RSI Gaza Dibangun Bermodalkan Ketulusan Hati

Jakarta, 28 Rabi’ul Awwal 1435/30 Januari 2014 (MINA)-Rampungnya pelaksanaan konstuksi fisik Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza yang dibangun di lokasi sulit, dinilai oleh Ketua Tim Konstruksi Pembanguan, Ir. Faried Thalib sebagai pertolongan Allah melalui hati-hati dan tangan-tangan yang tulus. “Kita tidak pungkiri,ini pertolongan Allah melalui hati-hati yang ikhlas dan tangan-tangan yang tulus dari rakyat Indonesia,” kata Faried saat di temui oleh Mi’raj Islamic News Agenc,y (MINA) di Jakarta, Rabu malam (29/1). Menurut insinyur yang mengomandani pembangunan RSI di Gaza itu, dana pembangunan murni berasal dari rakyat Indonesia yang membantu dengan menyisihkan sebagian rezekinya dan donatur lebih banyak berasal dari kalangan menengah ke bawah. Faried yang juga menukangi pembangunan Rumah Sakit Galela di Maluku, mengaku sangat bersyukur kepada Allah yang memberikan kesempatan kepadanya untuk ikut ambil bagian dalam tim pembangunan RSI di Gaza. “Rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina, tidak berdiri sendiri atau karena saya, tapi ini kerja tim semuanya, MER-C, Ponpes Al-Fatah, dan banyak pihak, terutama rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” ujar Faried yang sedang menunggu ijin keberangkatannya ke Gaza bersama tim RSI selanjutnya. Menurut salah satu Anggota Presidium MER-C ini, RSI di Gaza adalah bukti tanda mata kasih dan cinta dari rakyat Indonesia kepada Palestina. “Inilah suatu ungkapan, bukan sekedar sebuah rumah sakit, tapi lebih dari itu. Indonesia akan memberikan yang terbaik untuk Palestina, in syaallah.” Lebih murah dibandingkan di Indonesia “Di akhir pembangunan ini, saya coba menghitung biaya pembangunan permeternya. Subhanallah. Jika saya bangun di Indonesia, jauh lebih mahal. Itu relatif murah dengan kualitas bangunan yang lebih baik,” kata Faried. Untuk daerah konflik, harga tanah relatif normal dan harga material murah, dapat dikategorikan sama dengan di Indonesia. “Perbandingannya, di Gaza pembangunannya permeter bisa tiga atau empat jutaan Rupiah, tapi di Indonesia, tidak mungkin di bawa lima juta.” /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Karena di sana daerah konflik, ada tingkat-tingkat kesulitan yang dialami di awal-awal pembangunan. Namun setelah tim dari Indoensia lebih mengetahui medan di lapangan, tidak terlalu sulit mendapatkan barang-barang tersebut. Walaupun daerah konflik, ternyata suplai material tidak terlalu sulit. Bahan-bahan dibeli di Gaza, suplierrnya dari Mesir dan Israel. Memang saat terjadi ketegangan usai pemboman, baik di Israel maupun di Gaza, barang-barang agak sulit diperoleh untuk beberapa waktu. Namun, dua atau tiga minggu kemudian, kembali normal lagi. Pasca kudeta Mesir, suplai material terkendala sejak tertutupnya jalur-jalur tidak resmi dari Mesir,tidak seperti pada era pemerintahan Muhammad Mursi memerintah, sehingga suplai hanya tinggal dari satu pihak, yaitu Israel. Keunikan Israel, meski pun militernya berperang dengan Gaza, perdagangan barang ke wilayah yang dikuasai Hamas tetap berjalan. Rumah sakit yang membidangi bidang traumatologi tersebut bangunannya berbentuk segi delapan yang seluruh bagian luarnya ditutup dengan marmer. Marmer yang tebalnya lima centimeter, akan menjadi pelapis untuk menangkal cuaca ekstrim. Ketika musim panas, bahan marmer mampu meredam suhu menjadi dingin dan ketika musim dingin, suhu tetap hangat. Tebal tembok bangunan sekitar 27 centimeter. Tahapan pembangunan fisik RSI sudah selesai dan memasuki tahap pengadaan peralatan kesehatan. Menurut Faried, anggaran yang diperlukan sekitar Rp60 – 75 milyar, atau meningkat dua kali lipat dari jumlah yang semula dianggarkan. (L/P09/E02/Mi’raj News). Sumber : http://mirajnews.com/palestina/14554-rsi-di-gaza-dibangun-oleh-tangan-tangan-yang-tulus.html
