RS Indonesia Di Gaza, Dari Rakyat Indonesia Untuk Palestina

Jakarta, 13 Jumadil Awwal 1435/14 Maret 2014 (MINA) – Ketua tim pembangunan rumah sakit (RS) Indonesia di Gaza, Faried Thalib mengatakan pembangunan RS Indonesia itu bukti kecintaan rakyat Indonesia untuk perjuangan rakyat Palestina. Faried yang baru saja datang dari Gaza bersama enam relawan lainnya tiba di Jakarta, Kamis malam, pukul 23.00 WIB. Keenam relawan itu adalah Edy Wahyudi (Ketua Tim), Tata Lukita, Karidi, Rochman, Luthfi Paimin, dan M. Arsyad Ridho (semuanya berasal dari Pondok Pesantren Al Fatah, Bogor). Faried mengucapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah mendermakan hartanya untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza itu. “Semua dana pembangunan RS Indonesia murni berasal dari rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, terutama golongan menengah ke bawah,” paparnya. “Mudah-mudahan tahun 2014 ini RS Indonesia sudah bisa beroperasi. Mohon dukungan dan doa semua masyarakat Indonesia,” tambah Faried. Mengenai penanganan operasional RS Indonesia, Faried mengatakan, akan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah setempat sebagai tuan rumahnya. ”Mereka yang lebih tahu sasaran dan manajemennya, kita hanya menyediakan peralatan dan gedungnya,” katanya. Sementara itu, Edy Wahyudi dalam sambutan pelepasan relawan mengatakan, pembangunan fisik RS Indonesia sudah selesai, saat ini timnya tengah berkonsentrasi menyediakan alat kesehatannya. Pembangunan RS Indonesia itu di motori oleh Medical Emergency Rescue Commettee (MER-C), Radio Silaturahim (RASIL), Pondok Pesantren Al Fatah Indonesia yang berpusat di Bogor, Aqsa Working Group (AWG), dan Kantor Berita Islam Internasional Mi’raj Islamic News Agency/MINA. RS Indonesia, menjadi sejarah dan bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia bisa mewujudkan solidaritas internasional dalam bentuk nyata. Karena itu, kaum muslim harus menyempurnakan apa yang sudah dicapai dengan melengkapi rumah sakit tersebut melalui pengadaan peralatan kesehatan mutakhir agar bisa berfungsi secara optimal untuk membantu kemanusiaan. “Ini merupakan wujud semangat ke-Islaman kita melawan kolonialisme Israel,” tambah Edy. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa mengatakan, pengadaan alat kesehatan untuk RS Indonesia Gaza membutuhkan anggaran Rp 60 milyar lebih atau dua kali lipat dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk grup band Slank untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahkan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009. Lokasi RS Indonesia itu berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel, sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU penjajah Zionis Yahudi tersebut. Meski selalu dipantau, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina, di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. (L/P04/P015/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/16174-rs-indonesia-di-gaza-dari-rakyat-indonesia-untuk-palestina.html
Ombat dukung Penggalangan Dana untuk RS Indonesia Di Gaza

Jakarta, 11 Jumadil Awal 1435/12 Maret 2014 (MINA) – Vokalis grup band ‘Tengkorak’ Ombat yang biasa membawakan lagu-lagu underground (metal) mengajak penggemarnya dan seluruh rakyat Indonesia menyukseskan pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza Palestina. “Allahu Akbar, ayo kita dukung pengadaan alat kesehatan untuk penyelesaian pembangunan RS hdonesai Gaza Palestina,” katanya kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Jakarta, Rabu (12/3). Ombat yang punya nama asli Muhammad Hariadi Nasution sebagai ‘komandan’ band ‘Tengkorak’ salah satu band metal yang mengusung tema islami dalam lagu-lagunya ini menunjukkan kepeduliannya dengan mendukung program Gerakan Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan (Alkes) RS Indonesia Gaza. “Ini amal nyata yang harus kita dukung untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina,” kata Ombat yang juga menjadi ketua Lembaga Bantuan Hukum Muslim Indonesia (LBHMI). Ombat sangat mendukung pembangunan RS Indonesia di Gaza sebagai bentuk silaturahim, dukungan dan bantuan rakyat Indonesia pada rakyat Palestina. Dia juga ikut ambil bagian dalam pembuatan video untuk kampanye program Gerakan Rp 50 ribu per orang yang dimotori oleh Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C). “Untuk kemanusian terlebih untuk Palestina kita harus dukung dan suskseskan pengadaan Alkes RS Indonesia di Gaza,” katanya. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa, mengatakan, pengadaan Alkes untuk RS Indonesia Gaza membutuhkan anggaran Rp 65 milyar, atau dua kali lipat lebih dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu MER-C bekerja sama dengan berbagai pihak untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. “Guna suksesnya program Gerakan Rp 50 ribu per orang ini untuk pengadaan Alkes RS Indonesia Gaza dan kami kerjasama dengan banyak pihak termasuk Ombat Tengkorak,” kata Luly. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009 lalu. Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahudi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke (L/P07/EO2 ). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/16129-ombat-tengkorak-dukung-galang-dana-untuk-alkes-rs-indonesia-di-gaza.html
Vadi Akbar Ajak Masyarakat Bantu Pengadaan Alkes RS Indonesia Di Gaza

Jakarta, 10 Jumadil Awal 1435/11 Maret 2014 (MINA) – Artis dan penyanyi muda berbakat, Vadi Akbar Kalamata mengajak masyarakat Indonesia mendukung pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza Palestina. Vadi mengajak untuk andil dalam dalam program Gerakan Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan (Alkes) RS Indonesia Gaza. “Pembangunan RS Indonesia Gaza merupakan kegiatan amal rakyat Indonesia untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina,” katanya kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Selasa (11/3) di Jakarta. Vadi yang juga pendiri dan ketua Komunitas Suara Anak Bangsa ini mengatakan, kepeduliannya pada pembangunan RS Indonsia di Gaza atas dasar kemanusian semata. Terlebih pembangunannya dilakukan oleh putra-putra Indonesia yang dimotori oleh Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C) yang selama ini banyak kiprah dalam membantu sesama. “Saya percaya dengan MER-C yang amanah dan profesional dalam setiap program amalnya,” kata adik kandung dari vokalis Vidi Aldiano ini. Dukungan penyanyi yang telah merilis single perdananya, “Jangan Salah” ini juga dibuktikan pada kesediaannya terlibat dalam pembuatan video kampanye program Gerakan Rp 50 ribu per orang yang dibuat MER-C. “Sebaik-baik orang adalah yang bisa memberi manfaat pada sesama, mari kita bantu pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza,” kata Vadi saat pengambilan gambar. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa, mengatakan, pengadaan Alkes untuk RS Indonesia Gaza membutuhkan anggaran Rp 65 milyar, atau dua kali lipat lebih dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu MER-C bekerja sama dengan berbagai pihak untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. “Guna suksesnya program Gerakan Rp 50 ribu per orang ini untuk pengadaan Alkes RS Indonesia Gaza dan kami kerjasama dengan banyak pihak termasuk artis Vadi Akvar,” kata Luly. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009 lalu. Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahudi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke (L/P07/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/16085-vadi-akbar-ajak-masyarakat-bantu-pengadaan-alkes-rs-indonesia-di-gaza.html
