Warga Medan Himpun Dana untuk Ruang Operasi RS Indonesia di Gaza

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Masyarakat Sumatera Utara memulai gerakan wakaf satu item kebutuhan ruang operasi Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Gerakan wakaf item tersebut senilai Rp 3 M untuk memenuhi kebutuhan satu ruang operasi RSI. “Gerakan ini merupakan gagasan dari beberapa tokoh pendidikan kesehatan dan organisasi profesi untuk membentuk gerakan wakaf kebutuhan satu unit ruang operasi,” ujar Rahmad Gunawan, pelaksana teknis Mer-C cabang Medan saat dihubungi Republika (29/5). Ia melanjutkan, pada 24-25 Mei lalu, Mer-C Medan bersosialisasi tentang RSI di Gaza melalui beberapa media stasiun radio di sekitar wilayah Medan. Salah satunya di stasiun radio RRI Medan. Sedangkan, pada 25 membentuk sebuah seminar dan melakukan penggalangan dana. “Pada acara penggalangan dana tanggal 25 lalu, donasi yang terkumpul mencapai jutaan rupiah,” katanya. Mer-C Medan berkolaborasi dengan para penggagas untuk melakukan gerakan ini. Para penggagas pun telah memulai gerakan wakaf tersebut dan Mer-C Medan akan membuat sebuah rekening khusus untuk mengoptimalisasi gerakan masyarakat Sumut. Gerakan wakaf kebutuhan satu unit ruang operasi RSI di Gaza, ditargetkan pada akhir tahun ini dapat terkumpul donasi Rp 3 M, sehingga target pembukaan RSI dapat segera dilakukan. “Kami berharap bantuan konkrit kami dapat terwujud dan kami berharap nantinya apabila donasi terkumpul dan kebutuhan satu ruang operasi terpenuhi, terdapat satu ruang operasi di RSI diberikan nama Sumatera Utara,” jelasnya. Pada Jumat (30/5) Mer-C Medan dan para penggagas akan bertemu untuk membahas kelanjutan gerakan wakaf tersebut. Selain itu, membahas donasi yang sudah terkumpul hingga saat ini, Mer-C dan para penggagas juga telah mengagendakan berbagai acara di bulan Ramadahan untuk penggalangan dana. “Kami akan melakukan dengan maksimal dan berapa pun jumlah besar yang dapat terkumpul, semuanya akan kami serahkan untuk RS Indonesia di Gaza.” kata Rahmad Gunawan. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/05/29/n6bk7r-warga-medan-himpun-dana-untuk-ruang-operasi-rs-indonesia-di-gaza
Din Ajak Umat Islam Bantu RS Indonesia di Gaza

Di tengah derita memilukan yang dialami bangsa Palestina, MUI mensyukuri peran bangsa Indonesia yang bisa membangun rumah sakit di Gaza Palestina, meskipun sampai saat ini rumah sakit tersebut harus dilengkapi peralatan medis untuk menunjang operasionalnya. “Saya pribadi memberikan apresiasi pada Mer-C, meskipun rumah sakit ini baru selesai bangunan fisik, belum fisiknya, saya menghimbau pada umat Islam agar mengumpulkan dana lagi untuk membangun rumah sakit Indonesia di Gaza,” kata Ketum MUI Prof. Dr. Din Syamsuddin di Kantor MUI di Jakarta, Selasa (20/5/2014). Menurutnya apa yang terjadi di Palestina adalah tragedi kemanusiaan yang menuntut uluran tangan kita untuk memberikan bantuan, katanya, banyak istri yang kehilangan suami, anak dan ayah, banyak anak yang tidak bersekolah dan tak terjamin kesehatannya, syukur Alhamdulillah Mer-C dari Indonesia dapat mendirikan rumah sakit Indonesia di Gaza Palestina. “MUI menghimbau kepada seluruh bangsa Indonesia khususnya umat Islam untuk terus menerus mengulurkan tangan kedermawanan untuk memberikan bantuan apapun, termasuk untuk mengisi Rumah Sakit Indonesia yang telah berdiri di Gaza sana yang belum memiliki alat kesehatan dan sara pra-sarana lainnya,” kata Din. