Kehadiran Relawan RS Indonesia jadi Penyejuk bagi Perpecahan Gaza

Jakarta, 14 Jumadil Akhir 1435/14 April 2014 (MINA) – Ir. Abu Fikri adalah Pimpinan Proyek Pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina. Selama pembangunan rumah sakit dari tahun 2011 sampai awal 2014, dia dua kali berangkat ke Gaza memimpin pembangunan atas nama Relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Pria yang berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Bogor itu, mengungkapkan sekilas pengalamannya di bumi yang diblokade, saat ditemui oleh wartawan MINA Sabtu (12/4) di kantor MER-C, Jakarta. Berikut hasil wawancara Rudi Hendrik, wartawan MINA, dengan Ir. Abu Fikri: MINA: Bagaimana awalnya Anda bisa memasuki Gaza? Ir. Abu Fikri: Bermula pada akhir 2010 mengikuti aksi kemanusiaan “Asia Caravan To Gaza” bersama dengan negara-negara Asia lainnya. Ada sekitar 150 orang. Sementara tim kami sendiri yang bergabung dengan MER-C ada lima orang. Ketika kami, para relawan pertama datang, kami juga disambut oleh welcome bomb (bom selamat datang). Begitu sampai di perbatasan, ada istilah welcome bomb dari tentara Israel. Itu menunjukkan bahwa kedatangan setiap relawan ke Gaza sudah diketahui oleh Israel. MINA: Situasi Gaza awalnya bagi relawan seperti apa? Ir. Abu Fikri: Gaza identik dengan penjara terbesar di dunia. Untuk masuk sulit dan untuk keluar pun sulit. Yang kita lihat memang, bukan hanya daerah perang, tapi juga daerah yang terblokade selama bertahun-tahun. MINA: Apa kesulitan awal bagi para relawan di sana? Ir. Abu Fikri: Kesulitan awal bagi relawan adalah bahasa, karena ada Bahasa Arab formal dan ada Bahasa Arab yang umum digunakan oleh warga Gaza. Sedangkan yang kita pelajari adalah Bahasa Arab formal dalam pendidikan. Sementara dalam pembangunan, kita banyak bergaul dan berkomunikasi dengan masyarakat lapangan, sehingga bahasa yang harus digunakan adalah bahasa sehari-hari. Dan keduanya sangat jauh berbeda. Ada pun untuk peralatan dalam membangun, tidak seperti yang kami khawatirkan sebelumnya bahwa di sana tidak cukup lengkap, ternyata di sana cukup lengkap peralatan. Untuk bahan bangunan di tahap pertama tidak begitu menemui kesulitan. Justru di tahap kedua kami menemui kesulitan, karena di tahap ini kami kesulitan untuk mendapatkan beberapa bahan bangunan, salah satunya semen dan kelangkaan solar. Solar kita perlukan untuk mengoperasikan peralatan-peralatan berat. Dampak ketiadaan solar di Gaza, berdampak pada ketiadaan listrik, karena satu-satunya generator yang ada di Gaza menggunakan solar, sehingga harus dikurangi, setiap hari hanya empat jam dengan waktu yang tidak menentu. Juga berdampak pada gas dan terus berdampak kepada masalah air. Karena air pun harus dipompa dengan tenaga listrik dan solar. Bahkan sempat selama empat hari tidak bisa menggunakan air. Luar biasa kondisi yang kita hadapi di sana. MINA: Bagaimana dengan perang? Ir. Abu Fikri: Di sana, sewaktu-waktu perang bisa muncul. Tidak bisa dikategorikan kondusif. Selain perang besar, secara menyeluruh sering terjadi konflik-konflik. Baik dari Gaza sendiri maupun dari Israel. MINA: Adakah budaya negatif Indonesia di Gaza? Ir. Abu Fikri: Salah satunya, untuk relawan Indonesia, mereka terbiasa shalat menggunakan sarung, sedangkan di sana dipandang kurang baik. Bagi mereka, sarung digunakan untuk kegiatan-kegiatan saat tidur. Mereka kurang pas jika melihat kita shalat menggunakan sarung. Meski kita sudah berusaha untuk meyakinkan, tapi kita tidak bisa untuk mencoba meyakinkan masyarakat banyak yang memandang. Ada pun sisi positif yang kami temukan di sana yaitu sesuatu yang sudah sangat langka kita jumpai di Indonesia, yaitu memberi salam kepada orang yang tidak kita kenal, meski di jalan umum, kecuali memberi salam kepada beda jenis, itu tidak boleh. