OPEN RECRUITMENT – “MER-C EMT for Gaza Response 2024”

*OPEN RECRUITMENT – “MER-C EMT for Gaza Response 2024”* Salam Sejawat Medis, *MER-C atau Medical Emergency Rescue Committee* adalah sebuah lembaga kegawatdaruratan medis Indonesia untuk korban perang, konflik dan bencana alam baik di dalam maupun luar negeri. Merespon krisis kemanusiaan di Gaza, pada *Senin/18 Maret 2024*, MER-C telah mengirimkan Tim Medis I ke Jalur Gaza, Palestina. Tim terdiri dari 11 relawan dari berbagai keahlian medis yang dibutuhkan di lapangan. MER-C berencana mengirimkan Tim yang berkelanjutan ke Jalur Gaza untuk memberikan bantuan pengobatan kepada para korban agresi. Kegiatan ini bersifat *Kerelawanan (unpaid volunteers)*, *Netral*, dan *Amanah*. Bagi rekan-rekan sejawat medis yang terpanggil untuk bergabung dan bertugas sebagai relawan *“MER-C EMT (Emergency Medical Teams) for Gaza Response 2024”*, silahkan mengisi form di link berikut ini dan melengkapi persyaratan yang diperlukan: Bagi rekan-rekan yang lolos seleksi akan dihubungi oleh Sekretariat MER-C untuk proses lebih lanjut. *NOTE:* Proses ini tidak dipungut biaya. Harap berhati-hati terhadap semua informasi yang mengatasnamakan MER-C Indonesia. Informasi resmi melalui official website MER-C Indonesia: www.mer-c.org atau Call Center MER-C Indonesia : 0811990176 (wa only) Atas perhatian rekan-rekan, kami mengucapkan terima kasih. Salam Kemanusiaan, *MER-C Indonesia*
Terkait Bentrok di Rakhine, MER-C Minta Semua Pihak Hormati Rumah Sakit Agar Jadi Tempat Netral

Terkait bentrok yang terjadi di negara bagian Rakhine, Myanmar, Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad meminta semua pihak untuk bisa menghormati rumah sakit agar menjadi tempat netral. “Kita berharap semua pihak menghormati rumah sakit agar menjadi tempat netral dan tak dijadikan titik tempur yang melanggar konvensi Jenewa atas netralitas rumah sakit dan tenaga kesehatan,” kata Sarbini, Senin (25/3/2024). Ia mengungkap, Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, yang diinisiasi oleh MER-C, selama empat bulan terakhir terpaksa tutup karena bentrok antara Tentara Myanmar dan Arakan Army (AA) terjadi di dekat Rumah Sakit. Sehingga dokter dan perawat tak berani tinggal di sana. “Karena pertempuran juga dekat dengan kampung di dekat Rumah Sakit, maka masyarakat banyak mencari perlindungan di luar kampung,” ujarnya. Sarbini juga meminta agar Rumah Sakit segera di buka kembali, agar bisa berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan. Is juga menyerukan kepada pihak yang bertikai agar mundur dan tidak menjadikan rumah sakit ‘terlibat’ dalam pusara konflik. Pada 10 Desember 2019, bangunan RS Indonesia yang sangat kental nuansa merah dan putih diserahterimakan kepada pemerintah Myanmar melalui Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar di Ibukota Myanmar, Nay Pyi Taw. Usai pembangunan, pengadaan alat kesehatan menjadi proses selanjutnya yang dilakukan oleh Palang Merah Indonesia (PMI). RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar, merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan MER-C. Keberadaan Rumah Sakit yang dibangun oleh umat Muslim dan Budha Indonesia ini diharapkan dapat mendorong terciptanya perdamaian di Myanmar.
