MER-C Ajak Semua Komponen Anak Bangsa Bersatu Memperjuangkan Kemerdekaan Palestina

Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad, mengajak semua komponen anak bangsa untuk bersatu memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Ia juga secara tegas meminta kepada Pemerintah RI agar menolak Timnas Israel pada gelaran Piala Dunia U-20 di Indonesia tahun 2023. Hal ini disampaikannya saat memberikan sambutan pada acara Pembukaan kegiatan “Bulan Solidaritas Palestina” pada hari Selasa/1 November 2022, di Cibubur. Bulan Solidaritas Palestina (BSP) adalah rangkaian kegiatan peduli Palestina yang digagas oleh Aqsa Working Group (AWG). Bulan ini dipilih karena setidaknya ada empat peristiwa penting terkait Palestina, yaitu Deklarasi Balfour (02 November 1917), Kematian Yasser Arafat (11 November 2004), Deklarasi Palestina Merdeka (15 November 1988), Hari Solidaritas Palestina Sedunia yang ditetapkan oleh PBB sejak tahun 1979 setiap tanggal 29 November. Kegiatan ini dilakukan untuk memperingati peristiwa-peristiwa tersebut dan senantiasa menggelorakan dukungan rakyat Indonesia bagi perjuangan rakyat Palestina meraih kemerdekaannya sesuai amanat UUD RI tahun 1945 alinea pertama. MER-C sebagai lembaga sosial medis untuk kemanusiaan dan perdamaian menyatakan dukungannya terhadap kegiatan BSP. “Ini merupakan satu bentuk nyata pembelaan dalam mendukung perjuangan Palestina. Kami mendukung perjuangan teman-teman AWG, mengingatkan secara kolektif kepada public bahwa pada hari ini saudara-saudara kita di Palestina, satu-satunya peserta Konferensi Asia Afrika (KAA) yang belum merdeka. Oleh sebab itu, kita bersama-sama harus membebaskan Palestina. Mudah-mudahan perjuangan ini akan terus berlangsung,” ucap Sarbini. Dalam kesempatan tersebut ia juga mengingatkan publik Indonesia untuk lebih berhati-hati dan perhatian terhadap aktifitas-aktifitas Israel di Indonesia, salah satunya rencana kedatangan Timnas sepak bola Israel ke Indonesia. “Lampu hijau untuk kedatangan Timnas Israel ke Indonesia besar dan masih banyak publik bahkan tokoh-tokoh Islam yang belum tahu. Untuk itu, harus kita ingatkan agar jangan sampai terlambat dalam mengantisipasi ini,” lanjut Sarbini. BSP 2022 akan digelar selama sebulan penuh dan dimeriahkan dengan beragam kegiatan, mulai dari tingkat anak-anak hingga ke tingkat mahasiswa dengan aneka perlombaan. Selain itu, ada pula Futsal Liga Santri, Pengibaran Bendera Indonesia dan Palestina di puncak gunung, hingga Gowes dari Jambi dan Surabaya dengan titik finish di Monas, Jakarta. Tidak hanya itu, acara ini pun akan dilengkapi dengan Webinar, Millenial Peacemaker Forum, Forum Duta Al Quds, hingga Sarasehan yang menghadirkan para tokoh dari berbagai elemen, seperti akademisi, tokoh agama, Kementerian Luar Negeri, hingga lembaga-lembaga kemanusiaan seperti Medical Emergency Rescue Committee (MER-C).