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami. MINA: Apakah pembangunan RS Indonesia sudah selesai? Ir. Abu Fikri: Pembangunan fisik RSI ada dua, yaitu pembangunan arsitektur dan mekanikal elektrikal. Untuk pembangunan di bidang fisiknya, alhamdulillah, tinggal masuk tahap perawatan dan service. Memang dalam setiap pembangunan, ada waktu sekitar enam bulan untuk perawatan. Karena memang pembangunan fisik sifatnya saling terpadu. Untuk perawatan, karena tidak sulit, pengawasan tetap dari pihak MER-C, namun pekerjanya dari tenaga lokal. Saat ini memasuki tahap ketiga, yaitu pengadaan alkes (alat kesehatan) yang membutuhkan dana lebih besar dari pembangunan fisik RS Indonesia. MINA: Kesulitan yang paling terasa bagi para relawan? Ir. Abu Fikri: Secara fisik memang banyak sekali kesulitan, tapi alhamdulillah, secara akidah, setiap kami menemui kesulitan maka disitu kami menemui kemudahan. Dan disitulah kami meyakini bahwa kemudahan yang kami rasakan adalah pertolongan Allah SWT. MINA: Apakah pada masa menunggu kepulangan yang tidak jelas setelah pembangunan selesai, ada relawan yang putus asa? Ir. Abu Fikri: Dalam pembangunan ini, kami berusaha sekuat mungkin menggunakan skejul dan bekerja sesuai itu. Tanggung jawab para relawan pada prinsipnya, akhir bulan Desember 2014 itu sudah selesai. Jadi sesuai dengan schedule. Ada waktu sekitar sebulan masa menunggu, dan itu pun hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan saja. Dalam masa menunggu itu, memang mereka merasa tanggungjawab utama itu sudah selesai, sehingga secara psikologis fisik mereka sudah terfokus pada keluarga. Mereka yang awalnya sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan yang ada, tapi karena dia sudah merasa akan segera kembali, maka secara otomatis kesabarannya teruji. Ujian itu mungkin juga dari pihak keluarga yang sudah lama menahan rindu ingin bertemu dengan ayahnya atau suaminya, tentunya ada tekanan-tekanan dari keluarga agar bisa segera kembali. MINA: Solusinya? Ir. Abu Fikri: Yang pertama kita terus melakukan siraman rohani kepada mereka, karena kita ada taklim setiap Jumat pagi dan itu memang efektif sekali untuk memompa semangat mereka, bagaimana mereka bisa tetap sabar. Karena permasalahannya adalah satu-satunya prinsip bagi para relawan, yaitu “kepastian relawan adalah ketidakpastian”. Jadi tidak ada kepastian bagi relawan. Apa pun yang direncanakan, kita kembalikan kepada apa yang diijinkan oleh Allah. Kita tahu bahwa Gaza sendiri adalah satu daerah konflik yang hingga kini tidak ada jalan keluarnya secara penuh dan kita tahu, Gaza semakin hari semakin sulit. Apa lagi kondisi negara-negara sekitarnya mulai tercarut-marut oleh perang seperti Suriah dan Mesir sendiri, sehingga membuat kondisi semakin tidak pasti. MINA: Bagaimana respon para pejabat Palestina di Gaza dengan adanya pembangunan RS Indonesia ini? Ir. Abu Fikri: Al hamdulillah sangat positif, bukan hanya pejabat, tapi juga warga gaza, tapi kami mengambil beberapa sample saja. Salah satunya adalah kunjungan Perdana Menteri Ismail Haniyah ke RS Indonesia di Gaza. Intinya dia menyampaikan: “Setiap kami melihat kalian, timbul semangat kami untuk terus bisa bertahan dalam kondisi yang serba sulit. Timbul juga semangat bagi kami bahwa Al-Aqsha akan
Pengamat: Amerika Target Hancurkan Tujuh Negara Arab

