MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

GMJ 2012 : Aksi Damai Pembebasan Palestina Terus Digelar di Pakistan

Karachi – Hari ini, Selasa, 13 Maret 2013, pukul 15 waktu lokal, peserta GMJ Indonesia, Filipina, Malaysia, India dan Pakistan melakukan aksi damai untuk pembebasan Palestina di Quaid e Aazam Muhammad Ali Jinnah tomb (Makam Muh ali Jinnah, Pendiri Negara Pakistan). Acara dihadiri oleh Duta Besar Palestina untuk Pakistan, Mr. Hazim Abu Shannab, Hussain Mehenti dari Jamaat Islami Karachi, Mulana Sadiq Raja Taqui dan Mulana Raja Nasir Abbas dari Majlis-e-Wahdat-e-Muslimeen Pakistan.    Orasi yang dilakukan di pintu gerbang makam diawali oleh Mr. Hazim Abu Shannab, kemudian Mulana Raja Nasir Abbas, Asad Ullaa Bautoo dari Jamaat Islami. Setelah orasi selesai para delegasi memasuki kawasan makam sambil berbaris serta meneriakkan yel yel. Memasuki lokasi makam, acara berlangsung khidmat. Seorang perwakilan delegasi meletakkan karangan bunga di pagar makam. Setelah itu acara selesai, diakhiri dengan pembacaan doa. Sore hari rombongan bergerak menuju markas Majlis-e-Wahdat-e-Muslimeen Pakistan menghadiri undangan ramah tamah. Pukul 21 waktu setempat, rombongan bergerak kembali ke basecamp untuk beristirahat karena keesokan harinya peserta dijadwalkan berangkat menuju Quetta, salah satu kota eksotik di Pakistan. Labbaik..labbaik¦Al Quds¦Al Quds¦  Dr. Nafan Akhun Relawan Medis MER-C