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larissa Agiel, mengatakan, pengadaan alkes memerlukan anggaran sekitar Rp 65 milyar. Menurutnya, Pembangunan RS Indonesia di Gaza, yang mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun oleh MER-C dengan para relawan dari Indonesia, dan dukungan donatur rakyat Indonesia. Ia menambahkan, RS ini memiliki tipe Trauma Center & Rehabilitation, dengan kapasitas 100 tempat tidur, serta bangunan 2 lantai dan 1 lantai basement. Bangunan atap RS ini didesain berbentuk segi delapan, seperti kubah Masjid Al-Aqsha. “Ini diharapkan menjadi karya anak bangsa dan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina,” ujarnya. Apalagi, katanya, seluruh donasi berasal dari masyarakat Indonesia. Bahkan, sebagian besar berasal dari kantong-kantong kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Untuk itu, bagi masyarakat yang berniat memberikan bantuan donasi untuk Alat Kesehatan RS INDONESIA di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui:BNI Syariah, No. Rek. 08.111.929.73 /BCA, No. Rek. 686.0153.678/ BRI, No. Rek. 033.501.0007.60308/ BSM, No. Rek. 700.1352.061/ BMI, No. Rek. 301.00521.15 Sumber : http://mui.or.id/mui/homepage/berita/berita-singkat/din-ajak-umat-islam-bantu-rs-indonesia-di-gaza.html
MUI Ajak Umat Islam Bantu RSI di Gaza (2-habis)

Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — RSI merupakan hadiah rakyat Indonesia untuk warga Palestina atas nama kemanusiaan. Derita bangsa Palestina, kata Din, sangat memilukan hati setiap Muslim karena telah menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa, termasuk kaum wanita dan anak-anak. Ia bersyukur, masyarakat Indonesia telah memberikan bantuan dan dukungan kepada bangsa Palestina melalui berbagai jalur. “Secara pribadi, saya menyampaikan dukungan dan memberikan apresiasi kepada MER-C yang telah memprakarsai pembangunan RSI di Gaza, dan kini telah berdiri.” RSI di Gaza memiliki sejarah panjang dan berliku sejak kemunculan gagasan pembangunannya pada 2009 ketika Israel melancarkan agresi ke wilayah Palestina tersebut. Salah satu pendiri MER-C, Joserizal Jurnalis, mengatakan, pembangunan RSI di Gaza beserta pengadaan alat kesehatannya harus diselesaikan dengan rapi. Sebab, RSI akan menjadi hadiah megah dari rakyat Indonesia untuk warga Palestina atas nama kemanusiaan. “Ini rumah sakit masyarakat Indonesia. Ketika rumah sakit siap beroperasi, kita akan memberikan bulat-bulat untuk rakyat Palestina,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (30/4). Sejak wacana untuk membangun rumah sakit ini bergulir pada 2009, kata Joserizal, banyak pihak yang meragukan keberhasilannya. Namun, Jose dan rekan-rekannya di MER-C pantang menyerah. “Kalau dibom oleh Israel, ya nanti kita bangun lagi. Karena, yang jauh lebih penting adalah spirit rakyat Indonesia,” tegasnya. MER-C, kata Joserizal, memasang target untuk menyerahkan dana pembelian alat-alat kesehatan pada Oktober atau Desember mendatang. Ia berharap, RSI di Gaza akan menjadi rumah sakit modern yang menjadi pusat perawatan traumatologi dan rehabilitasi terlengkap di Palestina. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/05/21/n5x7l2-mui-ajak-umat-islam-bantu-rsi-di-gaza-2habis
MUI Ajak Umat Islam Bantu RSI di Gaza (1)