Tangerang, 13 Jumadil Akhir 1435/13 April 2014 (MINA) – Pengamat Timur Tengah Dr. Joserizal Jurnalis mengungkapkan, jauh sebelum peristiwa 11 September 2001, Amerika Serikat (AS) sudah mentargetkan untuk menghancurkan tujuh negara Arab. “Jauh sebelum 2001, Amerika sudah memiliki target bahwa tujuh negara Arab harus dihancurkan, yaitu Irak, Iran, Libanon, Suriah, Libya, Sudan dan Somalia,” kata Joserizal Ahad pagi (13/4) dalam Kuliah Dhuha di Masjid Raya Bintaro Jaya, Tangerang, Banten. Pernyataan anggota Presidium MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) itu, mengutip pengakuan mantan Panglima NATO Wesley Kanne Clark dalam bukunya “Winning Modern Wars”. Mantan calon Presiden Amerika itu mengungkapkan, ketika kembali ke negaranya pada tahun 1971 dan bertemu dengan para pejabat tinggi pertahanan Amerika, ternyata mereka sudah punya program yang telah disepakati, yaitu akan menghancurkan tujuh negara Arab. Joserizal mengaku bahwa kasus pembantaian terhadap Muslim Ambon di Tobelo, Pulau Halmahera, ia bawa keliling Eropa dengan tujuan bahwa konflik agama sangat berbahaya. “Kami sampaikan kepada masyarakat Eropa, jangan main-main dengan konflik agama. Jika terjadi, maka efeknya sangat besar. Tidak berapa lama, terjadilah peristiwa 11 Sepetember,” ujar dokter ahli bedah yang sudah berpengalaman dalam beberapa perang di Timur Tengah sebagai relawan medis tersebut. Menurutnya, yang menarik dalam peristiwa 11 September 2001 adalah telunjuk Amerika langsung mengarah Osama Bin Laden dan mujahidin Afghanistan. “Setelah pulang dari Afghanistan (sebagai relawan medis), saya mengambil kesimpulan bahwa ini bukan dilakukan oleh mujahidin,” katanya. Joserizal menilai bahwa rekayasa 11 September begitu kasar, terlalu jelas bahwa kejadian itu adalah rekayasa. Pria kelahiran Padang itu menyimpulkan, peristiwa peledakan gedung WTC dijadikan suatu kondisi sebagai alasan untuk menyerang Afghanistan. “Karena AS sudah memprogram ‘War on Teror’ sejak lama. Karenanya Amerika membuat gara-gara agar masyarakat menerima program itu.” Namun menurut Joserizal, masyarakat kini sudah tahu dan sudah banyak buku-buku yang ditulis berisi pengungkapan fakta-fakta dalam peristiwa itu. Joserizal menyimpulkan bahwa kejadian besar yang melanda negeri-negeri Timur Tengah yang dikenal sebagai “Arab Spring”, merupakan bagian dari konspirasi Zionis global, yaitu konspirasi Novus Ordo Seclorum (Tatanan Dunia Baru). “Jika di Islam dengan khilafahnya, Zionis dengan NOS, di Katolik ada Kerajaan Katolik. Cara Zionis adalah menimbulkan konflik dan memperalat. Jika tidak ada konflik, bisnis mereka tidak jalan, seperti penjualan senjata dan rente (bunga uang),” tambah Joserizal. Mengutip sejarah perseteruan Bani Aus dan Khazraj di Madinah, Joserizal mengatakan bahwa solusi yang dilakukan Nabi Muhammad terhadap perang saudara itu adalah mendamaikan keduanya dan melakukan operasi-operasi pasar yang dikuasai oleh Yahudi. (L/P09/P12/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/web/indonesia/nasional/17427-pengamat-timur-tengah-amerika-target-hancurkan-tujuh-negara-arab.html
Relawan Gaza: Pendidikan Hijab Masyarakat Gaza Sejak Balita

Jakarta, 9 Jumadil Akhir 1435/9 April 2014 (MINA) – Masyarakat Gaza melaksanakan syariat hijab yang sangat kuat dan dididik sejak usia di bawah lima tahun (balita). Hal itu dikisahkan oleh salah seorang relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), Karidi, saat ditemui MINA di Jakarta, Selasa (8/4). Pria asal Wonogiri itu belum lama kembali dari Gaza setelah turut membangun Rumah Sakit (RS) Indonesia di sana sekitar satu setengah tahun lamanya bersama para relawan dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah yang berpusat di Cileungsi, Bogor. “Di masa balita, dari umur tiga sampai empat tahun ke atas, tidak ada anak-anak sebaya yang ngobrol atau main bareng antara anak laki-laki dan perempuan. Itu sudah sangat dijaga,” ujar Karidi. “Jika terjadi obrolan antara anak sebaya lawan jenis, maka anak itu dianggap aib bagi keluarga,” tegasnya. Relawan yang mengetuai bidang mekanikal elektrikal di pembangunan RS