MER-C Turunkan Tim Medis dari Medan dan Jakarta untuk Bantu Korban Gempa Aceh

NAD – Menyusul gempa bumi yang beberapa kali mengguncang Nanggroe Aceh Darussalam, MER-C menurunkan Tim Medisnya dari Cabang Medan dan Pusat Jakarta untuk memberikan bantuan pengobatan bagi para korban. MER-C Cabang Medan, sebagai cabang yang terdekat dengan lokasi gempa, memberangkatkan Tim Medisnya yang terdiri dari 3 perawat dan 1 psikolog ke Aceh pada hari Kamis (4/7). Pada esok lusanya, Sabtu (6/7), MER-C Pusat Jakarta memberangkatkan 5 relawannya ke Aceh yang terdiri dari 3 dokter, 1 perawat bedah dan 1 logistik untuk memperkuat Tim yang sudah berada di lokasi bencana. Perjalanan dari Medan ke Aceh ditempuh dengan jalur darat menggunakan armada ambulans milik MER-C Cabang Medan. Kondisi jalan yang rusak dan longsor di beberapa titik membuat perjalanan membutuhkan waktu belasan jam bagi Tim MER-C Medan untuk bisa mencapai lokasi bencana. Hal yang sama juga dialami oleh Tim Medis dari Jakarta yang menempuh jalur darat dari Banda Aceh ke lokasi gempa. Meskipun demikian, kedua Tim MER-C khususnya dari Jakarta Minggu siang ini (7/7) dikabarkan sudah tiba di lokasi gempa dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Tim MER-C saat ini berfokus memberikan bantuan medis bagi di Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini dikarenakan Kabupaten ini mengalami dampak yang luas akibat gempa. Berdasarkan informasi resmi yang dikeluarkan oleh Bupati Aceh Tengah, gempa melanda 12 kecamatan dari 14 kecamatan di wilayah ini atau sekitar 85,71 %. Jumlah kampung yang mengalami dampak kerusakan akibat gempa mencapai 232 kampung dari 352 kampung yang ada atau sekitar 65,50 %. Jumlah warga yang mengungsi diperkirakan 5.000 jiwa, belum termasuk warga yang mengungsi di depan atau halaman rumah mereka dengan membuat tenda sederhana. Tim MER-C Medan sudah mulai membuka posko sejak hari Sabtu (6/7) tepatnya di Kampung Ratawali, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah. Tim dibagi menjadi dua. Tim Pertama memberikan bantuan pengobatan di posko. Tim kedua melakukan mobile clinic dengan menggunakan ambulans untuk mencari wilayah yang belum terjangkau bantuan medis. Tim MER-C Jakarta yang baru tiba Minggu siang ini (7/7), langsung diarahkan dan dipandu oleh Satkorlak setempat untuk menuju lokasi yang masih terisolir, yaitu di Kampung Jaluk, Kecamatan Ketol. Di kecamatan ini tercatat, sebanyak 31 kampung terkena dampak gempa. Selain memberikan bantuan pengobatan, Tim MER-C juga akan melakukan pendataan korban gempa yang memerlukan penanganan lebih lanjut, yaitu operasi bedah tulang. Apabila dibutuhkan, MER-C akan mengirimkan Tim lanjutan berupa Tim Bedah.
