MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

EMT (Emergency Medical Team), Sebuah Kerancuan Konsep Penanggulangan Bencana di Indonesia

Indonesia merupakan negara rawan bencana. Banyaknya tim tim medis dari berbagai pihak yang terjun di kancah penanggulangan bencana baik di Indonesia ataupun luar negeri menimbulkan perbincangan dan perdebatan perlunya pembentukkan EMT (Emergency Medical Team) di Indonesia. Maka upaya penyusunan regulasi mengenai EMT ini dilakukan terutama oleh kementerian kesehatan ataupun organisasi profesi dokter. Penulis mengikuti beberapa kali proses rapat-rapat tersebut                             Relawan MER-C saat turun misi kemanusiaan gempa Majene – Mamuju, Sulbar, Januari 2021 EMT atau Emergency Medical Team adalah tim medis darurat atau emergency yang diturunkan untuk membantu menangani korban di lokasi bencana. Saat ini Indonesia sedang berupaya membentuk EMT baik pada level lokal, nasional, bahkan untuk meregistrasi ke level internasional.  Pertanyaannya : Perlukah Indonesia membentuk EMT mulai dari level daerah atau wilayah hingga level nasional ? Kalau kita lihat sejarah awal mula EMT ini sebenarnya berasal dari FMT (Foreign Medical Team) yang diperkenalkan oleh WHO untuk membantu “negara ketiga” yang belum mempunyai sistem penanggulangan bencana yang baik di negaranya. Misalnya untuk membantu korban gempa Haiti 2010 dan gempa Nepal tahun 2015 yang memakan banyak korban meninggal dan cedera. Kala itu WHO berupaya “meregistrasi tim medis asing” yang masuk ke wilayah bencana tersebut. Sehingga pada akhirnya WHO memperkenalkan istilah FMT atau Foreign Medical Team yang berikutnya berkembang menjadi EMT atau Emergency Medical Team yang juga disertai dengan  klasifikasi EMT. Namun di Indonesia EMT akan dibuat untuk kepentingan baik domestik dan internasional sebagai upaya membuat sistem penanggulangan bencana. Apakah hal ini cocok? Kalau kita tanya negara Jepang apakah mereka punya EMT domestik? Tentu sistem penanggulangan di Jepang sudah tertata sedemikian rupa dengan sistem regional bukan dengan membangun EMT. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah lebih baik membangun EMT atau membangun sistem  penanggulangan bencana yang sistematis dengan memperkuat sumber daya wilayah? Namun pada akhirnya EMT lah yang dipilih sebagai solusi penanggulangan bencana . Dibuatlah EMT dengan berbagai klasifikasinya antara lain ; EMT tipe mobile, EMT tipe fixed dan EMT spesialisasi. Kemudian nantinya para EMT ini akan berkoordinasi dengan EMT-CC atau EMT Command Center. Pedebatan berikutnya adalah ; siapakah yang membentuk EMT ini? Apakah organisasi profesi apakah itu IDI dan PPNI, ataukah Universitas, LSM, ataukah rumah sakit yang mempunyai sumber daya lengkap? Semua pihak berlomba lomba ingin membentuk EMT, mulai dari organisasi profesi dokter umum, dokter spesialis, dinas kesehatan, lembaga sosial, universitas hingga rumah sakit. Menurut pendapat penulis yang membentuk EMT harusnya oleh rumah sakit atau pihak2 yang mempunyai SDM yang lengkap dan adekuat. Sementara itu organisasi profesi bisa berperan sebagai men-support