Insinyur MER-C yang tergabung dalam Divisi Konstruksi MER-C untuk melakukan pengecoran tidak dalam satu waktu. Banyak alasan yang mereka kemukakan, mulai dari bahan yang terbatas yang harus masuk melalui terowongan, hingga kekhawatiran akan terjadi keruntuhan ketika dicor dalam satu waktu. Tapi para relawan insinyur MER-C di Gaza menyarankan dan mengatakan bahwa hal ini sudah biasa dan insha ALLAH tidak akan terjadi masalah. Seperti kata pepatah, pengalaman merupakan guru yang terbaik, para relawan insinyur MER-C yang telah berpengalaman di bidangnya membuktikan hal itu dan Alhamdulillah tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Dengan luas hanya 365 km2 (kilometer persegi) dan kepadatan penduduk 4.400 jiwa per satu kilometer persegi, menyebabkan Gaza sangat sempit dan kekurangan lahan, sehingga banyak bangunan bertingkat. Namun umumnya bangunan di Gaza hanya berbentuk segi empat. Berbeda dengan RSI Gaza yang berbentuk segi delapan, sehingga menjadikannya sangat unik dan berbeda dari yang lain. Semoga Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina ini membawa kebaikan bagi rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di Gaza serta semakin mempererat rasa ukhuwah dan kecintaanya satu sama lain. Insha ALLAH. Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu Relawan Insinyur MER-C di Gaza

