MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Beri bantuan Medis Ke Pelosok Filipina

Warga menggunakan terpal untuk melindungi mereka dari hujan saat topan melanda kota Tacloban di provinsi Leyte, Filipina tengah, Ahad (10/11). (AP/Bullit Marquez) REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) mengirimkan tim medis untuk membantu pengungsi badai Haiyan di Filipina. Tim yang terdiri dari dokter ahli bedah, ortopedi, saraf dan umum dibantu tim perawat terjun hingga pelosok Filipina. Presidium MER-C, Jose Rizal Jurnalis menyebutkan tim MER-C fokus pada pertolongan medis, mobile clinik dan tindakan operasi. Tim medis MER-C sementara bermarkas di Medellin Medical Clinic. “Tim mobile clinic juga melakukan bedah di lokasi yang memungkinkan,” ujarnya saat dihubungi Republika, Kamis (28/11). Jose menyebut lembaganya fokus memberi bantuan medis meski memiliki divisi konstruksi. Sebagai lembaga yang bergerak di bidang medis, timnya lebih mendahulukan menolong pengungsi dibanding rekonstruksi. Namun timnya juga siap menyalurkan bantuan untuk konstruksi. “Sesuai amanah masyarakat. Kalau amananahnya bangun sekolah, rumah sakit, Insya Allah disalurkan,” ujar Jose. Ketua Tim MER-C untuk Filipina, Abdul Mughni melaporkan saat ini tim sedang melakukan mobile clinic di pulau Instrasan. Daerah ini adalah daerah terjauh yang dijangkau tim dari posko di Medellin. Tim harus menempuh tiga jam perjalanan dengan ferry dilanjut boat kecil ke lokasi ini. “Separuh rumah sudah hancur atapnya. Pohon-pohon juga habis bertumbangan,” ujar Mughni dari Filipina, Kamis (28/11). Medical Clinic yang digelar sejak kedatangan disambut antusias pengungsi. Rata-rata 250 pasien ditangani setiap harinya. Saat ini yang dikeluhkan pengungsi adalah diare, Ispa dan gatal. “Tiga pekan setelah bencana tidak ada air sehingga penyakit kulit muncul,” terang Mughni. Tim membagi peran dalam misi ini. Ada yang berjaga di Medellin untuk melakukan tindakan operasi dan ada tim yang terjun dengan mobile clinic. Relawan MER-C juga telah melakukan tindakan operasi terhadap 20 pasien. Sebagian besar karena luka yang terlambat ditangani. “Kasus patah tulang 4 orang kita operasi,” ujarnya. Tim yang tiba di Filipina sejak, Sabtu (23/11) direncakan akan kembali ke tanah air 4 Desember mendatang. MER-C akan terus menggalang bantuan kemanusiaan untuk Filipina. Jose menerangkan dana untuk Filipina diambil dari pos kemanusiaan. “Kita tak ambil dari dana untuk Gaza dan Afghanistan,” kata Jose. Pihaknya juga masih menerima donasi dari masyarakat untuk membantu korban badai Haiyan Filipina. Bagi masyarakat yang ingin menyumbang lewat MER-C bisa melalui rekening BCA Cabang Kwitang 6860099339 atau Bank Syariah Mandiri Cabang Salemba  7015658899 atas nama Medical Emergency Rescue Committe. Reporter : Hafidz Muftisany Redaktur : Heri Ruslan Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/11/28/mwz801-merc-beri-bantuan-medis-ke-pelosok-filipina

