MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C LAKUKAN KHITANAN MASSAL DAN PENGOBATAN UMUM DI SALAWATI TENGAH

Sorong – Papua Barat. Medical Emergency Rescue Committee atau MER-C menerjunkan 7 dokter, 3 perawat dan 1 orang logistik dalam khitanan massal dan pengobatan umum bagi warga di Distrik Salawati Tengah sejak Rabu hingga Sabtu minggu ini. Kegiatan tersebut merupakan agenda bersama yang dirancang oleh Asia Moslem Charity Foundation (AMCF) dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Sorong bertajuk “Kapal Kemanusiaan”. “Hari Rabu kemarin MER-C mengadakan khitanan bagi total 95 anak. Sedangkan Kamis dan Jumat peserta pengobatan setidaknya ada 120-an pasien. Ini terpaksa distop dulu karena hujan dan dilanjut setelah warga selesai sholat jumat,” demikian penjelasan Islamiyah Samaun yang merupakan staf logistik dalam kegiatan ini di Kalobo. dr. Zackya Yahya, Sp.Ok selaku perwakilan MER-C untuk Papua merasa gembira dengan adanya program Kapal Kemanusiaan ini. “Sudah lebih dari 11 tahun kami hadir di Papua melalui klinik sosial. Relawan medis kami menyusuri pelosok SP untuk memberikan layanan kesehatan berkualitas dan terjangkau. Sekarang dengan adanya kapal ini kami berharap jangkauan kami bisa lebih luas ke pulau-pulau terpencil di Papua Barat.” Demikian jelasnya perihal program Kapal Kemanusiaan. Bagi MER-C, kerja sama dengan AMCF sudah dimulai lama semenjak bencana gempa dan tsunami Aceh pada 2004. Khusus untuk kali ini, AMCF menyediakan kapal dan awaknya, sedangkan pembiayaan kegiatan tim medis didapat dari Badan Amil Zakag Nasional (BAZNAS). Sedikitnya 36 titik akan mendapat layanan kesehatan dari tim medis MER-C dalam kurun 12 bulan ke depan. “Teknisnya kami akan kirim tim pendahulu untuk melakukan survei dan pemetaan masalah kesehatan di lokasi yang akan dimasuki. Lalu akan disusun prioritas kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut. Tim medis sendiri akan bekerja selama maksimal 2 minggu di 3 titik tiap bulannya.” jelas dr. Zackya. “Bukan tidak mungkin ke depan kami akan melibatkan dokter spesialis jika memang dibutuhkan. Pasien-pasien yang membutuhkan tindakan akan didata dan dikumpulkan, lalu dokter spesialis yang sesuai akan bekerja di satu rumah sakit yang sudah memiliki kesepakatan. Atau jika mau, dokter spesialisnya yang ikut keliling naik kapal bersama kami.” Keterbatasan akses kesehatan dan minimnya tenaga serta fasilitas kesehatan masih merupakan masalah tersendiri di kawasan timur Indonesia. Hingga sekarang beberapa program sudah dilakukan untuk menjangkau warga di daerah terpencil, termasuk pulau-pulau terluar untuk mengurangi permasalahan ini. Diharapkan dengan adanya Kapal Kemanusiaan ini, bertambah lagi upaya untuk memberikan hak kesehatan bagi setiap warga negara.