MER-C Kirim Tim Medis Ke Lokasi Gempa Aceh

Jakarta, 27 Sya’ban 1434/6 Juli 2013 (MINA) – Lembaga kegawatdaruratan medis MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Pusat Jakarta hari ini mengirimkan tim medis untuk membantu pengobatan korban gempa Aceh. Tim Medis yang dikirim terdiri dari tiga dokter, satu perawat bedah dan satu tenaga logistik bertolak ke Banda Aceh melalui jalur udara, Sabtu pagi (6/7). Tim MER-C Pusat akan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat ke lokasi bencana gempa bumi di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Tim Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Medan melakukan mobile clinic (pengobatan medis keliling) di desa Kelumpang Payung, Kab. Bener Meriah, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), 5 Juli 2013. (Doc. MER-C) “Tim MER-C Pusat akan bergabung dengan Tim MER-C Medan yang sudah tiba lebih dulu di lokasi dan melakukan mobile clinic (pengobatan medis keliling) ke wilayah-wilayah gempa yang masih minim dari jangkauan bantuan medis,” kata Manajer Operasional MER-C, Rima dalam rilis yang diterima Mi’raj News Agency (MINA). Sebelumnya, Kamis (4/7), MER-C Cabang Medan mengirimkan tim awal yang terdiri dari tiga perawat dan satu nonmedis ke lokasi bencana gempa di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah. Kedatangan Tim Dokter dari MER-C Pusat Jakarta, selain untuk melengkapi susunan Tim Medis, juga akan melakukan pendataan korban gempa yang memerlukan penanganan lebih lanjut seperti operasi bedah tulang. Hal itu dikarenakan pada bencana gempa bumi korban-korban yang biasa ditemui adalah korban-korban yang mengalami patah tulang akibat terkena atau tertimbun reruntuhan bangunan. “Untuk itu, apabila diperlukan, MER-C akan mengirimkan Tim lanjutan berupa Tim Bedah,” kata Rima. 36 Meninggal, 16.000 Mengungsi Menurut Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), memasuki hari kelima pasca gempa 6,2 SR di Aceh, hingga Sabtu (6/7) tercatat jumlah korban meninggal 36 orang, yaitu 9 orang di Bener Meriah dan 27 orang di Aceh Tengah. Gempa 6.2 SR di Aceh dinyatakan sebagai bencana tingkat provinsi oleh Gubernur Aceh karena menyangkut dua kabupaten yang terdampak parah yaitu Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah. Masa tanggap darurat ditetapkan selama dua pekan yaitu 3-17 Juli 2013. “Pencarian dan penyelamatan korban oleh tim SAR gabungan masih terus dilakukan karena dilaporkan masih ada delapan orang hilang di Aceh Tengah,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB melalui rilis resmi BNPB yang diterima Mi’raj News Agency (MINA). Sementara jumlah pengungsi dilaporkan mencapai 16.000 jiwa, terdiri dari 12.500 jiwa di Kabupaten Bener Meriah dan 3.500 jiwa di Kab. Aceh Tengah. “Pengungsi ada yang tersebar di titik-titik pengungsian tetapi juga ada yang di halaman rumahnya. Masyarakat sebagian masih trauma tinggal di rumah,” ungkap Sutopo. Sementara itu, gempa susulan masih terjadi, tercatat 23 kali gempa susulan pasca gempa 6,2 SR pada 2 Juli 2013 lalu. (T/P02/R1) Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/6543-mer-c-turunkan-tim-medis-ke-wilayah-gempa-aceh.html
MER-C Medan: Berjalan Kaki dan Berperahu untuk Jangkau Korban Banjir

Medan – Bencana banjir belum berlalu. Kali ini, banjir melanda wilayah Tanjung Balai, Sumatera Utara yang menyebabkan lebih dari 12.000 kepala keluarga di wilayah tersebut terendam rumahnya. Menyusul bencana tersebut, MER-C Cabang Medan kembali menurunkan tim relawan medisnya guna membantu dan meringankan penderitaan para korban. Tim harus berjalan kaki bahkan menggunakan perahu milik penduduk untuk menjangkau korban banjir yang belum terjamah bantuan. Tim berangkat pada Kamis malam (28/2) dari posko MER-C Cabang Medan dengan menggunakan ambulans. Jumat (1/3), Tim yang terdiri dari dr. Rinaldi Sani, dr. Iqbal Harziky, dr. Nanda Bagus, dr. Hanum Sesari, Alamsyah, dan M. Irsal supir ambulan memulai kegiatan pada pukul 8 pagi. Tim bergerak dari Kisaran menuju di Tanjung Balai. Pada pukul 10.00 tim tiba di