MER-C Beri Bantuan Medis Ke Warga Apartemen Yang Diputus Aliran Air dan Listrik-nya

Jakarta, 27 Rabiul Awwal 1435/29 Januari 2014 (MINA) – Tim kesehatan Medical Emergency Rescue- Committee (MER-C) memberikan bantuan medis kepada warga apartemen Graha Cempaka Mas, Jakarta yang saat ini bersengketa dengan pihak pengembang Duta Pertiwi (grup Sinar Mas). Aliran listrik dan air pada mereka diputus, sehingga banyak di antara mereka mengalami masalah kesehatan beberapa diantaranya mengalami masalah kesehatan yang serius. Ada pula warga yang jadi korban penganiayaan. Presidium MER-C, Jose Rizal Jurnalis mengatakan pihaknnya memberikan layanan bantuan kemanusiaan kepada siapa saja yang membutuhkan.”Kami akan selalu konsisten memberi bantuan kemanusiaan kepada siapapun, tapi sama sekali tidak masuk ke dalam ranah konflik yang terjadi,” katanya saat meninjau lokasi, Rabu malam. “Saat ini warga apartemen ini (Graha Cempaka Mas) tidak memiliki akses listrik dan air untuk kebutuhan hidupnya selama beberapa hari ini. Akibatnya mereka kini membutuhkan bantuan medis karena banyaknya warga yang menderita akibat minimnya pasokan kedua unsur kebutuhan primer itu. “Ada di antara mereka yang mengalami trauma karena kekerasan fisik, ada anak-anak yang lumpuh dan tidak bisa meninggalkan tempat tinggalnya. Ada juga orang tua yang stroke dan mereka butuh bantuan segera,”papar Jose. Irawati (72) warga Graha Cempaka Mas yang menderita stroke berharap agar masalah warga dengan pihak pengembang segera selesai agar tidak ada warga yang dirugikan atas beberapa insiden yang terjadi beberapa hari terakhir.” Kasihan kami para orang tua, juga anak anak, mereka harus jadi korban tanpa bisa berbuat banyak,” katanya. Sementara itu, Veri, warga apartemen yang menjadi korban penganiayaan mengatakan, pihak pengembang harus memberikan hak-hak warga apartemen, seperti listrik, air dan fasilitas lan yang akhir- akhir ini ditahan pengembang.“Air dan listrik adalah hak warga. Itu semua sangat diperlukan untuk kehidupan kami,” katanya. Warga lainnya, Agnes menyatakan telah melaporkan hal ini kepada Wakil Gubernur, Basuki Cahaya Purnama (Ahok). Namun belum ada tanggapan dari dia maupun pemerintah terkait. “ Saya sudah kirim laporan pengaduan ke pak wakil gubernur, tapi belum ada respon,” ungkapnya. Mulai Rabu Malam, tim Mer-C menyediakan ambulan dan beberapa tenaga medisnya di lokasi. “Kita akan terus stand by sampai kondisi benar-benar kondusif,”kata Jose Rizal kepada wartawan Mi’raj News Agency (MINA). “Kita bertugas adalah murni misi kemanusiaan. Kita tidak masuk ke ranah konfliknya. Namun, siapapun yang membutuhkan pertolongan medis, akan berusaha kita bantu, baik dari pihak warga maupun pihak lainnya,”tambahnya. Apartemen Graha Cempaka Mas terdiri atas 188 unit apartemen dan 161 rukan (rumah kantor). Mereka bersengketa dengan pihak Duta Pertiwi selaku pengembang sejak enam bulan lalu. Puncaknya, pihak pengembang memutus aliran listrik dan air para penghuninya beberapa hari terakhir ini. Warga juga merasakan teror dan ancaman keamanan dari pihak pengembang.(L/P04/IR) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/14536-mer-c-beri-bantuan-medis-ke-warga-graha-cempaka-mas.html
Polisi Diminta Tegas Soal ‘Ormas Preman’ Peneror Warga Cempaka Mas