Indonesia itu mengisahkan, syariat hijab di masyarakat Gaza sangat kuat. Sejak sekolah sudah dipisah antara sekolah laki-laki dan perempuan. Demikian pula dari segi ruangan tamu di rumah orang Gaza, sudah di tata sedemikian rupa. Ruang tamu memiliki kamar mandi sendiri. Jika tamu mau ke kamar mandi, tidak sampai nyelonong ke belakang hingga melihat ruangan-ruangan yang lain. “Jika bertamu, kita juga tidak akan mungkin bisa melihat isteri pemilik rumah. Yang menyuguhkan makanan dan minuman adalah suaminya, bukan isterinya,” kata Karidi. Dia melanjutkan bahwa rumah-rumah warga Gaza memiliki pagar yang tinggi dengan tujuan orang yang lewat di depan rumah tidak bisa melihat langsung ke dalam. Demikian pula di tempat fasilitas umum, laki-laki dan perempuan sangat dibatasi. “Masyarakat di sana sudah dididik sejak kecil, jika berjalan menundukkan pandangan. Tidak ada yang namanya berpapasan dengan lawan jenis saling tatap face-to- face,” tambahnya. Selain itu, Karidi juga menceritakan betapa “luar biasanya” masyarakat dalam menyambut tamu, terutama terhadap para relawan yang sangat sering diundang untuk makan ke rumah warga. Terlebih ketika bulan Ramadhan saat berbuka puasa. “Saya sangat salut sekali dengan orang Gaza, mereka sangat memuliakan tamu. Mereka sangat hebat dalam memuliakan tamu. Kalau di sini (Indonesia), mungkin cukup sediakan air putih, selesai. Di sana sampai pesan makanan, seolah-olah semua dikeluarkan.” (L/P09/R2) Sumber : http://www.mirajnews.com/web/palestina-mb/17266-relawan-gaza-pendidikan-hijab-masyarakat-gaza-sejak-balita.html
RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (3-habis)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Sang mufti telah menyatakan dukungan sebelum negara Indonesia resmi diproklamasikan. Saat itu, dari tempat pengungsiannya di Jerman, Syekh Muhammad Amin al-Husaini menyatakan rakyat Palestina mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dukungan ini disiarkan Radio Berlin berbahasa Arab pada 6 September 1944. Pernyataan dukungan tersebut gaungnya menggema ke kawasan Timur Tengah dan menarik simpati rakyat negara-negara di kawasan tersebut. Dukungan serupa juga dinyatakan seorang saudagar ternama Palestina saat itu, Muhammad Ali Taher, setahun sebelum Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI. Dia bersimpati terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia dan spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia.” Dukungan ini lalu menjadi modal besar untuk memperjuangkan pengakuan dari negara-negara lainnya di dunia. Setelah seruan dari mufti Palestina itu, negara berdaulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali yakni negara Mesir pada 1949, lalu diikuti India. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Timur Tengah lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan ini membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan dan pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional. Fakta sejarah tersebut tertulis dalam buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M Zein Hassan Lc. Faried mengatakan fakta sejarah tersebut juga yang membangkitkan MER-C untuk memprakarsai usaha bersama rakyat Indonesia guna membangun rumah sakit di Gaza-Palestina. “Kami memandang rumah sakit ini akan menjadi tali batin rakyat Indonesia, yang selalu akan mendukung kemerdekaan Palestina,” katanya. Kini bangunan rumah sakit boleh dikatakan telah selesai. Selanjutnya, masih dibutuhkan dana Rp 65 miliar untuk pengadaan peralatan medis. MER-C memasang target rumah sakit tersebut mulai dioperasikan tiga bulan ke depan, sekitar Juni. Untuk soft launching, kata Faried, dibutuhkan dana Rp 15 miliar untuk pembelian peralatan medis dari Rp 65 miliar keseluruhannya. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/04/03/n3f6zv-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-3habis
RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (2)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Rencananya di sana juga akan dibangun Wisma Rakyat Indonesia seluas 340 m2. Pembangunan rumah sakit tersebut diprakarsai oleh para aktivis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). LSM Indonesia yang bergerak di bidang kemanusiaan, terutama yang berhubungan dengan pengobatan dan kesehatan serta kegawatdaruratan. Bagi MER-C memang tak mudah mengumpulkan dana sebanyak itu tanpa peran serta nyata rakyat Indonesia. Memang, pembangunan rumah sakit ini terkesan lambat dibandingkan dengan proyek-proyek kemanusiaan, uang diprakarsai donatur individual maupun kelompok dari negara-negara Timur Tengah ataupun Uni Eropa. Negara-negara tersebut dengan cepat dapat merealisasikan proyek bantuan mereka tanpa kendala dana yang berarti, seperti jalan-jalan, sekolah-sekolah, dan rumah-rumah susun di Gaza. Setidaknya di Gaza telah berdiri juga rumah sakit bantuan masyarakat Uni Eropa, yang pembangunan hingga operasionalnya hanya memerlukan waktu sekitar dua tahun. Rumah sakit itu kini oleh pemerintah setempat dikelola sebagai rumah sakit umum. Lepas dari kesan lambat di atas, berbeda dengan pembangunan yang dilakukan donatur dari negara-negara Timur Tengah dan Uni Eropa, Rumah Sakit Indonesia memiliki nilai lain bagi masyarakat Gaza di sana. Warga Gaza mengetahui rumah sakit ini benar-benar dibangun dari sumbangan masyarakat Indonesia dan mungkin tanpa sepeser pun dana dari Pemerintah Indonesia (people to people). Dengan pendanaan semacam itu, rumah sakit tersebut akan menjadi monumen tali silaturahim dan persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Palestina, khususnya yang tinggal di Gaza. Ir Farid Thalib, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, mengatakan pembangunan rumah sakit ini bisa juga dikatakan sebagai ungkapan rasa terima kasih rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. Bagaimana tidak, katanya, sejarah mencatat rakyat Palestina merupakan warga dunia yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, saat negara Indonesia yang masih seumur jagung terpuruk karena blokade Belanda yang ingin menjajah Indonesia lagi, rakyat Palestina dengan lantang menyatakan kepada dunia pengakuan mereka terhadap kemerdekaan Indonesia. Dukungan ini diprakarsai mufti besar Palestina saat itu, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini. Kata Farid, surat dukungan yang ditandatangani sang mufti ini berhasil diselundupkan ke Indonesia dan diterima Presiden Sukarno yang saat itu sedang dalam pengungsian di Yogyakarta. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/04/03/n3f6mj-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-2
RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (1)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Rumah Sakit Indonesia di Gaza masih membutuhkan dana Rp 65 miliar guna pengadaan peralatan medis di sana. GAZA — Rupiah demi rupiah yang dikumpulkan para dermawan Indonesia telah menampakkan wujudnya di Jalur Gaza, kawasan Palestina yang kini didera blokade Zionis Israel. Di utara Gaza, tepatnya di kawasan Bayt Lahiya, Rumah Sakit Indonesia telah memasuki tahap akhir pembangunan. Bangunan rumah sakit tersebut terdiri atas dua lantai dan satu basement, tampak kokoh berdiri tanah sekitar 1,6 hektare. Bentuknya yang khas, didesain segi delapan, menyerupai bentuk Masjid Qubbah As-Sakhrah di dalam kompleks Masjid Al Aqsha, Yerusalem, membuat rumah sakit ini menonjol di lingkungannya. Namun, keberadaan rumah sakit tersebut juga dengan lingkungan di sekeliling yang