Ketua Presidium MER-C: Pengriman Tim Medis ke Gaza Tanggung Jawab Besar untuk Bantu Saudara Kita

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad dalam konfereni pers yang digelar hari Selasa (19/3) mengatakan, pengiriman tim relawan medis ke Jalur Gaza merupakan tanggung jawab besar untuk membantu warga Gaza.Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad dalam konfereni pers yang digelar hari Selasa (19/3) mengatakan, pengiriman tim relawan medis ke Jalur Gaza merupakan tanggung jawab besar untuk membantu warga Gaza. “Perjalanan panjang ini tidaklah melelahkan buat kami, karena ini merupakan tanggung jawab besar untuk membantu saudara kita yang ada di Gaza. Walaupun situasi dan kondisi hari ini di Indonesia begitu dinamis, tapi kami tidak akan pernah melupakan perjuangan dan penderitaan yang dialami oleh saudara kita yang ada di Gaza,” kata Sarbini di Kantor MER-C di Jakarta. Ia mengatakan, pengiriman 11 relawan MER-C yang saat ini sudah tiba di Gaza merupakan tujuan utama sejak awal terjadinya agresi, untuk membantu warga Gaza yang pada hari ini sangat membutuhkan tenaga medis. Sarbini mengungkapkan, MER-C telah berupaya sekuat tenaga untuk bisa mengirimkan tim medis ke Gaza dengan bekerjasama ke semua pihak tapi sejak dulu belum ada kabar gembira, hingga akhirnya melalui kerja sama dengan WHO di bawah naungan Emergency Medical Tim (EMT), Tim Medis MER-C berhasil masuk ke Jalur Gaza pada hari Senin (18/3) pukul 17.15 waktu Gaza atau jam 22.15 waktu Indonesia. “Maka hari ini ada 11 orang relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza terdiri dari dokter bedah orthopedi, dokter umum, perawat dengan berbagai keahlian, bidan dan lainya. Semua ada 11 orang ditambah dua relawan yang sudah ada di sana jadi total ada 13 relawan. Mereka akan bekerja di sana minimal selama dua minggu, maksimal satu bulan dan nanti akan ada estafet selanjutnya karena kami tidak mau ini berhenti selama ada relawan kita di sana,” tambahnya. Pada kesempatan ini, Sarbini mengajak semua elemen bidang Kesehatan baik yang berada di naungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI) maupun di bawah lembaga rumah sakit atau pemerintah untuk bersama membangun koalisi besar mengirim tim medis ke Gaza secara berkelanjutan. “Ini pekerjaan besar, masalah besar, kasus besar, maka harus melibatkan segala elemen anak bangsa. Pada kesempatan ini kita mengajak kepada pemerintah untuk bisa terdepan, secara bersama kita membantu warga Gaza. Masalah Gaza adalah masalah dunia, masalah kita bersama yang tidak cukup hanya satu elemen membantu . Kita harus saling berkontribusi membangun kerja sama, sehingga satu bidang kesehatan bisa kita tangani bersama,” tuturnya.
Truk Bantuan Obat-obatan MER-C Bergerak Menuju Rafah

Setelah truk-truk bantuan makanan dan tepung yang telah berhasil masuk ke Jalur Gaza dan telah didistribusikan ke kamp-kamp pengungsian di Gaza Tengan dan Selatan, truk-truk yang berisi bantuan obat-obatan dan bahan medis MER-C juga dikabarkan telah bergerak menuju perbatasan Rafah. Hal ini dilaporkan oleh Tim MER-C yang saat ini masih berada di Kairo untuk melakukan pemantauan langsung pembelian, pengemasan dan pengiriman bantuan-bantuan dari rakyat Indonesia melalui MER-C. “Saat ini sudah pukul 08.00 malam waktu Kairo dan kami berada di gudang dimana bantuan dari Bapak Ibu sebanyak kurang lebih ada 18 palet yang berisi obat-obatan sudah siap untuk dilakukan proses pengiriman,” ujar dr. Arief Rachman, SpRad, Ketua Tim MER-C. “Di luar sudah menunggu truk yang akan mengangkat bantuan-bantuan ini berangkat dari pergudangan di Kairo menuju ke perbatasan Rafah dan berharap akan masuk ke Jalur Gaza,” lanjutnya. Mewakili MER-C, Dr. Arief memohon doa kepada rakyat Indonesia agar perjalanan truk-truk bantuan berjalan dengan lancar dan tidak mendapat hambatan. Ia berharap bantuan bisa segera diterima dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan yang semakin sulit di Jalur Gaza. Hal ini disebabkan blockade dan agresi yang masih terus dilancarkan Israel ke Jalur Gaza. Ia juga mengucapkan terima kasih atas semua partisipasi dan dukungan dari Masyarakat Indonesia sehingga berbagai bantuan dapat terus disalurkan oleh Tim MER-C baik bantuan yang berasal dari Kairo Mesir maupun bantuan-bantuan di dalam Gaza yang dilakukan oleh Tim MER-C baik di Gaza bagian Selatan maupun Gaza bagian Utara. “Kita berharap usaha kecil ini bisa membantu saudara-saudara kita di Gaza,” tuturnya. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa di samping bantuan kemanusiaan, MER-C masih terus berkomitmen untuk membangun kembali Rumah Sakit Indonesia yang berada di Bait Lahiya, Jalur Gaza Utara. RS Indonesia mengalami kerusakan berat dan sampai saat ini masih berhenti beroperasional pasca penyerangan dan pengepungan yang dilakukan Israel pada November 2023 lalu.
MER-C: Bantuan Melalui Udara ke Gaza Tak Bermartabat

Droping bantuan melalui udara terpaksa dilakukan oleh sejumlah negara untuk dapat memberikan bantuan bagi warga di Jalur Gaza Palestina yang masih mengalami blokade dan agresi berkepanjangan. Penyaluran bantuan melalui udara sudah berhasil dilakukan oleh Yordania, UEA, Perancis dan Amerika Serikat. Yordania bahkan langsung Raja Abdullah yang turun mengkoordinasi droping bantuan melalui pesawat. Indonesia juga berencana mendrop bantuan kemanusiaan melalui udara ke Jalur Gaza. Hal ini disampaikan oleh Presiden RI, Joko Widodo setelah sulitnya menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui jalur darat karena Israel tidak menginginkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Namun, Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad justru menyayangkan penyaluran bantuan melalui udara ke Jalur Gaza dan tidak menyarankan hal serupa turut dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Ia berpendapat bahwa memberikan bantuan kemanusiaan melalui udara tidaklah bermartabat. “Langkah ini tidaklah bermartabat. Sangat memilukan nurani kita ketika melihat warga Gaza berkuruman dan berebut bantuan serta mempertaruhkan nyawa dengan mengejar parasut bantuan yang jatuh di laut serta saling kuat-kuatan dalam merebut bantuan yang tidak seberapa dibanding dengan kebutuhan mereka,” kata Sarbini.Bahkan pada Jumat (8/3/2024), setidaknya lima orang dikabarkan meninggal dunia dan 10 lainnya terluka akibat paket bantuan yang dijatuhkan dari udara menimpa warga di kamp Al Shati sebelah barat Kota Gaza. Untuk itu, Sarbini menyatakan bahwa cara seperti itu bukanlah suatu keputusan yang dapat membantu secara total persoalan kemanusiaan di Gaza. Tapi ironinya malah menggambarkan kekalahan dunia menghadapi sikap keras kepala Israel yang tidak peduli dengan tekanan dunia agar membuka akses bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza.“Sampai kapan kita menonton drama kemanusiaan dengan Israel sebagai aktor dan Gaza sebagai korban,” ujarnya.Meski demikian, Sarbini menyampaikan bahwa niat Presiden patut diapresiasi namun perlu juga dikaji ulang efektifitas nya. Jangan sampai malah menimbulkan dan menambah korban di pihak warga Gaza.Sarbini malah menyarankan agar Indonesia mendirikan RS Lapangan di Rafah Mesir. “Mendirikan rumah sakit lapangan di Rafah Mesir adalah pilihan yang masuk akal dan memungkinkan dilakukan oleh Indonesia,” katanya. RS Lapangan menurut Sarbini dapat menjadi salah satu alternatif bantuan yang dapat diberikan Indonesia untuk turut mengatasi kelumpuhan sarana kesehatan di Jalur Gaza. Sarana kesehatan menjadi hal yang vital di tengah agresi yang masih terus berlangsung dan jumlah korban yang terus bertambah. Sementara rumah sakit di Mesir sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Jalur Gaza juga sudah kewalahan menerima rujukan korban warga Gaza yang tak terbendung.