Tanjung Balai dan langsung berkordinasi terlebih dahulu Kepala Dinas Kesehatan Tanjung Balai dan meminta informasi mengenai lokasi-lokasi yang masih membutuhkan bantuan. Dari informasi tersebut, Tim MER-C berencana memberikan bantuan pengobatan di beberapa titik. Tim mulai bergerak menuju arah Simpang Empat Kel. Bandar untuk memberikan bantuan pengobatan dan pakaian layak pakai. Tim kemudian menggelar pengobatan di desa Sijambi Lk1 Pasar Traktor, tepatnya di Jl. H. Adam Malik Tanjung Balai. Pengobatan dilakukan di tenda darurat di depan rumah salah satu warga. Pukul 12.00 tim menyelesaikan kegiatan pengobatan untuk beristirahat dan menunaikan ibadah sholat Jum’at. Tanpa membuang waktu, usai sholat dan istirahat secukupnya, pukul 13.30 kembali melanjutkan pelayanan kepada masyarakat korban banjir di Lk1 dan Lk2 hingga pukul 6 sore. Jumlah pasien yang ditangani sebanyak 61 orang dengan keluhan penyakit terbanyak ISPA dan penyakit kulit. Kondisi cuaca yang baik pada hari ini sangat mendukung kegiatan peengobatan bagi warga dan warga setempat pun sangat proaktif membantu kegiatan ini. Sabtu (2/3), kegiatan pengobatan tim masih berlanjut. Kali ini, Tim mencoba masuk ke wilayah banjir yang lebih dalam, yaitu menuju desa Gading. Ketinggian air di wilayah ini masih selutut orang dewasa. Ambulans pun sulit masuk, sehingga Tim memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Pengobatan dilakukan dari rumah ke rumah. Tercatat sebanyak 45 orang di desa ini yang mendapatkan pengobatan dari Tim MER-C. Usai pengobatan di desa Gading, tim kemudian menyusuri daerah kawasan sungai Kecamatan Sei Dua Hulu dengan menggunakan perahu milik penduduk. Tim berhenti di beberapa titik di mana warga dapat berkumpul dan pengobatan dapat dilakukan. Kali ini jumlah pasien mencapai kurang lebih 60 orang, yang umumnya mengeluhkan gatal di kulit. Menurut info dari warga, Tim MER-C adalah tim medis pertama yang turun, selama ini belum ada Tim yang turun sampai ke daerah tersebut.
MER-C Cabang Medan Kirim Tim ke Lokasi Banjir Bandang Mandailing Natal

Medan Musibah banjir bandang kembali melanda daerah Mandailing Natal, Sumatera Utara. Banjir terjadi karena sungai Sigija yang meluap akibat hujan yang turun terus menerus sejak hari Rabu (13/2). Sebagai cabang terdekat, MER-C Cabang Medan segera mempersiapkan Tim Advance untuk menuju lokasi bencana guna melakukan pemetaan dan memberikan bantuan medis awal. Minggu (17/2), tepat pukul 09.40 pagi, dengan menggunakan ambulans, Tim yang terdiri dari 3 relawan medis mulai bergerak dari posko MER-C menuju lokasi bencana di Kec. Panyambungan, Kab. Mandailing Natal, Sumatera Utara. Setibanya di lokasi, Tim MER-C, yaitu Dr. Andika Pradana, Dashari Ermandi, S.Ked dan Wirsal Harahap, AmK. segera berkoordinasi dengan pihak kesehatan setempat dan melakukan penyusuran ke berbagai titik lokasi yang terkena bencana banjir bandang. Wilayah yang didatangi diantaranya adalah Manyabar, Naga Juang, Pagaran Tonga, Gunung Manaon, Sabajambu, dan Sopobatu. Dari hasil penyusuran tersebut, Tim memutuskan untuk memberikan bantuan pengobatan dengan cara mobile clinic di dua titik, yaitu Manyabar dan Pagaran Tonga. Penyakit yang banyak ditemui oleh Tim adalah penyakit kulit dan ISPA. Tim juga menemui pasien yang mengalami diare yang harus diberi penanganan infus. Pengobatan yang dilakukan tim pada hari itu melayani sekitar 70 pasien, sebanyak 50 pasien di Manyabar dan sekitar 20 pasien di Pagaran Tonga. Pada hari Senin (18/2), MER-C Cabang Medan kembali menurunkan tim medis susulan ke Mandailing Natal. Tim yang ditugaskan kali ini berjumlah 5 orang yang terdiri dari 4 relawan medis dan 1 relawan non medis. Fokus wilayah kerja Tim tetap di Manyabar dan Pagaran Tonga karena wilayah ini yang masih membutuhkan bantuan medis. Dengan sistem mobile clinic, Tim mendatangi rumah para korban banjir dan mengobati para korban yang sakit. Selain bantuan obat-obatan, Tim juga memberikan bantuan berupa sembako, seragam sekolah dan peralatan ibadah yang dibeli dari hasil donasi masyarakat.