Hadiri Kashmir Black Day, Ketua MER-C Berharap Indonesia Bisa Berperan

Kedutaan Besar Pakistan di Jakarta menggelar peringatan Kashmir Black Day, Kamis/27 Oktober 2022. Tanggal ini menjadi bersejarah karena pada hari ini, tepatnya tanggal 27 Oktober 1947 silam, atau 75 tahun yang lalu, India mengawali penindasan di Kashmir. Penindasan oleh India terhadap Kashmir masih berlangsung hingga saat ini, namun terkesan luput dari perhatian dunia. MER-C yang diwakili oleh Ketua Presidium, dr Sarbini Abdul Murad, sebagai salah satu lembaga yang turut hadir pada acara tersebut berharap Indonesia bisa berperan mengakhiri tragedi kemanusiaan di Kashmir. “Peringatan Kashmir Black Day, setiap tanggal 27 Oktober merupakan satu upaya dari Pakistan untuk mengingatkan bangsa ini, mengingatkan rakyat Indonesia bahwa pada hari ini Kashmir masih di bawah pendudukan India,” ujar Sarbini. “Indonesia jangan pernah melupakan saudara sesama muslim di Kashmir yang masih tertindas oleh India. Kita berharap Indonesia bisa berperan,” tambahnya. Untuk itu, Sarbini menghimbau kepada Pemerintah RI walaupun India adalah pasar yang besar bagi Indonesia, namun faktor-faktor HAM (Hak Asasi Manusia) dan hak-hak kemanusiaan, hak sipil rakyat Kashmir harus menjadi prioritas bagi Indonesia. “Jangan masalah-masalah perdagangan, ekonomi membuat kita menutup mata atas tragedy yang terjadi di Kashmir. Saya fikir ini suatu hal yang keliru kalau kita tidak ingatkan ini,” katanya. “Minimal ada cara-cara diplomasi yang bisa dilakukan untuk bisa mengurangi kesulitan dan penderitaan saudara-saudara kita yang ada di Kashmir,” imbuhnya. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa hak-hak kemerdekaan harus diperjuangkan oleh kita semua, “Bangsa Indonesia tidak bisa melepaskan perhatian terhadap Kahsmir karena Indonesia mempunyai hubungan yang baik dengan Pakistan.” Ia juga menyampaikan bahwa India harus bisa menyerap aspirasi internasional. “Sebagai negara demokratis, India seharusnya bisa menyerap aspirasi internasional sehingga penindasan di Kashmir bisa terselesaikan.” Di samping itu, Sarbini berharap kepada dunia Internasional bisa menekan India agar dapat menerapkan resolusi yang telah ditetapkan oleh PBB, “Misal penentuan sikap dan pilihan rakyat Kashmir apakah ingin bergabung dengan India, Pakistan atau independen,” ujarnya. Sebagai pimpinan lembaga sosial medis untuk kemanusiaan dan perdamaian, Sarbini memandang perlu bagi MER-C untuk memperhatikan dan mempertimbangkan apa yang dapat dilakukan untuk membantu Kashmir. “Kami akan mempelajari secara detail, secara baik, serta mempertimbangkan apa yang dapat dilakukan untuk membantu Kashmir dalam konteks kemanusiaan. Mudah-mudahan kami (MER-C) bisa membantu walaupun sedikit sehingga tragedi kemanusiaan bisa segera berakhir,” harapnya. MER-C menjadi salah satu lembaga yang diundang pada acara ini karena pernah menunaikan misi kemanusiaan saat gempa dahsyat menerjang Kashmir pada tahun 2005 silam dengan mengirimkan Tim Bedah. Peringatan Kashmir Black Day yang diadakan Kedutaan Besar Pakistan di Jakarta dalam rangka memberikan pehamanan dan terus mengingatkan masyarakat Indonesia tentang permasalahan Kashmir dan diharapkan dapat bersuara untuk mengakhiri tragedi kemanusiaan di wilayah ini. #KashmirLivesMatter#KashmirBlackDa
Ketua MER-C Puji Sikap Australia Yang Menarik Pengakuan Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr. Sarbini Abdul Murad, memuji keputusan pemerintah Australia saat ini yang membatalkan pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel yang dikeluarkan pemerintah sebelumnya. Pemerintah Australia di bawah Pimpinan Anthony Albanese, melalui Menteri Luar Negerinya juga secara tegas telah menyatakan tidak akan memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Sarbini mengatakan sangat mengapresiasi keputusan Australia yang proporsional dalam menyikapi konflik Palestina – Israel. Ia memandang langkah tersebut sebagai hal yang positif untuk mendorong proses perdamaian kedua belah pihak. Selanjutnya, Sarbini berharap langkah yang diambil Australia bisa menjadi contoh bagi Amerika dan negara-negara lain di dunia yang sudah mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, bahkan memindahkan kedutaan besar mereka dari Tel Aviv ke Yerusalem. Hal ini, menurut Sarbini, justru merusak upaya damai kedua negara. Sarbini juga meminta Inggris bisa belajar dari Australia. Inggris agar berfikir ulang dan membatalkan keputusannya yang malah akan memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Janganlah negara-negara yang besar dan bermartabat malah mengeluarkan kebijakan yang akan mengganggu proses pembicaraan damai antara dua negara. Biarlah Yerusalem menjadi kota Internasional dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina, seperti yang sudah disepakati masyarakat internasional, Dokter yang berpengalaman di berbagai wilayah perang dan konflik ini juga menyerukan dan mengingatkan negara-negara di dunia yang cinta perdamaian, menjunjung hak asasi manusia dan menentang penjajahan untuk membuktikan kekonsistenan mereka dalam mendukung upaya perdamaian Palestina – Israel dan terus mendorong kesepakatan solusi yang adil serta terhormat bagi konflik kedua negara tersebut. Jakarta, 18 Oktober 2022
Ketua Presidium MER-C Ajak Elemen Bangsa Menolak Kehadiran Penjajah Israel

Jakarta, PJMI – Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr Sarbini Abdul Murad terus mengajak seluruh elemen bangsa untuk melakukan penolakan terhadap segala bentuk kehadiran dan hubungan dengan Israel. Dia juga mengingatkan pemerintah Indonesia tetap konsisten tidak melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. “Pemerintah tidak boleh memberikan ruang sedikit pun untuk Israel. Semua upaya kerja sama termasuk kerja sama politik, sosial, budaya, ekonomi, olahraga, dengan Israel harus ditolak,” tegas Sarbini saat menerima audiensi pengurus Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) di kantor pusat MER-C, Jakarta, Senin (17/10/2022). Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan jati diri Indonesia yang tetap konsisten dan konsekuen dengan identitasnya sebagai bangsa yang menentang penjajahan. Dalam upaya tersebut, MER-C tengah melakukan Safari Kemanusiaan untuk Menolak Kedatangan Tim Nasional Sepak Bola Israel ke Indonesia dalam ajang Piala Dunia U-20 yang akan diselenggarakan pada 2023 mendatang, di mana Indonesia akan menjadi tuan rumah perhelatan olah raga tersebut. “Pada 29 Juni 2022, MER-C bersama lembaga peduli Palestina diantaranya AWG (Aqsha Working Group), BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) dan KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam), menyampaikan pernyataan bersama meminta pemerintah Indonesia harus tegas menolak Tim U-20 Israel,” ujarnya. Sarbini menyatakan, MER-C memang memberikan perhatian khusus terhadap kedatangan Timnas Israel, karena memandang lolosnya Timnas Israel akan menjadi ujian berat bangsa Indonesia untuk membuktikan kekonsistenannya, dalam pembelaan terhadap Palestina dan penolakannya atas segala bentuk penjajahan seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Upaya penolakan ini akan terus dilakukan tidak hanya karena daftar panjang pelanggaran HAM namun juga penjajahan yang masih dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina yang bertentangan dengan konstitusi negara Indonesia dan hukum Internasional. Menurutnya, apabila Timnas Israel bisa lolos ke Indonesia, maka akan menjadi kekalahan konstitusi dan sejarah bangsa Indonesia. “Apabila Tim sepak bola Israel hadir dan berlaga di Indonesia, maka ini akan menjadi sebuah pengakuan secara tidak langsung bagi eksistensi Israel dan bentuk dukungan atas penjajahan yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina,” pungkasnya. Peran Lebih Indonesia Sarbini memperkenalkan MER-C sebagai sebuah lembaga sosial dengan misi kemanusiaan dan perdamaian. Salah satu fokusnya adalah mendorong kemerdekaan Palestina sebagai bagian dari tanggung jawab sejarah dan konstitusi bangsa Indonesia. “Bagi kami Palestina jadi ikon perjuangan kami. Kami akan terus menggulirkan kampanye perjuangan kemerdekaan Palestina,” tegasnya. Dalam rangka mendorong kemanusiaan dan perdamaian, selain di Palestina, membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza, MER-C juga telah membangun Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State (Myanmar) yang dilakukan bersama Palang Merah Indonesia (PMI) dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI). MER-C juga telah menjalankan misi kemanusiaannya ke Afghanisan, Irak, Iran, Lebanon Selatan, Kashmir, Sudan, Filipina Selatan, Thailand Selatan, dan lain-lain. Bahkan, Selama perjalanannya selama 23 tahun lebih, MER-C telah melaksanakan lebih dari 300 misi kemanusiaan bencana alam, perang dan konflik, baik dalam negeri maupun luar negeri. Sarbini juga berharap Indonesia dapat memainkan peran lebih untuk Palestina, demi mendorong perdamaian dan kemerdekaan di negara Timur