Peserta GMJ Bertambah dari India

Karachi Pagi ini, 12 Maret 2012, delegasi dari India mulai berdatangan sebanyak 12 orang dari berbagai kota, suku dan agama dengan pakaian dan atribut seperti yang biasa kita lihat di film-film India. Kami langsung membaur dan segera akrab karena disatukan oleh satu misi dan tujuan, yaitu membebaskan Jerusalem dengan aksi damai.   Menginjak siang, mendadak peserta GMJ kedatangan tamu dari Duta Besar Palestina untuk Pakistan, Mr. Hazim Abu Shannab yang mengunjungi basecamp GMJ di PILER CENTER. Ramah tamah dilakukan di Ruang Auditorium yang diisi dengan sambutan dari tiap wakil delegasi dan dari pihak Dubes. Berikut sambutan dari Dubes Palestina untuk Pakistan: Terima kasih untuk kedatangan dan usaha anda yang luar biasa. Terima kasih untuk orang-orang anda, negara anda, dan kesadaran anda terhadap apa yang menimpa Palestina. Saya adalah seorang Duta Besar tetapi saya juga adalah pengungsi. Kakek, ayah dan anak laki-laki saya adalah pengungsi. Dengan dukungan dari anda, saya harap cucu saya tidak akan menjadi pengungsi. Kami ingin pulang, kami ingin kembali ke Palestina. Kami senang tinggal dimanapun, tapi kami merasakan kehausan dan kelaparan untuk kembali ke Palestina. Mungkin kami tidak punya uang untuk gerakan ini, tapi kami siap untuk menanggung tanggungjawab tidak hanya politik tapi juga jika anda butuh badan kami untuk jadi jembatan menuju Palestina, KAMI SIAP. Siapapun kita, kita punya hak untuk pergi kemanapun. Palestina adalah bagian dari dunia ini. Masjidil Aqsha adalah tempat yang sangat penting untuk orang Islam, tetapi di sana bahkan sholat Jumat saja tidak boleh melebihi 2 shaf. Orang Palestina tidak boleh masuk ke sana, berapapun usianya. Saya percaya bahwa Jerussalem adalah untuk semua orang, bukan hanya untuk satu kelompok orang. Saya mengapresiasi adanya gerakan ini yang akan menyuarakan bahwa Palestina adalah untuk semua orang dan orang Palestina harus kembali pulang dengan damai. Kami ingin semua orang hidup. Kami tidak ingin membunuh siapapun. Menjelang pukul 15 sore waktu setempat, seluruh tim GMJ bergerak ke Karachi Press Club yang berada di pusat kota Karachi untuk mengadakan konferensi pers. Karachi Press Club merupakan markas persatuan jurnalis Pakistan di karachi. Menurut Mustafa, salah seorang anggota GMJ Pakistan, di lingkungan Karachi Press Club terdapat toko kebutuhan pokok yang disediakan khusus untuk para jurnalis dengan harga super murah untuk menjamin kesejahteraan jurnalis, ini demi perkembangan pers di Pakistan. Selepas konferensi press, kami jalan-jalan sejenak di keramaian kota Karachi sembari menunggu jadwal undangan makan malam di kantor Jamaat Islami Karachi Pakistan. Setelah Isya, dimulai acara ramah tamah di markas Jamaat Islami Pakistan yang dihadiri juga dari perwakilan partai dari Pakistan dan perwakilan ekspatriat Saudi Arabia. Berikut kutipan dari masing-masing pembicara: Ketua World Moslem Congress Pakistan: Sejarah menunjukkan bahwa selama masa kekuasaan Islam, siapapun penguasanya, tidak ada darah yang tertumpah di Palestina. Tahun 1987, PBB dibawah kendali Amerika Serikat, memutuskan bahwa Israel juga berhak atas tanah Palestina. Dan sejak saat itu banyak tragedi berdarah terjadi. Contoh : Des 2008 Jan 2009 (bombardir Israel di Gaza), Mavi Marmara, bahkan Ismail Haniya yang hendak pergi ke Mesir untuk meminta bantuan dilarang oleh Israel. Konflik ini tidak dibatasi oleh muslim atau bukan. Ini adalah masalah kemanusiaan. Saya ucapkan selamat untuk para delegasi untuk persatuan dan dedikasinya. Saya doakan semoga anda sukses. Suatu saat akan tiba hari dimana Palestina merdeka. Kepercayaan bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjkan adalah mitos yang terus didengung-dengungkan Amerika dan Israel. Palestina bukannya sekedar tanah tanpa tuan, tapi para zionis itulah yang orang-orang tanpa (memiliki) tanah. Founding father Pakistan, Muhammad Ali Jinnah, pernah berkata pada Mufti Palestina : Jangan takut menghadapi Israel, orang-orang Pakistan ada di belakangmu. Perwakilan ekspatriat Saudi Arabia : Saudi Arabia (mungkin) tidak bisa bergabung bersama Anda, para delegasi GMJ secara fisik. Tetapi mereka selalu berdoa untuk anda, untuk kesuksesan anda, untuk keamanan anda. Untuk Jamaat Islami dan rakyat Pakistan, saya mengucapkan terimakasih atas dukungannya pada orang-orang ini (Delegasi GMJ -red), mereka (delegasi GMJ) meninggalkan rumahnya, anak-anaknya, keluarganya, tanah airnya, tanpa tahu apakah mereka bisa kembali atau tidak. Untuk itu,saya mengucapkan banyak terimakasih.

Aksi Kampanye Damai GMJ di Karachi

Karachi – Hari ini (11/3) jadwal GMJ mengadakan aksi kampanye damai di pusat keramaian kota Karachi, Pakistan. Tempat yang dipilih adalah Sea View, sebuah jalan ditepi pantai yang ramai pengunjung dan lalu lintas. Tujuan aksi adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa ada kepedulian dari berbagai negara terhadap kondisi Palestina yang masih dijajah oleh Israel.   Aksi yang dimulai pukul 15.00 waktu setempat ini berhasil menyedot perhatian publik, baik pejalan kaki maupun pengendara walaupun tidak sampai menimbulkan kemacetan. Berbagai media lokal juga datang untuk meliput aksi, diantaranya; Geo News, Saama News, ARY News, Express News, Dawn News, Huriyat New, Shiite New, Metro New Pakistan, TVone New Pakistan. Orasi oleh masing-masing delegasi, dari GMJ Indonesia, GMJ Filipina, GMJ Malaysia, Nazim Jamaat Islami Karachi Hussain Mehenti yang menyempatkan diri untuk hadir, PSF (Pakistan Student Foundation), ATI (Anjuman-e-Talba-e-Islam dan dari PLF (Palistinian Foundation) Pakistan selaku koordinator GMJ Pakistan dan Koordinator aksi hari ini. Aksi dilakukan dengan pawai berjalan kaki sejauh kira-kira 1 km dan berakhir hingga menjelang matahari terbenam.