tenaga dokter ahli atau perawat saja tak perlu buat EMT sendiri, karena sejatinya EMT tidak hanya terdiri dari dokter, namun juga perawat, farmasi, kesehatan masyarakat dan lain lain. Padahal di lapangan EMT – EMT yg tidak lengkap ini sering kali kesulitan dalam bekerja sendiri dan pada akhir bergabung dengan tim-tim lainnya. Fenomena lainnya adalah pihak pihak yang membentuk EMT ini juga berupaya meregistrasi EMT nya baik pada level nasional dan internasional. Untuk level internasional WHO sebagai lembaga yg memberikan lisensi suatu EMT boleh atau tidaknya masuk ke suatu daerah bencana berdasarkan kualifikasi yang dibuat oleh WHO. Padahal kenyataan di area bencana apalagi di area konflik dan peperangan seperti Palestina, Rohingya Myanmar dan Afghanistan, WHO itu sendiri belum tentu diberikan izin oleh negara-negara tersebut untuk masuk, karena sejatinya “kebijakan atau kearifan lokal” negara yang mengalami bencana itu sendiri yang punya wewenang mengizinkan suatu EMT memasuki wilayahnya. Jadi sebenarnya registrasi internasional belum tentu berguna. Bahkan bisa jadi EMT yang belum teregistrasi internasional oleh WHO bisa diizinkan masuk seperti ke Gaza – Palestina atau Rohingya karena upaya diplomasi yang dilakukan. Sementara itu registrasi nasional belum ada lembaga yang dapat atau mempunyai kapabilitas melakukan registrasi.                         Relawan MER-C saat turun misi kemanusiaan gempa Lombok, NTB, September 2018 Regulasi lain yang dibuat, misalnya untuk sukarelawan medis yang berangkat ke lapangan disyaratkan adanya SIP (Surat Izin Praktek) sementara untuk layanan medis di dalam ambulans tidak perlu SIP. Sejatinya SIP itu terkait TEMPAT dan WAKTU. Artinya kalau anda punya SIP di suatu tempat belum tentu bisa praktek di tempat lain, apalagi di daerah bencana. Jadi tidak mungkin SIP disyaratkan pada tenaga kesehatan yang ingin berangkat ke daerah bencana. Kontradiktif dengan layanan ambulan yang sejatinya harus memiliki SIP karena ada unsur standard layanan medik, namun malah tidak disyaratkan. Akibatnya ranah ambulans ini bukan menjadi ranah medis tapi ranah sosial. Kalau kita lihat di luar negeri memang tidak pernah ada tenaga kesehatan yang diminta SIP-nya ketika terjun membantu, tetapi biasanya STR (Surat Tanda Registrasi) saja yang menyatakan bahwa ybs adalah benar benar mempunyai kualifikasi yang sesuai. Penulis khawatir distorsi regulasi dalam pembentukkan EMT sebagai salah satu sistem penanggulangan bencana di Indonesia ini menjadi fenomena kontradiktif dan paradoksal ditengah upaya membangun animo partisipatif masyarakat dalam penanggulangan bencana. Masyarakat akan merasa “tersekat” dan tidak bisa turun membantu tanpa bergabung dan registrasi EMT. Sementara di sisi lain bencana ini sangat tidak bisa diprediksi baik skala ataupun kerusakan yang ditimbulkan serta memerlukan respon yang cepat ketimbang memperhatikan kualifikasi EMT yang akan membantu. Mudah-mudahan para eksekutif pemerintah bisa membaca tulisan ini dan merenungkan yang terbaik bagi bangsa ini. Salam Kebencanaan & Kemanusiaan, Dr. Yogi Prabowo, SpOT(K)Pendiri dan Relawan MER-C