Penyaluran Bantuan ke Gaza Terus Berlanjut, MER-C Bagikan Susu di Pengungsian

Relawan MER-C di Jalur Gaza terus menyalurkan bantuan yang diberikan masyarakat Indonesia untuk warga Gaza, di tengah gempuran Israel yang masih berlangsung. Pada Senin (4/3/2024), MER-C membagikan susu untuk bayi yang berada di pengungsian. “Selain susu, MER-C juga membagikan botol susu. Ini merupakan pertama kalinya kita membagikan susu karena memang harganya saat ini cukup tinggi dan kelangkaan barang tersebut yang sulit didapatkan. Jadi kita membagikan susu formula dan botol susunya kepada pengungsi yang ada di dua sekolah di sekitar Rumah Sakit Eropa” kata Relawan MER-C Fikri Rofiul Haq. “Data yang kita catat anak kecil di bawah satu tahun yang ada di pengungsian ini ada sekitar 65,” ujarnya.Ia mengatakan, MER-C hanya bisa membagikan susu untuk anak kecil di bawah satu tahun karena kondsi yang sangat sulit. Bahkan mereka membutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa mengumpulkan 65 kaleng susu. “Perlu diketahui ada 15 anak yang meninggal karena malnutrisi atau dehidrasi yang di rawat di Rumah Sakit Kamal Udwan di Gaza Utara. Untuk itu dibutuhkan lebih banyak lagi bantuan yang masuk ke Jalur Gaza,” tuturnya.Menurutnya, gencatan senjata segera sangat dibutuhkan agar bantuan bisa lebih banyak masuk. Karena saat gencatan senjata sebelumnya, ada 200-an truk bantuan yang bisa masuk ke Jalur Gaza. Lebih lanjut Fikri mengatakan, saat ini mereka baru bisa intens menyalurkan bantuan di dua sekolahan tempat mereka mengungsi karena situasi yang memang belum memungkinkan untuk bergerak bebas dan lebih jauh. “Kenapa kami hanya membuat program di dua sekolahan, perlu diingat sampai hari ini pihak Zionis Israel terus melakukan serangan-seranganya terhadap masyarakat sipil terutama yang baru hangat dibicarakan insiden sebuah truk bantuan yang masuk ke Gaza Utara dan warga berkumpul untuk menerima bantuan, namun Israel menembaki truk bantuan dan masyarakat sipil yang mengambil bantuan tersebut, sehingga dilaporkan 112 warga meninggal dan 760 lainnya mengalami luka-luka dalam beberapa menit saja,” katanya. Meski ada kesempatan menyalurkan bantuan di tenda-tenda ataupun di tempat lainnya, Fikri mengungkap Relawan MER-C harus melewati proses yang cukup sulit. Selain itu, mereka juga mengalami kesulitan dana yang menipis, di mana bank juga menjadi target sasaran Israel. Mesin ATM juga banyak yang tutup atau antriannya sangat panjang. Jika antre pagi kemungkinan dapat menarik uang di malam hari. Hingga hari ini, bantuan air bersih dan air minum MER-C juga masih terus berjalan, dengan total 10.000 liter air per hari. Ada empat drum penampung air minum dan air bersih untuk dua sekolahan lokasi pengungsian. Saat ini tidak semua masyarakat bisa mecari air minum atau air bersih karena cukup langka.
