MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Turunkan Tim Medis Bantu Korban Banjir dan Longsor di Carita dan Anyer

Musibah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Carita dan Anyer membuat MER-C menurunkan Tim Medisnya untuk memberikan bantuan pasca bencana kepada para korban. Rabu malam/27 Juli 2016, sebanyak 5 personil relawan berangkat dari kantor Pusat MER-C di Jakarta menuju lokasi bencana dengan membawa bantuan obat-obatan dan peralatan medis. Dengan kekuatan personil satu relawan dokter dengan spesialisasi penyakit dalam, satu perawat bedah dan relawan logistik serta relawan pendukung lainnya, Tim akan mencari lokasi bencana yang belum tersentuh bantuan medis. Sistem mobile clinic akan ditempuh guna menjangkau para korban bencana yang masih terisolir.   Bekerjasama dengan TAGANA Kabupaten Pandeglang, esok paginya Kamis/28 Juli 2016, Tim langsung melakukan koordinasi dengan Kecamatan dan Puskesmas Carita. Dari hasil koordinasi, Tim mendapat informasi bahwa ada 4 desa yang terendam banjir, yaitu Desa Sukanegara, Banjarmasin, Sukajadi dan Carita. Diantara ke empat desa tersebut, desa yang paling parah terkena dampak bencana adalah desa Sukajadi. Dengan didampingi oleh relawan TAGANA, Tim melakukan suvai langsung ke desa ini dan memutuskan untuk membuka posko pengobatan di Kampung Pagedongan dan Kampung Sukun. Dari dua kampong, total jumlah pasien yang ditangani Tim MER-C mencapai 201 orang dengan perincian 141 pasien di kampong Pagedongan dan 60 pasien di kampong Sukun. Dikarenakan ada korban bencana yang tidak mampu datang ke posko untuk berobat, Tim MER-C kemudian mendatangi rumah pasien (home visit) dengan arahan dari warga. Dari 201 pasien tersebut, sebanyak empat pasien harus dirujuk ke sarana kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Dari pengamatan Tim, pemerintah Pandeglang cukup sigap dalam menangani bencana ini. Secara umum, tidak ada korban yang dalam kondisi gawat dan sebagian besar penyakit yang ditemui adalah penyakit pasca bencana dalam kategori ringan sedang. Tim MER-C juga memprediksi tidak akan terjadi kejadian luar biasa untuk penyakit pasca bencana di wilayah Carita. Untuk itu, Jum’at pagi/29 Juli 2016, Tim kembali bergerak mencari wilayah lainnya yang masih membutuhkan bantuan medis. Kali ini Tim menuju kecamatan Mancak di kabupaten Serang. Bersama dengan relawan dari BNPB Provinsi, Tim melakukan koordinasi dengan Puskesmas Mancak. Kepala Puskesmas Mancak mengarahkan tim untuk menuju ke Kampung Cikedung yang merupakan lokasi terjadinya bencana. Pukul 13.00, tim turun ke lokasi longsor dan banjir bandang dengan menggunakan sepeda motor yang ditempuh selama 30 menit. Perjalanan kemudian harus dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 2 jam karena akses ke lokasi bencana yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan. Sepanjang berjalan kaki, tim melihat kerugian material yang sangat besar dari bencana ini walau semua penduduk dapat diselamatkan. Dua jam berjalan kaki dengan medan yang luar biasa berlumpur, tim akhirnya tiba di lokasi dan langsung membuka posko pengobatan di kampung Baru. Kampung Baru merupakan kampung yang terisolir karena semua akses ke dunia luar tertutup lumpur. Selain memberikan pelayanan medis bagi 76 pasien korban bencana alam, di kampung ini Tim juga melakukan 2 kunjungan ke rumah pasien (home visit) yang tidak dapat datang ke posko untuk berobat. Hari mulai beranjak gelap ketika tim MER-C selesai memberikan bantuan pengobatan kepada warga. Karena perjalanan yang cukup berbahaya untuk ditempuh pada malam hari, Tim memutuskan dan meminta izin menginap di rumah Ketua Kampung Cikedung. Seperti halnya di kecamatan Carita, walaupun tidak ditemui korban jiwa di wilayah bencana ini, namun Tim melihat kerugian material yang sangat besar dan merugikan banyak pihak. Meskipun longsor dan banjir bandang hanya terjadi di 4 desa, namun dikarenakan akses menuju 12 desa hanya melalui satu jalur sehingga bencana ini menyebabkan 8 kampung lainnya juga terisolir.  