PROGRAM KAPAL KEMANUSIAAN DILUNCURKAN DI SORONG

Sorong – Program kapal kemanusiaan yang diinisiasi oleh Asian Moslem Charity Foundation (AMCF), resmi diluncurkan di Sorong – Papua Barat pada hari Rabu, 24 Mei 2017. Acara seremonial dilakukan di Aula Politeknik Kelautan dan Perikanan, dihadiri oleh pimpinan lembaga yang terlibat serta tamu undangan dari kalangan pejabat sipil dan militer di lingkungan pemerintah kabupaten dan kota Sorong. Dalam peresmian tersebut, Dra. Endang Gunaisah, MSi. selaku Plt Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong menyampaikan selamat atas peresmian program Kapal Kemanusiaan. “Kami sangat berbahagia, karena aula kami yang saat ini menjadi tempat peresmian, justru belum diresmikan oleh pejabat yang berwenang,” ujarnya yang disambut tawa hadirin. Aula yang didominasi warna biru cerah dengan dekorasi langit-langit berupa gambaran awan dan dipenuhi poster kegiatan bawah laut, menciptakan atmosfir laut terbuka yang sangat kental. “Jangan kaget. Dulu kami dikenal sebagai Akademi Perikanan Sorong (APSOR), namun sekarang kami berganti nama menjadi Poltek Perikanan dan Kelautan.” Sementara itu, dalam sambutannya Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Sorong, Drs. Rustamadji, menyampaikan kegembiraannya terhadap peresmian program Kapal Kemanusiaan ini. “Sudah lama kami bermitra dengan AMCF. Dan kami berbahagia bisa meningkatkan kemitraan melalui Kapal Kemanusiaan ini,” katanya. Dari sekian banyak perguruan tinggi dan swasta yang ada di Papua Barat, STKIP yang juga dikenal sebagai Kampus Biru adalah satu-satunya perguruan tinggi yang mendapat peringkat B. “STKIP sebagai sayap pendidikan Munammadiyah selalu berusaha untuk memberikan manfaat bagi sekitar dan terbuka bagi siapa saja. Buktinya, 70% mahasiswa kami berasal dari masyarakat lokal Papua yang beragama Nasrani,” paparnya sambil menunjuk ke belakang dimana barisan mahasiswanya duduk. Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengirimkan ketua presidiumnya dr. Henry Hidayatullah, MSi untuk memberikan sambutan dan mengunjungi lokasi awal kegiatan kesehatan oleh tim medis MER-C. “Kami ingat bahwa di bulan ini 7 tahun yang lalu, kami bergabung bersama NGO lain dari banyak negara dalam kapal kemanusiaan untuk membuka blokade Gaza,” ujarnya merujuk pada peristiwa penyerbuan tentara Israel ke Kapal Mavi Marmara pada 31 Mei 2010 silam. “Dan tentunya, kini kami bergabung dalam program kapal kemanusiaan ini juga untuk membuka blokade akses kesehatan masyarakat Papua di pulau-pulau terpencil.” Menurut dr. Henry setidaknya ada 36 titik yang akan dikunjungi oleh tim medis dengan berbagai program kesehatan sesuai hasil survei oleh tim pendahulu. “Dan kami berterima kasih kepada BAZNAS yang bersedia menyokong pembiayaan program kesehatan di kapal ini.” Sebagai kegiatan awal, aktivitas tim medis akan dipusatkan di Salawati Tengah untuk mengadakan sunatan massal dan pemeriksaan kesehatan. Dalam sambutan peresmian, Ahmad Yaman, Direktur AMCF, menyampaikan bahwa program kapal kemanusiaan ini adalah capaian baru bagi AMCF, karena sebelumnya AMCF tidak memiliki pengalaman bekerja dengan kapal. “Kami menyiapkan 3 kapal kemanusian untuk Sorong, Ternate dan Pontianak agar bisa menjangkau area sekitar menjalankan program dakwah kami. Untuk menambah manfaat, kami bersinergi dengan elemen lain seperti STKIP selaku mitra lokal sekaligus menjalankan program pendidikan, dan MER-C yang sudah dikenal luas dalam memberikan bantuan kesehatan di daerah terpencil.” Ahmad berharap ke depan sinergi ini bisa diperluas untum meningkatkan kemanfaatan program Kapal Kemanusiaan. “Alhamdulillah, meski sempat mengalami hambatan dalam setahun terakhir, Kapal Kemanusiaan ini bisa diresmikan pada hari ini,” pungkasnya. Setelah peresmian, Kapal Kemanusiaan segera bertolak ke Salawati Tengah untuk mengunjungi lokasi pengobatan dimana sehari sebelumnya tim medis MER-C sudah masuk untuk persiapan dan perbekalan medis. Sedikitnya 11 petugas yang terdiri dari dokter, perawat dan logistik akan membantu kegiatan sunatan massal pada hari Rabu dan pengobatan umum pada hari Kamis. Diperkirakan Kapal Kemanusiaan akan bertugas sekitar 2 minggu untuk menyampaikan program bagi masyarakat yang dikunjungi.  