Salma Arsitek Cilik Bandung Peduli Palestina

Bandung – Semilir angin sore Kota Kembang menghembuskan hawa sejuk yang membuai, membawa kedamaian dan ketenangan. Nampak di sebuah rumah, seorang anak perempuan berpakaian serba putih dengan jilbab yang juga putih sedang asyik melukiskan beberapa sketsa kehidupan. Ketika ditengok lebih dekat, ternyata anak perempuan itu sedang menggambarkan sebuah sketsa bangunan berbentuk segi delapan dengan serius. Saya langsung sadar, itu bukan sembarang bangunan, itu bukan sembarang gambar, itu bangunan bersejarah yang bahkan sejak belum dibangun, bangunan tersebut sudah membuat sejarah. Ya, bangunan segi delapan itu adalah bangunan Rumah Sakit Indonesia yang berada di wilayah perang Gaza, Palestina. Saat ini MER-C sedang mengkampanyekan gerakan 50 ribu rupiah untuk membantu pengadaan alat kesehatan di RS Indonesia yang sudah selesai dibangun. Pada Jumat (7/3), Miraj Islamic News Agency (MINA) bersama MER-C berkesempatan bersilaturahim ke rumah orang tua Salma di kawasan Arcamanik, Bandung. Nampak sekali rumah itu penuh dengan karya-karya jenius Salma yang dipajang maupun dibundel. Ketika saya mencoba berkenalan, anak itu menjawab dengan tersipu malu khas gaya anak perempuan seusianya. “Namanya siapa neng?” sapaku. “Salma…,” jawabnya dengan malu-malu. Siti Salma Khairannisa Soemadiredja yang lebih akrab dipanggil Salma, saat ini duduk di kelas V SD Muhammadiyyah 7 Bandung. Putri dari Bapak RM Zainal Hasan Soemadiredja dan Ibu Anarita Devi ini lahir di Bandung, 26 Juli 2003. Sejak kecil Salma memang senang bereksplorasi terutama menggambar. Awalnya dari gambar orang lalu kemudian arsitek. Tingkahnya memang tidak jauh berbeda dengan anak seusianya yang masih gemar bermain, tapi ada suatu yang istimewa dari Salma, dia sudah tergerak untuk membantu anak-anak Palestina dengan jerih payahnya sendiri. Sejak tahun 2007 sampai 2013, Salma sudah menghasilkan lebih dari 2000 gambar dengan berbagai tema. Lomba yang pernah diikuti diantaranya Lomba Gambar di Museum Geologi Bandung. Gambar-gambar Salma juga pernah dipamerkan di pentas Reuni Arsitektur Universitas Parahyangan angkatan 87 di Bandung, 2012. Mewarisi keahlian arsitek dari orang tuanya, karya-karya Salma mampu mengundang decak kagum arsitek yang saat ini menjabat sebagai Walikota Bandung, M. Ridwan Kamil. Salma dan Om Emil (sapaan akrab Ridwan Kamil), berkolaborasi mendesain sebuah rumah tinggal yang saat ini digunakan oleh penduduk Cibodas Lembang, Bandung. Salma berharap bisa bertemu lagi dengan Om Emil untuk kembali berkolaborasi mendesain. Sikap solidaritas tinggi Salma terlihat ketika memberikan karya gambar untuk pasien kanker dalam rangka Hari Kanker Anak Internasional pada 2013 yang dibuka oleh Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar. Dan sekarang, Salma pun kembali terlibat dalam aksi solidaritas tinggi membantu rakyat Palestina yang terjajah dengan mendukung program pembangunan RS Indonesia di Gaza. Ada sebuah cerita menarik dari Salma ketika dia melihat foto-foto anak Palestina korban agresi militer Israel yang ada di ponsel pintar ibunya, Salma pun menangis. Mata kecil polos itu meneteskan butiran air mata yang mengundang tanya buat sang ibu, Anarita Devi. “Kenapa Salma?” tanya sang ibu. “Salma sedih bu,,,” ucap mulut mungil Salma menjawab pertanyaan sang ibu. Akhirnya Anarita pun berinisiatif menghubungi pihak Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) untuk menyumbangkan karya sketsa Salma kepada MER-C dan Salma pun mengaku senang bisa membantu menguruangi kesedihan rakyat Palestina melalui MER-C. Salma mengaku senang bisa berbuat yang bermanfaat bagi saudara-saudaranya di Palestina. (L/P01/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/artikel/feature/16015-salma-arsitek-cilik-asal-bandung-peduli-palestina.html