Tengah tersebut. “Indonesia punya potensi dan mediator persatuan internal Palestina. Indonesia bisa menjadi perekat antara Hamas, Fatah dan kelompok-kelompok lain yang ada di Palestina. Persatuan internal menjadi kunci meraih kemerdekaan,” ujarnya. Program Sinergi Ketua Presidium MER-C sangat bersyukur dan sangat mengapresiasi kehadiran PJMI yang berperan di media dengan memberikan pencerahan kepada masyarakat dunia dari berita yang tidak benar dan terus gigih menyampaikan pesan perdamaian, serta mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina dari penjajahan Zionis Israel. “Kami berharap PJMI terus melaksanakan jihad profesi sebagai jurnalis untuk memberitahukan kepada masyarakat dunia khususnya masyarakat Indonesia, bagaimana kondisi sebenarnya di Palestina dan perjuangan saudara-sudara kita untuk mencapai kemerdekaan negaranya. Kita tidak akan pernah diam melihat penjajahan Zionis atas Palestina,” pungkasnya. Audiensi pengurus PJMI dengan Ketua Presidium MER-C, Ketua Umum H. Ismail Lutan, didampingi sejumlah pengurus, antara lain Ketua Dewan Pembina Muhammad Anthoni, Wakil Sekjen Rana Setiawan, Ketua Bidang Humas Turyadi, Ketua Bidang Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Iin Aura, Irwan Setiawan, Aliyudin Sofyan, Setyohadi, Anwar Aras, dan Mahdi Djayakarta Putra. Sementara Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad didampingi Manajer Operasional MER-C Rima Manzaranis. Ketua Umum PJMI merasa sangat bersyukur dan berterima kasih atas kesempatan silaturahim dan diskusi bersama Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad. Dia menyatakan komitmen PJMI berperan mendukung perjuangan Palestina dengan melakukan berbagai kolaborasi dan sinergitas program bersama dalam memberikan edukasi dan informasi yang sebenarnya tentang saudara-saudara kita yang didzalimi. “Insya Allah, PJMI akan mengagendakan diskusi mengenai Palestina ini dalam program diskusi dwipekanan PJMI yang diadakan setiap Rabu malam bersama Barisan Nusantara. Kami akan undang pembicara dari MER-C maupun narasumber lainnya,” pungkas Ismail Lutan. Dia menjelaskan, saat ini anggota PJMI berjumlah sekitar 100 orang, terdiri dari wartawan aktif, baik cetak maupun elektronik dan siber yang tersebar di beberapa wilayah Tanah Air. Keanggotaan PJMI tidak semata wartawan, tetapi juga pegiat medsos, blogger, penulis dan aktivis. Ismail juga menyatakan, sejak dipilih menjadi Ketua Umum, 4 Agustus 2022 lalu, pihaknya bertekad mengembangkan PJMI menjadi organisasi yang berwibawa dan berpengaruh. Memperjuangkan kepentingan umat dengan cara-cara yang santun, bermartabat dan cerdas. Pengurus Baru PJMI (periode 2022-2025) direncakan akan melakukan pelantikan tanggal 10 November di Hotel Horison, Rasuna Said, Jakarta.(RS) Jakarta, 17 Oktober 2022 Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI)
MER-C Minta Inggris Urungkan Rencana Pemindahan Kedubes ke Yerusalem

Ketua Presidium lembaga sosial medis untuk kemanusiaan dan perdamaian, Medical Emergency Rescue Committee atau MER-C, Sarbini Abdul Murad, angkat bicara merespon rencana Perdana Menteri Inggris terpilih, Liz Truss, yang akan memindahkan Kedutaan Besar Inggris dari Tel Aviv ke Yerusalem. “Kami (MER-C) meminta PM Liz Truss untuk berfikir ulang dan urungkan rencana memindahkan Kedubes Inggris dari Tel Aviv ke Yerusalem,” ujar Sarbini. Sarbini beralasan rencana Inggris tersebut bisa merusak kesepakatan solusi adil dan terhormat terhadap konflik Palestina dan Israel. “Sebaiknya Inggris jangan menambah kerumitan masalah dengan melakukan hal yang pasti akan ditentang oleh masyarakat Internasional,” ucapnya. Ia juga mengatakan bahwa dipastikan langkah Inggris itu adalah rencana ilegal yang akan menggagalkan dan memburamkan apa yang selama ini sudah disepakati masyarakat Internasional, yaitu dengan menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina. Lebih lanjut Sarbini meminta kepada pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Luar Negeri RI agar dapat melakukan pendekatan dan diplomasi dengan Inggris. “Kami meminta kepada pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemlu RI bisa melakukan pendekatan dan diplomasi dengan Inggris agar rencana ini tidak diwujudkan,” lanjut Sarbini. Bahkan menurutnya, Indonesia bisa menggalang kekuatan negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI). “Indonesia bisa menginisiasi untuk menggalang kekuatan OKI untuk bersama-sama berjuang agar rencana ilegal ini bisa digagalkan,” tambahnya.