Pengecoran Lantai 3 Selesai, Progress RSI Gaza Capai 97 %

Gaza Palestina: Pekerjaan tahap I Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza Palestina mendekati akhir. Tanggal 20 Maret 2012, pengecoran lantai 3 menandai semakin dekatnya penyelesaian tahap I ini. RSI Gaza berbentuk segi delapan yang terinspirasi dari Masjid Qubbah Sakhra, di Al-Quds  ini sudah berdiri tegak di atas bumi Syam penuh berkah ini. Rasa haru dan bahagia tampak di wajah setiap relawan Indonesia. Haru karena mimpi itu menjadi nyata. Lebih dari satu tahun sebanyak 6 orang relawan MER-C Indonesia meninggalkan tanah air, meninggalkan pekerjaan dan keluarga untuk menunaikan amanah di pundak mereka. Dengan izin-NYA semata, para relawan bisa mengatasi berbagai masalah yang ada satu persatu.   Waktu berlalu terasa begitu cepat, sejak ide ini dilontarkan sekitar 3 tahun yang lalu tidak terbayang akan menjadi kenyataan. Terlebih lagi rakyat Indonesia, yang memberikan dukunagn penuh terhadap pembangunan RSI Gaza, dengan menyumbangkan rupiah demi rupiah untuk saudaranya di Gaza Palestina. Walaupun terkadang mereka sendiri membutuhkan bantuan, tapi kecintaan mereka terhadap sesama, kecintaan mereka mendahulukan kepentingan yang paling membutuhkan menjadikanya sebuah kekuatan yang begitu dahsyat. Jika rakyat sudah bersatu padu maka rintangan apapun akan mudah dihadapi dengan izin-NYA. Dengan dibangunnya RSI ini, nama Indonesia pun sudah begitu menggema di setiap sudut kota Gaza. Jika rakyat Gaza bicara tentang Indonesia, maka akan teringat dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Begitu juga ketika bicara tentang muslimin maka akan teringat Indonesia yang mempunyai penduduk muslim terbesar di dunia. Setiap rakyat Gaza yang bertemu relawan menyatakan terima kasihnya kepada rakyat Indonesia dan mendoakan semoga program ini menjadi sebuah amal kebaikan. Bangunan RSI ini merupakan bangunan pertama di Gaza yang dibangun dari nol sejak agresi Israel ke Gaza 2008-2009 yang lalu. Bentuknya yang unik, desainnya yang sangat asing membuat bangunan RSI ini menjadi bangunan terunik di Gaza. Tidak pernah ada bangunan seperti ini sebelumnya di Gaza, bahkan setiap orang yang datang melihat terheran-heran, hingga para insinyur di Gaza pun heran melihat disain seperti ini. Bangunan apa ini? Kokoh sekali? Bagaimana mereka membuatnya? Tidak ada bangunan seperti ini sebelumnya di Gaza? tanya mereka penuh keheranan. Pengecoran 500 m3 Lantai 3 RSI Gaza Hanya 8 Jam Setelah melakukan supervisi terhadap seluruh pekerjaan lantai 3, mulai dari pekerjaan shuttering, pembesian hingga kebersihan selama kurang lebih 1 bulan penuh akhirnya dilakukan pengecoran lantai terakhir RSI Gaza. Persiapan pekerjaan pengecoran dilakukan sejak pukul 03.00 dini hari waktu Gaza. Pukul 02.00 dini hari para relawan yang berada di Posko MER-C Gaza City telah bersiap berangkat ke lokasi RSI di Bayt Lahiya Gaza Utara, tiba di lokasi sekitar pukul 02.50 waktu Gaza, Nampak para kerja sudah mulai bersiap-siap melakukan pengecoran, pengecekan terakhir dan beberapa persiapan segera dilaksanakan, Tidak butuh waktu lama, sekitar pukul 04.10 waktu Gaza pengecoran dimulai. Dengan menggunakan 2 concrete pump dan puluhan pekerja, pengecoran pun dimulai. Seluruh relawan berkumpul dan mengawasi bersama-sama proses pengecoran ini. Tiga orang relawan insinyur dari Indonesia ditambah dua orang insinyur lokal Gaza mengawasi berjalannya pekerjaan, sedangkan relawan lainnya membantu tim insinyur dan mendokumentasikan pekerjaan. Ketika waktu subuh tiba, para relawan bergiliran melakukan shalat subuh untuk kemudian kembali melakukan pengawasan. Suhu udara di Gaza yang sudah mulai menghangat menambah semangat para pekerja dan relawan. Pekerja yang terdiri dari 2 grup dimana setiap grup terdiri dari 15 orang ini, dengan semangat melakukan pengecoran. Bentuknya yang segi delapan memang cukup memudahkan para pekerja, karena terdiri dari delapan panel dan setiap panel memerlukan waktu sekitar satu jam untuk dicor. Hanya dalam waktu 8 jam proses pengecoran sebesar 500 m3 ini pun selesai pada pukul 12.00 waktu Gaza. Setiap orang mengucapkan selamat dan bersyukur karena telah menyelesaikannya dengan baik tanpa kendala yang berarti. —————————– Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza – Palestina

GMJ 2012 : Aksi Damai Pembebasan Palestina Terus Digelar di Pakistan

Karachi – Hari ini, Selasa, 13 Maret 2013, pukul 15 waktu lokal, peserta GMJ Indonesia, Filipina, Malaysia, India dan Pakistan melakukan aksi damai untuk pembebasan Palestina di Quaid e Aazam Muhammad Ali Jinnah tomb (Makam Muh ali Jinnah, Pendiri Negara Pakistan). Acara dihadiri oleh Duta Besar Palestina untuk Pakistan, Mr. Hazim Abu Shannab, Hussain Mehenti dari Jamaat Islami Karachi, Mulana Sadiq Raja Taqui dan Mulana Raja Nasir Abbas dari Majlis-e-Wahdat-e-Muslimeen Pakistan.    Orasi yang dilakukan di pintu gerbang makam diawali oleh Mr. Hazim Abu Shannab, kemudian Mulana Raja Nasir Abbas, Asad Ullaa Bautoo dari Jamaat Islami. Setelah orasi selesai para delegasi memasuki kawasan makam sambil berbaris serta meneriakkan yel yel. Memasuki lokasi makam, acara berlangsung khidmat. Seorang perwakilan delegasi meletakkan karangan bunga di pagar makam. Setelah itu acara selesai, diakhiri dengan pembacaan doa. Sore hari rombongan bergerak menuju markas Majlis-e-Wahdat-e-Muslimeen Pakistan menghadiri undangan ramah tamah. Pukul 21 waktu setempat, rombongan bergerak kembali ke basecamp untuk beristirahat karena keesokan harinya peserta dijadwalkan berangkat menuju Quetta, salah satu kota eksotik di Pakistan. Labbaik..labbaik¦Al Quds¦Al Quds¦  Dr. Nafan Akhun Relawan Medis MER-C