Di Tengah Krisis, Relawan RS Indonesia Di Gaza Gunakan Kayu Bakar Untuk Masak

Bayt Lahiya, 11 Muharram 1435/15 November 2013 (MINA) – Relawan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Jalur Gaza dalam beberapa hari terakhir terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memasak di tengah krisis gas, bahan bakar, serta listrik yang melanda jalur Gaza. Salah satu relawan Abu Fikri mengatakan, dirinya beserta para relawan yang lain menggunakan kayu bakar bekas bahan bangunan RS Indonesia  yang terletak di Utara Gaza itu. “Kami menggunakan kayu palet, kayu dudukan keramik, atau kayu bekas lainnya yang didapati di sekitar RSI,” terang Abu Fikri kepada Kantor Berita Islam Internasional MINA (Mi’raj News Agency) melalui telepon, Jumat (15/11). Relawan yang berperan sebagai site manager dalam pembangunan RS Indonesia di Distrik Bayt Lahiya itu menerangkan lebih jauh, di tengah kekurangan bahan pokok di Jalur Gaza akibat penutupan terowongan dan blokade penjajah Israel, para relawan memasak tiga kali sehari dengan menggunakan bahan kayu di lantai dasar (basement) RS Indonesia yang masih dibangun. “Salah satu relawan yang setiap hari mengatur urusan masak memasak, sudah mulai mempersiapkan bahan untuk dimasak mulai dari pukul dua pagi waktu setempat agar para relawan bisa menikmati sarapan di pagi hari,” tambah Abu Fikri. Menjelaskan lebih lanjut, Abu Fikri mengatakan, relawan mulai menyiapkan makan siang mereka sejak pukul sepuluh pagi dan makan malam mulai setelah pukul dua siang karena kebutuhan energi yang besar bagi para pekerja keras ini.   Pembangunan RS Indonesia tetap berlanjut Jalur Gaza mengalami krisis bahan bangunan dan kebutuhan pokok seperti solar yang berpengaruh pada semua sektor kehidupan di satu-satunya daerah di dunia itu yang masih berada dalam penjajahan (Israel). Kekurangan bahan bakar menyebabkan ribuan sopir menjadi pengangguran, generator listrik mati karena tidak ada solar, serta alat-alat kesehatan di banyak rumah sakit berhenti bekerja. Relawan yang sudah tiga tahun di Jalur Gaza itu mengatakan, meskipun pembangunan terkendala bahan seperti semen akibat blokade, dia dan timnya terus melakukan pekerjaan sebisa mungkin sehingga rumah sakit bisa cepat rampung. “Kami tidak berpangku tangan meskipun persediaan semen sudah habis. Kawan-kawan masih melakukan pekerjaan yang tidak membutuhkan bahan itu, seperti penyelesaian tempat parkir, nge-cat, pemasangan sound system, AC, panel utama, dan lain sebagainya,” ujar Abu Fikri. Abu Fikri menegaskan, penderitaan warga Gaza yang sudah menderita sejak sebelum krisis akibat blokade penjajah Israel dan mengharapkan peran semua pihak, termasuk Indonesia, untuk ikut membantu meringankan beban yang sedang dialami warga di tengah krisis semua sektor itu. “Kami melihat obat-obatan di sini sudah hampir habis, warga Gaza harus menyeberang ke Mesir untuk berobat, masih di perbatasan saja susah keluar,” terang Abu yang menambahkan, “Saya harap pemerintah Indonesia mampu melakukan diplomasinya untuk membujuk Mesir memudahkan warga yang menyeberangi lewat Rafah.” Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Ma’had Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. Pekerjaan pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia di mana seluruh pekerjanya tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RS Indonesia dijadwalkan selesai akhir tahun 2013 ini. Rumah Sakit Indonesia itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel.  RS Indonesia di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke.(L/P03/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/11963-relawan-rsi-di-gaza-gunakan-kayu-bakar-untuk-masak-di-tengah-krisis.html