Catatan Dr. Ben : Diplomasi Profesi

Kunjungan Asst. Professor Emal Wardak, MD, dokter spesialis orthopedi dari Rumah Sakit Wazir Akbar Khan Afghanistan ke Jakarta yang difasilitasi oleh MER-C menjadi tonggak bersejarah bagi MER-C dan Indonesia. Kita paham hari ini Afghanistan dalam kesulitan dalam semua dimensi setelah Taliban berkuasa dengan menumbangkan pemerintahan sebelumnya yang didukung oleh terutama AS dan sekutunya. Taliban mengakibatkan dampak politik dan ekonomi yang besar. Masyarakat internasional dengan koor bersama enggan mendukung Taliban. Keengganan ini berdampak negatif terutama bagi rakyat sipil. Mereka mendapat imbas dari pergolakan politik. Kita mengapresiasi sikap Indonesia yang terus mendorong masyarakat Internasional agar memperhatikan aspek kemanusiaan yang butuh uluran tangan agar tidak terjadi tragedi kemanusiaan di sana. MER-C sebagai organisasi kemanusiaan yang pernah beberapa kali mengirimkan tim medis ke sana juga mencoba memberikan sesuatu yang bisa membantu kesulitan yang dialami oleh rakyat Afghanistan. Satu hal yang menjadi fokus MER-C adalah dengan melatih dokter Afghanistan terutama bedah orthopedi yang itu memang bidang keahlian MER-C. Kedatangan Asst. Professor Emal Wardak menjadi tonggak awal untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pelatihan dokter Orthopedi Afghanistan di Jakarta.Apa yang dilakukan MER-C adalah bagian diplomasi profesi dimana diplomasi ini juga bisa meningkatkan capacity building dokter Afghanistan dalam mengasah kemampuan agar lebih baik di bidang bedah. Bagaimanapun, sektor kesehatan terdampak dari isolasi politik dan ekonomi yang berujung pada kurangnya penanganan dan pelayanan kesehatan terhadap pasien. Diplomasi profesi yang MER-C lakukan berdampak positif bagi Indonesia, artinya rakyat Indonesia hadir dikala rakyat Afghanistan dilanda kesulitan. Meski yang MER-C berikan tidak besar nilainya, tapi di mata rakyat Afghanistan menjadi sesuatu yang bernilai dan mengikat hubungan batin kedua bangsa. Jakarta, 7 Oktober 2022
HNW: Indonesia Harus Tolak Timnas Israel, Ini Jati Diri Bangsa

Dalam rangka mendorong Pemerintah untuk berani menolak kedatangan Timnas Israel ke Indonesia, Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad terus melakukan safari kemanusiaan ke berbagai elemen bangsa. Jum’at/2 September 2022, Sarbini bertemu dan bersilaturahim dengan Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, MA untuk membahas dan meminta dukungan atas Gerakan Tolak Timnas Israel. Seperti diketahui, Tim Sepak Bola Nasional U-20 Israel direncanakan akan datang dan bertanding di Indonesia pada tahun 2023 mendatang, seiring izin dan jaminan yang diberikan Pemerintah dalam hal ini Menpora RI terhadap Timnas Israel tersebut. MER-C memandang ini sebagai ujian berat bangsa Indonesia untuk membuktikan kekonsistenannya dalam menentang penjajahan dan membela kemerdekaan Palestina, satu-satunya negara peserta KAA (Konferensi Asia Afrika) yang sampai saat ini belum merdeka. Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, MA menyatakan dukungannya terhadap gerakan Tolak Timnas Israel yang tengah digaungkan oleh MER-C. Ia secara pribadi juga sudah menyatakan penolakannya karena menurutnya sikap tersebut adalah kekhasan dan merupakan jati diri bangsa Indonesia yang sudah berlaku sejak zaman Presiden Pertama RI, Bung Karno. “Indonesia sebagai negara berdaulat dan mempunyai kekhasan. Kita menghormati kekhasan masing-masing negara. Kekhasan Indonesia sesuai dengan kosntitusinya adalah sikap politik yang sudah berlaku sejak zaman Bung Karno, yaitu Indonesia menolak penjajahan Israel,” ujar Hidayat. “Jadi hendaknya semua pihak memahami itu. Obyektifitas dan sportifitas kita justru harus menghadirkan pemahaman ini. Sebagai tuan rumah, harus diingat bahwa kita punya nilai yang kita pegang. Indonesia itu tidak seperti negara-negara Eropa atau negara-negara lain yang membuka hubungan