Tim MER-C Jemput Bola Susuri Gang-gang Sempit di Penjaringan Jakarta Utara

Jakarta Rabu (23/1) MER-C kembali menurunkan Tim Medisnya untuk memberi bantuan pengobatan bagi warga korban banjir. Tujuan tim masih ke Penjaringan, Jakarta Utara karena banjir masih menggenangi wilayahnya ini. Tim membuka pelayanan medis di Rt 3 Rw 8, Tanah Pasir. Sebanyak 4 relawan dokter dan 2 relawan non medis berpartisipasi dalam misi kali ini. Hujan masih mengguyur cukup deras ketika tim MER-C tiba di lokasi. Di pinggir jalan besar, terlihat sudah ada beberapa posko bantuan baik dari perusahaan maupun lembaga yang peduli terhadap para korban banjir. Hal ini menandakan bantuan sudah cukup memadai di sini dan Tim MER-C harus mencari wilayah lain yang belum atau masih minim bantuan khususnya kesehatan. Dengan panduan warga, Tim pun mencoba memasuki wilayah Penjaringan yang lebih dalam. Tibalah Tim di wilayah Rt 3 Rw 8, Tanah Pasir. Banjir masih merendam wilayah ini. Ada yang setinggi betis hingga setinggi paha orang dewasa bahkan ada yang mencapai 1,5 meter. Hujan juga masih terus mengguyur yang mengakibatkan pengobatan tidak memungkinkan untuk dilakukan di armada ford ranger MER-C. Tidak ada dataran tinggi yang cukup kering juga untuk menggelar pengobatan, sehingga pengobatan pun digelar di sebuah panggung kecil yang memang biasanya digunakan sebagai posko bantuan logistik bagi warga setempat. Dengan bantuan warga, obat-obatan diturunkan dari mobil dan pengobatan pun digelar di atas panggung. Satu persatu warga yang sakit berdatangan. Ada yang berjalan kaki menggunakan payung, ada juga yang diantar oleh keluarganya dengan menggunakan gerobak. Melihat kondisi hujan dan banjir seperti ini, Ketua Tim MER-C hari itu segera memutuskan untuk membagi tim menjadi 2. Tim pertama melayani pasien di posko (panggung), sementara tim ke-2 melakukan mobile clinic dan jemput bola. Hal ini dilakukan agar balita, manula dan warga sakit yang tidak mampu datang ke posko dapat mendapatkan bantuan pengobatan. Dengan menggunakan payung dan membawa tas ransel berisi obat-obatan, relawan dokter MER-C menyusuri gang-gang sempit dan padat di Rw 8 yang masih terendam banjir untuk menjemput bola mendatangi pasien ke rumah-rumah mereka. Hari ini Tim Medis MER-C melayani sekitar 200 orang pasien, sebagian besar adalah balita dan anak-anak. Penyakit yang banyak diderita oleh warga korban banjir di wilayah ini adalah penyakit kulit, diare, dan ISPA.
Dari Atas Bak Mobil Layani Kesehatan Korban Banjir

Jakarta Setelah memberikan pelayanan kesehatan bagi warga korban banjir di Bukit Duri Jakarta Selatan, Tim Medis MER-C mencoba merambah wilayah Jakarta Utara. Senin (21/1), Tim MER-C melakukan mobile clinic lokasi banjir di Penjaringan, tepatnya di Muara Baru. Sebanyak 5 relawan dokter dan 2 non medis, berupaya melalui wilayah yang masih terendam banjir di sana sini. Dengan panduan warga setempat, armada ford ranger MER-C menembus genangan banjir. Warga terus menuntun Tim MER-C mencari jalan yang ketinggian airnya masih dapat dilalui oleh mobil untuk mencapai jalanan yang agak kering untuk menggelar pelayanan kesehatan. Karena akses yang cukup sulit, menjelang sore Tim MER-C baru tiba di lokasi. Pengobatan pun digelar di atas bak mobil MER-C, di pinggir jalan. Sementara di sejumlah wilayah banjir lainnya air sudah mulai surut bahkan kering, tidak demikian dengan Muara Baru Penjaringan Jakarta Utara. Air masih menggenangi pemukiman warga yang padat. Namun, tidak ada pengungsian di wilayah ini. Warga enggan mengungsi dan memilih tetap bertahan di rumah-rumah mereka yang masih terendam banjir dengan