Ilustrasi penyerangan. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Organisasi kemanusiaan medis, Mer-C menyesalkan terjadinya penyerangan dari beberapa massa organisasi kemasyarakat (ormas) kepada warga di sekitar Apartemen Cempaka Mas, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (28/1) malam. Menurut Mer-C penyerangan oleh beberapa ‘ormas preman’ ini ancaman konflik kemanusiaan di wilayah Jakarta apabila tidak segera ditangani oleh aparat kepolisian. “Kita khawatir ‘ormas preman’ ini terus meneror masyarakat bila Polisi tidak menindak tegas mereka,” ujar Ketua Mer-C Jose Rizal Jurnalis kepada Republika, Rabu (29/1). Mer-C khawatir kesewenang-wenangan ‘ormas preman’ ini. Ini terlihat dari penyerangan ke kantor Pengurus Pengelola Rumah Susun (PPRS) Apartemen Cempaka Mas. Penyerangan oknum ormas ini merusak kantor PPRS Apartemen Cempaka Mas. Permasalahan muncul setelah pihak pengembang apartemen PT Duta Pertiwi yang bertindak sepihak memutus aliran listrik dan air bersih di apartemen itu. Penghuni apartemen yang tergabung dalam PPRS berupaya melawan, hingga akhirnya terjadi penyerangan dari oknum massa ormas yang diduga membekingi pihak pengembang. Menurut Kepolisiam Resor Metro Jakarta Pusat, Kombes Angesta Romano Yoyol, konflik antar pengembang dan warga apartemen yang melibatkan pihak ormas ini terkait sengketa lahan. “Kedua pihak merasa berhak memiliki lahan,” ujarnya. Saat ini, ujar dia, pihak kepolisian sedang memediasi kedua belah pihak. Dari aksi penyerangan ini, seorang warga apartemen luka akibat pemukulan dari beberapa oknum ormas tersebut. Reporter : Amri Amrullah Redaktur : Joko Sadewo Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/14/01/29/n05fk0-polisi-diminta-tegas-soal-ormas-preman-peneror-warga-cempaka-mas
Rumah Sakit Indonesia di Gaza Diserahkan Maret

Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bangunan fisik Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina direncakan selesai Maret 2014. Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Jose Rizal Jurnalis mengatakan instalasi fisik berupa gedung, listrik, pendingin ruangan dan gas sudah selesai. “Direncanakan Maret kita serahkan ke rakyat Palestina,” ujarnya saat dihubungi Republika, Ahad (26/1). Namun, selesainya bangunan fisik belum sepenuhnya membuat RSI di Gaza bisa berjalan. Karena, peralatan medis masih belum banyak. Setelah penyerahan kepada rakyat Palestina, Mer-C akan melakukan kampanye untuk bantuan peralatan medis. Menurutnya, angka bantuan peralatan medis justru lebih besar ketimbang bantuan pembangunan fisik. “Kalau pembangunan gedung habis Rp 40 miliar, untuk peralatan medis kita butuh Rp 65 miliar,” ujar Jose. Meski belum sempurna benar, saat diserahkan nanti, RSI di Gaza sudah bisa mengoperasikan Unit Gawat Darurat (UGD), satu atau dua ruang operasi, 10 tempat tidur dan satu poliklinik. Ia masih membutuhkan perlatan seperti CT scan, instalasi ruang ICU, peralatan laboratorium dan penambahan tempat tidur untuk perawatan. Mer-C sudah berkomitmen akan terus mendampingi operasional RSI hingga lengkap peralatan medisnya. Di sisi lain, operasional RSI nantinya akan diserahkan sepenuhnya kepada rakyat Palestina. Sesuai dengan cita- cita awal, prinsip RSI adalah bantuan dari rakyat Indonesia untuk masyarakat Palestina. Teknisnya, nanti akan dibentuk kepengurusan rumah sakit yang sepenuhnya diisi orang Palestina. “Syaratnya harus berisi faksi-faksi di sana,” terang dia. Untuk itu, ia sudah menjalin komunikasi dengan faksi-faksi di Palestina utama di Gaza. Hamas, Fatah dan Jihad Islami sudah menyambut seruan ini. Namun untuk penanggung jawab tetap akan diserahkan kepada otoritas pemerintahan di Gaza. Untuk mengimbangi, ia juga menjalin komunikasi dengan Duta Besar Palestina di Indonesia yang berafiliasi dengan pemerintahan di Tepi Barat. “Jika mereka tak bisa bersatu secara politik, minimal dalam bidang kesehatan.” Sementara untuk tenaga kesehatan, dokter dan perawat lokal memiliki kompetensi yang cukup untuk menjalankan RSI. Meski secara kuantitas, Jose mengakui jumlah tenaga kesehatan asal Palestina masih kurang. “Di masa damai mencukupi. Kalau masa perang sangat kurang,” pungkas Jose. Reporter : Hafidz Muftisany Redaktur : Mansyur Faqih Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/01/26/n002lq-rumah-sakit-indonesia-di-gaza-diserahkan-maret
MER-C, Berjibaku Bantu Korban Banjir Manado