dalam lima tahun terakhir ini telah dipenuhi dengan puluhan unit apartemen lima sampai 10 lantai dan kompleks sekolah di sana. Dulunya kawasan ini termasuk daerah pertanian. Kompleks apartemen di kawasan itu dibangun oleh donatur perorangan dari sebuah Negara Teluk. Sementara, sekolah-sekolah di kawasan ini dibangun atas bantuan donatur dari negara Turki. Setiap hari, di depan rumah sakit berlalu lalang anak-anak sekolah dan juga warga setempat yang akan pergi ke tempat kerja mereka di kawasan lain Gaza. Maklum, karena tempatnya yang boleh dikatakan di ujung utara Gaza, hanya sekitar 2,5 km dari perbatasan dengan Israel, kawasan ini relatif sepi dari aktivitas bisnis. Dalam perjalanan pergi dan pulang, warga sering menyempatkan diri mampir ke kompleks rumah sakit itu, terutama untuk meneguk segelas air bersih gratis yang disediakan khusus di halaman rumah sakit tersebut—untuk melepas dahaga mereka. Saat mampir, warga kadang bertanya, kapan rumah sakit ini akan selesai. Mereka berharap rumah sakit itu bisa memudahkan mereka untuk mengakses pelayanan kesehatan, tak perlu jauh-jauh lagi pergi ke rumah sakit di kawasan lain di Gaza. Kapan waktu itu akan datang? Walaupun bangunannya hampir 100 persen selesai, untuk operasional rumah sakit itu masih membutuhkan dana Rp 65 miliar guna pengadaan peralatan medis di sana. Gedung rumah sakit ini mulai dibangun sejak Mei 2011. Dana mencapai Rp 35 miliar telah tertanam untuk pembangunan bangunan utama rumah sakit (seluas 9,600 meter persegi) dan juga gedung manajemen rumah sakit. Dana tersebut murni dari sumbangan masyarakat Indonesia. Dana itu juga akan dipakai untuk membangun infrastruktur lingkungan rumah sakit (jalan, pagar, taman, dan saluran pembuangan air). Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/04/03/n3f61l-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-1
Hakim MA : Bantu Palestina Lebih Utama Karena Belum Merdeka

Jakarta, 27 Jumadil Awwal 1435/28 Maret 2014 (MINA) – Hakim Tinggi Mahkamah Agung Pri Pambudi Teguh menilai rakyat Palestina seharusnya lebih utama mendapat bantuan dari rakyat Indonesia karena negeri itu satu-satunya yang belum merdeka di dunia hingga sekarang. Hal itu disampaikan oleh Pri Pambudi kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) seusai menyalurkan donasinya untuk rakyat Palestina melalui lembaga kemanusiaan di bidang kegawatdaruratan, MER-C (Medical Emergency Rescue – Committee) di Jakarta, Jumat. “Alasan saya berdonasi untuk rakyat Palestina, karena mereka belum merdeka. Jika di negara-negara lain, Muslimin sudah merdeka tapi mereka teraniaya di negerinya. Berbeda untuk Palestina, selain mereka teraniaya, mereka juga sedang memperjuangkan kemerdekaannya,” kata Hakim Tinggi yang juga mengajar di beberapa universitas itu. Pri mengaku, dirinya sudah lama simpati dengan perjuangan rakyat Palestina dan secara pribadi ia hanya bisa berdoa kepada Allah. Baru pada kesempatan ini ia akhirnya mendonasikan sebagian hartanya untuk rakyat Palestina melalui MER-C. Menurut pria asli Jawa Tengah itu, sudah sepatutnya rakyat Indonesia mendukung dan membantu perjuangan rakyat Palestina, karena jauh sebelumnya, rakyat Palestina sudah membuat dukungan terbuka bagi kemerdekaan Republik Indonesia. “Itu wujud nyata pengorbanan rakyat Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia,” kata Pri. Ia mengungkapkan, sebelum Indonesia merdeka, sudah ada pengusaha kaya raya Palestina yang mengorbankan hartanya untuk kemerdekaan Indonesia. Pri juga menyampaikan apresiasinya kepada MER-C yang dinilainya telah memberikan sumbangsih terhadap apa yang dibutuhkan oleh masyarakat Gaza dengan pelaksanaan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang merupakan rumah sakit traumatologi khusus