PWI dan IJTI Transfer Dana Aceh Peduli Palestina Tahap II, Kesempatan Berdonasi Masih Dibuka

PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Penggalangan dana kemanusiaan untuk korban agresi Israel di Gaza, Palestina masih terus dibuka oleh dua organisasi pers nasional di Aceh, yaitu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Aksi kemanusiaan berlabel “Aceh Peduli Palestina” itu dimulai Selasa, 7 November 2023 bersamaan dengan pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 di Banda Aceh. Aksi tersebut didukung Bank Aceh dan relawan tanggap bencana Universitas Iskandar Muda (Unida) Banda Aceh. Setelah melakukan penggalangan selama empat hari, dana yang terkumpul pada tahap I sebesar Rp 60.583.801 diserahkan oleh Ketua PWI Aceh Nasir Nurdin kepada Presidium MER-C Indonesia, dr. Henry Hidayatullah, M.Si didampingi Koordinator MER-C Indonesia Wilayah Aceh, Ira Hidayati. Penyerahan bantuan tahap I itu berlangsung pada rangkaian penutupan PKA ke-8 di panggung utama Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu sore, 12 November 2023. Bantuan terus mengalir Setelah penyaluran bantuan tahap I, ternyata semangat masyarakat untuk berdonasi terus mengalir melalui Rekening Aceh Peduli Palestina No. Rek. 500.02.24.500500-0 di Bank Aceh. Buktinya, hingga posisi Senin, 4 Maret 2024, dana yang terkumpul di Rekening Aceh Peduli Palestina mencapai Rp 242.793.000. Dari saldo tersebut, ditransfer tahap II sebesar Rp 242 juta ke Rekening 7001352061 atas nama Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia di Bank Bank Syariah Indonesia (BSI) guna diteruskan kepada korban konflik di Gaza melalui relawan MER-C di sana. “Dengan transfer tahap II itu, hingga posisi Senin, 4 Maret 2024 saldo di rekening Aceh Peduli Palestina sebesar Rp 793.000. Rekening Aceh Peduli Palestina masih tetap aktif untuk penggalangan donasi,” kata Nasir Nurdin didampingi Ketua IJTI Aceh, Munir Nur dan Koordinator MER-C Indonesia Wilayah Aceh, Ira Hidayati di Kantor Bank Aceh Cabang Balai Kota Banda Aceh, Senin siang, 4 Maret 2024. Bantuan darurat Koordinator MER-C Indonesia Wilayah Aceh, Ira Hidayati mengatakan, bantuan yang digalang MER-C Indonesia—termasuk dari masyarakat Aceh—dipergunakan untuk penanganan kondisi darurat (emergency) di berbagai wilayah Gaza. Berikut data penyaluran bantuan tahap emergency periode 7 Oktober 2023 hingga Februari 2024. Bantuan disalurkan secara langsung oleh relawan MER-C di Jalur Gaza, Palestina. Oktober 2023 Obat-obatan, alat operasi, bahan medis; Baju/atribut dokter & paramedic; 1.000 makanan siap saji di RSI; Peralatan untuk support RSI (seperti mesin cuci dll); Bahan makanan, kurma, snack, minuman, buah dll untuk 800-1.000 orang (dokter, pekerja medis & pasien) serta warga korban agresi; 100 paket sembako di Gaza Selatan. November 2023 Obat-obatan untuk RSI Gaza Utara; 3.152 liter minyak goreng untuk bahan bakar genset RS Indonesia di Gaza Utara; Makanan dan air minum; Pampers dan lainnya untuk RSI; 1.000 makanan siap saji di Gaza Selatan; 1.200 makanan siap saji di pengungsian Gaza Selatan. Desember 2023 Bantuan Kemanusiaan di Gaza Selatan: Makanan siap saji setiap hari untuk 1.200 pengungsi; Bahan makanan untuk pengungsian, kurma, dsb; Perlengkapan musim dingin untuk anak-anak di pengungsian Gaza Selatan; Enam WC darurat dan air bersih untuk pengungsian Fukhori, Gaza Selatan; 1.500 karung tepung @50 