Peserta GMJ Bertambah dari India

Karachi Pagi ini, 12 Maret 2012, delegasi dari India mulai berdatangan sebanyak 12 orang dari berbagai kota, suku dan agama dengan pakaian dan atribut seperti yang biasa kita lihat di film-film India. Kami langsung membaur dan segera akrab karena disatukan oleh satu misi dan tujuan, yaitu membebaskan Jerusalem dengan aksi damai.   Menginjak siang, mendadak peserta GMJ kedatangan tamu dari Duta Besar Palestina untuk Pakistan, Mr. Hazim Abu Shannab yang mengunjungi basecamp GMJ di PILER CENTER. Ramah tamah dilakukan di Ruang Auditorium yang diisi dengan sambutan dari tiap wakil delegasi dan dari pihak Dubes. Berikut sambutan dari Dubes Palestina untuk Pakistan: Terima kasih untuk kedatangan dan usaha anda yang luar biasa. Terima kasih untuk orang-orang anda, negara anda, dan kesadaran anda terhadap apa yang menimpa Palestina. Saya adalah seorang Duta Besar tetapi saya juga adalah pengungsi. Kakek, ayah dan anak laki-laki saya adalah pengungsi. Dengan dukungan dari anda, saya harap cucu saya tidak akan menjadi pengungsi. Kami ingin pulang, kami ingin kembali ke Palestina. Kami senang tinggal dimanapun, tapi kami merasakan kehausan dan kelaparan untuk kembali ke Palestina. Mungkin kami tidak punya uang untuk gerakan ini, tapi kami siap untuk menanggung tanggungjawab tidak hanya politik tapi juga jika anda butuh badan kami untuk jadi jembatan menuju Palestina, KAMI SIAP. Siapapun kita, kita punya hak untuk pergi kemanapun. Palestina adalah bagian dari dunia ini. Masjidil Aqsha adalah tempat yang sangat penting untuk orang Islam, tetapi di sana bahkan sholat Jumat saja tidak boleh melebihi 2 shaf. Orang Palestina tidak boleh masuk ke sana, berapapun usianya. Saya percaya bahwa Jerussalem adalah untuk semua orang, bukan hanya untuk satu kelompok orang. Saya mengapresiasi adanya gerakan ini yang akan menyuarakan bahwa Palestina adalah untuk semua orang dan orang Palestina harus kembali pulang dengan damai. Kami ingin semua orang hidup. Kami tidak ingin membunuh siapapun. Menjelang pukul 15 sore waktu setempat, seluruh tim GMJ bergerak ke Karachi Press Club yang berada di pusat kota Karachi untuk mengadakan konferensi pers. Karachi Press Club merupakan markas persatuan jurnalis Pakistan di karachi. Menurut Mustafa, salah seorang anggota GMJ Pakistan, di lingkungan Karachi Press Club terdapat toko kebutuhan pokok yang disediakan khusus untuk para jurnalis dengan harga super murah untuk menjamin kesejahteraan jurnalis, ini demi perkembangan pers di Pakistan. Selepas konferensi press, kami jalan-jalan sejenak di keramaian kota Karachi sembari menunggu jadwal undangan makan malam di kantor Jamaat Islami Karachi Pakistan. Setelah Isya, dimulai acara ramah tamah di markas Jamaat Islami Pakistan yang dihadiri juga dari perwakilan partai dari Pakistan dan perwakilan ekspatriat Saudi Arabia. Berikut kutipan dari masing-masing pembicara: Ketua World Moslem Congress Pakistan: Sejarah menunjukkan bahwa selama masa kekuasaan Islam, siapapun penguasanya, tidak ada darah yang tertumpah di Palestina. Tahun 1987, PBB dibawah kendali Amerika Serikat, memutuskan bahwa Israel juga berhak atas tanah Palestina. Dan sejak saat itu banyak tragedi berdarah terjadi. Contoh : Des 2008 Jan 2009 (bombardir Israel di Gaza), Mavi Marmara, bahkan Ismail Haniya yang hendak pergi ke Mesir untuk meminta bantuan dilarang oleh Israel. Konflik ini tidak dibatasi oleh muslim atau bukan. Ini adalah masalah kemanusiaan. Saya ucapkan selamat untuk para delegasi untuk persatuan dan dedikasinya. Saya doakan semoga anda sukses. Suatu saat akan tiba hari dimana Palestina merdeka. Kepercayaan bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjkan adalah mitos yang terus didengung-dengungkan Amerika dan Israel. Palestina bukannya sekedar tanah tanpa tuan, tapi para zionis itulah yang orang-orang tanpa (memiliki) tanah. Founding father Pakistan, Muhammad Ali Jinnah, pernah berkata pada Mufti Palestina : Jangan takut menghadapi Israel, orang-orang Pakistan ada di belakangmu. Perwakilan ekspatriat Saudi Arabia : Saudi Arabia (mungkin) tidak bisa bergabung bersama Anda, para delegasi GMJ secara fisik. Tetapi mereka selalu berdoa untuk anda, untuk kesuksesan anda, untuk keamanan anda. Untuk Jamaat Islami dan rakyat Pakistan, saya mengucapkan terimakasih atas dukungannya pada orang-orang ini (Delegasi GMJ -red), mereka (delegasi GMJ) meninggalkan rumahnya, anak-anaknya, keluarganya, tanah airnya, tanpa tahu apakah mereka bisa kembali atau tidak. Untuk itu,saya mengucapkan banyak terimakasih.