untuk korban perang. “Pembangunan rumah sakit traumatologi yang diprakarsai oleh MER-C adalah tepat sasaran. Sebab, setelah Perang Gaza 2008-2009, di mana wilayah yang terblokade digempur habis-habisan oleh Israel, hampir tidak ada rumah sakit yang sanggup menangani trauma akibat perang itu,” katanya. Pembangunan Rumah Sakit Indonesia oleh MER-C yang bekerjasama dengan relawan dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah se-Indonesia, telah selesai dalam pembangunan. Kini memasuki tahap ketiga, yaitu pengadaan alat kesehatan. Dana pembangunan tersebut murni berasal dari rakyat Indonesia yang mayoritas dari kalangan menegah ke bawah. Meski dibangun di daerah konflik yang sewaktu-waktu penjajah Israel menembakkan roket, namun sejak pembangunan dimulai pada 14 Mei 2011, rumah sakit tidak pernah mengalami serangan. Melalui MINA, Pri juga menghimbau para donatur yang lain agar tidak pernah berhenti membantu saudara-saudara mereka di negeri lain, khususnya bagi rakyat Palestina. “Meskipun hanya sekedar doa di dalam hati. Saya juga melihat, ada saudara-saudara kita yang hanya bermodal tenaga, dengan ikhlas meninggalkan keluarganya untuk membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza sesuai dengan keahliannya,” tambahnya. (L/P09/P04/EO2). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/nasional/16748-hakim-ma-bantu-palestina-lebih-utama-karena-belum-merdeka.html
Slank Galang Dana Untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Slank selalu tertarik dengan kegiatan sosial. Mereka antusias melakukan penggalangan dana untuk membantu sesama manusia. Sekarang, mereka bekerjasama dengan relawan Mer-C guna membantu pengadaan isi atau peralatan rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina. “Kami bersama Mer-c galang dana untuk rumah sakit di Palestina. Sekarang kami mau kumpulkan lagi dana untuk mengisi isinya rumah sakit di rumah sakit Indonesia di Palestina,” ucap Bimbim, Jumat, (28/3/2014), di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Begitulah personel Slank. Mereka mengaku lebih tertarik mengikuti kegiatan kemanusiaan, ketimbang kegiatan kampanye yang biasanya berlangsung menjelang pemilu. “Dari Januari, kami selalu manggung di acara sosial. Karena kami percaya dengan kedahsyatan sedekah. Kami percaya Tuhan akan memberikan yang lebih,” ucapnya. Ivanka, sang bassis menambahkan Slank ingin selalu hadir dalam kegiatan sosial untuk membantu orang yang membutuhkan. Misalnya, untuk mereka yang menjadi korban bencana. “Kalau untuk ke depannya mengalir saja,” tandasnya. Sumber : http://www.tribunnews.com/seleb/2014/03/28/slank-galang-dana-untuk-rumah-sakit-indonesia-di-gaza
Naif Band Peduli Derita Palestina

Jakarta, 15 Jumadil Awwal 1435/16 Maret 2014 (MINA) – Grup musik pop Indonesia, Naif Band, menunjukkan jiwa sosialnya dengan turut serta dalam kampanye peduli untuk warga Palestina melalui program “Gerakan Rp 50 Ribu/Orang”. Di sela-sela acara panggungnya di ARTE Indonesia Art Festival 2014, Jakarta, Sabtu malam (15/3), Naif menyempatkan diri dalam pengambilan video kampanye penggalangan dana untuk pengadaan alat-alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang bertujuan membantu dan meringankan penderitaan warga Gaza yang selalu menjadi sasaran tembak militer Israel. Band yang terbentuk pada 22 Oktober 1995 di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu terdiri dari David (vokal), Emil (bass), Jarwo/Mr. J (gitar), dan Pepeng (drum). Bagi David, vokalis Naif, memberi adalah suatu kenikmatan yang lebih dari pada menerima. “Karena ada yang berkurang di sana (Palestina). Memang tujuan hidup kita memenuhi yang kurang di tempat yang lain,” katanya. “Ketika terjadi perang Gaza, saya merasa bahwa ini akan terjadi