MER-C Turunkan Tim, Bantu Korban Banjir yang Belum Terjangkau Bantuan Medis

Jakarta, Minggu, 28 Februari 2021, Tim MER-C berjumlah 9 orang relawan yang terdiri dari dokter, perawat dan relawan non medis, berangkat menuju lokasi bencana banjir di kecamatan Pebayuran, kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Wilayah ini menjadi perhatian Tim MER-C karena berdasarkan informasi yang diterima, belum ada Tim Relawan Medis yang mendatangi lokasi terdampak banjir dan memberikan bantuan pengobatan bagi warga setempat yang menjadi korban. Perjalanan menuju lokasi bencana banjir terbilang lancar, kecuali ketika mendekati lokasi kampung Pisang Batu yang menjadi tujuan pertama Tim. Kampung ini berada cukup dekat dari lokasi tanggul yang jebol, yang mengakibatkan melimpahnya air sungai Citarum membanjiri kampung tersebut. Perjalanan menuju desa Karang Segar, dusun Tiga, kampung Pisang Batu melewati genangan air yang cukup dalam dan tidak bisa dilewati oleh mobil yang rendah. Jalan ini hanya bisa dilewati oleh mobil double gardan. Melewati genangan air ini Tim sangat berhati-hati karena batas antara pinggir jalan dan selokan yang tidak terlihat. Alhamdulillah tim berhasil mencapai lokasi kampung Batu dan mengadakan pengobatan massal bagi warga korban banjir. Pengobatan di kampung Pisang Batu ini juga melayani warga dari kampung sekitar, yaitu kampung Kasegaran dan kampung Kura-kura. Berdasarkan pengamatan dan pembicaraan dengan masyarakat sekitar, saat ini sebagian besar rumah tidak terendam air lagi, tetapi beberapa masih terdapat lumpur banjir, dan warga masih sangat waspada karena masih sering terjadi hujan. Daerah kampung ini di tahun-tahun sebelumnya juga terkena musibah banjir, akan tetapi tahun ini adalah yang terbesar dan terlama diakibatkan oleh jebolnya tanggul. Seorang warga menceritakan bahwa banjir di rumahnya mencapai hingga sepinggang orang dewasa dan berlangsung selama seminggu. Kebutuhan logistik warga selama banjir dibantu oleh para relawan dari berbagai komunitas dan organisasi yang telah datang sejak hari pertama banjir. Namun untuk bantuan medis, baru Tim MER-C yang memberikan pengobatan bagi warga terdampak banjir di wilayah ini. Dalam memberikan layanan pengobatan, Tim MER-C tidak hanya melayani warga yang datang ke posko pengobatan, tetapi juga mendatangi warga (home visit) yang tidak bisa datang ke posko pengobatan. Sebanyak empat warga kampung Pisang Batu yang menderita lumpuh atau cedera kaki yang tidak bisa mendatangi posko pengobatan dikunjungi oleh perwakilan Tim MER-C, yaitu dr. Dany Kurniadi Ramdhan, SpBS dan perawat Muhammad Edy. Penyakit yang banyak diderita oleh warga kampung batu adalah hipertensi, badan pegal, dan kaki terluka karena paku atau benda tajam lainnya. Kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh faktor kelelahan dan stress. Setelah mengobati kurang lebih 100 pasien di desa kampung Pisang Batu, Tim MER-C bergerak menuju lokasi ke-2, yaitu dusun Satu, kampung Babakan Rengas. Jumlah pasien di kampung ini juga cukup banyak sekitar 87 orang, penyakit yang diderita kurang lebih sama dengan di kampung Pisang Batu. Dalam melakukan pengobatan ini, tim MER-C tetap memperhatikan protokol kesehatan, membagikan masker kepada warga yang datang untuk berobat, mengatur jarak antara pasien dan juga jarak antara pos pengobatan, seperti pos pendaftaran, pengecekan tekanan darah, pemeriksaan dokter dan pegambilan obat. Tim MER-C juga menempatkan hand sanitizer di setiap pos. Pada misi kemanusian kali ini Tim MER-C bekerja sama dengan Ukhuwah Al Fatah Rescue (UAR) dan beberapa komunitas lainnya. MER-C akan terus hadir untuk memberikan bantuan bagi the most neglected and the most vulnerable people. Yuk Bantu Sesama… Salurkan Bantuan dan Donasi Sahabat melalui Rekening Amanah Kemanusiaan MER-C: BCA, 686.0099339 Bank Syariah Mandiri (BSM), 701.5658.899 BNI Syariah, 303.2000.922 Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400 Semua rekening atas nama: Medical Emergency Rescue Committee

Resiko Hazard dan Protokol Covid bagi Sukarelawan Bantuan Bencana Gempa Sulbar

Bencana bertubi-tubi menghantam negeri tercinta. Di tengah pandemi Covid-19 yang sedang menggila, kembali gempa besar meluluhlantakkan Sulawesi Barat.    Di tengah situasi seperti ini semangat sukarelawan tak padam dalam memberikan bantuan kemanusiaan. Saat ini resiko sukarelawan dalam menolong meningkat di tengah pandemi. Berikut analisa beberapa resiko dan hazard yang harus diwaspadai para relawan dalam menolong terkait Covid-19 :   1. Tidak nyaman menggunakan APD di lapangan, karena panas; 2. Kelelahan dan stres; 3. Kurang istirahat, karena belum tentu mendapatkan tenpat istirahat yang layak; 4. Kurang asupan gizi, karena makan seadanya di situasi bencana; 5. Sulit menghindari kerumunan.   Dengan adanya resiko-resiko tersebut, maka akan rawan terkena infeksi Covid-19. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya mitigasi antara lain ;   1. Seleksi sukarelawan yang berangkat harus kondisi sehat, tidak punya comorbid berat;   2. Membawa bekal APD yang adekuat, baiknya APD yang nyaman, jangan menggunakan baju coverall atau hazmat yang sangat tidak nyaman, juga membawa hand sanitizer;   3. Membawa cukup makanan dan air minum;   4. Membawa obat-obat covid bagi relawan seperti antivirus dan anti inflamasi, vitamin-vitamin;   5. Jangan tinggal di tenda-tenda yang tidak nyaman sehingga bisa beristirahat cukup, kalau perlu tinggal di desa atau kota yang tidak terkena dampak gempa. Tidur jangan kurang dari 6 jam;   6. Bertugas maksimal 1 minggu agar tidak lelah fisik dan fikiran;   7. Screening pasien yang mau diobati atau operasi minimal dengan swab antigen;   8. Screening relawan minimal dengan swab antigen, apabila ada relawan yang kena, segera diistirahatkan dan dipulangkan;   8. Lakukan triage dan damage control bagi pasien trauma.   Selamat bertugas para relawan   Salam Kemanusiaan,   Dr. Yogi Prabowo, SpOT Relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)