Replika Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina, telah selesai dibangun. Namun, untuk beroperasi sebagai pusat pelayanan kesehatan, rumah sakit tersebut masih membutuhkan alat-alat medis. Karena itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau masyarakat Indonesia untuk memberikan bantuan, sehingga RSI di Gaza bisa segera bisa beroperasi. ”Masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, sangat diharapkan untuk memberikan bantuan lanjutan kepada RSI di Gaza dengan perlengkapan medis sehingga dapat segera beroperasi,” kata Ketua Umum MUI Prof Din Syamsuddin. Din menjelaskan itu usai menerima kunjungan sejumlah perwakilan organisasi kemanusiaan, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di kantor MUI, Jakarta, Selasa (20/5). Pascatuntasnya pembangunan pada Desember 2013, RSI Gaza masih membutuhkan alat-alat kesehatan yang nilainya ditaksir dua kali lipat dari biaya pembangunan. Untuk pengadaan alat kesehatan, dana yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp 65 miliar. Din mengatakan, masyarakat Indonesia harus terus mendukung dan membantu bangsa Palestina. Bukan hanya dalam pengadaan alat-alat medis di RSI di Gaza, juga membantu pendidikan anak-anak Palestina. ”Bantuan pangan juga masih sangat dibutuhkan oleh bangsa Palestina,” ujar Din. MUI, menurut dia, telah memberikan bantuan kepada bangsa Palestina melalui berbagai jalur. Jika ada kesempatan, MUI pun berencana mengunjungi RSI di Gaza. “Hal yang patut disyukuri bahwa melalui MER-C masyarakat Indonesia dapat mendirikan RSI di Gaza.” Hal tersebut, menurut Din, merupakan bukti nyata solidaritas masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam terhadap penderitaan bangsa Palestina. Penderitaan panjang yang disebabkan oleh penjajahan Israel. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/05/21/n5x7e9-mui-ajak-umat-islam-bantu-rsi-di-gaza-1
Kisah Relawan MER-C di Jalur Gaza (2)

Karidi dan sejumlah relawan bersama PM Ismail Haniyah REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Peristiwa paling mengharukan, tentunya adalah tatkala kami berpamitan untuk kembali ke Indonesia karena tugas sudah selesai, untuk diteruskan oleh relawan lainnya.“Saya lihat mata mereka berkaca-kaca, dan saya lihat itu air mata kesedihan, haru, kecintaan dan persaudaraan”. Itulah, tanggal 15 Februari 2014, setelah 17 bulan atau hampir 1,5 tahun saya membantu membangun RS Indonesia, sungguh perjalanan fisik dan spiritual yang luar biasa, tak ternilai dengan harta apapun jua. Saya sangat berterima kasih kepada saudara-saudaraku di Jalur Gaza, yang banyak mengajarkan saya arti penting ketegaran jiwa, keberanian dalam kebenaran, keshabaran dalam perjuangan dan persaudaraan dalam ketertindasan. Kepada masyarakat Indonesia yang telah berdonasi untuk pembangunan rumah sakit tersebut, saya juga ucapkan terima kasih “Jazakumullahu khaira”, Semoga Allah pun membalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Tetapi, masih ada yanga mengganjal, yaitu bahwa bangunan tipe RS Traumatologi dan Rehabilitasi, dua lantai dan lantai basement, dengan kapasitas 100 tempat tidur itu memang sudah selesai. Terkesan kokoh, tegar, megah, dan berwibawa. Bendera Palestina hitam-putih-hijau-merah, bersanding dengan bendera mera-putih Indonesia, berkibar menyongsong kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha oleh putera-putera terbaik dari Indonesia. Adapun yang mengganjal adalah, bangunannya sudah berdiri, tetapi isinya belum ada, yaitu berupa alat kesehatan (alkes). Menurut penghitungan MER-C, masih memerlukan dana sekitar 65 miliar rupiah. Dana tersebut untuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), Intensive Care Unit (ICU), Instalasi Radiologi, Laboratorium, dan lainnya. RS Indonesia di Gaza, adalah sebuah karya anak bangsa, bukti silaturahim Indonesia-Palestina. Untuk itu, bagi saudara-saudaraku dari seluruh kalangan, dari seluruh penjuru negeri Indonesia, masih terbuka pintu amal untuk pengadaan alat kesehatan RS Indonesia. “Ya Allah berilah kekuatan, kesabaran, keberkahan, keselamatan dan kemenangan untuk para pejuang di jalan-Mu, untuk para relawan pembangun rumah sakit guna mengobati hamba-hamba-Mu, untuk para donatur yang rela merogoh hartanya untuk amal mulia ini.” Aamiin. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/alamsemesta/14/05/16/n5nsuh-kisah-relawan-merc-di-jalur-gaza-2
