MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Klarifikasi MER-C Terkait Pencantuman Nama MER-C & Logo Lembaga dI Pamflet Penggalangan Dana Palestina

1. Kami mengapresiasi kepedulian, dukungan dan bantuan masyarakat Indonesia termasuk dalam bentuk penggalangan donasi untuk membantu rakyat Palestina yang sedang mengalami agresi Israel; 2. Terkait sebaran pamflet penggalangan donasi untuk Palestina mengatasnamakan organisasi tertentu yang mencantumkan logo dan rekening MER-C, kami menyatakan bahwa ini adalah inisiatif murni dari pihak penyelanggara dan bukan dalam rangka kerjasama dengan MER-C; 3. Kepada masyarakat Indonesia yang peduli dan akan melakukan kerjasama penggalangan dana untuk Palestina dengan MER-C, pencantuman logo dan nama MER-C harap menghubungi Call Center MER-C 0811990176 untuk penjelasan prosedur dan pembuatan MOU kerjasama. Hal ini kami lakukan demi penyaluran amanah yang optimal. 4. Semoga semua niat baik dan upaya yang kita (rakyat Indonesia) lakukan untuk membantu Perjuangan dan Kemerdekaan Palestina dimudahkan dan diberkahi oleh ALLAH SWT. Jakarta, 16 Mei 2021 Wassalam,MER-C Indonesia

MER-C Menerima Kunjungan dari Peserta “Indonesia International Leadership Camp”

Senin/12 Desember 2016, kantor Pusat MER-C yang terletak di bilangan Senen, Jakarta Pusat menerima kunjungan dari peserta Indonesia International Leadership Camp (IILC). Indonesia International Leadership Camp (IILC) 2016 adalah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Al Azhar Youth Leader Institute (AYLI). Tahun ini adalah IILC ke-5 dengan tema Building Global Leadership Through Youth Empowerment. Salah satu kegiatan peserta adalah diperkenalkan dengan Organisasi Indonesia secara holistik. MER-C menjadi salah satu tempat bagi peserta untuk mempelajari organisasi di Indonesia.   Bertempat di Aula MER-C Training Center, sebanyak 21 peserta dari 7 negara, yaitu Afrika Selatan, Srilanka, Filipina, Thailand, Australia, Mesir, dan Indonesia mendengarkan pemaparan mengenai MER-C dan kerelawanan dari dr. Arief Rachman (Presidium MER-C). Beberapa relawan MER-C yang pernah melakukan tugas-tugas kemanusiaan ke berbagai wilayah juga turut membagikan pengalamannya dan memberikan motivasi kepada para peserta untuk dapat berbuat sesuatu bagi lingkungan mereka.

MER-C Beraudiensi dengan Duta Besar Afghanistan Bahas Rencana IHC

Jakarta – Rabu/15 Juni 2016, untuk menindaklanjuti rencana pembangunan sarana kesehatan (Indonesia Health Center/IHC) di wilayah perang Afghanistan, MER-C Indonesia kembali melakukan kunjungan ke Kedutaan Besar Afghanistan di Jakarta. Kunjungan ini diterima oleh Duta Besar Afghanistan yang baru, H.E. Ms. Roya Rahmani.   Pada kesempatan tersebut, Presidium MER-C, Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT memperkenalkan mengenai MER-C sebagai LSM medis yang sudah dua kali berpengalaman menunaikan misi kemanusiaan ke Afghanistan, yaitu pada Oktober 2001 dan Mei 2002. Saat itu, Amerika Serikat dan sekutunya tengah melancarkan serangan udara ke negara ini dengan dalih untuk menghancurkan kamp-kamp pelatihan teroris Al Qaeda dan instalasi militer rezim Taliban di Afghanistan. Seketika berita penyerangan itu muncul di berbagai media, MER-C pun segera menyiapkan Tim Bedahnya untuk berangkat ke Afghanistan untuk memberikan pertolongan kepada para korban perang. Kini belasan tahun berlalu, Pemerintah Palestina melalui International Health Advisor – Ministry of Public Health of Afghanistan menyampaikan kondisi terkini di Afghanistan serta kebutuhan akan sarana kesehatan yang masih minim di sejumlah wilayah yang sempat porak-poranda akibat perang berkepanjangan.   “Suatu saat kami akan datang kembali ke Afghanistan,” tegas Joserizal. “Kami berniat untuk berbuat sesuatu. Pembangunan sarana kesehatan akan menjadi program jangka panjang MER-C untuk Afghanistan,” lanjutnya.   Namun Presidium MER-C juga menjelaskan kepada Duta Besar Afghanistan bahwa pelaksanaan program memerlukan waktu dan kesabaran karena dana MER-C bagi program ini seperti halnya RS Indonesia di Gaza, akan murni berasal dari sumbangan masyarakat Indonesia yang sebagian besar menengah ke bawah.  