MER-C Turunkan Tim Medis dan Ambulans Bantu Korban Banjir di DIY

Hujan yang terus mengguyur disertai angin kencang di Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu/17 Maret 2019 telah menyebabkan banjir dan pohon tumbang di beberapa wilayah Bantul dan sekitarnya. Jumlah warga terdampak banjir secara keseluruhan di wilayah DIY tercatat sebanyak +/- 5.046 orang. Warga yang terkena bencana banjir bermalam di lebih dari 23 titik pos evakuasi. Sementara dua korban dikabarkan meninggal dunia. Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melalui cabangnya di Jogjakarta menurunkan Tim Medis dan Ambulans untuk membantu para korban. Tim mengunjungi Dusun Numpukan, Desa Karang Tengah, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Di daerah tersebut banjir sudah mulai surut dan warga sudah mulai membersihkan rumah dari lumpur. Namun listrik masih mati total. Belum ada bantuan medis yang masuk, sehingga Tim MER-C pun langsung membuka pelayanan kesehatan di dusun ini. Sekitar +- 50 warga mendapatkan pengobatan. Lima warga yang tidak dapat datang ke pos MER-C dikunjungi rumahnya oleh Tim (home visit). Satu pasien terpaksa dirujuk ke RS PKU Bantul menggunakan Ambulance yang dibawa tim untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.   Informasi lengkap Kegiatan MER-C Jogja Kantor : Jl. Kaliurang KM 6,7 GG. Timor Timur no E4B, Sono, Sinduadi, Melati, Sleman, Yogyakarta No HP / WA 082135258145 FB : MER-C Jogjakarta IG : Merc_Jogja     #mercindonesia #blessingforuniverse        

MER-C Menurunkan Tim Assessment Ke Lokasi Banjir Ngawi

Hari Sabtu (9/3/2019) MER-C Cabang Yogyakarta mengirimkan Tim Medis ke Kab. Ngawi, Jawa Timur yang saat ini dilanda musibah banjir. Misi tim adalah melakukan assessment dan pelayanan kesehatan di sejumlah lokasi terdampak banjir.    Tim terdiri dari dr. Fitriahati Setiyarizki, dr. M. Iqbal dan paramedis Rafiu Hafizhati, Bayu Setiyani, Fadli Mahjud, Tedy Febriadi, S.Kg, dan Nanang Khoirino di bagian logistik.   Selamat bertugas teman-teman relawan   Blessing for Universe…   Info : Website : www.mer-c.org Call center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia   #mercindonesia #blessingforuniverse #relawanmerc #jihadprofesional

Tim Initial Assessment MER-C Bergerak ke Lokasi Gempa Lombok

Update bencana gempa Lombok:   Sekitar pukul 14.00 MER-C melalui cabang mataram mengirimkan relawan dr. AD Irma Ramdhani bersama gabungan tim Dinas kesehatan Lombok Barat yg dipimpin oleh dr. Sapto Sutardi berangkat menuju lokasi bencana.     Tim berangkat menuju lombok utara yaitu daerah bayan untuk melakukan initial assessment (penilaian awal) di lokasi bencana, untuk mencatat apa saja yang dibutuhkan saat ini dan mengatur rencana selanjutnya, tim juga membawa obat-obatan, air minum dan mie instan sebagai bantuan awal untuk korban bencana.   MER-C Cabang Mataram