Krisis BBM dan Listrik, membuat Gaza makin terpuruk

Gaza – Ketika disebut Gaza atau Palestina tentu terbayang oleh kita bagaimana banyak kekejaman Zionist Israel terjadi. Gaza, derita penduduknya seolah tiada henti, setelah diblokade secara illegal oleh Israel selama 2 tahun, dilanjutkan dengan bombardir selama 22 hari oleh Zionist Israel terhadap gaza, dan blockade terus berlanjut hingga kini, bahkan kian hari terasa semakin buruk serta menambah penderitaan rakyatnya Sebagai relawan yang telah tinggal sekitar satu tahun lebih di Gaza, untuk mengawal pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Kami benar-benar merasakan rasanya bagaimana hidup terblokade dari dunia luar. Berbagai krisis melanda, berbagai permasalahan datang seolah tiada henti-hentinya mendera rakyat Gaza.   Saat ini ada dua krisis utama yang terjadi di Gaza, krisis BBM dan krisis listrik. Krisis ini sangat sering terjadi di Gaza sehingga menimbulkan efek berantai terhadap sisi kehidupan rakyat Gaza. Ketergantungan terhadap bahan bakar sebagai penggerak roda kehidupan rakyat sangat tinggi. Dalam 2 minggu terakhir, kelangkaan BBM semakin parah, antrian-antrian kendaraan di depot pengisian BBM semakin mengular. Berjam-jam mengantri namun ketika tiba didekat pom bensin, maka bbm yang dibutuhkan telah habis. Ini yang dialami oleh tim Mer-c gaza, saat mengantri di sebuah depot pengisian bbm, ikut mengantri bersama penduduk Gaza dan ketika berjarak sekitar 2-3 mobil, BBM habis dan depot pun seketika tutup. Krisis listrik pun tak kalah menyebabkan penderitaan yang berat, tahun 2010 saat pertama kali kami datang ke gaza, pemadaman listrik terjadi setiap delapan jam dalam artian delapan jam hidup dan delapan jam mati, begitu seterusnya. Kejadian ini berlanjut setiap hari di Gaza. Namun kini krisis listrik bertambah parah, seiiring langkanya BBM maka listrik pun menjadi langka, sehingga membuat Gaza dalam gelap gulita. Kebutuhan 2/3 listrik di Gaza yang disuplay dari satu satunya generator di Gaza telah berhenti beroperasi pada hari selasa yang lalu, dikarenakan terbatasnya BBM yang ada. Dalam satu hari hanya 6 jam listrik hidup dan 18 jam mati. Dan hidupnya listrik itu hanya saat malam hari sejak pukul 06.00 sore hingga 12.00 tengah malam. Tidak terbayang bagaimana menderitanya pasien rumah sakit, terutama mereka yang berada di ruang ICU yang membutuhkan alat-alat kelistrikan untuk menyambung hidup mereka. Direktur teknik departemen kesehatan gaza, Ir. Bassam menyatakan seperti dikutip maannews, bahwa dalam satu jam kebutuhan BBM untuk menghidupkan listrik di seluruh RS di Gaza adalah 815 liter. Artinya dalam satu hari perlu sekitar 19.560 liter bbm untuk kebutuhan generator rumah sakit. Sector pendidikan pun tak luput dari krisis ini, anak-anak yang belajar dimalam hari pun akan terganggu karena tidak ada penerang akibat putusnya jaringan listrik. Pabrik-pabrik yang memproduksi roti dan makanan juga tak luput dari krisis ini, beberapa pabrik sempat kesulitan menjalankanproduksinya karena kekurangan bbm. Menurut sebuah sumber dari pusat hak asasi manusia di Pelestina, bahwa kebutuhan BBM setiap harinya untuk menghidupkan listrik di Gaza sebesar 600.000 liter. tapi sejak jumat (10/02) lalu BBM yang masuk ke Gaza melalui mesir hanya 340.000 liter, sedangkan tidak ada stok / cadangan BBM yang mencukupi di Gaza. BBM yang berasal dari terowongan antara perbatasan rafah dan mesir ini menjadi sangat terbatas, karena ada pembatasan pengiriman dari pihak mesir. Dari beberapa sumber di Gaza, pembatasan ini akibat adanya permintaan dari pihak penyuplai BBM dari mesir untuk menaikan harga bahan bakar minyak. Harga BBM di Gaza untuk jenis solar sebesar 2,5 sheqel atau setara dengan 6.250 rupiah per liter, Sedangkan untuk jenis bensin super seharga 4 sheqel atau setara 10.000 rupiah per liter. Dari harga tersebut para penyuplai BBM via terowongan menginginkan kenaikan sebesar 0.5 sheqel per liternya. Sementara pihak pemerintah setempat telah melakukan berbagai langkah dengan berkoordinasi dengan pihak otoritas pemerintah mesir agar krisis ini segara dapat teratasi. Entah sampai kapan penderitaan ini akan berakhir, semoga ALLAH Subhanahu wa Taala memberikan pertolongan, kekuatan dan kesabaran bagi rakyat Gaza, yang merupakan penjaga tanah waqaf kaum muslimin ini. (nia/gz)