Aksi Kampanye Damai GMJ di Karachi

Karachi – Hari ini (11/3) jadwal GMJ mengadakan aksi kampanye damai di pusat keramaian kota Karachi, Pakistan. Tempat yang dipilih adalah Sea View, sebuah jalan ditepi pantai yang ramai pengunjung dan lalu lintas. Tujuan aksi adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa ada kepedulian dari berbagai negara terhadap kondisi Palestina yang masih dijajah oleh Israel.   Aksi yang dimulai pukul 15.00 waktu setempat ini berhasil menyedot perhatian publik, baik pejalan kaki maupun pengendara walaupun tidak sampai menimbulkan kemacetan. Berbagai media lokal juga datang untuk meliput aksi, diantaranya; Geo News, Saama News, ARY News, Express News, Dawn News, Huriyat New, Shiite New, Metro New Pakistan, TVone New Pakistan. Orasi oleh masing-masing delegasi, dari GMJ Indonesia, GMJ Filipina, GMJ Malaysia, Nazim Jamaat Islami Karachi Hussain Mehenti yang menyempatkan diri untuk hadir, PSF (Pakistan Student Foundation), ATI (Anjuman-e-Talba-e-Islam dan dari PLF (Palistinian Foundation) Pakistan selaku koordinator GMJ Pakistan dan Koordinator aksi hari ini. Aksi dilakukan dengan pawai berjalan kaki sejauh kira-kira 1 km dan berakhir hingga menjelang matahari terbenam.