Kisah Karidi dan Relawan di Jalur Gaza (1)

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Tidak terpikir sebelumnya, menjadi relawan di medan perang, Jalur Gaza, yang selama bertahun-tahun dalam blokade Zionis Israel. Blokade darat, laut dan udara. Jangankan untuk membangun klinik atau posko kesehatan, untuk mendatangkan keperluan pokok harian saja, mesti harus melalui terowongan — yang semakin banyak ditutup oleh Mesir. Jalur lain melalui perbatasan Rafah, yang juga buka-tutup tidak menentu oleh pihak keamanan Mesir. Karidi memasang instalasi listrik di Gaza Begitulah, tanpa terasa, saya pun diberangkatkan pada 21 Oktober 2012, sebagai relawan (unpaid volunteers), oleh MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), sebuah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis . Kemampuan saya dipilih di bidang Mecanical Electric (ME), dengan izin Allah mengantarkan saya berziarah ke bumi para Nabi, Jalur Gaza. Walaupun, terus terang nol besar dalam komunikasi bahasa Arab. Ya, memang dari lingkungan pesantren. Tetapi ya, sebagai tukang, yang hanya mampu beberapa ucapan bahasa Arab yang umum-umum saja, seperti bismillah, assalamu’alaikum, kayfa haal, innaa lillaah… Menginjakkan kaki di kampung Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, saya bersama relawan Indonesia lainnya, pun mulai bekerja (amal sholih) melanjutkan pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia. Terutama sesuai bidang saya, masang-masang alat-alat listrik, urusan kabel-kabel, lampu, ac, dan sejenisnya. RS Indonesia berdiri di atas lahan 16.261m2 waqaf pemerintah Palestina, dinamakan RS Indonesia, menurut yang saya dengar dari Pengurus MER-C, karena memang seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. “Di samping itu juga diharapkan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dengan rakyat Palestina”, itu kalimat yang saya camkan. Saya, dibantu relawan yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Arab, sempatkan jalan-jalan dan bergaul dengan masyarakat sekitar. Sungguh luar biasa sambutan dan penghormatan warga di sana. Keramahannya membuat saya yang harus rela meninggalkan Tina isteri saya, dan keluarga besar saya di Jawa Tengah, serasa mendapat ganti keluarga besar, di bumi yang pernah disinggahi oleh para Nabi dan sahabat-sahabatnya itu. “Menakjubkan, kalian dari negeri yang sangat jauh dari Gaza, datang untuk membangun rumah sakit buat kami,” ujar Abu Muslim, Imam Masjid di daerah Ghalebo, Gaza Utara, tidak jauh dari lokasi RS Indonesia. Tak hanya itu, Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza, Ismail Haniyya pun, demi rasa hormatnya terhadap umat Islam Indonesia yang sedang membangun RS Indonesia, menyempatkan hadir berkunjung ke lokasi bangunan pada Juli 2013 lalu. “Ini bukti kepedulian dan cinta rakyat Indonesia terhadap rakyat Palestina, terutama di Jalur Gaza,” ujar Haniyya di hadapan relawan waktu itu. Apalagi, menurutnya, artistek Indonesia membuat bentuk bangunan RS Indonesia itu, segi delapan, yang menyerupai segi delapan bentuk Kubah Sakhrah di kompleks Al-Aqsha Palestina. Saya dan teman-teman relawan, dalam tim pambangunan, yang ketika di Indonesia bekerja sebagai teknisi AC dan listrik, cukup mengalami kesulitan untuk mendapatkan beberapa bahan elektrik yang tidak biasa dipakai seperti di Indonesia. Walaupun kemudian bisa juga. Kesulitan lainnya, kita sangat tergantung dari donasi masyarakat. Di samping itu, beberapa bahan listrik ternyata juga sulit didapat. Kita mesti order dulu, dan itu perlu waktu cukup lama. Jadi, pekerjaan jadi tertunda waktunya. Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi, adalah tatkala Zionis Israel menggempur sepanjang Jalur Gaza pada November 2013. Pesawat menderu-deru di angkasa, bom berjatuhan di mana-mana.Kami sempat panik, karena belum terbiasa mendengar dentuman bom di atas kepala kita. Apalagi beberapa kaca RS Indonesia sempat pecah berantakan oleh getaran bom yang jatuh tidak jauh dari lokasi RS. Tetapi setelah ditenangkan warga setempat, bahwa hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Akhirnya terbiasa juga. Anggaplah itu petasan mainan.“Kami pun tetap bekerja, terutama di ruang dalam, seperti pemasangan lantai, kabel-kabel dalam ruangan, dan sebagainya”. Namun, apapun risiko yang terjadi, saya merasa bahwa apa yang saya lakukan dan teman-teman relawan lainnya, dalam ikut serta membangun RS Indonesia di Gaza, adalah bagian dari amal shaleh kami. Kami ingin ini menjadi bukti sejarah ikatan perjuangan Palestina-Indonesia secara keseluruhan. “Ini Insya Allah akan saya jadikan sebagai amal shaleh bagi saya sendiri dan keluarga saya. Saya sangat bersyukur dengan menjadi relawan ini”. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/alamsemesta/14/05/16/n5nsex-kisah-karidi-dan-relawan-di-jalur-gaza-1
MER-C Yogyakarta Gelar Diklat Kerelawanan

Tak seperti biasanya, suasana Klinik MER-C Yogyakarta yang berlokasi di Bokoharjo tampak ramai. Bukan oleh pasien yang hendak berobat, melainkan semarak oleh puluhan relawan peserta Diklat Kerelawanan yang dihelat oleh MER-C Yogyakarta. Acara yang berlangsung dari 19 – 20 April itu mengusung tema “Bersapa, Berbagi, Beraksi”. Ketua Pelaksana Diklat, Arief Wahyu, Mengatakan, kegiatan yang diikuti oleh delegasi tiga cabang MER-C, yaitu Yogyakarta, Solo, dan Semarang, bertujuan untuk mempererat tali silaturahim bagi para calon relawan. Selain itu, juga membangun sinergitas antarcabang MER-C di ketiga daerah. “Titik penting dari diklat ini adalah adanya keterikatan antar peserta,” papar mahasiswa FKU UGM 2009 ini. Suasana diklat berjalan dengan cukup dinamis dengan peserta sebanyak 54 peserta meski waktu pelaksanaannya cukup singkat. Peserta diklat merupakan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta, Solo dan Semarang. Mereka berasal dari fakultas dan angkatan. Tidak hanya terbatas pada mahasiswa fakultas medis, tetapi juga mahasiswa non medis. Hadir dalam acara ini, para pengurus MER-C Yogyakarta dan perwakilan MER-C Pusat. Presidium MER-C Pusat, dr. Joserizal Jurnalis, berkesempatan menghadiri kegiatan ini. Dalam kesempatan itu, pria yang akrab dipanggil dr. Jose itu menekankan bahwa menjadi mahasiswa yang cerdas dan peduli adalah salah satu modal untuk menjadi relawan seutuhnya. Ini, ungkap dia, dimulai dari niat yang lurus dan tulus dibarengi dengan pengesahan ilmu dan kemampuan yang kemudian diarahkan pada misi kemanusiaan. “Dan, yang paling pentingadalah konsistensi atau keiatiqamahan berjuang melalui MER-C,” tuturnya. Dr. Jose juga membeberkan kepada para peserta perihal agenda Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Bagaimana proses berdirinya RS Indonesia di Gaza, Palestina, lengkap dengan perjalanan misi ke sana. Ia mengajak peserta untuk memaknai bersama makna Pembukaan UUD 1945 tentang hak merdeka bagi segenap bangsa, tak terkecuali bangsa Palestina yang terjajah hingga kini oleh Zionis Israel. Sumber : Republika, Minggu 11 Mei 2014, Hal. 24