dengan Israel. Indonesia sejak dari awal justru menolak Israel,” tegasnya. Lebih jauh ia memaparkan bahwa sejarah panjang bangsa Indonesia sudah mencatat dengan baik sikap Indonesia tersebut. Seperti pada tahun 1955, Bung Karno menolak keinginan Israel untuk diundang ke Bandung pada Konferensi Asia Afrika (KAA). Bung Karno malah mengundang Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, seorang Tokoh Pejuang Palestina, Mufti Yerusalem. Tidak hanya itu, pada tahun 1957, Bung Karno juga tegas melarang Indonesia main dengan Israel. Bung Karno berpandangan lebih baik tidak masuk ke Piala Dunia daripada harus main dengan Israel. Begitupun pada Asian Games tahun 1962. Indonesia lebih memilih dihukum oleh Panitia Asian Games ketimbang harus mengundang Israel. “Inilah Indonesia. Indonesia mempunyai sikap dasar, pembukaan UUD-nya sangat jelas dan itulah cita-cita bangsa Indonesia yang diterjemahkan dengan sangat gamblang oleh Bung Karno dalam menyikapi berbagai event internasional,” lanjutnya. Hidayat pun memberikan perbandingan, bahwa ketika Bung Karno menolak Indonesia main dengan Israel pada tahun 1958, posisi Israel menjajah tanah Paletina baru sekitar 22%. Sekarang Israel sudah menjajah tanah Palestina di atas 80%. “Masa dulu 22% kita tolak, sekarang sudah 85% malah kita terima. Terbalik dong. Seharusnya dulu 22% saja kita tolak, apalagi sekarang 85%, harusnya kan begitu,” ujarnya. Ia melanjutkan sikap ini sesuai dengan pernyataan Presiden RI, Joko Widodo bahwa Indonesia mempunyai hutang sejarah dengan Palestina karena merupakan satu-satunya negara peserta KAA yang sampai saat ini belum merdeka. Oleh karenanya, Indonesia harusnya membayar hutang sejarah itu dengan memaksimalkan usaha untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Hidayat mengingtakan bahwa seluruh manuver sekecil apapun yang bermakna terhadap pengakuan terhadap Israel dan semakin menjauhkan Palestina merdeka harus dihindari. Apabila hal-hal seperti ini terus dibiarkan, seperti Timnas diterima, di Parlemen diterima, NGO diterima, jual beli senjata, dsb, maka akan dijadikan alasan normalisasi. “Sedikit-sedikit akan dijadikan akumulasi, dalih untuk akhirnya kenapa tidak melakukan normalisasi. Karenanya ini harus kita tolak supaya kita bisa mengkoreksi manuver-manuver Israel yang ingin menjerumuskan Indonesia keluar dari konstitusinya, yaitu mengakui penjajahan Israel,” imbuhnya. Ia berpendapat Indonesia sangat bisa melakukan penolakan karena Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel dan Indonesia mempunyai kekhasan serta jati diri yang selama ini sudah dengan tegas menolak penjajahan Israel.
MER-C Terkejut dengan Pernyataan Jusuf Kalla Terkait Penyelesaian Konflik Palestina – Israel

Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad mengaku terkejut dengan pernyataan Mantan Wakil Presiden RI, Muhammad Jusuf Kalla saat menjadi narasumber pada suatu diskusi yang diadakan oleh Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia di Jakarta, Jumat (19/8). Dalam kesempatan itu, Jusuf Kalla mengatakan bahwa jika Indonesia ingin menjadi mediator untuk menyelesaikan konflik Palestina – Israel, maka Indonesia harus mengenal dan mempunyai hubungan dengan kedua belah pihak, tidak saja dengan Palestina, namun juga dengan Israel. “Kami terkejut dengan pernyataan Pak Jusuf Kalla dalam forum diskusi itu bahwa untuk mendamaikan konflik Palestina – Israel, maka Indonesia harus mempunyai hubungan dengan keduanya, yaitu dengan Palestina dan juga dengan Israel,” ujar Sarbini. Pernyataan tersebut menurutnya akan melukai sejarah dan upaya Indonesia yang selama ini konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Sarbini justru berpandangan Indonesia tidak patut membuka hubungan dengan Israel. Pasalnya, banyak pekerjaan rumah yang belum diselesaikan oleh Israel, seperti masalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), penindasan, perampasan, pengrusakan