MER-C Cabang Jogja Turunkan Tim Medis Bantu Korban Longsor Purworejo

Yogyakarta – Sabtu malam/18 Juni 2016, bencana tanah longsor melanda kabupaten Purworejo, Jawa Tengah menyebabkan korban jiwa sedikitnya 47 orang. Menyusul bencana yang terjadi, MER-C Cabang Jogjakarta segera mempersiapkan relawannya untuk melakukan misi kemanusiaan ke wilayah ini. Senin/20 Juni 2016, Tim yang terdiri dari 7 orang relawan dengan komposisi 3 personil medis dan 4 personil non-medis berangkat ke lokasi bencana.   Setelah sebelumnya melakukan koordinasi dengan IOF (Indonesian Offroad Federation) Purworejo, Tim MER-C memutuskan untuk menuju ke desa Jelok, salah satu titik dari 4 titik bencana longsor di kabupaten Purworejo. Setibanya di lokasi, tim dibagi menjadi dua. Tim pertama melakukan pelayanan medis di pos pengungsian Balai Desa Jelok dan tim kedua melakukan assessment di wilayah Jelok, kemudian dilanjutkan ke wilayah Caok dan Donorati sambil memberikan bantuan medis awal. Pengungsian di Balai Desa Jelok mencapai 211 jiwa. Seluruh dusun yang berada di atas Jelok termasuk wilayah terdampak longsor. Tim MER-C yang bertugas ke desa ini segera melakukan assessment dan pelayanan medis bagi warga korban longsor yang mengungsi di Balai Desa Jelok. Setelah melakukan asesmen dan pelayanan medis diwilayah Jelok, Selasa subuh/21 Juni 2016, Tim MER-C bergerak ke wilayah Caok  dan Donorati yang merupakan dua lokasi terparah akibat bencana longsor Sabtu lalu. Di desa Caok ternyata tidak ada pengungsi yang tinggal di posko, kegiatan masih difokuskan pada evakuasi korban di titik longsor Caok. Di desa ini, Tim hanya membantu medis bagi beberapa relawan yang luka-luka ketika melakukan evakuasi. Karena beberapa lembaga sudah nampak standby di titik ini, maka Tim MER-C memfokuskan pelayanan kesehatan ke wilayah Dororati dikarenakan wilayah ini masih terisolir dan belum tersentuh bantuan medis secara maksimal. Warga desa pun sudah mulai terserang penyakit seperti diare, muntah/mual, flu dan gangguan kesehatan lainnya. Pelayanan kesehatan dilakukan di dua titik, yaitu di Balai Desa Donorati dan di dekat dapur umum. Selain memberikan pelayanan kesehatan di posko, dengan bantuan warga dan menggunakan sepeda motor, Tim MER-C juga melakukan mobile ke wilayah-wilayah di Donorati yang masih terisolir. Hal ini dilakukan agar distribusi pelayanan medis dapat merata dan menjangkau warga yang kesulitan akses mencapai posko kesehatan.   Info lebih lanjut : Website: mercjogja.org Facebook: MER-C Jogjakarta FP: MER-C Jogjakarta Twitter: @JogjaMERC Ig: merc_jogja Jl kaliurang km 6,7 Gg Timor-timur no E4B, Sono, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogya 0821-3525-8145  

Warga Korban Gempa Nepal Antusias Datangi Posko Pengobatan MER-C WANADRI

Tiba di distrik Sindhupalcowk pada Kamis (7/5) sore, Jum’at (8/5) paginya Tim MER-C dan WANADRI langsung menggelar posko pengobatan bagi warga korban gempa.   Pada hari pertama, posko pengobatan diadakan di wilayah Keurini. Keurini berada di ketinggian 1.800 mdpl. Gempa dahsyat yang menerjang Nepal membuat sembilan puluh persen bangunan di wilayah ini hancur. Kegiatan pengobatan pun diadakan di sebuah bangunan sekolah yang sebagian bangunannya sudah hancur karena gempa.   Warga Keurini sangat antusias mendatangi posko pengobatan yang diadakan Tim MER-C dan WANADRI. Sejak posko dibuka, warga sudah terlihat antri untuk mendapat pengobatan bagi penyakit dan luka-luka yang mereka derita akibat terkena atau tertimpa reruntuhan bangunan. Banyak tindakan medis yang dilakukan Tim pada hari ini. Jumlah pasien tercatat mencapai 140 orang dengan kasus terbanyak adalah Neglected Lacerated Wound, Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), dan diare infeksi.   Selama berada di Keurini, gempa susulan kerap terasa. Setidaknya ada tiga kali gempa susulan yang terjadi seperti yang dilaporkan Islamiyah Samaun, salah satu relawan dalam Tim ini, “Gempa susulan terus-terusan terjadi. Hari ini saja sudah tiga kali. Malam besar sekali, pagi tidak terlalu besar, dan siang kembali besar sekali.”   Tim MER-C WANADRI berencana menetap satu hari di Keurini dan akan menginap dalam tenda yang telah dibangun di tanah lapang depan bangunan sekolah tempat posko pengobatan. Besok Tim akan bergerak pindah ke daerah lain di Sindhupalcowk yang belum tersentuh bantuan medis.   “Besok kami akan pindah lagi ke daerah lain yang lebih tinggi, kira-kira di ketinggian 2.000 mdpl,” tutur Islamiyah, anggota Tim yang bertugas di bagian logistik medis.   “Mohon doakan kami semoga selalu diberi kemudahaan dan kesehataan semuanya untuk membantu warga korban gempa di sini,” tambahnya.          