Slank Ajak Rakyat Indonesia Berpartisipasi untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza

Jakarta, Pembangunan Rumah Sakit Indonesia memang sudah selesai Februari lalu. Namun ternyata hanya bangunannya saja yang sudah selesai, sementara gedung tersebut belum dilengkapi oleh alat dan fasilitas kesehatan apapun. foto: Reza/detikHealth Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C) sekaligus penggagas utama berdirinya rumah sakit tersebut mengatakan bahwa masih dibutuhkan banyak dana untuk mengisi alat kesehatan agar Rumah Sakit Terapitologi dan Rehabilitasi tersebut dapat beroperasi penuh. “Meski bangunan fisiknya sudah rampung, namun Rumah Sakit Indonesia belum bisa beroperasi karena belum ada alat kesehatannya. Dana yang kami butuhkan kurang lebih Rp 65 Miliar,” ujarnya kepada detikHealth usai acara Konferensi Pers dan Peluncuran Video Campaign Sumbangan Dana untuk Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di FX Sudirman, Jl Jend Sudirman, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (30/4/2014). Untuk itu, Mer-C pun membuat video kampanye yang bertujuan untuk mengajak rakyat Indonesia berpartisipasi dalam kegiatan ini. Video tersebut berdurasi selama 4 menit dan berisikan beberapa pendukung gerakan ini. Slank, Naif, wali dan pesinetron Jihan Fahira adalah beberapa nama yang ada di video. Disinggung mengenai alasannya tergabung dalam gerakan ini, Bimbim Slank yang hadir pada acara tersebut mengatakan bahwa dirinya termasuk orang yang senang memberi. Terlebih bantuan tersebut diberikan untuk membantu rakyat yang ada di Palestina. “Kalau gue percaya memberi itu pasti enggak rugi. Karena nanti pasti dibalas 10 kali lipat sama Tuhan,” ujarnya pada kesempatan yang sama. “Cukup dengan Rp 50 ribu kita sudah bisa membantu saudara-saudara kita yang di sana,” sambungnya lagi. Sumber : http://health.detik.com/read/2014/04/30/173358/2570327/763/slank-ajak-rakyat-indonesia-berpartisipasi-untuk-rumah-sakit-indonesia-di-gaza http://www.youtube.com/watch?v=VOsH7xGf4IE
MER-C Serahkan Aset Rp2,5 Miliar Kepada Pemerintah

Banda Aceh, 25/4 (Antaraaceh) – Lembaga Swadaya Masyarakat MER-C Indonesia menyerahkan aset Puskesmas dan peralatan medis senilai Rp2,5 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh. “Kami berharap aset ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan maksimal kepada masyarakat,” kata Projek manager MER-C for Aceh Ira Hadiati di Banda Aceh, Kamis. Dijelaskannya, aset di gampong/desa Panga Kecamatan Keude Panga Kabupaten Aceh Jaya itu diserahkan oleh Presidium MER-C Indonesia dr Sarbini Abdul Murad dan diterima Setkdakab setempat Teuku Irvan TB. Aceh Jaya merupakan salah satu kawasan yang cukup parah diterjang tsunami yang menewaskan tidak kurang dari 200 ribu penduduk di Provinsi Aceh pada 26 Desember 2004. Ira mengatakan Puskesmas dan peralatan medis yang diserahkan kepada Pemkab Aceh Jaya itu memadai untuk sebuah rumah sakit. Adapun aset yang diberikan itu terdiri dari tanah wakaf dari warga setempat Syarifuddin Yunus kpd MER-C seluas 1200 m2 dan tanah milik MER-C seluas 200 m2 beserta bangunannya. Kemudian peralatan medis lengkap untuk IGD, apotek, kamar bersalin, poliklinik umum, rawat inap, dental unit, laboraturium, ruang operasi dan X Ray. “Semua peralatan medis yang kami serahkan ini memenuhi