Perluas Jangkauan Pelayanan Kesehatan, MER-C Jalin Kerjasama Program Kapal Kemanusiaan

Jakarta – Dua belas tahun berkiprah di Papua, MER-C terus berupaya untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan melalui sinergi dengan berbagai pihak. Khusus untuk wilayah Papua Barat, MER-C bekerjasama dengan Baznas (Badan Amil Zakat Nasional), AMCF (Asia Muslim Charity Foundation) dan STKIP Muhammadiyah akan mengadakan program kapal kemanusiaan. Program ini akan menjelajah dan menjangkau wilayah-wilayah terpencil serta sulit di akses di provinsi Papua Barat. Koordinator MER-C untuk wilayah Papua, dr. Zackya Yahya Setiawan, SpOk menyatakan bahwa program kerjasama Kapal Kemanusiaan di Papua Barat akan berlangsung selama satu tahun. Bulan suci ramadhan dirasa sebagai waktu yang tepat untuk memulai program ini. Untuk itu launching program rencananya akan diadakan pada hari Rabu/24 Mei 2017 di Sorong, Papua Barat beberapa hari menjelang Ramadhan. Senin malam/22 Mei 2017, MER-C memberangkatkan 8 relawan medis beserta obat-obatan, alat kesehatan dan perlengkapan logistik ke Sorong untuk persiapan launching dan dimulainya program ini. Perwakilan dari semua lembaga yang terlibat dalam kerjasama serta beberapa pejabat daerah, tokoh masyarakat dan organisasi lokal akan hadir pada acara ini. Melalui kerjasama dengan berbagai lembaga, MER-C berharap pelayanan dan bantuan yang diberikan kepada masyarakat di Papua Barat bisa menjadi lebih luas dan komprehensif. Cakupan program Kapal Kemanusiaan Papua Barat akan meliputi pelayanan kesehatan yang akan dicover oleh MER-C dan Baznas. Sementara renovasi rumah warga agar layak huni, pendidikan dan keagamaan khususnya bagi warga muslim dhuafa di provinsi ini akan dicover oleh AMCF selaku pemilik kapal dan STKIP Muhammadiyah. Selama jangka waktu satu tahun ke depan, target wilayah yang akan dijangkau tim kapal kemanusiaan sebanyak 36 kampung/distrik di Papua Barat yang akan dibagi dalam 12 kali trip. Setiap kali trip akan mengunjungi tiga distrik. Distrik pertama yang akan dikunjungi langsung saat peresmian, yaitu distrik Salawati Tengah. Dr. Zackya Yahya Setiawan,SpOk menambahkan bahwa khusus bidang kesehatan, pelayanan MER-C mencakup pengobatan umum, sirkumsisi dengan target minimal 1.000 anak, pemeriksaan gizi anak, pemeriksaan mata dan penyuluhan kesehatan. Sebelumnya, MER-C bersama Baznas, AMCF dan STKIP Muhammadiyah telah melakukan ujicoba kapal kemanusiaan (sea trial) untuk memastikan kesiapan armada program ini.  

MER-C Bangun TPA di Wilayah Pasca Gempa Pijay Aceh

Menindaklanjuti misi kemanusiaan sebelumnya ke wilayah pasca gempa Pijay Aceh pada Desember 2016 lalu, kini MER-C kembali mengirimkan tim relawannya. Selain melakukan kegiatan pelayanan kesehatan dan konseling bagi masyarakat korban gempa khususnya anak-anak, tim juga melakukan survey lokasi untuk penyaluran bantuan amanah dari para donatur. Tim dipimpin oleh salah satu Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad dengan beranggotakan 11 relawan yang merupakan gabungan dari MER-C Pusat Jakarta, Aceh, Medan dan Yogyakarta. Untuk memberikan manfaat jangka panjang dan dalam rangka membantu korban gempa Pijay melengkapi fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat setempat, MER-C akan membangun fasilitas Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA), tepatnya di desa Blangusi, kelurahan Blangusi, kecamatan Ulim, kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Wilayah ini dipilih karena merupakan salah satu wilayah terdampak gempa. “TPA akan dibangun di atas tanah wakaf seluas 20 x 10 meter. Kita telah melakukan koordinasi dengan Pemda setempat dan Pemda sangat mendukung program ini. Setibanya di Jakarta, tim kami akan segera membuat rancangan bangunan TPA. Dengan donasi yang ada, kami berharap TPA ini bisa segera terealisasi dalam waktu dekat,” papar Sarbini Abdul Murad saat kunjungannya ke Aceh.   Ke depan, Tim MER-C dari Medan juga akan mengadakan program trauma healing di TPA ini. Lebih lanjut menurut Sarbini, bangunan TPA juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sosial atau kegiatan masyarakat lainnya. Selama misi kali ini, Tim MER-C mengadakan bantuan pelayanan kesehatan di empat lokasi di dua kecamatan di kabupaten Pidie Jaya, yaitu kecamatan Ulim dan kecamatan Bandar Baru. Selain pelayanan kesehatan, relawan MER-C juga melalukan konseling, terutama kepada anak-anak korban gempa. Metode yang digunakan adalah konseling sederhana dengan pendekatan personal terhadap pasien dengan melibatkan keluarganya.  