Tim MER-C WANADRI Bergerak ke Wilayah Gempa Terparah Lainnya di Nepal

Setelah Dhunche yang telah ditangani medisnya oleh militer setempat, Kamis (7/5), Tim MER-C WANADRI yang terdiri dari sembilan orang relawan bergerak ke wilayah gempa terparah lainnya di Nepal, yaitu Sindhupalcowk. Tim mulai bergerak ke Sindhupalcowk sejak Kamis pagi dengan membawa bantuan obat-obatan, alat medis dan juga tenda besar untuk pengobatan. Sindhupalchok adalah kota yang terletak di barat laut Kathmandu. Untuk mencapainya dibutuhkan waktu enam jam perjalanan darat (mobil) dari Kathmandu, dan untuk mencapai desa-desa di wilayah ini diperlukan waktu tempuh tiga jam lagi perjalanan mobil dari Sindhupalcowk.   Wilayah Sindhupalcowk menjadi tujuan Tim MER-C WANADRI berikutnya dalam misi kemanusiaan ini atas hasil koordinasi dan negosiasi tim dengan Kepala Rumah Sakit Kantipur di Kathmandu. Info dari Kepala RS Kantipur, dr. Budhiman, distrik Sindhupalcowk merupakan salah satu wilayah korban gempa terparah. Dokter asli Nepal ini mengarahkan tim MER-C WANADRI untuk menuju desa Helembu, salah satu desa di wilayah Sindhupalcowk. Di desa inilah tim akan dapat melakukan aktifitas medis dan menjangkau desa-desa sekitar, meliputi; Gumba vos, Golche vos, Parangtang, desa-desa di distrik Sindupalcowk yang belum tersentuh bantuan medis.   Untuk mempermudah kegiatan tim di lapangan nanti, Kepala RS Kanthipur telah mengeluarkan izin tertulis bagi tim MER-C WANADRI melakukan aktifitas medis di Sindhupalcowk. Satu orang lokal sebagai guide juga disiapkan untuk mendampingi dan membantu tim berkomunikasi dengan warga setempat.        

Tim MER-C WANADRI Tiba di Sindhupalcowk

Jum’at (8/5), seorang anggota tim MER-C WANADRI untuk Nepal, Dadang Mokhamad Rizal mengabarkan bahwa tim telah tiba Sindhupalcowk pada hari Kamis pukul 5 sore. Namun informasi ini baru diterima MER-C Pusat Jakarta pada hari Jum’at pagi tadi dikarenakan sulitnya sinyal di wilayah tersebut. “Kita tim sudah sampai Sindhupalcowk kemarin sekitar jam 17.00, camp kita tidak bersignal untuk dapat singnal harus berjalan sejauh 1 km naik ke atas bukit,” info Dadang dalam pesan singkatnya.   Rencananya, tim MER-C WANADRI yang terdiri dari Sembilan orang relawan medis dan rescue akan melakukan aktifitas medis di Sindhupalcowk dan sekitarnya selama tujuh hari ke depan hingga tanggal 14 Mei 2015. Tanggal 15 Mei 2015, Tim direncanakan kembali ke Kathmandu karena izin aktifitas untuk pelayanan medisnya ini efektif selama tujuh hari.        