Krisis BBM dan Listrik, membuat Gaza makin terpuruk

Gaza – Ketika disebut Gaza atau Palestina tentu terbayang oleh kita bagaimana banyak kekejaman Zionist Israel terjadi. Gaza, derita penduduknya seolah tiada henti, setelah diblokade secara illegal oleh Israel selama 2 tahun, dilanjutkan dengan bombardir selama 22 hari oleh Zionist Israel terhadap gaza, dan blockade terus berlanjut hingga kini, bahkan kian hari terasa semakin buruk serta menambah penderitaan rakyatnya Sebagai relawan yang telah tinggal sekitar satu tahun lebih di Gaza, untuk mengawal pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Kami benar-benar merasakan rasanya bagaimana hidup terblokade dari dunia luar. Berbagai krisis melanda, berbagai permasalahan datang seolah tiada henti-hentinya mendera rakyat Gaza.   Saat ini ada dua krisis utama yang terjadi di Gaza, krisis BBM dan krisis listrik. Krisis ini sangat sering terjadi di Gaza sehingga menimbulkan efek berantai terhadap sisi kehidupan rakyat Gaza. Ketergantungan terhadap bahan bakar sebagai penggerak roda kehidupan rakyat sangat tinggi. Dalam 2 minggu terakhir, kelangkaan BBM semakin parah, antrian-antrian kendaraan di depot pengisian BBM semakin mengular. Berjam-jam mengantri namun ketika tiba didekat pom bensin, maka bbm yang dibutuhkan telah habis. Ini yang dialami oleh tim Mer-c gaza, saat mengantri di sebuah depot pengisian bbm, ikut mengantri bersama penduduk Gaza dan ketika berjarak sekitar 2-3 mobil, BBM habis dan depot pun seketika tutup. Krisis listrik pun tak kalah menyebabkan penderitaan yang berat, tahun 2010 saat pertama kali kami datang ke gaza, pemadaman listrik terjadi setiap delapan jam dalam artian delapan jam hidup dan delapan jam mati, begitu seterusnya. Kejadian ini berlanjut setiap hari di Gaza. Namun kini krisis listrik bertambah parah, seiiring langkanya BBM maka listrik pun menjadi langka, sehingga membuat Gaza dalam gelap gulita. Kebutuhan 2/3 listrik di Gaza yang disuplay dari satu satunya generator di Gaza telah berhenti beroperasi pada hari selasa yang lalu, dikarenakan terbatasnya BBM yang ada. Dalam satu hari hanya 6 jam listrik hidup dan 18 jam mati. Dan hidupnya listrik itu hanya saat malam hari sejak pukul 06.00 sore hingga 12.00 tengah malam. Tidak terbayang bagaimana menderitanya pasien rumah sakit, terutama mereka yang berada di ruang ICU yang membutuhkan alat-alat kelistrikan untuk menyambung hidup mereka. Direktur teknik departemen kesehatan gaza, Ir. Bassam menyatakan seperti dikutip maannews, bahwa dalam satu jam kebutuhan BBM untuk menghidupkan listrik di seluruh RS di Gaza adalah 815 liter. Artinya dalam satu hari perlu sekitar 19.560 liter bbm untuk kebutuhan generator rumah sakit. Sector pendidikan pun tak luput dari krisis ini, anak-anak yang belajar dimalam hari pun akan terganggu karena tidak ada penerang akibat putusnya jaringan listrik. Pabrik-pabrik yang memproduksi roti dan makanan juga tak luput dari krisis ini, beberapa pabrik sempat kesulitan menjalankanproduksinya karena kekurangan bbm. Menurut sebuah sumber dari pusat hak asasi manusia di Pelestina, bahwa kebutuhan BBM setiap harinya untuk menghidupkan listrik di Gaza sebesar 600.000 liter. tapi sejak jumat (10/02) lalu BBM yang masuk ke Gaza melalui mesir hanya 340.000 liter, sedangkan tidak ada stok / cadangan BBM yang mencukupi di Gaza. BBM yang berasal dari terowongan antara perbatasan rafah dan mesir ini menjadi sangat terbatas, karena ada pembatasan pengiriman dari pihak mesir. Dari beberapa sumber di Gaza, pembatasan ini akibat adanya permintaan dari pihak penyuplai BBM dari mesir untuk menaikan harga bahan bakar minyak. Harga BBM di Gaza untuk jenis solar sebesar 2,5 sheqel atau setara dengan 6.250 rupiah per liter, Sedangkan untuk jenis bensin super seharga 4 sheqel atau setara 10.000 rupiah per liter. Dari harga tersebut para penyuplai BBM via terowongan menginginkan kenaikan sebesar 0.5 sheqel per liternya. Sementara pihak pemerintah setempat telah melakukan berbagai langkah dengan berkoordinasi dengan pihak otoritas pemerintah mesir agar krisis ini segara dapat teratasi. Entah sampai kapan penderitaan ini akan berakhir, semoga ALLAH Subhanahu wa Taala memberikan pertolongan, kekuatan dan kesabaran bagi rakyat Gaza, yang merupakan penjaga tanah waqaf kaum muslimin ini. (nia/gz)