MER-C Kirim Tim ke-3 ke Bima

Rabu/28 Desember 2016, sekitar pukul 16.00, MER-C melalui cabangnya di Mataram kembali mengirimkan tim relawan ke Bima. Tim ini adalah tim ke-3 yang dikirimkan ke wilayah bencana banjir bandang Bima sejak banjir menerjang wilayah ini pada hari Rabu/21 Desember 2016.   Selain melanjutkan kegiatan pelayanan kesehatan pasca bencana terhadap para korban, tim juga bertugas melakukan assessment terhadap dampak banjir bandang terutama di bidang medis. Tim yang terdiri dari tiga relawan, yaitu dr. AD Irma Ramdani (Ketua MER-C Cabang Mataram), dr. Denuna Enjana dan dr. Muhammad Nauval berangkat dari Mataram menuju Bima melalui jalur darat dengan menggunakan ambulance. Tim membawa bantuan obat-obatan, alat medis, pakaian, dan bantuan logistic lainnya.   Bantuan Donasi untuk korban banjir bandang Bima dapat disalurkan ke: BCA, 686.0099.339 An. Medical Emergency Rescue Committee   Info lebih lanjut: 0811990176 www.mer-c.org

Tim MER-C Susuri Wilayah-wilayah Gempa di Aceh

Aceh. Menyusul gempa berkekuatan 6,4 SR, MER-C segera menggerakkan relawannya yang berada di Aceh dan Medan untuk menuju lokasi bencana guna melakukan Early Assessment of Disaster. Rabu pagi, relawan MER-C di Aceh mulai bergerak ke lokasi bencana, disusul oleh ambulans dan tim medis dari MER-C Cabang Medan.   Setelah melakukan koordinasi dan assessment, Kamis/8 Desember 2016, Tim MER-C langsung menuju posko Tampung Blang Cut, Meusa Jurung, Kecamatan Meurah Dua. Posko pengobatan di posko ini menangani pasien korban gempa sebanyak 108 orang, terdiri dari 33 pasien anak-anak dan 75 pasien dewasa dengan mayoritas lansia.     Jum’at/9 Desember 2016 Tim MER-C mencari wilayah gempa lainnya yang masih minim bantuan medis. Tim melakukan pelayanan kesehatan di posko Masjid Besar At-Taqarrub Tarienggading. Jumlah pasien yang mendapatkan pengobatan sebanyak 84 orang, yang terdiri dari 28 orang anak-anak dan 56 orang dewasa.       Di hari yang sama, Tim Medis MER-C melanjutkan pengobatan ke posko Desa Gampong Dee. Sesampainya di posko Gampong Dee, Tim sempat merasakan getaran gempa pada pukul 16:50 waktu setempat. Para pengungsi terlihat masih dalam keadaan trauma. Pasca gempa anak-anak dan ibu-ibu pun langsung menangis. Di posko ini, Tim MER-C juga menemukan pasien trauma pasca bencana, yaitu seorang wanita yang tidak dapat menggerakkan anggota gerak bawah. Pasien selanjutnya dirujuk ke RS Sigli untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Jumlah pasien di posko Gampong Dee sebanyak 78 orang, dengan perincian dewasa 48 orang dan anak-anak 30 orang.     Sabtu/10 Desember 2016, Tim MER-C kembali menyusuri wilayah gempa lainnya di Aceh. Kali ini Tim berupaya mencapai desa Temanah, kecamatan Trienggading yang sama sekali belum mendapatkan bantuan medis disebabkan akses yang sulit dan jarak tempuh yang jauh. Tim MER-C berhasil mencapai desa ini dan membuka posko pengobatan. Pada kegiatan ini MER-C kolaborasi dengan Tim Medis dari TNI-AD, TNI-AL, dan TNI-AU. Jumlah pasien korban gempa yang mendapatkan pelayanan medis sebanyak 128 orang.       Pelayanan medis yang dilakukan Tim MER-C selama di lapangan adalah pengobatan dasar, perawatan luka, ekstraksi kuku, eksisi abses, transportasi pasien trauma, serta pemeriksaan dan konsultasi kehamilan  