properti warga Palestina, dsb. “Israel telah melakukan berbagai pelanggaran HAM dan penjajahan di tanah Palestina, dimana hal ini tidak sesuai dengan konstitusi negara kita dan sejarah bangsa Indonesia yang selama ini melakukan pembelaan terhadap Palestina,” tambahnya. Oleh karenanya, Sarbini berpendapat bahwa pernyataan Jusuf Kalla tersebut tidak dapat diterapkan untuk konflik Palestina – Israel. “Pak JK adalah seorang Tokoh Bangsa yang kita hormati karena beliau seorang juru damai yang tangguh dan sudah teruji. Kita semua mengakui hal tersebut,” ujar Sarbini. “Namun menurut pandangan kami, niat Pak JK untuk membuka hubungan dengan kedua belah pihak tidak dapat diterapkan untuk kasus konflik Palestina – Israel,” tambahnya. “Hanya Amerika yang bisa mendamaikan konflik Palestina – Israel, itupun kalau Amerika serius dan tidak memihak,” ujarnya. Ketua Presidium MER-C ini juga berpandangan bahwa pernyataan mantan Wakil Presiden RI ini akan kontra produktif terhadap upaya yang dilakukan Indonesia selama ini. Untuk itu, ia berharap Indonesia tetap konsisten terhadap solusi dua negara. “Kami berharap Indonesia (pemerintah) tetap konsisten terhadap solusi dua negara, karena sampai saat ini belum ada tanda-tanda dan belum ada progress dari solusi tersebut.” Jakarta, 23 Agustus 2022
MER-C Minta Pemerintah Tolak Timnas Israel

MER-C berharap pemerintah selaras dalam perbuatan ketika mendukung Palestina dan menolak Israel yang menjajah Palestina. JAKARTA — Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyampaikan pesan kepada Pemerintah Indonesia mengenai polemik keikutsertaan timnas Israel dalam Piala Dunia U-20 di Indonesia pada tahun 2023. MER-C berharap pemerintah selaras dalam perbuatan ketika mendukung Palestina dan menolak Israel yang menjajah Palestina. “Ini harapan dan permintaan kami kepada Presiden (Joko Widodo), khususnya agar secara tegas (pemerintah) menolak kepentingan timnas Israel ikut dalam Piala Dunia U-20 di Indonesia,” ujar Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad di kantor Republika, Jakarta, Jumat (19/8). Sarbini mengingatkan, Presiden Sukarno pernah menolak kepentingan Israel pada tahun 1962 ketika Asian Games. Kalau Presiden Jokowi mampu menolak timnas Israel ikut dalam Piala Dunia U-20 di Indonesia tahun 2023, artinya Jokowi mampu mengembalikan keberanian dan konsistensi Bung Karno dalam mendukung Palestina. MER-C yakin Presiden Jokowi akan memperhatikan aspirasi masyarakat. Harapannya, konstitusi Indonesia yang jelas mengatakan bahwa penjajahan di atas bumi harus dihapuskan betul-betul dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen oleh Pemerintah Indonesia. Kepada Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin, MER-C menyampaikan, Wapres adalah seorang ulama. Karena itu, MER-C yakin, Kiai Ma’ruf akan memberikan yang terbaik kepada pemerintah dan rakyat Palestina. MER-C juga yakin Kiai Ma’ruf akan menolak timnas Israel ikut dalam Piala Dunia U-20 di Indonesia. Sarbini mengingatkan, jika timnas Israel mengikuti Piala Dunia U-20 di Indonesia, masyarakat Indonesia pasti akan kecewa. “Akan ada kekecewaan yang terjadi di masyarakat ketika timnas Israel masuk ke Indonesia, bisa jadi ada penolakan yang ekstrem (terhadap timnas Israel),” ujarnya. Sarbini berpandangan, jika timnas Israel ikut dalam Piala Dunia U-20 di Indonesia, sama saja pemerintah melanggar konstitusi Indonesia. Jadi, ada dua hal yang akan terjadi. Pertama, respons keras masyarakat. Kedua, pemerintah melanggar konstitusi. Dua hal ini yang harus dihindari. “Sesuatu yang tidak bagus untuk kita (pemerintah dan bangsa Indonesia) dan untuk sejarah bangsa Indonesia, maka pemerintah harus tegas untuk bisa melaksanakan hal yang diinginkan oleh konstitusi dan masyarakat Indonesia,” ujar Sarbini. Sebelumnya, dalam rangka safari kemanusiaan untuk menolak kedatangan timnas Israel, Sarbini bertemu dengan Ketua Presidium Majelis Ormas Islam (MOI) KH Nazar Haris pada Kamis (18/8). Dalam pertemuan tersebut, Ketua Presidium MOI memberikan apresiasi positif atas kunjungan dan pencerahan yang disampaikan oleh pimpinan MER-C. Kiai Nazar menyambut baik dan mendukung gagasan MER-C menolak kedatangan timnas Israel ke Indonesia. Sebab, penolakan ini adalah bentuk pembelaan terhadap konstitusi bangsa Indonesia. “Sesuai dengan UUD 1945, tujuan kita mendirikan negara ini adalah memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,” kata Kiai Nazar melalui keterangan tertulis. Kiai Nazar juga menyampaikan, apabila bangsa Indonesia membiarkan Israel hadir ke Indonesia, Indonesia bisa terancam dengan penjajahan baru, dengan model baru, dan penjajahan lebih ketat. “Untuk itu, kita akan mencari cara supaya kita bisa menggalang bersama, menjaga kedaulatan bangsa dan kita bisa melindungi bangsa Indonesia dari model-model penjajahan yang sedang direkayasa,” ujar Kiai Nazar. Link :
Ketua DPD RI Minta Panglima TNI Fasilitasi Relawan Kemanusiaan MER-C Masuk Palestina

SIARAN PERS Ketua DPD RI ———- JAKARTA – Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, meminta Panglima TNI membantu memfasilitasi relawan kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang terhalang masuk ke Palestina melalui Mesir. Secara administrasi, relawan MER-C telah memenuhi seluruh prosedur yang diperlukan. Hanya saja, mereka terhalang oleh izin intelejen Mesir. “Ini butuh koordinasi antar intelejen negara, dalam hal ini BAIS yang memang di bawah kendali Panglima TNI. Maka saya meminta Panglima TNI untuk memfasilitasi hal ini, agar relawan MER-C dapat masuk ke Gaza dengan misi kemanusiaannya,” tutur LaNyalla saat menerima audiensi pengurus MER-C di kediaman Ketua DPD RI, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (12/6/2022). Senator asal Jawa Timur itu mengatakan segera berkoordinasi dengan Panglima TNI untuk membantu relawan kemanusiaan MER-C agar dapat membantu kesehatan rakyat Palestina, melalui rumah sakit yang didirikan dari donasi masyarakat Indonesia. “Secepatnya harus ditindaklanjuti agar masyarakat Palestina segera mendapatkan hak kesehatan yang layak. Saya sangat mendukung dan mendorong agar relawan MER-C dapat segera difasilitasi masuk ke Palestina,” tegas LaNyalla. Dalam audiensi tersebut, jajaran pengurus MER-C mengeluhkan akses yang sulit untuk dapat masuk ke Palestina melalui Mesir. “Kami meminta akses untuk dapat masuk ke Palestina. Hubungan Indonesia dan Mesir sangat bagus. Tapi pemerintah tak bisa meyakinkan Pemerintah Mesir, dalam hal ini intelejen mereka, agar relawan MER-C dapat diberikan akses masuk ke Palestina,” tutur Head of Presidium MER-C, dr Sarbini Abdul Murad. Menurutnya, bulan lalu dua orang relawannya tertahan di perbatasan Palestina-Mesir lantaran tak diberikan akses masuk oleh intelejen Mesir. “Untuk masuk ke Palestina, selain visa dan persyaratan lainnya, juga harus ada izin dari intelejen. Kami sudah berkoordinasi dengan KBRI di Mesir. Tapi tetap gagal masuk dari perbatasan karena terhambat oleh izin intelejen Mesir,” ujar Sarbini. Sementara untuk pengembangan rumah sakit di sana, mereka butuh akses yang mudah untuk masuk karena kita membawa material, tukang, tenaga ahli, dokter, relawan dan lainnya. Sebagaimana diketahui, akhir tahun 2015 rumah sakit hasil donasi masyarakat Indonesia telah beroperasi di Palestina. Setiap harinya lebih dari 500 pasien masyarakat Palestina memanfaatkan fasilitas kesehatan rumah sakit hasil donasi masyarakat Indonesia di Palestina. Karena kebutuhan fasilitas pelayanan, saat ini fasilitas ditambah dengan membangun dua lantai agar pelayanan dapat lebih maksimal. Hadir dalam kesempatan itu sejumlah pengurus MER-C, di antaranya dr Sarbini Abdul Murad, Tonggo Meaty, Ita Muswita, Luly Larissa, dr Zackya Yahya, dr Henry Hidayatullah, dr Hadiki Habib dan Rima Manzanaris.(***) *BIRO PERS, MEDIA, DAN INFORMASI LANYALLA* www.lanyallacenter.id