Tim I MER-C WANADRI Bergerak ke Lokasi Gempa Terparah di Nepal

Hari ini, Selasa (5/5) pukul 10.00 waktu setempat, Tim MER-C WANADRI mulai bergerak ke lokasi gempa terparah di Nepal. Untuk efektifitas kerja, tim dibagi menjadi dua. Tim pertama yang terdiri dari 5 relawan, yaitu 1 dokter spesialis, 1 perawat bedah, 1 logistik, 1 rescue dan 1 pendata, hari ini bergerak ke wilayah Lalitpur yang berjarak sekitar 1,5 jam dari kota Kathmandu. Mereka akan melakukan assessment dan pelayanan medis bagi para korban gempa di wilayah ini.   Sementara Tim kedua yang terdiri dari 4 relawan, yaitu 1 dokter umum dan 3 rescue bergerak menuju Dhunche yang terletak di sebelah utara Kathmandu. Dhunche merupakan wilayah terparah akibat gempa dengan jumlah korban lebih dari 3.000 jiwa. Dhunche terletak di Distrik Rasuwa, Zona Bagmati, Nepal. Kota ini berjarak sekitar 90 km dari Kathmandu yang biasanya ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam perjalanan darat .   Dhunche dipilih sebagai salah satu wilayah kerja Tim MER-C WANADRI karena berdasarkan informasi yang diterima Tim, di wilayah ini terdapat empat desa yang hancur total akibat gempa, yaitu Ramche, Gerang, Thade dan Bokehunda yang berjarak sekitar 10 km sebelum Dhunche. Desa terparah terkena dampak gempa adalah desa Ramche dan di desa ini belum terdapat listrik. Bahkan sampai saat ini dikabarkan belum ada bantuan medis yang masuk ke desa-desa tersebut. Di Dhunche juga terdapat Rumah Sakit Tentara dan Sarana Kesehatan milik Pemerintah, namun belum beroperasi karena tidak adanya tenaga medis dan obat-obatan.    Selain itu, letak Dhunche berdekatan dengan Lantang, kota yang terkubur oleh reruntuhan gunung Everest akibat gempa dahsyat pada Sabtu (25/4) lalu. Untuk itu, selama 2 – 3 hari ke depan, Tim MER-C WANADRI akan melakukan mobile clinic (pelayanan medis keliling) dan juga assessment untuk mempelajari apakah di wilayah ini memungkinkan untuk dilakukan tindakan operasi bedah bagi para korban gempa sekaligus mengidentifikasi korban-korban yang ada. Informasi ini sangat penting untuk mempersiapkan kedatangan Tim berikutnya yang akan terdiri dari para Ahli Bedah.   Bantuan untuk korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.92995 BCA, No. Rek. 686.028.0009 An. Medical Emergency Rescue Committee                

Tim Pertama MER-C WANADRI Tiba di Nepal

Sembilan orang relawan yang tergabung dalam Tim Pertama MER-C dan WANADRI telah tiba dengan selamat di Kathmandu (Nepal), Senin (4/5) siang waktu setempat. Sempat mengalami dua kali transit, yaitu di Kuala Lumpur (Malaysia) dan Dhaka (Bangladesh), Tim akhirnya bisa mendarat di Kathmandu, Ibukota Nepal. Dari Bandara, Tim langsung bertemu dengan Duta Besar RI untuk Bangladesh dan Nepal, Iwan Wiranataatmadja guna mendapatkan informasi terkini mengenai pemetaan medan dan penyaluran bantuan. “Alhamdulillah Tim sudah sampai di Kathmandu. Dijemput oleh Konjen RI. Dari Bandara kami bertemu dengan Dubes RI untuk Bangladesh dan Nepal. Alhamdulillah sudah banyak info yang kami terima untuk penyusunan rencana kerja Tim besok,” ungkap Saleh Sudradjat, Ketua Tim Pertama MER-C dan WANADRI via pesan singkat yang diterima pada hari Senin (4/5) pkl 15.44 wib. Pada hari yang sama, Tim juga melakukan koordinasi dengan BNPB (Badan Nasional Penaggunglangan Bencana) yang sudah berada di Nepal mengenai daerah mana saja yang mampu terjangkau dan memungkinkan Tim Medis MER-C bekerja dengan efektif di lokasi. Tim Pertama MER-C dan WANADRI bertolak ke Nepal pada hari Senin (4/5) pukul 04.40 pagi. Tim yang terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter umum, perawat bedah, logistik, SAR dan dokumentasi ini mempunyai target kegiatan untuk melakukan assessment Rumah Sakit yang masih bisa digunakan untuk operasi dan identifikasi korban gempa yang memerlukan tindakan operasi. Halini dalam rangka mempersiapkan kedatangan Tim Kedua yang akan terdiri dari para Ahli Bedah. Selain assessment, tim pertama ini juga akan melakukan pengobatan dengan sistem mobile clinic untuk menjangkau wilayah gempa terpencil yang belum mendapatkan bantuan medis.   Bantuan untuk korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.92995 BCA, No. Rek. 686.028.0009 Atas Nama Medical Emergency Rescue Committee   Info : Call Center MER-C 0811 99 0176                