Jakarta, 24 Rabi’ul Awwal 1435/25 Januari 2014 (MINA) – Pagi itu, Ahad 19 Januari 2014, tim MER-C dari Jakarta tiba di Bandara Sam Ratulangi Sulawesi Utara tepat pukul 09.30 wita. Kurang lebih setengah jam, tim medis yang sudah melahirkan sejarah besar dengan mendirikan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza itu menunggu tim medis Makasar hingga pukul 11.15 wita dengan rencana menuju Kantor BASARNAS. Setelah berkumpul dan saling melepas rindu, tim langsung menuju Kantor BASARNAS Manado. Di BASARNAS, tim MER-C mendapatkan informasi mengenai letak posko utama penanganan bencana banjir Manado, tepatnya di Kantor Walikota Manado. Sekitar pukul 12.00 wita, tim medis itu, walikota beserta wakilnya bersiap untuk berkordinasi. Selepas kordinasi itulah tim MER-C segera diarahkan ke beberapa titik bencana di Kota Manado. Untuk memudahkan dalam memberi bantuan di lapangan, tim itu dipandu oleh RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) Rescue Manado. Menurut tim MER-C, sepanjang perjalanan menuju titik bencana, terlihat para warga yang menjadi korban bahu-membahu bersama TNI membersihkan rumah dan jalanan yang tertutup lumpur. Gundukan sampah seperti pakaian, perabotan rumah dan serpihan genting serta tembok rumah yang hancur pun tertimbun lumpur. Jalan-jalan utama menjadi padat akibat timbunan lumpur dan sampah sehingga memperlambat sampai titik bencana. Pukul 15.00 waktu setempat, tim akhirnya sampai di titik pengungsian pertama, tepat di Taman Makam Pahlawan Kai Ragi Weru. Di tempat itulah tim mulai memberikan bantuan medis kepada 20 pasien. Sebagian besar pasien itu berusia dibawah 18 tahun. Mayoritas pasien di titik pertama itu menderita penyakit dermatitis, cephalgia, hipertensi dan diare. Di titik ini juga, tim selesai menjalankan tugasnya sekitar pukul 16.30 wita. Tanpa menunda-nuda, tim kemudian berlanjut menuju titik kedua dari bencana banjir tersebut yang terletak di Kampung Kumoraka, Kecamatan Werang. Di titik itu, tim memberikan bantuan kepada 30 warga. Mayoritas pasien di titik ini berusia dibawah 18 tahun. Para pasien di tempat ini kebanyakan menderita ISPA, hipertensi dan dermatitis. Sekitar pukul 18.15 wita, tim ke penginapan untuk melepas lelah. Pembagian Tim Di hari kedua, Senin (20/1), untuk memaksimalkan memberikan bantuan kepada korban, tim MER-C dibagi menjadi dua. Tim pertama beranggota dr. Andi Fajar Wela dan Yan Adhitya Kusuma, sedang tim kedua dr. Rifki Hidayat dan dr. Fathul Rochman. Tim pertama bertugas melakukan survey ke Tomohon, wilayah yang terkena longsor. Sementara tim kedua melakukan mobile clinic bersama RAPI Rescue. Sekitar pukul 08.30 wita tim berangkat menuju posko utama untuk melakukan kordinasi dengan walikota dan jajarannya. Setelah melakukan kordinasi, dengan kendaraan bermotor, tim pertama menuju dinas kesehatan Kota Manado untuk mengambil obat-obatan yang dibutuhkan pasien. Obat-obatan itu lalu dibawa tim pertama menuju daerah pengungsi di Tinoor, Tomohon. Kurang lebih 90 menit, tim sampai di tempat tujuan. Tak mudah rupanya menuju tempat pengungsi di hari kedua itu. Meski jalannya beraspal, namun mendaki, licin dan rusak. Meski jalan sepertinya tak bisa dilalui, namun akses untuk mencapai lokasi masih bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Walau berat, akhirnya tim pertama sampai juga di lokasi. Bantuan medis pun segera diberikan. Sementara itu, tim kedua bersama RAPI Rescue melakukan mobile clinic di Gereja GKBP Sidan Hosanna, Tikala Kumaran. Tak kurang 30 orang korban ditangani tim kedua itu. Sebagian besar pasien itu adalah wanita berusia di atas 18 tahun. Penyakit yang diderita antara lain; dermatitis, ISPA, hipertensi, dan diabetes mellitus. Setelah selesai memberikan pengobatan, tim melanjutkan perjalanan untuk memberi bantuan kepada korban di Sindulan, Manado Utara. Sekitar 30 pasien bisa ditangani