Alumni GMJ Indonesia Serukan Pembebasan Al-Aqaha

Bogor, 23 Dzulhijjah 1434/28 Oktober 2013 (MINA) – Para relawan kemanusiaan yang tergabung dalam Alumni Global March to Jerussalem (GMJ) asal Indonesia menyerukan kepada umat Islam untuk memperhatikan pentingnya Masjid Al-Aqsha bagi perjuangan umat Islam sedunia. “Ini bukan sekedar pertemuan relawan yang pernah melakukan aksi longmarch hingga ke perbatasan Jodania-Palestina. Tetapi untuk mengingatkan kembali untuk terus-menerus menggencarkan pentingnya memperhatikan upaya-upaya pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina dari penjajahan Israel,” kata Ketua Alumni GMJ Indonesia, Tatang Syahria kepada Mi’raj News Agency (MINA), usai Silaturahim Alumni GMJ Indonesia di Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Ahad sore (27/10). Beberapa waktu sebelumnya, Ketua GMJ Internasional, Dr. Ribhi Halloum kepada MINA juga menyerukan umat muslim sedunia untuk bergerak mencegah tindakan Zionis Israel bertindak lebih jauh terhadap Al-Aqsha dan kawasan kota suci Jerusalem. Tindakan antara lain melalui sosialisasi dan aksi GMJ yang diikuti oleh ribuan peserta, termasuk dari Indonesia, tambahnya. Pada acara temu peserta GMJ itu juga diadakan Pelatihan Video Televisi untuk wartawan MINA, staf MER-C dan alumni GMJ bersama Tim Tutor Fitra Ratory (TV One), Silvano Hajid (Kompas TV), Hery Alamsyah (MNC Tv), dan Nashih Nashrullah (Republika). Turut hadir peserta GMJ dari Bogor, Tasikmalaya, Sukabumi, Garut dan Lampung. Menurut Fitra, pelatihan untuk menggali potensi dan meningkatkan kemampuan wartawan dalam pengambilan video reportase televisi. “Apalagi saat ini berkembang citizen journalism yang melibatkan masyarakat dalam pemberitaan tertentu,” ujarnya. Menurut Widi Kusnadi, Redaktur Timur Tengah MINA, pelatihan video televisi sangat bermanfaat bagi wartawan, khususnya untuk koresponden MINA di Palestina, Mesir, Yaman, Jordania dan Sudan. (L/P010/R1). Sumber http://mirajnews.com/indonesia/11243-kantor-berita-mina-adakan-pelatihan-jurnalistik-tv.html