ketinggian beragam. Kedatangan Tim MER-C disambut antusias oleh warga Muara Baru. Begitu pelayanan kesehatan dibuka, antrian warga pun mulai mengular mendekati bagian belakang mobil MER-C yang difungsikan menjadi tempat pengobatan. Tim dokter MER-C pun segera bersiap untuk mendengarkan berbagai keluhan sakit dari warga dan berupaya mengobati mereka dengan bantuan obat-obatan yang telah dibawa dari markas MER-C di Jakarta Pusat. Sejak dibuka, pelayanan kesehatan tidak pernah sepi dari kerumunan warga. Hingga pukul 8 malam, warga Muara Baru masih terus berdatangan. Sebagian besar pasien adalah anak-anak dan balita. Penyakit yang banyak diderita adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) dan diare. Pelayanan kesehatan selesai sekitar pukul 08.30 malam dan tercatat pasien yang berobat hari ini lebih dari 400 orang. MER-C akan terus melakukan program mobile clinic ke wilayah banjir lain yang membutuhkan untuk membantu para korban dan guna menyalurkan amanah dari mayarakat yang masuk melalui rekening kemanusiaan MER-C. Donasi Rekening untuk Banjir Jakarta: Atas nama Medical Emergency Rescue Committee Bank Central Asia (BCA) Cab. Kwitang no Rek. 686.0099.339 Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Salemba no Rek. 701.565.8899
Relawan MER-C “Jemput Bola” Tangani Korban Banjir

Jakarta, 21/1 (ANTARA) – Relawan dokter organisasi kegawatdaruratan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia menerapkan sistem “jemput bola” dalam menangani masalah kesehatan korban banjir di Jakarta. “Untuk menangani yang mengungsi di masjid, relawan kami memakai sistem `jemput bola`, sedangkan di bantaran Sungai Ciliwung dengan pola `mobile clinic,” kata Ketua Presidium MER-C Indonesia dr Sarbini Abdul Murad kepada ANTARA di Jakarta, Senin. Ia menjelaskan, MER-C menurunkan tim kesehatan yang terdiri atas lima relawan dokter, satu relawan logistik serta satu supir saat banjir besar kembali melanda Jakarta sejak Jumat (18/1). Dalam operasinya, tim menggunakan armada “Ford Ranger” dengan “double cabin”, menyusuri sejumlah titik bencana banjir guna mencari lokasi yang belum dan masih membutuh bantuan medis. Mereka mendatangi satu per satu ruangan dalam lingkungan masjid yang dipenuhi oleh korban banjir yang mengungsi. Warga yang mengeluh sakit diperiksa dan diobati. Usai memberikan pengobatan di dalam masjid, tim melanjutkan pengobatan di bagian luar masjid, di mana pelayanan dilakukan di atas bak mobil “Ford Ranger” MER-C yang diparkir di depan masjid. Warga korban banjir berdatangan menghampiri mobil berlogo MER-C ini untuk mendapatkan pengobatan dari relawan dokter yang ada. Sementara itu, tim MER-C lainnya melakukan “mobile clinic” ke wilayah bantaran Sungai Ciliwung yang belum mendapat bantuan medis. Tim “mobile” bersama Tim SAR dengan menggunakan perahu karet, dan ternyata masih banyak warga yang memilih bertahan di rumah-rumah mereka yang terendam banjir dan tidak mau dievakuasi. Salah satunya seorang bapak tua usia 62 tahun yang memilih bertahan di rumah, sorang diri, dalam keadaan sakit. Atas informasi dari istrinya, dokter MER-C bersama Tim SAR berusaha mencapai dan memasuki rumahnya. Setelah diperiksa, ternyata menderita hipertensi dan segera dievakuasi. Setelah bergerak dengan menggunakan perahu karet, Tim MER-C mendapat laporan dari warga bahwa masih ada lokasi pengungsian yang belum mendapatkan bantuan pengobatan. Mereka berharap Tim MER-C bisa mengecek kondisi kesehatan warga yang mengungsi di sana. Dengan menggunakan sepeda motor, warga mengantar dokter MER-C ke lokasi pengungsian yang terletak di Wisma Tjiliwung. Pelayanan