dengan baik. Di lokasi kedua ini, jenis penyakit yang diderita pasien hampir sama dengan pasien di lokasi sebelumnya. Memasuki hari ketiga, Selasa (21/1), tim MER-C melakukan kegiatan bersama dengan anggota Korem 131 Manado. Seperti hari sebelumnya, tim tetap dibagi dua dengan tugas sama seperti hari sebelumnya. Yang membedakan, tim kedua pada hari ketiga ini bekerja sama dengan FKPPI (Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan Indonesia) menuju beberapa titik bencana di wilayah Manado Utara. Sementara itu, tim pertama melakukan survey ke Kampung Merdeka, Dendengan Dalam. Dengan berjalan kaki, kurang lebih 30 menit untuk menempuh lokasi yang dituju. Menurut pengamatan tim, daerah yang dituju itu merupakan wilayah terparah yang diterjang bencana akibat luapan Sungai Tondano. Menurut penuturan korban, air meluap hingga mencapai ketinggian lebih kurang 4 meter. Akibatnya, sebagian besar rumah warga tenggelam. Beruntung, luapan air itu tak menelan korban jiwa. Sekitar pukul 12.00 wita, tim pertama tiba di posko bencana, tepat di sebuah masjid di Kampung Merdeka. Selepas shalat Dzuhur, tim MER-C bersama tim Calcaneus Universitas Hasanudin (Unhas) memberikan bantuan medis kepada masyarakat sekitar. Menurut tim MER-C, penyakit yang diderita warga kebanyakan penyakit kulit dan ISPA. Jumlah pasien yang ditangani sekitar 20 orang. Tepat pukul 14.00 wita, bantuan medis selesai diberikan. Kerjasama yang Baik /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Memasuki hari keempat, Rabu (22/1), baik tim pertama maupun tim kedua bergerak menggunakan kendaraan bermotor menuju daerah bencana. Tim pertama membuka posko di salah satu rumah warga di Kampung Merdeka. Tidak seperti hari sebelumnya, posko kali ini jauh dari masjid. Untuk mempersiapkan perlengkapan bantuan, tim baru bisa membuka layanan medis pukul 10.00 – 12.30 wita. Di hari keempat itu, pasien yang datang berobat berjumlah 10 orang, dengan usia dibawah 18 tahun. Sebagian besar menderita penyakit kulit. Sementara itu, tim kedua melakukan survey ke beberapa titik di Sario, Ketang Baru dan Tanjung. Namun kali ini tim kedua tidak memberikan bantuan medis karena di lokasi itu sudah banyak didirikan posko kesehatan. Selesai melakukan tugas di lokasi masing-masing, semua tim kembali ke Korem untuk melakukan kordinasi. Kali ini yang menjadi tujuan survey adalah daerah Pakowa. Tim berangkat sekitar pukul 15.30 wita menggunakan dua motor. Perjalanan menuju Pakowa memakan waktu sekitar 35 menit. Tiba di lokasi, tim langsung memberikan bantuan kepada pengungsi di masjid yang ada di Pakowa. Memasuk hari kelima, Kamis (23/1), dr. Wela dan dr. Fathul sudah kembali lebih awal ke Makasar. Sementara, dr. Rifki Hidayat dan Yan A Kusuma untuk sementara tetap di posko bencana. Sekitar pukul 14.00 wita, tim yang tersisa melakukan kunjungan kepada para warga untuk memeriksa kesehatan mereka. Setelah itu, tim menuju Kampung Bugis di Kecamatan
Serangan Udara Israel Di Utara Gaza Getarkan RS Indonesia

Jalur Gaza, 14 Rabi’ul Awwal 1435/16 Januari 2014 (MINA) – Bom-bom yang dijatuhkan pesawat tempur F16 Israel di beberapa titik di Jalur Gaza pada Kamis (16/1) dini hari menggetarkan bangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di utara Gaza. Koresponden Mi’raj News Agency (MINA) di Jalur Gaza melaporkan serangan bom sekitar 1:OO dinihari diarahkan ke sejumlah titik seperti Gaza City, sebelah timur kota Gaza (Zaitun dan Tuufah), Jalur Gaza Tengah (Nusairot), sebelah Barat Gaza (Maqousi) dan sebelah utara Jalur Gaza (Ashkolan, Beit Lahiya, dan pantai Utara). RSI Gaza yang terletak di Beit Lahiya ikut bergetar akibat tiga kali serangan bom Israel yang mengenai kamp pelatihan pejuang sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam. Menurut koresponden MINA, serangan udara tersebut diduga merupakan aksi pembalasan serangan