Waspada SMS Donasi Mengatasnamakan MER-C

Dalam beberapa waktu terakhir MER-C mendapati banyak pertanyaan dari masyarakat, di antaranya mengenai kebenaran dari rekening donasi sebagaimana tercantum di bawah ini: “Kami dr tim relawan MER-C Indonesia, meminta bantuan untuk saudara2 kita di palestina melalui “DOMPET PEDULI GAZA’ Rek BANK BRI : 0791-01-007355-530, a.n. H.YUSUP” Dengan ini MER-C menegaskan bahwa seluruh rekening amanah MER-C selalu dibuat dengan atas Nama Medical Emergency Rescue Committee, tidak pernah menggunakan atas nama pribadi, maka sebaran pesan seperti di atas atau yang serupa dengannya baik melalui sms maupun media sosial adalah penipuan dan tidak pernah disebarkan oleh MER-C.   Untuk itu kami meminta masyarakat berhati-hati terhadap upaya pengumpulan donasi untuk kepentingan pribadi. Untuk informasi silahkan menghubungi kami di nomor kantor 021-3159235, nomor HP 0811990176, website : www.mer-c.org, twitter : @RSIndonesia, FB : RSIndonesia, instagram : @rsindonesia.   Terima kasih.                

MER-C Adakan Pengobatan Masal Di Pondok Pesantren Al Fattah Cileungsi

Jakarta – Pada tanggal 18 Mei 2014 MER-C mengadakan pengobatan masal di pondok pesantren Al Fattah,  Cileungsi. Tim medis MER-C yang terdiri dari 7 dokter, 2 dokter gigi, 4 perawat dan 3 bidan ini melayani tidak kurang dari 200 pasien, dengan mayoritas keluhan berupa gangguan lambung, gangguan pencernaan, gangguan kulit, dan karang gigi. Menurut ketua divisi relawan Dr Tonggo Meaty Fransisca, follow-up inshallah akan dilakukan dalam kurun waktu dua bulan mendatang, dengan harapan pasien yang ditangani hari ini telah meningkat kesehatannya. Abah Tatang, pimpinan pondok pesantren AL Fattah Cileungsi menyambut baik acara ini, dan berharap bahwa acara ini dapat dilakukan secara rutin, dan mengundang warga lebih banyak lagi                