MER-C Kirimkan Relawan dari Aceh dan Medan Bantu Korban Gempa Pidie

Aceh, Duka kembali menoreh Aceh. Rabu, 07 Desember 2016 sekitar pukul 5 pagi, gempa berkekuatan 6,4 SR mengguncang tiga kabupaten di wilayah Aceh, yaitu Kab Pidie Jaya, Kab. Pidie dan Kab. Bireun. Relawan MER-C wilayah Aceh, yaitu Ira Hadiati, SH yang juga pernah diamanahi sebagai Project Manager MER-C untuk bencana tsunami Aceh beberapa tahun silam, bersama relawan lokal lainnya langsung menuju lokasi gempa untuk melakukan penilaian awal bencana.   Sore harinya di hari yang sama, MER-C Cabang Medan sebagai cabang yang terdekat dengan lokasi bencana, juga segera mengirimkan relawan medisnya dengan menggunakan ambulans menempuh jalur darat menuju Aceh. Tim yang diketuai oleh dr. Rifwanul Basir Nst ini berencana melakukan mobile clinic untuk menjangkau korban-korban gempa yang mengalami luka ringan agar bisa langsung mendapat penanganan medis sehingga tidak perlu dirujuk ke Rumah Sakit.     Laporan sementara dari Tim MER-C di lapangan, korban meninggal akibat gempa sampai sudah mencapai 96 orang, kasus luka berat sebanyak 125 orang dan kasus luka ringan sebanyak 452 orang. Total pengungsi sebanyak 3.200 orang. Saat ini sudah tersedia 21 posko yang tersebar di 5 kecamatan.     Tim Medis MER-C mendapat wilayah tugas di Kampung Blang Cut, Meusa Jurung, kecamatan Meurah Dua. Pelaksanaan yang dilakukan oleh Tim Medis MER-C adalah pemeriksaan dan pengobatan dasar serta pemeriksaan dan konsultasi kandungan.     Tim medis awal ini diperkirakan akan bertugas hingga satu minggu ke depan atau lebih tergantung kondisi di lapangan. Relawan dari MER-C Pusat dan cabang lainnya baik tim medis umum maupun tim bedah bersiaga dan siap diberangkatkan sewaktu-waktu apabila dibutuhkan berdasarkan hasil penilaian tim yang sudah berada di lapangan.     Bantuan untuk korban bencana gempa bumi Aceh dapat disalurkan melalui : Bank Syariah Mandiri (BSM), 701.565.8937 An. Medical Emergency Rescue Committee   Info : 021-3159235 / 0811990176 www.mer-c.org

MER-C Siagakan 200 Relawan Medis untuk Aksi 212

y;”> /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Jakarta, Animo relawan medis untuk turut mengawal Aksi Bela Islam III bertambah besar. Hal ini terlihat dari jumlah relawan yang mendaftarkan diri untuk menjadi Tim Medis MER-C pada Aksi Super Damai 212 meningkat dua kali lipat lebih. Sebelumnya pada Aksi Bela Islam ke-2, Jumat (4/11) jumlah Tim Medis MER-C sebanyak 70 orang, kali ini jumlahnya mencapai hampir 200 orang. Tim terdiri dari berbagai dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi dan perawat serta relawan pendukung lainnya.   Tidak hanya menyiagakan Tim Medis di lokasi utama aksi, yaitu Monas, MER-C juga menyiagakan Tim Medis di Masjid Istiqlal, salah satu tempat menginap terbesar bagi para peserta aksi yang datang dari luar Jakarta dan di Masjid At-Tin TMII yang menjadi tempat kedatangan peserta aksi yang berjalan kaki dari Ciamis. Posko Kesehatan MER-C di Masjid Istiqlal mulai diaktifkan sejak H-2 atau Rabu sore karena seperti aksi sebelumnya, peserta aksi diperkirakan mulai berdatangan sejak dua harinya sebelumnya. Pada H-1, Kamis/1 Desember 2016, seiring makin banyaknya peserta aksi yang tiba di Istiqlal, MER-C mengaktifkan posko kesehatannya non-stop sejak Kamis hingga Jumat malam. Ratusan peserta aksi dari berbagai daerah yang kelelahan dan sakit datang ke posko kesehatan MER-C untuk mendapatkan pelayanan medis.  Peserta aksi yang berjalan kaki dari Ciamis juga turut menjadi perhatian Tim MER-C. Kamis/1 Desember 2016, MER-C mengirimkan satu tim medisnya untuk mengawal para peserta aksi yang masih dalam perjalanan menuju Jakarta. Tim Medis MER-C akhirnya menuju ke Masjid At-Tin dan membuka posko kesehatan di masjid ini setelah adanya informasi bahwa peserta aksi sudah difasilitasi bus dan telah berdatangan di Masjid At-Tin TMII. Meski hari yang sudah menjelang malam, posko kesehatan tetap diserbu oleh para peserta aksi dari Ciamis untuk mendapatkan pengobatan atas keluhan kesehatan yang mereka alami. Sementara itu, mengantisipasi jumlah peserta aksi dan jumlah tim medis yang lebih besar, maka divisi bantuan dan logistic pada aksi 212 mempersiapkan lebih banyak set obat dan alat medis, yaitu sebanyak 100 paket untuk pelayanan mobile dan penanganan kasus emergency. Selain itu, MER-C juga menyiagakan 4 ambulans dan 2 kendaraan operasional untuk mengawal aksi.