Relawan Indonesia Longmarch Cinta Al-Aqsha di Jalur Gaza

Relawan Indonesia peserta kegiatan solidaritas Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha melewati jalan Shalahuddin Al-Ayubi, Jalur Gaza, Palestina. (Foto:MINA/Husain) Bayt Lahiya, 13 Dzulhijjah 1434/18 Oktober 2013 (MINA) – Mengisi hari-hari libur kerja selama empat hari sejak Hari Raya Idul Adha 1434 H, sejumlah relawan Indonesia di Jalur Gaza mengadakan Longmarch Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha di sepanjang Jalur Gaza. Koordinator acara Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha, Syamsuddin menjelaskan bahwa tujuan digelarnya aksi solidaritas itu dalam rangka meneladani perjuangan para pendahulu kaum Muslimin yang pernah berjaya mengamankan tanah Palestina dari penjajahan bangsa lain. Dia juga mengatakan, kegiatan solidaritas terhadap rakyat Palestina dan pembebasan Masjid Al-Aqsha pada Kamis (17/10) dilakukan oleh 27 relawan Indonesia yang saat ini sedang mengerjakan amanah pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Bayt Lahiya, utara Jalur Gaza, Palestina. “Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha di mulai sejak pukul tiga dini hari dan selesai pukul tujuh malam waktu setempat, diikuti oleh 27 relawan Indonesia,” kata Syamsuddin kepada koresponden Mi”raj News Agency (MINA) di Jalur Gaza, Muhammad Husain. Para relawan RS Indonesia di Jalur Gaza berjumlah 33 orang merupakan sukarelawan dari Pondok Pesantren Al-Fatah yang bekerjasama dengan Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RS Indonesia. Rumah Sakit menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel itu direncanakan selesai pembangunan fisiknya pada akhir tahun ini. Kegiatan solidaritas “Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha” dilakukan dengan menempuh jarak lebih dari 40 Kilometer dimulai dari pintu perbatasan Rafah, selatan Jalur Gaza yang menghubungkan antara Jalur Gaza (Palestina) dengan Mesir dan berakhir di pintu perbatasan Bayt Hanoun (Erez) yang menghubungkan antara Kota Bayt Hanoun, utara Jalur Gaza dengan tanah Palestina yang dijajah Israel. “Para peserta Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha menempuh rute melalui Jalan Shalahuddin Al-Ayubi yang merupakan jalan utama menghubungkan pintu perbatasan Rafah hingga Masjid Al-Aqsha,” tegas Syamsuddin. Dalam perjalanan, Para peserta Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha meneriakkan takbir dan yel-yel solidaritas Palestina dan pembebasan Masjid Al-Aqsha (Al-Aqsha Haqquna, Al-Aqsha milik kami (kaum Muslimin)) serta mengibarkan bendera Indonesia dan Palestina dengan bendera Liwa bertuliskan kalimat takbir (Allahu Akbar/Allah Maha Besar) berwarna putih berlatar hitam. Setelah para peserta sampai di pintu perbatasan Bayt Hanoun, acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh seorang relawan asal Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia, Ustadz Abdurrahman Parmo. Sementara itu, warga Gaza yang menyaksikan kegiatan “Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha” sangat antusias dan menyambut baik aksi solidaritas yang dilakukan para relawan Indonesia itu. Penduduk Gaza mengapresiasi rakyat Indonesia atas dukungan yang diberikan terhadap penduduk Palestina yang masih menderita akibat penjajahan yang dilakukan penjajah Israel sejak 1948. “Saya berterima kasih kepada rakyat Indonesia pada umumnya. Saya juga berterima kasih terhadap aksi solidaritas ini,”kata salah seorang penduduk Palestina di Jalur Gaza, Ra’id (40). Menurutnya, kegiatan solidaritas tersebut merupakan aksi yang luar biasa dan inovatif dalam mendukung kemerdekaan Palestina dan pembebasan Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam.   Al-Aqsha dalam Bahaya Setelah Hamas memenangkan pemilu pada 2006, sejak Juni 2007, Israel telah memperketat blokade jalur darat dan laut untuk mengisolasi Jalur Gaza dari akses keluar masuk menuju Tepi Barat, termasuk kota Al-Quds di mana Masjid Al-Aqsha berada, dan negara-negara lain di seluruh dunia. Penduduk Palestina di Jalur Gaza sangat ingin sekali berusaha mencapai Masjid Al-Aqsha untuk melakukan ibadah di dalamnya, selama puluhan tahun penjajah Israel masih melarang mereka memasuki kompleks masjid itu. Hingga kini, Masjid Al-Aqsha dalam kondisi berbahaya setelah menjadi sasaran pelanggaran dan penodaan berulang-ulang oleh para pemukim ilegal ekstrimis Yahudi dan pejabat resmi penjajah Zionis Israel (Knesset) dengan kawalan ketat pasukan penjajah Israel, terutama pada hari raya Yahudi. Langkah itu melengkapi upaya Yahudisasi penuh di Kota Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha di mana yayasan Al-Aqsha untuk Wakaf dan Warisan Islam melaporkan sebanyak 104 sinagog Yahudi juga telah tersebar di sekitar lingkungan Masjid Al-Aqsha. Yahudi menyebut Al-Aqsha sebagai sinagog mitos mereka “Temple Mount/Kuil Bukit” mengklaim daerah itu menjadi tempat dua sinagog Yahudi terbesar di zaman kuno. Mereka percaya mesias (juru selamat) mereka tidak akan tiba sampai sebuah sinagog Yahudi terbesar ketiga dibangun di atas lokasi Masjid Al-Aqsha itu. Sementara Masjid Al-Aqsha merupakan tempat paling suci ketiga bagi umat Islam. Hal itu terkait dengan Masjid Al-Aqsha sebagi kiblat pertama umat Islam dan peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shalallahu’ Alaihi Wa Salam. Nabi ketika itu naik ke Sidratul Muntaha melalui Masjid Al-Aqsha. (L/P02/R1) Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/10862-relawan-indonesia-gelar-gerak-jalan-cinta-al-aqsha-di-jalur-gaza-palestina.html