Wanadri Ajak Bangsa Indonesia Lebih Peduli Kemanusiaan

Bandung, 7 Jumadil Awwal 1435/8 Maret 2014 (MINA) – Ketua Umum Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung WANADRI, M. Ilham Faizal mengajak segenap komponen bangsa untuk meningkatkan kepedulian terhadap masalah kemanusiaan. Permasalahan kemanusiaan yang saat ini terjadi, menurut dia, antara lain adalah masalah bangsa Palestina yang masih dijajah Israel, padahal, selayaknya penjajahan sudah tak terjadi di zaman ini. Ilham mengibaratkan masalah kemanusiaan seperti ketika berada di alam liar. Alam memperlakukan semua manusia sama, oleh sebab itu semua manusia juga harus mendapatkan haknya secara adil. Sementara itu mahasiswa ITB yang juga anggota WANADRI, Indra Hidayat menyatakan kesiapannya mendukung program pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza. WANADRI siap mendukung segala upaya untuk membantu rakyat Palestina, salah satunya dengan dukungan terhadap pengadaan alat kesehatan untuk RS Indonesia yang baru saja selesai dibangun. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C saat itu, Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Saat ini, pengadaan alat kesehatan untuk RS Indonesia membutuhkan anggaran Rp60 milyar lebih atau dua kali lipat dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu MER-C bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk WANADRI untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. (L/P012/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/15989-wanadri-ajak-indonesia-wujudkan-peduli-kemanusiaan-yang-lebih-baik.html
WALI Ajak Penggemarnya Bantu Alkes RS Indonesia Gaza

Jakarta, 26 Rabi’ul Akhir 1435/26 Februari 2014 (MINA) – Grup musik terkenal, Wali, yang memiliki jutaan penggemar di kalangan anak muda, mendukung pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina, dan penggemarnya atau yang lazim disebut para wali untuk menyumbang dana melalui Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C). “Pembangunan RS Indonesia Gaza merupakan kegiatan amal yang wajib didukung karena jelas untuk kepentingan ummat khususnya saudara-saudara kita di Palestina,” ujar Apoy salah satu perosnil Wali, kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Selasa (25/2) di Jakarta. Menurutnya, kepedulian dan dukungan Wali untuk membantu pembangunan RS Indonesia di Gaza yang kini memasuki tahap pengadaan alat kesehatan (Alkes) didasarkan pada kepentingan ummat. Besarnya grup musik Wali yang kini memiliki jutaan penggemar tidak lepas dari doa dan dukungan ummat pula. “Tidak ada alasan bagi Wali untuk tidak membantu pembangunan RS Indonesia di Gaza, Wali sangat mendukung penggalangan dana yang dilakukan oleh MER-C untuk melanjutkan pembangunan dengan pengadaan Alkes,” kata Apoy. Dikatakan, dukungan penggalangan dana oleh MER-C melalui program Gerakan Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan Alkes RS Indonesia Gaza diwujudkan dengan mengajak para wali ikut menyumbang. Dukungan grup musik Wali yang memiliki empat personil, yakni: Faank (vokal), Apoy (gitar), Tomi (drum), dan Ovie (keyboard) nantinya tidak sebatas ajakan pada penggemarnya saja, tapi dapat terus berlanjut dengan program-progam kemanusiaan lainnya. “Dukungan Wali pada MER-C akan terus berlanjut, tidak hanya ikut mengajak Para Wali untuk menyumbang saja, tapi alan terus berlanjut denang program kemanusian,” kata Apoy. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa, mengatakan, pengadaan alat kesehatan untuk RS Indonesia Gaza membutuhkan anggaran Rp 65 milyar dua kali lipat lebih dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk grup musik Wali juga lainnya untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. “Guna suksesnya program Gerakan Rp 50 ribu per orang ini untuk pengadaan Alkes RS Indonesia Gaza dan kami kerjasama dengan Wali dan juga lainnya,” kata Luly. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009. Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahudi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke.(L/P07/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/15519-wali-ajak-penggemarnya-bantu-pengadaan-alkes-rsi-gaza.html