pejuang Palestina dari Gaza terhadap sasaran di wilayah Israel beberapa waktu lalu. “Alhamdulillah, bangunan rumah sakit tidak megalami kerusakan sama sekali ,meskipun tiga ledakan yang terdengar menggetarkan bangunan,” lapor koresponden Muhamad Husein. Sementara itu, pejabat kementerian kesehatan Palestina Ashraf al-Qedra mengatakan, empat anak dan seorang perempuan menderita luka ringan dalam serangan udara di dekat kompleks perumahan Maqousi. Husein mengatakan warga di Tuufah mengalami kerusakan kecil akibat radiasi bom yang mengenai mereka. Jendela-jendela rumah mereka rusak akibatnya.(L/P03/E02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/14080-bom-f16-israel-di-utara-gaza-getarkan-rumah-sakit-indonesia.html
Indonesia’s Poor Donate $15 Million To Build A Hospital In Gaza

An Indonesian non-governmental organisation has collected nearly $15 million from Indonesia’s poor and rich alike to build the first Indonesian hospital in the Gaza Strip. The hospital, which will serve those Palestinians living in northern Gaza, is nearly finished and awaiting some equipment before it starts receiving patients. It is due for completion in May. Southeast Asian countries are known for their strong support for Palestine, especially the Muslim communities who spend many efforts to visit and support Gaza. Fikri Fikri, a 24 year-old young man from Sumatra, is a volunteer at Indonesia’s Medical Emergency Rescue Committee, known as MER-C. He and 28 other Indonesians have been in Gaza for nearly four months to finalise building the hospital. Fekri told Quds.net that: “We are nearly 30 people between workers, engineers, doctors and technicians. Many of us have already returned home because the work here is almost completed.” Fekri described how “Indonesian civil society groups in Jakarta collected donations from people who were happy to support Gaza, even though many of them suffered uneasy financial situations.” When asked if they face any problems in Gaza, Fekri responded that: “The people like us here. We have only encountered a small problem with the local Ministry of Health because the organisation wanted to have an office near the hospital but the ministry refused to allow this. But we will solve it.” Fekri, who studies sharia at the Islamic University of Gaza, explained how: “We have taken risks to complete the hospital. It’s a nice feeling to help the wounded in Gaza who suffer from Israeli aggression. We have come here and we know that it’s not easy, but we are happy. I have learned Arabic in an acceptable way. However, I’m not married so I miss my home and my country.” Abu Mohammed, a 42 year-old Indonesian engineer who joined the mission, said: “I feel sad sometimes because I have been here for so long. I feel lonely, but because I work for Palestine and Gaza, I am proud of what I do. We are nearly done. There are a few Indonesian workers here who take a symbolic wage. They all came to work for Palestine. We should finish our work and transfer the hospital’s administration to the Local Ministry of Health in May 2014. We work near the borders and it is unsafe. I do not know how to describe my feeling when I hear the explosions and Israeli airstrikes; however, I am ready to die for Palestine and for the weak and the just. I am going to be very happy when the hospital is completed and ready to serve the people of Gaza and when I return safely to my family in Jakarta.” The Health Ministry of the Hamas-led government in Gaza and Indonesia’s MER-C signed a memorandum of understanding on 21 November 2011 stipulating the financing of the hospital. Shadi Abu Herbein, the deputy director of the hospital, explained that the hospital is established on an area that is 3000 square metres and has 100 beds, eight of which are for the intensive care unit, ten for the reception, and four rooms for surgeries. – See more at: http://www.middleeastmonitor.com/news/48-asia/9146-indonesias-poor-donate-15-million-to-build-a-hospital-in-gaza#sthash.65e362SF.dpuf Source : http://www.middleeastmonitor.com/news/48-asia/9146-indonesias-poor-donate-15-million-to-build-a-hospital-in-gaza