MER-C gelar Media Gathering di Waroeng Solo Kemang

Jakarta, 17/3, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menggelar Media Gathering di Waroeng Solo, Kemang, Jakarta Selatan. Acara ini dipandu oleh moderator Zulfatan Faizin dari Metro TV serta menghadirkan Dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C serta Dr. Joserizal Jurnalis SpOT, Presidium MER-C.   Acara dimulai dengan makan siang bersama, lalu menampilan video profil MER-C yang dibuat oleh Jurnalis Kompas TV, Silvano Hajid. Tayangan video menyorot mengenai berbagai aktivitas kemanusiaan yang digalang oleh MER-C sejak tahun 2004 hingga 2014, di dalam dan di luar negeri seperti aksi untuk Tsunami di Aceh, Rohingya di Myanmar, badai topan Haiyan, di Filipina, Somalia dan aksi perdamaian dengan kapal Mavi Marmara yang diserang oleh tentara Israel, bencana alam di Merapi, Yogyakarta, Sinabung, Medan dan Kelud, Jawa Timur.  Selain itu, MER-C juga sudah membangun 28 klinik yang tersebar dari Aceh hingga Papua, 3 buah rumah sakit di dalam dan luar negeri, seperti RS Galela di Halmahera Utara dan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Dr Henry memberi sambutan dan menuturkan sejarah MER-C yang tanpa sokongan dana dan sumber daya manusia yang besar namun berkat bantuan Allah SWT berhasil mengumpulkan dan membentuk tim medis serta donasi dari masyarakat. Ia juga menjelaskan bahwa seluruh relawan MER-C merupakan unpaid volunteers dan sama-sama memiliki tujuan bahwa aksi kemanusiaan ini merupakan ladang amal mereka. Sementara itu, Ir. Faried Thalib yang merupakan Presidium MER-C dan Ketua tim Konstruksi RS Indonesia di Gaza, Palestina memberikan laporan mengenai pembangunan RS Indonesia yang 100 persen secara fisik telah selesai. Ir. Faried yang merupakan salah satu Presidium MER-C dan baru saja pulang dari Gaza untuk melakukan equipment assessment untuk RS Indonesia mengatakan bahwa 95 persen bahan bangunan yang dibutuhkan untuk pembangunan RS Indonesia berasal dari Jerman dan Turki, yang masuk dan dijual ke Mesir dan Israel. Setelah kata sambutan dari para Presidium MER-C, diskusi dibuka dengan penuturan dari Subhan, Jurnalis TV One yang baru saja ikut misi medical equipment assessment untuk RS Indonesia di Gaza. Subhan menjelaskan kesulitan untuk masuk ke Gaza dari Rafah, Mesir dikarenakan perubahan jadwal pembukaan gerbang menuju Palestina yang hanya dibuka sekali dalam dua minggu selama tiga hari. Subhan juga menyatakan kekagumannya akan RS Indonesia yang telah dibangun oleh para relawan MER-C sebagai Rumah Sakit yang luar biasa besar dan bagus. Presidium MER-C Dr Sarbini menjawab pertanyaan dari moderator mengenai alas an MER-C juga melakukan aksi kemanusiaan di luar negeri, tak lain dan tak bukan adalah ingin membantu sesama manusia yang sangat membutuhkan bantuan, tanpa memandang suku bangsa, ras, dan agama. Seperti yang telah dikemukakan DR Joserizal, bahwa MER-C yang merupakan LSM yang merdeka, tidak tergantung pada suatu partai politik atau di bawah Negara, berusaha bersikap netral dalam memberikan bantuan kemanusiaan serta menjadi penyampai pesan-pesan politik kemanusiaan. Karenanya sangat diharapkan MER-C menjadi problem solver dari sebuah permasalahan. Acara ditutup dengan memberikan kenang-kenangan kepada jurnalis Kompas TV Silvano Hajid yang telah membuat video profil MER-C serta foto bersama dengan para Presidium dan relawan MER-C.        