Tim Peninjau Rumah Sakit Indonesia Masuki Gaza

Jakarta, 24 Rabi’ul Akhir 1435/24 Februari 2014 (MINA) – Tiga dari tim peninjau Rumah Sakit Indonesia di Gaza dan dua orang wartawan Indonesia, akhirnya berhasil masuk ke Jalur Gaza, Ahad (23/2). Anggota Presidium Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C), Dr. Joserizal Jurnalis yang selalu memantau perjalanan tim RSI dari Jakarta, Ahad dini hari menulis dalam akun facebooknya perkembangan mereka. “Alhamdulillah, akhirnya tim konstruksi MER-C bisa masuk Gaza, setelah beberapa hari tertahan di El Arish karena ada kontak senjata di sekitar Rafah,” tulis Joserizal. Tim akan melakukan peninjauan dan pengaksesan pengadaan alat-alat kesehatan, di mana pembangunan fisik bangunan rumah sakit sudah selesai dan memasuki tahap pengadaan alat kesehatan. Pihak berwenang Mesir telah setuju membuka perbatasan Rafah (perbatasan Mesir – Gaza Palestina) selama dua hari ke depan sejak Ahad untuk mengizinkankan para musafir yang terlantar di Mesir. Perlintasan Rafah, merupakan satu-satunya penghubung menuju dunia luar bagi sekitar 1,5 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza. Gerbang ini biasanya dibuka oleh pemerintah Mesir untuk memberikan kesempatan bagi warga Palestina yang terjebak di wilayah Mesir untuk kembali ke rumah mereka. Terakhir kali penyeberangan dibuka dua pekan lalu untuk jangka waktu tiga hari, sehingga memungkinkan 1.922 orang meninggalkan Jalur Gaza. Sebelumnya, Helikopter Apache Mesir militer melancarkan beberapa serangan udara pada Kamis di desa-desa Badui, utara Semenanjung Sinai di dekat Jalur Gaza. Serangan menargetkan desa Al-Mahdiya, Rafi’a, Al-Midfana, Al-Muqata’a dan Al-Hilwa yang terletak di sebelah timur dan selatan kota Rafah dan Shiekh Zowayid. Aktivis Mesir yang berbasis di Sinai, Ihab Salim, mengatakan helikopter apache meluncurkan setidaknya sepuluh roket ke sasaran tak dikenal di Rafah dan Sheikh Zowayid. Serangan menyebabkan warga sipil ketakutan. Saksi di perbatasan Rafah bagian Palestina melaporkan bahwa mereka mendengar suara tembakan dan ledakan. Mereka mengatakan militer Mesir menembakkan AK-47 di sepanjang perbatasan antara Sinai dan Jalur Gaza. (L/P09/R2). /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Sumber : http://mirajnews.com/palestina-mb/15438-tim-peninjau-rumah-sakit-indonesia-masuki-gaza.html
SLANK Ajak Jutaan Slankers Bantu Pembangunan RSI Gaza

Jakarta, 23 Rabi’ul Akhir 1435/23 Februari 2014 (MINA) – Grup musik terkenal, Slank, menyatakan mendukung pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina, dengan mengajak jutaan fansnya atau yang lazim disebut Slankers untuk menyumbang dana melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). “Kami sangat mendukung penggalangan dana MER-C ini dengan mengumpulkan sumbangan Rp. 50 ribu per orang, untuk pembangunan RSI di Gaza yang saat ini memasuki tahap akhir yakni pengadaan alat kesehatan,” kata Bimbim, salah satu personil Slank kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Hotel Sulthan, Jakarta, Ahad (23/2). Menurutnya, Slank sangat mendukung pembangunan RSI di Gaza sebagai bentuk silaturahim, dukungan dan bantuan rakyat Indonesia pada rakyat Palestina. Pembangunan RSI di Gaza kini memasuki tahap pengadaan alat kesehatan membutuhkan biaya dua kali lipat dari pembangunan fisik yang menghabiskan biaya Rp 30 milyar lebih. “Kami mengajak para penggeramar Slank atau Slankers untuk ikut berpartisipasi menyumbang dana Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan tersebut,” kata Bimbim sang drumer Slank ini. Grup band Slank yang memiliki lima personil, yakni: Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bass), Ridho (gitar) dan Abde (gitar), mendukung MER-C dan bersedia menjadi bintang dalam pembuatan video kampanye untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang untuk pembelian Alat Kesehatan RSI Gaza. Kerja sama antara MER-C dan Slank juga telah lama terjalin, sebelumnya Slank juga pernah menyalurkan sumbangan sosialnya lewat MER-C. “Dari tahun 2000 kita sudah kenal dengan MER-C dan kita dukung untuk terus membantu. Program MER-C juga jelas dan profesional, ada bukti kerjanya tidak hanya bicara,” kata Bimbim. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa, mengatakan, pengadaan alat kesehatan untuk RSI Gaza membutuhkan anggaran Rp 60 milyar lebih atau dua kali lipat dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk grup band Slank untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. “Untuk suksesnya program Gerakan Rp 50 ribu per orang ini untuk pengadaan alat kesehatan RSI Gaza dan kami kerjasama dengan Slank dan juga lainnya,” katanya. Pembangunan fisik RSI Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RSI Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium MER-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009. Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahudi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RSI di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. (L/P07/IR ) Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/15416-slank-ajak-slankers-bantu-bangun-rsi-gaza.html
Keluarga Relawan RSI Mengaku Senang Dan Bangga

Jakarta, 17 Rabi’ul Akhir 1435/17 Februari 2014 (MINA) – Keluarga terdekat para relawan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza mengaku sedih ditinggalkan, tetapi mereka senang dan bangga karena orang-orang yang dicintai itu berangkat untuk membantu saudaranya di Palestina. Ungkapan perasaan itu dikatakan oleh anggota keluarga relawan yang Senin pagi (17/2) turut melepas keberangkatan lima relawan ke Gaza dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. “Alhamdulillah senang dan bangga, karena Bapak bisa membantu saudara-saudara kita yang di sana (Gaza). Kami mendukung sejak awal, sebab itu perjalanan ibadah yang bagus,” kata Wahyuni, isteri pemimpin rombongan relawan, Ir. Faried Thalib. Wahyuni mengaku ingin kembali mendampingi suaminya ke Jalur Gaza, sebagaimana dua dari tiga keberangkatan sebelumnya, namun ia terlambat mengurus beberapa persiapan. Faried yang juga pemilik Radio Silaturahim dan Anggota Presidium MER-C adalah Ketua Tim Pembangunan Konstruksi RSI di Gaza Palestina. Seiring itu, anak kedua Faried yang ikut mengantar ayahnya ke bandara juga merasa bersyukur dan bangga. “Alhamdulillah, selalu yakin kepada Allah, karena misi ke Gaza adalah untuk umat. Secara pribadi pasti akan ada rasa rindu, tapi saya lebih merasa bersyukur dan bangga, punya sosok orang tua atau ayah yang mementingkan kepentingan umum,” kata Farida Thalib kepada wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA). Di tempat yang sama, Siti Muthmainnah – isteri relawan RSI Nur Ikhwan Abadi – mengatakan dirinya sangat mendukung dengan langkah yang tempuh oleh suaminya. “Saya sangat mendukung, karena ini misi kemanusiaan yang baik, jihad yang tujuannya akhirat,” kata Siti yang untuk ketiga kalinya ikhlas melepas keberangkatan sang suami, relawan yang sudah pernah berhadapan langsung dengan tentara penjajah Israel dalam rombongan kemanusiaan Kapal Mavi Marmara. Maryati, ibu Nur Ikhwan meski mengaku sedih, namun tetap merasa bangga dengan jalan yang dipilih oleh puteranya. “Ada kesenangan dan kebanggaan meskipun sedih itu pasti ada,” kata Maryati yang sempat menitikkan air