Meski Cuaca Ekstrim, Pembangunan RS Indonesia Di Gaza Terus Berlanjut

Proses pemasangan paving block pada halaman RS Indonesia, Bayt Lahiya, utara Jalur Gaza, Palestina. (Foto: MER-C/MINA) Bayt Lahiya, 12 Shafar 1435/15 Desember 2013 (MINA) – Meski kondisi cuaca ekstrim musim dingin melanda sekitar Jalur Gaza, Palestina, hingga turunnya hujan dan salju, tidak menyurutkan semangat relawan untuk terus melaksanakan pembangunan tahap akhir Rumah Sakit (RS) Indonesia di sana. “Hujan yang mengguyur Jalur Gaza tidak menghentikan proses pembangunan RS Indonesia, mereka menghadapinya dengan semangat,” kontributor Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA), Fikri di Jalur Gaza melaporkan, Sabtu (14/12) malam waktu setempat. Fikri mengungkapkan, para relawan menyiasati rasa dingin suhu minus delapan derajat dengan memakai pakaian rangkap, jaket, dan pakaian khas musim dingin. “Di mana orang Gaza menyebutnya ‘Long Jhons’,” tuturnya. Tidak hanya itu, hujan turun selama tiga hari terakhir sempat menghambat aktivitas para relawan dalam membangun RS Indonesia. Para relawan hanya mampu mengerjakan pekerjaan bagian dalam, dengan mengganti keramik yang pecah akibat alat-alat berat atau sekedar membersihkan lantai. Sementara pengerjaan pemasangan paving block pada halaman RS Indonesia terhenti jika hujan turun. “Hujan yang tak kunjung berhenti menjadi kendala kami, namun walau demikian kami melanjutkan pekerjaan ketika hujan reda,” kata Sumadi, relawan RS Indonesia asal Wonogiri. Pekerjaan pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia di mana seluruh pekerjanya tidak dibayar (unpaid volunteers). Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Ma’had Al-Fatah Indonesia telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. Rumah Sakit Indonesia itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban penjajahan Israel atas tanah Palestina. RS Indonesia di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Laporan yang diterima oleh MINA, setidaknya empat korban telah tewas akibat cuaca ekstrim di Jalur Gaza, dua di antaranya meninggal karena kedinginan, sementara yang lainnya meninggal akibat luka-luka setelah banjir yang tinggi melanda. Musim dingin yang disertai banjir di sebagian wilayah Jalur Gaza semakin memperburuk kondisi krisis Gaza di tengah blokade yang dilakukan penjajah Israel terhadap warga Palestina di sana selama lebih dari tujuh tahun, terutama setelah penutupan seluruh terowongan di Rafah yang menjadi alternatif penyaluran kebutuhan pangan sekitar 1,8 juta jiwa di area tepi laut itu. Pada Sabtu (14/12) kemarin, Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah mendesak masyarakat internasional untuk membantu warga Jalur Gaza yang terkena dampak bencana banjir yang sedang melanda wilayah yang diblokade Israel tersebut. (L/P08/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/12884-pembangunan-rsi-terus-berlanjut-meski-kondisi-cuaca-gaza-ekstrim.htmlA
Warga Filipina Puji Tim Bedah MER-C