RSI Gaza Capai 80 % untuk Pekerjaan Tahap Pertama

Gaza – Alhamdulillah, tak terasa pekerjaan tahap pertama pembangunan RSI Gaza hampir selesai. Minggu terakhir Januari 2012 ini insha ALLAH mencapai 80 %. Pekerjaan tahap pertama yang sudah berjalan selama 8 bulan ini telah mendekati akhir, jika tidak ada kendala berarti pekerjaan struktur akan selesai dalam dua bulan mendatang. Selesainya pembangunan RSI Gaza Tahap pertama ini memang sedikit diluar rencana. Dalam jadwal rencana seharusnya RSI Gaza selesai pada bulan Februari 2012, namun berbagai kendala yang ada di lapangan membuatnya sedikit mundur dari rencana.   Kendala-kendala tersebut antara lain terlambatnya pengadaan material, kemudian kondisi cuaca dalam dua bulan terakhir selalu turun hujan, dan beberapa item pekerjaan tambahan hingga terlambat sekitar 1 bulan. Hal ini terhitung sangat normal, karena membangun di daerah konflik memang tidak mudah. Sejak awal RS ini akan dibangun memang banyak kendala yang dihadapi, mulai dari susahnya para relawan masuk ke Gaza untuk mengawal pembangunan, susahnya mendapatkan material yang disebabkan material harus diadakan melalui terowongan, ditambah lagi kondisi keamanan di Gaza sendiri yang tidak pernah lepas dari serangan-serangan Israel. Hal ini mengakibatkan beberapa kali proses pembangunan harus dihentikan, serta berbagai kendala yang harus dihadapi. Namun, MER-C dan para relawannya berkomitmen penuh bahwa amanah ini tetap harus dikerjakan dengan cara apapun, dengan jalan apapun. Tidak ada kata menyerah untuk menyelesaikan amanah ini. Komitmen inilah yang membuat MER-C terus bergerak maju menunaikan amanah dari rakyat Indonesia. Sungguh tidak terbayang sebelumnya pekerjaan yang semula hanya mimpi ini telah mencapai progress yang begitu jauh. Dari kejauhan RSI Gaza berbentuk segi delapan seperti Qubbah Sakhra di Masjid Al-Aqsha ini sudah nampak berdiri tegak diantara bangunan-bangunan lainnya di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Letaknya yang berada didekat perbatasan Gaza dan tanah jajahan Israel membuat bangunan ini seperti sebuah benteng kokoh yang melawan arogansi dan kebiadaban Israel terhadap bangsa Palestina. Terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala dukungan yang diberikan oleh rakyat Indonesia. Rumah Sakit Indonesia di Gaza ini akan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia di dunia International. Jika Indonesia punya Masjid Istiqlal di Bosnia yang dibangun oleh Soeharto, maka  saat ini Indonesia punya Rumah Sakit yang dibangun oleh kekuatan rakyat, yang dibangun oleh rasa persatuan, rasa cinta rakyat Indonesia terhadap Palestina. Sekali lagi sejarah mencatat, jika rakyat Indonesia adalah rakyat yang  besar yang mampu berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun. Rakyat Indonesia mampu berbuat banyak demi kebanggaan bangsa di dunia international. Rakyat bersatu takkan terkalahkan.

Silahkan bertanya?