Relawan Indonesia Di jalur Gaza Salurkan Daging Qurban

Gaza, 11 Dzulhijjah 1434/16 Oktober 2013 (MINA) – Setelah melaksanakan shalat Idul Adha bersama masyarakat Gaza, Relawan  Indonesia yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza melanjutkan kegiatan pemotongan hewan qurban sumbangan sejumlah dermawan asal Indonesia. Hewan qurban merupakan donasi 24 orang kiriman dari Indonesia yang mengikuti Program Qurban di Gaza yang dikoordinir oleh Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) berpusat di Jakarta. Hewan qurban yang dipotong di kompleks RSI di Gaza sejumlah satu ekor sapi dan 26 ekor kambing. “Hewan qurban itu merupakan sumbangan umat Islam Indonesia untuk warga setempat yang hingga saat ini masih terblokade dari darat, laut dan udara oleh Israel,” lapor Muhammad Husein, Koresponden Mi’raj News Agency (MINA) di Jalur Gaza. Menurutnya, pelaksanaan qurban dilakukan langsung oleh 32 relawan RS Indonesia di Gaza mulai dari memilih, membeli, membagikan hewan qurban langsung door to door kepada warga yang berhak menerimanya. Menurut informasi panitia pelaksana, hewan qurban berupa domba dengan berat 40-50 kg, di Gaza mencapai Harga Rp. 3,5 juta per ekor, sudah termasuk biaya operasional. Penduduk Gaza yang kini sedang mengalami kondisi krisis ekonomi dan sektor penting lainnya sangat senang mendapatkan daging qurban yang dibagikan para relawan Indonesia, ujar Husein. Salah seorang warga mengemukakan rasa syukur dan terima kasih atas kepedulian umat Islam Indonesia terhadap warga Gaza. “Besok insya Allah ada penyembelihan kambing lagi, khusus dari warga sekitar RSI untuk para relawan,” ujar Syuhada, salah satu relawan MER-C. (L/K09/P02/R1). Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/10836-relawan-indonesia-di-jalur-gaza-salurkan-daging-qurban.html

Relawan Indonesia Shalat ID Bersama PM Ismail Haniya

Gaza, (10 Dzulhijjah 1434/15 Oktober 2013) – Sejumlah relawan Indonesia yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza melaksanakan shalat Idul Adha, Selasa 10 Dzulhijjah 1434/15 Oktober 2013 bersama Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyya di Lapangan Stadion Utama Yarmouk, Jalur Gaza, Palestina. Tampak enam relawan Indonesia yang bertugas atas nama Medical Emergency Rescue (MER-C) di antaranya Husen, Ridho, Sulis, Rahman, Karidi, dan Mulyono, menghadiri shalat Idul Adha bersama ribuan warga setempat, diiringi takbir, tahlil dan tahmid. Dalam khutbahnya, seperti dilaporkan Muhammad Husein, Koresponden Mi’raj News Agency (MINA) di Gaza, Ketua Parlemen Palestina, Syekh Dr Ahmad Bahar mengatakan, bahwa bangsa Palestina telah menempuh jejak kenabian Ibrahim Alaihis Salam dengan pengorbanan dan pembelaan terhadap negeri Palestina terjajah. Syaikh Bahar menyerukan agar seluruh komponen bangsan Palestina, negeri-negeri Arab, dan umat Islam di dunia agar bersatu membela perjuangan kemerdekaan Palestina dan bagi pembebasan Masjid Al-Aqsha. “Kehadiran Hari Raya Idul Adha memberikan peringatan agar umat Islam ikut serta dalam pengorbanan membebaskan saudara-saudaranya dari penjajahan Israel,” ujar Syaikh Bahar. Sementara itu Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza, Ismail Haniyya seusai shalat Id mengatakan kepada wartawan, bahwa Gaza khususnya dan Palestina pada umumnya adalah negeri kaum muslimin. “Jalur Gaza siap menerima dukungan dari negeri-negeri lain”, ujar Haniyya. Sejumlah 26 relawan Indonesia lainnya, melaksanakan shalat Idul Adha di tempat terpisah, di dekat Rumah Sakit Indonesia, yaitu di lapangan bundaran Syaikh Zaid di samping Masjid Agung Syaikh Zaid Bait Lahiya, Gaza. Bertindak sebagai imam dan khatib ulama setempat, Syeikh Dr.Mahmoud Muhammad Al-Bait. Setelah shalat Id dilanjutkan dengan pemotongan hewan qurban kiriman sejumlah dermawan asal Indonesia untuk warga di Jalur Gaza. (L/K09/P02/R1). Sumber : http://mirajnews.com/palestina/10800-relawan-indonesia-shalat-id-bersama-pm-ismail-haniya.html