Seorang warga berjalan melewati pemukiman yang hancur akibat Topan Haiyan di kota Tacloban, Leyte provinsi Leyte, Filipina tengah, Ahad (10/11). (AP/Bullit Marquez) REPUBLIKA.CO.ID, CEBU — Department of Health Filipina dan sejumlah NGO asing dari berbagai negara menyatakan salut dan apresiasi yang besar bagi kinerja Tim Bedah MER-C. Hal ini disampaikan pada saat rapat koordinasi yang diadakan DOH Filipina, Selasa (3/12) bertempat di kantor DOH, Cebu City. Turut hadir tiga relawan MER-C pada rapat tersebut untuk memberikan laporan kegiatan Tim, yaitu dr Abdul Mughni SpB KBD, dr Nurul Qomaruzzaman SpOT, dan dr Dany Kurniadi Ramdhan, SpBS. Kami tidak menyangka diberi applaus dan salut dari semua hadirin seperti UNICEF Japan Army, sesaat setelah dr. Abdul Mughni Ketua Tim MER-C memberikan laporan, ungkap dr Nurul Qomaruzzaman yang juga merupakan Wakil Ketua Tim MER-C untuk Filipina, dalam pernyataannya, Sabtu (7/12). Relawan yang berprofesi sebagai ahli bedah tulang ini memaparkan, sejak awal peserta rapat menyampaikan bahwa di Medellin dan sejumlah wilayah di Cebu Utara yang dilanda topan belum ada medis dan warga belum tertangani. Padahal, Tim MER-C sudah menjangkau seluruh daerah yang disebutkan tadi. Kami sudah melayani sekitar 1.670 pasien rawat jalan melalui program mobile clinic dan telah melakukan 12 kali operasi mayor di seluruh radius North District Cebu sampai ke pulau terjauh Kinatarcan, jelas dr Nurul. Paparan inilah yang membuat para hadirin salut dan bertepuk tangan karena apa yang telah dilakukan Tim MER-C menjawab semua permasalahan dan keluhan yang semenjak tadi dibicarakan, yakni belum adanya medis di Medellin. Ungkapan terima kasih juga berdatangan dari sejumlah sejawat medis Bogo Medellin Medical Center (BMMC). Rumah Sakit yang turut mengalami kerusakan akibat topan ini juga merupakan tempat Tim MER-C berposko selama menunaikan tugas kemanusiaan di Filipina. “Selamat kepada grup MER-C Indonesia yang telah menjadi grup pertama dari 20 negara yang telah memberikan bantuan medis di Cebu Utara,” ujar perwakilan Kemenkes Filipina, Enirhtak Ocificap Atelom. Rasa terima kasih juga disampaikan langsung perwakilan RS Medellin. “Selamat kepada seluruh grup MER-C! Merupakan sebuah kehormatan bagi kami untuk dapat bekerja sama dengan anda semua. Dengan cinta dari kami BBMC dan seluruh warga Medellin,” ujat LZ Hurado Iscanilla. Reporter : Indah wulandari Redaktur : Dewi mardiani Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/asean/13/12/07/mxf3pd-warga-filipina-puji-tim-bedah-merc
Relawan Indonesia Di Gaza Kunjungi Rumah Duka Ismail Haniyah

Perdana Menteri Ismail Haniyah sedang membawa jenazah cucu pertamanya Amal Abdussalam Haniyah, di salah satu rumah sakit di Gaza City, Rabu (27/11). (Foto: Team Palestina) Gaza City, 24 Muharram 1435/28 November 2013 (MINA) – Para relawan Indonesia di Gaza berkunjung ke rumah duka Perdana Menteri Palestina Ismail Haniya setelah cucu satu-satunya pemimpin di Jalur Gaza itu meninggal pada Rabu (27/11) akibat krisis yang melanda negeri itu semakin memburuk. Amal Abdussalaam Haniyah yang masih berumur satu tahun meninggal karena penyakit infeksi pencernaan yang kemudian menyerang saraf otaknya. Amal merupakan putri dari putra sulung Ismail Haniyah yang bernama Abdussalam Haniyah. Cucu perempuan Haniyah satu-satunya itu dinyatakan meninggal di Rumah Sakit An-Nasr, Jalur Gaza, menyusul kekurangan peralatan dan obat-obatan akibat blokade berkelanjutan yang kini melanda daerah kecil itu. Dua puluh dua relawan yang kini tinggal di Beit Lahiya, utara Gaza, berangkat pada Kamis sore (28/11) ke rumah Ismail Haniyah di Jalur Gaza dan disambut langsung Perdana Menteri beserta keluarga dan jajaran pemerintahan yang juga tengah berkunjung. ‘Pada saat kami ke sana, para tamu dan warga yang ikut ta’ziah (melawat) ke rumah Ismail Haniyah,” kata koresponden MINA (Mi’raj News Agency), Muhamad Hussein. Hussein melaporkan, minimnya peralatan medis di Jalur Gaza akibat blokade Israel menyebabkan banyak pasien di berbagai rumah sakit terbengkalai dan tidak mampu dirawat sebagaimana mestinya. Namun, Hussein melanjutkan, Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang tidak lama lagi akan selesai proses pembangunannya diharapkan dapat meringankan penderitaan masyarakat Gaza.(L/K11/P03/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/12479-relawan-indonesia-di-gaza-ta-ziah-ke-rumah-ismail-haniya.html