terus,” tambah David. Senada dengan rekannya, Emil mengatakan bahwa tidak ada alasan menolak untuk ikut terlibat dalam kampanye bantuan untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza. “Apa lagi untuk rumah sakit, tentunya karena alasan kemanusiaan. Apa lagi di negeri yang dijajah oleh ‘tamu’ (Israel), karena menyelamatkan satu manusia sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia,” katanya dengan mengutip sebuah ayat Al-Quran. Menurut putera (alm.) KH. Hussein Umar, mantan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu, peran serta Naif dalam membantu rakyat Palestina dinilai masih sangat kecil. “Saya pribadi, ini hanya secuil yang bisa kita lakukan untuk Palestina dan kemanusiaan,” tambah Emil kepada MINA. Naif sendiri adalah band yang sudah sering terlibat dalam kegiatan sosial untuk korban bencana alam dan pelestarian lingkungan. Rumah Sakit Indonesia di Gaza dibangun oleh para relawan Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C) dengan dana murni dari rakyat Indonesia sebagai bentuk peduli dan bantuan bagi rakyat Gaza. Bangunan Rumah Sakit Indonesia sudah selesai dibangun dan memasuki tahap pengadaan alat-alat kesehatan agar bisa segera dioperasikan. (L/P09O2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/16244-naif-band-peduli-derita-palestina.html
Jihan Fahira : Bantu Rakyat Palestina Ibadah

Jakarta, 15 Jumadil Awwal 1435/16 Maret 2014 (MINA) – Menganggap membantu rakyat Gaza adalah ibadah, aktris dan model Jihan Fahira, turut berpartisipasi dalam kampanye “Gerakan Rp 50 Ribu/Orang” untuk pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza. “Terlibat dalam kampanye kemanusiaan ini, bagi saya adalah ibadah kepada Allah, apa lagi ini tidak sulit,” kata Jihan saat ditemui Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di kediamannya, Jakarta, Sabtu (15/3). Menurut pesinetron di salah satu stasiun televisi swasta itu, dengan mengeluarkan Rp 50 ribu per-orang untuk membantu pembelian alat-alat kesehatan RS Indonesia, tidaklah begitu sulit. Ia juga menyimpulkan bahwa solidaritas rakyat Indonesia terhadap penderitaan rakyat Palestina di Jalur Gaza ada kemajuan, namun belum maksimal dan signifikan. “Saya berharap, dengan adanya kampanye seperti ini, hati kami semua lebih tergugah untuk membantu para umat yang terzalimi di sana,” kata isteri aktor Primus Yustisio itu. Dalam kampanye pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza itu, Jihan menghimbau rakyat Indonesia agar bukan hanya umat Islam yang perduli terhadap penderitaan warga Gaza, tapi juga umat agama yang lainnya. Organisasi kemanusiaan di bidang medis, Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C), telah membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza menunaikan amanat rakyat Indonesia untuk membantu meringankan penderitaan rakyat Gaza yang selalu terancam oleh serangan militer Israel sewaktu-waktu. Anggota Presidium MER-C, Ir. Faried Thalib mengatakan ketika kepulangannya dari Gaza tiba di Bandara Internasional Soekano-Hatta, semua dana pembangunan RS Indonesia murni berasal dari rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, terutama golongan menengah ke bawah. Rumah sakit yang terletak sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel itu, secara fisik pembangunannya sudah selesai. Agar rumah sakit tersebut bisa beroperasi, maka dibutuhkan alat-alat kesehatan dengan perkiraan dana sekitar 65 milyar, dua kali lipat dari biaya pembangunan fisiknya yang sudah selesai, Karena itulah, MER-C melibatkan banyak figur publik untuk menggalang dana agar pengadaan alat kesehatan dapat cepat tercapai. (L/P09/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/16239-jihan-fahira-membantu-rakyat-gaza-adalah-ibadah.html