Bantu Korban Banjir di Cirebon, MER-C Kirimkan Tim Medis

Merespon banjir besar yang melanda wilayah Cirebon, Jawa Barat, pagi ini MER-C melepas keberangkatan Tim Medisnya ke wilayah bencana ini untuk turut memberikan pertolongan kepada para korban. Tim terdiri dari enam orang relawan, yaitu 1 koordinator tim, 3 dokter umum, 1 perawat dan 1 relawan logistik. Tim dijadwalkan akan bertugas selama 5 hari hingga Ahad/4 Maret 2018 mendatang. Tujuan pertama tim adalah Kecamatan Ciledug yang merupakan wilayah yang terkena dampak parah akibat banjir. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat yang diterima MER-C, salah satu desa di kecamatan ini yaitu Desa Pamosongan masih minim bantuan dikarenakan akses menuju desa yang sulit akibat lumpur yang masih tinggi. Berkoordinasi dengan pihak berwenang setempat, Tim akan berupaya menembus wilayah ini dan wilayah banjir lainnya untuk memberikan bantuan medis kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Banjir di Kabupaten Cirebon disebabkan intensitas hujan yang tinggi dan meluapnya Sungai Cisanggarung dan Sungai Cijangkelok pada Kamis malam (22/2/2018). Hampir 90 persen wilayah timur Kabupaten Cirebon terendam banjir.   Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin memberikan bantuan dan donasi bagi korban banjir di Kabupaten Cirebon dapat disalurkan melalui rekening amanah Kemanusiaan sbb:   BCA, 686.0099.339 BSM, 701.565.8899 BNI Syariah, 303.2000.922   Atas nama: Medical Emergency Rescue Committee   Info lebih lanjut: Website : www.mer-c.org Email : office@mer-c.org FB : @MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia / @RSIndonesia Call Center : 0811990176   |Sebuah Amanah untuk Kemanusiaan bagi Orang-orang Yang Paling Membutuhkan|

Banjir Terjang Kabupaten Cirebon, MER-C akan Turunkan Tim Medis

Intensitas hujan yang tinggi dan meluapnya Sungai Cisanggarung dan Sungai Cijangkelok pada Kamis malam (22/2/2018) telah mengakibatkan bencana banjir melanda Kabupaten Cirebon. Hampir 90 persen wilayah timur Kabupaten Cirebon terendam banjir. Banjir kali ini disebut-sebut paling parah selama hampir 70 tahun terakhir. Menurut informasi, ada sekitar 20 ribu rumah di delapan Kecamatan di Kabupaten Cirebon yang terendam banjir, yaitu Losari, Ciledug, Pasaleman, Pabuaran, Pabedilan, Waled, Pangenan, dan Gebang. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat yang diterima MER-C, salah satu wilayah yang terkena dampak parah dari bencana banjir ini adalah Desa Pamosongan yang berada di Kecamatan Ciledug. Bantuan ke desa ini masih minim dikarenakan akses menuju desa Pamosongan yang sulit akibat tingginya lumpur. Melihat luas dan besarnya dampak bencana banjir di Cirebon kali ini, maka MER-C akan menurunkan Tim Medisnya untuk melakukan assessment langsung ke lokasi dan memberikan bantuan medis bagi masyarakat yang menjadi korban. Tim MER-C rencananya akan berangkat pada hari Rabu (28 Februari 2018) dan dijadwalkan akan melaksanakan misi medis kemanusiaan di wilayah ini hingga 4 Maret 2018 mendatang.   Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin memberikan bantuan dan donasi bagi korban banjir di Kabupaten Cirebon dapat disalurkan melalui rekening amanah Kemanusiaan sbb: BCA, 686.0099.339 BSM, 701.565.8899 BNI Syariah, 303.2000.922   Atas nama: Medical Emergency Rescue Committee   Info lebih lanjut: Website : www.mer-c.org Email : office@mer-c.org FB : @MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia / @RSIndonesia Call Center : 0811990176   |Sebuah Amanah untuk Kemanusiaan bagi Orang-orang Yang Paling Membutuhkan|