Salma Arsitek Cilik Bandung Peduli Palestina

Bandung – Semilir angin sore Kota Kembang menghembuskan hawa sejuk yang membuai, membawa kedamaian dan ketenangan. Nampak di sebuah rumah, seorang anak perempuan berpakaian serba putih dengan jilbab yang juga putih sedang asyik melukiskan beberapa sketsa kehidupan.  Ketika ditengok lebih dekat, ternyata anak perempuan itu sedang menggambarkan sebuah sketsa bangunan berbentuk segi delapan dengan serius. Saya langsung sadar, itu bukan sembarang bangunan, itu bukan sembarang gambar, itu bangunan bersejarah yang bahkan sejak belum dibangun, bangunan tersebut sudah membuat sejarah. Ya, bangunan segi delapan itu adalah bangunan Rumah Sakit Indonesia yang berada di wilayah perang Gaza, Palestina. Saat ini MER-C sedang mengkampanyekan gerakan 50 ribu rupiah untuk membantu pengadaan alat kesehatan di RS Indonesia yang sudah selesai dibangun. Pada Jumat (7/3), Miraj Islamic News Agency (MINA) bersama MER-C berkesempatan bersilaturahim ke rumah orang tua Salma di kawasan Arcamanik, Bandung. Nampak sekali rumah itu penuh dengan karya-karya jenius Salma yang dipajang maupun dibundel. Ketika saya mencoba berkenalan, anak itu menjawab dengan tersipu malu khas gaya anak perempuan seusianya. “Namanya siapa neng?” sapaku. “Salma…,” jawabnya dengan malu-malu. Siti Salma Khairannisa Soemadiredja yang lebih akrab dipanggil Salma, saat ini duduk di kelas V SD Muhammadiyyah 7 Bandung. Putri dari Bapak RM Zainal Hasan Soemadiredja dan Ibu Anarita Devi ini lahir di Bandung, 26 Juli 2003. Sejak kecil Salma memang senang bereksplorasi terutama menggambar. Awalnya dari gambar orang lalu kemudian arsitek. Tingkahnya memang tidak jauh berbeda dengan anak seusianya yang masih gemar bermain, tapi ada suatu yang istimewa dari Salma, dia sudah tergerak untuk membantu anak-anak Palestina dengan jerih payahnya sendiri. Sejak tahun 2007 sampai 2013, Salma sudah menghasilkan lebih dari 2000 gambar dengan berbagai tema. Lomba yang pernah diikuti diantaranya Lomba Gambar di Museum Geologi Bandung. Gambar-gambar Salma juga pernah dipamerkan di pentas Reuni Arsitektur Universitas Parahyangan angkatan 87 di Bandung, 2012. Mewarisi keahlian arsitek dari orang tuanya, karya-karya Salma mampu mengundang decak kagum arsitek yang saat ini menjabat sebagai Walikota Bandung, M. Ridwan Kamil. Salma dan Om Emil (sapaan akrab Ridwan Kamil), berkolaborasi mendesain sebuah rumah tinggal yang saat ini digunakan oleh penduduk Cibodas Lembang, Bandung. Salma berharap bisa bertemu lagi dengan Om Emil untuk kembali berkolaborasi mendesain. Sikap solidaritas tinggi Salma terlihat ketika memberikan karya gambar untuk pasien kanker dalam rangka Hari Kanker Anak Internasional pada 2013 yang dibuka oleh Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar. Dan sekarang, Salma pun kembali terlibat dalam aksi solidaritas tinggi membantu rakyat Palestina yang terjajah dengan mendukung program pembangunan RS Indonesia di Gaza. Ada sebuah cerita menarik dari Salma ketika dia melihat foto-foto anak Palestina korban agresi militer Israel yang ada di ponsel pintar ibunya, Salma pun menangis. Mata kecil polos itu meneteskan butiran air mata yang mengundang tanya buat sang ibu, Anarita Devi. “Kenapa Salma?” tanya sang ibu. “Salma sedih bu,,,” ucap mulut mungil Salma menjawab pertanyaan sang ibu. Akhirnya Anarita pun berinisiatif menghubungi pihak Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) untuk menyumbangkan karya sketsa Salma kepada MER-C dan Salma pun mengaku senang bisa membantu menguruangi kesedihan rakyat Palestina melalui MER-C. Salma mengaku senang bisa berbuat yang bermanfaat bagi saudara-saudaranya di Palestina. (L/P01/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/artikel/feature/16015-salma-arsitek-cilik-asal-bandung-peduli-palestina.html                          

MER-C Jalankan Misi Kemanusiaan Dengan Prinsip ‘Rahmatan Lil Alamin’