kg. Januari 2024 Makanan siap saji setiap hari untuk 1.200 warga Gaza Selatan, bahkan pernah mencapai 5.800 warga/hari; Makanan siap saji setiap hari untuk 400 – 500 warga Gaza Utara; Air minum 2.000 ltr/hari untuk pengungsian Gaza Selatan; Paket sayur mayur untuk Gaza Selatan; Pampers bayi, pampers pasien luka; Buku dan alat tulis untuk anak-anak. Februari 2024 Makanan siap saji setiap hari untuk 1.200 – 1.600 warga Gaza Selatan; Makanan siap saji setiap hari untuk 400 – 500 warga di sekitar RS Indonesia Gaza Utara; Paket sayur mayur untuk warga di Gaza Tengah; Bantuan minyak goreng untuk pengungsi; Snack dan biscuit untuk anak-anak. Februari 2024 Bantuan kemanusiaan yang dibeli dari luar Gaza (dari Mesir), dalam perjalanan menuju Gaza: Dua truk container sembako; Dua truk container tepung terigu; Dua truk container air minum; Obat-obatan dan bahan medis untuk dua rumah sakit di Gaza Selatan. []
Warga Palestina Desak Pembukaan kembali Layanan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara

Warga Palestina di Gaza Utara hari Sabtu (24/2) melakukan protes untuk mendesak dibukanya kembali layanan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang terpaksa ditutup sejak akhir November karena kerusakan parah setelah serangan Israel.Warga Palestina di Gaza Utara hari Sabtu (24/2) melakukan protes untuk mendesak dibukanya kembali layanan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang terpaksa ditutup sejak akhir November karena kerusakan parah setelah serangan Israel. Puluhan pengunjuk rasa memasang poster di depan Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya, Gaza Utara, meminta dibukanya kembali layanan rumah sakit atau disediakannya rumah sakit lapangan. Anak-anak yang ikut dalam protes tersebut memukul alat-alat makan untuk menunjukkan bahwa mereka kekurangan makanan. “Kami ingin menunjukkan kepada dunia kerusakan Rumah Sakit Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Pendudukan Israel lebih dari tiga bulan lalu. Mereka menghancurkan rumah sakit saat setengah juta orang dirawat di dalamnya,” kata Jamil Ashour, salah satu Warga Gaza yang ikut melakukan protes. Menanggapi hal tersebut, Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad mengatakan, Warga Palestina di Gaza Utara sedang menyampaikan aspirasi mereka, keinginan yang sangat dalam agar Rumah Sakit Indonesia dapat difungsikan kembali. “Mereka tidak tahu mau minta ke siapa agar rumah sakit ini bisa difungsikan. Mau minta sama pemerintah di sana pemerintahnya sudah tidak berfungsi, kemudian kepada WHO mereka tidak bisa berbuat banyak. Menurut saya tuntutan mereka ini adalah sebuah aspirasi keinginan yang sangat dalam dari mereka agar Rumah Sakit kebanggaan bersama ini bisa difungsikan kembali,” ujarnya. Sarbini mengatakan, aksi protes ini juga merupakan isyarat rasa frustasi Warga Gaza Utara atas peristiwa yang terjadi kepada mereka sampai dengan hari ini. Warga Gaza Utara telah terisolir dari dunia selama kurang lebih empat bulan. Meski bantuan masuk ke Jalur Gaza, tapi tidak sampai ke wilayah mereka. “Demonstrasi kemarin merupakan puncak frustasi mereka untuk menyuarakan penderitaan mereka yang menurut saya hari ini dunia melupakannya. Mereka berinisiatif melakukan demonstrasi di depan Rumah Sakit Indonesia, karena merupakan simbol bantuan masyarakat internasional khususnya Indonesia, agar suara mereka benar-benar di dengar dan dunia