Puluhan Relawan Medis MER-C Kawal Aksi Damai 4/11

Jum’at, 4 November 2016 telah berlangsung aksi damai rakyat terbesar sepanjang sejarah NKRI. MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam menurunkan sekitar 70 relawan untuk mengawal aksi ini disertai dua ambulans dan dua kendaraan operasional.     Sesuai pembagian wilayah kerja dari Panitia Pusat Bidang Medis GNPF-MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa – Majelis Ulama Indonesia), titik lokasi Tim MER-C berada di depan gedung Indosat. Untuk aksi kali ini Tim MER-C dibagi menjadi 4 kelompok besar, ada yang bertugas standby di posko tetap dan ada yang bertugas mobile menyebar menjadi tim-tim kecil lagi untuk memantau kondisi para peserta aksi yang membutuhkan pertolongan medis.       Melengkapi kerja relawan, MER-C juga menyiapkan 10 set emergency kit dan beberapa perlengkapan emergency pendukung lainnya seperti tandu lipat, oksigen dan lain-lain untuk persiapan penanganan medis di lapangan sebelum korban dirujuk ke Rumah Sakit.       dr. Zackya Yahya Setiawan, SpOk selaku Koordinator Lapangan Tim Medis MER-C untuk Aksi Damai 4/11 mengatakan bahwa Tim memutuskan standby hingga malam hari dikarenakan masih ada konsentrasi massa di sekitar Istana. Keputusan ini tepat karena menjelang jam 7 malam mulai terjadi kericuhan dan penembakan gas air mata yang mengakibatkan sejumlah peserta aksi menjadi korban.       Dengan peralatan yang ada, Tim MER-C segera memberikan pertolongan medis kepada para korban yang saat itu dievakuasi ke area gedung RRI (Radio Republik Indonesia). Hari yang sudah mulai gelap membuat Tim MER-C harus bekerja dengan penerangan seadanya. Usai menangani pasien di lokasi aksi ini, Tim MER-C melanjutkan pengawalan peserta aksi yang bergerak ke gedung DPR/MPR RI.                                      

Bisik Daun Ti Garut…

Bisik Daun Ti Garut adalah rangkaian program “Trauma Healing” hasil kerja bareng Relawan MER-C, WANADRI, Lima Amanah, Panti Asuhan Ibu Aledja Garut, Sumber Alam Garut, ITB’83 dan ILUNI UI. Kegiatan difokuskan di salah satu wilayah terdampak banjir bandang terparah, yaitu kecamatan Tarogong Kidul, khususnya kampung Cimacan, Sabtu/29 Oktober 2016.   Bertempat di LEC, Terminal Guntur, Garut, kegiatan dibuka dengan pelayanan kesehatan oleh Tim MER-C yang dimulai sejak pukul 9 pagi – 12 siang. MER-C menurunkan 17 relawannya untuk bertugas pada kegiatan ini. Tercatat sekitar 200 warga korban banjir yang mendapat bantuan pengobatan.     Ini adalah kedua kalinya Tim MER-C menyambangi Garut. Sebelumnya, pada masa tanggap darurat, 23 – 25 September 2016, MER-C mengirimkan Tim Medis pertamanya untuk memberikan bantuan medis kepada para korban.   Dalam rangka menghibur warga korban banjir, usai pengobatan kegiatan dilanjutkan dengan berbagai acara, seperti persembahan Barongsay dan Taiko dari anak-anak Panti Asuhan Ibu Aledja, pembacaan puisi oleh Sha Ine Febriyanti, penampilan dari grup band Maximum Theory dan Swara Sabila. Sementara ITB’83 dan ILUNI UI memberikan bantuan berupa MCK dan sarana air bersih. Acara ditutup dengan nonton bareng (layar tancap), film Nagabonar.        

Silahkan bertanya?