Jakarta, 25 Rabi’ul Awwal 1435/27Januari 2014 (MINA) – Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C), Dr. Henry Hidayatullah, menyatakan Ahad malam di kantor pusatnya, Jakarta, bahwa MER-C memegang prinsip Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) dengan cara bersikap dan berposisi netral di setiap daerah bencana. Dan itu disebut sebagai cara MER-C berdakwah.  Berikut ini adalah petikan wawancara ekslusif reporter MINA Rudi Hendrik dengan Dr. Henry: MINA: Sebagai lembaga kemanusiaan dalam bidang medis, apakah MER-C bisa masuk ke semua wilayah bencana dan semua kalangan? Dr. Henry: Kita usahakan untuk bisa masuk ke semua daerah bencana. Dalam konteks pertolongan, kita sebisa mungkin menempatkan diri dalam posisi yang netral. Bencana itu ada dua: bencana alam dan bencana konflik atau perang. Kita harus netral, karena kita menolong. Jika kita sudah memihak, berarti tidak netral lagi, tentunya akan terbedakan. Sementara, kita tahu bahwa nilai-nilai ke-Islaman adalah nilai-nilai yang universal, bisa semuanya. Inilah yang kita angkat dari apa yang Rasul ajarkan, sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam), kita adopsi nilai-nilai itu dalam konteks menolong korban bencana. MINA: MER-C cenderung religius, apa pertimbangan MER-C hingga mengirim tim ke Filipina untuk korban Topan Haiyan (Yolanda), padahal mereka negeri yang mayoritas penduduknya beragama Katolik? Dr. Henry: Orang mendapat hidayah tidak selalu dalam konteks yang sakral atau nilai-nilai religi yang pakem seperti dari shalat atau puasa saja. Tapi bisa juga dari nilai-nilai kemanusiaan yang lain, nilai-nilai keadilan, nilai-nilai kejujuran, dari nilai-nilai yang memang ada di Islam. Sebenarnya kita juga dai. Dai itu bisa juga mengajak, tapi juga bisa berupa prilaku. Dan kami dalam konteks membantu, seperti itulah yang diajarkan Islam. Pintu hidayah itu banyak, mudah-mudahan dengan membantu, hidayah masuk dari pintu itu. Dalam konteks Filipina yang negerinya notabene mayoritas non-Muslim, mereka welcome dengan kita. Mereka ada menujukkan rasa terima kasih yang sangat besar kepada kita. Tapi kita tidak mengharapkan terima kasihnya, melainkan agar  jalinan kemanusiaan dan nilai-nilai Islam bisa tersampaikan. Kita Islam, tapi dengan cara seperti itu kita bisa menghilangkan stigma bahwa Islam itu teroris. Dengan itu sangat bisa. Ketika stigma itu gembar-gembor di media, mereka pastinya juga menerima stigma bahwa Islam teroris. Mudah-mudahan dengan hadirnya kita kemarin, bisa mengubah gambaran itu. MINA: Pernah memberi sumbangsih saat konflik Ambon. Bagaimana tim menempatkan diri dalam wilayah konflik dua keyakinan yang siap saling bunuh atas dasar  agama? Dr. Henry: Atas dasar-dasar itulah, kita harus menunjukkan. Identitas kemusliman harus muncul dengan nilai-nilainya universal, itu yang harus tampil. Pada konteks di Ambon, kebetulan kita Muslim, sedangkan konfliknya Muslim dan non-Muslim, maka yang paling aman pada saat itu, kita ditempatkan di masjid. Kebetulan, korban yang banyak terlantar, adalah Muslim. Nasrani di Ambom punya rumah sakit sendiri. Di Tual, Maluku Tenggara, mereka punya rumah sakit sendiri. Dan Muslim tidak punya. Sisi-sisi ini seharusnya menjadi tanggungjawab Muslim bersama, kenapa bisa terjadi ketimpangan seperti ini. Ketika kita ke tempat pengungsi, ada yang terkena panah dan lainnya,  sehingga harus dioperasi. Karena dia mengungsinya di masjid, itu tidak tertangani. Di lain pihak, kita mengunjungi rumah sakit Langgur milik Nasrani. Korban-korban mereka secara medis sudah tertangani. Sekali lagi, kita memposisikan diri kita netral, sebagai seorang dokter dan sebagai seorang Muslim. Lalu kami tanya kepada pihak rumah sakit Nasrani: Adakah korban yang perlu dioperasi dan bisa kami operasi? Akhirnya ada satu. Walaupun di awal, mereka sempat menyatakan: Mohon maaf, kami tidak