Tim MER-C Susuri Korban Erupsi Sinabung di Kecamatan Payung

MER-C.ORG – MEDAN : Menindaklanjuti assessment yang dilakukan oleh Tim MER-C pada tanggal 20 Februari 2018 pasca erupsi gunung Sinabung di kabupaten Karo, Minggu/25 Februari 2018 MER-C kembali mengirimkan tim guna melakukan kegiatan pemeriksaan kesehatan, pengobatan umum, dan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat terdampak bencana.   Tim yang dikirim sebanyak 17 relawan yang terdiri dari 3 dokter umum, 5 perawat, 2 mahasiswa keperawatan, 5 mahasiswa kedokteran, 1 mahasiswa kebidanan, dan 1 relawan non medis yang bertindak sebagai supir. Dengan menggunakan 2 armada, ambulans dan bus pregio, Tim berangkat menuju lokasi bencana tepatnya di kecamatan Payung.   Di wilayah ini tim melaksanakan kegiatan pengobatan dan penyaluran bantuan donatur di tiga lokasi yaitu desa Payung, desa Selandi Lama, dan desa Selandi Baru. Tiba di lokasi sekitar jam 14.30 dan langsung berkoordinasi dengan Kepala Desa Payung kemudian membagi tim menjadi dua.   Tim pertama fokus melaksanakan kegiatan medis di Desa Payung dan tim kedua mobile ke desa-desa yang ada di kecamatan Payung. Total pasien yang ditangani di kecamatan Payung sebanyak 242 orang dengan princian 170 orang di desa Payung, 57 orang di desa Selandi Lama dan sisanya 15 orang di desa Selandi Baru. Permasalahan kesehatan yang banyak dijumpai adalah iritasi mata, ISPA, dan penyakit degeneratif hipertensi dan diabetes militus.   Tim selesai melaksanakan kegiatan sekitar pukul 19.30. Saat tim dalam perjalanan kembali ke Medan, tim mendapatkan kabar bahwa gunung Sinabung kembali erupsi dengan arah angin perlahan ke arah barat daya.   Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin berpartisipasi menyalurkan bantuan bagi Korban Bencana Erupsi Sinabung dapat menghubungi MER-C di:   MER-C Cabang Medan, Jl. Setia Budi Komplek Ruko Milala Mas No. B-22, Kel. Tanjung Rejo, Kec. Medan Sunggal, Sumatera Utara No HP : 08116400202   Bantuan donasi dapat disalurkan melalui rekening amanah Kemanusiaan: BSM, 7074585099 An. MER-C CABANG MEDAN   Info : Website : www.mer-c.org FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia / @RSIndonesia Call Center : 0811990176

Bencana Sinabung, Tim MER-C Siaga dan Bergerak Membantu Warga

Menyusul bencana alam yang terjadi di Kabupaten Karo, yakni erupsi gunung Sinabung pada tanggal 19 Februari 2018 lalu, MER-C melalui cabangnya di Medan, Sumatera Utara langsung melakukan koordinasi dengan BPBD setempat. Esoknya pada tanggal 20 Februari 2018, MER-C mengirimkan tim relawan medis untuk melakukan assesment ke lokasi bencana. Tim terdiri dari dua dokter umum dan empat perawat terampil khususnya di bidang kegawatdaruratan. Dari hasil diskusi dengan BPBD kabupaten Karo didapat informasi bahwa daerah yang terdampak paling parah akibat erupsi gunung Sinabung kali ini adalah kecamatan Payung dan kecamatan Tiganderket. Tim MER-C segera melanjutkan perjalanan menuju dua lokasi terparah tersebut untuk memantau langsung kondisi di lokasi bencana. Kepada Tim MER-C, Kepala Puskesmas kecamatan Payung menyampaikan bahwa saat ini belum ada masalah kesehatan di wilayah nya tetapi kemungkinan dalam 3 – 5 hari ke depan akan ada masalah gangguan kesehatan yakni ISPA akibat erupsi. Bantuan yang sangat dibutuhkan saat ini adalah obat-obatan khususnya obat batuk cair dan tetes mata. Bantuan masker juga sangat diperlukan karena debu erupsi yang masih sangat tebal. Hal yang sama juga terjadi di kecamatan Tigandetket.  Pada kesempatan ini, Tim MER-C menyerahkan bantuan masker kepada Puskesmas untuk didistribusikan kepada masyarakat korban terdampak bencana yang membutuhkan. Di akhir perjalanan tim juga mengunjungi da  melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan kabupaten Karo untuk menyampaikan rencana tindak lanjut dari hasil asessment. MER-C akan kembali menurunkan tim medis pada hari Minggu tanggal 25 Februari 2018 mendatang untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan umum bagi masyarakat korban bencana di kecamatan Payung. Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin berpartisipasi menyalurkan bantuan bagi Korban Bencana Erupsi Sinabung dapat menghubungi MER-C di: MER-C Cabang Medan, Jl. Setia Budi Komplek Ruko Milala Mas No. B-22, Kel. Tanjung Rejo, Kec. Medan Sunggal. No HP : 08116400202   Bantuan Donasi dapat disalurkan melalui rekening amanah Kemanusiaan: BSM, 7074585099  An. MER-C CABANG MEDAN    Info : Website : www.mer-c.org FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia  Twitter : @mercindonesia / @RSIndonesia Call Center : 0811990176   |Sebuah Amanah bagi Kemanusiaan untuk Orang-orang yang Paling Membutuhkan|

Silahkan bertanya?