mata. Sembari menggendong cucunya, Maryati berpesan untuk ibu-ibu para relawan yang ia sebut “mujahid“ agar selalu merasa bangga jika seandainya anak mereka pergi berjihad. “Dalam setiap shalat, saya selalu berdoa, semoga apa yang dikerjakan Nur Ikhwan selama ini tulus ikhlas dan apa yang dikerjakan di sana berjalan lancar,” katanya. Kelima relawan itu terdiri dari tiga tim RSI dan dua wartawan dari media nasional. Mereka akan melanjutkan tugas pembangunan RSI di Gaza, di mana menurut rencana ke 25 relawan RSI sebelumnya akan kembali ke Indonesia. Secara fisik, pembangunan RSI Gaza sudah selesai dan kini memasuki tahap pengadaan alat-alat kesehatan sehingga bisa masuk ke tahap operasional. Pembangunan RSI di Gaza selama ini murni didanai oleh rakyat Indonesia sebagai bentuk cinta dan kepedulian kepada rakyat Palestina. MER-C selaku pihak yang melaksanakan pembangunan, tidak pernah menerima dana dari pihak luar Indonesia. (L/P09/P07/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/15208-keluarga-relawan-rsi-mengaku-senang-dan-bangga.html
MER-C Berangkatkan Lima Relawan Ke Gaza

Jakarta, 17 Rabi’ul Akhir 1435/17 Februari 2014 (MINA) – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberangkatkan lima relawannya ke Palestina untuk menuntaskan operasionalisasi Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Senin (17/2). Ketua Tim Konstruksi pembangunan RSI Gaza Ir. Faried Thalib mengatakan kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Jakarta, Senin, keberangkatan relawan kali ini untuk menyempurnakan kelengkapan RSI terutama perlengkapan medis sebelum diserahkan ke pemerintah setempat. “Keberangkatan kami ke Gaza untuk menyelesaikan pengadaan dan pemasangan kelengkapan RSI Gaza terutama alat-alat kesehatan,” katanya saat ditemui di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta sebelum keberangkatan. Menurutnya, sesampai di Gaza tim akan mengiventarisir kebutuhan alat-alat kesehatan dan selanjutkan mengupayakan pengadaannya. Pengadaan peralatan kesehatan bagi RSI di Gaza tersebut didanai oleh rakyat Indonesia. “Biaya pengadaan peralatan kesehatan seluruhnya berasal dari sumbangan rakyat Indonesia,” kata Faried. Dikatakan, pengadaan peralatan diharapkan tidak menemui kendala meski Gaza sampai saat ini masih diblokade oleh pasukan Zionis Israel. “Akan kami upayakan semaksimal mungkin untuk mengadakan peralatan medis yang utama bagi RSI,” kata Faried. Sementara itu, Ir Ahyahudin Sodri MSc salah satu anggota Tim Relawan yang diberangkatkan mengatakan, tim akan melakukan supervisi bangunan untuk menentukan kesiapannya dan segera memenuhi peralatan utama yang dibutuhkan RSI Gaza, diantaranya untuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), perlatan Poliklinik, ruang perawatan, kamar bedah dan juga ICU serta lainnya. Pengadaan peralatan kesehatan kemungkinan besar didatangkan dari Mesir sebagai pilihan utama. “Peralatan-peralatan medis harus sudah terpasang agar RSI dapat segera beroperasi,” kata dosen Pasca Sarjana Teknologi Biomedis, Universitas Indonesia (UI) tersebut. Kelima relawan yang berangkat menuju Gaza tersebut adalah Faried Thalib (Ketua Tim), Ir Ahyahudin Sodri MSc, Nur Ikhwan Abadi dan dua wartawan dari media cetak nasional dan media televisi, Yoebal Ganesha Rasyid dan Subhan Hariadi Putra. Pembangunan fisik RS Indonesia mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RSI Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium MER-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009. Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahuidi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa hambatan. RSI di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. (L/P07/P09/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/15206-lima-relawan-berangkat-untuk-selesaikan-pembangunan-rsi-gaza.html