menerima pasien Muslim. Mereka menyangka kami ingin menolong orang Muslim yang kemudian dilakukan penanganan di rumah sakit itu. Saya tahu alasannya kenapa, karena alasan keamanan. Yang pasien Muslim ke mana? Awalnya di pengungsian, kemudian kami mengoperasinya di rumah sakit umum yang notabene kosong, karena tenaga-tenaga medisnya  juga mengungsi. Bisa saja pasien Muslim ditangani di sana (rumah sakit Nasrani), tapi bisa saja karena mereka emosi atau lainnya, sehingga tidak bisa membuat mereka tetap netral. MINA: Apakah tim medis Nasrani bersikap netral? Dr. Henry: Nah, itu dia masalahnya. Netral atau tidak netral, ditampakkan dengan statement atau dengan sikap. Kalau dari segi statement, jelas mereka tidak netral, karena mereka katakan “kami tidak terima pasien Muslim”. Itu pun saya coba memahaminya sebagai suatu kewajaran. Pengurus Rumah sakit itu dominan Nasrani. Akan menjadi kerepotan sendiri jika ada pasien Muslim  datang ke sana, bisa jadi bentrok. Sebab kesalahpahaman sangat tinggi. Karena kita pun, ketika menjalankan operasi bagi pasien Nasrani, dijaga oleh aparat. MINA: Kesulitan apa yang dijumpai jika memasuki wilayah konflik dua agama, apa lagi MER-C lebih Islami? Dr. Henry: Pertama, Kesulitan yang jelas adalah kurangnya SDM. Untuk mendapatkan SDM yang mau masuk ke daerah konflik, relatif lebih susah dibandingkan dengan daerah bencana alam. Kedua, memilih relawan pun harus yang trusted (yang terpecaya), artinya tidak akan membuat yang macam-macam di daerah yang penuh kecurigaan  tinggi. Kita memang harus membawa relawan yang paham dengan situasi itu dan benar-benar kita percaya. Ketiga, transportasi. Tidak semua transportasi bisa menjangkau daerah tersebut. MINA: Sejauh mana kepercayaan kalangan Nasrani terhadap tim? Dr. Henry: Kita bicara apa adanya, bahwa kita punya niatan untuk menolong. Bentuk kepercayaannya adalah ketika ada pasien yang di rumah sakit Langgur, memberikan kepercayaannya dengan pasien yang bisa kita operasi di rumah sakit umum, itu pun dengan resiko yang tinggi. Mungkin saja seandainya ada yang menyebarkan isu, itu sangat bahaya. Makanya, ketika kita melakukan operasi, dijaga oleh aparat TNI AD. Jadi ada beberapa yang bisa kita bantu dalam hal humanity (kemanusiaan), dalam konteks rahmatan lil ‘alamin, tapi juga harus dengan strategi. MINA: Untuk Banjir Manado, apakah ada cerita bernuansa SARA ditemukan? Dr. Henry: Sejauh ini tidak, saya belum menerima laporan lengkapnya. Kita di sana juga membuat pos di gereja, di masjid, karena kita mobile (bergerak terus dari satu tempat ke tempat lainnya). MINA: Apakah ada pemisahan penanganan pasien Muslim dengan non-Muslim di daerah dua agama? Dr. Henry: Itu situasional. Yang pernah saya lakukan di Tual Ambon, operasi di rumah sakit umum, setelah pasien Nasrani dioperasi, dikembalikan lagi ke rumah sakit Langgur milik Nasrani. Ini dilakukan dalam rangka keamanan. Jika tidak, justeru akan merepotkan dan membahayakan semuanya. Hal seperti itu juga pernah dilakukan oleh teman-teman di Ternate, menangani pasien Nasrani. Hanya mekanisme detailnya saya tidak tahu. MINA: MER-C sudah pernah memasuki perang Irak, bencana di

MER-C Gelar pengobatan di Petamburan

Jakarta – Setelah hari senin (20/1) tim medis MER-C  turun di wilayah Kebon Baru Jakarta selatan , hari kamis (23/1) tim MER-C kembali turun di wilayah petamburan Jakarta pusat. Tim yang terdiri dari 3 dokter, 2 perawat dan 1 pengemudi turun di wilayah ini.   Dengan menggunakan armada ambulan tim MER-C melakukan pengobatan di Petamburan dan tercatat jumlah pasien sebanyak 105 warga. MER-C melakukan pengobatan untuk masyarakat petamburan dengan menggunakan posko sebuah klinik kecil. Berdasarkan hasil pemeriksaan tim MER-C penyakit yang paling banyak diderita para korban adalah ISPA, penyakit kulit, myalgia, diare dan dyspepsia.        

Silahkan bertanya?