kesehatan segera digelar bagi warga di wisma itu. Berdasarkan evaluasi Tim MER-C selesai memberikan bantuan pengobatan, penyakit yang banyak diderita oleh warga korban banjir yang diobati adalah ispa (infeksi saluran pernafasan atas), penyakit kulit, hipertensi dan diare. Penyusuran tim dilakukan di beberapa lokasi banjir di wilayah Jakarta Timur dan Selatan, di antaranya penanganan bantuan kesehatan kepada korban banjir yang mengungsi di Masjid Attahiriyah Bukit Duri. Di lokasi ini warga yang mengungsi diperkirakan berjumlah lebih dari 1.900 jiwa. Andy J Sumber : http://bogor.antaranews.com/print/3975/relawan-mer-c-jemput-bola-tangani-korban-banjir
MER-C Lakukan Mobile Clinic dan Jemput Bola Layani Pasien Korban Banjir

Jakarta Banjir besar kembali melanda Jakarta. Jumat (18/1) MER-C menurunkan tim medisnya yang terdiri dari 5 relawan dokter dan 1 relawan logistik serta 1 supir. Dengan menggunakan armada ford ranger double cabin, Tim menyusuri sejumlah titik bencana banjir guna mencari lokasi yang belum dan masih membutuh bantuan medis. MER-C juga menerapkan sistem mobile clinic dan jemput bola dalam memberikan bantuan medis kepada para korban banjir kali ini. Setelah menyusuri beberapa lokasi banjir di wilayah Jakarta Timur dan Selatan, Tim memutuskan untuk memberikan bantuan medis kepada korban banjir yang mengungsi di Masjid Attahiriyah Bukit Duri. Di lokasi ini belum ada bantuan medis dan jumlah warga yang mengungsi diperkirakan berjumlah lebih dari 1.900 jiwa. Kedatangan Tim MER-C disambut sangat baik oleh masyarakat. Tim yang berjumlah 6 orang dibagi menjadi dua. Tim pertama memberikan pelayanan medis bagi korban banjir di dalam Masjid Attahiriyah, sementara satu tim lagi melakukan mobile ke lingkungan sekitar bersama Tim SAR dan masyarakat setempat. Relawan dokter MER-C yang bertugas di masjid menerapkan sistem jemput bola. Mereka mendatangi satu persatu ruangan dalam lingkungan masjid yang dipenuhi oleh korban banjir yang mengungsi. Warga yang mengeluh sakit diperiksa dan diobati. Usai memberikan pengobatan di dalam masjid, tim melanjutkan pengobatan di bagian luar masjid. Kali ini pelayanan medis dilakukan di atas bak mobil ford ranger MER-C yang diparkir di depan Masjid. Warga korban banjir berdatangan menghampiri mobil berlogo MER-C ini untuk mendapatkan pengobatan dari relawan dokter yang ada. Sementara itu, tim MER-C lainnya melakukan mobile ke wilayah bantaran Ciliwung yang belum mendapat bantuan medis. Tim mobile bersama Tim SAR dengan menggunakan perahu karet. Ternyata masih banyak warga yang memilih bertahan di rumah-rumah mereka yang terendam banjir dan tidak mau dievakuasi. Salah satunya seorang Bapak tua usia 62 tahun yang memilih bertahan di rumah, sorang diri, dalam keadaan sakit. Atas informasi dari istrinya, Dokter MER-C bersama Tim SAR berusaha mencapai dan memasuki rumahnya. Setelah diperiksa, sang Bapak menderita hipertensi dan segera dievakuasi. Usai mobile dengan menggunakan perahu karet, Tim MER-C mendapat laporan dari warga bahwa masih ada lokasi pengungsian yang belum mendapatkan bantuan pengobatan. Mereka berharap Tim MER-C bisa mengecek kondisi kesehatan warga yang mengungsi di sana. Dengan menggunakan sepeda motor, warga mengantar dokter MER-C ke lokasi pengungsian yang terletak di Wisma Tjiliwung. Pelayanan medis pun segera digelar bagi warga di wisma ini. Hari sudah mulai gelap ketika Tim MER-C selesai memberikan bantuan pengobatan. Penyakit yang banyak diderita oleh warga korban banjir yang diobati hari ini adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas), penyakit kulit, hipertensi dan diare.