MER-C Dan Wanadri Berangkatkan Tim Pertama Ke Nepal

Menyusul gempa bumi dahsyat berskala 7,9 SR yang menerjang Nepal pada hari Sabtu (25/4) lalu yang telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan ribuan lainnya mengalami luka-luka, MER-C berkolaborasi dengan WANADRI akan mengirimkan Tim Relawannya untuk turut memberikan pertolongan kepada para korban. Tim akan dibagi menjadi dua tahap keberangkatan. Untuk Tim Pertama akan terdiri dari 9 orang relawan dengan keahlian medis dan SAR, yaitu Saleh Sudradjat (Ketua Tim), dr. Hadiki Habib, SpPD (Wakil Ketua Tim), dr. Ratih Citra Sari, Rita Elseria Tambunan, Islamiah Samaun, Purwasunu Adriansyah, Rohmat Sopian, Dadang Mokhamad Rizal dan Widi Kusnadi Sunardi. Sementara Tim Kedua yang merupakan Tim Bedah dengan keahlian multi spesialis akan berangkat menyusul ke lokasi bencana.  Tim Pertama MER-C dan WANADRI direncanakan akan bertolak ke Nepal pada hari Senin (4/5) pukul 04.40 pagi dengan menggunakan maskapai penerbangan Malaysia Airlines, nomor penerbangan 726. Tim akan mengalami dua kali transit di Kuala Lumpur (Malaysia) dan Dhaka (Bangladesh) sebelum bisa mendarat di Kathmandu (Nepal). Apabila lancar, tim dijadwalkan akan tiba di Nepal pada pukul 12.50 waktu setempat. Sasaran wilayah kerja Tim Pertama MER-C dan WANADRI adalah di luar kota Kathmandu. Hal ini berdasarkan pertimbangan di dalam kota Kathmandu diperkirakan sudah banyak bantuan dan relawan yang bekerja. Tim akan mencari wilayah bencana terparah lainnya di luar ibukota Nepal yang terpencil dan masih minim bahkan belum terjangkau bantuan medis. Sebagai Tim Pertama, tugas tim mencakup penilaian (assessment) kondisi terkini di lapangan, melakukan pengobatan dengan sistem mobile clinic dan Search Rescue. Pengobatan dengan sistem mobile clinic dinilai efektif untuk dapat menjangkau korban-korban gempa di wilayah terpencil yang belum mendapat bantuan medis. Tugas penting lainnya yang diemban tim pertama adalah mempersiapkan kedatangan Tim Bedah, yaitu identifikasi korban-korban yang memerlukan tindakan operasi dan mencari Rumah Sakit atau tempat yang masih bisa digunakan untuk melakukan tindakan operasi bagi para korban gempa.   Sementara itu, sejumlah relawan medis dengan berbagai keahlian diantaranya Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, Dokter Spesialis Anastesi dan juga perawat bedah telah menyatakan kesiapannya untuk bertugas sebagai Tim Kedua ke Nepal. Tim Kedua yang merupakan Tim Bedah ini akan berangkat ke Nepal segera setelah adanya informasi dari Tim Pertama.   Bantuan untuk korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.92995 BCA, No. Rek. 686.028.0009 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee   Jakarta, 2 Mei 2015   MER-C Indonesia dan WANADRI /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} #MercWanadriForNepal                

MER-C Siapkan Tim Bedah untuk Korban Gempa Bumi di Nepal

Jakarta – Sabtu (25/4), gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,9 SR mengguncang Nepal. Hingga saat ini jumlah korban jiwa sudah mencapai lebih dari 3.300 orang, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka. Jumlah korban tewas diperkirakan akan terus bertambah karena masih banyak daerah yang belum terjangkau serta jaringan komunikasi di negara tersebut yang terputus. Melihat besarnya dampak bencana, MER-C sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis, tengah mempersiapkan relawannya untuk turut memberikan bantuan guna meringankan penderitaan para korban. Tim yang dibentuk MER-C akan berfokus pada Tim Bedah, yang terdiri dari dokter spesialis bedah umum, spesialis bedah orthopedi, spesialis anastesi dan dokter umum serta perawat bedah. Hal ini berdasarkan pengalaman MER-C pada penanganan bencana gempa bumi serupa baik di Yogyakarta maupun di Padang (Sumatera Barat) misalnya, bahwa korban hidup yang akan banyak ditemui adalah korban dengan kasus patah tulang akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Bantuan bagi korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, 08.111.92995 BCA, 686.028.0009 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee              

Silahkan bertanya?