dapat mengambil langkah-langkah tegas untuk menyelesaikan penderitaan panjang yang begitu menyedihkan,” kata Sarbini. “Saat ini Rumah Sakit Indonesia sudah lumpuh total, saya begitu terharu dan sedih melihat Rumah Sakit Indonesia tidak bisa berfungsi, kita tidak bisa memberikan apa-apa kepada penderitaan Gaza hari ini,” ucapnya. Terkait pembukaan kembali Rumah Sakit Indonesia, Sarbini mengungkapkan MER-C sudah membuka donasi dan berkomitmen untuk membangun kembali Rumah Sakit tersebut. Ia mengatakan, pembangunan kembali Rumah Sakit akan membutuhkan dana yang cukup besar, karena tidak hanya bangunannya yang mengalami kerusakan parah, alat-alat kesehatan yang ada juga telah dihancurkan oleh tentara israel
Truk-Truk Bantuan MER-C Berhasil Memasuki Gaza di Tengah Pembatasan Ketat Israel

Di tengah ribuan truk yang masih tertahan dan mengantri di perbatasan Rafah untuk bisa masuk ke Jalur Gaza, sebagian truk-truk bantuan dari rakyat Indonesia melalui MER-C berisi tepung terigu dan paket bahan makanan sudah berhasil masuk. Hal ini dilaporkan oleh dua relawan MER-C yang masih berada di Jalur Gaza, Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan. Mereka bersama tim mitra lokal dari Medics World Wide ikut menerima dan mendistribusikan secara langsung bantuan-bantuan tersebut kepada para warga korban agresi Israel. Sejak agresi dimulai, MER-C terhitung telah menyalurkan tiga tahap khusus bantuan yang dikirimkan dari Mesir. “Bantuan MER-C dari Mesir sudah bisa masuk Jalur Gaza. Sampai hari ini pertanggal Senin 26 Februari 2024 sudah ada tiga tahap bantuan yang masuk,” kata Fikri. Distribusi bantuan tidak hanya di Gaza Selatan namun juga hingga ke Gaza Tengah. Selanjutnya, MER-C berharap truk-truk bantuan lainnya berupa paket bahan makanan, air minum dan khususnya obat-obatan serta alat kesehatan juga bisa segera masuk ke Jalur Gaza. Bantuan MER-C yang tiba pertama di Jalur Gaza adalah tepung terigu berjumlah 1.500 karung atau satu kontainer penuh yang sudah dibagikan ke titik-titik pengungsian baik di Gaza bagian tengah maupun Gaza bagian Selatan. Untuk pembagian bantuan awal 1.500 karung masuk ke Gaza sekitar bulan Desember 2023. Dalam kesempatan distribusi tepung terigu, relawan MER-C di Gaza belum bisa ikut membagikan secara langsung karena saat itu situasi belum memungkinkan. “Saat itu Tim MER-C cabang Gaza ikut serta dalam pembagian tersebut, namun kita tidak bisa melanjutkan dan diteruskan oleh lembaga mitra lokal untuk membagikan bantuan MER-C yang tersisa karena serangan Israel masih mencekam,” ujar Fikri. Kemudian bantuan tahap dua berupa paket bahan makanan baru memasuki Gaza pada 23 Februari 2024. Proses pembagian bantuan kali ini dapat langsung dipantau Relawan MER-C di Gaza. Mereka juga ikut serta dalam pembagiannya ke Kota Deir Balah, Gaza bagian Tengah, hari Sabtu, 24 Februari 2024. Tahap ketiga, MER-C kembali mengirimkan tepung terigu dari Mesir yang berhasil tiba di Gaza pada Minggu, 25 Februari 2024. Pembagiannya kepada para pengungsi juga dilakukan langsung oleh relawan MER-C, hari Senin, 26 Februari 2024.