standar untuk sebuah rumah sakit,” katanya. Aset yang diserahkan tersebut di bangun dan dipergunakan MER-C serta petugas Puskesmas Panga sejak 2006 yang merupakan salah satu bantuan dibangun untuk membantu pelayanan kesehatan untuk korban tsunami Aceh 26 Desember 2004. Pihaknya berharap dengan kehadiran Puskesmas dengan peralatan rumah sakit tersebut dapat memberikan tindakan medis secepatnya kepada masyarakat di gampong setempat khususnya dan Aceh Jaya umumnya. Pewarta : Muhammad Ifdhal Sumber : http://www.antaraaceh.com/2014/04/mer-c-serahkan-aset-rp25-miliar-kepada-pemerintah.html
MER-C – RRI Kampanyekan Penggalangan Dana RSI Gaza

Jakarta, 15 Jumadil Akhir 1435/15 April 2014 (MINA) – Lembaga kemanusian medis MER-C (Medical Emergency Rescue Committe) dan Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta, menandatangani MoU kesepakatan terkait kampanye iklan penggalangan dana untuk pengadaan peralatan kesehatan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza. Naskah kesepakatan tersebut ditandatangani di gedung RRI Jakarta, Selasa oleh anggota Presidium MER-C Dr. Arief Rachman dan Kepala RRI Jakarta, Herman Zuhdi. Dalam kesepakatan itu, RRI Jakarta secara sosial akan menyiarkan iklan kampanye penggalangan dana RS Indonesia melalui Gerakan Rp 50 ribu/orang untuk alat kesehatan. Ada pun MER-C akan memberikan bantuan pelayanan medis gratis kepada RRI Jakarta dalam berbagai acara. Herman mengatakan, MER-C adalah lembaga kemanusiaan di bidang medis yang kerjanya sudah terlihat nyata di masyarakat. “Saya melihat MER-C adalah suatu komunitas yang kiprah dan kinerjanya sudah bisa kita lihat. Terutama berdirinya RS Indoensia di Gaza, tentunya membutuhkan suatu upaya kerja keras, cerdas dan ikhlas. Saya kira itu sejalan dengan RRI,” ujar Herman. Menurutnya, kerjasama tersebut adalah awal kolaborasi yang baik dan diharapkan bisa terus berlanjut hingga jaringan RRI di wilayah Indonesia lainnya dapat melakukan hal yang serupa. “Saya mempelajari dan melihat bagaimana kiprah MER-C di masyarakat dan ketika kami bergabung bersama dalam layanan bantuan bagi korban banjir di Kampung Pulo, Jakarta, MER-C tanpa menghitung rupiah,” kata Herman. Sementara itu, Dr. Arief Rachman mengakui bahwa MER-C sangat membutuhkan media partner, terutama untuk menyebarluaskan kempanye tentang RS Indonesia di Gaza, khususnya Gerakan Rp 50 ribu/orang. “Kita tahu jaringan RRI di Indonesia dari ujung timur hingga ujung barat, Sabang sampai Merauke. Semakin banyak orang yang tahu, kami harap akan semakin cepat upaya pembelian alat kesehatan RS Indonesia di Gaza terlaksana,” kata Arief. Arief menjelaskan bahwa RS Indonesia di Gaza adalah karya anak bangsa, di mana mulai dari gambar rancangannya hingga nanti asistensinya ketika operasional, semua dari Indonesia. Bahkan desain di dalam rumah sakit akan bernuansa khas Indonesia, seperti adanya corak batik dan tapis Lampung. Komentar dari masyarakat dan para pejabat di Gaza sangat baik dan kagum sekali dengan struktur rancangan RS Indonesia yang sangat berbeda dengan yang lain. Hanya ada dua negara yang menyumbang rumah sakit di Gaza, yaitu Uni Eropa dan Indonesia. Uni Eropa menyumbang dengan gabungan danan dari negara-negara Eropa. “Jika disepadankan, level Indonesia di Gaza sama dengan Uni Eropa. Ini suatu kebanggaan bagi kita yang perlu kita sampaikan kepada masyarakat Indonesia di tengah gonjang-ganjing dalam negeri,” tambah Arief. (L/P09/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/web/indonesia/nasional/17527-mer-c-dan-rri-jakarta-tandatangani-mou-untuk-rs-indonesia.html