Mufti Gaza: Relawan Indonesia Harus Pimpin Pembebasan Al-Aqsha

Syaikh DR. Samih Hajaj (Abu Anas). (Foto: MINA/Rana) Gaza City, 18 Dzulqo’idah 1434/24 September 2013 (MINA) – Mufti Palestina di Jalur Gaza, Syaikh DR. Samih Hajaj menyatakan, para relawan dari Indonesia harus tampil di depan dalam memimpin perubahan peradaban dunia, pembebasan Masjid Al-Aqsha, dan perjuangan kemerdekaan Palestina. Hal itu diungkapkannya saat para relawan Indonesia yang tergabung dalam tim pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza-Palestina berkunjung ke kediamannya, Ahad (22/9).   “Kehadiran para relawan Indonesia di Gaza ibarat garam dalam sebuah masakan. Meskipun sedikit, tapi mereka sanggup memberikan warna yang baik pada lingkungan tempat mereka berada,” kata Syaikh Hajaj yang juga dikenal dengan Abu Anas. Syaikh Abu Anas juga mengungkapkan harapannya agar para relawan Indonesia dapat hadir ke seluruh penjuru dunia untuk menjadi penyejuk dalam panasnya peradaban di tengah pergolakan yang terjadi di negara-negara Islam, khususnya di Timur Tengah. Ulama yang pernah berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia itu berharap ia dapat berjumpa dengan para relawan Indonesia sesering mungkin. “Saya berharap akan ada lebih banyak lagi relawan Indonesia yang berada di Jalur Gaza. Kehadiran para relawan Indonesia sangat ditunggu-tunggu rakyat Palestina dan tentunya Muslimin di seluruh dunia,” ungkapnya. Syaikh Hajaj berpesan kepada para relawan agar pembinanya yang ada di Indonesia bisa hadir di Jalur Gaza. “Saya sangat ingin bertemu dengan pembina kalian di Indonesia. Sampaikan kepadanya, saya rindu ingin berjumpa dengannya,” ujar Syaikh Abu Anas. Syaikh Abu Anas juga menyatakan harapannya bahwa dari Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia kelak akan memimpin perubahan peradaban dunia yang kini sedang bergejolak dan pembebasan Masjid Al-Aqsha yang kini masih dijajah Zionis Israel. “Muslimin Indonesia jangan berkecil hati dengan kiprah dan peran mereka dalam perjuangan. Ingat, Shalahuddin Al-Ayyubi itu bukan orang Quraisy. Ia orang Irak. Tapi ia mampu memimpin perubahan, membebaskan Masjid Al-Aqsha dari tangan penjajah,” ungkapnya. Tim relawan Indonesia yang berkunjung ke kediaman Syaikh Hajaj adalah Ir. Edi Wahyudi (Jakarta), Ust. Abdurahman (Jawa Tengah), Luthfi (Kalimantan Barat) dan Tata Lukita (Jawa Barat). RSI di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. Saat ini MER-C sedang mengerjakan dua pembangunan rumah sakit sekaligus di dua daerah berbeda, Jalur Gaza, Palestina dan Galela, Maluku. Pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza memerlukan dana sekitar 100 miliar rupiah yang terbagi untuk biaya pembangunan bangunan utama RSI dan sarana penunjang berupa alat-alat kesehatan. (L/P06/P04/P02)  Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/9976-mufti-gaza-relawan-indonesia-harus-pimpin-pembebasan-al-aqsa.html