*Sulitnya Bantuan Menembus Perbatasan Rafah* “Tentunya bantuan yang kita belanjakan ke Mesir dan kirim ke Gaza membutuhkan waktu yang cukup lama dan proses yang sangat sulit. Kita sempat berbincang dengan Tim Medics World Wide selaku lembaga yang punya akses memasukkan bantuan ke Gaza. Mereka mengatakan truk-truknya mengalami banyak kendala untuk memasuki Gaza,” tutur Fikri. Pertama adalah antrean yang cukup panjang dan proses perizinan yang membutuhkan paling sebentar adalah dua pekan dan paling lama berbulan-bulan. Kedua truk-truk bantuan yang sudah mendapat izin dari gerbang Rafah, perbatasan Mesir dan Gaza, tidak langsung bisa masuk ke Jalur Gaza tetapi harus dialihkan ke perbatasan Karim Abu Salim, perbatasan Israel dan Mesir, di sana semua barang dibongkar dan diperiksa oleh mereka. Jika memenuhi syarat baru proses selanjutnya bisa dijalankan, yaitu masuk ke Jalur Gaza dan diturunkan di gudang-gudang yang sudah tersedia. Sepanjang proses ini banyak barang-barang bantuan yang dikirimkan tidak bisa masuk, karena tidak memenuhi syarat Pemerintah Israel bahkan barang-barang bantuan banyak yang rusak akibat pemeriksaan tersebut. *Distribusi Bantuan Sulit karena Situasi yang Masih Mencekam* Fikri mengungkapkan, kendala lapangan dalam mendistribusikan bantuan juga sangat banyak. Salah satunya kondisi mencekam karena serangan Israel yang masih berlangsung, terlebih lagi mereka manargetkan fasilitas umum seperti rumah sakit, kantor-kantor media, tenda-tenda pengungsian, bahkan truk-truk batuan yang masuk ke Jalur Gaza juga sering kali menjadi target Israel. Kesulitan lainnya adalah masih banyak warga Gaza yang belum mendapatkan bantuan karena ada lebih dari 1.9 juta warga mengungsi di berbagai tempat yang ada di Jalur Gaza dan mereka meninggalkan rumah karena kondisi yang cukup buruk. “Masyarakat Gaza sangat berharap genjatan senjata permanen agar mereka bisa pulang ke rumah masing-masing walaupun sebagian rumah mereka sudah banyak yang hancur dan rata dengan tanah oleh Zionis Israel,” kata Fikri. Lebih lanjut Fikri menuturkan, saat ini warga Gaza membutuhkan tenda-tenda untuk tempat tinggal dan pakaian hangat karena di Jalur Gaza sudah memasuki musim dingin. Mereka tidak sempat menyelamatkan berang-barang. Tentara Israel juga sering kali memerintahkan mereka tidak membawa apapun saat proses evakuasi. “Semoga peperangan ini selesai dan masyarakat Gaza bisa Kembali membangun kehidupan mereka yang baru,” ucapnya.***
MER-C Kirim Tim ke Mesir untuk Pantau Langsung Proses Pengiriman Bantuan Rakyat Indonesia untuk Gaza

Emergency Rescue Committee (MER-C) mengirimkan tim sebanyak tiga orang ke Mesir untuk memantau langsung progres pengiriman bantuan ke Gaza, Palestina. Tim mengunjungi gudang mitra lokal MER-C di Mesir untuk melihat proses pengadaan dan pengiriman bantuan makanan, air minum, tepung dan obat-obatan dari rakyat Indonesia untuk warga Gaza. “Saat ini kami berada di gudang yang berada di Kairo, di mana ini adalah tempat dari Medics World Wide untuk mengumpulkan dan packing obat-obatan, alat kesehatan serta bantuan kemanusiaan lainya yang dikirimkan menuju Jalur Gaza,” ujar ketua Tim dr. Arief Rachman, SpRad. Ia mengatakan bantuan obat-obatan akan terus bertambah setelah sebelumnya paket makanan sudah dikirimkan dan berhasil masuk ke Jalur Gaza. “Dari sinilah maka ini semua akan dimasukkan ke dalam truk untuk kemudian berangkat menuju ke Jalur Gaza. Jadi kita bisa lihat situasi bagaimana penuhnya barang-barang yang untuk kemudian diberangkatkan ke sana,” kata dr. Arief. “Kami berterima kasih terhadap bantuan yang sudah diberikan oleh saudara-saudara semuanya untuk membantu saudara saudara kita yang mengalami penderitaan di Jalur Gaza,” tuturnya.