RSI Gaza Capai 80 % untuk Pekerjaan Tahap Pertama

Gaza – Alhamdulillah, tak terasa pekerjaan tahap pertama pembangunan RSI Gaza hampir selesai. Minggu terakhir Januari 2012 ini insha ALLAH mencapai 80 %. Pekerjaan tahap pertama yang sudah berjalan selama 8 bulan ini telah mendekati akhir, jika tidak ada kendala berarti pekerjaan struktur akan selesai dalam dua bulan mendatang. Selesainya pembangunan RSI Gaza Tahap pertama ini memang sedikit diluar rencana. Dalam jadwal rencana seharusnya RSI Gaza selesai pada bulan Februari 2012, namun berbagai kendala yang ada di lapangan membuatnya sedikit mundur dari rencana.   Kendala-kendala tersebut antara lain terlambatnya pengadaan material, kemudian kondisi cuaca dalam dua bulan terakhir selalu turun hujan, dan beberapa item pekerjaan tambahan hingga terlambat sekitar 1 bulan. Hal ini terhitung sangat normal, karena membangun di daerah konflik memang tidak mudah. Sejak awal RS ini akan dibangun memang banyak kendala yang dihadapi, mulai dari susahnya para relawan masuk ke Gaza untuk mengawal pembangunan, susahnya mendapatkan material yang disebabkan material harus diadakan melalui terowongan, ditambah lagi kondisi keamanan di Gaza sendiri yang tidak pernah lepas dari serangan-serangan Israel. Hal ini mengakibatkan beberapa kali proses pembangunan harus dihentikan, serta berbagai kendala yang harus dihadapi. Namun, MER-C dan para relawannya berkomitmen penuh bahwa amanah ini tetap harus dikerjakan dengan cara apapun, dengan jalan apapun. Tidak ada kata menyerah untuk menyelesaikan amanah ini. Komitmen inilah yang membuat MER-C terus bergerak maju menunaikan amanah dari rakyat Indonesia. Sungguh tidak terbayang sebelumnya pekerjaan yang semula hanya mimpi ini telah mencapai progress yang begitu jauh. Dari kejauhan RSI Gaza berbentuk segi delapan seperti Qubbah Sakhra di Masjid Al-Aqsha ini sudah nampak berdiri tegak diantara bangunan-bangunan lainnya di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Letaknya yang berada didekat perbatasan Gaza dan tanah jajahan Israel membuat bangunan ini seperti sebuah benteng kokoh yang melawan arogansi dan kebiadaban Israel terhadap bangsa Palestina. Terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala dukungan yang diberikan oleh rakyat Indonesia. Rumah Sakit Indonesia di Gaza ini akan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia di dunia International. Jika Indonesia punya Masjid Istiqlal di Bosnia yang dibangun oleh Soeharto, maka  saat ini Indonesia punya Rumah Sakit yang dibangun oleh kekuatan rakyat, yang dibangun oleh rasa persatuan, rasa cinta rakyat Indonesia terhadap Palestina. Sekali lagi sejarah mencatat, jika rakyat Indonesia adalah rakyat yang  besar yang mampu berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun. Rakyat Indonesia mampu berbuat banyak demi kebanggaan bangsa di dunia international. Rakyat bersatu takkan terkalahkan.

Silahkan bertanya?