FIM Jasa Ekatama Komitmen Perjuangan RS Indonesia di Gaza

Jakarta, 24 Syawal 1434/31 Agustus 2013 (MINA) – Presiden Direktur FIM Jasa Ekatama, Ichsan Thalib menyatakan komitmennya pada perjuangan pendirian Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur  Gaza, Palestina. “Kami dari PT. FIM Jasa Ekatama mempunyai kepedulian pada pembangunan RS Indonesia di Gaza maupun RS MER-C Galela, Maluku. Komitmen kami sangat jelas untuk perjuangan ini, melalui konser amal Jakarta Melayu Festival kami menyerahkan dua unit rumah senilai lebih kurang tiga milyar rupiah untuk perjuangan RS di Gaza maupun di Galela,” kata Ichsan Thalib kepada Mi’raj News Agency (MINA). Penyerahan dua unit rumah untuk pembangunan kedua rumah sakit tersebut dilakukan secara simbolis oleh Ichsan Thalib saat acara Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja” di Jakarta, Jumat malam (30/8). Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja”(Foto. Rana/MINA) Sementara itu, promotor acara tersebut, Geisz Chalifah mengatakan bahwa sejumlah sumbangan yang telah masuk termasuk hasil penjualan tiket akan diserahkan ke lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza dan RS MER-C Galela. Menurutnya, ada hubungan historis antara Indonesia, Palestina, dan Mesir. Konser melayu tersebut adalah bagian dari penghargaan kepada Mesir dan Palestina yang telah mengakui awal kemerdekaan Indonesia. “Konser ini berangkat dari semangat kemerdekaan RI, dan yang pertama menyatakan kemerdekaaan Indonesia adalah mesir dan selanjutnya palestina, dan Melayu sebagai identitas nasional kita, menyatakan ungkapan penghargaan kepada Mesir dan Palestina melalui konser amal tersebut,” ungkap Geisz Chalifah. Kemudian menurut Geisz, Ia ingin mengangkat budaya bangsa Indonesia yang selama ini terlupakan, dikesampingkan, tidak diapresiasi, dan tidak mendapat penghargaan. Ia mengharapkan, dengan langkah semacam ini mudah-mudahan media dan para aktivis mulai mebuka mata bahwa ada sesuatu yang patut diperjuangkan, sebagai jati diri bangsa Indonesia. Dalam Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja” tersebut, penyanyi religi Sulis tampil bersama penyanyi Melayu yang juga penyanyi dangdut, seperti Iyeth Bustami, Hamdan ATT, Fuad Balfas, Emma Lopez, Fahad Munif, Hendri Lamiri, sang akordian; Butong, Mustafa Abdullah, Nizar Ali dan dimeriahi oleh L’Catraz Band dan Konsentra Sumut. Rencananya, untuk menumbuhkan rasa cinta pada kebudayaan Indonesia, Jakarta Melayu Festival akan diadakan setiap setahun sekali. (L/P02/P06/P015/P01/R2).  Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/8867-fim-jasa-ekatama-komitmen-perjuangkan-rs-indonesia-di-gaza.html

RSI Gaza Bukti Nyata Dukungan Rakyat Indonesia untuk Palestina

Jakarta, 24 Syawwal 1434/31 Agustus 2013 (MINA) – Tokoh intelektual muda Indonesia, Anies Baswedan mengatakan, Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza merupakan salah satu upaya nyata rakyat Indonesia dalam mendukung Palestina. “Bukan saja mengirimkan dukungan lisan dan doa (untuk Palestina), tapi upaya nyata dalam bentuk fisik seperti pembangunan rumah sakit. Ini bisa jadi contoh untuk semua,” kata Anies kepada Mi’raj News Agency usai acara Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja” di Jakarta, Jumat malam (30/8). Rumah Sakit Indonesia (RSI) dibangun di atas sebidang tanah wakaf yang berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. (Foto. Doc. MER-C)    Anies Baswedan, pendiri gerakan Indonesia mengajar juga mengatakan bahwa acara konser mengangkat kebudayaan melayu yang dikemas untuk kegiatan kemanusiaan sangat cerdas.  Baginya, Musik Melayu mempunyai kekuatan syair yang luar biasa dan pesan yang disampaikan dalam setiap baitnya baik sekali. Apalagi acara Konser Kemerdekaan Musik Melayu tersebut dikhususkan untuk acara kemanusiaan. “Oleh karena itu Kegiatan Konser Kemerdekaan Musik Melayu seperti ini punya efek yang baik,” ujar Rektor Universitas Paramadina itu. Dalam Konser Kemerdekaan Musik Melayu “Seroja’, penyanyi religi Sulis tampil bersama penyanyi Melayu yang juga penyanyi dangdut, Hamdan Attamimi, Hendry Lamiri, dan Fuad Balfas serta diiringi Anwar Fauzi Orkestra. Hasil penjualan tiket konser musik Melayu yang dilaksanakan di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta tersebut akan disumbangkan untuk pembangunan Rumah Sakit Galela di Maluku dan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Dalam konser musik Melayu itu juga diadakan penyerahan secara simbolis dari Presiden Direktur FIM Jasa Ekatama Ichsan Thalib kepada ketua panitia Geisz Chalifah, dua unit rumah di sebuah kompleks perumahan seharga sekitar tiga milyar rupiah untuk dijual dan hasilnya bagi pembangunan rumah sakit tersebut. Butuh Dana 75 Milyar Rupiah Lagi RSI di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Rumah sakit yang dibangun di atas tanah wakaf dari pemerintah Palestina seluas 16.261 m2 itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel. Fasilitas itu dapat menampung sedikitnya 100 pasien. Pekerjaan pembangunan RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RSI dijadwalkan selesai akhir tahun 2013. Saat ini, para relawan sedang melakukan pembangunan RSI Gaza tahap kedua berupa tahap arsitektur dan Mekanikal Elektrikal (ME).   Pembangunan fisik RSI Gaza menelan biaya 30 milyar rupiah. Setelah pembangunan fisik selesai dibutuhkan dana  sekitar 7,5 milyar rupiah untuk bangunan pelengkap kompleks RSI dan 65 milyar rupiah untuk penyedian alat kesehatan, sebagian peralatan rumah sakit seperti tempat tidur dan lainnya. Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. (L/P02/P06/P015/P01). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/8822-rsi-gaza-bukti-nyata-dukungan-rakyat-indonesia-untuk-palestina.html

Festival Melayu untuk Kemanusiaan

Jakarta, 23 Syawwal 1434/31 Agustus 2013 (MINA) – Gita Cinta Production bekerja sama dengan Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) mengadakan malam penggalangan dana untuk kemanusiaan bertajuk Jakarta Melayu Festival Seroja. Dalam festival tersebut turut dimeriahkan oleh penyanyi muda muslimah, Sulis, serta musisi kawakan Iyeth Bustami dan Hamdan ATT. Sementara itu saat diwawancarai Wartawan Mi’raj News Agency (MINA), promotor acara, Geisz Chalifah mengungkapkan bahwa “Festival ini juga bertujuan membangkitkan seni musik Melayu”. Sementara itu, intelektual muda Indonesia yang ikut hadir, Anies Baswedan mengapresiasi langkah nyata ini untuk mendukung program kemanusiaan yang dilakukan MER-C untuk RSI Gaza dan RS Galela. “Ini merupakan langkah kongkret yang bagus untuk membantu pembangunan RS Indonesia di Gaza,” ungkap Anies. Hasil penggalangan dana tersebut akan disumbangkan untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza dan RS Galela di Maluku yang sedang dalam proses pembangunan oleh beberapa relawan MER-C. Saat ini MER-C sedang mengerjakan dua pembangunan rumah sakit sekaligus di dua daerah berbeda, Gaza, Palestina dan Galela, Maluku. Pembangunan RS Indonesia di Gaza memerlukan dana sekitar 100 miliar rupiah yang terbagi untuk biaya pembangunan bangunan utama RSI dan sarana penunjang berupa alat-alat kesehatan. Pembangunan kedua rumah sakit tersebut juga melibatkan SDM dari Pesantren Al-Fatah Indonesia. (L/P01/P02/P06/P015). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/8821-festival-melayu-untuk-kemanusiaan.html

Silahkan bertanya?